Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Friday, June 3, 2022

Bermalam di Air Terjun Riam Merasap

Berbicara wisata yang ada di Kabupaten Bengkayang tentunya tidak perlu diragukan lagi. Mau wisata apa saja semuanya bisa ditemukan disini. Mulai dari wisata bahari, alam, hingga budayanya semua sudah lengkap. Nah, salah satu tempat yang baru saja saya kunjungi adalah Riam Merasap, air terjun yang bentuknya mirip Niagara Falls di Amerika.


Kayang dengan view Riam Merasap


Perjalanan dilanjutkan kembali setelah beberapa kali sempat berteduh karena hujan. Jalanan yang basah dan kadang licin, membuat kami harus lebih berhati-hati. Terlebih medan yang sedang kami lalui lebih sering naik turun, lalu membelok tanpa ampun. Topografi pedalaman dengan hamparan perbukitan membuat jalur perjalanan sedemikian rupa. Jika hilang kendali, maka bisa saja kami menabrak tebing atau terguling di dipinggir jurang.


Meskipun merupakan jalur provinsi, namun jalanan yang kami lalui tampak begitu lengang. Untuk kendaraan besar yang kami temui boleh dihitung pakai jari. Mungkin jalur ini lebih dikhususkan untuk perjalanan pribadi ketimbang untuk mengangkut barang-barang pergudangan. Atau mungkin saja memang belum waktunya mereka lewat. Tapi syukurlah, dengan sepinya jalan membuat kami lebih legah untuk menikung dibawah kaki bukit. Oh iya, jalur yang kami lewati adalah Anjongan-Toho. Cek juga cerita sebelumnya disini.


Jalanan yang semulanya terang kini mulai gelap ditelannya malam. Disaat itu juga, kami melewati sebuah gerbang yang merupakan pembatas antara Kabupaten Landak dan Kabupaten Bengkayang. Tidak ada waktu lagi untuk mampir berfoto digapura tersebut, apalagi telah berlangsung adat balala'.


Jalanan Bengkayang tidak ada ubahnya dengan jalan-jalan sebelumnya. Naik turun, belok kiri-kanan dengan tebing dan jurang disisinya. Untuk kondisi jalannya jangan ditanyakan lagi, mulus seperti iklan di TV.  Hanya saja melakukan perjalanan malam itu  bagi saya kurang menyerukan. Pertama adalah kita tidak bisa melihat bagaimana pemandangan alam disekitar perjalanan yang dilalui. Kedua adalah ngantuk yang datangnya kadang secara tiba-tiba. Terlebih saat itu saya hanya sendirian, tanpa ada boncengan dibelakang. Tidak ada teman untuk diajak bicara, mau tidak mau nyanyi sendirian.


Meskipun jalanan cukup sepi, namun kehati-hatian dalam berkendaraan mesti tetap diperhatikan. Apalagi kita adalah pengunjung dan belum mengenal medan. Jarak dengan kendaraan didepan juga perlu dijaga, jangan terlalu dekat meskipun mereka adalah rombongan kita. Seperti yang saya alami, saat itu tiba-tiba kendaraan didepan mengerem mendadak. Meskipun jarak saya dengan mereka cukup jauh, namun dikarenakan lokasi yang licin akibat lumpur dari bukit turun mengakibatkan motor oleng. Alhasil saya hampir jatuh dan menabrak mereka.


Selain itu, jalanan yang dilewati sebagian besar adalah perkampungan dengan deretan bangunan penduduk. Rumah mereka betul-betul tidak jauh dari pinggir jalan. Nah, kalau ketemu seperti ini alangkah lebih baiknya kelajuan dikurangkan. Takutnya ada masyarkat setempat yang lagi sedang menyeberang.


Kurang lebih 45 menit perjalanan dari Tikalong (hanya ini nama yang diingat) kami pun tiba disebuah pasar. Beruntung salah satu rekan, Bang Zai, tahu betul seluk beluk Kota Bengkayang sehingga tidak perlu lagi melihat google map atau bertanya kepada nasyarakat. Kendaraan pun menyeberang diatas jembatan, lalu belok masuk diantara bangunan ruko. Ternyata luas juga pasar yang ada di Bengkayang. 


Ini belum akhir perjalanan, untuk sampai di Riam Merasap masih memakan waktu kurang lebih  dua jam.


Sebelum lanjut ke Riam Merasap, kami memutuskan untuk mampir dulu di Masjid Agung Syuhada Bengkayang. Bangunan masjid ini tampak begitu elok dengan desain tempo dulu. Ketimbang masjid perkotaan yang rata-rata bangunannnya sudah modern dan meninggalkan ciri khas awalnya. Entah kenapa, bagi saya bangunan yang mempertahankan tema klasik itu lebih terlihat menarik. Apalagi dibalik berdirinya menyimpan sebuah cerita. Terasnya yang luas juga cocok digunakan untuk istirahat bagi teman-teman yang sedang melakukan perjalanan jauh.


Warung makan pinggiran jalan  juga menjadi tempat persinggahan kami sebelum melanjutkan perjalanan. Selain mengisi kampung tengah, disini juga kami menghabiskan waktu untuk beristirahat sejenak. Terlebih Bang Zai, sebagai seorang jurnalis mesti menulis berita dahulu. Sedangkan saya dan Bang Jono betul-betul memanfaatkan sinyal yang ada untuk bermain sosial media. Mumpung masih ada jaringan sebelum masuk semakin ke pedalaman.


Perjalanan dilanjutkan kembali. Hujan dan gerimis yang sempat menemani perjalanan kami sebelumnya kini berganti dengan cuaca yang lebih bersahabat. Semoga saja tidak ada lagi cerita diguyur hujan. Masih didalam perkotaan, ditengah kegelapan malam terlihat dua tempayan besar berdiri kokoh di sebuah pintu gerbang. Didalamnya tampak sebuah rumah panggung yang tidak terlalu jelas. Mungkin itu merupakan rumah adat Dayak dan akan disinggahi nanti sepulangnya.


Kami menerabas jalanan diantara heningnya malam. Tidak ada pemandangan yang bisa dilihat dalam kegelapan. Bukit dikejauhan yang tampakpun hanya dalam bentuk siluet, entah hijau ditumbuhi pohon atau malah gersang. Semakin jauh meninggalkan kota, semakin berat pula rasanya medan yang dilalui. Jalur semakin naik turun, berkelok-kelok dibawah kaki bukit. Tapi itulah yang membuat perjalanan ini semakin terasa seru.


Sesekali kami berpas-pasan dengan mobil lain yang kadang mengejutkan. Bagaimana tidak? Disaat kami fokus dengan tikungan yang dilalui, eh tiba-tiba saja dia muncul dengan lampu tembak. Sontak membuat pemandangan buyar, jika tidak betul-betul malah kami bisa menyerempet tebing bukit. Semoga saja perjalanan ini tetap aman. 


Oh iya, sebelum melanjutkan perjalanan malam alangkah lebih baiknya untuk memperhatikan beberapa hal. Pertama keadaan stamina dan kedua adalah keadaan bahan bakar. Bukannya apa, kalau sudah malam tentunya sulit untuk mencari penjual bensin. Tidak lucu juga kan harus mendorong kendaraan disaat keadaan jalan yang mendaki. Capek euy...


Perjalanan kembali berhenti saat sampai di Sanggau Ledo (sumpah, dulu kalau dengar nama tempat ini saya kira berada di Kabupaten Sanggau). Kami singgah di indomaret untuk membeli air mineral, persiapan di Air Terjun Merasap. Kata teman, sebenarnya tidak perlu membawa air lagi karena disana sudah melimpah. Namun bagi teman yang satunya lagi mesti dibawa, dengan alasan belum tentu cocok diliur dan perut. Bagi saya sendiri, semuanya tinggal diatur saja mana yang lebih baik. Haha...


Setelah keperluan terpenuhi, perjalanan menuju Riam Merasap kembali dilanjutkan. Ketika sampai dipersimpangan tiga, maka jalur yang dipilih adalah kanan untuk menuju lokasi. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalur menuju Jagoi Babang. Kami melewati pasar dengan deretan ruko yang masih tampak klasik. Sepertinya bangunan tersebut dibuat pada tahun 80-an. Ah, sok tahu.


Belum lama meninggalkan pasar sanggau ledo, jalanan yang semula beraspal mulus kini harus berganti dengan jalan bebatuan (jalanan beraspal yang rusak). Tapi terlepas dari itu semua, jalanan yang dilewati ini masih aman dan bersahabat untuk pengunjung. Apalagi kami telah dimanjakan jalan bagus sepanjang ratusan kilo. Rasanya kurang bersyukur saja kalau mengeluh. Tapi kalau jalanan disini diperbaiki lagi itu malah lebih baik.


Selain bunyi percikan batu dan kendaraan, kedatangan kami juga disambut suara binatang-binatang malam. Dari bunyinya terdengar jelas bahwa itu suara burung, sang pengembara ditengah kegelapan. Selain itu terdengar pula ragam jenis suara bangsa jangkrik, dan bunyi selebihnya saya tidak tahu. Kurang lebih 7 kilo perjalanan bebatuan, akhirnya kami sampai di area tujuan, Air Terjun  Riam Merasap. Sekarang suara yang mendominasi adalah suara air terjun.


Belum sempat turun dari kendaraan, sebuah motor tiba-tiba datang mendekati kami. Ah, siapa pula malam-malam begini mendatangi kami. Sebagai pendatang, tentu saja berspekulasi hal yang aneh-aneh sangat wajar. Saya mulai berpikir kalau beliau adalah kelompok preman yang meminta jatah untuk rokok. Atau bisa saja dia adalah perampok yang membawa senjata tajam dan akan menodong kami.


"Akhirnya sampai juga, ya." Orang tersebut menyapa kami, lalu menunjukkan tangan untuk bersalaman.


"Oh, Bang Abum. Iya bang, akhirnya sampai juga. Tadi sempat lama di Bengkayang." Bang Zai menjawab sapaan orang tersebut.

 

Setelah menyalami kami satu-persatu dan sedikit berbincang, Bang Abum lalu mengajak naik keatas, lokasi dimana kami akan berkemah. Sebuah gapura bambu dengan warna dominan merah menyambut kedatangan kami, diiringi suara gemericik air terjun. Diatasnya tergantung sebuah spanduk ucapan selamat datang berukuran 1x2 meter. Tidak perlu lama untuk mendaki, akhirnya kami sampai di sebuah pondok yang sekaligus juga merupakan basecamp Bang Abum.


Saat itu sudah jam 22.40 WIB. Rencana semula yang ingin memasang tenda di pinggiran sungai harus diubah ke sebuah pondok. Ini dikarenakan waktu yang sudah malam dan membuat kami tidak tahu bagaimana bentuk medan di lokasi. Jujur saja, saya masih berharap kalau tenda betul-betul dipasang dialam terbuka, biar kesan camping-nya lebih terasa. Tapi ya sudahlah, mendahulukan keamanan dan keselamatan itu lebih utama.


Demi Pencahayaan


Kami pun menuju ke sebuah pondok yang tak jauh dari pondok sebelumnya. Disini, dan tanpa membuang waktu lagi tenda yang dibawa langsung dipasang. Disisi lain, Bang Abum dan adiknya sibuk mengurus aliran listrik ketempat kami. Entah beberapa kali percobaan dilakukan, mengotak-atik kontak listrik hingga bisa menghidupkan sebuah lampu. Sebenarnya, tanpa adanya cahaya lampu pastinya akan lebih seru untuk tidur dialam bebas. Hanya saja salah satu rekan tidak bisa terlelap jika dalam kegelapan. Baiklah...


Tidak perlu waktu lama, tenda mungil milik kami telah berdiri dengan begitu anggun. Begitu pula hammock juga telah terpasang, terikat kuat ditiang kayu. Sungguh, melihat tenda yang berdiri diatas pondok mengundang tawa. Bagaimana tidak, jauh-jauh melakukan perjalanan ternyata ujung-ujung kemahnya beginian. Dan ini adalah pertama kali saya melakukannya.


Tenda telah berdiri dan lampu telah menyala, sekarang adalah waktunya tidur. Eh salah, maksud saya adalah ngobrol santai sama Bang Abum. Orang yang sebelumnya saya anggap berniat jahat. Mohon maaf bang, ini semua karena efek perjalanan panjang dan kecapean.


Meskipun tidak ditemani kopi, namun obrolan malam itu terasa begitu hangat. Tapi ada beberapa snack dan satu botol besar air mineral. Disini kami semakin kenal dengan Bang Abum, salah satu pengelola dari Riam Merasap. Sosok yang begitu ramah ini ternyata juga merupakan ketua dari PokDarWis, kelompok sadar wisata.


Dari cerita Bang Abum, kami jadi tahu banyak hal mengenai Riam Merasap. Mulai dari asal mula namanya, usaha untuk mempromosikannya hingga bagaimana menjaga kelestarian sekitarnya. Termasuk membongkar bangunan dipinggiran sungai yang dianggap merusak nilai keindahan air terjun itu sendiri. Setelah cukup lama berbincang, bang Abum pamit mengundurkan diri. 


Oh iya, disini juga disediakan penginapan  bagi para pengunjung yang ingin bermalam. Biaya permalam dikenakan tarif sebesar 200.000 rupiah untuk kapasitas maksimal 5 orang. Lalu apa saja fasilitasnya? Disini pastinya tersedia kasur dan kipas angin. Kalau mau merasakan AC tunggu saja saat tengah malam, pendingin alami. Harga segitu itu sudah termasuk murah untuk ditempat wisata yang jauh dipedalaman.


Hadirnya lampu membuat Bang Jono terlihat agak rempong. Entah beberapa kali beliau memindahkan posisi lampu agar posisinya menerangi semua wilayah. Saya yang kurang suka terlalu terang jika tidur dan dia yang tidak bisa dalam kegelapan membuat kami sempat cekcok ringan, lebih tepatnya musyawarah untuk mencapai mufakat. Hingga akhirnya saya mengalah menuruti kemauannya. Atur sajalah, asal jangan lampunya diatas wajah saya.


"Jalan-jalan kebawah yok, Daeng." Bang Zai yang saat itu sedang berayun di hammock mengajak turun kebawah, sungai.


Saya yang saat itu sudah merasa capek tentu saja menolak. Lagian ngapain juga kebawah malam-malam begini, tidak ada yang bisa dilihat. Walaupun ujung-ujungnya kami semua turun gara-gara ingin gosok gigi. Didalam perjalanan, tampak samar-samar jurang yang begitu dalam. Disanalah, letak sebenarnya air Merasap berada. 


Kami kembali kepondok dengan membawa sekantong air, persiapan jika disaat tengah malam tiba-tiba kebelet pipis. Disini pastinya telah disediakan toilet, hanya saja pada saat itu airnya menipis. Takut juga jika saja mendadak ingin boker.


Saya dan Bang Jono memilih tidur didalam tenda, sedangkan Bang Zai memutuskan di hammock. Tidak perlu menunggu lama atau harus dinyanyikan lagu nina bobo, saya sudah terlelap diantara merdunya gemericik air terjun. Tidak peduli seberapa dingin saat itu, kelelahan perjalanan panjang membuat saya begitu nyenyak.


Hingga akhirnya, suara tenda dibuka membuat saya terbangun. Itu adalah Bang Zai yang sudah tidak tahan lagi dengan pendingin alam, makanya dia masuk bergabung dengan kami. Sontak, suara percakapan memenuhi ruangan. Dari sekian percakapan, terdengar jelas keluhan Bang Jono yang tidak bisa tidur sedari awal. Saya yang saat itu ngantuk lebih memilih untuk diam, berusaha untuk melanjutkan tidur yang sempat terputus sebelumnya. Saya tahu, ada sesuatu hal yang sedang dirasakan Bang Jono.


Lagi-lagi saya terlelap dalam tidur. Suara gemericik air terjun dibawah malah sempat dikira hujan lebat. Meskipun tidur terasa cukup nyenyak, bukan berarti suara percakapan didalam tenda hilang begitu saja. Samar-samar, suara keributan sempat terdengar membahas permukaan tenda bagian dalam yang basah. Hei, itu bukan bocor! Melainkan terjadinya peristiwa kondensasai, yaitu perubahan uap atau gas menjadi cair.


Camping ecek-ecek-an


Hingga akhirnya, saya bangun dengan tubuh yang terasa lebih segar. Kau tahu, sampai pagi Bang jono tetap terjaga dari tidurnya.







Tuesday, July 21, 2020

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah artikel tentang perjalanan seorang travel blogger ke Kota Pontianak. Karena yang diceritakan adalah kota saya, tentunya hal tersebut membuat saya penasaran akan  isi cerita tersebut. Hingga akhirnya saya buka. Mata pun mulai membaca, hingga jatuh cinta diawal mula rangkaian katanya.

@khatulistiwapark.official

Seperti travel blogger pada umumnya, setiap perjalanan yang dilakukan adalah inspirasi untuk membuat jejak cerita di blognya. Begitu juga seorang travel blogger yang satu ini, mengisahkan perjalanananya ke Kota Pontianak yang hanya sebentar saja, namun mampu menjajal banyak destinasi wisata di Kota Khatulistiwa.

Tidak tanggung-tanggung, cerita perjalanannya yang singkat itu mampu dia tulis dalam tiga seri. Part 1, part2 dan part3. Jujur saja saya akui, tulisannya sangat begitu apik dan enak dibaca. Karena itulah, setiap cerita perjalanannya saya ikut menikmati dan merasa seakan-akan Pontianak merupakan sebuah kota yang asing bagi saya. Karena rangkaian ceritanya yang bagus pula, saya mampu menghabiskan tiga ceritanya hanya dua kali duduk. Istirahat sejenak hanya karena harus setor air ke toilet.

Dalam cerita perjalanannya, ia membeberkan satu-persatu tempat wisata yang yang ada di Kota Pontianak. Yang menurut saya begitu lengkap dengan menampilkan peta tempatnya, jepretan gambar yang begitu bagus dan deskripsi yang sangat menarik. Dia menyambangi Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikonnya Kota Pontianak. Dia juga mendatangi Rumah Adat Dayak (Rumah Radakng) dan Rumah Adat Melayu. Disini dia menggambarkan begitu harmonisnya masyarakat Pontianak walaupun memiliki latarbelakang yang berbeda. Dia juga menyusuri Sungai Kapuas yang menjadi urat nadi kehidupan sekaligus kebanggaan masyarakat Kalbar.

Tidak hanya itu, Berbagai kuliner yang dia sempat nikmati pun juga diperkenalkan. Seperti Chai Kue, kembang tahu, Kopi Pontianak, Es Klim Petrus dan yang lain-lain-lainnya. Sebagai orang Pontianak tentunya saya sangat bangga membacanya. Bagaimana tidak? Wisata-wisata kita lagi diceritakan dan dibilang menarik. #kamekbangge.

Di hari terakhirnya, sebelum dia terbang meninggalkan Pontianak, lagi-lagi ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke tempat wisata lainnya. Saat itu adalah Keraton Kadariayah, Masjid Jami’ dan Kampung Beting. Disinilah ia menyebutkan keprihatinannya mengenai banyaknya sampah yang berada dikolong rumah warga. Ya, saya tahu betul, ada banyak begitu sampah rumah tangga di Kampung Beting yang berserakan. Tidak hanya dikampung Beting, melainkan juga kampung-kampung lainnya yang ada ditepian Sungai Kapuas.

Jujur saja, saya yang membacanya saat itu juga turut sedih. Sedihnya karena sayang saja, Pontianak yang awalnya diceritakan sangat menarik harus sedikit tercoreng oleh masalah sampah. Tidak hanya sampai disitu, dikolom komentar banyak juga para pembaca yang nimbrung memberikan tanggapannya. Kurang lebih begini,

“Sedih pas baca dan lihat foto kanal di Kampung Beting..Jadi banyak sampah dan terkesan kumuh.”

“Sangat disayangkan Kampung Beting terlihat kotor.”

“Turut prihatin akan sampah-sampah yang menggunung dibawah rumah Kampung Beting.” Yang ini terlalu berlebihan, mengatakan sampahnya menggunung. Belom kena’ lebu’ buda’ Pontianak kali’.

Yah, semoga saja dengan adanya cerita dan tanggapan tersebut bisa mensugesti kita untuk selalu menjaga kebersihan. Tidak hanya masyarakat Kampung Beting, tetapi juga kita semua yang setiap harinya menghasilkan sampah. Buanglah sampah pada tempatnya, bukan pada semaunya. Toh yang malu kita juga kan nantinya? Dikatakan kumuh, kotor, jorok dan sejenis lainnya.

Kepada pemerintah, saya juga menaruh harapan yang besar agar lebih memperhatikan daerah-daerah yang ada dipinggiran sungai. Mungkin perlu dilakukannya revitalisasi agar lingkungan yang ada tampak bersih. Kalau kata orang Pontianak itu “nyaman ditengok”. Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting, agar kebersihannya bisa berkelanjutan.

Kesedihan saya belum berhenti disitu. Diakhir perjalanan, seorang driver hotel yang mengantarnya ke Bandara Supadio menceritakan kalau Kampung Beting itu merupakan daerah kriminal, setiap orang asing yang datang akan selalu dicurigai. “Cobe gak campakkan ke Sungai Kapuas buda’ yang ngomong gitu’, biar dimakan puake.”

Seharusnya, sebagai salah satu pekerja penyedia jasa tidak sepatutnya berbicara seperti itu. Jangan sampai gara-gara omongan tersebut menimbulkan stigma negatif tentang Kampung Beting, yang akhirnya membuat orang-orang yang datang ke Pontianak jadi takut mampir kesana. Padahal kenyataan dilapangannya tidak demikian. Awak datang kamek sambot.

Tabe’...

Thursday, July 16, 2020

Rantau Panjang dan Segelas Kopinya

Ada begitu banyak tempat yang memiliki nama serupa. Salah satunya adalah “Rantau Panjang” yang bisa ditemukan diberbagai wilayah Indonesia. Anda bisa menjumpainya di Aceh, di Medan, di Jambi, di Riau, dan di Kalbar. Bahkan di negeri tetanggapun juga ada. Namun apakah dibalik namanya mempunyai cerita yang sama? Entahlah.

Sang surya mulai kembali diperaduannya, menyisakan seberkas cahaya jingga digaris cakrawala. Suara adzan pun berkumandang, memanggil jiwa-jiwa untuk mendekatkan diri kepada Sang Robbi. Perlahan, terangnya siang dimakan oleh pekatnnya sang malam.

Kendaraan kami melaju dijalan raya yang begitu asing. Iya, bagi saya ini adalah pertamakali melaluinya dan kemana tujuan pun tidak tahu. Yang pasti, malam ini kami akan kerumah teman bernama Tarmidji. Disanalah untuk satu malam kami menumpang nginap, sebelum melanjutkan pulang ke Kota Pontianak. Cek cerita sebelumnya disini.

Yansah, yang saat itu mengemudikan motor membuntuti setiap arah kendaraan Tarmidji. Jalanan yang sebelumnya cukup terang oleh cahaya lampu jalanan, kini hilang menyisakan cahaya kendaraan dan rumah dari pinggiran jalan. Itu artinya, kami telah memasuki wilayah baru dan sudah jauh meninggalkan ibu kota kabupaten.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami tidak tahu kemana tempat yang akan dituju. Apa nama tempatnya dan bagaimana keadaan disana tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Hanya menerka-nerka, mungkin tempat yang akan didatangi banyak terdapat pohon kelapa, atau jika lebih jauh kedalam adalah pohon sawit.

Binatang kecil penikmat malam pun banyak yang berterbangan. Mereka berpesta pora, mengejar cahaya kendaraan yang begitu menarik perhatiannya. Satu ekor sempat memasuki mata, membuat pemandangan terasa perih. Itu saya yang sedang berbonceng, bagaimana lagi dengan Yansah yang berada didepan?

Hingga akhirnya kami keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah jalan perkampungan. Sempat berbelok satu kali, sebelum akhirnya tiba ditujuan. Oh iya, setiap jalan disini juga disertai adanya aliran parit. Parit ini lah yang dahulunya digunakan sebagai jalur transportasi sebelum pembangunanan jalan digalak-galakkan.

Sebagai seorang pendatang, tentunya kita harus menjaga yang namanya kesopanan. Salah satunya adalah mengucapkan salam, untuk memberi tahu ada kedatangan orang sekaligus memanjatkan do’a bagi yang didalamnya. Namun malam itu, rumah yang kami datangi begitu sepi. Hanya terdengar bunyi jangkrik dikebun dan samar-samar suara tetangga. Tetangga manusia, bukan tetangga gaib!

“Orang tue kemane, Tar?” Tanya saya yang saat itu heran kenapa ruamhnya begitu sepi. Sekedar informasi, percakapan yang kami gunakan adalah bahasa Melayu.

“Kalo Emak pegi tempat keluarge, sedangkan Bapak ade disebelah ketempat kakak.” Tarmidji menjawab sambil menunjuk arah.

Saya pun duduk disebuah kursi yang ada didekat jendela. Tak ada kursi lainnya, hanya itulah satu-satunya. Disisi lain, Yansah mulai merebahkan badannya diatas lantai ruang tamu. Tidak lama kemudian, Tarmidji keluar dari kamar sambil membawa sehelai handuk. Lantas menyuruh kami untuk segera mandi.

Oh iya, ketika sampai tadi saya sempat bertanya tentang nama tempat yang kami datangi ini. Namanya adalah Parit Timur, tepatnya di Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Pantasan saja perjalanannya terasa jauh, ternyata kami telah berpindah kecamatan. Dari Sukadana ke Simpang Hilir.

Sekedar informasi, ada banyak daerah di Indonesia yang bernama Rantau Panjang. Seperti Rantau Panjang di Merangin, Rantau Panjang di Kalimantan Timur, Rantau Panjang di Ogan Ilir, Rantau Panjang di Deli Serdang dan Rantau Panjang di Sambas. Dan ada banyak lagi yang lainnya.

Setelah mandi dan makan malam,  waktu selanjutnya adalah bersantai-santai di ruang tengah. Saat itulah seorang bapak-bapak datang dan menghampiri. Ternyata beliau adalah ayahnya Tarmidji yang baru saja pulang dari rumah anaknya. Kami pun menyalaminya dan melemparkan senyuman. Bukan melemparkan cacian apalagi melempar batu, ya.

“Siape kita’ ni? Ayah Tarmidji membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Kita’ dalam bahasa Melayu berarti kalian. 

Saya dan Yansah pun memperkenalkan diri sekaligus memberitahukan dari mana kami berasal.  Dari sini jugalah saya tahu kalau nama beliau adalah Pak Arifin. Obrolan pun semakin seru disaat cerita demi cerita dituturkan. Mulai dari Oesman Sapta Odang  hingga cerita sejarah Rantau Panjang yang begitu menarik perhatian. Inilah bonusnya perjalanan, selain menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan cerita.

“Dulu’nye kampong ini maseh utan, hingge akhernye datang para orang-orang onto’ buka’ lahan. Disitu’lah awal mulenye name Rantau Panjang.” Pak Arifin menceritakan dengan mafhum. Dari guratan wajahnya dan sorotan mata, terlihat begitu jelas beliau sedang berusaha mengingat masa lalu. Mengumpulkan rangkaian-rangkaian kenangan yang kian hari mulai lapuk.

Berdasarkan cerita Pak Arifin dan ditambah lagi informasi dari situs milik Desa Rantau Panjang, bahwa  tempat yang sedang diceritakan ini memang memiliki sejarah yang amat panjang. Namun disini, saya berusaha untuk menuliskannya secara singkat agar lebih cepat dipahami.

Dikisahkan, penduduk pertama Rantau Panjang adalah warga yang hijrah dari Pelintu, Batu Teritip dan Pekajang. Disini mereka bercocok tanam dan menetap di Dungun Karu, Terus Landak, Sungai Siput dan Terus Jawe. Setelah puluhan tahun lamanya, mereka kemudian hijrah kembali menyusuri hilir Sungai Rantau Panjang dan menetap didaerah bernama Sungai Bagan. Kini, tempat tersebut  telah berubah nama menjadi Kampong Tembok Baru.

Dari tahun ke tahun, penduduk Tembok Baru semakin ramai. Tidak hanya karena adanya kelahiran, melainkan juga ramainya para perantau yang singgah dan menetap. Sebagian besar yang datang adalah dari Bugis, Banjar dan Tionghoa. Sehingga jangan heran jika adat istiadat etnis Bugis dan Banjar melekat pada warga Rantau Panjang sampai sekarang ini. Dari cerita yang panjang para perantau tersebutlah sehingga nama ini disematkan.

Saya pun mengangguk-angguk mendengarkannya. Sesekali bertanya, disaat ada rasa penasaran yang melintas. Dari arah dapur datang Tarmidji membawa penampan yang berisi kopi hangat. Asapnya yang mengepul tipis, menyentuh lembut saraf sensorik hidung. Ingin rasanya segera menyeruputnya. Disisi lain, sepiring kue juga turut disajikan. 

“Sile dipinom.” Pak Arifin menyuruh kami untuk meminum kopi.

Tanpa basa-basi, karena takut segera basi, saya pun langsung menuangkan kopi ke sebuah gelas. Yansah pun tidak mau ketinggalan, ia juga ikutan setelah saya. Degan membaca basmalah, kopi hitam mendarat perlahan dibibir. Euh, rasanya begitu nikmat. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan turun membasahi muka bumi. Dinginnya badan segera terhangatkan oleh segelas kopi Rantau Panjang.

Hal yang harus diakui, pamali rasanya bagi saya jika tidak menyeruput kopi yang telah disajikan. Apalagi bagi saya kopi adalah salah satu minuman kesukaan. Oh iya, meskipun menyukainya, bukan berarti saya paham betul akan seluk beluk kopi. Yang saya tahu hanya dua, enak dan sangat enak.

Cerita pun mulai beralih setelah saya melemparkan sebuah pertanyaan. Usut punya usut, ternyata kopi yang sedang kami nikmati adalah kopi yang dipanen dari Rantau Panjang itu sendiri. Malahan petiknya langsung dibelakang rumah Pak Arifin. Katanya juga, kopi merupakan sumber penghasilannya selain karet. Pantasan saja kopinya terasa nikmat dan begitu segar (baru, tadak kepang).

Semoga saja, dengan banyaknya tanaman kopi disini bisa menjadi peluang untuk dibuat produk unggulan. Sehingga bisa mengangkat ekonomi masyarakat dan memperkenalkan nama Rantau Panjang atau Kayong Utara dikancah nasional. Kalau bisa juga internasional. 

Hujan pun redah, selanjutnya kami diajak Tarmidji jalan-jalan. 

Segelas Kopi Rantau Panjang

Besok paginya lagi-lagi kami disuguhkan minuman kopi. Tidak lupa pula sepiring kue yang menemaninya. Namun sebuah kejadian heboh mengejutkan kami disaat sedang nikmatnya menyeruput segelas kopi. Bukan, bukan goyang hebohnya Mbak Inul, melainkan terdengar suara Pak Arifin didapur yang sedang meminta tolong. Sontak kami langsung berlari, menimbulkan suara berisik diatas lantai papan.

Ternyata api sedang berkobar besar dari sebuah tungku tempat memasak. Kalian tahukan bagaimana bentuk tempat memasak tradisional? Dimana diatasnya banyak tersusun kayu api. Saya yang saat itu juga mulai panik karena lidah api tersebut mulai menjilat  dinding dapur. Untung saja tempat memasaknya ada diluar dapur. Dengan bantuan pengendali air, akhirnya  api bisa di padamkan.

“Makaseh, ontong ade kitak” Pak Arifin mengucapkan terimaksih kepada kami yang telah berjibaku menyiramkan air kekobaran api. Meskipun sudah merasa legah, namun sisa rautan ketakutan masih berbekas diwajahnya.

Sebenarnya, bukan beliaulah yang harus mengucapkan terimakasih, melainkan kami. Karena berkat bantuan beliau dan Tarmidji lah sehingga kami bisa mendapatkan penginapan  dan makanan gratis. Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah mendapatkan cerita dalam setiap tegukan kopinya. Sekitar pukul 10.00 WIB kami pamit untuk pergi. Saatnya pulang ke Pontianak.

Yansah dan Pak Arifin

Kalian tahu apa penyebab kebakaran tadi? Penyebabnya adalah kakaknya Tarmidji yang tidak memadamkan bara api setelah menggoreng biji kopi. Tabe’...


Friday, July 10, 2020

Ngapain Saja di Sukadana?

Ketika berbicara Sukadana, kira-kira apa yang terbesit dalam pikiran anda? Sebagian besar orang akan menjawab Lempok Sukadana, sejenis makanan yang berbahan dasarkan buah durian. Sedangkan sisanya akan menjawab tempat kelahiran Oesman Sapta Odang, seorang politisi yang sekarang menjabat Ketum Partai Hanura. Padahal, kota kecil yang berada di Kayong Utara ini memiliki destinasi wisata yang menarik untuk didatangi.

*****

Disalah satu jalan di Sukadana, roda kendaraan kami kembali berputar. Meskipun merupakan kota kecil, namun jalanan penuh oleh ramainya volume kendaraan. Entah itu yang beroda dua ataupun yang beroda empat. Mereka semua tidak hanya berasal dari dalam kota saja, melainkan juga dari luar kota. Maklum, saat itu lagi musim liburan. Ramai orang-orang yang datang ke Sukadana untuk berwisata.

“Kita mau kemana lagi?” Tanya Yansah yang sedang mengemudikan motor.

“Tidak tahu, Yan. Tapi bagaimana kalau kita ke Masjid Apung saja. Sekalian sholat asharnya disana.” Saya memberikan usul.

Ajakan tersebut direstui. Kendaraan yang tadinya tidak tahu ingin dibawa kemana, sekarang sudah memiliki tujuan. Kami pun memutar arah, menuju Masjid Apung yang saat itu lagi jadi primadona Kayong Utara, Khususnya Sukadana. Bermodalkan panduan google maps, kendaraan melaju kencang menuju kesana.

Tujuan awal kami datang ke Sukadana adalah ingin hadir dalam acara festival durian. Namun keinginan tersebut harus kandas, ketika kami tiba acaranya sudah selesai. Begitupun Kampung Bali, keinginan untuk berfoto didepan pura harus diurungkan disaat motor yang kami kendarai mengalami masalah. Bukannya sampai ke pura-nya, eh malah ke RSK. Rumah Sakit Kendaraan.

Speedometer terus menambah angka. Kilometer demi kilometer terus memberi cerita. Kendaraan kami terus melaju hingga akhirnya tiba ditempat tujuan. Dari jauh, empat menara yang menjulang tinggi telihat kokoh diantara warna birunya langit. ‘Tunggu sejenak, kami memarkirkan motor dulu.’ Besit saya dalam hati.

Wisata Religi di Masjid Oesman Al Khair

Semua orang yang datang kesini akan kagum dengan keindahan dan kemegahan Masjid Oesman Al Khair. Bukan hanya sekedar bangunannya yang membuatnya tampak begitu menarik, melainkan juga pemandangan sekelilingnya. Bagaimana tidak? Masjid yang satu ini dibangun dipinggiran pantai dengan latar belakang lautan lepas. Sehingga akan tampak seperti mengapung. Ditambah lagi deretan bukit-bukit disekitarnya yang membuat masjid ini begitu terlihat apik.

Saya mempercepat langkah diantara ramainya pengunjung. Bukan! bukan karena ingin segera ikutan berfoto, melainkan ingin melakasanakan kewajiban. Rasanya kurang afdol juga, datang kesini tapi tidak melaksanakan ibadah. Yah, setidaknya ada alasan utama kenapa datang kesini. Uek...

Sekedar informasi, penamaan masjid Oesman Al Khair diambil dari nama Oesman Sapta Odang. Beliau adalah putra kebanggan Kayong Utara, Bahkan Kalimantan Barat dan Bahkan Indonesia. Namanya pun semakin dikenal setelah beliau menjabat sebagai wakil ketua MPR RI. Dari beberapa informasi juga nih, beliau lah yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun masjid. Dan yang membuat greget lagi adalah beliau menyumbang 11 milyar untuk membantu pembangunan masjid  kebanggan ini.

Bangunan masjid Oesman Al Khair memiliki gaya arsitektur Timur Tengah dengan warnah putih yang dominan. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, bangunan yang menawan ini juga sudah menjadi tujuan wisata. Bahkan sudah bisa dibilang ikonnya Sukadana.

Masjid Oesman Al Khair

Latar Belakang Lautan Lepas

Masjid Oesman Al Khair Dimalam Hari

Nah, kalo anda datang ke Sukadana, jangan lupa untuk mampir kesini. Ada banyak spot foto menarik bisa didapatkan disini. Tapi ingat, kesopanan dan kenyaman orang lain harus tetap dijaga. Jangan sampai karena terlalu asyik berfoto malah menutupi jalan orang lain yang datang ingin beribadah.

Lagi Nunggu Buah Durian Jatuh

Oh, iya. Disekitar Masjid  Oesman Al Khair juga terdapat tugu durian yang menjadi kebanggaan masyarakat Sukadana. Berfoto disini juga tidak kalah menarik dengan latar belakang buah durian yang dijunjung oleh empat tiang. Selain itu, kita juga bisa melihat anak-anak kece yang sedang bermain skateboard disekitar tugu tersebut

Menikmati Senja di Pantai Datok

Perjalanan kembali kami lanjutkan setelah sebuah pesan di whats up masuk. Isi dari pesan tersebut adalah adanya ajakan teman Yansah untuk ketemuan di Pantai Datok. Kami pun mengaminkan dan bergegas menuju kesana.

Nama Pantai Pulau Datok bagi saya sudah tidak asing lagi. Teman-teman kampus dari Kayong Utara dan Ketapang sering menceritakannya. Hingga akhirnya, untuk pertama kali bagi saya bisa menginjakkan kaki disini. Alhamdulillah...

Jarak masjid Oesman Al Khair ke Pantai Pulau Datok tidak begitu jauh. Hanya sebentar saja kami sudah tiba ditempat tujuan. Ketika memasuki kawasan Pantai Pulau Datok, kami disambut oleh gerbang yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Objek Wisata Pantai Pulau Datok. Setelah melewati gerbang tersebut akan ditemukan sebuah spot foto berlatar belakang perahu yang cukup menarik untuk disinggahi.

Orang yang dicari kami jumpai di pinggir jalan arena balapan. Kebetulan saat itu, Pantai Pulau Datok menjadi lokasi diselenggarakannya balapan motor. Dia tidak hanya sendirian, melainkan bersama temannya. Kami pun saling bersalaman dan kenalan.

Perkenalkan, namanya adalah Tarmidji dan temannya bernama Saufi. Dari percakapan, saya baru tahu kalau mereka ternyata dulunya satu kampus dengan saya. Tapi kenapa saya tidak mengenal mereka, paling tidak saya akan merasa kalau wajah mereka tidak asing bagi saya. Tapi sudahlah, mungkin sayanya saja yang kurang melanglang dikampus. Setelah cukup lama menyaksikan balapan, mereka pun mengajak kami untuk bersantai dipinggiran pantai.

Pantai Pulau Datok memang begitu menarik. Pohon-pohonnya yang rindang dann hijau membuat sekitarnya terasa teduh. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata tahun lalu, membuat tempat ini banyak dilakukan penataan. Ya iyalah, acara yang kemarinkan sangat bergengsi. Tidak hanya dihadiri orang dalam negeri saja, tetapi juga tamu-tamu dari macanegara. Makanya dilakukan pembenahan yang ekstra.

Tapi ada satu hal yang sangat disayangkan, yaitu banyaknya sampah yang berserakan. Ini nih perilaku negatif yang saya tidak sukai dari netizen +62. Ingat ya, yang saya tidak sukai itu perilakunya, bukan orangnya. Terlepas tadi malam tahun baru atau lagi ramai orang setidaknya kita harus berprilaku manusia, bertanggung jawab terhadap barang yang dibawa. Padahal dimana-mana banyak dijumpai tempat sampah. Ayo yang masih buang sampah sembarangan segera tobat!

Kami pun merengsek ke alun-alun pantai. Disanalah kami duduk, melanjutkan percakapan yang sempat tertunda sebelumnya. Sekaligus menyaksikan berbagai macam aktivitas pengunjung. Entah itu yang sedang bermain air dibibir pantai, yang sedang bercengkerama dengan kawan dan kekuarga hingga yang sedang berduaan.

Ingin Basahan, Tapi Sayang Hanya Sebentar

Pantai Pulau datok memang menyajikan panorama alam yang begitu indah. Diapit oleh perbukitan membuat pantai ini tampak begitu menarik. Hijaunya perbukitan, birunya langit dan lautan, serta putihnya pasir membuat orang-orang yang datang kesini betah untuk berlama-lama. Apalagi kalau sudah disapu semilir angin, rasanya tidak ingin pergi beranjak.

Ada satu hal lagi yang paling memikat perhatian pengunjung ketika datang kesini. Yaitu matahari terbenam. Katanya, momen matahari tenggelam disini itu sangat apik. Tapi sayang, ketika kami datang disini mataharinya tidak terlihat penuh atau lagi malu-malu. Alias ditutupi oleh awan mendung. Sebelum matahari tenggelam seutuhnya, kami langsung diajak Tarmidji kesebuah tempat yang juga tidak kalah menarik.

Kami pun bergegas pergi, meninggalkan hempasan gelombang yang begitu lembut menyapu bibir Pantai Pulau Datok.

Keheningan di TPI

Entah kemana kami akan dibawa Tarmidji. Tapi katanya, tempat yang akan didatangi juga memiliki pemandangan yang menarik. Kami pun mengiyakan, dan membuntuti motor mereka dari belakang.

Setelah keluar jalan raya, kami dituntun memasuki sebuah jalan yang saat itu terlihat sepi. Hanya satu dua orang yang kami jumpai. Disisi kiri jalan, tepatnya kaki perbukitan terlihat deretan pohon durian yang berbaris rapi. Saya pun menengadahkan wajah keatas, terlihat buah-buah durian yang bergantungan begitu anggun. Seketika pikiran negatif mulai merasuk, bagaimana jika tiba-tiba yang diatas itu jatuh menimpa kami. Atau dari atas bukit menggelinding buah durian dan langsung menghantam wajah kami? Jaohkan bale, Ya Allah...

Ternyata pemandangan disekitar TPI juga menarik. Eh, tapi ini bukan TPI stasiun TV, melainkan Tempat Pelelangan Ikan. Meskipun demikian, tidak ada terlihat aktivitas jual ikan disana. Kata teman sih memang belum digunakan sebagaimana mestinya. Untuk sekarang hanya digunakan sebagai tempat bongkar muat barang yang akan berangkat atau baru tiba dari Pulau Maya.

Karena suasananya yang sepi, membuat tempat ini sangat cocok bagi para penikmat keheningan alam. Disini kita bisa mendengarkan bagaimana begitu lembutnya deburan ombak menyentuh pinggir daratan. Disini juga kita bisa menyaksikan pulau kecil dan begitu indahnya masjid Oesman Ai Khair dari jauh. Disini pula kami sempat menjumpai gadis manis yang begitu cantik.

Panorama Sekitar TPI

Masjid Oesman Al Khair tampak dari TPI

Kami pun beranjak pergi setelah suara adzan berkumandang. Tabe'...

Tuesday, July 7, 2020

Selamat Datang di Sukadana

Tugu Durian Sukadana

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang, perjalanan kembali kami lanjutkan kedaerah berikutnya. Kali ini kami akan menyambangi Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di  Sukadana. Bukan tanpa alasan, disana kata teman-teman tempat wisatanya juga tidak kalah menarik. Apalagi saat itu katanya akan diadakan festival durian, yang hanya diselenggarakan ketika musim durian tiba.

Sukadana, merupakan kota kecil yang sangat menawan. Dulunya ia adalah bagian dari daerah Kabupaten Ketapang. Namun, setelah adanya pemekaran wilayah kini masuk kedalam wilayah Kabupaten Kayong Utara. Statusnya pun sekarang berubah menjadi sebuah ibu kota kabupaten. Sejak itulah, pembangunan  dan kegiatan ekonomi disini semakin menggeliat. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata. Tapi sayang, saat festival kemarin tidak kesini.

Saat itu hampir jam 11.00 WIB. Matahari lagi semangatnya menyinari hamparan bumi. Punggung tangan yang tugasnya mengendalikan motor, terasa hangat ketika disapa sang mentari. Maklum, tak ada sarung tangan yang melindunginya. Selain itu jalan yang kami lalui juga sedang dalam perbaikan. Jalanan yang berbatu dan berdebu menjadi santapan saat itu. Tapi tenang saja, karena itu dulu disaat tahun baru. Untuk sekarang saya rasa jalannya sudah bagus. Iya kan?

Ada hal yang membuat lebih seru perjalanan kali ini. Jika sebelumnya perjalanan menuju Ketapang hanya berdua saja, maka untuk sekarang ada rombongan lain. Ya,  ada rombongan anak jalanan yang sedang melakukan touring. Meskipun kami tidak saling kenalan dan salin sapa, tapi setidaknya ada teman dalam berkendaraan. Mereka ngebut, kami pun juga ikutan ngebut. Walaupun kadang mereka menoleh dan mungkin dalam benaknya berpikir 'ini siapa? Kenapa dari tadi ngikut terus?' Bodo amat, yang penting kami ini tidak ada niat jahat.

Tanda telah memasuki wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah setelah kita memasuki wilayah Siduk. Sebuah dusun yang ada di Kecamatan Sukadana. Setelah inilah, akan banyak kita jumpai para penjual durian dipinggiran jalan. Mereka menggantungnya dibawah pondok beratapkan terpal dan tidak sedikit pula yang hanya meletakkan ditanah.

Selain itu, gantungan-gantungan tempoyak juga membuat pondok tersebut semakin terlihat ramai. Ditambah lagi buah manggis yang tentu saja sangat menarik perhatian pengguna jalan. Satu dua orang singgah, negoisasi harga, memilih durian dan manggis lalu duduk menikmatinya. Terlihat pula yang langsung membawanya pulang.

Ah, sungguh enak rasanya jika saat tegak hari mampir ke pondok sambil menikmati buah manggis. Atau mencicipi legitnya buah durian. Tapi apalah daya, kami hanyalah pengelana dengan uang yang seadanya.

Ketika tiba dipersimpangan tiga, kami dan anak geng motor harus berpisah. Kami memilih belok jalur kanan sedangkan mereka tetap lurus saja. Semoga liburannya menyenangkan, kawan.

Oh, iya. Perjalanan dari Kota Ketapang menuju Sukadana tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan atau jarak tempuh sejauh 83.5 km. Lebih jauh jika dari Pontianak ke Singkawang.

Tujuan kami sekarang adalah pergi kerumah teman yang ada di Sedahan Jaya. Hanya bermodalkan share location, kami terus menyusuri jalanan yang belum pernah kami lewati. Entah bagaimana kondisi jalan yang akan ditempuh kedepannya itu adalah masih misteri. Namun yang pastinya, tempat yang akan didatangi ini bersampingan dengan Kampung Bali.

Tidak perlu waktu yang lama dengan dibantu oleh semakin canggihnya teknologi, akhirnya kami sampai dirumah tujuan. Yah meskipun sempat lewat beberapa rumah, hingga akhirnya orang yang dicari meneriaki kami. Memberitahukan kalau rumahnya sudah lewat. Untuk nama kampung yang kami datangi ini saya sudah lupa. Maklum, tulisan ini baru bisa saya buat setelah enam bulan kejadian. Ah, penulis macam apa saya ini. Tidak mencatat detail nama tempat yang didatangi. Yang pastinya, kampungnya begitu tenang dengan latar perbukitan.

Perkenalkan dulu, nama pemilik rumah yang kami datangi ini adalah Eko. Salah satu teman kampus Yansah (teman perjalanan saya). Entah bagaimana awal ceritanya, perjalanan kami diketahui beliau dan menyuruh kami untuk mampir kerumahnya. Kami pun menyempatkan diri walaupun hanya sebentar.

Baru saja memarkirkan kendaraan, sudah terdengar suara bapak-bapak yang mempersilahkan naik. Saat itu kami masuk melalui pintu samping, dimana keluarga Eko sedang berkumpul. Saya dan Yansah pun menyalami mereka satu persatu. Ada bapaknya Eko, mamanya Eko dan pamannya Eko. Kedatangan kami disambut begitu hangat oleh Eko beserta keluarganya.

“Dari mana Dek?” Mama Eko bertanya dengan logat Jawa yang begitu terdengar lembut bagi orang Kalimantan.

“Dari Pontianak, Buk.” Saya lebih dulu menyebutkan.

Percakapan dua kubu pun terjalin. Kami menceritakan dari mana asal kami, kemudian bagaimana ceritanya bisa sampai di Sukadana hingga tentang perkuliahan pun juga ikut diceritakan. Sebaliknya, beliau menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat disana. Percakapan semakin hangat ketika cangkir-cangkir kopi disajikan. Mantap betul...

Dari percakapan itulah kami tahu kalau dearah ini dulunya adalah pemukiman transmigrasi. Mereka didatangkan dari pulau Jawa dan Bali untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Selain itu, tidak jauh dari sini juga ada kawasan hutan lindung yang sering disebut Taman Nasional Gunung Palung. Disanalah beragam jenis satwa dijaga untuk kelestariannya.

Rasanya belum puas untuk mendengarkan cerita.  Tapi apa daya, kami segera pamit disaat jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Eko dan sekeluarga yang sudi untuk berbagi. Berbagi tempat berteduh, berbagi cerita dan berbagi makanan.

Lalu bagaimana dengan cerita pesta durian dan kampung Balinya? Pesta duriannya telah lama usai disaat kami tiba. Sedangkan kampung Bali nya hanya sekedar datang, tidak ke viharanya dikarenakan motor yang bermasalah.

Kecewa? Pastinya iya. Namun semua itu terbayarkan dengan berjumpa Eko dan sekeluaraganya yang begitu ramah dan bersahaja. Lagian pun saya yakin, ada hal-hal menarik lainnya yang sudah menunggu. Selamat Datang di Sukadana...


Wednesday, June 24, 2020

Destinasi Wisata Ketapang yang Wajib Didatangi


Lagi liburan singkat di Kota Ketapang? Tapi ingin pergi ketempat wisatanya? Tenang! Saya akan berbagi sedikit cerita pengalaman saya, yang saat itu datang kesini hanya sebentar saja. Tengah malamnya sampai, besok jam 10 pagi langsung berangkat lagi. Destinasi wisata yang direkomendasikan ini pun lokasinya tidak jauh alias mudah dijangkau dan menurut saya wajib (prioritas) untuk didatangi. Dari wisata religi, wisata alam dan wisata sejarah. Berikut ceritanya dan selamat membaca...

Saya membasahi seluruh tubuh dengan segayung air. Seperti biasanya, masjid adalah tempat yang sangat bermanfaat bagi perjalanan kami. Bukan hanya sebagai tempat beribadah, melainkan juga tempat persinggahan untuk beristirahat bahkan sebagai tempat mandi. Harap maklum, disini kami tidak punya sanak keluarga dan kenalan.

Kendaraan kembali melaju dijalan raya Kota Ketapang yang saat itu terlihat cukup sepi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya satu dua saja kendaraan yang menyalip kami. Entah mungkin dikarenakan hari yang masih terlalu pagi atau mungkin orang-orangnya yang masih lelah setelah merayakan tahun baru semalam suntuk. Ah terserahlah, setidaknya pagi ini udara terasa begitu segar.

Ketika mengunjungi Kota Ketapang ada satu ikon di perempatan jalan yang harus disambangi. Ayo tebak apakah itu? Untuk sidak Ketapang atau orang yang pernah mengunjunginya pasti akan tahu. Apalagi kalau bukan Tugu Ale-Ale. Sebuah tugu yang menjadi ikon kebanggan masyarakat Ketapang. Untuk yang belum tahu, ale ale adalah sejenis kerang yang sangat banyak ditemukan disini bahkan menjadi salah satu andalan kulinernya. Ups, terasa lapar jadinya.

Meskipun baru pertama kali datang ke Kota Ketapang, bukan berarti kami harus canggung ataupun khawatir. Entah itu khawatir untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya atau khawatir akan kesasar dijalanan. Karena sejatinya dalam kesaharian orang-orang disini menggunakan bahasa Melayu yang kurang lebih sama dengan bahasa Melayu Pontianak. Sedangkan untuk arah jalan tinggal diserahkan saja dengan google map yang akan memandu setiap langkah.

Bertandang ke daerah orang rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir ke tempat wisatanya. Apalalagi kalau lokasinya jauh, rasanya perjalanan yang dilakukan terasa sia-sia. Berhubung kami hanya memiliki waktu yang singkat karena siangnya akan segera menuju ke Sukadana, akhirnya kami memutuskan hanya mendatangi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang. Itu pun hanya sebentar saja, sebagai penghilang kemponan. 

Tempat Wisata di Kota Ketapang yang pertama kali didatangi adalah Pantai Pecal. Saat tiba disini pantainya masih sangat terlihat sepi. Maklum, saat itu masih pukul 06.30 WIB. Hanya satu dua orang yang terlihat berjalan didermaga dan sepasang kekasih yang sedang bermesra dibawah pondok. Serta sekelompok keluarga besar dengan pakaian serba putih yang sedang menunggu kedatangan Ratu Pantai Selatan (berfoto dibibir pantai).

Kami berjalan ke sebuah pondok yang paling dekat dengan tepian pantai. Deburan ombak yang menghantam pesisir terasa terdengar syahdu. Ditambah lagi suara kicauan burung yang saling bersahutan membuat tempat ini terasa asri (meskipun itu adalah suara burung pipit). Saya pun terlena dan ingin segera merebahkan diri.

Eits, tapi tunggu dulu. Niat untuk bersantai-santai tersebut segera saya urungkan setelah melihat sesendok coklat pahit tercecer diatas lantai. Untung belum sempat baring. Bisa dibayangkan bagaimana aroma pekatnya jika menempel dibaju? Usut punya usut, ternyata disekitar kami memang ada ayam yang sedang berkeliaran. Nah, sekedar saran buat kalian, jika baru tiba disuatu tempat alangkah lebih baiknya untuk memperhatikan dulu yang ada sekitar. Biar tidak terkena jebakan BangMen.

Kami pun pindah dipondok bagian belakang. Kali ini lokasinya aman dan terkendali untuk bersantai-santai. Sekedar informasi, selain disebut sebagai Pantai Pecal, pantai yang satu ini juga memiliki nama lain, yaitu Pantai Pesisir Kinjil. Dan pada tahu tidak kenapa pantai ini dijuluki sebagai Pantai Pecal? Hal tersebut karena disekitar pantai ini banyak sekali penjual pecal yang menjajakan dagangannya. Oleh karena itulah disebut sebagai Pantai Pecal. Nah kalau mampir kesini jangan lupa untuk mencoba makanannya ya, biar bisa menambah sedikit penghasilan para pedagangnya.

Berhubung hari yang semakin siang dan perutpun mulai meronta, rasanya kurang afdol jika tidak segera untuk sarapan. Jangan sampai gara-gara terlambat makan membuat rencana jadi berantakan. Saya pun menghampiri sebuah warung untuk memesan dua porsi pecal. Hal yang harus diingat ketika akan membeli makanan, pesanlah diwarung sesuai dengan pondok yang diduduki. Kalau tidak pemilik tempatnya akan bermuka masam dan hal yang terparah adalah akan mengusir paksa.

Nikmat euyy

Setelah kenyang menyantap makanan, saya pun memutuskan untuk menyusuri dermaga. Sebuah gapura megah dari beton berdiri kokoh  menyambut kami. Diatasnya terpampang tulisan “DERMAGA WISATA PANTAI KINJIL PESISIR”. Dari bentuknya terlihat seperti benteng pertahanan dengan dominan warna putih. Selanjutnya terdapat enam gapura kayu yang desainnya mirip gapura Jepang dengan warna jingga.

Pantai Pecal

Meskipun Saat itu keadaan matahari terlihat mendung, namun bukan berarti panorama Pantai Pecal tidak bisa dinikmati. Dari atas dermaga kita bisa melihat bagaimana gulungan ombak yang saling berkejaran dan berakhir dengan bunyi deburan ombak. Yah meskipun tidak besar, tapi lumayanlah untuk mencuci mata dan sedikit menenangkan jiwa. Terdapat juga berbagai jenis binatang laut yang bisa dilihat. 

Setelah puas menatap luasnya lautan, kami pun segera kembali untuk menuju ketempat wisata yang selanjutnya. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju ke  Keraton Matan Tanjungpura. Hanya memakan waktu belasan menit, kami tiba ditempat tujuan.

Keraton Matan Tanjungpura tereletak dipinggiran sungai, Tepatnya di Sungai pawan. Seperti yang diketahui, pada jaman dahulu perairan merupakan jalur transportasi yang sering digunakan untuk membawa berbagai barang dan orang. Oleh karena itulah, jangan heran jika banyak pusat pemerintahan kerajaan yang mendirikan istananya dekat dengan perairan. Selain itu, air juga merupakan sumber kehidupan yang sangat penting dalam kehidupan.

Kami pun memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki menuju lokasi. Tak jauh, hanya sepelemparan batu sudah sampai. Tapi sayang, disaat kami tiba keadaan Keraton dalam kondisi tertutup. Jadi hanya bisa lihat dari luar pagarnya saja. Entah memang tidak dibuka untuk umum, atau kaminya saja yang datang tidak pada waktunya. Meskipun begitu, rasa syukur tetap saja selalu ada. Setidaknya kami telah sampai dan menginjakkan kaki dibumi Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai ke negeri seberang. 

Keraton Matan Tanjungpura

Didalam kawasan Keraton Matan Tanjungpura terdapat beberapa bangunan. Sebagian besar bangunan tersebut didominasi oleh warna kuning, dan sebagian kecil bercatkan warna hijau. Atapnya pun masih menggunakan atap sirap, sejenis atap yang terbuat dari kayu. Sekilas, Keraton Matan Tanjungpura tampak seperti dari perpaduan dua budaya, yaitu antara Melayu dan Dayak.

Dihalaman keraton terdapat dua meriam yang menghadap kearah Sungai Pawan. Menurut salah satu artikel yang saya baca, meriam tersebut adalah sepasang suami istri yang tidak bisa dipisahkan. Menarik juga ya ceritanya. Tapi sayang, saat kami berkunjung kesini lagi tidak buka dan pastinya tidak banyak informasi yang kami peroleh mengenai Keraton Matan Tanjungpura. 

FYI juga, keraton ini sekarang dijadikan sebagai museum dengan nama Museum Gusti Saunan. Banyak barang-barang milik kerajaan pada tempo dulu yang bisa dilihat. Seperti singgasana sultan dan permaisurinya, foto-foto sultan bersama keluarga dan berbagai peralatan yang lainnya.

Karena tidak bisa masuk kedalam, kami pun menghabiskan waktu disini dengan berfoto-foto dan bersantai di pinggiran Sungai Pawan yang begitu rupawan. Menyaksikan aktivitas masyarakat yang ada diseberang dan motor air yang berlalu lalang.

Sungailah Pawan...
Kalaunye pasang...
Diwaktu hujan...
Deras sekali...

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Itulah cerita singkat saya di Kota Ketapang. Kalau ingin wisata religi, silahkan saja mengunjungi Masjid Agung Ketapang yang bagunannnya sangat megah dengan desain yang menarik. Apalagi kalau disaat malam, warna masjidnya bisa berubah-ubah. Nah jika ingin melihat pemandang alamnya datang saja ke Pantai Pecal. Disini tidak hanya angin sepoi-sepoinya yang terasa bersahabat, namun kulinernya juga nikmat. Sedangkan untuk wisata sejarahnya langsung saja datang ke Keraton Matan Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai dinegeri seberang. Semua tempat tersebut tentunya sangat mudah dijangkau.

Sebenarnya masih banyak lagi destinasi wisata yang ada Kota Ketapang. Namun karena waktunya singkat, jadi datang ketempat yang diprioritaskan saja dulu. Semoga suatu saat bersuah lagi.

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Saturday, May 23, 2020

Masjid Agung Al-Ikhlas Harus Disinggahi Ketika Ke Ketapang

Masjid Agung Ketapang


Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya tiba juga di pusat Kota Ketapang. Jalanan terlihat ramai, dipenuhi oleh orang dan kendaraan yang sedang lalu lalang. Entah kemana tujuannya, yang pastinya mereka sangat antusias menyambut malam pergantian tahun.

Saya tersenyum simpul sambil memperhatikan jalanan sekitar. Bukan karena ada sesuatu yang aneh, melainkan merasa bangga saja karena bisa sampai disini. Mungkin untuk sebagian orang itu biasa saja, namun bagi penulis sendiri ini sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Rencana untuk bertandang ke Ketapang hampir saja tinggal rencana. Ditambah lagi untuk sampai kesini butuh perjuangan. Yang biasanya jarak tempuh hanya perlu satu hari, sedangkan kami sampai 2 hari. Ya, itu semua karena faktor alam yang kurang mendukung.

Roda kendaraan terus berputar, menyusuri jalanan yang beraspal. Kota Ketapang dimalam tahun baru tidak ada ubahnya seperti di Kota Pontianak. Ramai dan dipenuhi oleh volume kendaraan. Sebagian besar adalah kaula muda yang menjadikan malam ini sebagai ajang berkumpul bersama teman. Sisanya adalah orang dewasa yang membawa keluarganya untuk menghirup segarnya angin malam. Meskipun sejatinya udara saat itu sudah tercemar oleh asap pembuangan dari kendaraan.

Motor menepi disebuah warung kopi, tidak jauh dari perempatan jalan tugu ale-ale. Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung menuju ke sebuah meja yang ada didalam ruangan dan menyandarkan punggung  dikursi. Rasanya sungguh begitu legah. Otot-otot yang tadinya sudah berteriak minta diistirahatkan, sekarang sudah mulai santai. Tidak lama kemudian, datang pemilik warung menawarkan aneka minuman.

Kuseruput minuman yang ada diatas meja. Meskipun warung kopi yang kami singgahi ini tampilannya sederhana, namun tetap saja ramai didatangi oleh pengunjung. Bahkan anak-anak muda yang katanya lebih suka kafe yang kekinian juga banyak betengger disini. Pergi satu kelompok datang lagi sekelompok yang lainnya.

Saya memperhatikan jam ditangan. Sekarang telah menunjukkan pukul 23.20 WIB. Itu artinya tidak lama lagi  awal tahun baru akan segera dimulai. "Belum mau berangkat kah?" Saya mencoba mengingatkan Yansah tentang keinginan kami mampir ke Pendopo Bupati Ketapang. Disitulah, katanya pesta rakyat digelar.

"Bentar lagi." Yansah menjawab singkat dan kembali sibuk dengan laptopnya.

Tidak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara sirene mobil dari kejauhan. Lambat laun, suara itu membesar dan mendekat kearah kami. Persis didepan warung kopi, terlihat sebuh mobil patroli polisi lewat sambil mengawali mobil orang penting. Saya rasa itu adalah orang nomor satu di Kabupaten Ketapang yang sebentar lagi akan ikut serta dalam pergantian tahun baru. Enak juga ya jadi seorang pejabat, kemana-mana keamanannya dijaga.

Motor bergegas menuju pendopo gubernur. Diatas kendaraan roda dua yang terus berputar, kuperhatikan kerlap-kerlip bintang diangkasa. Syukurlah malam ini cuacanya lebih bersahabat. Hei, tapi tunggu. Sekarang langit lebih ramai oleh cahaya. Sekarang semua sudut kota langit Ketapang sudah dipenuhi oleh bunga kembang api. Sungguh, saya sedikit merasa kecewa karena harus menyaksikannnya didalam perjalanan. Dan ingin rasanya segera menyikut Yansah yang sedang membawa kendaraan.

Kami terdampar disebuah lapangan yang luas, tepatnya dihalaman masjid. Ada yang sedikit aneh dari bangunan megah tersebut, perlahan-lahan warna menaranya berubah. Merah kuning hijau biru ungu yang semuanya dihasilkan dari pancaran cahaya lampu. Seketika saya menjadi kagum dan mulai melupakan rasa kekecewaan sebelumnya. Mungkin ini yang dinamakan, bahwa tencana Tuhan itu lebih indah.

Masjid Agung Ketapang di Malam Hari


Bagaimana dengan kabar kembang api? Ah, itu sudah tidak diperdulikan. Biarlah ia tetap bersahut-sahutan, menggelegar diatas langit Ketapang. Memberikan rasa kesenangan setiap  mata yang memandangnya. Sekarang kami lebih fokus ke yang lain, berfoto didepan Masjid Agung Ketapang yang lebih mempesona. Entah sudah berapa banyak jepretan yang kami lakukan. Mungkin orang lain akan melihat kami aneh, ketika orang lain sibuk mengabadikan momen kembang api malahan kami mengabaikannya.

Suara letusan perlahan mulai raib. Hanya menyisakan satu cahaya kembang api yang terlihat disudut kota. Tidak lama kumudian hening, menyisakan suara kendaraan dan ributnya orang.

"Mau pergi ke pendopo gubernuh kah?" Yansah bertanya setelah memarkirkan kendaraan.

Saya mengangguk, menandakan kalau setuju. Meskipun sebenarnya sudah malas untuk kesana. Ingin rasanya segera rebahan langsung di masjid.

Jarak dari Masjid Agung Al-iklas Ketapang ke Pendopo Bupati tidak begitu jauh. Letaknya berada diseberang jalan dan hanya berjalan kaki sudah sampai. Diantara ramainya massa, kami memanglah manusia yang paling aneh. Ketika acara sudah selesai dan orang pada berdesakan pulang, kami baru datang. Ditambah lagi tas ransel yang berada dipunggung membuat kami terlihat seperti orang yang jauh. Tapi sayang, wajah kami tidak ada mirip-miripnya seperti bule.

Halaman pendopo terlihat mulai sepi. Musik yang ada diatas panggung pun telah lama berhenti. Disisi kiri berbaris stand-stand pameran yang menampilkan berbagai produk makanan dan kerajinan khas Ketapang. Tidak lama kemudian datang rombongan pejabat untuk melihat, memegang kemudian pergi.

Setibanya kembali di masjid, rasa kagum akan padanya belum luntur begitu saja. Kutatap kembali empat menara tersebut yang setiap lima detik berganti warna (kurang lebih waktunya segitu). Merasa belum puas, kuambil lagi gambar melalui kamera ponsel.

Masjid Agung Al-Ikhlas terletak di dijalan H. Agus Salim, Kecamatan Delta Pawan. Lokasinya yang strategis, membuat tempatnya mudah dijangkau dari berbagai arah. Bangunan yang berdiri megah ini sebagian besar didominasi oleh warna hijau dan putih. Didepannya terdapat tangga utama yang langsung menuju ke lantai dua.

Kami tidak langsung masuk kedalam ruangan masjid. Tetapi bersantai dulu dipelataran lantai satu. Kusandarkan tulang punggung kedinding, berharap rasa pegal karena menggendong tas lekas pergi. Lorong teras saat itu terlihat sepi, hanya menyisakan kami dan 1 orang pria yang berumur 30-an.

Kumainkan layar ponsel, sambil membaca kembali status di whats up yang telah dibuat. Berharap bahwa kata-katanya tidak berlebihan apalagi lebai. Sekalian juga mengecek, siapa-siapa saja yang telah mengintipnya. Jangan mengatakan saya norak, kurasa anda juga pernah melakukan hal yang sama. Iya kan? Sudahlah, ngaku saja. Tidak perlu jaim-jaim-an.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari status yang telah dibuat. Hanya berupa ucapan terimakasih kepada Allah karena waktu yang telah diberikan sekaligus doa semoga selanjutnya bisa lebih baik. Sungguh sederhana dan tak ada kata-kata puitisnya. Anda yang membacanya pun cukup sekali napas saja.

"Assalamu'alaikum." Seorang bapak-bapak datang menghampiri kami dan mengalihkan tatapanku dari layar handphone. Dibadannya terbalut baju gamis panjang berwarna putih dan berpeci-kan warna putih juga.

"Waalaikumsalam." Jawab kami yang hampir serempak, hanya berbeda se per sekian detik.

Perbincangan pun terjadi meskipun tidak terlalu lama. Saya jelaskan dari mana rimbanya kami datang dan apa maksud tujuan. Beliau hanya mengangguk mafhum dan malah langsung mempersilahkan kami untuk segera naik kelantai dua saja. Bukan apa? Kalau disini katanya banyak nyamuk. Lagian pun diatas tuturnya banyak jamaah yang sedang melakukan itikaf.

Sebelum kami pergi beranjak, bapak tersebut lebih dulu menahan kami. Tidak lama kemudian beliau keluar dari sebuah ruangan dan memberikan dua bungkusan kertas yang berikatkan karet. Jangan lagi ditanya itu apa? Pastinya itu adalah makanan yang siap menopang punggung kami malam ini. Ucapan terimakasih pun tak luput diuntaikan. Kepada Sang Maha Pemberi dan si bapak. Memang betul, rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka. Alhamdulillah...

Kami pun segera menaiki tangga yang ada didalam bangunan. Semakin tinggi anak tangga yang dinaiki, semakin tampak pula kemegahan didalam masjid. Lampu-lampu yang menghiasi dindingnya membuat sekitar ruangan terlihat sangat indah. Ditambah lagi pilar-pilarnya yang besar membuat ia terlihat begitu kokoh.

Saya berusaha mengkondisikan diri. Ada sesuatu hal yang lebih penting untuk dikerjekan terlebih dahulu. Baru kemudian kembali curi-curi pandang melihat sekeliling.

Kuperhatikan ulang bangunan sekitar yang terlihat begitu modern. Berbeda dengan yang diluar, warna yang ada didalam ruangan lebih dominan oleh warna putih dan kuning keemasan. Mungkin itulah yang membuatnya terkesan mewah. Dibagian tengah, terdapat lengkungan kubah yang  besar dengan motif yang bergaya Melayu. Disitu jugalah bergantung lampu hias yang begitu apik. Tampak dimata, bangunan Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang adalah perpaduan dari nuansa Timur Tengah dan Melayu. Sungguh mengagumkan.

Saya pun tertidur. Terimakasih atas tempat persinggahannya dan keramahtamahan pengurusnya.

Wednesday, March 4, 2020

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 2

Perjalanan Ketapang. Suara ayam berkokok menghentikan tidur lelap panjang kami. Saya memaksakan untuk membuka mata, melawan dekapan rasa malas yang begitu erat. Belum lagi suasana pagi sungguh terasa dingin. Kabut embun pun malah masih tampak turun, membasahi rerumputan yang ada disekitar masjid.

Saya bergegas kekamar kecil, seperti biasa membuang sisa cairan yang sudah tidak dipakai. Baru setelah itu, mencuci muka dengan air yang mirip dari kulkas. Meskipun begitu, itu sungguh sangat menyegarkan. Membuat mata lebih terjaga.

Saya baru sadar, sepertinya tidak ada yang adzan subuh dimasjid ini. Atau mungkin saya yang tidak mendengar karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan? Ah mana mungkin pula. Selelap-lelapnya orang tidur dimasjid pasti akan sadar ketika suara adzan dikumandangkan. Lagian tidak mungkin pula orang yang datang kemasjid membiarkan kami tertidur sehingga tidak ikut sholat berjamaah. Iya kan?

Masjid yang berada jauh dipedalaman Kalimantan ini sungguh sangat berjasa dalam perjalanan kami. Selain sebagai tempat penginapan gratis, melainkan juga disini kami mengisi daya baterai ponsel yang hampir sakratul maut. Ditambah lagi mandi. Mungkin inilah yang dinamakan kalau masjid itu untuk kemaslahatan ummat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusatnya menuntut ilmu  dan tempat persinggahan bagi orang yang melakukan perjalanan jauh. Malam sebelumnya kami juga sempat izin menginap kepada tetangga yang sedang pulang kerumahnya.

Setelah mengemaskan segala barang bawaan, perjalanan menuju pusat Kota Ketapang kami lanjutkan kembali. Meskipun rasa dingin berbisik agar kami lebih baik bersantai dulu, sembari menunggu matahari sepenggalah naik.

Jalanan pagi itu terlihat lengang. Saking sepinya, kami bebas saja menggunakan jalur tetangga. Cuma mesti tetap hati-hati, karena bisa saja tiba-tiba muncul sebuah mobil yang melaju kencang. Tidak kebayangkan kalau terkena langgar dan kendaraan kami terpelanting nyangkut dipohon sawit.

Berbeda dengan semalam, kali ini kendaraan kami lebih sedikit lambat. Selain dikarenakan cuacanya yang dingin, melainkan kami juga ingin menikmati lebih banyak perjalanan, melihat pemandangan yang ada dikiri-kanan jalan. Kecuali jika dihadapan ada jalan yang menanjak, pastinya harus ancang-ancang dulu dengan kelajuan yang tinggi. Kalau disaat menanjak baru ingin melajukan kendaraan, yang ada malah motor kami mundur lagi kebelakang.

Panorama Keindahan Kabupaten Ketapang

Panorama alam disepanjang perjalanan menuju Kota Ketapang memang begitu menawan. Dari jauh arah memandang, terbentang deretan bukit yang berdiri dengan kokohnya. Begitu juga kiri kanan kami, sudah berapa banyak bukit yang dilewati, hilang dan kemudian diganti dengan yang lainnya. Keindahan bukit semakin terlihat, tatkala kabut memahkotai puncaknya. Seringkali pula tampak seperti adanya kebakaran ditengah hijau dan rindangnya pepohonan.

Seperti jalanan sebelumnya, tidak hanya jalanan turun naik yang harus kami lewati, tetapi juga jalanan yang berkelok-kelok layaknya sedang mengikut tes izin mengemudi. Bedanya kalau disini berada dikaki bukit, salah sedikit langsung menabrak tebing atau terguling-guling didalam jurang. Lebih ekstrimkan?

Nah, dikelokan yang berjurang inilah banyak dijumpai para penjual durian. Mereka menghamparkan dagangannya dibawah gubuk bambu yang beratapkan terpal. Meskipun saat itu masih dikatakan sangat pagi, namun sudah banyak para pedagang yang membuka lapaknya.

Saya sempat berpikir sebenarnya apa alasan mereka berdagang ditempat yang berkelok? Kenapa tidak disekitar jalan lurus yang keamanannya lebih sedikit terjaga. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika tiba-tiba saja ada kendaraan yang hilang kendali dan menabrak lapak mereka. Itu sangat berbahaya bung bagi keselamatan mereka. Tapi semoga saja itu tidak pernah terjadi.

Setelah melewati tempat yang serupa lagi, saya mulai menerka-nerka alasan mereka yang berjualan disekitar jalanan yang berkelok. Mungkin dikarenakan tempat mereka memanen buah durian ada disekitar situ. Jadi untuk mengefisienkan waktu akhirnya mereka membuka lapak tidak jauh dari pohon durian. Ketika ada buah yang jatuh, pedagangpun bisa langsung menjualnya. 

Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik sebuah bukit. Entah bukit apa namanya, yang pasti sebagian punggungnya berpencar warna jingga akibat cahaya matahari. Badan yang tadi kedinginan pun kini mulai berangsur hangat. Tidak ada lagi alasan untuk tidak melajukan kendaraan.

Dalam perjalanan, mata saya teralihkan ke seorang ibu yang berjalan dipinggir jalan. Dibelakangnya tergendong sebuah keranjang yang berisi tumpukan buah durian. Dalam masyarakat Dayak, keranjang itu disebut tankin. Keranjang yang terbuat dari rotan ini berfungsi untuk mengangkut tangkapan ikan dan berbagai hasil bumi lainnya.

Kurang lebih pukul 8 WIB, kami tiba di Kecamatan Sandai. Hiruk-pikuk aktivitas pagi jelas terlihat disini. Lalu lalang kendaraan, ibu-ibu yang pergi belanja dan bapak-bapak yang berbincang di warung kopi menjadi pemandangan yang lumrah dikawasan pasar.

Berhubung perut juga sudah lapar, maka kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di sebuah warung. Tapi sayang, warung yang disinggahi ini tidak menyediakan menu sabu (sarapan bubur) apalagi narkoba (nagasari korket bakwan). Nasi kuning pun juga tidak ada. Tidak ada pilihan lain, akhirnya kami memesan mie instan rasa ayam lengkap dengan telurnya.

Sebenarnya ini warung hanya sekedar untuk usaha sampingan. Disampingnya ada tempat pencucian kendaraan yang merupakan usaha utama. Nah karena itulah, untuk membuat pelanggan tidak terasa lama dan bosan menunggu, disediakanlah warung ini untuk tempat bersantai. Selain itu disini jugalah tempat transaksi pembayaran setelah kendaraan selesai dibersihkan.

Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya dua mangkuk mi instan tersaji diatas meja. Dengan asapnya yang mengepul, saya mulai menyendok sedikit kuahnya. Saya menambahkan sedikit perasan limau yang membuat aroma dan rasanya semakin menggoda. Seketika kami sibuk dengan sarapan.

Tidak lama kemudian ibu warung datang kembali, mengantarkan dua gelas air putih. Dengan sedikit perbincangan, ibu bertanya dari mana asal kami dan mau kemana. Saya menghabiskan dulu sisa mi yang ada didalam mulut, baru kemudian menjawab. Kemudian ibu yang saya prediksi berumur 45 tahun tersebut pergi menuju ke sebuah ember yang ada di pojok halaman.

Sambil menikmati sarapan yang sungguh nikmat dikala lapar, mata saya melirik ke ibu tadi. Dengan membincing sebuah ember, beliau menuju kesalah satu mobil berwarna hitam. Tangannya yang lincah, membuat tanah kuning yang masih nempel membandel hilang disetiap jengkal gosokannya.

Sarapan telah usai. Dengan bersandarkan disebuah kursi panjang, jari-jemari kami kembali berselancar diatas layar ponsel. Mumpung lagi banyak sinyal, kalau sudah melanjutkan perjalanan lagi pasti sinyalnya akan hilang. Kecuali kalau sudah sampai di kota kecamatan.

Saya pun mulai membuat status di media sosial, memberi kabar didunia maya mengenai petualangan kami hari ini. Ternyata saya kurang cepat, lebih duluan Yansah yang memposting foto dengan latar papan arah jalan. Satu hal aneh dari sisi dia, Yansah paling senang berfoto dengan view  tersebut. Tidak jarang kami harus berhenti hanya untuk melakukan aksi ini.

"Dari mana dek?" Bapak yang sedang mecuci mobil tadi tiba-tiba ada disamping kami, duduk sambil membuka sebuah percakapan.

"Dari Pontianak, Pak." Saya berusaha menjawab.

Perbincangan saya bersama bapak tersebut semakin hangat. Kalau Yansah jangan ditanya, dia sibuk dengan layar ponselnya. Menanyakan keberadaan temannya yang berdomisili di Ketapang. Dari sekian banyak yang ditanya, masing-masing punya jawaban tersendiri. Ada yang bilang masih di Kota Pontianak, ada yang bilang mau jalan sama pacar, ada yang lagi liburan sama keluarga dan ada yang tiba-tiba putus kontak setelah ditanya "Bolehkah kami mampir dirumahmu?" Mungkin sinyal lagi bermasalah atau dia tiba-tiba terkena obat bius yang mengharusnya tidur panjang.

Dari perbincangan kami, bapak juga sempat menanyakan kenapa tahun barunya malah pergi ke kampung? Bukankah di Pontianak lebih meriah? Yah saya jawab saja ingin sekali-kali merasakan suasana pergantian tahun baru didaerahnya orang. Sontak bapak tersebut tertawa sambil mengatakan tidak ada serunya jika tahun baru disini. Sesekali juga menunjuk mobil yang melintas menuju Kota Pontianak. Maksud dari bapak itu adalah 'orang Ketapang saja ramai yang ke Pontianak, kenapa pula kalian yang datang kesini?'

Matahari semakin tinggi mendaki bukit. Rasanya sudah cukup lama untuk kami bersantai-santai di daerah Sandai. Kami pun izin kepada bapak dan ibu yang sungguh begitu ramah. Bahkan disaat kendaraan akan berangkat ibunya berkata "hati-hati dijalan".

Jika sebelumnya kebanyakan saya yang membawa kendaraan, sekarang giliran jatahnya Yansah. Cuma ada satu hal yang membuat saya khawatir adalah dia sering kali memainkan handphonnya ketika berkendara. Setiap saya memperingatinya selalu saja berkata santai. Ok, kalau gitu kecepatannya juga harus disantaikan. Jangan sampai karena selalu menganggap semuanya santai akhirnya berujung santai dirumah sakit. Pahamkan? Akhirnya tidak butuh waktu lama saya sudah mengambil alih motor.

Jalanan kali ini lebih sedikit ramai. Kami lebih sering menjumpai para pengendara, bahkan sering pula mobil tiba-tiba menyalip dari belakang. Pernah ada sebuah mobil yang seketika sudah berada disamping dengan jarak hanya sejengkal. Menyalip sih boleh, tapi tolong dijaga juga kenyamanan pengguna kendaraan yang lain. Dia sih enak yang lecet paling hanya bodi mobilnya. Sedangkan kami?

Selain itu, pemukiman juga semakin mudah dijumpai. Sesekali saya perhatikan bagian bumbungnya, terdapat ukiran naga yang menyilang. Meskipun sebagian besar rumah lebih modern, namun unsur-unsur tradisional masih bisa kita jumpai. Selain itu, terlihat juga bagaimana kesibukan masyarakat ketika bergotong royong membangun pohon natal yang besar.

Kendaraan kami masih melaju, menaiki dan menurun disebuah jalan yang mendaki bukit. Sesekali kami singgah, ketika menemukan spot wisata yang sangat menarik. Mumpung terlanjur lewat disini, esok lusa mungkin sudah lain lagi ceritanya.

Sekarang kami juga tidak perlu khawatir lagi untuk masalah bensin. Sekarang lebih mudah untuk menemukan tempat pengisian bahan bakar dipinggir jalan. Seandainya pun pertamina belum diketemukan, masih ada penjual eceran yang menjualnya.

Semakin panjang perjalanan, semakin banyak hal unik pula yang ditemukan. Salah satunya adalah bagaimana keelokan rumah adat dari suku Dayak. Meskipun pada akhirnya tidak sempat mampir, karena orang yang sedang diboncengi tidak mau untuk singgah.

Salah duanya yang menarik dalam perjalanan kali ini adalah melihat pemakaman dari masyarakat suku Dayak. Uniknya kuburan disini adalah diatasnya ada berbagai macam barang punyanya yang meninggal. Seperti televisi, radio dan berbagai jenis lainnya. Sebagai informasi, hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Dayak, bahwa setiap yang meninggal akan diikutsertakan juga dengan barang kesayangannya.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami kembali sampai di sebuah kota kecamatan. Kali ini adalah Nanga Tayap, 346 kilometer dari Kota Pontianak. Kami saat itu hanya melewati pasarnya, yang sedang ramai oleh para pengunjung. Untuk menjaga keamanan, saya memperlambat laju kendaraan agar tidak menyeruduk maupun diseruduk.

Saya memperhatikan bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan. Sekilas, pasar Nanga Tayap terlihat seperti kota tua, dengan bangunan ruko buatan tempo dulu. Mungkin daerah ini dulunya  sempat menjadi salah satu pusat perdagangan didaerah pedalaman.

Nanga Tayap kami lalui begitu saja. Kali ini kami sedikit mengalami kendala dalam menentukan arah jalan. Google map yang selama ini memandu kami mengarahkan ke sebuah jalan tanah kuning. Dari bentuknya, sepertinya ini merupakan jalan milik perusahaan sawit untuk mendistribusikan hasil panennya. Melihat Yansah yang kebingungan membuat saya menghentikan dulu kendaraan. Berharap ada orang yang lewat sekaligus numpang bertanya.

Setelah lima menit, tak ada satu pun para pengendara yang lewat. Terkaan saya yang menganggap jalan dihadapan kami adalah jalan pintas, berubah menjadi anggapan kalau pemandu pintar kami lagi eror. Akhirnya kami memutar arah dan kembali menyusuri Jalan utama, Transkalimantan.

Sepanjang perjalanan kami berharap ada masyarakat dipinggir jalan yang bisa ditanya. Namun ternyata tidak. Hanya ada satu pengguna jalan, yang sedang menghentikan kendaraannya. Namun itu adalah cewek, takut pula kami nanti dikira maling atau lelaki jalang yang sedang mencari mangsa. Hingga akhirnya kami sampai disebuah persimpangan tiga. Dipapan penunjuk arah tertera, jika lurus akan menuju Kalimantan Tengah. Sedangkan belok kanan akan menuju ke hati adek. Hiyak...

Kendaraan berbelok kekanan menuju arah Tumbang Kacang. Kali ini kendaraan diserahkan sepenuhnya kepada Yansah untuk membawa. Kondisi jalan sedikit berbeda, dimana kemulusannya lebih terasa kasar. Hal itu bisa dirasakan melalui desiran ban bahkan lewat mata telanjang sekalipun terlihat. Tidak jarang pula, lubang menambah estetika seni dari jalan yang dilalui ini.

Deretan rumah dijalan ini cukup banyak. Bahkan kami harus lebih memperlambat laju kendaraan karena banyaknya anak kecil. Orang-orang dewasa pun tidak jarang kami temui, mereka bersantai diteras rumah sambil meyeruput segelas minuman. Setelah melalui jalan yang ramai ini, kami kembali menemukan jalanan yang sepi.

Kami kembali menemukan persimpangan tiga. Mengikuti petunjuk google map, kami memilih untuk berbelok kanan melalui jalan yang bertanah kuning. Banyak batu pula. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti, sambil memastikan lagi kebenaran informasi yang ada dilayar ponsel.

Lagi-lagi tidak ada satu orang pun yang lewat. Hingga akhirnya kami beranggapan bahwa google map betul-betul eror dan segera memutuskan untuk memutar arah, kembali ke jalan yang utama. 50 meter setelah keluar, seorang ibu-ibu sedang tampak membersihkan halaman rumahnya. Kami menghampiri dan kemudian mengutarakan maksud dan tujuan. Apakah ibu memiliki anak gadis yang siap dipinang?

"Kalau mau ke Sungai Melayu lewat jalan ini juga bisa, cuma mutarnya jauh. Tapi kalau mau lebih dekat, lewat arah jalan itu saja". Ibu tersebut menjelaskan sambil menunjuk sebuah jalan. Itu adalah persimpangan tiga, tempat yang tadinya sempat kami masuki.

Berhubung ibunya tidak memiliki anak gadis, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Masuk kembali kejalan tanah kuning yang bebatuan. Seandainya saja ini jalan bisa berbicara, mungkin mereka akan bertanya seperti ini.

"Hei anak malang yang sedang liburan dengan biaya terbatas, kenapa kembali lagi kesini?" Tanya sijalan dengan nada yang menghardik.

"Kami sedang mencari barang yang terjatuh." Mungkin ini jawaban yang tepat.

Setidaknya banyak pelajaran setelah kejadian tersebut. Yang pertama adalah kami telah suudzon sama google map, padahal dia telah menunjuki kami jalan yang lurus. Oleh karena itulah, didalam perjalanan kami lebih banyak beristighfar. Yang kedua adalah malu bertanya. Padahal dari SD sudah diajarkan, kalau orang yang malu bertanya itu akan sesat dijalan. Contohnya ini.

Kurang lebih sepuluh menit perjalanan, kami bertemu dengan banyak kendaraan. Mereka keluar dari arah jalan yang ada disebelah kanan kami. Pikiran saya mulai melayang-melayang sambil memutar kembali memori perjalanan sebelumnya. Apa mungkin mereka lewat jalan sawit yang sempat kami masuki? Kalau memang itu benar, berarti kami telah memutar jauh.

Jumpa Kata Bijak di Jalanan

Perjalanan memang memberikan kita banyak pelajaran. Selain banyak tahu tentang daerah orang lain, tetapi juga ajang untuk melatih kesabaran, bagaimana sabar ketika ingin sampai ditujuan. Kadang yang didapatkanpun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Yang semulanya ingin sampai lebih cepat, eh malah kesasar dan tiba dalam waktu yang lama. Tapi yakinlah, rencana Tuhan itu selalu baik dan selalu saja ada hikmahnya. Salah satunya adalah bisa berbagi senyuman dengan ibu yang tadi.

Setelah melewati jalan tanah kuning, kami kembali melalui jalanan yang beraspal. Meskipun kualitasnya tidak semulus seperti jalan miliknya provinsi. Dari sinilah saya sempat melontarkan pertanyaan kepada Yansah, mengapa jalan aspal antar kecamatan itu rata-rata cepat rusak? Setidaknya ada dua kemungkinan dari hasil diskusi santai kami ini. Yang pertama adalah karena memang kontur tanahnya yang belum padat. Sedangkan yang kedua adalah dananya minim, belum lagi ditambah potong sana potong sini. Kami pun tertawa, larut dalam sapuan angin perjalanan.

Ditengah lajunya kendaraan, pandangan saya tertuju pada sekelompok orang yang sedang bersantai dibawah rimbunan pohon karet. Dari jauh mereka tampak senang, sambil mengabadikan gambar melalui kamera. Tempat tersebut memang sangat menarik. Sepanjang jauh memandang, sepanjang itu pula deretan pohon karet berbaris rapi. Tidak hanya itu, terlihat pula rombongan keluarga yang menyantap makanan. Pokoknya tidak kalah menariklah dengan wisata hutan pinus yang ada dipulau Jawa.

Belum lama menyaksikan rimbunan pohon karet, kami kembali disuguhkan dengan keindahan alam Sang Pencipta. Sebelah kiri arah jalan tampak sepasang bukit yang begitu menawan dipandang. Warna hijau ilalang yang terhampar luas membuat bukit tersebut layak seperti padang bermainnya teletubies.

Saya menepuk pundak Yansah, sambil memberi kode untuk mampir. Kendaraan kami pun masuk ke sebuah jalan gang yang bernama gang Bukit Indah. Tidak banyak rumah warga yang dijumpai. Semakin jauh masuk kedalam, semakin rindang pula pohon yang ditemukan.

Motor berhenti ketika tiba ditikungan jalan. Entah apa pula yang membuat Yansah menghentikan kendaraan, yang pastinya dihadapan kami jalan semakin kecil dan deretan pohon semakin lebat.

"Ada apa Yan?" Tanya saya kepada Yansah dengan keheranan.

"Kita putar arah saja. Dan melanjutkan kembali perjalanan." Yansah menjelaskan sambil melihat saya dari kaca spion sebelah kanan.

Awalnya saya menolak dan mencoba untuk meyakinkannya bahwa tempat cantik yang mirip seperti Bukit Teletubbies itu sudah dekat. Tidak jauh dari tempat pemberhentian kami pun terlihat sebuah jalan setapak yang mungkin saja itu jalur menuju kaki bukit. Namun dengan alasan tujuan perjalanan yang masih panjang, akhirnya saya mengalah demi sesuatu yang harus diprioritaskan. Perlahan kendaraan kami menuju keluar.

Meskipun niat untuk ketempat tersebut diurungkan, tetapi bukan berarti mengabadikan momen juga harus ditiadakan. Saya dan Yansah kembali memasuki sebuah gang yang persis ada diseberang jalan. Disinilah sebuah lukisan indah milik Tuhan diabadikan. Sekedar informasi, tempat cantik yang disinggahi ini bernama Desa Lalang Panjang Kecamatan Pemahan.

Bukit Teletubbies Kabupaten Ketapang

Perjalanan kembali dilanjutkan. Entah sudah berapa kilometer jalur yang kami susuri. Yang pasti, kami sudah terlampau jauh dari kemacetan jalan ibu kota provinsi disaat sore hari.

Kecepatan kendaraan sedikit terhambat ketika kami memasuki wilayah Sungai Melayu. Jalanan yang berlubang-lubang dan bebatuan yang menyembul membuat harus lebih hati-hati. Tidak hanya keamanan kami saja yang terancam, tetapi juga bisa-bisa kami melanggar pengendara lainnya. Apalagi ketika tiba disini semakin ramai jumlah penduduknya.

Saya berusaha santai, sambil menikmati goyangan motor yang mulai tidak karuan. Kadang sesekali kaki tergelincir, membuat keseimbangan kendaraan susah terkendali. Seandainya saja persendian ini bisa bicara, mungkin ia akan berteriak untuk menghentikan perjalanan. Namun yang pastinya seluruh badan sungguh terasa encok.

Setelah melewati jalan panjang yang melelahkan tersebut, kami akhirnya tiba dimasjid Indotani  pada pukul 13.00 WIB. Menarik bukan setelah mendengar nama tempat ibadahnya? Disinilah, kami harus beristirat panjang akibat hujan yang datang tiba- tiba.

Ditengah bunyi rinai hujan, saya bersandar didinding masjid sambil meluruskan kaki. Dari sekian rute yang kami lalui, jalur barusan adalah jalur yang paling bermasalah. Bukan hanya menyusahkan kami saja, tapi juga para pengguna kendara lainnya. Jadi jangan heran jika dijalanan banyak motor dan orang yang berjoget tidak karuan sambil diiringi hentakan bawah mesin menyentuh batu.

Sambil bersantai, saya raba-raba bagian pinggang. Lalu turun ke kaki sambil menekannya. Bukan apa? Takutnya ada engsel yang lepas atau baut yang tanggal. Kan bisa jadi masalah kalau sampai hal tersebut terjadi. Hehe.

Pukul sudah menunjukkan 16.30 WIB. Rasanya sudah sangat lama kami terjebak dalam hujan yang deras. Namun syukurnya kami berteduh di masjid sehingga bisa meluruskan badan sekalian mengisi daya ponsel. Saya menatap jendela, memperhatikan sebuah warung yang membuat perut semakin terasa lapar.

Tidak lama kemudian, derasnya air yang turun kebumi mulai berkurang. Tanpa membuang waktu lagi, kami pun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Belum jauh dari arah masjid Indotani, kami sudah berhadapan dengan macetnya jalan. Dihadapan kami sudah berantrian kendaraan yang melalui jembatan sementara dari arah seberang. Disisi kanan, terlihat kesibukan para pekerja yang sedang melaksanakan tugasnya.

Lagi-lagi air dari langit turun deras, yang seakan-akan mengolok perjalanan kami. Kendaraan pun menepi disebuah warung tak jauh dari lokasi pembangunan jembatan. Tidak ada nama warungnya, tapi yang pastinya tempat ini bisa melindungi kami dari guyuran hujan sekaligus tempat persinggahan untuk mengisi perut yang sudah lapar.

"Pak, mau beli nasi." Saya memanggil bapak pemilik warung yang sedang duduk bersandar dikursi panjang.

"Silahkan dek, ambil sendiri makanannya." Bapak tua yang umurnya saya prediksi sekitar 60 tahun tersebut mempersilahkan kami.

Tanpa merasa canggung, saya langsung membuka tirai etalase. Tidak banyak lauk pilihan yang ada disana. Hanya ada ikan, telur dadar, tempe, sayur dan sambal. Saya setengah berteriak kearah bapak, untuk menanyakan ikan apa yang sedang terhidang. Bapak tersebut berkata kalau itu adalah ikan tapa, spesies ikan air tawar yang banyak ditemukan disungai Kalimantan. Oi, sudah lama tidak mencicipinya.

Potongan Ikan tapah mendarat manis diatas piring. Sejenak saya teringat bagaimana cerita seru tentang spesies air tawar ini. Dulu sebelum parit tercemar, untuk mendapatkan ikan ini sangatlah mudah. Tinggal turun keparit saja sambil menangguk dibawah pohon nipah sudah dapat tiga sampai empat ekor. Jika beruntung malah bisa lebih banyak. Kalau sekarang? Sudah sangat susah, setelah pendangkalan dan pencemaran air semakin merajalela. Namun dibeberapa tempat, keberadaan ikan ini masih sangat terjaga kelestariannya.

IDR 25K

Saya sangat lahap menikmati makanan tersebut. Apalagi ditengah derasnya hujan yang sedang mengguyur Sungai Melayu. Belum lagi dalam satu hari ini kami hanya sekali makan, itupun menunya adalah mie instan. Memang betul apa yang dikatakan orang, nikmatnya makanan itu akan sangat terasa ketika lapar sedang mendera.

Hari semakin sore. Langit mulai terlihat redup bersama jutaan tetesan hujan yang membasahi bumi. Saya mulai khawatir apakah malam ini akan tiba di Kota Ketapang? Jika tidak, tentu kacau balaulah niat kami yang ingin tahun baru disana. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan disaat hujan tidak terlalu lebat.

Membawa motor disaat hujan bisa dikatakan enak-enak susah. Enaknya jalan terlihat lebih lengang dan bisa mencicipi minuman gratis lagi segar. Susahnya adalah jarak pandang semakin berkurang dan mendapatkan serangan dibagian wajah. Iya, air hujan yang jatuh dimuka tidak ada ubahnya seperti jarum suntik. Ingin menutup kaca helm malah pandangan menjadi gelap. Bisa-bisa kami keluar jalur dan tergelincir direrumputan.

Kendaraan melaju ditengah jalan yang berbasahkan hujan. Siang pun perlahan mulai dilahap gelapnya malam. Sepanjang perjalanan, tak banyak rumah yang dijumpai. Hanya padang rerumputan luas sejauh mata memandang.

Padang rerumputan? Saya langsung teringat dengan cerita teman dikampus mengenai tempat misterius yang ada di Ketapang. Katanya, daerah tersebut bernama padang dua belas yang hanya berisikan tumbuhan rumput. Konon, disitu ada sebuah kerajaan besar yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Penghuninya pun merupakan makhluk ghaib yang orang setempat menyebutnya sebagai orang kebenaran.

Orang kebenaran tersebut memiliki ciri tersendiri, yaitu tidak memiliki garis diantara hidung dan bibirnya. Katanya, jika mereka memberikan kunyit kepada kita maka akan berubah menjadi emas. Tidak hanya itu, kata teman-teman, Rhoma irama sempat mengatakan pernah konser disana. Tetapi yang ditampakkan bukan padang rumput yang luas, melainkan sebuah kota dengan bangunan yang megah. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang pasti ada sisi lain yang tidak kita ketahui.

Saya menyeka air yang mengalir diwajah. Entah beberapa kali air menerobos pelupuk mata yang menyebabkan rasa perih. Dibelakang, Yansah hanya terdiam dengan raut wajah yang pasrah. Menerima kalau hujan tak berkesudahan dan membasahi sebagian pakaiannya. Inilah kesalahan fatal kami yang hanya membawa satu mantel ketika melakukan perjalanan jauh. Itupun mantel baju yang hanya bisa digunakan satu orang.

Langit sudah benar-benar gelap. Tidak ada lampu lain yang menerangi jalanan kecuali lampu kendaraan. Rumah penduduk pun belum ada yang telihat. Hanya rinai-rinai hujan yang menari didekapan cahaya. Saya melihat kearah jam tangan, tahu kalau sekarang sudah waktunya maghrib.

Laju motor diperlambat. Bukan karena jalanan yang semakin susah atau kami ingin mencari tempat persinggahan, melainkan karena sebuah kendaraan didepan kami. Kendaraan tersebut tidak berlampu dan merayap pelan dipinggiran jalan. Saya pun berusaha menyinarinya dari belakang. Tapi ingat, kami menolong bukan karena ingin mendapatkan kunyit emas. Melainkan karena panggilan rasa kemanusiaan lah yang menggerakkan hati untuk bertindak.

Hujan perlahan mulai redah. Jalanan yang tadinya sepi oleh kendaraan sekarang lebih ramai. Kami tiba di Kota Ketapang kurang lebih pada pukul 20.00 WIB. Laju motor semakin melambat akibat banyaknya volume kendaraan. Terlebih anak-anak muda yang membawa kendaraan semaunya saja, seolah-olah punya nyawa tiga. Yang sudah berkeluarga pun tidak mau kalah, mereka terlihat antusias menyiapkan pembakaran dihalaman depan rumah. Bahkan ada yang saling adu musik dangdut, yang jaraknya hanya di pisahkan satu rumah.

Hiruk-pikuk semakin terlihat ketika masuk dikawasan pasar. Tidak hanya cafe-cafe yang memanen rezeki pada malam ini, tetapi juga para pedagang kaki lima yang menjual atribut malam tahun baru dan makanan. Tidak jauh dari kami juga terlihat seorang anak kecil yang sedang merengek untuk minta dibelikan terompet. 'ayo ma, belikan saya satu', kurang lebih begitulah maksud raut wajah si kecil.

Dari jauh sudah tampak jembatan Pawan 1 yang menghubungkan kedaerah seberang. Kendaraan yang akan lewat tidak ada ubahnya seperti semut yang sedang berjalan. Diatas jembatan saya bergumam dalam hati 'akhirnya tiba juga di pusat Kota Ketapang'. Oh Sungai Pawan, dulu saya hanya bisa mendengar namamu ketika dinyanyikan. Namun sekarang keindahanmu sudah ada didepan mata, bercahayakan lampu malam yang sungguh mempesona. Saya tersenyum-senyum sendiri, sampai tidak sadar kalau didepan sudah berdiri tugu ale-ale, maskotnya Kota Ketapang.


Baca juga:

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 1

Perjalanan Nekat ke Perbatasan Indonesia Malaysia