Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wednesday, June 1, 2022

Tradisi Balala': Hampir Dihukum Adat

Diatas bangku panjang sebuah warung, saya selalu melirik kearah jam tangan. Melihat waktu yang seakan-akan cepat sekali berputar. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.35 WIB, itu artinya tidak lama lagi akan berlangsung balala', pelarangan semua aktifitas diluar rumah. Sementara diluar sana, hujan terus turun dengan lebatnya, seakan-akan tidak peduli dengan cerita perjalanan kami yang masih panjang. Jangankan untuk berhenti, menurunkan debitnya menjadi gerimis saja tidak ada tanda-tanda. Kalau terus begitu, mau tidak mau kami harus menentukan pilihan. Melanjutkan perjalanan dibawah guyuran hujan atau menetap diperkampungan dengan sanksi adat yang kemungkinan akan diterima.




Sesuai perjanjian, titik perkumpulan untuk melakukan perjalanan ditetapkan di Sungai Pinyuh. Rencana yang semulanya berangkat pagi, harus diubah menjadi bakda jumat dikarenakan ada sesuatu lain hal. Karena domisili saya berada cukup jauh dari tempat pertemuan, saya memutuskan untuk datang lebih awal 2 jam dari waktu yang ditentukan. Bukannya apa, saat itu bertepatan  dengan hari jumat, ada sesuatu kewajiban yang mesti ditunaikan terlebih dahulu.


Sambil menunggu rekan yang lainnya tiba, saya memutuskan untuk makan siang disalah satu tempat makan cepat saji. Selain bisa ngadem dan mengisi kampung tengah, disini juga sekalian menambah daya baterai. Lumayan untuk persiapan dilapangan yang kemungkinan besar tidak ada aliran listrik.


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB, orang yang ditunggu belum juga menampakkan mancung hidungnya. Saya pun mengirimkan foto digrup perjalanan sekaligus menanyakan sudah dimana? Tidak perlu menunggu lama, salah satu teman membalas kalau beliau akan segera OTW. Mendapat jawaban tersebut saya langsung memutuskan untuk keliling-keliling Sungai Pinyuh dahulu. Menghabiskan bensin cuma-cuma sekaligus menambah pencemaran udara. Ualah...


Disaat enak-enaknya ngadem di supermarket (lebih tepatnya belanja keperluan), tiba-tiba salah satu teman nelpon mengasi kabar kalau dia sudah sampai dilokasi. Ini baru satu teman yang tiba, masih ada rekan yang lain. Untuk ngademnya pun  disambung di sebuah cafe bernama 'lanjut'. Sesuai namanya, cafe tempat kami nongkrong ini seakan-akan memberikan aba-aba ke kami, apakah lajut berangkat atau lanjut pulang. Terlebih saya baru tahu kalau teman yang bilang OTW tadi berangkatnya dari Kubu Raya, bukan Mempawah. Disisi lain, waktu sudah menununjukkan 15.05 WIB.


Ada banyak hal yang saya khawatirkan apabila berangkat terlalu sore. Pertama adalah hujan, dan kedua adalah terlalu malam tiba dilokasi. Terlebih lagi, ada beberapa daerah yang kami lewati akan melakukan prosesi balala'. Bagaimana jadinya jika kendaraan kami tiba-tiba bermasalah didaerah tersebut, dan pastinya tidak ada bengkel yang buka, bukan?


Hingga akhirnya, rekan yang ditunggu telah tiba. Kami berangkat pukul 15.50 WIB, betul-betul bakda jumat.  Tidak perduli lewatnya empat jam atau lebih. Ah sudahlah, yang penting kami semua bisa berangkat. Intinya liburan...


Ada beberapa jalur yang bisa dilewati untuk menuju pusat Kota Bengkayang. Berhubung titik kumpul kami adalah Sungai Pinyuh, maka jalur yang akan dilewati adalah Anjungan-Toho. Setidaknya ada dua kabuten yang akan dilewati sebelum tiba di Bengkayang, yaitu Mempawah dan Landak. Jalur dilewati betul-betul memanjakkan mata. Disepanjang perjalanan bebaris banyak bukit yang begitu elok dengan hamparan padi dibawahnya. Apalagi saat itu matahari mulai turun membuat beberapa petak padi yang duluan masak tampak bercahaya. 


Disepanjang perjalanan, tidak jarang pula kami melihat kumpulan masyarakat yang sedang melakukan prosesi dipinggir jalan. Tidak salah lagi, itu adalah serangkaian upacara adat balala' yang nantinya akan dilaksanakan. 


Jalanan terus mendaki, lalu turun hingga meliuk dibawah kaki bukit. Apa yang ada didepan sana tentu saja tidak tahu. Apakah jalanan lengang atau malah sebaliknya ada kendaraan besar dari arah jalan yang berbeda. Cuaca yang semulanya begitu panas, tiba-tiba terasa dingin menyapu wajah. Kalau sudah begini, biasanya didepan sana sedang turun hujan. terlebih awan hitam yang berarak tampak menyelimuti bukit dikejauhan. Kurang lebih dua menit hujan pun turun mengguyur perjalanan kami.


Kendaraan pun menepi disebuah warung dengan bentuk bangunan ruko. Untunglah dua toko disampingnya tidak buka, sehingga motor kami bisa langsung berteduh diterasnya. Tidak perlu susah lagi untuk menurunkan barang bawaan yang ada dikendaraan. Belum sempat saya turun dari kendaraan, keluar seorang ibu parubaya dengan membawa ikatan berbagai macam daun, lalu mengikatnya ditiang depan.


"Permisi Bu, mohon maaf, apakah masih boleh bertamu jam segini?" Salah satu rekan, Bang Zai bertanya kepada si Ibu pemilik warung.


"Masih boleh, dek." Ibu tersebut menjawab pertanyaan kami dan seakan-akan mengerti bagaimana keaadaan kami sekarang.


"Kalau prosesi balala'nya dimulai jam beberapa ya, Bu?" Bang Zai kembali bertanya.


"Kalau itu mulainya jam enam. Tapi rata-rata rumah disekitar sini sudah ramai yang tutup." Ibu pemilik warung kembali menjelaskan sambil menunjuk rumah yang ada disekitar.


Saya menoleh kearah jam tangan, saat itu waktu sudah menunjukkan Pukul 16.58 WIB. Semoga saja hujan lekas berhenti dan perjalanan bisa segera dilanjutkan kembali. Disini, kami tidak hanya diizinkan untuk berteduh, namun juga disodorkan kursi oleh si Ibu. Padahal kursi teraebut telah tersusun rapi dan tampak jelas kalau warung sebentar lagi akan ditutup. Sungguh baik sekali ibunya.


Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan disini, selain menikmati kerupuk kedelai dan meratapi hujan yang tak kunjung henti. Mau melanjutkan perjalanan pun tidak mungkin, karena jas hujan tinggal dimotor yang satunya. Sinyal pun tidak bersahabat saat itu, semua balok kosong dan hanya menyisakan tanda x diatasnya. Kata teman, kalau sudah masuk pedalaman begini, rata-rata hanya kartu telkomsel yang kuat jaringannya. 


Kurang lebih masih ada satu jam lagi, agar kami tidak mengganggu prosesi adat balala' yang akan diselenggarakan.


Balala' memiliki arti sepi, yaitu melarang segala aktifitas diluar rumah. Saat prosesi ini dilangsungkan maka ada pantangan yang harus dipatuhi. Seperti tidak berpergian, tidak boleh menebang kayu, tidak boleh membunuh hewan dan dilarang menerima tamu. Lalu bagaimana dengan kami yang sedang melakukan perjalanan? Diperbolehkan, selama tidak mampir atau berhenti diwilayah yang sedang melaksanakan adat balalak.


Perjalanan dilanjutkan kembali ketika hujan sudah tidak terlalu lebat, alias gerimis. Sambil berharap juga didepan sana cuaca lebih bersahabat. Yah, meskipun belum terlalu jauh perjalanan harus berhenti lagi, karena tiba-tiba hujan deras mengguyur kembali. Mau tidak mau, kami harus menepi lagi disebuah warung yang ada dipinggir jalan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.25 WIB.


Setelah menurunkan barang bawaan dari kendaraan, kami langsung duduk diemperan warung. Lebih tepatnya di pojok tangga warung. Dari atas bangku, terdengar suara bapak-bapak yang mempersilahkan kami naik, "duduk saja disini, disitu masih kena hujan."


Kami menoleh kearah belakang, membalas senyuman senyuman beliau dengan ramah. Rasanya kurang enak juga menolak kebaikan orang. Saya dan kedua rekan langsung melepaskan sepatu, lalu naik ke warung dan segera duduk diatas bangku panjang.


Dibandingkan warung sebelumnya, warung kedua yang kami singgahi ini tampak begitu apik. Bangunannya yang terbuat dari papan dan berada diantara hamparan ladang membuatnya terlihat elok. Lebih-lebih lagi, disini ada penduduk setempat yang sedang karaokean. Membuat suara hujan lebur diantara melodi lagu.


Meskipun telinga terpaku dengan alunan lagu dan kaki sesekali menepuk-nepuk lantai, namun wajah tak pernah beralih dari arah jalan. Berharap kalau hujan akan segera reda dan perjalanan bisa dilanjutkan. Namun sepertinya hujan kali ini betah untuk berlama-lama. Membasahi bumi intan, julukan dari Kabupaten Landak.


Penduduk kampung yang ada disamping kami sungguh begitu ramah. Sesekali mereka mengajak kami berbicara, menanyakan asal dan kemana tujuan kami. Beliau pun sempat bercerita mengenai adat balalak yang sedang dilaksanakan ini. Terlebih, salah satu dari mereka malah sempat membetulkan standar kendaraan kami yang mulai terbenam diatas tanah kuning. Padahal saat itu sedang hujan deras.


Hujan masih tidak kunjung redah, seakan-akan ingin membatasi petualangan kami hari ini. Disi lain, ada kekhawatiran yang cukup besar jika terlalu lama-lama berada disini. Bukan hanya saja terlalu malam akan tiba, melainkan hukum adat bisa saja mengenai kami. Ah, jangan sampai kami mengganggu prosesi balala' yang akan segera dilaksanakan.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.40 WIB. Itu artinya adat balala' sebentar lagi akan berlangsung. Jika sepuluh menit lagi hujan tidak berhenti turun, maka mau tidak mau kami harus melanjutkan perjalanan dibawah guyuran hujan. Meskipun bapak disamping tadi tetap begitu santai dengan kehadiran kami.


Dibawah alunan lagu yang mendayu-dayu, hujan malah terlihat semakin deras. Tetesan-tetesan yang jatuh diatas seng semakin kuat terdengar. Tapi syukurlah, lima menit setelah itu intensitas hujan malah berkurang drastis, menyisakan gerimis. Mungkin tadi adalah cara Tuhan untuk mempercepat hujan. Kami pun melanjutkan kembali perjalanan menuju Bengkayang.

Terimakasih atas tumpangannya, terimakasih atas ceritanya dan terimakasih atas hiburannya.

Friday, May 20, 2022

Sigajang Laleng Lipa Pada Masyarakat Bugis

Dua sosok itu saling tatap dengan penuh amarah. Didalam kain, arena yang begitu sempit mereka saling adu kekuatan. Bahkan, masing-masing mencabut kawali, badik Bugis yang begitu sakral. Setelah beradu sengit, satu diantara mereka jatuh bersimbah darah. Sigajang Laleng Lipa, itulah sebutan untuknya. Pertarungan didalam kain yang akan dilakukan ini ketika musyawarah mengalami jalan buntu.


Atraksi Seni Sigajang Laleng Lipa 
Oleh masyarakat Bugis di Tanah Rantau


Saat itu sudah pukul 11.30 WIB, acara mappabotting atau akad nikah sebentar lagi akan selesai. Tenda yang begitu panjang penuh dengan para tamu sungguh terasa panas. Apalagi disekelilingnya ditutup terpal dan baru selesai makan membuat keringat terasa mengalir deras dibadan.


Disana, dipertengahan lorong tenda tampak serombongan orang datang dengan memakai atribut Bugis. Satu orang diantara mereka, sambil memegang mic memberikan abah-abah agar dibagian tengah dikosongkan. Terlebih mesti jauh dari jangkauan anak-anak. Tak lama, pemandu tersebut mengatakan bahwa akan diadakan atraksi sigajang laleng lipa.


Sontak, hal tersebut langsung memancing perhatian para tamu. Yang jauh pada mendekat dan yang dekat pada merapat. Bahkan yang sedang makan pun mempercepat gerakan, takut jika tidak bisa menyaksikan. Hanya hitungan menit, rombongan tadi telah hilang dikerumun massa, menyisakan suara yang bergema di lorong tenda.


Karena tak ada yang bisa dilihat, saya pun memutuskan untuk berdiri, merengsek menuju kerumunan tersebut. Perlahan-lahan menyelip diantara himpitan para tamu agar bisa melihat arena. Hingga akhirnya, tampak dua orang berpakaian merah dan menggunakan passapu' dikepala. Mereka dimasukkan kedalam kain yang berwarna putih yang nantinya menjadi tempat untuk bertarung.


Sebelum dilaksanakan atraksi sigajang laleng lipa, tentunya semua para peserta, baik itu yang bertarung hingga para penabuh gendang sebelumnya dilakukan ritual terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kegiatan yang akan dilaksanakan kedepannya berjalan lancar. Tidak lupa juga, do'a kepada Tuhan dipanjatkan, Sang Pemilik Segalanya.


Atraksi pun segera dimulai. Pemandu meneriakkan jargon "FKOB..." Kemudian disambut yang lainnya dengan jawaban "ewako..." Sebuah kalimat penyemangat bagi orang-orang Bugis.


Alat-alat musik pun dimainkan. Kedua petarung saling menyilangkan tangan, tanda bahwa prosesi akan segera dimulai. Perlahan-lahan mereka mulai beradu, saling memukul saling memukul. Tidak hanya kekuatan tangan yang pusatkan, kekuatan kaki juga mesti dipertahankan, agar badan tetap selalu seimbang. Terlebih ketika mengalami serangan dari pihak lawan.


Sigajang laleng lipa berasal dari bahasa Bugis, yang berarti saling tikam didalam sarung, atau bahasa halusnya 'bertarung didalam sarung.' Dengan menggunakan kawali, mereka akan saling menghunus hingga sampai akhir perjuangan. Mereka akan dinyatakan kalah apabila keluar dari dalam kain, menyerah, hingga meninggal dunia.


Dulunya, sigajang laleng lipa dilakukan oleh para bangsawan. Perhelatan ini dilaksanakan ketika antara dua insan yang bersengketa tidak menemukan jalan keluar dari sebuah masalah. Karena saling mempertahankan siri' atau harga diri, akhirnya duel dalam sarung diadakan.


Sigajang laleng lipa tentunya tidak sembarangan saja dilakukan. Untuk sampai ke titik ini tentunya ada tahap-tahap yang mesti dilewati. Bagi masyarakat Bugis dalam penyelesaian masalah ada tiga cara yang lebih dikenal dengan tellu cappa' (tiga ujung). 


Yang pertama adalah cappa' lilla, atau ujung lidah. Cara ini adalah cara umum yang sering dilakukan dalam penyelesaian masalah. Disini kedua belah pihak yang bertikai akan berbincang untuk mencapai mufakat. Baik itu perundingan, negosiasi ataupun musyawarah.


Kedua adalah cappa laso, atau ujung kemaluan. Jalan ini ditempuh ketika jalan pertama menuai kebuntuan. Bagi masyarakat Bugis, memiliki seorang gadis adalah seperti memiliki permata yang begitu berharga. Sehingga dengan jalur pernikahan ini bisa mempersatukan mereka dalam ikatan keluarga.


Ketiga adalah cappa kawali, atau ujung badik. cara ini adalah pilihan terakhir ketika kedua opsi diatas tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana. Disinilah, dua orang yang bertikai akan bertarung menggunakan badik. 


Penggunaan sarung sebagai sarana sekaligus arena tentunya memiliki makna yang begitu dalam. Diharapkan, semua permasalahan yang telah masuk kedalam sarung pantang untuk dibahas lagi diluar. Semuanya telah berkahir didalam sarung. Terlebih, bagi masyarakat Bugis sarung adalah simbol pemersatuan. 


Kedua petarung tersebut pun semakin gesit beradu. Hingga akhirnya, masing masing menarik kawali dalam sarung. Ruangan makin terasa hening disaat salah satu melancarkan serangan. Terlebih, suara teriakan ibu-ibu yang terkejut dan diiringi alat musik semakin membuat mencekap.


Setelah berduel cukup lama, dan darah pun sudah tampak muncrat dikain, akhirnya satu diantara mereka tumbang. Sedangkan yang satunya menganngkat kawali, bukti bahwa dia adalah pemenang. Sekejap, pihak panitia segera membawa petarung yang kalah didalam rumah.


Sekedar informasi, sigajang laleng lipa yang dilakukan diatas hanyalah sekedar atraksi yang dilakukan oleh PAC Forum Komunikasi Orang Bugis Desa Kuala Dua. Jika dulunya hal tersebut begitu sakral dilakukan, maka untuk sekarang sigajang laleng lipa lebih ditampilkan sebagai seni.

Wednesday, July 15, 2020

Mengenal Tradisi Mattampung, Acara Setelah Kematian

Budaya dan tradisi Mattampung. Malam itu sungguh terasa syahdu. Lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi langit-langit ruangan yang ukurannya tidak seberapa. Disana, berkumpul para tetangga dan sanak keluarga yang turut mendoakan. Semoga almarhumah dilimpahkan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Tanpa ada perlawanan, kambing menurut saja ketika dibawa ke pohon manggis. Yah, meskipun kadang kambingnya sering mengembek. Namun menurut saya itu adalah cara komunikasinya, yang tentu saja tidak dipahami oleh manusia. Namun jika dikira-kira, mungkin dia lagi sedang bertanya ‘mau dibawa kemana saya? Mau diapakan saya? Tolong dilepasin dulu ikatan lehernya! Please help me...’ Kurang lebih begitu.

Saat itu matahari baru sepenggalah naik. Saya dan beberapa orang tua sedang berkumpul dibawah rindangnya pohon manggis. Bukan! Bukan lagi panen buah manggis atau sekedar melindungi diri dari terpaan matahari, melainkan akan menyembelih kambing. Penyembelihan tersebut dilakukan karena sebentar lagi akan diadakannya acara mattampung.

Apa itu Mattampung? Kata mattampung berasal dari bahasa Bugis yang memiliki arti mengganti atau memperbaiki. Adapun objek yang diperbaiki adalah kuburan keluarga yang telah meninggal sehingga tampak lebih baik. Oh, iya. Mattampung ini boleh dilakukan kapan saja setelah keluarga merasa sanggup. Biasanya dilakukan setelah 7 hari kematian, 40 hari, 100 hari, setahun ataupun tahun-tahun berikutnya (hitungan menggunakan kalender hijriah).

Dalam tradisi Mattampung juga dilaksanakannya penyembelihan hewan. Hewan yang biasanya disembelih adalah sapi atau kambing. Katanya, hewan yang dikurbankan nantinya akan menjadi kendaraan bagi orang yang telah meninggal. Dengan kata lain, daging kambing yang nantinya disajikan kepada orang lain akan menjadi kiriman amal bagi almarhum/ah yang bersangkutan.

Kambing pun siap untuk disembelih. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan prosesi mappasili atau disebut juga tepung tawar. Saat itu kambing akan dipakaikan kain putih kemudian ditepiskan dengan air pasili. Air pasilinya sendiri terbuat dari kunyit dan beras, sedangkan untuk menepisnya menggunakan daun juang-juang.

Saya pun merengsek kearah kambing, membantu para Pe-Tua lainnya untuk memegang. Kebetulan saat itu saya dipercaya untuk memegang kedua kaki depannya. Dengan menyebut nama Allah dan kalimah-Nya, Kambing tersebutpun disembelih. Seketika darah mengalir deras, tumpah membasahi bumi.

Kambingnya lagi disembelih

Passili atau tepung tawar

Tidak hanya itu, saya juga mendapat kepercayaan untuk ikut serta mengkuliti kambing. Ternyata susah juga ooi. Perlu kesabaran ekstra agar kulitnya tidak robek. Selain itu, pisaunya juga mesti tajam. Dari sinilah saya mendapatkan pelajaran dari Pak Parten bagaimana cara mengkuliti yang benar. Katanya, “kalau tidak mecoba, mana mungkin bisa tahu”.

Ternyata bukan mengkuliti saja yang lebih sulit. Bagi saya ada hal yang mesti lebih hati-hati lagi, yaitu menanggalkan kantong perutnya. Disaat inilah, kita harus ekstra fokus agar pisau yang digunakan tidak merobek kantongnya. Jika itu sampai terjadi, maka siap-siap saja aroma busuk akan mengambang diudara.

Karena saya saat itu merasa tidak punya keahlian, saya pun lebih memilih untuk memegang kantung perut bagian bawahnya, ketimbang ikut melepaskannya. Iya, harus dipegang agar tidak jatuh terhempas ke bumi. Semakin lama, kantong tersebut semakin terasa berat, hingga akhirnya terlepas semua. Selanjutnya, kambing yang telah dikuliti dan dibuang isi perutnya akan dipotong-potong menjadi beberapa bagian.

Lagi Seru Main Zakar Kambing

Sementara didapur, buk ibuk yang terdiri dari para tetangga dan keluarga sibuk mengurusi hal lainnya. Seperti meracik rempah-rempah, membuat kue dan memasak ini-itu. Intinya, buk ibuk yang ada didapur sibuk berkerja, mempersiapkan urusan kampung tengah (perut).

Sibuk menyiapkan perasaan, eh masakan

Madduppa

Untuk mengundang para tamu tentunya memiliki cara tersendiri. Yaitu melalui madduppa atau dalam bahasa Indonesianya berarti mengundang. Namun caranya bukan melalui tulisan, melainkan menyampaikan undangan melalui lisan. Kebetulan saat itu saya diberikan amanat untuk menjadi Padduppa (orang yang madduppa). Saya pun mendatangi rumah para tetangga satu-persatu, menyampaiakan panggilan (undangan) Si Tuan yang punya hajat. Setidaknya ada sekitar 50 rumah yang diundang. Untuk mengetahui madduppa lebih lanjut, silahkan baca disini.

Mengkhatamkan Al-Quran dan Yaasiinan

Malam pun tiba. Para keluarga dan tamu yang diundang berdatangan. Laki-laki memakai kopiah dan perempuannya berpakaian menutup aurat. Dalam prosesi mattampung, sebelum tiba hari pelaksanaan, malam sebelumnya dilakukan pembacaan Yaasiin dan pattemme’ Qur’ang atau mengkhatamkan Al-Quran. Biasanya, pembacaan Al-Quran ini dilakukan selama tiga malam berturut-turut.

Namun, berhubungan pembacaan Al-Quran sudah dikhatamkan oleh anak almarhumah, maka para tamu undangan yang hadir malam itu hanya membaca yaasiin. Setelah selesai, tamu pun disajikan dengan aneka kue yang diletakkan diatas penampan. Saya yang saat itu mengangkatnya mulai tergoda untuk mencicipinya. Setidaknya ada empat jenis kue yang dihidangkan.

Yaasiinan

Tahlilan

Tibalah dihari Pelaksanaan. Saat Pagi, pihak keluarga terlebih dahulu pergi kekuburan untuk mengganti nisan dan melakukan tahlilan. Tidak perlu seluruh keluarga, minimal ada yang mewakili. Karena acaranya yang dilakukan pagi hari mengakibatkan saya tidak bisa mengikuti. Biasa, ada urusan negara. HEHE. Pihak keluarga dan orang-orang yang pulang dari kuburan selanjutnya akan di passili (tepung tawar).

Sekitar pukul 10.00 WIB, tamu-tamu yang diundang akan datang lagi. Saat ini, orang-orang akan membaca tahlilan. Kalimah-kalimah Allah terdengar bergemuruh memenuhi langit-langit ruangan. Mereka terlihat khusyuk memanjatkan do’a kepada sang Illahi. Disaat inilah, kambing kemarin yang disembelih akan disajikan  bersama lauk-pauk yang lain.

Lagi-lagi saya mendapat kepercayaan untuk membantu menyajikan makanan. Makanan tidak disajikan secara prasmanan, melainkan saprahan. Yaitu meletakkannya dilantai dengan menggunakan baki yang besar. Para tamu akan segera menikmatinya setelah pembacaan do’a dan tuan rumah mempersilahkan.

Tahlilan

Massanji

Acara belum selesai sampai disitu. Sekitar jam 1 siang akan kembali diadakan Massanji. Massanji disini bukan nama salah satu musisi terkenal Indonesia, ya. Melainkan adalah melakukan pembacaan barzanji. Tapi untuk ini yang diundang biasanya hanya keluarga dan tetangga terdekat saja. Maklum biasanya saat siang itu, orang-orang lagi enaknya lagi tidur siang. Prosesi acara mattampung pun selesai setelah dilaksanakan massanji.

Ngantu euyyy

Tujuan utama dari diadakannya mattampung adalah untuk memanjatkan do’a kepada Allah agar almarhum atau almarhumah bisa mendapatkan tempat yang layak disisi-NYA. Disisi lain, tardisi yang dilaksankan ini juga syarat akan makna, seperti saling tolong-menolong dan berbagi kepada orang-orang terdekat. Selain itu, mattampung ini bisa menjalin tali silaturrahmi dan memperkuat rasa pepersaudaraan. Tabe’...

Saturday, December 28, 2019

Mitos Gerhana Matahari


Matahari sudah diatas kepala. Suara adzan yang saling berkumandang pun sudah lama berhenti. Itu pertanda waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Bisa kurang atau bisa saja lebih.

Dibawah pondok sederhana yang beratapkan terpal biru saya terbaring. Sambil memandang keatas, menghitung buah durian yang masih bergantung diatas pohon. Ya, sekarang lagi musimnya buah durian. Meskipun buahnya tidak banyak seperti musim kemarin, tetapi cukuplah untuk makan sekeluarga.

Cuaca yang gerah memang tepat dibawa bersantai. Terbaring, sambil berharap angin sepoi-sepoi datang menghampiri. Apalagi suasananya tentram, jauh dari kebisingan. Meskipun sekali-kali terdengar bunyi suara tokek dan burung pelatuk yang sedang melobangi pohon.

Karena waktunya yang sudah siang membuat mata terasa kantuk. Apalagi saat itu hanya sendirian, tidak ada teman yang bisa diajak berbincang. Alhasil, dalam hitungan menit saya pun terlelap dalam mimpi.

Gedebuk.

Suara durian jatuh membuat saya terbangun. Cuaca saat itu terlihat mendung, sehingga sempat berpikir kalau sebentar lagi akan turun hujan. Tanpa buang waktu, saya pun lekas mencari buah durian sebelum tetes air jatuh kebumi.

Tidak lama kemudian langit tampak semakin gelap. Kebun yang dipenuhi pepohonan rindang terlihat layaknya akan malam. Burung-burung dan binatang lainnya pun enggan untuk bersuara, seakan-akan ada yang mereka takuti.

Saya pun mempercepat langkah menuju pondok. Berbagai pikiran yang macam-macam mulai menghantui kepala. 'Bagaimana jika ada badai datang dan merobohkan pohon-pohon yang ada disekitar pondok. Ini tentunya sangat berbahaya.' 

Syukurlah saat itu saya langsung teringat dengan beredarnya berita bahwa akan ada gerhana matahari cincin atau disingkat GMC. Gerhana matahari cincin adalah dimana bulan menutupi matahari dan hanya menampakkan pinggirannya saja. Pinggiran matahari yang masih terlihat tersebut akan tampak seperti cincin yang bercahaya. Semoga bisa dipahami, dari saya yang anak kampung.

Berbicara mengenai gerhana matahari, masyarakat dikampung saya memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan. Cerita tersebut boleh dipercaya dan boleh juga tidak. Intinya sebuah cerita hadir ditengah masyarakat untuk memberikan hiburan, sebagai pengingat, atau yang lainnya.

Pertama adalah tentang si naga dan matahari. Cerita tersebut sering saya dengarkan ketika masih kecil dan menjadi hal yang menarik untuk dibahas saat itu.

Ketika gerhana matahari tiba, maka alam akan terlihat gelap. Matahari yang tadinya bersinar menerangi bumi seketika akan hilang. Orang-orang kampung mengatakan kalau matahari tersebut telah ditelan oleh naga. Makhluk yang besar penghuni luar angkasa.

Orang-orang dewasa saat itu tahu bahwa cerita tersebut hanyalah mitos. Namun mereka sangat senang menceritakannya kepada kami. Apalagi ada yang bertanya, makin bertambah pula bual yang dikatakan.

Tidak bisa dibayangkan keadaan bumi tanpa matahari. Yang pasti, alam akan selalu terlihat gelap.

Kami pun harus membuat keributan agar naga  tersebut merasa terganggu dan mengeluarkan kembali matahari. Seperti memukul tiang listrik, pohon-pohon dan yang lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana ributnya kampung kami ketika ada gerhana matahari saat itu.

Yang kedua adalah tentang si pohon buah. Memukul-mukul pohon ternyata tidak hanya untuk mengeluarkan matahari dari perut si naga, tetapi juga dipercaya bisa memperbanyak buahnya.

Sampai saat ini, sebagian orang masih percaya bahwa dengan memukuli pohon ketika gerhana berlangsung maka akan menambah jumlah buah. Pohon dengan buah yang biasanya sedikit akan lebih banyak diperiode berikutnya.

Saya sempat bertanya, 'memangya apa hubungannya antara memukul pohon dengan semakin banyaknya buah?'

Jawabanya adalah, karena memukul pohon itu bisa memberikan semangat kepada si pohon untuk berbuah. Sesimpel itu saja jawabannya.  Silahkan anda menilainya sendiri.

Hal yang harus diketahui juga, ternyata cerita si naga diatas hanyalah akal-akalan saja agar kami semangat untuk memukul pohon. Kepolosan kami dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Sungguh terlalu.

Ketiga adalah tentang si babak. Babak yang dimaksud disini bukan berkaitan dengan permainan olahraga atau drama, melainkan babak yang ada dikulit. Tapi bukan juga babak belur.

Menurut KBBI, babak adalah lecet pada kulit. Babak biasanya berwarna merah dan didapati ketika lahir. Orang-orang juga biasa menyebutnya sebagai tanda lahir. Babak ini tidak hanya terdapat diselangkangan atau badan saja, melainkan juga bisa mengenai wajah.

Oleh karena itu, menurut kepercayaan setempat bahwa seseorang yang sedang hamil tidak boleh berada diluar rumah ketika gerhana berlangsung. Baik itu gerhana matahari ataupun gerhana bulan. Jika hal tersebut dikanggar, makan anak yang lahir akan punya babak.

Kurang lebih hanya itulah yang dapat saya bagikan. Setiap tempat itu memiliki cerita dan budaya yang menarik untuk diketahui. Terlepas dari mitos atau tidak, setidaknya kita harus menghargai apa yang mereka yakini.

Ayo, hal menarik apa ditempatmu ketika ada gerhana matahari?

Tuesday, December 10, 2019

Madduppa Pada Masyarakat Bugis Di Kecamatan Segedong


Sebagian besar masyarakat yang ada di Kecamatan Segedong merupakan keturunan Bugis. Meskipun sudah tidak menggunakan bahasa Bugis dalam kesehariannya, bukan berarti tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang harus ditinggalkan begitu saja. Salah satu tradisi yang masih sering dilakukan adalah madduppa.

Madduppa dalam masyarakat Bugis memiliki makna mengundang atau memberi kabar. Bagi masyarakat Bugis, ketika mengundang seseorang tidaklah boleh sembarangan, namun memiliki tatacara tertentu. Sebelum terkenalnya surat undangan, tradisi madduppa inilah yang selalu digunakan untuk mengundang tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Madduppa ini biasanya digunakan ketika ada hajatan mappabotting (pernikahan), mappanre temme' (khatamul Qur'an), menre' bola (naik rumah), menre' tojang (aqiqah), ataupun tahlilan untuk orang yang meninggal.

Orang yang memiliki hajatan akan menunjuk seseorang yang dipercaya untuk mengundang. Orang yang dipercayai ini disebut padduppa. Orang yang melakukan padduppa ini tentunya harus berpakaian sopan (menggunakan sarung dan songkok atau kopiah).

Adapun tatacara dalam madduppa adalah seorang padduppa harus mengucapkan salam ketika sampai dirumah yang akan diundang. Setelah tuan rumah membukakan pintu, padduppa akan meyalami tuan rumah sebagai bentuk rasa hormat sebagai tamu. Kemudian Paddupa akan duduk ketika tuan rumah telah mepersilakan.

Selanjutnya adalah penyampaian maksud kedatangan atau undangan melalui lisan. Adapun kata-kata yang disampaikan saya contohkan sebagai berikut dengan menggunakan nama Wak Semang sebagai  orang yang punya hajatan dan wak Apo' sebagai orang yang diundang.

"Wak Apo', Kireng seleng wak Semang suro ki' lekka ki bolana baja ele' te' fitu. Burane makkundre."

Artinya: Wak Apo', kirim salam wak Semang mempersilahkan kerumahnya besok pagi jam tujuh. Laki-laki  perempuan.

Begitulah isi undangan yang disampaikan secara lisan oleh padduppa. Jika yang diundang hanya laki-laki saja, maka pesan yang disampaikan tidak perlu ada kata kalimat burane makkundre. Namun jika yang diundang semua anggota (laki-laki dan perempuan) maka kalimat tersebut harus disebutkan diujung pesan. Dan jika ada pertanyaan dari tuan rumah yang diundang, maka paddupa akan menjelaskan sesuai yang diketahuinya. Setelah itu padduppa akan izin pamit.

Dalam madduppa tentunya tidak serta merta harus menggunakan bahasa Bugis saja. Semuanya tergantung dengan tuan rumah yang didatangi. Jika selain Bugis, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu yang merupakan bahasa interaksi sehari-hari.

Namun bagaimana jika rumah yang didatangi sedang kosong. Untuk mengatasi hal tersebut padduppa biasanya akan mengikatkan sesuatu di gagang pintu pemilik rumah. Baik itu berupa tali rapiah atau pelepah daun pisang yang kering yang biasanya sangat mudah dijumpai disekitar rumah. Pengikatan tersebut bertujuan agar si pemilik rumah tahu bahwa ada undangan. Jadi jangan heran jika suatu saat masuk kedaerah Segedong menemukan hal tersebut.

Begitulah sebuah tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Ketika mengundang seseorang tidak hanya sekedar menyampaikan berita saja, namun ada etika yang harus dijaga. Mengucapkan salam, berjabat tangan dan penyampaian pesan harus dalam keadaan duduk.

Lain ketupat lain isi
Lain tempat lain tradisi

Friday, February 22, 2019

Menengok Rumah Adat Melayu Mempawah Yang Baru


Saat itu matahari sudah meninggi, menyinari Bumi Bestari. Para lelaki terlihat rapi dengan menggunakan pakaian warna putih menuju rumah Illahi. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali lewat mobil yang melaju kencang. Hari itu adalah hari jum'at dan tidak lama lagi akan berkumandang suara adzan.

Tak perlu tergesa-gesa, motor yang kami kendarai tetap bergerak dengan kecepatan konstan. Bagi kami keselamatan adalah nomor utama, apalagi jangan sampai mencelakakan orang lain. Disaat akan menyeberangi jalur, mata terlirik dengan sebuah bangunan yang bernuansa kuning. Warnanya yang mencolok membuat semua orang yang lewat akan tertuju kepadanya. Melihat bangunan tersebut, saya langsung teringat dengan postingan foto oleh salah satu teman yang ada di facebook. Bangunan yang mewah tersebut adalah rumah adat Melayu Mempawah yang baru saja dibangun.

***

Disaat pulang menuju Kota Pontianak, kami menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut. Kebetulan saat itu akses untuk masuk kehalamannya terbuka (tidak diportal), yang membuat kami yakin tempat ini boleh disinggahi. Meskipun sebelumnya ada anggapan bahwa tempat ini tidak boleh disinggahi karena belum diresmikan. Jika kami telah melakukan kesalahan mohonlah dimaafkan.

Sebagai pemuda Kabupaten Mempawah, tentunya saya sangat merasa bangga akan kehadiran bangunan ini. Bagaimana tidak, setahu saya ini merupakan pertama kalinya daerah kami memiliki rumah adat Melayu secara resmi (jika salah tolong diberi tau ie). Meskipun sejak lama telah ada Istana Amantubillah dengan nuansa khas Melayu.

Setelah memarkirkan motor, kami pun langsung mendekati bangunan tersebut. Karena tempatnya masih baru, kami pun tidak ingin menghapus jejak ketika mampir disini. Tanpa disuruh lagi, sebuah alat bantu yang bernama android dikeluarkan untuk mengambil gambar yang terbaik.

Untuk keseluruhan, pembangunan rumah adat Melayu Mempawah ini memang belum rampung. Hanya bangunan rumahnya saja yang menurut saya sudah selesai dikerjakan. Selebihnya seperti jalan masuk, pagar dan plang nama belum dibuat. Selain itu, halamannya juga perlu ditata lagi agar terlihat lebih menarik. Baik itu dengan penanaman rumput, pohon maupun taman.

Meskipun belum selesai, namun keindahan rumah adat Melayu Mempawah ini sudah bisa dirasakan. Perpaduan antara warna kuning dan coklat pada bangunan memberikan kesan estetika yang elegan. Penggunaan warna kuning ini tentu saja tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat Melayu bahwa warna tersebut melambangkan kesucian.

Rumah Adat Melayu Mempawah ini memadukan antara konsep modern dan tradisional. Dikatakan modern karena menggunakan beton dan lantai dari keramik. Sedangkan yang saya ketahui, rumah Melayu itu diidentik dengan menggunakan materil dari kayu, baik itu tiangnya, tangganya, lantainya dan lain-lainnya. Namun itu bukanlah masalah, yang terpenting adalah rumah ini masih menggunakan corak dan ciri khas Melayu.

Seperti rumah Melayu lainnya, Rumah Adat Melayu Mempawah juga berbentuk rumah panggung. Dimana bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang dengan ketinggian  yang mencapai satu meter lebih.


Sebelumnya saya juga tidak terlalu memperhatikan, ternyata disalah satu bagian bangunan memiliki bentuk yang sama dengan  bagian bangunan di Istana Amantubillah. Pada atap bagian bangunan depan (selasar) terlihat corak ragam hias yang sama. Diatas atap terdapat tonggak yang lurus dan ukiran kayu yang berupa motif pucuk tanaman dan gelombang. Dibawah atap (dibawah lisplang) juga terdapat tiga tiang gantung  dan ukiran kayu bermotif tanaman. Selain itu, dibagian depan selasar juga terdapat dua buah bintang segi delapan, yang bentuknya mirip roda kemudi kapal.

Dilansir dari situs Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Rumah Adat Melayu Mempawah rencana kedepannya akan dilengkapi dengan area wisata kuliner dan perpustakaan agama. Wah, keren juga nih perencanaannya! Apalagi mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Masjid Agung Alfalah, pastinya hal tersebut sangat mendukung dan dibutuhkan. Pengunjung yang mampir untuk menunaikan ibadah, bisa sekaligus untuk bersantap kuliner atau menambah wawasan.

Setelah puas berfoto dibagian depan, kami melanjutkan kembali untuk menyusuri bagian yang lainnya. Meskipun tidak bisa melihat bagian dalam, namun menjajal bagian depan sudah lebih dari cukup. Layaknya rumah Melayu lainnya, pinggiran tangga dan teras juga diberi pagar ukiran kayu.

Berikut beberapa foto yang kami dapatkan.





Kehadiran Rumah Adat Melayu Mempawah ini tentunya sangat didambakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah. Oleh karena itu, harapan penulis semoga  kedepannya bangunan ini bisa menjadi tempat silaturrahmi dan tumbuh berkembangnya budaya Melayu. Takkan hilang Melayu ditelan zaman.

Wednesday, November 7, 2018

Beginilah Robo-Robo di Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah


Robo'-Robo' Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah

Tadi pagi, bertepatan hari rabu. Sama seperti hari biasanya, matahari terbit dari arah timur. Awan tipis seperti kapas berarak dibawah birunya langit. Sekelompok burung gereja yang hinggap dibumbung asrama sesekali juga terlihat berterbangan, menjemput rezeki yang dijanjikan Sang Penciptanya.

Namun ada yang sedikit berbeda untuk hari ini. Pagi-pagi hari kami sudah berkumpul dilapangan voli, bermandikan cahaya pagi. Tapi bukannya untuk bermain voli atau sekedar berolahraga lainnya. Melainkan katanya hari ini merupakan hari bersejarah bagi daerah kami, Mempawah. Kami pun diarahkan untuk duduk memanjang dihadapan makanan yang telah disajikan.

Robo'-robo', itulah alasan kenapa kami berkumpul. Merupakan sebuah acara budaya yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya. Robo'-robo' dilaksanakan pada hari rabu terakhir dibulan safar, dimana sebagian besar orang percaya bahwa saat itu ada banyak bala atau bencana yang diturunkan. Oleh karena itulah dilakukan do'a bersama, memanjatkan do'a kepada Allah agar dijauhkan dari marabahaya.

Selain hal tersebut, adanya robo'-robo' juga merupakan napak tilas atas kedatangan Opu Daeng Menambon kedaerah Mempawah. Kedatangan beliau disambut dengan sukacita oleh masyarakat setempat. Orang-orang berkumpul dipinggiran sungai dan beberapa perahu nelayan juga terlihat mengiringi kedatangannya. Melihat hal tersebut, Opu Daeng Menambon sangat tersanjung dan membagikan bekalannya kepada masyarakat. Masyarakatpun menerima makanan tersebut dan menikmatinya bersama-sama dipinggiran sungai. Atas dasar itulah, disaat robo'-robo' banyak masyarakat yang makan bersama-sama dialam terbuka. Seperti dijalan, tepian sungai dan halaman rumah.

Datangnya hari robo'-robo' ini tentunya sangat dinantikan oleh masyarakat Mempawah dan sekitarnya. Pada saat inilah orang-orang berkumpul bersama tanpa memandang latar belakang. Baik itu kaya ataupun miskin, pejabat ataupun rakyat biasa, semuanya pada berkumpul dan duduk bersama. Semua orang yang datang membawa makanan dari rumahnya, turut ikut serta berbagi pada sesama. Ketupat lemak, patlau, bontong, pulut kuning, ayam panggang, ayam opor, sambal teri, sambal mi, sambal kepah menjadi pemandangan yang lumrah ketika hari robo'-robo' tiba.

Tapi itu dikampung halaman kami. Sekarang kami berada di Kota Pontianak. Berbeda jauhlah kemeriahannya.

Seperti tahun sebelumnya, tahun ini kami juga memperingati peristiwa penting tersebut. Meskipun tidak meriah seperti yang ada di Mempawah, namun bukan berarti membuat kami untuk berkecil hati. Yang terpenting bagi kami adalah momen tersebut tetap terlaksana seperti yang lalu.

Tidak banyak agenda yang dilakukan dalam acara robo'-robo' kami di Kota Pontianak. Awal kegiatan dibuka dengan kata sambutan dari ketua Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah. Selanjutnya melakukan do'a bersama yang dipimpin oleh seorang teman. Barulah setelah itu kami melakukan makan-makan bersama.

Makanan yang dihidangkan pun sederhana. Hanya berupa ketupat, sambal mie, bumbu kacang dan kuah kaldu tanpa sayuran. Tetapi bukan prosesi makan-makannya yang menjadi poin utama adanya acara ini. Yang terpenting bagi kami adalah kumpul bersama dengan memanjatkan do'a kepada Allah agar diberikan kebaikan.

Disela-sela makan bersama selalu saja ada hal konyol yang mengundang tawa. Tak heran, jika kadang-kadang terdengar suara tawa pecah dan mengundang perhatian teman lain yang terlarut dalam bersantap. Hal seperti inilah yang semakin membuat makan kami semakin nikmat.

Meskipun tidak berada dikampung halaman, namun kami bisa merasakan nuansa robo'-robo' tersebut.

Ada Saja Hal Lucu Ketika Bersama

Keberagaman Dalam Kebersamaan

Friday, August 10, 2018

Songkok Recca Sebagai Identitas Orang Bugis di Tanah Rantau

Kebiasaan Orang Bugis yang senang berdagang dan merantau kedaerah lain telah dilakukan dari sejak dulu. Menggunakan kapal pinishi, orang-orang Bugis mengarungi lautan yang luas untuk mencari tempat yang baik dalam berdagang hingga menetap disana. Karena kebiasaan merantau tersebutlah, tidak heran jika Orang Bugis mudah dijumpai diseluruh wilayah nusantara. Mulai dari Papua, Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera hingga ke Negeri Malaysia dan Thailand.

Orang Bugis berpegang teguh pada falsafah "Kegai sanre' lopie kotisu to taro sengereng" yang memiliki makna "Dimanapun perahu ditambatkan, disanalah menanam budi baik". Oleh sebab itulah perantau Bugis sangat mudah beradaptasi dengan masyarakat setempat yang didatanginya, meskipun dari segi budaya memiliki perbedaan yang jauh. Sebagai contoh adalah di Kalimantan Barat, keberadaan Orang Bugis banyak dijumpai didaerah pesisir yang hidup berdampingan dengan etnis Melayu, Cina dan yang lainnya.

Meskipun berada jauh dari kampung halaman, bukan berarti perantau Bugis serta-merta melupakan adat budayanya. Hal ini bisa dilihat dari prosesi adat yang masih digunakan dalam acara pernikahan dan yang lain sebagainya. Selain itu, bahasa Bugis juga masih bisa kita dengarkan walaupun ratusan tahun kedatangannya telah berlalu.

Kebanggaan atas budaya leluhur masih tertanam dalam dijiwa keturunan Bugis yang telah beranak-pinak ditanah rantau. Meskipun sejatinya diri mereka sendiri belum pernah menginjakkan kaki ditanah Bugis yang merupakan asal-mula pendahulunya sebelum belayar.

Salah satu hal yang dilakukan untuk menunjukkan identitas dirinya ditanah rantau adalah dengan menggunakan songkok recca atau disini kami sering menyebutnya songkok ogi' (Songkok Bugis). Songkok yang berfungsi sebagai penutup kepala ini semakin banyak digunakan, baik itu dari kalangan muda maupun kalangan yang tua. Dari yang berprofesi pejabat, tokoh masyarakat maupun yang hanya kalangan biasa.

Penulis ingat betul, dulu penggunaan songkok recca ini sangat jarang sekali dijumpai. Paling yang menggunakan hanyalah mereka yang baru berkunjung ketanah Bugis atau mendapatkan oleh-oleh dari mereka yang pulang dari tanah Bugis. Namun dengan perkembangan zaman, keberadaan songkok recca semakin mudah diperoleh melalui pembelian online. Karena itu jugalah, banyak keturunan Bugis yang sudah memilikinya dan menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari maupun kegiatan besar.

Acara Gema Bina Bangun Desa

Acara Pernikahan

Acara Mahasiswa

Thursday, May 24, 2018

Tradisi Ngantar-Ngantar Di Bulan Ramadhan


Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Bulan yang selalu dinantikan oleh seluruh umat Islam.

Berbicara bulan Ramadhan di Indonesia, tentunya tidak akan terlepas dengan tradisi masyarakat yang selalu menghiasinya. Setiap tradisi tentunya memiliki makna sekaligus turut menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadhan. Sebut saja tradisi Balimau pada daerah Sumatera Barat dan tradisi Magengan yang ada didaerah Jawa Timur.

Tidak berbeda jauh di Kalimantan Barat, kehadiran bulan suci Ramadhan tentunya juga dihiasi oleh ragam tradisi. Seperti hadirnya Festifal meriam karbit Kota Pontianak dan festifal musik kelontong atau sahur-sahur di Kabupaten Mempawah. Namun untuk kali ini penulis tidak membahas hal tersebut, melainkan tradisi yang menurut penulis mulai tergeser akibat perkembangan zaman.

Sebut saja adalah tradisi Ngantar-Ngantar. Kata Ngantar sendiri berasal dari bahasa Melayu yang memiliki makna yang sama dengan kata "mengantar/antar" di dalam bahasa Indonesia.

Ngantar-Ngantar adalah tradisi berbagi makanan disaat bulan Ramadhan. Disaat itu, umat muslim akan mengantarkan atau memberikan makanan yang umumnya berupa kue kepada para tetangganya. Begitu pula sebaliknya, para tetangga yang diantarkan makanan tersebut akan mengisi wadah yang digunakan pengantar dengan kue yang mereka buat. Namun jika tidak memiliki sesuatu yang akan diberikan, tidak membalas hal tersebut pun bukanlah masalah. Karena sejatinya tradisi ngantar-ngantar adalah untuk saling berbagi kepada sesama.

Penulis ingat betul, disaat kecil paling senang jika disuruh Emak untuk mengantarkan kue kepada tetangga. Sekali pergi membawa dua rantang dengan setiap rantang berjumlah empat tingkat. Tidak heran jika disaat berbuka puasa, jenis kue yang tersedia bisa mencapai 20 jenis.

Namun itu hanyalah dulu. Sekarang tradisi Ngantar-Ngantar perlahan-lahan mulai dilupakan. Adapun yang masih melakukannya mungkin hanya pada tetangga disebelah rumahnya atau keluarga terdekatnya saja.

Thursday, November 23, 2017

Semaraknya Makan Saprahan Akbar di Kota Pontianak

Sumber gambar: POM Kalbar

Makan saprahan merupakan salah satu tradisi masyarakat Melayu yang masih tetap terjaga kelestariannya. Kata saprahan sendiri berasal dari kata 'saprah' yang berarti hampar atau berhampar. Lebih jelasnya, makan saprahan adalah budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan diatas lantai secara bersama. Makan saprahan ini tentunya kaya akan makna kebersamaan dan nilai persaudaraan. Oleh karena itulah, tradisi makan saprahan harus selalu tetap dipertahankan.

Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang keikutsertaan dalam acara makan saprahan akbar di Kota Pontianak. Jika biasanya makan saprahan menggunakan makanan berat alias nasi beserta lauknya, untuk kali ini sedikit berbeda yaitu dengan menggunakan konsep makan tambol sepuasnya.

Mungkin bagi sebagian orang masih asing dengan istilah tambol. Tambol berasal dari bahasa Melayu yang berarti kue. Kue yang dimaksud pun adalah kue-kue tradisional, bukannya kue snack yang banyak bergantung diwarung. Menjadikan 'makan tambol sepuasnye' sebagai konsep dalam makan saprahan akbar tentunya tidak terlepas adanya upaya untuk memperkenalkan dan melestarikan kue tradisonal asli Pontianak. Kegiatan budaya seperti ini nih yang mesti diapresiasi tinggi.

Bercerita tentang keikutsertaan saya beserta kawan-kawan dalam makan saprahan akbar tentunya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika kebanyakan pria yang datang menggunakan kostum telok belanga beserta tanjak, berbeda dengan kami yang hanya menggunakan baju komunitas. Warna-warni pakaian telok belanga dan berbagai macam bentuk tanjak membuat suasana budaya Melayu benar-benar terasa kental dan sangat hidup. Apalagi ditambah wanitanya yang juga memakai baju kurung dan kain songket.

Meskipun kami sedikit berbeda dengan yang lainnya, bukan berarti kami harus minder atau malu. Karena kehadiran kami yang ikut meramaikan kegiatan ini tentunya juga sangat diapresiasi oleh panitia dan lainnya. Semoga saja untuk acara yang berikutnya kami juga bisa menggunakan kostum telok belanga beserta tanjak. 

Sebelum memasuki lokasi makan saprahan, terlebih dahulu kami melakukan registrasi ke panitia. Selain untuk memastikan seberapa banyak peserta yang hadir, registrasi ini juga berkaitan dengan nomor undian doorprize. Mengetahui adanya pembagian dooprize membuat kami semakin semangat untuk mengikuti acara ini, meskipun malam sebelumnya hanya tidur dua jam.

Dalam makan saprahan akbar ini, jumlah peserta yang hadir melebihi target. Jika terget yang ditentukan sebelumnya sebanyak 1.500 peserta, namun yang hadir pada saat itu bisa mencapai 2.500 peserta. Semua ini tentunya tidak terlepas dari semangat dan kerja keras panitia

Setelah melakukan registrasi, kami pun berjalan menuju lokasi makan saprahan. Hamparan kain kuning yang menjadi alas untuk duduk terhampar sangat panjang. Disana juga terdapat panitia yang mempersilahkan kami untuk duduk. Amboi... serasa orang penting pula kami ini. 

Dalam memilih tempat duduk, tentunya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Yang paling utama bagi saya adalah posisi duduk tidak boleh jauh dari panggung, agar bisa melihat dengan jelas setiap prosesi acara yang dilaksanakan.

Masyarakat yang terlihat antusias (Sumber gambar: POM Kalbar)

Masyarakat yang terlihat antusias  (sumber gambar: POM Kalbar)

Adanya acara makan saprahan ini tentunya diharapkan bisa membuat tali persaudaraan menjadi erat. Dari makan saprahan inilah kita bisa saling mengenal saudara kita yang berasal dari daerah lain. Seperti hal yang kami alami. Dari sini kami bisa mengenal saudara kami yang berasal dari Kubu Raya. Komunikasi pun terjalin hingga kami saling bertanya.

Saya hampir lupa menceritakan sosok penyelenggara kegiatan makan saprahan akbar kali ini. Adanya kegiatan budaya ini dipelopori oleh Persatuan Mahasiswa Melayu (PMM) dan Persatuan Orang Melayu (POM). Meskipun setiap tahunnya di Kota Pontianak selalu diadakan makan saprahan, namun kali ini merupakan puncak makan saprahan dengan peserta terbanyak. Bagaimana, mantapkan?
Kedatangan Walikota Pontianak (Sumber gambar: POM Kalbar)

Tidak lama berselang kami duduk, suara hadrah yang diiringi sholawat terdengar menggema. Menandakan datangnya seorang tamu kehormatan. Dalam makan saprahan akbar ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak, Bapak Edi Rusdi Kamtono.
Prosesi tepung tawar (sumber gambar: POM Kalbar)



Kata sambutan ketua Persatuan Mahasiswa Melayu (sumber gambar: POM Kalbar)

Acara makan saprahan akbar di buka oleh Bapak Edi Rusdi Kamtono dengan prosesi tepung tawar dan menaburkan beras kuning sekaligus. Tidak hanya Wakil Walikota Pontianak saja yang menyampaikan kata sambutan, Ketua Persatuan Orang Melayu (POM) dan ketua Persatuan Mahasiswa Melayu (PMM) juga berkesampatan dalam memberikan kata sambutan.

Menikmati berbagai sajian tambol

Puncak dari acara ini adalah makan tambol yang terlebih dahulu membaca do'a tolak bala bersama. Berbagai macam jenis kue tradisional Pontianak pun hadir didalam piring. Mulai dari kelepon, doko'-doko', lepat ubi, apam made', apam kusoi, geto' dan lain-lainya.

Atraksi silat Melayu (sumber gambar: POM Kalbar)

Kegiatan makan saprahan akbar juga dimeriahkan dengan penampilan kesenian Melayu lainnya seperti tundang (pantun berdendang), silat dan tarian Melayu. Dan tidak kalah menariknya adalah pembagian doorprize diakhir acara.

Harapan kedepannya, semoga acara budaya seperti ini bisa selalu diagendakan setiap tahunnya. Selain sebagai ajang silaturrahmi, makan saprahan akbar ini juga merupakan ajang melestarikan dan memperkenalkan budaya Melayu kepada khalayak ramai. Mulai dari kesenian, pakaian adat hingga ragam kulinernya.




Thursday, November 16, 2017

Tradisi Robo-Robo di Kabupaten Mempawah


Sumber gambar: Mempawahtourism.com

Robo-robo atau sering disebut Robo'-robo' adalah sebuah tradisi yang selalu dinantikan oleh masyarakat Mempawah dan sekitarnya. Tradisi yang sangat kental akan adat dan budaya ini merupakan sebuah prosesi napak tilas atas kedatangan Opu Daeng Menambon di Kerajaan Mempawah.

Bagi sebagian daerah diwilayah Indonesia, bulan Safar dipercaya sebagai bulan yang kurang baik. Pada bulan ini Sang Pencipta menurunkan berbagai malapetaka, yang sebagian orang melakukan ritual khusus untuk menghindarinya.

Berbeda dengan masyarakat Mempawah yang meyakini bahwa Bulan Safar adalah bulan yang penuh keberkahan dan tentu saja selalu dinanti-nantikan. Pada bulan Safar ini telah terjadi peristiwa yang sangat besar dan penting sehingga selalu diperingati dengan acara Robo-Robo.

Tidak hanya di Kota Mempawah saja yang memperingatinya, di daerah lain seperti Segedong, Sungai Kakap dan yang lainnya juga memperingati hari tersebut.

Sejarah Budaya Robo-Robo
Adanya budaya Robo-Robo tidak terlepas dari kedatangan Opu Daeng Menambon bersama istrinya di Kerajaan Mempawah. Kedatangan Beliau dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah adalah bermaksud untuk menerima kekuasaan dari Panembahan Ratu Putri Cermin.

Opu Daeng Menambon sendiri sejatinya bukanlah penduduk asli Kalimantan, melainkan beliau adalah Orang Bugis yang berasal dari Pulau Sulawesi. Bersama dengan keempat saudaranya dan ayahnya, Opu Daeng Menambon melakukan pengembaraan ke Semenanjung Melayu dan Pulau Kalimantan. Hingga suatu saat, Beliau dan keempat saudaranya menolong Sultan Zainuddin yang kekuasaanya direbut oleh adiknya sendiri. Atas keberhasilan mereka, Sultan Zainuddin menjodohkan putrinya yang bernama Putri Kesumba dengan Opu Daeng Menambon. Dari pernikahan tersebut pulalah, Opu Daeng Menambon mendapatkan gelar sebagai Pangeran Mas Surya Negara

Setelah beberapa lama, dilakukanlah perjalanan menuju ke daerah Mempawah. Dalam perjalanan ini dikerahkan sebanyak 40 perahu bidar untuk mengantar Opu Daeng Menambon beserta istrinya. Ketika memasuki kuala Sungai Mempawah, penduduk setempat yang berada ditepi sungai sangat senang hingga mengiringi rombongan Opu Daeng Menambon dengan menggunakan sampan. Melihat hal tersebut, Opu Daeng Menambon merasa sangat terharu lantas membagikan bekal perjalanan kepada penduduk setempat. Disaat itulah, Opu Daeng menambon turun dari atas perahunya dan duduk makan bersama penduduk setempat sekaligus memanjatkan do'a.

Kedatang beliaulah merupakan cikal bakal masuknya agama Islam di daerah Mempawah. Kerajaan yang sebelumnya berlandaskan agama Hindu beralih menjadi agama Islam. Dibawah pimpinan Opu Daeng Menambon pulahlah berbagai etnis yang terdiri dari Dayak, Melayu, Bugis, Cina dan Jawa hidup secara damai.

Pelaksanaan dan Kegiatan Robo-Robo

Robo-robo dilakasanakan pada hari rabu terakhir dibulan Safar penanggalan Hijriah. Pada saat itulah dipercaya merupakan hari kedatangan Opu Daeng Menambon di daerah Mempawah. Nama Robo-robo berasal dari kata "rabu" yang juga merupakan hari dilaksanakannya kegiatan tersebut.


Adapun prosesi dalam tradisi Robo-robo adalah sebagai berikut:

- Pencucian Benda Pusaka

Sumber gambar: Mempawahtourism.com

Tradisi robo-robo diawali dengan membersihkan berbagai barang pusaka milik kerajaan. Salah satunya adalah sepasang meriam yang sangat berharga bagi Istana Amantubillah, Si Gondah dan Raden Mas. Prosesi pembersihan tersebut hanya boleh dilakukan oleh pihak pemangku adat Istana Amantubillah.

- Ziarah Ke Makam Opu Daeng Manambon
 
Sumber gambar: Pontianakpost.co.id


Hal yang tidak kalah penting dalam tradisi Robo-robo adalah berziarah ke makam Opu Daeng Menambon. Makam yang terletak di Sebukit Rama ini dulunya merupakan pusat pemerintahan di bawah kekuasaan Opu Daeng Menambon. Setelah Opu Daeng Menambon wafat, diangkatlah Gusti Jamiril sebagai raja dan saat itulah pusat kerajaan dipindahkan.

Tidak hanya dikenal sebagai pendiri kerajaan Islam di Mempawah, Opu Daeng Menambon juga dikenal sebagai tokoh kebergaman etnis dan agama. Dibawah pimpinan beliaulah, suku Dayak, Melayu, Bugis, Jawa dan Cina hidup berdampingan secara damai.

- Makan Saprahan

Sumber gambar: Equator.co.id

Puncak dari rangkaian kegiatan tradisi Robo-robo adalah pada hari rabu. Pada pagi hari, pihak istana dengan masyarakat akan melakukan makan saprahan di halaman istana. Saprahan adalah makan bersama-sama dengan duduk dilantai. Makan saprahan ini tidak hanya dilakukan disekitar istana saja, tetapi juga diseluruh tempat yang melaksanakannya.

Dengan adanya makan saprahan ini, menunjukkan tidak adanya jarak antara pihak kerajaan dengan masyarakat. Disini mereka duduk bersama-sama dan makanan yang dinikmati pun juga secara bersama-sama.

- Ritual Buang-Buang

Sumber gambar: www.pontianakpost.co.id

Puncak dari kegiatan tradisi Robo-robo adalah ritual buang-buang. Menggunakan kapal kerajaan dan transportasi air yang lainnya, Raja dan kerabat kerajaan yang lainnya akan pergi ke kuala Sungai Mempawah untuk melaksanakan ritual buang-buang tersebut.

Dalam  prosesi ini dimulai dengan mengumandangkan adzan dan pembacaan do'a tolak bala. Kemudian menghanyutkan sesajian di muara Sungai Mempawah. Sesajian tersebut terdiri dari beras kuning, bereteh dan setanggih. Beras kuning dan berteh melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan serta setanggi yang melambangkan keberkahan.

Ritual yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan dan keberkahan tersebut dilakukan sebagai wujud bentuk penghormatan dan pengakuan atas keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat Mempawah.

Setelah selesai melakukan ritual tersebut dan kembali ke daratan, pihak raja akan membagikan makanan kepada masyarakat yang sedang menyambutnya. Makanan yang biasa dibagikan adalah ketupat yang merupakan simbolis dari budaya Indonesia.

Untuk memeriahkan tradisi Robo-robo tersebut, juga diadakan berbagai hiburan tradisional seperti jepin, tundang dan lomba perahu bidar. Tidak lupa juga hadir pasar rakyat yang membuat tradisi Robo-robo semakin meriah.

Monday, July 31, 2017

Makan Tambol: Acara Syukuran Masyarakat Mempawah


Mempawah merupakan tempat tinggal kamek, tempat suke duke kamek dan tempat tembunik kamek ditanam (ini bahasa Melayu Mempawah. Jika mengerti syukur alhamdulillah). Mempawah merupakan salah satu daerah yang berada di Kalimantan Barat dan memiliki lokasi yang strategis. Kota mempawah yang memiliki julukan sebagai bumi Galaherang atau Kota Bestari memiliki ragam budaya yang menarik dan harus selalu dipertahankan. Jika ditanya tentang apa budaya Mempawah, pastinya sebagian besar masyarakat hanya menjawab Robo'-robo'. Padahal itu hanya salah satunya saja dan masih banyak lagi budaya-budaya Mempawah yang mungkin saja masih asing ditelinga kita atau bisa jadi tidak pernah didengar sebelumnya. Selain memiliki ragam budaya yang menarik, Mempawah juga memiliki aneka ragam kuliner yang nikmat dilidah dan pastinya aman bagi kesehatan.

Kali ini saya akan berbagi cerita tentang perjalanan bersama teman-teman ke kampung halaman kami, Kabupaten Mempawah yang tercinta. Karena status kami yang merupakan mahasiswa, telah membawa kami jauh dari kampung halaman dan pulangpun sangat jarang sekali. Tidak apa, yang terpenting sepulangnya setelah menjadi mahasiswa bisa memberikan kontribusi untuk membangun daerah. Aminkan ie, hehehe. Pulangnya kami kali ini, bukanlah pulang sembarang pulang. Tetapi ada niat untuk menghadiri acara Mempawah Syukuran atau lebih dikenal dengan sebutan acara Makan Tambol. Mungkin masih ada yang belum tau atau masih penasaran sebenarnya itu acara apa? Berikut saya akan jelaskan dan semoga saja bisa langsung di pahami. Dalam bahasa Melayu Mempawah (mungkin juga sama dengan bahasa Melayu yang lainnya), 'tambol' memiliki arti 'kue'. Tetapi ingat, kue yang dimaksud adalah kue tradisional, bukan kue snack yang banyak beredar di pasaran.

Sebelum bercerita tentang bagaimana serunya acara tersebut disana, saya ingin menceritakan terlebih dahulu bagaimana perjuangan kami untuk pergi kesana. Karena kami berada di Kota Pontianak dan acara tersebut dilaksanakan saat pagi, otomatis kami harus berangkat lebih awal agar bisa tiba dengan tepat waktu. Itulah tantangan pertama kami, harus bangun lebih awal dan mesti sudah siap sebelum sholat subuh. Setelah berusaha untuk bangun jam 04.00, ternyata air ledeng kami tiba-tiba saja tidak mengalir. Bisa bermasalah ini kalau sampai tidak mandi. Setelah berusaha mencari sumber air, akhirnya kami menemukan sumber air yang mengalir. Itu pun mengalirnya seperti air kencing (jangan dibayangkan).

"Osah mandi' jak la kamek. Sikat gigi jak" (jangan mandi lah saya, sikat gigi saja). Ucap saya kepada teman-teman.

Sebenarnya perkataan diatas tadi hanyalah sekedar gurauan saja kepada teman-teman karena melihat keadaan air. Aslinya saya tetap mandi. hehehe. Berkat keinginan yang kuat untuk mandi, akhirnya secentong demi secentong (segayung demi segayung) bisa dikumpulkan. Empat gayung pun sudah cukup digunakan untuk mandi. Kita semua mesti hemat air, karena masih banyak saudara kita diluar sana yang sangat membutuhkannya (Hehehe. Kalau bukan karena keadaan yang genting, empat gayung untuk mandi tentu tidak akan cukup).

Jadwal semula yang seharusnya berangkat sehabis sholat subuh, akhirnya menjadi molor. Kami pun mengencangkan gas motor dan melesat laju di jalan raya, menerobos dinginnya angin pagi, dan menahan sakitnya perut yang seperti ditusuk jarum (hahaha, lebay). Kami bersyukur, karena hari yang masih pagi dan merupakan hari libur membuat jalan raya terlihat lebih lengang. Jadi bisa lebih cepat untuk sampai ditujuan.

Akhirnya, kami tiba dilokasi sebelum acara dimulai. Dan yang tidak kalah penting, kami datang dengan keadaan sehat wal'afiat tanpa kurang satu apapun dan malahan bertambah (tambah senang). Dari arah jauh, terlihat masyarakat yang sudah antusias untuk menunggu acara dimulai. Sambil menunggu rombongan, saya dan yang lainnya segera menggunakan tanjak yang telah dibawa sebelumnya. Seperti halnya pria Jawa yang menggunakan blankon dikepalanya, maka kami sebagai putra Melayu juga menggunakan tanjak sebagai identitas budaya kami.

Persatuan Orang Melayu (POM)

Setelah rombongan tiba, kami pun berjalan masuk menuju tempat acara. Diatas pentas, pembawa acara dengan lantang mengucapkan 'Selamat datang kepada Persatuan Orang Melayu Kalimantan Barat'. Sambutan hangat tersebut membuat kami bangga bisa bergabung dalam memeriahkan acara syukuran ini.


Sambil menunggu kedatangan Bupati Mempawah, kami di manjakan dengan dendang lagu melayu yang membuat pendengar akan terkesima. Belum lagi melirik sana melirik sini, ternyate banyak anak dare gak yang datang (banyak gadis yang datang). Pokoknya, baik tua ataupun muda, pria atau wanita semua pada datang berkumpul untuk merayakan agenda tahunan ini.

Hal yang harus di ketahui, acara Makan Tambol atau Mempawah Syukuran ini diselenggarakan oleh komunitas Satu Periok dan sudah merupakan yang keempat kalinya. Selain itu, acara ini juga sekaligus memeriahkan HUT yang ke tiga atas perubahan nama Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Mempawah. Didalam hati saya yang paling dalam dan tidak terukur berkata 'ini komunitas yang mantap bisa mengadakan acara dengan mengedepankan kearifan lokal. Tapi kenapa nama komunitasnya Satu Priok?'

Karena penasaran, saya pun bertanya dengan teman yang berada di samping. "Mar (namanya Muammar), ngape komunitas ini dinamekan Satu Periok?". Inti percakapan tersebut menanyakan kenapa komunitas ini dinamakan Satu Periok.

"karne satu periok tu satu tempat. artinye serase lah". Spontan dia langsung menjawab. Kurang lebih makna jawabannya begini 'karena satu periok (periuk) itu satu tempat, artinya memiliki satu rasa'.

Setelah dipikirkan, betul juga apa yang disampaikan teman saya. Karena tidak ingin menduga-duga lagi saya memutuskan untuk diam. Karena yang lebih mengetahui secara betul terhadap komunitas tersebut adalah pendiri dan anggotanya. Mungkin lain waktu bisa bertanya.

Kata Sambutan Bupati Mempawah

Pembukaan acara Makan Tambol atau Mempawah Syukuran yang ke-4 dibuka langsung oleh Bupati Mempawah. Dalam penyampaian tersebut, Bupati Mempawah sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Makan Tambol dan mengajak masyarakat untuk membangun, menjaga dan memelihara Kabupaten Mempawah. Disisi lain, Bupati Mempawah juga menyampaikan asal mula nama Mempawah yang berasal dari buah mempelam paoh (sejenis mangga).

Kata Sambutan Ketua Komunitas Satu Periok

Dalam penyampaian kata sambutan ketua komunitas Satu Periok bahwa kegiatan makan tambol ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dengan kegiatan ini pula diharapkan mampu meningkatkan ekonomi untuk pedagang kue di Mempawah. Tidak tanggung-tanggung, dari pihak panitia menyediakan sebanyak 5.000 kue yang akan dimakan bersama-sama.

Puncak Acara Makan Tambol

Setelah pembacaan do'a, satu persatu ceper (penampan) yang berisi kue keluar dari balik pentas dan diletakkan dihadapan kami. Oi sungguh sangat senangnya saya, ketika melihat didalam penampan terletak dengan mempesona kue yang sudah  jarang ditemukan. Kue ini mengingatkan saya pada masa-masa SD. Dimana saat itu, kue ini selalu dijajakkan teman sekelas saya. Harga yang saat itu hanya 100 rupiah sudah bisa membuat perut terasa kenyang hingga siang. Kue ini terbuat dari parutan ubi yang berisikan pisang serta berbalut parutan kelapa yang terasa gurih. Inilah dia kue Kacemate (kacamata). Tetapi saya bingung, kenapa kue tersebut dinamakan kacamata. Padahal dari bentuknya tidak ada sedikitpun kemiripan. Misteri penamaan kue ini sampai sekarang belum saya ketahui dan sebelumnya pernah saya tanyakan kepada emak namun tidak ada jawaban berarti. Hanya jawaban 'makan jak' (makan saja). Terimakasih kepada panitia  kegiatan ini yang telah berhasil membawa ke masa lalu.


Tidak hanya kue kacemate, kue tradisional yang lainnya pun juga banyak dijumpai. Seperti trisalak, nagesari, dokko'-dokko', dodol dan lain-lainnya. Tapi ade yang kurang, ade satu tambol yang tak ade di ceper kamek (ada satu kue yang tidak ada di penampan saya). Yaitu kue putu mayang yang menjadi lirik lagu Mak Usu ciptaan Bapak Edy Mawardi asal Mempawah. Kalau ade kue itu, amboi sedapnye.
Doorprize yang ditemukan

Disaat sedapnye menikmati tambol, budak kecik (anak kecil) yang duduk dikumpulan kami mendapatkan doorprize uang tunai didalam bungkusan kue. Karena masih terbawa suasana nostalgia kue kacemate, saya hampir lupa bahwa pihak sponsor menyediakan doorprize yang disembunyikan di balik kue. Saya pun mengambil satu kue yang berbungkuskan kertas. Alangkah terkejutnya saya, ketika membuka bungkusan tersebut ternyata isinya adalah.....nasi kuning. Belum sempat menyuap nasi kuning, saya dibuat terkejut lagi dengan kekuatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sebuah kertas yang bertuliskan 'Anda Beruntung' terselip dibelakang lauk nasi kuning. Seketika nafsu makan saya sedikit berkurang. Saya pun memberikan nasi kuning itu ke teman saya dan tidak lupa mengambil kuponnya terlebih dahulu (Takutnya kuponnya sekalian dimakan sama dia. hehehe.)

Para Penemu doorprize pun dipersilakan untuk maju semua. Dengan senang hati saya maju kedepan hingga lupa dengan nostalgia masa SD, hingga lupa perut yang lapar setelah perjalanan jauh dan juga lupa minta di fotokan ketika maju didepan. Saya pun menghayal mendapatkan doorprize tiket liburan ke Singapur (menghayal itu gratis), atau tiket ke lombok, atau mungkin bisa langsung wisuda tanpa menyelesaikan skripsi (menghayal yang kebablasan). Akhirnya ibu Bupati pun datang beserta pihak sponsor sambil menyalami kami dan menyodorkan sebuah amplop. Meskipun feeling saya mengatakan bahwa dalam amplop tersebut berisi uang tunai, namun saya masih berharap isinya berupa lembaran tiket liburan. Saya pun memutuskan untuk membukanya bersama teman-teman. Dan Alhamdulillah isinya adalah tiket, tiket pulang ke Pontianak lagi (isi sebenarnya adalah uang tunai). Lumayan untuk isi bensin dan mampir ngopi di perjalanan pulang.

Foto bersama Bupati Mempawah

Sebelum kami pulang, kami juga menyempatkan berfoto kepada bupati dan mengucapkan terimakasih kepada panitia kegiatan Makan Tambol yang telah sukses menyelenggarakan acara ini. Bagi saya acara ini memiliki nilai jual yang tinggi dalam menarik pengunjung untuk datang ke Mempawah. Selain mampu memperkenalkan dan mempertahan keberadaan kue tradisional Mempawah, acara ini juga menjadi ajang dalam mempererat tali silaturrahmi. Semoga komunitas Satu Periok bisa konsisten untuk selalu mengagendakan kegiatan ini setiap tahunnya.