Tuesday, February 26, 2019

Asal Mula Nama 9 Kota di Pulau Kalimantan


Setiap tempat atau kota tentunya memiliki cerita masing-masing. Baik itu mengenai asal mula pemberian namanya atau mengenai cerita rakyatnya yang melegenda. Cerita tersebut dituturkan dari generasi ke genarasi agar tidak dilupakan.

Nah, kali ini penulis akan berbagi informasi mengenai asal mula pemberian nama terhadap 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan. Sebelum lebih lanjut membahas hal tersebut, ada lebih baiknya kita mengenal dulu seperti apa Pulau Kalimantan itu.

Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang dimiliki oleh tiga negara. Yaitu Indonesia dengan luas wilayahnya mencapai 73%, Malaysia 26% dan Brunei Darussalam 1%. Pulau Kalimantan dihuni oleh berbagai suku, seperti Dayak, Melayu, Banjar, Kutai, Paser, Berau, Tidung dan suku lainnya. Selain dikenal sebagai Pulau Kalimantan, pulau yang satu ini juga sering disebut sebagai Pulau Borneo.

Sedangkan penamaan pulau Kalimantan tentunya tidak terlepas dari cerita masa lalunya. Dari beberapa tulisan menyebutkan, bahwa nama Kalimantan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu 'kalamanthana' yang berarti pulau yang udaranya panas dan membakar. Hal ini tentu saja sesuai dengan kondisi pulaunya yang dilalui oleh garis khatulistiwa.

Ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Kalimantan berasal dari salah satu nama rumpun Dayak, yaitu Dayak Klemantan (Dayak Darat). Rumpun Dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia.

Selain itu, penyebutan Kalimantan juga diyakini berawal dari nama buah yang banyak tumbuh di pulau ini, yaitu buah klemantan. Buah yang mirip buah mangga ini banyak ditemukan didaerah Ketapang, Kalimantan Barat.

Inilah asal mula penamaan 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan.

1. Kota Tarakan

Kota pertama yang akan kita bahas adalah sebuah kota yang berada disisi utara Pulau Kalimantan. Apalagi kalau bukan Kota Tarakan yang sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Utara. Kota ini juga dikenal sebagai bumi Paguntaka dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera).

Menurut cerita, Tarakan berasal dari bahasa Tidung yaitu 'tarak' yang berarti bertemu dan 'ngakan' yang berarti makan. Dimana daerah  ini dulunya merupakan tempat persinggahan bagi nelayan untuk beristirahat makan, pertemuan sekaligus menjual hasil tangkapannya (saat itu yang berlaku adalah sistem barter).

2. Kota Samarinda

Kota Samarinda merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Timur. Kota yang dibelah oleh Sungai Mahakam ini memiliki semboyan sebagai kota TEPIAN (Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman).

Ada beberapa versi mengenai asal mula penamaan Samarinda. Versi yang pertama berdasarkan persamaan tinggi rumah rakit atau apung dari masyarakat Bugis Wajo yang ada di Samarinda Seberang. Karena tidak ada yang lebih tinggi antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya, maka dari itulah daerah tersebut dinamakan 'sama rendah'. Lambat laun, penyebutannya berubah menjadi Samarinda.

Versi yang kedua adalah berdasarkan dari daerah tepian Samarinda yang ketinggiannya kurang lebih sama dengan Sungai Mahakam. Ketika air pasang, maka sebagian daerah Samarinda tersebut akan tergenang air. Karena itulah, daerah dengan dataran rendah ini dinamakan Samarinda.

3. Kota Balikpapan

Balikpapan merupakan kota terbesar kedua di provinsi Kalimantan Timur. Kota ini juga dikenal sebagai Kota Minyak dan bumi Manuntung. Kota Balikpapan memiliki semboyan Beriman.

Asal mula penamaan Balikpapan bermula dari adanya permintaan papan dari Kerajaan Kutai. Namun dari 1.000 papan yang diberikan, ternyata dikembalikan lagi sebanyak 10 buah. Oleh karena itulah, daerah tempat pengembalian papan ini disebut Balikpapan.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Balikpapan tidak terlepas dari kisah Suku Paser. Dimana saat itu ada seorang kakek yang bernama Kayun Kuleng dan nenek  yang bernama Papan Ayun. Oleh keturunannya, sepanjang daerah teluk Balikpapan dinamakan Kuleng-Papan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya. Dalam bahasa Paser, kuleng memiliki arti balik. Karena itulah, lambat laun daerah tersebut dipanggil Balikpapan.

4. Kota Bontang

Masih berada di daerah Kalimantan Timur. Kali ini adalah Kota Bontang yang berada 120 kilometer dari Kota Samarinda. Kota  Bontang memiliki semboyan sebagai Kota Taman (Tertib, Aman, Mandiri, dan Nyaman).

Menurut cerita, kata Bontang merupakan akronim dari kata 'bond' yang berarti perkumpulan (bahasa Belanda) serta kata 'pendatang'. Dimana saat itu, daerah ini banyak dikunjungi oleh para pendatang dari berbagai suku bangsa. Mereka kemudian menetap dan membaur dengan penduduk asli setempat.

Salah satu pendatang tersebut adalah Aji Pao yang merupakan kerabat Kerajaan Kutai. Ia juga lah orang yang pertama kalinya menyebut daerah ini dengan nama Bontang.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Bontang  dikarenakan masyarakatnya yang dulu sebelum berangkat berkerja selalu mengambil belanjaan dulu diwarung (nge-bon). Setelah mendapatkan hasil  dari pekerjaannya barulah mereka membayar. Kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah para nelayan yang pergi melaut.

Namun tidak sedikit pula dari mereka yang gagal mendapatkan penghasilan, dan akhirnya ambilan barang tersebut dimasukkan kedalam daftar hutang. Karena dari kata 'nge-bon' dan 'hutang' itulah, akhirnya diakronimkan menjadi Bontang.

5. Kota Banjarmasin

Banjarmasin merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai ini memiliki semboyan Kayuh Baimbai yang berarti kayuh bersama-sama. Sesuai namanya, penduduk mayoritas dari Kota Banjarmasin adalah Suku Banjar.

Penamaan Banjarmasin tidak terlepas dari cerita Kerajaan Banjar. Sebelumnya, daerah ini bernama Banjarmasih. Penamaan tersebut diambil dari nama seorang patih pendiri Kerajaan Banjar, yaitu Patih Masih. Dari cerita tersebutlah, cikal bakal penamaan Kota Banjarmasin.

6. Kota Banjarbaru

Sama halnya Banjarmasin, Kota Banjarbaru juga terletak di provinsi Kalimantan Selatan. Sebelumnya status kota ini adalah kota administratif, hingga pada tahun 1999 barulah statusnya berubah menjadi kotamadya. Kota Banjarbaru memiliki semboyan sebagai Kota Idaman.

Asal mula nama Banjarbaru tentunya tidak terlepas dari awal mula terbentuknya kota tersebut. Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar. Karena itulah, kota ini dinamakan Kota Banjarbaru tanpa menghilangkan identitas kabupaten induknya.

7. Kota Palangka Raya

Kota Palangka Raya merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Tengah. Kota yang dicanangkan kedepannya menjadi ibu kota Indonesia ini memiliki semboyan Isen Mulang yang berarti pantang mundur.

Menurut cerita, asal mula nama Palangka Raya berasal dari kepercayaan masyarakat Dayak, bahwa nenek moyang mereka diturunkan dengan menggunakan wahana Palangka Bulau. Dimana palangka berarti tempat yang suci dan bulau yang berarti logam mulia atau emas. Sedangkan raya memiliki arti besar. Dengan demikian, Kota Palangka Raya memiliki makna sebagai kota yang suci dan besar.

8. Kota Pontianak

Selanjutnya adalah Kota Pontianak yang merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini juga dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa. Kota Pontianak memiliki semboyan sebagai Kota BERSINAR (Bersih, Sehat, Indah, Aman dan Ramah).

Dulu, daerah ini hanyalah merupakan hutan belantara. Hingga suatu saat, tibalah Syarif Abdurrahman Alqadrie beserta rombongannya disebuah persimpangan tiga sungai (Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas kecil, dan Sungai Landak) yang merupakan cikal bakal daerah berdirinya Kota Pontianak.

Melihat lokasinya yang strategis, timbullah niat Syarif Abdurrahman Alqadrie untuk menjadikan tempat tersebut sebagai pemukiman. Namun ketika ingin menghampirinya, Ia beserta rombongan malah diganggu oleh hantu kuntilanak. Hantu-hantu kuntilanak tersebut terdengar tertawa bahkan menangis diatas pohon-pohon.

Suyarif Abdurrahman pun memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriaam. Mendengar tembakan meriam tersebut, membuat hantu kuntilanak yang ada diatas pohon terdiam dan langsung menghilang. Oleh karena itulah, asal mula penamaan Kota Pontianak berawal dari kisah tersebut, pohon dan kuntilanak.

Selain itu, ada juga yang menyebutkan bahwa kata Pontianak berasal dari pohon punti. Sebuah pohon yang tinggi, yang dulunya tumbuh didaerah tersebut.

9. Kota Singkawang

Kota Singkawang adalah sebuah kota yang terletak disebelah utara Provinsi Kalimantan Barat. Kota ini berjarak 145 kilometer dari Kota Pontianak. Kota Singkawang dijuluki sebagai Kota Amoi dan Kota Seribu Kelenteng. Selain itu, daerah ini juga dijuluki sebagai Hongkong-nya Borneo.

Dulunya, daerah ini hanyalah sebuah desa dibawah kekuasaan Kerajaan Sambas. Lambat laun, daerah ini semakin ramai disinggahi para pedagang dan penambang yang berasal dari negeri cina. Oleh etnis Tionghoa, tempat ini dipanggil San Kew Jong. Pemberian nama tersebut dikarenakan geografis Kota Singkawang yang berbatasan lansgsung dengan Laut Natuna, serta memiliki perbukitan dan sungai.

Selain itu, nama Kota Singkawang juga diyakini berasal dari tanaman tengkawang. Sejenis buah yang banyak terdapat dipulau Kalimantan.

Kurang lebih begitulah asal mula nama 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan. Menjadi kota yang maju itu harus, tetapi janganlah pula sampai lupa pada kearifan lokal dan sejarahnya.


Baca juga:
7 Pulau di Kalbar yang Menarik Untuk Dikunjungi
Makan Saprahan Akbar di Kota Pontianak

Thursday, February 21, 2019

Menengok Rumah Adat Melayu Mempawah Yang Baru


Saat itu matahari sudah meninggi, menyinari Bumi Bestari. Para lelaki terlihat rapi dengan menggunakan pakaian warna putih menuju rumah Illahi. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali lewat mobil yang melaju kencang. Hari itu adalah hari jum'at dan tidak lama lagi akan berkumandang suara adzan.

Tak perlu tergesa-gesa, motor yang kami kendarai tetap bergerak dengan kecepatan konstan. Bagi kami keselamatan adalah nomor utama, apalagi jangan sampai mencelakakan orang lain. Disaat akan menyeberangi jalur, mata terlirik dengan sebuah bangunan yang bernuansa kuning. Warnanya yang mencolok membuat semua orang yang lewat akan tertuju kepadanya. Melihat bangunan tersebut, saya langsung teringat dengan postingan foto oleh salah satu teman yang ada di facebook. Bangunan yang mewah tersebut adalah rumah adat Melayu Mempawah yang baru saja dibangun.

***

Disaat pulang menuju Kota Pontianak, kami menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut. Kebetulan saat itu akses untuk masuk kehalamannya terbuka (tidak diportal), yang membuat kami yakin tempat ini boleh disinggahi. Meskipun sebelumnya ada anggapan bahwa tempat ini tidak boleh disinggahi karena belum diresmikan. Jika kami telah melakukan kesalahan mohonlah dimaafkan.

Sebagai pemuda Kabupaten Mempawah, tentunya saya sangat merasa bangga akan kehadiran bangunan ini. Bagaimana tidak, setahu saya ini merupakan pertama kalinya daerah kami memiliki rumah adat Melayu secara resmi (jika salah tolong diberi tau ie). Meskipun sejak lama telah ada Istana Amantubillah dengan nuansa khas Melayu.

Setelah memarkirkan motor, kami pun langsung mendekati bangunan tersebut. Karena tempatnya masih baru, kami pun tidak ingin menghapus jejak ketika mampir disini. Tanpa disuruh lagi, sebuah alat bantu yang bernama android dikeluarkan untuk mengambil gambar yang terbaik.

Untuk keseluruhan, pembangunan rumah adat Melayu Mempawah ini memang belum rampung. Hanya bangunan rumahnya saja yang menurut saya sudah selesai dikerjakan. Selebihnya seperti jalan masuk, pagar dan plang nama belum dibuat. Selain itu, halamannya juga perlu ditata lagi agar terlihat lebih menarik. Baik itu dengan penanaman rumput, pohon maupun taman.

Meskipun belum selesai, namun keindahan rumah adat Melayu Mempawah ini sudah bisa dirasakan. Perpaduan antara warna kuning dan coklat pada bangunan memberikan kesan estetika yang elegan. Penggunaan warna kuning ini tentu saja tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat Melayu bahwa warna tersebut melambangkan kesucian.

Rumah Adat Melayu Mempawah ini memadukan antara konsep modern dan tradisional. Dikatakan modern karena menggunakan beton dan lantai dari keramik. Sedangkan yang saya ketahui, rumah Melayu itu diidentik dengan menggunakan materil dari kayu, baik itu tiangnya, tangganya, lantainya dan lain-lainnya. Namun itu bukanlah masalah, yang terpenting adalah rumah ini masih menggunakan corak dan ciri khas Melayu.

Seperti rumah Melayu lainnya, Rumah Adat Melayu Mempawah juga berbentuk rumah panggung. Dimana bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang dengan ketinggian  yang mencapai satu meter lebih.


Sebelumnya saya juga tidak terlalu memperhatikan, ternyata disalah satu bagian bangunan memiliki bentuk yang sama dengan  bagian bangunan di Istana Amantubillah. Pada atap bagian bangunan depan (selasar) terlihat corak ragam hias yang sama. Diatas atap terdapat tonggak yang lurus dan ukiran kayu yang berupa motif pucuk tanaman dan gelombang. Dibawah atap (dibawah lisplang) juga terdapat tiga tiang gantung  dan ukiran kayu bermotif tanaman. Selain itu, dibagian depan selasar juga terdapat dua buah bintang segi delapan, yang bentuknya mirip roda kemudi kapal.

Dilansir dari situs Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Rumah Adat Melayu Mempawah rencana kedepannya akan dilengkapi dengan area wisata kuliner dan perpustakaan agama. Wah, keren juga nih perencanaannya! Apalagi mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Masjid Agung Alfalah, pastinya hal tersebut sangat mendukung dan dibutuhkan. Pengunjung yang mampir untuk menunaikan ibadah, bisa sekaligus untuk bersantap kuliner atau menambah wawasan.

Setelah puas berfoto dibagian depan, kami melanjutkan kembali untuk menyusuri bagian yang lainnya. Meskipun tidak bisa melihat bagian dalam, namun menjajal bagian depan sudah lebih dari cukup. Layaknya rumah Melayu lainnya, pinggiran tangga dan teras juga diberi pagar ukiran kayu.

Berikut beberapa foto yang kami dapatkan.





Kehadiran Rumah Adat Melayu Mempawah ini tentunya sangat didambakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah. Oleh karena itu, harapan penulis semoga  kedepannya bangunan ini bisa menjadi tempat silaturrahmi dan tumbuh berkembangnya budaya Melayu. Takkan hilang Melayu ditelan zaman.

Monday, February 18, 2019

Petik Jeruk Tebas Sepuasnya

Ketika berkunjung ke Kabupaten Sambas tentunya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Seperti mendatangi Pantai Temajuk yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, menikmati keindahan Danau Sebedang, atau mampir ke Tanjung Batu yang terkenal akan cerita hantu Obos-nya. Namun kali ini penulis tidak akan menceritakan ketiga tempat tersebut, melainkan sebuah pengalaman perdana memetik buah jeruk asli Tebas. Iya, jeruknya Kecamatan Tebas.

Berawal dari menghadiri undangan pernikahan teman di Dusun Melur, Desa Mekar Sekuntum, Kecamatan Tebas. Lucu kan nama desanya, seperti lirik dari sebuah lagu 'Gembala Cinta' yang dinyanyikan oleh Bang Ashraff. Sekuntum... bunga mekar... ditaman.  Hehe, nostalgia lagu dangdut tempo dulu jadinya.

"Nanti kite ke kebun jeruk ie". Ajak salah satu teman, dimana saat itu kami sedang bersantai diruang tamu.

"Benarlah ni?" Tanya saya dengan serius. "Emangnye siape yang ngajak?" Belum sempat dia menjawab pertanyaan pertama, pertanyaan kedua kembali saya lontarkan.

"Tak ade sih, cuma rencane". Dia menjawab dengan santai dan polosnya.

Mendengar ajakan kekebun jeruk benar-benar rasanya seperti tersentuh angin surga. Bagaimana tidak, berkunjung ke Sambas bagi saya adalah yang kesekian kalinya tetapi belum pernah mampir memetik buah jeruk. Buah yang menjadi primadonanya Sambas. Meskipun setelah keluar Kalbar, nama dagangnya berubah menjadi jeruk pontianak. Tebas yang punye jerok, Pontianak yang punye name.

Meskipun kurang yakin, namun saya berharap besar rencana tersebut bisa terlaksana. Dan Alhamdulillah, keinginan itu diaminkan oleh pemilik kebun yang tak lain adalah mempelai wanita dari acara pernikahan yang sedang kami hadiri. Karena hari itu adalah hari spesial bagi dia, rasanya kurang pantas juga pengantin baru langsung diajak kekebun. Apalagi dirumahnya masih banyak sanak saudara yang berkumpul. Pada awalnya kami  benar-benar merasa tidak enak, hingga pada akhirnya keenakan setelah sampai dikebun. Hehe.

Berbicara tentang jeruk tebas, tentunya semua pada tahu. Jeruk ini memiliki rasa yang manis dan banyak airnya. Oleh karena itulah, tidak heran jika banyak para pedagang jeruk di Pontianak yang memberikan label 'Jeruk Tebas' pada dagangannya.

Jeruk Tebas dikenal juga dengan sebutan Limau Tebas. Jeruk ini termasuk dalam jenis jeruk siam, dengan ciri khas kulitnya yang licin mengkilat.

Kami berangkat kekebun jeruk setelah waktu ashar. Saat itu juga kami sekalian pamit kepada keluarga mempelai untuk pulang ke Segedong. Kebetulan arah tempatnya sama, jadi sekalian saja biar bisa hemat waktu.

O iya, sebelumnya perkenalkan dulu. Nama pemilik kebunnya adalah Khairunnisa atau sering disapa dengan panggilan Icak. Meskipun ia bukan pemilik sahnya, namun sudah cukup mewakili hak orangtuanya. Dia orangnya baik hati, suka menabung dan tidak sombong. Hehe.

Sekarang statusnya tidak lagi lajang, pada tanggal 2 februari kemarin telah melangsungkan akad nikah dengan seorang pria bernama Sabirin (Iin). Ditulisan ini juga, sekali lagi saya ucapkan selamat, semoga menjadi keluarga yang samawa (sengaja disingkat, biar mirip-mirip anak gaul) dan lekas mendapatkan momongan. Amiinn...

Kembali ketopik utama. Kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai ditujuan. Barisan pohon jeruk dan hamparan sawah yang hijau menyambut kedatangan kami. Disisi jalan terdapat pohon kelapa hibrida dengan niurnya yang melambai-lambai. Di kejauhan, terlihat juga siluet bukit yang menambah komposisi pemandangan disekitar.

Baru saja memarkirkan motor, sebagian teman sudah berlarian masuk kedalam kebun. Termasuk juga saya yang tidak akan menyia-nyiakan waktu. Dipimpin sang pemilik kebun, kami langsung menyusuri jalan setapak dan masuk disela-sela pepohonan jeruk.

"Jeruknye udah dipanen kemaren. Jadi yang tinggal banyak yang ijau". Sahut Icak sang pemilik kebun.

Keadaan dilapangan memang tidak sesuai ekpektasi kami. Buah jeruk yang bergelantungan di atas pohon kebanyakan masih hijau. Jika beruntung, maka kami akan mendapatkan buah jeruk masak yang tersisa dari panen kemarin. Jika tidak, maka kami akan melanjutkan untuk memeriksa pohon yang berikutnya.

Ketika memetik buah jeruk ternyata tidak boleh boleh asal copot saja. Selain buah yang dipilih harus yang berwarna kekuningan, cara memetiknya juga harus diperhatikan. Untuk memetiknya yaitu dengan mematahkan pangkal buah jeruk kearah kanan terlebih dahulu, baru kemudian mematahkannya kembali kearah kiri (dimulai dari kanan atau kiri semuanya boleh). Hal tersebut dilakukan agar kulit yang berada di pangkal buah tidak robek. Oh...begitu toh.

Disaat berusaha mencari buah jeruk yang masak, terdengar suara teriakan dihujung kebun. Sontak hal tersebut membuat kami kaget dan bertanya-tanya. Saya mulai menerka mungkin yang berteriak butuh pertolongan karena terjadi sesuatu. Maklum, ini dikebun. Berbagai hal negatif bisa saja terjadi.

"Oi...disinik jeruknye banyak yang masak". Kali ini suara teriakan tersebut terdengar jelas.

Tanpa diperintahkan lagi, kami pun berlari menuju kesana. Tidak perduli lagi teman dibelakang minta untuk ditunggu.

Sesampainya disana, sudah terlihat tiga teman yang sedang memanen. Melihat buah jeruk yang banyak kekuningan benar-benar membuat hati ini bahagia. Bukannya lebay, tapi memang ini pertama kali bagi saya memetik buah jeruk.


Setelah sudah puas mengambil gambar, saya pun langsung memutuskan untuk memetik buah jeruk. Cara memilih dan memetik buah jeruk yang diajarkan pemilik kebun langsung dipraktekkan. Ternyata memang benar, jika kita tidak menggunakan cara diatas maka peluang kerusakan yang terjadi pada buah jeruk lebih besar. Pernah sekali saya mencoba langsung menariknya, alhasil kulit yang ada dipangkal buah menjadi sobek.

Kulitnya yang mulus dan warnanya yang hijau kekuningan benar-benar membuat saya tergoda untuk menikmatinya. Apalagi sebelumnya sempat berlarian yang membuat kerongkongan terasa kering. Selera semakin bertambah setelah melihat dalamnya yang berwarna oranye cerah. Dengan ucapan bismillah kupinang dia. Eh salah, maksudnya kunikmati dia.

Jeruk yang masak dipohon tentunya jangan ditanyakan lagi. Pastinya rasanya lebih manis dan segar. Apalagi buah jeruk yang dipetik asli punya Tebas. Berbeda jika beli di toko buah, peluang untuk mendapatkan rasa yang kecut masih bisa terjadi.

Tidak hanya padi dan jeruk yang ditanam disini. Disela-sela pohon jeruk juga ditanami sahang, salah satu rempah kebanggan Indonesia. Sekaligus daya tarik bagi bangsa Eropa untuk menjajah negeri kita saat tempo dulu.

Selain itu, kami juga diperkenalkan jeruk jenis lainnya. Menurut pemilik kebun namanya 'jeruk susu'. Wah, semuanya pasti sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya?

Tidak! Sedikitpun tidak ada rasa susunya. Yang pasti, rasanya sedikit berbeda denga jeruk siam (saya bingung bagaimana menjelaskan rasanya). Bentuknya juga berbeda, pada pangkal buah jeruk susu agak melonjong dan memiliki kulit yang kasar. Seperti ini gambarnya.



Ternyata keseruan memetik buah jeruk tidak berhenti disitu saja. Kami kembali diajak untuk mengambil jeruk dikebun yang kedua. Lokasinya berada diseberang jalan, ditengah-tengah hamparan sawah yang luas. Jika sebelumnya semuanya pada kegirangan untuk memetik jeruk, maka kali ini hanya beberapa orang saja yang berkenan untuk pergi kesana. Maklum, mungkin mereka sudah lelah.

Berbeda dengan kebun yang pertama, buah jeruk yang masak dikebun kedua ternyata lebih banyak. Selain itu, kebun disini juga berbatasan langsung dengan kebun jeruk milik tetangga. Jadi, misalkan masih kurang tinggal nyeberang saja kekebun sebelah. Hehehe. Tetapi kami tidak sehina itu, mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya.

Lagi serunya memetik buah jeruk, terlihat sang pemilik kebun berlari sambil berteriak histeris.  Saya pun langsung menghampirinya. Usut punya usut ternyata ada ular di atas pohon jeruk (saya menyebutnya ular lidi).

Ular ini sebenarnya tidak berbahaya, namun akan sangat berbahaya jika yang melihatnya langsung terkejut (apalagi yang menderita serangan jantung). Ngomong-ngomong, saya tertawa hebat ketika melihat pemilik kebunnya ketakutan. Hehe, senang diatas penderitaan orang lain.

Setelah puas memetik buah jeruk, kami pun lekas kembali ditempat parkiran motor. Senyum simpul mengiringi langkah kami, keluar dari kebun dengan menjinjing bungkusan jeruk. Belum lagi sesampainya diparkiran langsung disuguhkan kelapa muda. Sungguh petualangan yang menyerukan. Petik jeruk tebas sepuasnya.


Dan pada akhirnya, semua pada kebingungan kemana jeruk tersebut akan disimpan. Kendaraan yang kami gunakan sudah penuh dengan barang bawaan. Alhasil, jeruk tersebut harus dipangku oleh yang berboncengan dibelakang.

Selamat menikmati perjalanan bersama himpitan buah jeruk, Tebas-Segedong.

Wednesday, February 6, 2019

Wisata Ke Taman Cinta Pajintan


"Kita sekalian mampir ke Taman Cinta Pajintan, ya". Ajak seorang teman yang sedang saya boncengi.

Saat itu, saya dan kelima teman sedang melakukan perjalanan menuju ke Sambas, menghadiri sebuah acara pernikahan. Karena ajakan tersebut mendadak, saya pun menanyakan kepada teman yang lain apakah mereka setuju. Maklum, agenda tersebut tidak ada dalam perencanaan kami, apalagi perjalanan yang akan kami tempuh masih jauh.

Setelah berdiskusi singkat dipinggir jalan, akhirnya diperoleh keputusan bahwa kami akan mampir ketempat wisata tersebut. Meskipun tempat tujuan utama masih jauh. Dengan mengandalkan google map, kami pun langsung menuju kelokasi.

Untuk sampai disana ternyata tidak semulus yang kami bayangkan. Didalam perjalanan kami sempat kesasar di pusat kotanya. Meskipun sudah menggunakan alat bantu, namun tetap saja teman dibelakang salah menggunakannya. Tetapi itu bukan seutuhnya salah dia, melainkan juga salah saya yang tidak jeli dan tau seluk-beluk Kota Singkawang. Akhirnya, kami pun sedikit menjauh dari tujuan.

Disaat lagi bingung-bingungnya, hujan pun turun membasahi bumi seribu kelenteng. Tidak luput pula, lampion-lampion yang menghiasi jalanan juga ikut basah dan bergoyang-goyang ditiup angin. Kebetulan saat itu akan menjelang imlek, jadi setiap sudut Kota Singkawang dipenuhi oleh ornamen-ornamen yang bernuansa warna merah. Setidaknya, dua kali kami harus berhenti dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung.

Tidak sampai disitu saja, kami juga harus kejebak macet di Jalan Sudirman. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena kondisi jalan yang rusak, berlubang-lubang. Aneh juga masih bisa menemukan jalan yang begituan di Kota Singkawang. Apalagi jalur tersebut menghubungkan ketempat wisata.

Kurang lebih 20 menit dari pusat Kota Singkawang, akhirnya sampai juga di Taman Cinta Pajintan. Tempat wisata ini terletak di Jalan Pajintan, Singkawang Timur. Tulisan 'WATERBOOM' disisi kiri dan 'Taman Cinta' disisi kanan menyambut kedatangan kami. Selain itu, terdapat juga patung keberagaman etnis (Melayu, Dayak, Tionghoa) yang melambangkan keharmonisan. Ketika memasuki pintu gerbang, kami harus berhenti sebentar dulu untuk membayar biaya parkir sebesar Rp. 2.000.

Taman Cinta Pajintan atau nama lainnya Taman Cinta Waterboom Gunung Poteng saat ini menjadi salah tujuan wisata favorit yg ada di Singkawang. Tempat wisata ini mengusung konsep waterboom dan taman yang menjadikannya sangat menarik untuk dikunjungi.

Setelah memarkirkan kendaraan, tanpa menunggu lama lagi kami pun langsung menuju ke loket.  Untuk harga tiket dikenakan biaya sebesar Rp. 40.000. Harga tersebut berlaku untuk setiap harinya, baik weekday maupun weekend. Dengan tiket sekali bayar tersebut, kita sudah bisa menikmati semua wahana dan fasilitas yang ada didalamnya. Namun anda bisa mendapatkan diskon sebesar 50% apabila anda datang  diatas jam 17.00 WIB atau anda merupakan anggota TNI atau Polisi. Selain itu ada juga tiket masuk gratis untuk bayi dibawah umur 2 tahun, anak panti asuhan dan panti jompo. Baik juga ya pihak pengelolahnya.

Pepohonan yang hijau, warna-warni ornamen bunga dan danau yang cukup luas merupakan pandangan pertama ketika masuk didalamnya. Teman-teman yang masuk duluan sudah berjalan cepat menuju salah satu spot yang memang menarik. Disinilah, tugas kami sebagai fotograper bagi mereka dimulai. Hehe.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sebuah jalan disisi kiri, yang lebih mirip sebuah lorong. Dibawahnya, terhampar rumput sintetis yang berwarna hijau. Diatasnya juga bergantung warna-warni daun bunga sintetis. Perpaduan ornamen tersebut memang menjadikan spot ini sangat menarik dan sekilas nuansanya mirip di acara pernikahan.

Sesuai namanya, taman cinta memang banyak memberikan kesan yang indah. Baru saja masuk disini sudah berjumpa gadis cantik dan ia malah menyapa nama saya. Saya pun berdiri kakuh, berusaha mengingat siapakah gerangan tersebut. Wajahnya tentu saja tidak asing, namun saya betul-betul lupa namanya. Hingga pada akhirnya dia menyalami saya dan menyebutkan namanya. Saat itulah saya baru ingat, dia adalah junior saya waktu SMA dulu. Sudah lama kami tidak bertemu, namun disaat bertemu tidak lama.

Selain itu, tempat ini juga sepertinya jadi lokasi CLBK bagi teman saya. Kata dia sih mereka sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa. Hanya berteman saja. Namun kenyataannya, mereka berboncengan satu motor dan sering berfoto berduaan (meskipun malu-malu). Emangnya kami anak kecil apa, yang mudah saja dikadalin. Tapi semoga saja hubungan mereka masih bisa dilanjutkan hingga kejenjang pernikahan.

Dan yang tidak kalah penting adalah tempat ini mempererat tali persahabatan kami.


Setelah puas berfoto dan memanjakan teman dengan banyak jepretan, kami pun melanjutkan kembali perjalanan, menyusuri lorong tersebut. Dihujung lorong terdapat playground yang banyak terdapat anak-anak. Namun itu bukanlah tujuan, kami pun belok ke arah kanan menuju arah danau.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya tibalah kami ditepian danau. Ditengah danau terdapat sebuah gazebo yang berbentuk kuil. Dominasi warna merah dan kuning memberikan kesan ceria setiap pengunjung yang melihatnya. Di sebelah selatan danau tampak Gunung Poteng yang diselimuti kabut tipis. Maklum baru selesai hujan.

Ada banyak taman dan kursi santai yang disediakan di pinggiran danau. Salah satunya adalah taman dengan bentuk love. Selain itu, ada juga ikan hiu yang nyangkut dan dinosaurus yang satu-satunya masih bertahan hidup di Kota Singkawang. Hehe.





Belum puas menikmati keindahan alamnya, tiba-tiba awan hitam menyerang kami dengan peluru airnya. Seketika tawa dan kebahagian hilang, dibasuh oleh tembakan air tersebut. Kami pun berlari, menuju gazebo yang terdekat.

Tidak ada yang bisa kami lakukan saat itu, kecuali melihat tetesan air hujan dan kegembiraan anak kecil yang berada dikolam. Kebetulan gazebo kami persis berada di area water playground. Sebuah tempat yang menyediakan berbagai wahana, seperti seluncuran, rumah atau kastil buatan dan yang lainnya.

Meskipun Lagi Hujan Namun Mereka Tetap Menikmatinya

Melihat hujan yang tidak kunjung redah, saya pun mencoba untuk berjalan dibawah kanopi panjang yang ada dipinggiran kolam. Sama seperti tempat yang lainnya, diarea ini juga dihiasi oleh daun dan bunga-bunga sintetis. Beberapa orang dewasa juga terlihat berteduh dibawah sini.

"Kita mandi saja, yok". Ajak salah satu teman ketika saya balik ke gazebo.

Mendengar ajakan tersebut saya langsung tertawa. Yang benar saja mau mandi disini, tanpa ada persiapan apa pun. Seandainya ingin sekalian mandi disini kenapa tidak bilang dari awal, kan bisa beli celana bola dipedagang depan. Ajakan tersebut saya tolak dengan pertimbangan tidak ada celana basah.

"Kita sudah bayar mahal namun tidak menikmati fasilitas dan wahananya, kan rugi jadinya". Teman yang mengajak tadi kembali memberikan argumennya.

Salah satu teman mulai mengangguk, mengiyakan argumen barusan. Ini nih, kalau sudah berurusan dengan untung rugi, susah untuk dinego lagi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan kami liburan juga jarang, selain itu hari juga masih hujan, maka diputuskanlah akan mandi. Adapun syaratnya, semuanya harus ikut mandi (meskipun pada kenyataannya ada satu teman yang tidak menceburkan diri).

Berhubungan ada membawa celana jeans pendek, jadi itulah yang bisa digunakan. Saya pun berlari menerobos rintikan hujan, dan menceburkan diri didalam kolam. Saat itu juga lutut terasa sakit, karena harus terbentur dengan dasar kolam. Saya pun sedikit mengeluh, menahan rasa sakit akibat tidak hati-hati.

"Ayo turun, jangan ingkar janji". Teriak saya yang sudah duluan didalam kolam.

Bukannya menjawab ia, mereka malah mentertawakan saya. Awas saja kalau mereka tidak menepati janjinya. Tak jewer nanti telinganya. Tidak perlu waktu lama, mereka pun berlarian satu persatu, terjun dan membasahkan pakaian yang digunakannya.

Selamat datang dikolam renang anak-anak. Hihihi.

Water playground Taman Cinta Pajintan memiliki beberapa wahana yang bisa dinikmati. Seperti ember tumpah, kastil buatan dan seluncurun/perosotan (water slide). Untuk seluncurannya sendiri ada empat jenis. Yang pertama adalah seluncuran dengan jenis race (balap). Dimana seluncuran ini memiliki banyak jalur yang bisa digunakan para pengunjung untuk saling berlomba. Yang kedua adalah seluncuran dengan jenis family (keluarga). Dimana seluncuran ini memiliki ukuran lebar yang cukup besar untuk bermain keluarga. Disini pengunjung bisa berseluncur dengan menggunakan pelampung yang disediakan pihak pengelola. Yang ketiga adalah seluncuran dengan jenis tertutup atau lorong. Yang terakhir adalah seluncuran dengan jenis singgle atau satu jalur saja.


Karena ketinggian air disini kurang lebih hanya 60 cm saja, saya pun mesti berjalan dengan cara beringsut. Jangan tanyakan untuk berenang, karena sudah pasti tangan akan sering menyentuh dasar kolam. Kecuali yang berenang adalah anak kecil.

Melihat yang lainnya berseluncuran, membuat saya juga ingin melakukannya. Saya pun berjalan dengan susah payah menuju ke seluncuran dengan desain kepala naga tersebut. Sebenarnya sedikit malu karena dipandang tante-tante yang sedang menjaga anaknya. Tapi kenapa pula mesti malu, toh kita disini masuknya bayar. Atau mungkin tantenya.....sssttt! Ah sudahlah.

Untuk sampai ke puncak, para pengunjung harus menaiki anak tangga. Namun dikarenakan seluncurannya tidak terlalu tinggi, jadi hanya sebentar saja untuk sampai disana.

Saya pun bersiap-siap, berdiri didepan jalur yang berwarna kuning. Satu dua orang yang berada disamping sudah meluncur dan malah sudah sampai dibawah sana. Hingga tibalah saatnya saya, dengan keyakinan penuh bahwa permainan ini akan sangat menyerukan. Namun apa daya, saya malah tersangkut-sangkut diseluncuran akibat menggunakan celana jeans. Dengan bantuan dorongan tangan, saya berusaha agar segera tiba diujung.

Agar tetap menikmati, saya pun lebih memilih untuk berendam di air. Sambil sesekali menuju ke ember tumpah. Selain itu, juga bermain pelampung yang disediakan secara gratis. Kebahagiaan itu kita yang menentukan.

Efek Menggunaka Celana Jeans, Jadi Hanya Bisa Begini Saja
Berhubung hujan sudah mulai redah, kami pun memutuskan untuk segera naik. Meskipun sebelumnya saya merasa berat hati, masih ingin berlama-lama bermain diair.

Di Taman Cinta Panjintan terdapat berbagai fasilitas yang akan akan memudahkan pengunjung. Seperti mushollah, penginapan dan villa serta restoran. Selain itu, terdapat juga air mancur yang bisa menari.



Banyak lokasi di wisata ini yang tidak sempat kami sambangi. Mau diapakan lagi, karena saat itu memang sudah sore dan tujuan kami juga masih jauh. Namun meskipun begitu, kami menyempatkan diri untuk pergi ke seberang danau.

Banyak tempat yang tidak kalah menariknya ketika tiba diseberang. Seperti taman bambu, taman love love, dan patung binatang dengan warna keemasan. Selain itu terdapat juga wahana ombak buatan. Tapi sayang, wahana tersebut hanya buka dihari minggu saja.




Lokasi Wahana Ombak Buatan

Monday, February 4, 2019

Menikmati Nasi Timbel di Kota Singkawang

Kota Singkawang atau yang dijuluki sebagai Kota Seribu Kelenteng merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kalbar. Kota yang terletak disebelah barat Pulau Borneo ini memiliki keindahan alam yang menawan dan budaya yang sungguh menarik. Tidak hanya itu, Kota Singkawang juga menyajikan bermacam kuliner, baik yang lokal maupun luar daerah.

Berbicara kuliner di Kota Singkawang, saya punya sedikit cerita mengenai tempat makan yang sempat kami singgahi. Saat itu saya beserta lima teman sedang melakukan perjalanan menuju Tebas, Kabupaten Sambas. Berhubung hari itu sudah siang dan perutpun sudah keroncongan, kami pun memutuskan untuk singgah disalah satu tempat makan yang ada dipinggiran jalan. 

Kedai Abah dan Ambu, itulah nama tempat makan yang kami singgahi. Terletak di Jalan Pasir Panjang yang berseberangan dengan Rindam XII/TPR Singkawang. Hal yang membuat kami tertarik untuk singgah disini adalah karena di neonbox-nya tertulis 'Nasi Timbel Khas Cianjur'. Ya, karena rasa penasaran itulah akhirnya kami merapatkan kendaraan dirumah makan tersebut.

Tidak ada menu lain yang disajikan di Kedai Abah dan Umbu kecuali nasi timbel. Makanan yang satu ini merupakan makanan khas Sunda yang ada di Kota Singkawang. Menurut cerita, makanan ini hadir karena adanya kebiasaan masyarakat Sunda ketika pergi kesawah membawa bekalan nasi yang dibungkus daun pisang. Oleh karena itulah, ciri khas dari nasi timbel adalah nasinya di bungkus daun pisang. 

Makanan yang dinantikan akhirnya tiba. Pelayan dengan kerudung kuning (bukan kerudung merah) meletakkan satu-persatu nasi timbel diatas meja makan. Sontak, rasa lapar yang tadinya mulai reda kembali datang. Namun bukan mencuci tangan yang segera saya lakukan, melainkan meraih android untuk mengambil gambar. Harap maklum, kids jaman now.


Diatas piring rotan, nasi timbel disajikan dengan berbagai macam lauk. Tampilannya memang seperti pecel ayam yang ada di rumah makan lamongan, namun yang satu ini memiliki ciri khas yaitu nasinya dibungkus daun pisang. Menurut mbak yang menyajikan, nasi tersebut dibungkus ketika masih panas-panas, tanpa dibakar atau dikukus lagi. Adapun lauk-pauknya seperti gambar diatas, ada ayam goreng, tempe, tahu, sayur kol dan timun serta sambal terasi. Untuk harga perporsinya hanya dibandrol Rp. 18.000.

Tanpa menunggu lama lagi, saya pun membuka bungkus nasi. Uap panas nasi masih bisa dirasakan. Tangan pun mulai menggerayang, lalu mecubit bagian ayam goreng tersebut. Biar tambah nikmat tidak lupa juga dicocolkan kesambal terasi. Hangatnya nasi, gurihnya ayam dan pedasnya sambal terasi benar-benar membuat makan siang itu terasa nikmat.

Ayam goreng dari nasi timbel memang terasa enak. Ayamnya terasa empuk dan bumbu-bumbunya meresap hingga kedalam. Ditambah lagi pedasnya sambal terasi yang benar-benar menggugah selera. Selain itu, tahunya juga terasa enak dengan bumbu yang meresap hingga kedalam. Sampai-sampai teman disebelah meminta tahu saya, meskipun pada akhirnya tidak dapat karena sudah habis.

Untuk minumannya, kami lebih memilih es tebu dengan harga Rp. 3.000. Selain itu ada juga kelapa muda dan minuman yang lainnya.

Bagaimana, tertarik untuk mencobanya? Saya rasa tidak ada salahnya jika anda mampir di Kedai Abah dan Ambu untuk menikmati nasi timbel khas Cianjur.

Thursday, January 31, 2019

Wisata Mangrove Polaria Buat Hari Jadi Lebih Berwarna


Sebuah gerbang beratapkan genteng biru menyambut kedatangan kami. Dibawahnya bergantungkan tulisan 'selamat datang', sebuah ucapan yang sering ditemukan ketika memasuki kawasan wisata. Dua buah ban mobil juga terlihat disamping gerbang, yang dikreasikan dengan cat warna-warni. 

Sambil menunggu teman yang lain, saya pun menghentikan motor didepan gerbang tersebut. Disisi kiri terdapat sebuah parit (anak sungai) yang dipenuhi oleh motor klotok yang sedang tertambat. Karena merupakan daerah pinggiran laut, menjadikan masyarakat disini banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Sebenarnya kedatangan kami ditempat wisata ini bukanlah tujuan utama, melainkan untuk menghadiri undangan pernikahan didaerah Sungai Bundung Laut. Namun dikarenakan adanya ajakan salah satu teman, akhirnya kami menyempatkan diri untuk mampir kesini. Rugi juga jika sudah melakukan perjalanan jauh namun tidak mencicipi keindahan wisatanya. Inilah dia, Mangrove Polaria Tanjung Pagar yang menambah daftar wisata di Kabupaten Mempawah.

Merupakan daerah pesisir, menjadikan sebagian daerah Kabupaten Mempawah rawan akan abrasi pantai. Namun hal tersebut tentu saja dapat dicegah oleh adanya pohon-pohon dipinggiran pantai. Salah satunya adalah pohon bakau (mangrove) yang semakin banyak ditanam oleh komunitas-komunitas peduli pesisir. Sangat bangga punya orang-orang seperti mereka.

Karena teman yang ditunggu sudah tiba, kami pun bersama-sama memasuki kawasan wisata tersebut. 

"Ini bang, karcis parkirnye". Seorang wanita berkerudung datang sambil menunjukkan selembar kertas. Disitu tertulis kata 'parkir' dan angka '2.000'. 

Tanpa menunggu lama, kami pun merogoh kocek untuk membayar biaya parkir tersebut. Total uang yang harus dibayar saat itu adalah Rp. 6.000. Untuk biaya parkir memang harus dibayar diawal. Tapi tenang saja, petugas parkirnya akan selalu setia menunggu hingga para pengunjungnya pulang semua.

Setelah merogoh kocek sana-sini, total uang yang terkumpul saat itu hanya 5.000 rupiah saja. Melihat muka kami yang mungkin 'menyedihkan', Mbaknya pun mengikhlaskan jika kami hanya membayar segitu saja.

Namun kami tidak lantas mengiakan budi baik Mbak tersebut. Bagaimanapun juga tempat wisata yang kami datangi ini butuh biaya untuk perawatannnya dan membayar pekerjanya. Pencarian pun dilanjutkan kekocek tas. Dan alhamdulillah, uang receh 1.000 rupiah ditemukan terselit diantara benda yang lain. Sebenarnya kami punya uang 20.000 rupiah, namun si mbaknya juga berkata tidak punya uang kecil untuk kembalian.

Kami langsung bergerak menuju pos tiket yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Setiap pengunjung hanya dikenakan Rp. 5.000. Bagaimana, cukup terjangkau kan? Setara dengan 2 bungkus mie goreng. Tanpa basa-basi lagi dengan penjaganya, saya dan ketiga teman langsung memasuki lokasi wisata taman mangrove polaria.


Lagi-lagi kami disambut oleh kata 'selamat datang' di pintu gerbang (ini sudah gerbang yang kedua). Warna-warni, merah kuning hijau dilangit yang biru memberikan kesan ceria setiap yang melihatnya. Pokoknya, kalau anda lagi sedang kesal, marah, bad mood dan lain sebagainya, coba saja datang kesini. Dijamin hari-harimu akan terasa berwarna. Hehe. Kate siape? Ie kate saye lah.

Ketika memasuki wisata mangrove polaria, disisi sebelah kanan terdapat sebuah kawasan bermain yang menurut saya memang dikhususkan untuk anak-anak. Disini terdapat berbagai wahana permainan, seperti yun diayun (ayunan), rumah pohon dan seluncuran. Karena saat itu masih ramai orang terutama anak-anak, kami pun memutuskan untuk  melanjutkan perjalanan, menyusuri tempat ini lebih dalam. Kan malu juga jika nimbrung sama mereka.



Sedangkan disisi sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang bertuliskan 'pondok serba guna'. Sesuai namanya, pondok ini tentu saja digunakan bagi mereka yang ingin mengadakan pertemuan atau rapat dan kegiatan edukasi atau kegiatan lainnya. Bangunannya terlihat cukup luas dengan polesan warna-warni yang memikat hati.

Wisata Mangrove Polaria Tanjung Pagar dipelopori oleh Bapak Ilham M. Amin yang merupakan kepala Desa Mendalok. Tempat wisata ini terinspirasi dari kunjungan beliau ke salah satu wisata mangrove yang ada di Probolinggo, Jawa Timur. Untuk sampai kesini, dari Kota Pontinak dengan jarak tempuh kurang lebih 100 Km atau waktu tempuh kurang lebih 2 jam 20 menit.

Kami pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jembatan papan yang telah dicat. Jembatan dengan ketinggian kurang lebih 40 cm ini tentu saja memberikan kemudahan bagi para pengunjung untuk mengeksplor lebih jauh kawasan wisata mangrove Polaria. Maklum saja, tanah yang ditumbuhi pohon mangrove ini memiliki kontur yang lembut bahkan berlumpur.

Kurang lebih 70 meter dari pintu gerbang (lupa-lupa ingat panjangnya) terdapat sebuah taman. Karena disini ada bacground hati yang sedang terpanah, maka tempat ini sepertinya lebih cocok dinamakan 'taman cinta'. Disekitarnya terdapat kursi panjang dan pondok yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai. Apalagi yang datang bersama pasangan, pasti sangat romantislah untuk berduaan. Tapi ingat, pasangannya yang halal ya.


Merasa penasaran dengan sekitarnya, saya pun menghampiri sebuah bangunan dengan dua bilik yang berpintu. Setelah dekat ternyata tempat tersebut adalah toilet. Toilet ini juga dicat warna-warni yang mungkin saja akan menambah rasa betah untuk para pengunjungnya. Dan yang paling penting adalah selalu tersedia air untuk digunakan.

Kami melanjutkan lagi perjalanan hingga tiba di persimpangan tiga. Disinilah saya mulai berpisah dengan rekan-rekan yang lainnya. Rasa sedih yang teramat dalam tidak bisa dielakkan (hehe, lebai sedikit tak ape kan). Teman-teman yang lain lebih memilih jalan dengan plang 'move on' sedangkan saya sendiri memilih jalan 'lupakan mantan'.


Semakin masuk kedalam, maka semakin lebat pula pohon mangrove yang ditemukan. Disini terlihat banyak mangrove dengan pohon yang cukup besar.  Pohon tersebut memiliki akar yang menyembul dari permukaan tanah layaknya tangan-tangan gurita.

Mangrove memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Seperti menjaga pantai dari abrasi dan angin kencang, penyaring air asin menjadi tawar, penghasil oksigen, tempat berkembangbiakaan hewan baik yang dilaut maupun didarat, hingga dijadikan sebagai tempat rekreasi.

Untuk anda yang mudah capek (bukan yang dimate ie) tentunya tidak perlu khawatir ketika mengeksplor tempat wisata Mangrove Polaria ini. Karena disepanjang perjalanan banyak tersedia tempat beristirahat, baik itu hanya berupa kursi santai atau pun pondok santai. Bahkan disini juga disediakan tempat santai khusus untuk anak musik, karna dibelakangnya ada background gitar. Tapi jangan pulak manggung disinik ie, takotnye nantik roboh.



Selain tempat santai tersebut, didalam perjalanan juga disuguhkan kata-kata motivasi yang sekaligus juga menggelitik hati. Seperti 'lupakan mantan', 'move on', 'ber 1 kita teguh ber 2 kita married', 'kalau sudah jomblo kabari aku yah' dan lain-lain. Bahkan ada yang memelintirkan singkatan dari nama sebuah lembaga, KPK (Kapan Punya Kekasih). Kata-kata tersebut tentunya memberikan daya tarik untuk pengunjung, bahkan tak sedikit dari mereka yang berfoto disampingnya.


Perjalanan saya terhenti ketika tiba disebuah jembatan yang tinggi (jembatannya menanjak). Bukan karena tidak sanggup untuk mendaki, melainkan diatas sana terlihat empat gadis yang sedang tertawa riang. Ditangan salah satu gadis berkerudung cokelat muda (bukan berkerudung merah) terdapat sebuah kue dengan lilin yang sedang menyala. Rupanya mereka sedang merayakan hari ulang tahun dari salah satu sahabatnya. Rasanya kurang enak, jika saya tiba-tiba lewat dan menjeda kebahagian mereka. Apalagi hanya sendirian.

Kehadiran saya akhirnya diketahui oleh mereka. Sontak suasana kegembiraan dan suara tawa perlahan meredah. Mungkin mereka merasa malu atau tidak enak, tetapi saya malah lebih merasa tidak enak karena telah merampas kebahagiaannya (hehe, maaf ie dek). Salah satu dari mereka juga sempat mempersilahkan saya untuk lewat. Namun saya lebih memililih melakukannya setelah api yang ada dililin angka 18 itu padam. Ngomong-ngomong selamat ulang tahun ie dek, semoga keinginannye tercapai. Amiin.




Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya saya tiba disebuah tempat dengan view lautan lepas. Suara ombak yang menerjang bibir daratan terdengar sayu- sayu bersatu suara tawa para pengunjung. Langit yang berwarna kebiruan ditambah jingganya surya menjadikan suasana sore saat itu benar-benar menenangkan. Disinilah saya kembali menemukan teman seperjalanan yang sempat berpisah.

Banyak spot foto yang sangat menarik disini. Seperti  anyaman rotan yang seperti membentuk sarang burung, replika perahu dan yang lainnya. Selain itu, dari sini kita juga bisa menikmati keindahan Pulau Penibung dan Temajo dari kejauhan. Berikut beberapa fotonya.





Setelah puas kesana-kesini, akhirnya kami memutuskan untuk bersantai disalah satu spot yang ada diujung jembatan. Karena lokasinya cukup jauh dari keramaian, membuat suasana disini lebih terasa menenangkan. Tak banyak hal yang kami lakukan selain duduk manis sambil menikmati matahari sore yang sebentar lagi akan kembali keperaduannya.

Perlahan-lahan sang surya hilang, bersembunyi dibalik lautan luas. Ia pergi membawa semua rasa penat yang ada dikepala kami. Tak ada angin yang mengirinya kepergiannya. Namun ombak selalu setia, memberikan alunan musiknya meskipun hanya riakkan kecil. Seketika, cahaya jingga menyebar diujung cakrawala sana.

Duduk manis kami terpaksa harus dihentikan ketika ada seorang ibu bersama gadisnya datang menghampiri. Bukan! Bukan untuk menawarkan gadisnya kepada kami, melainkan mereka juga ingin berfoto di spot yang sejak tadi kami kuasai.




Monday, January 14, 2019

Berburu Si Manis Saat Tengah Malam


"Yok kite pegi makan durian". Ajak seorang alumni asrama yang saat itu sedang bermain keasrama. Tapi bukan untuk bermain catur, bukan bermain daun remi dan sebagainya, melainkan hanya sekedar intuk mempererat tali silaturrahmi.

Sebenarnya saya sedikit malas ingin mengiyakan ajakan tersebut. Bukannya karena saya tidak suka buah durian atau 'malu-malu kucing' ketika ditraktir, melainkan saat itu sudah diatas jam 12 malam. Saatnya untuk tidur, apalagi kantuk sudah datang melanda. Namun karena teman selalu meminta untuk ikut dan tidak akan berhenti merengek sebelum saya mengangguk, akhirnya saya bersedia untuk menemaninya.  Selain itu, tidak baik juga menolak rezeki yang datang seperti  'durian runtuh'.

Tidak semua yang berkumpul saat itu ikut berburu buah durian. Yang pergi saat itu hanya saya, Nurdin (teman seperjuangan skripsi disemester akhir), Bang Sugi (yang saat itu masih menunggu hasil pengumuman CPNS dan semoga saja lolos), dan Bang Zaini (merupakan kru di PON TV sekaligus merupakan big boss untuk makan buah durian ini).

Kamipun berangkat sekitar jam 24.20 WIB. Jalan pertama yang kami susuri adalah Jalan Imam Bonjol yang tak jauh dari lokasi kami. Disini kurang lebih ada tujuh lapak durian yang kami temukan. Tapi entah kenapa tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatian untuk disinggahi. 

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke Jalan Veteran. Ketika memasuki kawasan ini terlihat sekali banyak umat yang sedang melakukan transaksi jual beli. Maklum, disini merupakan lokasi Pasar Flamboyan yang merupakan pasar induk di Kota Pontianak sekaligus di Kalimantan Barat. Disini kami sempat singgah disalah satu lapak durian, meskipun pada akhirnya kami mencari tempat yang lain lagi.

Meskipun Kota Pontianak bukanlah daerah pertanian, namun ketika musim buah tiba daerah ini akan dibanjiri oleh berbagai jenis buah. Salah satu contoh adalah buah durian. Buah durian tersebut datang dari berbagai daerah yang ada di Kalbar.

Karena tempat yang kami singgahi tadi kurang berkenan dihati, akhirnya kami melanjutkan kembali pencarian (mencari buah durian yang memiliki biji emas, hehe). Kali ini kami pergi kedaerah seberang, yaitu Jalan Tanjung Raya 2. Beruntung saat itu sudah diatas jam 12 malam, jadi jalan terasa cukup lengang. Mudah dan bebas untuk kemana-mana.

Untuk kesana kami harus menyeberangi jembatan tol kapuas 1 yang menghubungkan Pontianak Kota dan Pontianak Timur. Jembatan ini merupakan jembatan kebanggaan masyarakat Pontianak, karena diatas sinilah kita bisa melihat betapa eloknya lekukan Sungai Kapuas. Ditambah lagi banyaknya cahaya lampu dan aktivitas masyarakat yang menjadikan pemandangan disini sangat menarik.

Baru saja memasuki Jalan Tanjung Raya 2, kami sudah disambut dengan pemandangan lapak buah durian. Disini terlihat banyak pedagang buah durian yang menghamparkan dagangannya dipinggiran jalan. Jarak antara pedagang yang satu ke pedagang yang lainnya pun tidak berjauhan, mereka saling berdekatan tanpa merasa khawatir akan kehilangan pelanggan.

Satu persatu lapak durian tersebut kami lewati. Meskipun saat itu sudah sangat malam, namun tak sedikitpun rasa kantuk terlukis diwajah pedagang tersebut. Malahan diwajahnya terlontarkan senyuman sekaligus  harapan bahwa kedatangan kami membawakan rezeki untuk mereka.

Saya yakin betul,  sebenarnya mereka terasa sangat lelah dan mengantuk. Namun dikarenakan demi tungku dapur yang harus selalu mengepul, mereka rela melakukan ini dengan senang hati. Saya berdoa semoga saja penghasilan yang didapatkan dari  'pejuang malam' ini bisa besar. Maklum saja, yang namanya pedagang itu bisa saja untung dan bisa saja rugi. Apalagi yang diperdagangkan adalah buah, sebuah produk yang cepat rusak.

Kami pun berhenti disalah satu lapak yang dibelakangnya berdiri kokoh bangunan ruko. Sisi kiri tempat tersebut terdapat sebuah kios yang memang digunakan untuk menjual buah. Beberapa orang terlihat sedang memilih, dan beberapa orang juga terlihat sedang menikmati buah durian.

"Ayok dek dipilih buahnye". Pedagang duriannya mempersilahkan kami

Dilapak sini ada beberapa tumpukan buah durian. Durian tersebut ditumpuk sesuai ukurannya masing-masing. Setiap tumpukan sudah diberi tulisan harga  masing-masing. Untuk ukuran yang paling kecil harga yang dikenakan Rp. 5.000 perbuah. Selain ditumpuk, ada juga durian yang digantung. Untuk harga durian yang dogantung pastinya lebih mahal dibandingkan dengan yang ada dibawah. Yaitu dimulai dari Rp. 25.000 sampai 35.000 untuk perbuahnya.

Tanpa dipersilahkan lagi, kami sudah langsung memilih ditumpukan yang harganya paling rendah. Sebenarnya big boss sempat menyarankan untuk ketumpukan sebelah saja yang memiliki ukuran lebih besar. Namun dikarenakan karakter jiwa kami yang sudah murahan, eh maksudnya suka yang barang murah meriah, akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang harga segitu saja.

Sambil memilih, kamipun sempat berbincang dengan penjual duriannya. Salah satu hal yang dibicarakan adalah mengenai asal durian ini. Dari situlah kami tahu ternyata durian tersebut didatangkan dari Sekadau, yang jaraknya kurang lebih 183 Km dari Kota Pontianak.

Pedagang buahnya juga berbaik hati, Ia membantu kami untuk memilih buah durian yang isinya bagus. Berbeda dengan malam sebelumnya (lapaknya beda), dimana kami hanya dibiarkan begitu saja untuk memilih buah durian (padahal yang beli hanya kami saja). Belum lagi kami harus membuka sendiri, menggunakan pisau iris bawang yang ketika ditusukkan malah menimbulkan rasa takut. Ia, takutnya jika pisaunya patah malah kami yang harus disuruh ganti.

"Wah, ini ada kepala botak didalamnye dek". Kata pedagangnya ketika saya menunjukkan sebuah durian.

"Maksudnye tuyul bang?" Tanya saya dengan polos. Dalam hati saya bergumam, seru juga bisa melihat tuyul didalam buah durian. Apalagi jika dibawa pulang, bisa disuruh untuk mencari uang yang banyak. Hehe.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, penjual duriannya langsung tertawa. Ia lantas menunjukkan sebuah lubang dikulit durian yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Dan kepala botak yang dimaksud adalah ulat yang berada didalamnya. Ulat tersebut memiliki tubuh yang cukup besar dengan kepala berwarna kecoklatan.

Pedagangnya lagi belah duren dimalam hari
Untuk pertama, kami hanya mencoba lima buah durian dulu. Setelah dibuka oleh pedagangnya, kami pun  membawa buah tersebut didekat sebuah ruko dengan cahaya lampu yang remang-remang. Layaknya anak kecil, kami pun berjongkok dan mengelilingi buah durian tersebut.

Tanpa menunggu lama, kami pun mulai mencicipi buah yang aduhai tersebut. Aromanya yang harum dan rasanya yang manis legit membuat penggemarnya akan selalu ketagihan. Tapi saya heran, kenapa masih saja ada orang yang membencinya. Apakah karena harganya yang murah dan boleh dibuka oleh siapa saja sehingga mereka memandangnya sebelah mata? Ah sudahlah, namanya juga kehidupan. Selalu ada dua sisi. Yang pastinya, berburu si manis saat tengah malam sungguh  sangat menyerukan.

Merasa kurang puas dengan yang tadi, kami pun akhirnya menambah lagi. Malahan kali ini kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Sungguh baiknya engkau nak, semoga Allah melipah rezeki padamu dan kami semua.

Durian yang kami rasa tak semuanya terasa manis. Kadang-kadang ada yang rasanya sedikit pahit. Tapi itu bukan karena menggunakan pemanis buatan, melainkan jenis duriannya yang beda. Hehe.

Hal yang saya suka dengan durian yang berukuran kecil adalah karena sering menemukan kucing tidur (tadi tuyul, sekarang kucing tidur). Namun bukan bearti kucing benaran, melainkan adalah dimana pada sisi durian tersebut hanya terdapat satu biji durian. Karena bentuknya seperti kucing yang sedang tidur makanya dinamakan demikian. Kucing tidur ini selalu menjadi rebutan, selain ukurannya yang lebih besar juga ada rasa kebanggan tersendiri.

Inilah Dia Kucnig Tidurnya

Karena masih kurang puas, big boss kami pun menambah lagi sebanyak lima buah. Dan lagi-lagi kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Jadi total durian yang dibuka saat itu berjumlah 17 buah. Saat itulah kami baru menyadari, ternyata kami hanyalah nafsu semata. Semuanya karena khilaf, kami tidak mampu untuk menghabiskannya smua.

Kami pun pulang dalam keadaan kenyang dan mabuk kepayang.