Thursday, August 9, 2018

Songkok Recca Sebagai Identitas Orang Bugis di Tanah Rantau

Kebiasaan Orang Bugis yang senang berdagang dan merantau kedaerah lain telah dilakukan dari sejak dulu. Menggunakan kapal pinishi, orang-orang Bugis mengarungi lautan yang luas untuk mencari tempat yang baik dalam berdagang hingga menetap disana. Karena kebiasaan merantau tersebutlah, tidak heran jika Orang Bugis mudah dijumpai diseluruh wilayah nusantara. Mulai dari Papua, Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera hingga ke Negeri Malaysia dan Thailand.

Orang Bugis berpegang teguh pada falsafah "Kegai sanre' lopie kotisu to taro sengereng" yang memiliki makna "Dimanapun perahu ditambatkan, disanalah menanam budi baik". Oleh sebab itulah perantau Bugis sangat mudah beradaptasi dengan masyarakat setempat yang didatanginya, meskipun dari segi budaya memiliki perbedaan yang jauh. Sebagai contoh adalah di Kalimantan Barat, keberadaan Orang Bugis banyak dijumpai didaerah pesisir yang hidup berdampingan dengan etnis Melayu, Cina dan yang lainnya.

Meskipun berada jauh dari kampung halaman, bukan berarti perantau Bugis serta-merta melupakan adat budayanya. Hal ini bisa dilihat dari prosesi adat yang masih digunakan dalam acara pernikahan dan yang lain sebagainya. Selain itu, bahasa Bugis juga masih bisa kita dengarkan walaupun ratusan tahun kedatangannya telah berlalu.

Kebanggaan atas budaya leluhur masih tertanam dalam dijiwa keturunan Bugis yang telah beranak-pinak ditanah rantau. Meskipun sejatinya diri mereka sendiri belum pernah menginjakkan kaki ditanah Bugis yang merupakan asal-mula pendahulunya sebelum belayar.

Salah satu hal yang dilakukan untuk menunjukkan identitas dirinya ditanah rantau adalah dengan menggunakan songkok recca atau disini kami sering menyebutnya songkok ogi' (Songkok Bugis). Songkok yang berfungsi sebagai penutup kepala ini semakin banyak digunakan, baik itu dari kalangan muda maupun kalangan yang tua. Dari yang berprofesi pejabat, tokoh masyarakat maupun yang hanya kalangan biasa.

Penulis ingat betul, dulu penggunaan songkok recca ini sangat jarang sekali dijumpai. Paling yang menggunakan hanyalah mereka yang baru berkunjung ketanah Bugis atau mendapatkan oleh-oleh dari mereka yang pulang dari tanah Bugis. Namun dengan perkembangan zaman, keberadaan songkok recca semakin mudah diperoleh melalui pembelian online. Karena itu jugalah, banyak keturunan Bugis yang sudah memilikinya dan menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari maupun kegiatan besar.

Acara Gema Bina Bangun Desa

Acara Pernikahan

Acara Mahasiswa

Monday, July 30, 2018

Nasi Goreng Sampah Pontianak


Berbicara tentang kuliner Kota Pontianak tentunya banyak sekali dan tidak ada habisnya. Salah satunya adalah nasi goreng yang katanya merupakan makanan terenak didunia. 

Dari sekian nasi goreng yang ada di Kota Pontianak, yang satu ini menurut penulis memiliki nama yang unik. Gara-gara namanya jugalah yang membuat penulis akhirnya datang kesini untuk menikmati nasi goreng tersebut.

'Nasi Goreng Sampah'. Begitulah orang-orang sering memanggilnya. Tapi jangan berpikiran jika nasi goreng yang satu ini menggunakan bahan sisa atau lokasinya yang berada ditempat pembuangan sampah. Nasi Goreng Sampah ini sebenarnya hanyalah panggilan masyarakat Pontianak saja karena ukuran porsinya yang lebih banyak. Namun nama nasi goreng ini sebenarnya adalah Nasi Goreng Artomoro yang terletak di Jalan Merdeka Barat.

Karena Porsinya yang besar, maka bisa dipastikan perut anda akan terasa kenyang jika datang kesini.  Bayangkan saja untuk ukuran biasa saja porsinya sama seperti jumbo jika ditempat lain. Untuk harga nasi goreng biasa dibandrol dengan harga yaitu Rp. 11.000, sedangkan untuk porsi jumbo yaitu Rp. 12.000.

Nasi goreng sampah atau nasi goreng Artomoro disajikan dengan toping suwiran ayam. Selain itu anda juga bisa memesan dengan tambahan telur sekaligus mau rasa yang pedas atau tidak. Nasi goreng sampah semakin terasa nikmat ketika dicampur dengan acar yang terdiri dari timun, bawang merah dan cabe rawit. Dan satu hal lagi yang membuat nasi goreng sampah ini berbeda dari tempat yang lainnya, yaitu kita bisa menikmati acar dan kerupuk sepuasnya tanpa batas. Ketika kerupuk dan acar habis diatas meja, maka pelayannya akan datang dan menggantikannya dengan yang lainnya.

Pokoknya makan nasi goreng disini benar-benar puas dah. Apalagi buah mahasiswa seperti saya. Makan nikmat, perut kenyang dan kantongpun tenang.





Wednesday, June 6, 2018

Kita Adalah Satu

Pagi hari datang, kamar penginapan mulai terang, dan lilitan dingin perlahan beranjak pergi. Serpihan-serpihan cahaya menembus celah tirai jendela yang membuat mata terasa silau ketika melihatnya. Rasanya tidak ingin segera beranjak dari kasur empuk yang berbalutkan selimut tebal ini. Apalagi rasa lelah selama perjalanan kemarin benar-benar telah menguras tenaga kami. Walaupun telah beristirahat semalaman, namun rasa lelah disekujur tubuh tetap saja tidak bisa diajak kompromi.

“Oi, bangun semuanya. Sudah siang ini.” Suara Andi berteriak dari arah kamar mandi.

“Ia. Selesaikan saja mandi kau dulu. Baru kami akan segera bangun.” Aku berusaha menjawab teriakan Andi walaupun dengan suara yang terdengar lemas.

Aku berusaha menggerakkan tangan yang menopang tubuh untuk bangkit, meskipun rasa kantuk dan pegal masih mendekap erat tubuh ini. Kepala yang tertunduk dan untaian do’a sudah merupakan rutinitas setiap bangun tidur. Semua itu aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan waktu kepadaku untuk kembali berpetualang di alamnya. Perlahan, ku turunkan kedua kakiku dan melangkah ke sebuah jendela. Seketika ruangan menjadi lebih terang setelah tirai yang berwarna coklat tersebut ku tarik. Teman-teman yang masih tertidur nyenyak protes terhadap apa yang barusan aku lakukan. Kata mereka aku telah merusak mimpi indahnya.

Perlahan, kubuka dua daun jendela yang terkunci keras. Angin pagi yang berlalu menyentuh pelan wajahku dengan sensasi dingin akibat hujan yang berkepanjangan tadi malam. Dari atas penginapan ini juga terlihat bagaimana kesibukkan masyarakat Bali dalam menyambut keindahan pagi. Di pinggiran jalan yang tanpa trotoar tersebut terlihat pula seorang ibu dan bapak dengan menggunakan pakaian khas Bali. Sepertinya mereka adalah sepasang suami istri yang ingin berbelanja di pasar seberang sana. Bagiku mereka adalah pasangan yang sangat romantis.

“Kau sudah bangun Japo?” Tanya Andi yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Seperti yang kau lihat sekarang. Tinggal mereka saja yang belum bangun.” Jawabku sambil memonyongkan mulut ke arah tempat tidur. “Jam berapa motor yang kita sewa akan datang?” Aku melanjutkan pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.

“Mungkin sebentar lagi tiba.” Jawab Andi yang sedang menggoyang tubuh teman yang masih tidur.

Japo, itulah nama panggilanku. Ini adalah untuk pertama kalinya aku datang berliburan ke Bali. Aku tidak hanya sendirian. Namun juga bersama-sama mereka, sahabat terbaikku. Jangan pikir kami semua adalah sahabat yang telah berteman dari kecil, melainkan baru kenal beberapa tahun yang lalu. Awal pertemuan kami bermula dari bangku perkuliahan, ketika kami belum mengenal antara yang satu dan yang lainnya. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda. Aku sendiri berasal dari pedalam Kalimantan Barat yang aksesnya masih berupa jalur sungai yang deras. Tidak hanya asal daerah yang berbeda, latar belakang kami semuanya juga berbeda. Aku sendiri merupakan keturunan Dayak, sedangkan Andi merupakan keturunan Bugis dan dua temanku yang lainnya yaitu Bujang merupakan keturunan Melayu dan Arif keturunan Jawa. Bagi kami, perbedaan itu bukanlah hambatan untuk saling berinteraksi, melainkan adalah sebuah kekuatan yang saling melengkapi.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya motor yang disewa tiba juga. Bli menunjukkan kepada kami surat kendaraan, kunci dan empat buah helm. Sebelumnya aku sempat memanggil mereka dengan sebutan Mas. Tetapi kata mereka dipanggil Bli saja, biar nuansa liburan di Bali lebih terasa. Hal yang harus diketahui, Bli adalah panggilan untuk laki-laki Bali yang lebih tua atau sebaya dengan kita. Indonesia memang benar-benar kaya akan bahasa dan budayanya. 

Tanpa menunggu lama, kami pun segera menaiki motor yang telah disewa. Tapi ada yang sedikit aneh dengan helmnya. Ukurannya lebih besar dari yang biasa kami gunakan. Sontak teman-teman yang lain langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku pikir mereka akan merasa kesal dengan ukuran helm yang besar, tetapi malahan suara tawa yang lepas yang terdengar dari mulutnya. Merupakan hal yang wajar jika ukuran helmnya besar. Ini dikarenakan kebanyakan turis disini adalah para bule yang tentunya memiliki ukuran kepala lebih besar.

“Sudah, nikmatin saja. Lagian ini bukan penghalang untuk kita berpetualang.” Sahut Arif yang sudah berboncengan di motor Andi.

“Betul itu. Lagian, keseruan itu kita sendiri yang menciptakannya.” Timpal Andi yang menoleh ke arah Arif.

Inilah sahabat-sahabatku. Tidak terlalu membesar-besarkan masalah yang kecil. Bagi mereka, selama masih bisa bersama-sama semuanya akan selalu terasa seru untuk dinikmati. 

Motor kami perlahan menuju jalan raya. Gapura-gapura khas Bali yang berderet ditepi jalan memberikan kesan yang menarik kepada setiap mata yang melihat. Perjalanan ini merupakan hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, bahwa kami bisa datang bersama-sama ke Pulau Dewata. Semua itu tentunya tidak terlepas dari adanya persamaan diantara kami. Yaitu sama-sama memiliki rasa cinta yang tinggi akan indahnya alam dan budaya Indonesia yang beraneka ragam. Aku tahu, keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan bukanlah bertujuan untuk saling memisahkan atau pun menunjukkan siapa yang paling hebat. Tetapi ini adalah cara Tuhan bagaimana kita bisa untuk saling memahami dan mengenal antara yang satu dengan yang lainnya.

“Hentikan motornya!” Tiba-tiba Bujang menepuk pundakku agar segera menghentikan kendaraan.

Ada apa lagi ini. Kenapa Bujang tiba-tiba  menyuruhku untuk menghentikan kendaraan. Dari arah belakang Andi sudah berteriak, bertanya kenapa berhenti mendadak seperti ini.

“Ada apa Bujang, kau ingin buang air kecil?” Aku langsung bertanya.

“Bukan. Kau lihat Bapak itu. Kasihan Rantai sepedanya putus, Japo.” Jawab Bujang sambil menunjukkan tangannya ke arah bapak yang sedang mendorong sepeda.

“Terus, apa yang harus kita lakukan?” Aku kembali bertanya. Tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk bapak tersebut.

Melihat kami yang berhenti mendadak, membuat Andi dan Arif penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Perlahan motornya pun menghampiri dan sejajar dengan motor kami.

“Ada apa ini. Kenapa berhentinya lama?” Andi yang sedang berada disamping kami langsung bertanya.

“Kasihan Bapak itu, Di. Dengan usianya yang sudah tua namun harus berjalan kaki mendorong sepedanya dibawah terik  matahari. Apa yang bisa kita lakukan untuk bapak itu? Bujang menjelaskan dan sekaligus mempertanyakan solusinya.

“Oh, itu. Kalau begitu tinggal kita dorong saja sepedanya dengan kaki kita.” Andi memberikan solusi dengan sedikit tertawa.

“Jangan mengambil resiko. Nanti kalau bapaknya jatuh ketika kita dorong bagaimana? Apalagi bapaknya sudah tua.” Arif langsung menimpali dari belakang Andi.

“Tinggal tukar posisi saja. Bapak berboncengan dengan aku sedangkan kau menggunakan sepedanya. Dan yang mendorong adalah Bujang. Bagaimana?” Andi kembali menjelaskan idenya.

Aku dan yang lainnya sepakat atas usulan Andi tersebut. Motor kami pun menghampiri bapak tersebut. Awalnya bapak tersebut menolak tawaran bantuan kami dengan alasan tidak ingin merepotkan. Beberapa saat kemudian bapak tersebut akhirnya bersedia untuk didorong hingga ke tempat bengkel. Didalam perjalanan, sesekali kami dan Bapak tertawa melihat tingkah lucu Arif yang sedang mengendalikan sepeda tersebut. Bagi kami, menolong sesama seperti ini adalah keseruan yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Apalagi hal yang kami lakukan adalah salah satu cerminan budaya Indonesia, yang semakin asing dikalangan anak muda sekarang.

Tidak perlu waktu yang lama,  akhirnya kami sampai disebuah bengkel. Dari raut muka bapak tersebut terlihat senyum yang sederhana namun penuh dengan keikhlasan. Berulangkali bapak tersebut selalu mengucapkan rasa terima kasih. Diambilnya sebuah plastik hitam yang bergantung diatas sepeda. Dirogohnya plastik hitam tersebut dan terlihat empat buah bunga kamboja yang masih terlihat segar.

“Ini adalah bentuk rasa ucapan terimakasih bapak. Bunga kamboja ini bagi masyarakat Bali melambangkan sebuah kesucian seperti halnya hati kalian.” Bapak tersebut tersenyum dan menyerahkan bunga kamboja tersebut.

Kami juga mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan bapak tesebut. Tidak ada terlintas sedikit pun dibenak kami agar kebaikan yang kami lakukan harus dibalas pula. Bagi kami, Tuhan adalah pembalas setiap perbuatan yang sebaik-baiknya. Lagian pula, bukankah hal tersebut merupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong sesama.

Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya kami tiba di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Sesuai dengan namanya, disini kami bisa melihat berbagai atraksi budaya Bali. Langkah kami terhenti ketika melewati sebuah ruangan yang terlihat sedang mementaskan sebuah seni. Kami pun masuk dan menaiki sebuah tribun yang sudah ramai diisi oleh para pengunjung. Walaupun agak terlambat, kami tetap bisa menikmati pertunjukan seni tersebut. Pertunjukkan yang sangat mengagumkan.

“Kau kenapa menangis, Arif?” Aku bertanya kepada Arif sambil menepuk pundaknya.

“Tidak apa-apa.” Jawab Arif dengan senyum simpul.

“Kalau tidak apa-apa, lantas kenapa kau menangis? Apakah kau menyesal karena telah menggunakan uang tabungan untuk berliburan ke Bali.” Andi langsung bertanya juga.

“Bukan karena itu, Andi. Aku menangis karena aku sangat bangga dan cinta dengan budaya-budaya Indonesia. Karena kecintaanku itulah aku tidak ingin suatu saat budaya Indonesia satu per satu hilang akibat kalah saing dengan budaya asing yang kian gencar dimana-mana. Kau lihat Tari Barong tersebut, sungguh sangat indah dipandang mata. Mengenai uang tabungan yang digunakan untuk kesini, itu bisa dikumpulkan lagi. Tetapi pengalaman berpetualang bersama kalian adalah hal yang luar biasa.” Arif menjelaskan dengan takzim. 

Aku merangkulkan tanganku di pundak Arif. “Kau benar sahabatku. Ini adalah perjalanan istimewa kita. Sebuah perjalanan yang suatu saat nanti akan diceritakan pada anak cucu kita. Banyak hikmah yang bisa dipetik setelah melalui perjalanan ini bersama. Salah satunya adalah betapa indahnya alam indonesia dan beranekaragamnya budaya yang ada di Indonesia. Bukan hanya kita yang berpijak di bumi pertiwi ini, tetapi juga ada mereka yang semakin menambah pesona keindahan Indonesia.”

Tanpa kusadari air mataku juga megalir perlahan. Apa yang dirasakan oleh Arif, juga dirasakan oleh aku dan yang lainnya. Seketika aku teringat akan kampung halamanku yang juga memiliki permata indah yang harus selalu dijaga. Yaitu sebuah budaya yang diwariskan oleh para leluhur yang kian hari semakin terancam oleh budaya asing yang masuk tanpa tebendung.

“Indonesia bukan hanya aku, atau kau, atau kita. Tetapi melainkan adalah kita semua yang lahir dan memijakkan kaki di bumi pertiwi ini. Kita dan mereka semuanya adalah tonggak-tonggak penegak bangsa Indonesia yang semakin harum karena keberagaman. Rusak satu, maka kekokohan indonesia akan terancam pula.” Sahut andi, memberikan kata bijak bak seorang inspirator.

Tanpa diperintah, tangan kami sudah saling berpegangan. Kami berjanji akan selalu menjaga keindahan alam dan budaya Indonesia agar tetap lestari di bumi pertiwi ini. Biar seluruh dunia tahu bahwa Indonesia adalah potongan surga yang dititipkan oleh Tuhan dengan berbagai keberagaman.



Wednesday, May 30, 2018

Bersama UNTAN Membangun Negeri

Universitas Tanjungpura Pontianak. Pendidikan memiliki peranan yang sangat besar dalam mempercepat kemajuan suatu bangsa. Bagaimana tidak? Dengan pendidikan yang berkualitas tentunya akan melahirkan manusia-manusia yang handal dan mampu bersaing dalam berkehidupan. Untuk itu, kunci utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkualitas adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

"Bersama UNTAN Membangun Negeri". Begitulah kalimat yang sering diucapkan untuk saat ini. Universitas Tanjungpura sebagai Perguruan Tinggi yang terkemuka di Kalimantan Barat memiliki tugas yang besar untuk menciptakan generasi yang berkualitas, mandiri dan berkontribusi besar terhadap pembangunan negeri. Hal ini tentu saja selaras dengan visi misi Untan sebagai berikut.

Visi Untan:

Pada tahun 2020 Untan menjadi institusi preservasi dan pusat informasi ilmiah Kalimantan Barat serta menghasilkan luaran yang bermoral Pancasila dan mampu berkompetisi baik di tingkat daerah, nasional, regional, maupun internasional.

Misi Untan

Menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara bermutu sehingga dapat menghasilkan luaran yang mampu mengikuti, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mampu memberikan arah bagi pengembangan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Upaya yang dilakukan UNTAN untuk menjadi pusat ilmiah Kalimantan Barat dan menghasilkan kader yang mampu bersaing dapat dilihat dari peningkatan riset bermutu. Mulai dari melakukan penelitian, pengabdian pada masyarakat hingga menciptakan teknologi yang berguna untuk pendidikan dan kemajuan bangsa. Oleh karena itulah, kehadiran Universitas Tanjungpura memiliki peran yang besar dalam membantu kebijakan pemerintah setempat dan Indonesia pada umumnya.

Untuk mendorong pertumbuhan kualitas sumber daya manusianya, Universitas Tanjungpura juga meningkatkan pembangunan di bidang infrastruktur. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya terdapat lima bangunan besar yang masih dalam proses pengerjaan. Bangunan tersebut adalah gedung perpustakaan modern, gedung serbaguna, gedung laboratorium ilmu dasar dan dua gedung kuliah. Adanya pembangunan tersebut tentunya tidak terlepas dari adanya kerjasama terhadap pihak Islamic Development Bank (IDB).

Memasuki era pasar global tentunya berdampak pada persaingan kehidupan yang semakin ketat. Karena itulah setiap individu dituntut untuk bekerja secara profesional, tahu akan teknologi dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman. Oleh sebab itu, investasi pada pembangunan sumber daya manusia memiliki nilai strategis dan penting dalam jangka panjang. Karena hal tersebut mampu berkontribusi pada kemajuan pembangunan, termasuk untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Untuk membangun manusia yang berkualitas tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya kerjasama yang selaras antara pemerintah dan berbagai pihak untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik. Salah satu yang berkepentingan dalam mewujudkan hal tersebut adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi memiliki peran yang besar dalam mencetak generasi yang unggul dan inovatif.

Di Kalimantan Barat, keberadaan Perguruan Tinggi tentunya memiliki sumbangsih yang tinggi dalam pencapaian kualitas pendidikan. Meningkatnya mutu pendidikan tentunya diharapkan memberikan dampak terhadap pemerataan pembangunan sumber daya manusia dan aspek disegala bidang. Terlebih Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan merupakan wajah terdepan Indonesia. Atas dasar itulah, salah satu perguruan Tinggi yang ada di Kalimantan Barat, Universitas Tanjungpura melakukan berbagai usaha agar pendidikan bisa dirasakan oleh semua kalangan guna mempercepat pembangunan.

Kalimantan Barat terdiri dari 14 kabupaten dan kota. 10 diantaranya masih merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Pada tahun 2016, Universitas Tanjungpura telah menyelenggarakan Program Profesi Guru (PPG) kepada sarjana mendidik didaerah 3T (SM-3T). Adanya Program Profesi Guru tentunya akan menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran, penindaklanjutan dari hasil penilaian, melakukan bimbingan, pelatihan peserta didik, penelitian serta mampu mengembangkan profesionalitas secara berkala dan berkelanjutan. Ini tentunya merupakan langkah yang nyata untuk meningkatkan dan memeratakan kualitas sumber daya manusia yang ada. Tahun ini, Universitas Tanjungpura juga telah dipercaya oleh Kemenristek Dikti untuk menyelenggarakan PPG Mandiri.

Selain hal tersebut, Universitas Tanjungpura juga berkontribusi dibidang penelitian dengan menerbitkan jurnal dari berbagai bidang keilmuan. Dikutip dari website jurnal.untan.ac.id, adapun jurnal yang diterbitkan oleh Untan diantaranya:
  • Indonesian journal of pure and applied chemistry
  • ORBITAL: Jurnal Ilmu dan Terapan Kimia
  • Journal of Environmental Engineering and science
  • Jurnal Coding Sistem Komputer Universitas Tanjungpura
  • Jurnal Teknik Elektro Universitas Tanjungpura
  • Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
  • Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan
  • dan masih banyak lagi jurnal lainnya yang bisa diakses dari link diatas.

Semua hal yang dilakukan oleh Universitas Tanjungpura tersebut tentunya sejalan dengan Tri Dharma Perguruan tinggi yaitu: 
  1. Pendidikan dan pengajaran
  2. Penelitian dan pengembangan
  3. Pengabdian kepada masyarakat 
Semoga dengan terlaksananya Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut, mampu memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.

Sebagai informasi tambahan, Universitas Tanjungpura setidaknya memiliki sembilan fakultas. Yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan bisnis, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Kehutanan, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, dan Fakultas Kedokteran. Untuk program studi setiap fakultas tersebut akan disebutkan berikut ini.

1. Fakultas Hukum
Program Studi yang ada:
 A. Sarjana
    - Ilmu Hukum

 B. Pascasarjana
    - Magister Hukum

2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Program studi yang ada:
 A. Sarjana

    - Ekonomi Pembangunan
    - Manajeman
    - Akuntansi
    - Ekonomi Islam

 B. Pascasarjana
    1) Magister (S2)
      - Magister Manajemen
      - Magister Ilmu Ekonomi
      - Magister Akuntansi
    2) Dokter (S3)
      - Dokter Ilmu Ekonomi
      - Dokter Ilmu Manajemen

3. Fakultas Pertanian
Program studi yang ada:
 A. Diploma
    - Budidaya Tanaman Pertanian

 B. Sarjana
    - Agroteknologi
    - Agribisnis
    - Ilmu Tanah
    - Ilmu dan Teknologi Pertanian
    - Peternakan
    - Manajemen Sumber Daya Perairan

 C. Pascasarjana
    - Manajemen Agroteknologi
    - Manajemen Agribisnis

4. Fakultas Teknik
Program studi yang ada:
 A. Sarjana
    - Elektro
    - Informatika
    - Sipil
    - Arsitektur
    - Teknik Lingkungan
    - Teknik Industri
    - Teknik Pertambangan
    - Teknik Kelautan
    - Teknik Mesin
    - Perencanaan Wilayah Kota
    - Teknik Kimia

 B. Pascasarjana
    - Magister Sipil
    - Magister Elektro

5. Fakultas Ilmu dan Sosial Politik
Program studi yang ada
 A. Diploma
    - Administrasi Perkantoran
    - Kesekretariatan
    - Kearsipan

 B. Sarjana
    - Ilmu Administrasi Negara
    - Ilmu Sosiatri
    - Ilmu Pemerintahan
    - Ilmu Politik
    - Sosiologi
    - Ilmu Hubungan Internasional
    - Ilmu Komunikasi
    - Antropologi Sosial

 C. Pascasarjana
    - Magister Ilmu Administrasi Negara
    - Magister Ilmu Sosilogi
    - Magister Ilmu Politik

6. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program studi yang ada:
 A. Diploma
    - Perpustakaan

 B. Sarjana
    - Pendidikan Ekonomi
    - Pendidikan Kimia
    - Pendidikan Fisika
    - Pendidikan Matematika
    - Pendidikan Biologi
    - Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    - Pendidikan Bahasa Inggris
    - Bimbingan Konseling
    - Pendidikan Guru Sekolah Dasar
    - Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
    - Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
    - Pendidikan Sosiologi
    - Pendidikan Tari dan Musik
    - Pendidikan Bahasa Mandarin
    - Pendidikan Pancasila dan Kewarnegaraan
    - Pendidikan Sejarah
    - Pendidikan Geografi
    - Pendidikan Kepelatihan Olahraga
    - Pendidikan IPS

 C. Pascasarjana
    - Magister Administrasi Pendidikan
    - Magister Pendidikan Sosiologi
    - Magister Teknologi Pembelajaran
    - Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
    - Magister Pendidikan Matematika
    - Magister Pendidikan EKonomi
    - Magister Pendidikan Bahasa Inggris
    - Magister Pendidikan Guru Sekolah Dasar

7. Fakultas Kehutanan
Program studi yang ada
 A. Sarjana
    - Kehutanan

 B. Pascasarjana
    - Magister Ilmu Kehutanan
    - Magister Ilmu Lingkungan

8. Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam
Program studi yang ada:
 A. Sarjana
    - Sistem Komputer
    - Sistem Informasi
    - Matematika
    - Fisika
    - Biologi
    - Kimia
    - Geofisika
    - Ilmu Kelautan
    - Statistik

 B. Pascasarjana
    - Magister Kimia

9. Fakultas Kedokteran
Program studi yang ada:
 Program Sarjana
    - Pendidikan Dokter
    - Farmasi
    - Farmasi (Profesi)
    - Keperawatan
    - Keperawatan (Profesi)

Untuk informasi tentang UNTAN yang lengkap, baik itu mengenai jurusan yang ada maupun tentang pembukaan pendaftaran UNTAN dan yang lain-lainnya silahkan cek disini.

Bersama UNTAN Membangun Negeri
Riset Pemuda Perbatasan Indonesia-Malaysia (RPPIM)


Referensi:

http://www.untan.ac.id/fakultas-hukum/
http://www.untan.ac.id/fakultas-ekonomi-dan-bisnis/
http://www.untan.ac.id/fakultas-pertanian/
http://www.untan.ac.id/fakultas-teknik/
http://www.untan.ac.id/fisip/
http://www.untan.ac.id/fkip/
http://www.untan.ac.id/fakultas-kehutanan/
http://www.untan.ac.id/fakultas-mipa/
http://www.untan.ac.id/fakultas-kedokteran/
http://info-menarik.net/manfaat-pendidikan-profesi-guru-ppg-indonesia/
http://jurnal.untan.ac.id/
http://www.untan.ac.id/fkip-untan-buka-program-pendidikan-profesi-guru-ppg-mandiri/

Thursday, May 24, 2018

Tradisi Ngantar-Ngantar Di Bulan Ramadhan


Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Bulan yang selalu dinantikan oleh seluruh umat Islam.

Berbicara bulan Ramadhan di Indonesia, tentunya tidak akan terlepas dengan tradisi masyarakat yang selalu menghiasinya. Setiap tradisi tentunya memiliki makna sekaligus turut menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadhan. Sebut saja tradisi Balimau pada daerah Sumatera Barat dan tradisi Magengan yang ada didaerah Jawa Timur.

Tidak berbeda jauh di Kalimantan Barat, kehadiran bulan suci Ramadhan tentunya juga dihiasi oleh ragam tradisi. Seperti hadirnya Festifal meriam karbit Kota Pontianak dan festifal musik kelontong atau sahur-sahur di Kabupaten Mempawah. Namun untuk kali ini penulis tidak membahas hal tersebut, melainkan tradisi yang menurut penulis mulai tergeser akibat perkembangan zaman.

Sebut saja adalah tradisi Ngantar-Ngantar. Kata Ngantar sendiri berasal dari bahasa Melayu yang memiliki makna yang sama dengan kata "mengantar/antar" di dalam bahasa Indonesia.

Ngantar-Ngantar adalah tradisi berbagi makanan disaat bulan Ramadhan. Disaat itu, umat muslim akan mengantarkan atau memberikan makanan yang umumnya berupa kue kepada para tetangganya. Begitu pula sebaliknya, para tetangga yang diantarkan makanan tersebut akan mengisi wadah yang digunakan pengantar dengan kue yang mereka buat. Namun jika tidak memiliki sesuatu yang akan diberikan, tidak membalas hal tersebut pun bukanlah masalah. Karena sejatinya tradisi ngantar-ngantar adalah untuk saling berbagi kepada sesama.

Penulis ingat betul, disaat kecil paling senang jika disuruh Emak untuk mengantarkan kue kepada tetangga. Sekali pergi membawa dua rantang dengan setiap rantang berjumlah empat tingkat. Tidak heran jika disaat berbuka puasa, jenis kue yang tersedia bisa mencapai 20 jenis.

Namun itu hanyalah dulu. Sekarang tradisi Ngantar-Ngantar perlahan-lahan mulai dilupakan. Adapun yang masih melakukannya mungkin hanya pada tetangga disebelah rumahnya atau keluarga terdekatnya saja.

Monday, May 14, 2018

Berbagai Pilihan di Bebek Boedjang Pontianak

Berbagai Pilihan di Bebek Boedjang Pontianak. Bagi sebagian orang mungkin menikmati menu bebek sedikit kurang diminati. Namun tidak dipungkiri juga, sebagian orang banyak juga yang mencintai kuliner dengan sajian utama dari daging bebek. Semua tentunya tergantung dengan selera dan persepsi yang ada dipikiran masing-masing konsumen.

Mencari tempat makan dengan menyajikan menu khas bebek di Kota Pontianak tentunya tidak sulit. Tinggal keluar dan jalan-jalan saja maka anda akan menemukannya. Sebut saja salah satunya adalah Bebek Boedjang yang terletak di Jalan Johan Idrus (Jalan Sumatra).

Lokasi yang strategis membuat tempat makan yang satu ini selalu ramai dikunjungi. Restoran yang didominasi oleh warna kuning ini tentunya juga menyajikan berbagai pilihan menu bebek yang siap menggoyang lidah para penikmatnya. Setiap menu juga memiliki dua varian. Tinggal dipilih saja mau yang digoreng atau yang dibakar.

Selain manyajikan menu bebek, disini juga menyajikan berbagai menu yang lainnya. Seperti ayam, burung, ikan, udang dan cumi. Jadi sangat cocoklah untuk kumpul bareng teman yang memiliki beragam selera.

Bebek Boedjang Pontianak

"Menu spesial disini ada lebel bintang didaftar menunya Bang". Sahut pelayannya ketika diantara kami menanyakan menu yang recomended.

Tak perlu waktu lama, kami pun memilih bebek bakar kacang, bebek bakar rica dan bebek belur. Untuk harga menurut saya disini lebih sedikit murah dibandingkan dengan tempat lainnya yang pernah saya datangi.

Salah satu yang menjadi nilai plus restoran Bebek Boedjang adalah lokasinya yang luas. Sehingga tidak perlu khawatir jika datang disini tidak kebagian tempat atau desak-desakan dengan pengunjung yang lainnya. Untuk lokasi tempat duduk tinggal dipilih saja, mau yang menggunakan kursi atau duduk lesehan diatas lantai. Atau mungkin kepinginnya sambil baring diatas kasur? Jika begitu pesanannya harus dibungkus terlebih dahulu dan lansung dibawa pulang kerumah. Hehehe.

Belum lama kami ngobrol, makanan yang kami pesan sudah datang dibawa oleh Mbaknya. Seperti ini nih yang kami suka. Pelayanan yang cepat!

Ketika disajikan diatas meja, saya sudah jatuh cinta dengan ukurannya yang besar. Beginilah yang dinamakan pandangan pertama dan dari mata jatuh ke hati. Tidak hanya itu, aroma rempahnya yang wangi juga mengundang selera makan kami.

Setelah difoto, kami pun langsung bergegas menuju  westafel untuk mencuci muka. Eh salah, maksudnya mencuci tangan. Barulah setelah itu kami menikmati hidangan yang sudah ada didepan mata. Tapi jangan lupa baca do'a dulu biar makanan yang masuk kedalam perut menjadi lebih berkah. 

Untuk menilai makanan secara spesifik tentunya saya kurang mengerti. Tapi setidaknya saya bisa membedakan mana makanan yang enak dan mana makanan yang tidak enak. Dan makanan yang sedang kami santap ini memang recomended untuk anda yang sedang berburu kuliner bebek di Kota Pontianak.

Bebek Bakar Kacang. IDR 31.5 K
Setiap menu bebek yang disajikan tentunya memiliki citarasa yang tersendiri. Seperti menu Bebek Bakar Kacang yang ditaburi potongan kacang sehingga ketika disantap akan terasa kriuk-kriuknya. Untuk tekstur daging bebeknya jangan ditanya lagi, pastinya empuk dan bumbunya juga menyerap hingga kedalam.

Bebek Bakar Rica. IDR 30 K
Tampilan menu Bebek Bakar Rica mirip dengan bebek bakar pada umumnya. Yang membedakan hanya dari rasanya saja yang terasa sedikit pedas.

Bebek Belur. IDR 28.7 K
Untuk yang suka rasa pedas, saya menyarankan untuk mencoba menu yang satu ini, Bebek Belur. Tampilan yang menyerupai ayam geprek ini siap menantang anda yang penikmat rasa pedas.

Cah Kangkung Seafood. IDR 15 K
Cah kangkung seafood terdiri dari potongan cabe besar, tomat, udang dan cumi. Rasanya yang  nikmat sangat cocok untuk menemani sajian menu bebek.

Setelah menikmati makanan yang pedas, rasanya kurang lengkap jika tidak meminum minuman yang segar. Untuk itu saya menyarankan jika berkunjung ke Bebek Boedjang Pontianak cobalah juga Es Mangga Bujang dan Es Lidah Buaya.

Es Mangga Bujang. IDR 12 K     Es Lidah Buaya. IDR 8 K
Es Mangga Bujang adalah minuman buah mangga yang dicampur dengan susu. Yang membuat minuman ini semakin nikmat adalah adanya potongan-potongan buah mangga dan nata de coco didalamnya. Minuman yang selanjutnya adalah Es Lidah Buaya yang merupakan minuman khas Kota Pontianak. Minuman ini disajikan dengan biji selasih yang memiliki manfaat untuk kesehatan.

Saturday, May 5, 2018

Misteri Rumah Peninggalan Belanda di Bukit Peniraman

"Eh, udah sore dah ni, nanti-nanti lah". Jawab Mastur ketika kami mengajaknya untuk mampir di rumah peninggalan Belanda. 

Setelah berunding sedikit lama, akhirnya ia mengiyakan. Motor yang tadinya berjalan beriringan, sekarang kembali berderetan membentuk formasi antri. 

Tidak lama kemudian, motor kami pun memasuki sebuah jalan yang tidak lain adalah menuju ke sebuah bukit tempat rumah peninggalan Belanda berada. Dari arah jalan raya yang kami lewati sebelumnya, bisa terlihat bagaimana separuh dari bukit tersebut sudah dikeruk untuk diambil tanahnya. Sudah dapat dipastikan bahwa keberadaan tempat bersejarah ini tidak dilindungi alias terancam hilang.

Sebelum mendaki bukit, Mastur terlebih dahulu mengajak kami untuk mendatangi rumah penduduk yang ada di kaki bukit. Rumah penduduk di kaki bukit ini pun tidak terlalu banyak, kurang lebih hanya terdapat lima rumah. Adapun tujuan kunjungan tersebut adalah bermaksud untuk meminta izin kepada penduduk setempat bahwa kami akan mendaki bukit yang ada diatas sana.

Setelah mendapatkan izin dari penduduk setempat, kami pun bersiap-siap untuk melakukan pendakian keatas bukit.

"Aku tadak ikot. Kitak jak yang naek ke atas ie". Kata Mastur ketika kami telah bersiap-siap untuk naik keatas.

"Macam mane pulak tadak ikot, yang tau kan ente?" Tanya teman yang lain.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap naik keatas, meskipun diantara kami yang akan naik belum ada yang pernah datang kesini. Yang tahu betul letak rumah peninggalan Belanda adalah Mastur, karena dia berasal dari daerah ini dan sebelumnya juga pernah datang ke tempat tersebut. Dari raut wajahnya saya dapat menebak, ada sesuatu hal yang disembunyikan atau ditakuti diatas sana.

Kami pun mulai melakukan pendakian. Diawal pendakian memang terasa mudah karena telah tersedia anak tangga. Tapi anak tangga tersebut hanya sampai di Pekong, tempat ibadah umat Khonghucu. Untuk pendakian selanjutnya kami harus melalui jalan setapak yang menanjak. Berjalan dilereng bukit ini juga harus hati-hati, karena sebagiann badan bukit sudah dikeruk untuk diambil tanahnya.

Belum sampai ditempat tujuan, kami sudah dikagetkan dengan sesuatu hal yang aneh. Tiba-tiba angin kencang datang dari arah laut. Hal ini tentu saja membuat pohon-pohon yang ada disekitar bukit bergoyang dan seakan-akan ingin merebahkan batangnya. Kami pun menghentikan sejenak pendakian, mencari tempat yang  lapang untuk menghindari pohon yang misalkan saja tiba-tiba tumbang. 

Pendakian dilanjutkan kembali setelah angin mulai redah. Di ufuk barat terlihat matahari yang mulai semakin condong. Jalan yang sebelumnya berjalur sekarang sudah hilang karena sudah banyak ditumbuhi oleh rumput liar. Sesekali kami harus menerobos semak belukar ketika tidak ada jalan yang harus dilalui.

Setelah cukup lama mendaki, akhirnya kami sampai di puncak bukit. Lokasi beradanya rumah peninggalan Belanda. Ekspresi kami ketika tiba  disini adalah bahagia yang dibalut kesedihan. Bahagia ketika kami bisa sampai diatas puncak, dan sedih ketika melihat tempat bersejarah ditelantarkan.

Dari atas puncak bukit kami bisah melihat bagaimana panorama alam yang ada disekitar Desa Peniram. Mulai dari hamparan sawah yang hijau, deretan pohon kelapa yang berbaris rapi dan bentangan laut yang luas sejauh mata memandang. Dari sinilah saya mulai tahu, kenapa orang Belanda memilih disini sebagai tempat tinggalnya. Selain dikarenakan keindahannya, namun diatas sini juga mudah untuk memantau setiap kapal yang berlayar.

Kondisi rumah Belanda yang sekarang berbeda jauh dengan apa yang diceritakan oleh kakakku. Dulu rumah ini sangat terawat, sampai akhirnya ditinggalkan oleh penjaganya. Sekarang rumah bersejarah ini terlihat sedikit mengerikan dan banyak dikerumuni tumbuhan liar. Padahal desain rumah ini sangat menarik dan memiliki nilai artistik yang tinggi. Mulai dari bentuknya yang klasik hingga atapnya yang masih menggunakan atap sirap atau atap yang terbuat dari kayu ulin. Seandainya saja rumah ini masih dijaga, pastinya akan menjadi salah satu daya tarik wisata yang ada di Kabupaten Mempawah. Ah sudahlah.

Sebelum memasuki rumah tersebut, hal yang terlebih dahulu kami lakukan adalah melihat sekitar rumah. Meskipun sudah lama ditinggalkan oleh penjaganya, namun dihalaman kiri rumah tidak dipenuhi oleh semak belukar. Sesuatu yang aneh melihat halaman lapang ditempat yang sudah jarang didatangi. Tanpa menunggu lama kami pun mengeluarkan handphone untuk mengabadikan momen ketika berada disini.

Setelah puas berfoto, barulah kami memasuki bagian dalam rumah. Mesti sedikit ekstra hati-hati, karena papan yang diinjak sudah banyak yang lapuk dimakan usia. Baru diambang pintu, kami sudah bisa melihat secara keseluruhan isi diruang tengah rumah ini. Sampah plastik dan daun-daun kering yang masuk dari atap yang bolong terlihat berserakan diatas lantai. Hal yang sempat membuat kami ngeri adalah ketika melihat sebuah boneka tergantung diatas langit-langit rumah. Bonekanya bukan berbentuk kucing atau binatang lainnya, melainkan menyerupai manusia (anak-anak perempuan). Siapa pula yang membawa boneka dan menggantungnya disini?

Belum sempat kami memotret isi ruangan, tiba-tiba sebuah plastik hitam terseret dari ruangan sebelah kiri menuju ke ruangan yang ada disebelah kanan. Seperti ada seseorang yang manariknya. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung berlarian keluar dan meninggalkan rumah tersebut. Tidak perduli jalan yang kami lalui menurun dan memiliki jurang. Pikiran kami hanya satu, yaitu harus segera pergi dari tempat ini. Setelah setengah perjalanan, barulah kami menghentikan pelarian tersebut. Niat semula yang ingin melihat semua ruangan, menjadi batal gara-gara kejadian ini.

Rumah Belanda
Keadaan Rumah Belanda yang Banyak Dikerumun Tumbuhan Liar

Bagian Halaman Kiri Rumah Belanda

Semuanya Pada Jongkok Ketika Angin Kencang Datang