Sunday, May 12, 2019

6 Kue Tradisional Kota Pontianak yang Direkomendasikan Untuk Berbuka Puasa

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh umat Islam. Pada bulan ini umat Islam diseluruh dunia berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadahnya. Baik itu dengan meningkatkan kualitas sholatnya, membaca Al-Quran atau memperbanyak sedekah.

Nah, ketika masuk bulan ramadhan tentunya selalu diidentik dengan hadirnya pasar juadah yang menjual beragam jenis kue. Baik itu kue yang tradisional maupun yang kebarat-baratan.

Berhubung sekarang dalam suasana ramadhan, maka dari itu penulis akan merekomendasikan 6 makanan tradisional Kota Pontianak yang sangat cocok untuk berbuka puasa. Dan pastinya kue berikut ini tidak akan lekang oleh waktu, meskipun semakin banyak kue dari luar negeri yang masuk.

1. Bingke


Sumber: Nakarasida.com


Yang pertama adalah kue bingke. Jangan ngaku orang Pontianak asli kalo belom pernah makan kue bingke. Kue tradisional Pontianak yang satu ini memiliki bentuk seperti bunga dengan cita rasa yang manis dan gurih. Tapi jangan pula langsung ngebayangkan Bunga Citra Lestari ie.

Selain itu, tekstur kue bingke juga sangat lembut sehingga sangat cocok sebagai sajian disaat berbuka puasa. Saking terkenalnya, kue yang nikmat satu ini menjadi sebuah produk oleh-oleh khas Kalbar yang sangat digemari.

Kue bingke memiliki berbagai varian rasa. Seperti bingke original, bingke berendam, bingke keju, bingke kentang, bingke ubi rambat, bingke coklat, bingke jagung, bingke asin dan masih banyak lagi kreasi rasa baru yang lainnya. Tinggal dipileh yak yang mane cocok dengan lior kawan-kawan.

Baca juga: Tradisi Ngantar-Ngantar di Bulan Ramadhan

2. Jorong-Jorong


Sumber: Pengkangpontianak.blogspot.co.id

Kue khas Pontianak yang satu ini memiliki bentuk yang unik dan lucu, yakni menyerupai sampan atau perahu (Tapi jangan pulak nak cobe-cobe simpan diatas aek, pasti langsung tenggelam lah die). 

Meskipun kue jorong-jorong terlihat sedikit aneh, namun kue yang satu ini memiliki aroma yang wangi dan rasa yang nikmat. Aroma wangi tersebut berasal dari daun pandan yang digunakan sebagai wadah dalam pembuatan kue.

Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis nikmat, membuat kue yang satu ini layak sebagai menu berbuka puasa. Sekali coba, pasti anda kepingin lagi

3. Putu Mayang


Sumber: Eresep.com

Bukan, bukan...! Ini bukan mie goreng rasa baru, dengan taburan kelapa parut diatasnya. Tapi ini kue tradisional punye kite lah, Pontianak.

Untuk masyarakat Pontianak tentunya tidak asing lagi dengan kue yang satu ini. Memiliki bentuk yang seperti mie dan tekstur yang sedikit kenyal. Serta ada topping-nya dari keju asli Pontianak (parotan kelapa')

Rasa manis dari gula kelapa dan gurihnya parutan kelapa membuat kue yang satu ini benar-benar terasa nikmat. Apalagi saat mencicipinya ditemani segelas kopi atau teh hangat. Pastinya mantul, mantap betul.

Tapi saye rase jaranglah orang Pontianak buka puase dengan aek hangat, kalo aek es baru ie. Kecuali kalo pas musem ujan.

Baca Juga: Makan Tambol, Acara Syukuran Masyarakat Kabupaten Mempawah

4. Madu Kandis



Kalo udah masok bulan puase, pasti banyak bececeran kue madu kandes di pasar juadah. Kue yang jike dihari-hari biase agak susah nak carinye.

Kue tradisional madu kandis sangat mudah dijumpai ketika bulan Ramadahan. Kue yang satu ini jika sekilas memang tampak seperti kue lapis-lapis pada umumnya. Namun sebenarnya kedua kue tersebut berbeda.

Meskipun namanya 'madu kandis', namun bukan berarti komposisinya menggunakan madu. Tetapi karena rasanya yang manislah membuat penamaannya demikian.

Kue madu kandis kemiliki dua lapisan. Dimana lapisan bagian bawah berupa adonanan dari tepung kacang hijau. Sedangkan bagian atas yang teksturnya sangat lembut berupa adonan dari tepung terigu, gula dan telur.

Rasa manis yang legit bercampur dengan rasa khas kacang hijau membuat kue yang satu ini sangat direkomendasikan untuk berbuka puasa.

5. Kelepon

Sumber: Liputan6.com

Semua orang pastinya tau kue yang satu ini. Tidak hanya di Kota Pontianak, ditempat-tempat yang lain juga memilikinya.

Kue kelepon memiliki bentuk yang bulat, mirip seperti bola pimpong. Didalamnya terdapat gula merah yang akan lumer ketika digigit. Diluarnya ada parutan kelapa yang membuat rasa kue terass gurih. Kue ini akan semakin nikmat ketika disajikan bersama teh atau kopi hangat.

Baca Juga: Festival Musik Kelontong, Budaya Mempawah di Bulan Ramadhan

6. Tumpor



Tidak hanya dengan rasa yang manis, Kota Pontianak juga memiliki kue dengan cita rasa yang asin. Dan pastinya juga cocok untuk menu berbuka puasa.

Masyarakat Pontianak menyebut kue yang satu ini dengan nama 'tumpor'. Kadang ada juga yang menyebutnya kue 'lumpor' dikarenakan saus kacangnya yang menyerupai lumpur.

Kue tumpor berbahan dasar dari tepung beras. Diatasnya ada lumuran saus kacang yang telah diracik dengan berbagai rempah pilihan. Tidak lupa juga ada taburan udang ebi dan daun seledri yang membuat rasanya semakin nikmat.

Itulah 6 rekomendasi kue tradisional Kota Pontianak untuk berbuka puasa. Tinggal dipileh yak, mane yang sesuai dengan selere kawan-kawan. Selamat menunaikan ibadah puasa...

Baca juga: 30 Macam Kue Tradisional Kota Pontianak, Manakah Favoritmu?

Saturday, May 4, 2019

Melihat Sungai Pinyuh Dari Atas Puncak Bukit Seliung


Ketika mengunjungi suatu daerah, rasanya kurang lengkap jika tidak sekalian mengunjungi tempat wisatanya. Ibarat kata pepatah 'sekali dayung, dua tiga pulau yang terlampau' atau 'menyelam sambil meminum air'. Lumayan juga kan, menambah daftar destinasi wisata yang telah dikunjungi. Meskipun bukan ke Raja Ampat, Pulau Komodo atau tempat wisata lainnya yang sudah terkenal.

Perjalanan ini bermula dari sebuah undangan pernikahan senior yang berada di Sui Pinyuh. Sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Mempawah. Saat itu salah satu teman mengusulkan agar sekalian saja mengunjungi tempat wisata yang ada disini. Tanpa pikir panjang, ajakan tersebut tentu saja saya iakan. Lagianpun sangat rugi jika datang jauh-jauh namun tidak sekalian mampir ke tempat wisatanya.

Ada tiga tempat yang direkomendasikan untuk didatangi pada hari itu juga. Yang pertama adalah Klenteng Kong Khew Pak Kung yang berada di muara sungai. Ceritanya bisa cek disini. Yang kedua adalah tangga seribu yang berada di Bukit Seliung. Dan yang terakhir adalah tempat peternakan lebah kelulut.

Namun penulis tidak akan menceritakan semua tempat tersebut. Pada artikel ini hanya menceritakan bagaimana keseruan mendaki di bukit Seliung. Sebuah destinasi wisata Sui Pinyuh yang saat ini mulai menjadi perhatian semenjak dinas pariwisata Kabupaten Mempawah bertandang kesana. 

Dengan bantuan google map, kamipun menuju ke tempat tersebut. Meskipun dari pusat Sui Pinyuh bukit tersebut jelas kelihatan, namun tentunya kami tidak tahu dimana posisi tepatnya Tangga Seribu berada. Apalagi di kaki bukit tersebut banyak berdiri bangunan dan rumah penduduk yang membuat kami sedikit kesulitan melihatnya. Alhasil, kami sempat tersesat dan beberapa kali keluar masuk gang. Tapi beruntunglah karena ada seorang ibu-ibu yang menujukkan kami lokasinya.

Untuk sampai ke lokasi Tangga Seribu Bukit Seliung ternyata tidak terlalu susah. Hanya saja saat itu kami benar-benar tidak tahu lokasinya. Jika anda datang dari arah pusat Sui Pinyuh, maka anda hanya mesti menyusuri Jalan Sungai Pinyuh yang menuju Kecamatan Anjongan. Dari sini anda sudah bisa melihat Bukit Seliung yang ada didepan anda.

Ketika sampai disebuah tikungan, maka hal yang harus anda lakukan adalah menyeberangi jalan (posisi jalannya lurus dan masuk ke jalan sekunder). Nama jalan tersebut adalah Jalan Seliung Dalam. Kurang lebih 400 meter maka anda akan tiba ditempat tersebut (mesti masuk kejalan kecil lagi yang ada disebelah kiri).

Tidak ada pintu gerbang atau ucapan selamat datang ketika kami tiba di kaki Bukit Seliung. Yang terlihat hanyalah pohon lebat yang menghijau hingga kepuncak bukit.  Disisi sebelah kiri ada sebuah pondok yang cukup besar. Disitu terlihat banyak bapak-bapak yang sedang duduk berkumpul sambil tertawa dan bercerita sesuatu. Dan yang tidak kalah penting didepan kami terlihat sebuah tangga berwarna kuning yang menjulang dan hilang diantara lebatnya pepohonan.

Oh iya, selain dipanggil Bukit Seliung, bukit ini juga sering disebut Bukit Wangkang.


Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menuju tangga tersebut dan melakukan pendakian. Untuk keamanan pengunjung, tangga yang dicor dari semen ini juga dilengkapi dengan pagangan dari besi. Pegangan tersebut dicat warna kuning sehingga terlihat menonjol diantara warna hijau pepohonan.

Pendakian pun dimulai. Karena penasaran dengan jumlah anak tangganya, kedua teman saya pun mencoba untuk menghitungnya. Apakah jumlahnya sesuai dengan penyebutan namanya? Dan ternyata...

Semakin keatas, suara nyanyian jangkrik semakin jelas terdengar. Kadang-kadang juga terdengar kicauan burung, yang saling  adu suara (ini datangnya saat siang, mungkin kalau datang disaat pagi hari suara burungnya lebih banyak). Selain itu, kami juga menjumpai pengunjung lainnya yang sedang turun maupun yang sedang bersantai dianak tangga.

Disisi kanan tangga juga terdapat beberapa jalan setapak. Jalan tersebut mengarah ketempat pemakaman etnis Tionghoa. Jumlahnya tidak banyak, hanya beberapa saja. Makam tersebut terlihat jelas dari anak tangga. Kalau dilihat-lihat, makam tersebut sepertinya sudah ada sejak lama.

Meskipun hanya sekedar mendaki anak tangga, ternyata hal tersebut  juga sulit dilakukan. Apalagi sekelas kami yang jarang melakukan pendakian. Disetiap tangga kelipatan seratus kami selalu berhenti, selain karena merasa lelah tetapi juga karena agar perhitungan anak tangga lebih mudah.

Disekitar tangga yang ke dua ratus, terdapat sebuah klenteng kecil berwarna merah. Seperti klenteng yang lainnya, disini juga tersedia buah-buahan yang ditinggalkan pengunjung setelah beribadah. Untuk anda yang ingin datang kesini diharapkan untuk membawa minuman atau makanan. Takutnya jika kehausan atau kelaparan, malah khilaf mengambil buah yang ada di klenteng. Hehe. Tapi jangan lupa juga untuk membawa turun lagi sampah makanannya.

Kami tiba dianak tangga terakhir. Ternyata jumlahnya tidak sama dengan nama penyebutannya, Tangga Seribu. Total jumlah anak tangganya hanya sebanyak 288 (kalau salah tolong dikoreksi ie). Selain itu, tangga tersebut juga tidak sampai di puncaknya. Kurang lebih hanya 1/3-nya, selanjutnya hanya berupa jalanan tanah.

Kurang lebih 25 menit, akhirnya tibalah kami diatas puncak. Diatas puncak ternyata memiliki dataran yang cukup luas dan pastinya cocok untuk tempat camping. 

Perjalanan dilanjutkan menuju arah barat, hingga tiba di sebuah batu besar dengan kelenteng kecil diatasnya. Batu ini terletak ditepi jurang, yang jika kita berdiri diatasnya akan terihat bagian bawah.

Dan benar saja, keindahan alam di pusat Sui Pinyuh terlihat dari atas ketinggian Bukit Seliung. Jejeran bangunan, hijaunya pepohonan dan birunya lautan dikejauhan bersatu padu menyajikan pemandangan yang elok. Ternyata lelah mendaki tadi langsung terbayar.


Namun saya sempat terenyuh ketika dari kejauhan terlihat kepulan asap yang meninggi. Bukan! Bukan kebakaran rumah atau rumah makan yang sedang membakar ikan. Tapi itu adalah lahan yang terbakar. Semakin lama, area yang terbakar semakin melebar dengan tanda kepulan asap yang semakin melebar pula. Dari jaraknya saya rasa lokasi kejadian itu berada di Kecamatan Anjongan. Semoga saja kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Setelah puas mengambil gambar dengan view pusat Sui Pinyuh, segitiga emasnya Kabupaten Mempawah, kami pun melanjutkan kembali untuk mengeksplor lagi bagian bawah. Disini kami kembali menemukan dua klenteng kecil dengan posisi yang berbeda. Yang satunya berada diatas batu dan yang satunya lagi berada diantara himpitan batu. 


Itu hanya baru sebagian Bukit Seliung yang kami eksplor. Masih banyak lagi sisi Bukit Seliung yang belum kami temukan. Salah satunya adalah batu besar dengan lukisan. Mungkin lain waktu bisa kesini lagi.

Tuesday, March 26, 2019

Wisata Klenteng Kong Khew Pak Kung


Salah satu tempat menarik yang ada di Kabupaten Mempawah adalah Sui pinyuh. Bagaimana tidak? Daerah ini dihuni oleh beragam etnis bangsa yang menjadikannya kaya akan budaya dan adat istiadat. Setidaknya ada empat etnis besar yang mendiaminya, seperti Melayu, Tionghoa, Dayak dan Madura. 

Namun perbedaan ini bukanlah suatu ancaman atau masalah, melainkan sebuah energi yang menjadikan Sui Pinyuh semakin maju dan berkembang. Perdagangan dan perputaran uang pun semakin besar.  Tidak heran jika banyak yang menjulukinya sebagai segitiga ekonomi Kabupaten Mempawah.

Tidak hanya sebagai pusat ekonomi, Sungai Pinyuh juga memiliki destinasi wisata yang menarik untuk para pengunjung datangi. Salah satunya adalah wisata religi Kong Khew Pak Kung. Sebuah klenteng tempat beribadah bagi umat Konghuchu.

Akses menuju Klenteng Kong Khew Pak Kung tentunya tidak sulit. Tidak perlu mendaki gunung apalagi harus menyeberangi lautan. Jika anda dari Kota pontianak, maka jarak yang ditempuh 57 km atau waktu tempuh kurang lebih 1 jam 28 menit. 

Lokasi Klenteng Kong Khew Pak Kung berada sebelum pusat pasar Sui Pinyuh, tepatnya di sekitar Jalan Ahmad Yani (arah dari Kota Pontianak). Untuk memudahkan  para pengunjung, dipinggiran jalan sebelah kiri ada sebuah plang atau papan nama berwarna kuning. Setelah sampai disini, maka kita akan memasuki jalan sekunder sepanjang 1,5 km.

Berada di muara sungai, menjadikan klenteng yang satu ini sangat menarik untuk dikunjungi. Dikelilingi pohon mangrove yang lebat seolah-olah tempat ini berada ditengah hutan. Namun disisi lain, lautan lepas juga menjadi komposisi pemandangan disekitarnya.

Pengunjung yang datang kesini tidak hanya untuk beribadah, melainkan ada juga yang hanya sekedar bersantai-santai. Tidak hanya dari umat Konghucu saja, namun dari umat lain juga ada. Mereka datang kesini untuk melepaskan penat, duduk dibawah pohon sambil menikmati angin sepoi-sepoi laut.

Tidak hanya itu, lalu lalang kapal nelayan juga menjadi pemandangan yang menarik ketika berada disini. Untuk menyaksikannya, sebaiknya datang diatas jam 12 siang. Karena pada saat itulah nelayan pulang dari melaut.

Bagi anda yang hobi memancing, lokasi ini juga cocok untuk melakukan hal tersebut. Anda pun tak perlu khawatir jika harus berjemur atau berdiri terlalu lama, karena dipinggiran sungainya ada pohon-pohon besar yang juga dilengkapi kursi santai.

Bagaimana? Tertarik untuk datang di Klenteng Kong Khew Pak Kung Sungai Pinyuh?

O iya, disini tidak ada warung. Jadi harap membawa minuman dan snack sendiri. Dan jangan lupa kebersihannya harus tetap dijaga.

Tuesday, February 26, 2019

Asal Mula Nama 9 Kota di Pulau Kalimantan


Setiap tempat atau kota tentunya memiliki cerita masing-masing. Baik itu mengenai asal mula pemberian namanya atau mengenai cerita rakyatnya yang melegenda. Cerita tersebut dituturkan dari generasi ke genarasi agar tidak dilupakan.

Nah, kali ini penulis akan berbagi informasi mengenai asal mula pemberian nama terhadap 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan. Sebelum lebih lanjut membahas hal tersebut, ada lebih baiknya kita mengenal dulu seperti apa Pulau Kalimantan itu.

Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang dimiliki oleh tiga negara. Yaitu Indonesia dengan luas wilayahnya mencapai 73%, Malaysia 26% dan Brunei Darussalam 1%. Pulau Kalimantan dihuni oleh berbagai suku, seperti Dayak, Melayu, Banjar, Kutai, Paser, Berau, Tidung dan suku lainnya. Selain dikenal sebagai Pulau Kalimantan, pulau yang satu ini juga sering disebut sebagai Pulau Borneo.

Sedangkan penamaan pulau Kalimantan tentunya tidak terlepas dari cerita masa lalunya. Dari beberapa tulisan menyebutkan, bahwa nama Kalimantan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu 'kalamanthana' yang berarti pulau yang udaranya panas dan membakar. Hal ini tentu saja sesuai dengan kondisi pulaunya yang dilalui oleh garis khatulistiwa.

Ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Kalimantan berasal dari salah satu nama rumpun Dayak, yaitu Dayak Klemantan (Dayak Darat). Rumpun Dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia.

Selain itu, penyebutan Kalimantan juga diyakini berawal dari nama buah yang banyak tumbuh di pulau ini, yaitu buah klemantan. Buah yang mirip buah mangga ini banyak ditemukan didaerah Ketapang, Kalimantan Barat.

Inilah asal mula penamaan 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan.

1. Kota Tarakan

Kota pertama yang akan kita bahas adalah sebuah kota yang berada disisi utara Pulau Kalimantan. Apalagi kalau bukan Kota Tarakan yang sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Utara. Kota ini juga dikenal sebagai bumi Paguntaka dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera).

Menurut cerita, Tarakan berasal dari bahasa Tidung yaitu 'tarak' yang berarti bertemu dan 'ngakan' yang berarti makan. Dimana daerah  ini dulunya merupakan tempat persinggahan bagi nelayan untuk beristirahat makan, pertemuan sekaligus menjual hasil tangkapannya (saat itu yang berlaku adalah sistem barter).

2. Kota Samarinda

Kota Samarinda merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Timur. Kota yang dibelah oleh Sungai Mahakam ini memiliki semboyan sebagai kota TEPIAN (Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman).

Ada beberapa versi mengenai asal mula penamaan Samarinda. Versi yang pertama berdasarkan persamaan tinggi rumah rakit atau apung dari masyarakat Bugis Wajo yang ada di Samarinda Seberang. Karena tidak ada yang lebih tinggi antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya, maka dari itulah daerah tersebut dinamakan 'sama rendah'. Lambat laun, penyebutannya berubah menjadi Samarinda.

Versi yang kedua adalah berdasarkan dari daerah tepian Samarinda yang ketinggiannya kurang lebih sama dengan Sungai Mahakam. Ketika air pasang, maka sebagian daerah Samarinda tersebut akan tergenang air. Karena itulah, daerah dengan dataran rendah ini dinamakan Samarinda.

3. Kota Balikpapan

Balikpapan merupakan kota terbesar kedua di provinsi Kalimantan Timur. Kota ini juga dikenal sebagai Kota Minyak dan bumi Manuntung. Kota Balikpapan memiliki semboyan Beriman.

Asal mula penamaan Balikpapan bermula dari adanya permintaan papan dari Kerajaan Kutai. Namun dari 1.000 papan yang diberikan, ternyata dikembalikan lagi sebanyak 10 buah. Oleh karena itulah, daerah tempat pengembalian papan ini disebut Balikpapan.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Balikpapan tidak terlepas dari kisah Suku Paser. Dimana saat itu ada seorang kakek yang bernama Kayun Kuleng dan nenek  yang bernama Papan Ayun. Oleh keturunannya, sepanjang daerah teluk Balikpapan dinamakan Kuleng-Papan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya. Dalam bahasa Paser, kuleng memiliki arti balik. Karena itulah, lambat laun daerah tersebut dipanggil Balikpapan.

4. Kota Bontang

Masih berada di daerah Kalimantan Timur. Kali ini adalah Kota Bontang yang berada 120 kilometer dari Kota Samarinda. Kota  Bontang memiliki semboyan sebagai Kota Taman (Tertib, Aman, Mandiri, dan Nyaman).

Menurut cerita, kata Bontang merupakan akronim dari kata 'bond' yang berarti perkumpulan (bahasa Belanda) serta kata 'pendatang'. Dimana saat itu, daerah ini banyak dikunjungi oleh para pendatang dari berbagai suku bangsa. Mereka kemudian menetap dan membaur dengan penduduk asli setempat.

Salah satu pendatang tersebut adalah Aji Pao yang merupakan kerabat Kerajaan Kutai. Ia juga lah orang yang pertama kalinya menyebut daerah ini dengan nama Bontang.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Bontang  dikarenakan masyarakatnya yang dulu sebelum berangkat berkerja selalu mengambil belanjaan dulu diwarung (nge-bon). Setelah mendapatkan hasil  dari pekerjaannya barulah mereka membayar. Kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah para nelayan yang pergi melaut.

Namun tidak sedikit pula dari mereka yang gagal mendapatkan penghasilan, dan akhirnya ambilan barang tersebut dimasukkan kedalam daftar hutang. Karena dari kata 'nge-bon' dan 'hutang' itulah, akhirnya diakronimkan menjadi Bontang.

5. Kota Banjarmasin

Banjarmasin merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai ini memiliki semboyan Kayuh Baimbai yang berarti kayuh bersama-sama. Sesuai namanya, penduduk mayoritas dari Kota Banjarmasin adalah Suku Banjar.

Penamaan Banjarmasin tidak terlepas dari cerita Kerajaan Banjar. Sebelumnya, daerah ini bernama Banjarmasih. Penamaan tersebut diambil dari nama seorang patih pendiri Kerajaan Banjar, yaitu Patih Masih. Dari cerita tersebutlah, cikal bakal penamaan Kota Banjarmasin.

6. Kota Banjarbaru

Sama halnya Banjarmasin, Kota Banjarbaru juga terletak di provinsi Kalimantan Selatan. Sebelumnya status kota ini adalah kota administratif, hingga pada tahun 1999 barulah statusnya berubah menjadi kotamadya. Kota Banjarbaru memiliki semboyan sebagai Kota Idaman.

Asal mula nama Banjarbaru tentunya tidak terlepas dari awal mula terbentuknya kota tersebut. Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar. Karena itulah, kota ini dinamakan Kota Banjarbaru tanpa menghilangkan identitas kabupaten induknya.

7. Kota Palangka Raya

Kota Palangka Raya merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Tengah. Kota yang dicanangkan kedepannya menjadi ibu kota Indonesia ini memiliki semboyan Isen Mulang yang berarti pantang mundur.

Menurut cerita, asal mula nama Palangka Raya berasal dari kepercayaan masyarakat Dayak, bahwa nenek moyang mereka diturunkan dengan menggunakan wahana Palangka Bulau. Dimana palangka berarti tempat yang suci dan bulau yang berarti logam mulia atau emas. Sedangkan raya memiliki arti besar. Dengan demikian, Kota Palangka Raya memiliki makna sebagai kota yang suci dan besar.

8. Kota Pontianak

Selanjutnya adalah Kota Pontianak yang merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini juga dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa. Kota Pontianak memiliki semboyan sebagai Kota BERSINAR (Bersih, Sehat, Indah, Aman dan Ramah).

Dulu, daerah ini hanyalah merupakan hutan belantara. Hingga suatu saat, tibalah Syarif Abdurrahman Alqadrie beserta rombongannya disebuah persimpangan tiga sungai (Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas kecil, dan Sungai Landak) yang merupakan cikal bakal daerah berdirinya Kota Pontianak.

Melihat lokasinya yang strategis, timbullah niat Syarif Abdurrahman Alqadrie untuk menjadikan tempat tersebut sebagai pemukiman. Namun ketika ingin menghampirinya, Ia beserta rombongan malah diganggu oleh hantu kuntilanak. Hantu-hantu kuntilanak tersebut terdengar tertawa bahkan menangis diatas pohon-pohon.

Suyarif Abdurrahman pun memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriaam. Mendengar tembakan meriam tersebut, membuat hantu kuntilanak yang ada diatas pohon terdiam dan langsung menghilang. Oleh karena itulah, asal mula penamaan Kota Pontianak berawal dari kisah tersebut, pohon dan kuntilanak.

Selain itu, ada juga yang menyebutkan bahwa kata Pontianak berasal dari pohon punti. Sebuah pohon yang tinggi, yang dulunya tumbuh didaerah tersebut.

9. Kota Singkawang

Kota Singkawang adalah sebuah kota yang terletak disebelah utara Provinsi Kalimantan Barat. Kota ini berjarak 145 kilometer dari Kota Pontianak. Kota Singkawang dijuluki sebagai Kota Amoi dan Kota Seribu Kelenteng. Selain itu, daerah ini juga dijuluki sebagai Hongkong-nya Borneo.

Dulunya, daerah ini hanyalah sebuah desa dibawah kekuasaan Kerajaan Sambas. Lambat laun, daerah ini semakin ramai disinggahi para pedagang dan penambang yang berasal dari negeri cina. Oleh etnis Tionghoa, tempat ini dipanggil San Kew Jong. Pemberian nama tersebut dikarenakan geografis Kota Singkawang yang berbatasan lansgsung dengan Laut Natuna, serta memiliki perbukitan dan sungai.

Selain itu, nama Kota Singkawang juga diyakini berasal dari tanaman tengkawang. Sejenis buah yang banyak terdapat dipulau Kalimantan.

Kurang lebih begitulah asal mula nama 9 kota yang ada di Pulau Kalimantan. Menjadi kota yang maju itu harus, tetapi janganlah pula sampai lupa pada kearifan lokal dan sejarahnya.


Baca juga:
7 Pulau di Kalbar yang Menarik Untuk Dikunjungi
Makan Saprahan Akbar di Kota Pontianak

Thursday, February 21, 2019

Menengok Rumah Adat Melayu Mempawah Yang Baru


Saat itu matahari sudah meninggi, menyinari Bumi Bestari. Para lelaki terlihat rapi dengan menggunakan pakaian warna putih menuju rumah Illahi. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali lewat mobil yang melaju kencang. Hari itu adalah hari jum'at dan tidak lama lagi akan berkumandang suara adzan.

Tak perlu tergesa-gesa, motor yang kami kendarai tetap bergerak dengan kecepatan konstan. Bagi kami keselamatan adalah nomor utama, apalagi jangan sampai mencelakakan orang lain. Disaat akan menyeberangi jalur, mata terlirik dengan sebuah bangunan yang bernuansa kuning. Warnanya yang mencolok membuat semua orang yang lewat akan tertuju kepadanya. Melihat bangunan tersebut, saya langsung teringat dengan postingan foto oleh salah satu teman yang ada di facebook. Bangunan yang mewah tersebut adalah rumah adat Melayu Mempawah yang baru saja dibangun.

***

Disaat pulang menuju Kota Pontianak, kami menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut. Kebetulan saat itu akses untuk masuk kehalamannya terbuka (tidak diportal), yang membuat kami yakin tempat ini boleh disinggahi. Meskipun sebelumnya ada anggapan bahwa tempat ini tidak boleh disinggahi karena belum diresmikan. Jika kami telah melakukan kesalahan mohonlah dimaafkan.

Sebagai pemuda Kabupaten Mempawah, tentunya saya sangat merasa bangga akan kehadiran bangunan ini. Bagaimana tidak, setahu saya ini merupakan pertama kalinya daerah kami memiliki rumah adat Melayu secara resmi (jika salah tolong diberi tau ie). Meskipun sejak lama telah ada Istana Amantubillah dengan nuansa khas Melayu.

Setelah memarkirkan motor, kami pun langsung mendekati bangunan tersebut. Karena tempatnya masih baru, kami pun tidak ingin menghapus jejak ketika mampir disini. Tanpa disuruh lagi, sebuah alat bantu yang bernama android dikeluarkan untuk mengambil gambar yang terbaik.

Untuk keseluruhan, pembangunan rumah adat Melayu Mempawah ini memang belum rampung. Hanya bangunan rumahnya saja yang menurut saya sudah selesai dikerjakan. Selebihnya seperti jalan masuk, pagar dan plang nama belum dibuat. Selain itu, halamannya juga perlu ditata lagi agar terlihat lebih menarik. Baik itu dengan penanaman rumput, pohon maupun taman.

Meskipun belum selesai, namun keindahan rumah adat Melayu Mempawah ini sudah bisa dirasakan. Perpaduan antara warna kuning dan coklat pada bangunan memberikan kesan estetika yang elegan. Penggunaan warna kuning ini tentu saja tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat Melayu bahwa warna tersebut melambangkan kesucian.

Rumah Adat Melayu Mempawah ini memadukan antara konsep modern dan tradisional. Dikatakan modern karena menggunakan beton dan lantai dari keramik. Sedangkan yang saya ketahui, rumah Melayu itu diidentik dengan menggunakan materil dari kayu, baik itu tiangnya, tangganya, lantainya dan lain-lainnya. Namun itu bukanlah masalah, yang terpenting adalah rumah ini masih menggunakan corak dan ciri khas Melayu.

Seperti rumah Melayu lainnya, Rumah Adat Melayu Mempawah juga berbentuk rumah panggung. Dimana bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang dengan ketinggian  yang mencapai satu meter lebih.


Sebelumnya saya juga tidak terlalu memperhatikan, ternyata disalah satu bagian bangunan memiliki bentuk yang sama dengan  bagian bangunan di Istana Amantubillah. Pada atap bagian bangunan depan (selasar) terlihat corak ragam hias yang sama. Diatas atap terdapat tonggak yang lurus dan ukiran kayu yang berupa motif pucuk tanaman dan gelombang. Dibawah atap (dibawah lisplang) juga terdapat tiga tiang gantung  dan ukiran kayu bermotif tanaman. Selain itu, dibagian depan selasar juga terdapat dua buah bintang segi delapan, yang bentuknya mirip roda kemudi kapal.

Dilansir dari situs Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Rumah Adat Melayu Mempawah rencana kedepannya akan dilengkapi dengan area wisata kuliner dan perpustakaan agama. Wah, keren juga nih perencanaannya! Apalagi mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Masjid Agung Alfalah, pastinya hal tersebut sangat mendukung dan dibutuhkan. Pengunjung yang mampir untuk menunaikan ibadah, bisa sekaligus untuk bersantap kuliner atau menambah wawasan.

Setelah puas berfoto dibagian depan, kami melanjutkan kembali untuk menyusuri bagian yang lainnya. Meskipun tidak bisa melihat bagian dalam, namun menjajal bagian depan sudah lebih dari cukup. Layaknya rumah Melayu lainnya, pinggiran tangga dan teras juga diberi pagar ukiran kayu.

Berikut beberapa foto yang kami dapatkan.





Kehadiran Rumah Adat Melayu Mempawah ini tentunya sangat didambakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah. Oleh karena itu, harapan penulis semoga  kedepannya bangunan ini bisa menjadi tempat silaturrahmi dan tumbuh berkembangnya budaya Melayu. Takkan hilang Melayu ditelan zaman.

Monday, February 18, 2019

Petik Jeruk Tebas Sepuasnya

Ketika berkunjung ke Kabupaten Sambas tentunya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Seperti mendatangi Pantai Temajuk yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, menikmati keindahan Danau Sebedang, atau mampir ke Tanjung Batu yang terkenal akan cerita hantu Obos-nya. Namun kali ini penulis tidak akan menceritakan ketiga tempat tersebut, melainkan sebuah pengalaman perdana memetik buah jeruk asli Tebas. Iya, jeruknya Kecamatan Tebas.

Berawal dari menghadiri undangan pernikahan teman di Dusun Melur, Desa Mekar Sekuntum, Kecamatan Tebas. Lucu kan nama desanya, seperti lirik dari sebuah lagu 'Gembala Cinta' yang dinyanyikan oleh Bang Ashraff. Sekuntum... bunga mekar... ditaman.  Hehe, nostalgia lagu dangdut tempo dulu jadinya.

"Nanti kite ke kebun jeruk ie". Ajak salah satu teman, dimana saat itu kami sedang bersantai diruang tamu.

"Benarlah ni?" Tanya saya dengan serius. "Emangnye siape yang ngajak?" Belum sempat dia menjawab pertanyaan pertama, pertanyaan kedua kembali saya lontarkan.

"Tak ade sih, cuma rencane". Dia menjawab dengan santai dan polosnya.

Mendengar ajakan kekebun jeruk benar-benar rasanya seperti tersentuh angin surga. Bagaimana tidak, berkunjung ke Sambas bagi saya adalah yang kesekian kalinya tetapi belum pernah mampir memetik buah jeruk. Buah yang menjadi primadonanya Sambas. Meskipun setelah keluar Kalbar, nama dagangnya berubah menjadi jeruk pontianak. Tebas yang punye jerok, Pontianak yang punye name.

Meskipun kurang yakin, namun saya berharap besar rencana tersebut bisa terlaksana. Dan Alhamdulillah, keinginan itu diaminkan oleh pemilik kebun yang tak lain adalah mempelai wanita dari acara pernikahan yang sedang kami hadiri. Karena hari itu adalah hari spesial bagi dia, rasanya kurang pantas juga pengantin baru langsung diajak kekebun. Apalagi dirumahnya masih banyak sanak saudara yang berkumpul. Pada awalnya kami  benar-benar merasa tidak enak, hingga pada akhirnya keenakan setelah sampai dikebun. Hehe.

Berbicara tentang jeruk tebas, tentunya semua pada tahu. Jeruk ini memiliki rasa yang manis dan banyak airnya. Oleh karena itulah, tidak heran jika banyak para pedagang jeruk di Pontianak yang memberikan label 'Jeruk Tebas' pada dagangannya.

Jeruk Tebas dikenal juga dengan sebutan Limau Tebas. Jeruk ini termasuk dalam jenis jeruk siam, dengan ciri khas kulitnya yang licin mengkilat.

Kami berangkat kekebun jeruk setelah waktu ashar. Saat itu juga kami sekalian pamit kepada keluarga mempelai untuk pulang ke Segedong. Kebetulan arah tempatnya sama, jadi sekalian saja biar bisa hemat waktu.

O iya, sebelumnya perkenalkan dulu. Nama pemilik kebunnya adalah Khairunnisa atau sering disapa dengan panggilan Icak. Meskipun ia bukan pemilik sahnya, namun sudah cukup mewakili hak orangtuanya. Dia orangnya baik hati, suka menabung dan tidak sombong. Hehe.

Sekarang statusnya tidak lagi lajang, pada tanggal 2 februari kemarin telah melangsungkan akad nikah dengan seorang pria bernama Sabirin (Iin). Ditulisan ini juga, sekali lagi saya ucapkan selamat, semoga menjadi keluarga yang samawa (sengaja disingkat, biar mirip-mirip anak gaul) dan lekas mendapatkan momongan. Amiinn...

Kembali ketopik utama. Kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai ditujuan. Barisan pohon jeruk dan hamparan sawah yang hijau menyambut kedatangan kami. Disisi jalan terdapat pohon kelapa hibrida dengan niurnya yang melambai-lambai. Di kejauhan, terlihat juga siluet bukit yang menambah komposisi pemandangan disekitar.

Baru saja memarkirkan motor, sebagian teman sudah berlarian masuk kedalam kebun. Termasuk juga saya yang tidak akan menyia-nyiakan waktu. Dipimpin sang pemilik kebun, kami langsung menyusuri jalan setapak dan masuk disela-sela pepohonan jeruk.

"Jeruknye udah dipanen kemaren. Jadi yang tinggal banyak yang ijau". Sahut Icak sang pemilik kebun.

Keadaan dilapangan memang tidak sesuai ekpektasi kami. Buah jeruk yang bergelantungan di atas pohon kebanyakan masih hijau. Jika beruntung, maka kami akan mendapatkan buah jeruk masak yang tersisa dari panen kemarin. Jika tidak, maka kami akan melanjutkan untuk memeriksa pohon yang berikutnya.

Ketika memetik buah jeruk ternyata tidak boleh boleh asal copot saja. Selain buah yang dipilih harus yang berwarna kekuningan, cara memetiknya juga harus diperhatikan. Untuk memetiknya yaitu dengan mematahkan pangkal buah jeruk kearah kanan terlebih dahulu, baru kemudian mematahkannya kembali kearah kiri (dimulai dari kanan atau kiri semuanya boleh). Hal tersebut dilakukan agar kulit yang berada di pangkal buah tidak robek. Oh...begitu toh.

Disaat berusaha mencari buah jeruk yang masak, terdengar suara teriakan dihujung kebun. Sontak hal tersebut membuat kami kaget dan bertanya-tanya. Saya mulai menerka mungkin yang berteriak butuh pertolongan karena terjadi sesuatu. Maklum, ini dikebun. Berbagai hal negatif bisa saja terjadi.

"Oi...disinik jeruknye banyak yang masak". Kali ini suara teriakan tersebut terdengar jelas.

Tanpa diperintahkan lagi, kami pun berlari menuju kesana. Tidak perduli lagi teman dibelakang minta untuk ditunggu.

Sesampainya disana, sudah terlihat tiga teman yang sedang memanen. Melihat buah jeruk yang banyak kekuningan benar-benar membuat hati ini bahagia. Bukannya lebay, tapi memang ini pertama kali bagi saya memetik buah jeruk.


Setelah sudah puas mengambil gambar, saya pun langsung memutuskan untuk memetik buah jeruk. Cara memilih dan memetik buah jeruk yang diajarkan pemilik kebun langsung dipraktekkan. Ternyata memang benar, jika kita tidak menggunakan cara diatas maka peluang kerusakan yang terjadi pada buah jeruk lebih besar. Pernah sekali saya mencoba langsung menariknya, alhasil kulit yang ada dipangkal buah menjadi sobek.

Kulitnya yang mulus dan warnanya yang hijau kekuningan benar-benar membuat saya tergoda untuk menikmatinya. Apalagi sebelumnya sempat berlarian yang membuat kerongkongan terasa kering. Selera semakin bertambah setelah melihat dalamnya yang berwarna oranye cerah. Dengan ucapan bismillah kupinang dia. Eh salah, maksudnya kunikmati dia.

Jeruk yang masak dipohon tentunya jangan ditanyakan lagi. Pastinya rasanya lebih manis dan segar. Apalagi buah jeruk yang dipetik asli punya Tebas. Berbeda jika beli di toko buah, peluang untuk mendapatkan rasa yang kecut masih bisa terjadi.

Tidak hanya padi dan jeruk yang ditanam disini. Disela-sela pohon jeruk juga ditanami sahang, salah satu rempah kebanggan Indonesia. Sekaligus daya tarik bagi bangsa Eropa untuk menjajah negeri kita saat tempo dulu.

Selain itu, kami juga diperkenalkan jeruk jenis lainnya. Menurut pemilik kebun namanya 'jeruk susu'. Wah, semuanya pasti sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya?

Tidak! Sedikitpun tidak ada rasa susunya. Yang pasti, rasanya sedikit berbeda denga jeruk siam (saya bingung bagaimana menjelaskan rasanya). Bentuknya juga berbeda, pada pangkal buah jeruk susu agak melonjong dan memiliki kulit yang kasar. Seperti ini gambarnya.



Ternyata keseruan memetik buah jeruk tidak berhenti disitu saja. Kami kembali diajak untuk mengambil jeruk dikebun yang kedua. Lokasinya berada diseberang jalan, ditengah-tengah hamparan sawah yang luas. Jika sebelumnya semuanya pada kegirangan untuk memetik jeruk, maka kali ini hanya beberapa orang saja yang berkenan untuk pergi kesana. Maklum, mungkin mereka sudah lelah.

Berbeda dengan kebun yang pertama, buah jeruk yang masak dikebun kedua ternyata lebih banyak. Selain itu, kebun disini juga berbatasan langsung dengan kebun jeruk milik tetangga. Jadi, misalkan masih kurang tinggal nyeberang saja kekebun sebelah. Hehehe. Tetapi kami tidak sehina itu, mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya.

Lagi serunya memetik buah jeruk, terlihat sang pemilik kebun berlari sambil berteriak histeris.  Saya pun langsung menghampirinya. Usut punya usut ternyata ada ular di atas pohon jeruk (saya menyebutnya ular lidi).

Ular ini sebenarnya tidak berbahaya, namun akan sangat berbahaya jika yang melihatnya langsung terkejut (apalagi yang menderita serangan jantung). Ngomong-ngomong, saya tertawa hebat ketika melihat pemilik kebunnya ketakutan. Hehe, senang diatas penderitaan orang lain.

Setelah puas memetik buah jeruk, kami pun lekas kembali ditempat parkiran motor. Senyum simpul mengiringi langkah kami, keluar dari kebun dengan menjinjing bungkusan jeruk. Belum lagi sesampainya diparkiran langsung disuguhkan kelapa muda. Sungguh petualangan yang menyerukan. Petik jeruk tebas sepuasnya.


Dan pada akhirnya, semua pada kebingungan kemana jeruk tersebut akan disimpan. Kendaraan yang kami gunakan sudah penuh dengan barang bawaan. Alhasil, jeruk tersebut harus dipangku oleh yang berboncengan dibelakang.

Selamat menikmati perjalanan bersama himpitan buah jeruk, Tebas-Segedong.

Wednesday, February 6, 2019

Wisata Ke Taman Cinta Pajintan


"Kita sekalian mampir ke Taman Cinta Pajintan, ya". Ajak seorang teman yang sedang saya boncengi.

Saat itu, saya dan kelima teman sedang melakukan perjalanan menuju ke Sambas, menghadiri sebuah acara pernikahan. Karena ajakan tersebut mendadak, saya pun menanyakan kepada teman yang lain apakah mereka setuju. Maklum, agenda tersebut tidak ada dalam perencanaan kami, apalagi perjalanan yang akan kami tempuh masih jauh.

Setelah berdiskusi singkat dipinggir jalan, akhirnya diperoleh keputusan bahwa kami akan mampir ketempat wisata tersebut. Meskipun tempat tujuan utama masih jauh. Dengan mengandalkan google map, kami pun langsung menuju kelokasi.

Untuk sampai disana ternyata tidak semulus yang kami bayangkan. Didalam perjalanan kami sempat kesasar di pusat kotanya. Meskipun sudah menggunakan alat bantu, namun tetap saja teman dibelakang salah menggunakannya. Tetapi itu bukan seutuhnya salah dia, melainkan juga salah saya yang tidak jeli dan tau seluk-beluk Kota Singkawang. Akhirnya, kami pun sedikit menjauh dari tujuan.

Disaat lagi bingung-bingungnya, hujan pun turun membasahi bumi seribu kelenteng. Tidak luput pula, lampion-lampion yang menghiasi jalanan juga ikut basah dan bergoyang-goyang ditiup angin. Kebetulan saat itu akan menjelang imlek, jadi setiap sudut Kota Singkawang dipenuhi oleh ornamen-ornamen yang bernuansa warna merah. Setidaknya, dua kali kami harus berhenti dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung.

Tidak sampai disitu saja, kami juga harus kejebak macet di Jalan Sudirman. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena kondisi jalan yang rusak, berlubang-lubang. Aneh juga masih bisa menemukan jalan yang begituan di Kota Singkawang. Apalagi jalur tersebut menghubungkan ketempat wisata.

Kurang lebih 20 menit dari pusat Kota Singkawang, akhirnya sampai juga di Taman Cinta Pajintan. Tempat wisata ini terletak di Jalan Pajintan, Singkawang Timur. Tulisan 'WATERBOOM' disisi kiri dan 'Taman Cinta' disisi kanan menyambut kedatangan kami. Selain itu, terdapat juga patung keberagaman etnis (Melayu, Dayak, Tionghoa) yang melambangkan keharmonisan. Ketika memasuki pintu gerbang, kami harus berhenti sebentar dulu untuk membayar biaya parkir sebesar Rp. 2.000.

Taman Cinta Pajintan atau nama lainnya Taman Cinta Waterboom Gunung Poteng saat ini menjadi salah tujuan wisata favorit yg ada di Singkawang. Tempat wisata ini mengusung konsep waterboom dan taman yang menjadikannya sangat menarik untuk dikunjungi.

Setelah memarkirkan kendaraan, tanpa menunggu lama lagi kami pun langsung menuju ke loket.  Untuk harga tiket dikenakan biaya sebesar Rp. 40.000. Harga tersebut berlaku untuk setiap harinya, baik weekday maupun weekend. Dengan tiket sekali bayar tersebut, kita sudah bisa menikmati semua wahana dan fasilitas yang ada didalamnya. Namun anda bisa mendapatkan diskon sebesar 50% apabila anda datang  diatas jam 17.00 WIB atau anda merupakan anggota TNI atau Polisi. Selain itu ada juga tiket masuk gratis untuk bayi dibawah umur 2 tahun, anak panti asuhan dan panti jompo. Baik juga ya pihak pengelolahnya.

Pepohonan yang hijau, warna-warni ornamen bunga dan danau yang cukup luas merupakan pandangan pertama ketika masuk didalamnya. Teman-teman yang masuk duluan sudah berjalan cepat menuju salah satu spot yang memang menarik. Disinilah, tugas kami sebagai fotograper bagi mereka dimulai. Hehe.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sebuah jalan disisi kiri, yang lebih mirip sebuah lorong. Dibawahnya, terhampar rumput sintetis yang berwarna hijau. Diatasnya juga bergantung warna-warni daun bunga sintetis. Perpaduan ornamen tersebut memang menjadikan spot ini sangat menarik dan sekilas nuansanya mirip di acara pernikahan.

Sesuai namanya, taman cinta memang banyak memberikan kesan yang indah. Baru saja masuk disini sudah berjumpa gadis cantik dan ia malah menyapa nama saya. Saya pun berdiri kakuh, berusaha mengingat siapakah gerangan tersebut. Wajahnya tentu saja tidak asing, namun saya betul-betul lupa namanya. Hingga pada akhirnya dia menyalami saya dan menyebutkan namanya. Saat itulah saya baru ingat, dia adalah junior saya waktu SMA dulu. Sudah lama kami tidak bertemu, namun disaat bertemu tidak lama.

Selain itu, tempat ini juga sepertinya jadi lokasi CLBK bagi teman saya. Kata dia sih mereka sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa. Hanya berteman saja. Namun kenyataannya, mereka berboncengan satu motor dan sering berfoto berduaan (meskipun malu-malu). Emangnya kami anak kecil apa, yang mudah saja dikadalin. Tapi semoga saja hubungan mereka masih bisa dilanjutkan hingga kejenjang pernikahan.

Dan yang tidak kalah penting adalah tempat ini mempererat tali persahabatan kami.


Setelah puas berfoto dan memanjakan teman dengan banyak jepretan, kami pun melanjutkan kembali perjalanan, menyusuri lorong tersebut. Dihujung lorong terdapat playground yang banyak terdapat anak-anak. Namun itu bukanlah tujuan, kami pun belok ke arah kanan menuju arah danau.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya tibalah kami ditepian danau. Ditengah danau terdapat sebuah gazebo yang berbentuk kuil. Dominasi warna merah dan kuning memberikan kesan ceria setiap pengunjung yang melihatnya. Di sebelah selatan danau tampak Gunung Poteng yang diselimuti kabut tipis. Maklum baru selesai hujan.

Ada banyak taman dan kursi santai yang disediakan di pinggiran danau. Salah satunya adalah taman dengan bentuk love. Selain itu, ada juga ikan hiu yang nyangkut dan dinosaurus yang satu-satunya masih bertahan hidup di Kota Singkawang. Hehe.





Belum puas menikmati keindahan alamnya, tiba-tiba awan hitam menyerang kami dengan peluru airnya. Seketika tawa dan kebahagian hilang, dibasuh oleh tembakan air tersebut. Kami pun berlari, menuju gazebo yang terdekat.

Tidak ada yang bisa kami lakukan saat itu, kecuali melihat tetesan air hujan dan kegembiraan anak kecil yang berada dikolam. Kebetulan gazebo kami persis berada di area water playground. Sebuah tempat yang menyediakan berbagai wahana, seperti seluncuran, rumah atau kastil buatan dan yang lainnya.

Meskipun Lagi Hujan Namun Mereka Tetap Menikmatinya

Melihat hujan yang tidak kunjung redah, saya pun mencoba untuk berjalan dibawah kanopi panjang yang ada dipinggiran kolam. Sama seperti tempat yang lainnya, diarea ini juga dihiasi oleh daun dan bunga-bunga sintetis. Beberapa orang dewasa juga terlihat berteduh dibawah sini.

"Kita mandi saja, yok". Ajak salah satu teman ketika saya balik ke gazebo.

Mendengar ajakan tersebut saya langsung tertawa. Yang benar saja mau mandi disini, tanpa ada persiapan apa pun. Seandainya ingin sekalian mandi disini kenapa tidak bilang dari awal, kan bisa beli celana bola dipedagang depan. Ajakan tersebut saya tolak dengan pertimbangan tidak ada celana basah.

"Kita sudah bayar mahal namun tidak menikmati fasilitas dan wahananya, kan rugi jadinya". Teman yang mengajak tadi kembali memberikan argumennya.

Salah satu teman mulai mengangguk, mengiyakan argumen barusan. Ini nih, kalau sudah berurusan dengan untung rugi, susah untuk dinego lagi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan kami liburan juga jarang, selain itu hari juga masih hujan, maka diputuskanlah akan mandi. Adapun syaratnya, semuanya harus ikut mandi (meskipun pada kenyataannya ada satu teman yang tidak menceburkan diri).

Berhubungan ada membawa celana jeans pendek, jadi itulah yang bisa digunakan. Saya pun berlari menerobos rintikan hujan, dan menceburkan diri didalam kolam. Saat itu juga lutut terasa sakit, karena harus terbentur dengan dasar kolam. Saya pun sedikit mengeluh, menahan rasa sakit akibat tidak hati-hati.

"Ayo turun, jangan ingkar janji". Teriak saya yang sudah duluan didalam kolam.

Bukannya menjawab ia, mereka malah mentertawakan saya. Awas saja kalau mereka tidak menepati janjinya. Tak jewer nanti telinganya. Tidak perlu waktu lama, mereka pun berlarian satu persatu, terjun dan membasahkan pakaian yang digunakannya.

Selamat datang dikolam renang anak-anak. Hihihi.

Water playground Taman Cinta Pajintan memiliki beberapa wahana yang bisa dinikmati. Seperti ember tumpah, kastil buatan dan seluncurun/perosotan (water slide). Untuk seluncurannya sendiri ada empat jenis. Yang pertama adalah seluncuran dengan jenis race (balap). Dimana seluncuran ini memiliki banyak jalur yang bisa digunakan para pengunjung untuk saling berlomba. Yang kedua adalah seluncuran dengan jenis family (keluarga). Dimana seluncuran ini memiliki ukuran lebar yang cukup besar untuk bermain keluarga. Disini pengunjung bisa berseluncur dengan menggunakan pelampung yang disediakan pihak pengelola. Yang ketiga adalah seluncuran dengan jenis tertutup atau lorong. Yang terakhir adalah seluncuran dengan jenis singgle atau satu jalur saja.


Karena ketinggian air disini kurang lebih hanya 60 cm saja, saya pun mesti berjalan dengan cara beringsut. Jangan tanyakan untuk berenang, karena sudah pasti tangan akan sering menyentuh dasar kolam. Kecuali yang berenang adalah anak kecil.

Melihat yang lainnya berseluncuran, membuat saya juga ingin melakukannya. Saya pun berjalan dengan susah payah menuju ke seluncuran dengan desain kepala naga tersebut. Sebenarnya sedikit malu karena dipandang tante-tante yang sedang menjaga anaknya. Tapi kenapa pula mesti malu, toh kita disini masuknya bayar. Atau mungkin tantenya.....sssttt! Ah sudahlah.

Untuk sampai ke puncak, para pengunjung harus menaiki anak tangga. Namun dikarenakan seluncurannya tidak terlalu tinggi, jadi hanya sebentar saja untuk sampai disana.

Saya pun bersiap-siap, berdiri didepan jalur yang berwarna kuning. Satu dua orang yang berada disamping sudah meluncur dan malah sudah sampai dibawah sana. Hingga tibalah saatnya saya, dengan keyakinan penuh bahwa permainan ini akan sangat menyerukan. Namun apa daya, saya malah tersangkut-sangkut diseluncuran akibat menggunakan celana jeans. Dengan bantuan dorongan tangan, saya berusaha agar segera tiba diujung.

Agar tetap menikmati, saya pun lebih memilih untuk berendam di air. Sambil sesekali menuju ke ember tumpah. Selain itu, juga bermain pelampung yang disediakan secara gratis. Kebahagiaan itu kita yang menentukan.

Efek Menggunaka Celana Jeans, Jadi Hanya Bisa Begini Saja
Berhubung hujan sudah mulai redah, kami pun memutuskan untuk segera naik. Meskipun sebelumnya saya merasa berat hati, masih ingin berlama-lama bermain diair.

Di Taman Cinta Panjintan terdapat berbagai fasilitas yang akan akan memudahkan pengunjung. Seperti mushollah, penginapan dan villa serta restoran. Selain itu, terdapat juga air mancur yang bisa menari.



Banyak lokasi di wisata ini yang tidak sempat kami sambangi. Mau diapakan lagi, karena saat itu memang sudah sore dan tujuan kami juga masih jauh. Namun meskipun begitu, kami menyempatkan diri untuk pergi ke seberang danau.

Banyak tempat yang tidak kalah menariknya ketika tiba diseberang. Seperti taman bambu, taman love love, dan patung binatang dengan warna keemasan. Selain itu terdapat juga wahana ombak buatan. Tapi sayang, wahana tersebut hanya buka dihari minggu saja.




Lokasi Wahana Ombak Buatan