Saturday, January 11, 2020

Angkringan Terenak di Kota Pontianak

Membahas kuliner di Kota Pontianak tentunya tidak akan habis. Dari yang halal hingga yang tidak halal semuanya ada disini. Dari cita rasa yang manis hingga yang asin semuanya bisa dijumpai.

Malam itu Kota Pontianak baru saja diguyur hujan. Nah kalau sudah dingin-dingin paling enaknya melakukan sesuatu. Tapi bukan sesuatu yang itu tuh, bukan pula menarik selimut diatas kasur. Melainkan mencoba kuliner malam untuk mengenyangkan perut sekaligus menghangatkan badan. Iya, orang yang kedinginan itu perlu karbohidrat yang lebih supaya cepat ngantuk dan segera tidur. Apa hubungannya???

Saat itu salah satu teman mengajak makan dan merekomendasikan untuk ke angkringan. Katanya sih ini tempat angkringan paling enak dan tentunya juga bersahabat di dompet. Maafkanlah kami yang selalu mencari harga murah dan menuntut rasa yang lebih.

Kalau dia yang merekomendasikan tentunya tidak perlu diragukan lagi. Sudah berapa banyak tempat yang ia datangi hanya untuk mencari sesuap nasi. Dan jika ada tempat yang berkesan, langsung melapor ke kami. Tanpa ini itu lagi, kami langsung segera terbang menuju TKP.

Berbicara tentang angkringan tentunya sudah tidak asing lagi. Makanan yang sederhana ini namun tidak sesederhana RM Sederhana ternyata memiliki sejarah tersendiri. Dan berikut ini sejarah singkat angkringan.

Alkisah, hiduplah seorang bapak-bapak di Tanah Jawa yang bernama Mbah Pairo. Dalam kesehariannya, mbah tersebut menjajakan makanan dengan cara dipikul. Sambil berjalan kaki, si Mbah berteriak Ting...Ting...Hik. Mendengar suara tersebut, membuat para perawan yang ada di Kota Jogja berkeluaran ke teras rumah. Mereka tersipu malu karena merasa dirinya telah di panggil oleh si Mbah.

Sebelumnya nama panggilan angkringan adalah Hik yang diadopsi dari teriakan si Mbah tadi. Tahu tidak, ternyata nama panggilan tersebut memiliki arti tersendiri. Yaitu Hidangan Istimewa Kampung (HIK).

Lambat laut, dagangan Mbah tersebut semakin laris. Tidak hanya digandrungi oleh perawan saja, tetapi juga dari semua kalangan. Baik itu laki-kaki, perempuan, setengah laki-laki perempuan, semuanya sangat menyukainya. Akhirnya si Mbah memutuskan untuk mangkal disuatu tempat dengan menggunakan gerobak barunya.

Biar bisa menyenangkan para langganan, disediakanlah kursi panjang untuk duduk. Setiap tamu yang makan disini kebanyakkan menaikkan sebelah kakinya diatas kursi tersebut. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki tersebutlah muncul istilah angkringan atau nangkring.

Bagaimana? Sedikit banyak sudah tahukan awal mula adanya angkringan. Jadi ingat, ketika makan disana harus menaikkan sebelah kaki diatas kursi. Biar suasana makannya lebih terasa. Hehe... Oh iya, tentang perawan dicerita tadi hanya tambahan bumbu dari penulis. Nuwun sewu...

Kembali ke cerita awal.

Angkringan yang kami maksud adalah O' Angkringan. Bagaimana? Simpel dan mudah diingatkan nama lapaknya. O...angkringan...

O' Angkringan terletak di Jalan Panglima Aim No. 1. Lokasinya berdekatan dengan kampus Akper YARSI. Jadi buat teman-teman yang mau datang kesini, diingat tuh alamatnya. Lapaknya dibuka saat sore hingga malam. Jadi jangan keawalan dan juga kemalaman.

Kami datang sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu masih terlihat banyak yang mengantri, untuk menunggu giliran memilih makanan. Berhubung saya datangnya dudi, jadi kurang elok juga jika ikut nimbrung berdesakan disitu. Menunggu waktu yang tepat.

Meskipun kami tiba sudah cukup malam, namun tetap saja masih ramai pelanggan yang datang. Sebagian besar mereka hanya datang membeli dan baru dinikmati setelah sampai dirumah. Maklum, disini hanya disediakan dua meja serta duduk lesehan didepan rumah. Yah namanya juga angkringan, jadi ciri khasnya adalah kesederhanaan.

Tibalah giliran kami untuk memilih. Nah, kalau ada diangkringan tentu nasi yang disediakan adalah nasi kucing. Tapi tenang saja, ini bukan nasi kucingnya si anu, melainkan merupakan nasi yang porsinya lebih sedikit. Karena ukurannya yang minim itulah membuat harganya lebih miring.

Untuk nasi kucingnya setidaknya ada beberapa pilihan, seperti nasi teri, nasi jamur, nasi bakar dan lainnya. Dari seua yang disajikan, penulis lebih tertarik untuk mencoba nasi jamur.

Untuk melengkapi nasi tersebut biar semakin maknyus,disediakan juga beraneka ragam sate. Seperti sate hati, sate ampela, sate telur puyuh, sate kikil, sate usus ayam, sate ceker, tempe, tahu dan masih banyak yang lainnya. Untuk harga pertusuknya dimulai dari harga 2.000-3.000.

Nih Pilihan Satenya

Setelah memilih barulah kita berikan kepenjaga lapaknya. Mereka akan mencatat makanan kita kemudian akan dipanggang diatas bara api, yang konon panasnya tidak sepanas api neraka. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

Sambil menunggu pesanan datang, kami terlebih dahulu memesan minuman. Dari sekian pilihan minuman di O'angkringan, kami semua kompak untuk memesan air serbat. Apa tuh? Ini merupakan salah satu minuman tradisional punyanya Pontianak. Air ini rasanya manis, hanya saja ada campuran rempah yang mebuat cita tasanya sedikit berbeda. Penasaran? Kuy langsung dicoba.

Tidak perlu menunggu lama, pesanan kami akhirnya tiba. Belum saja diletakkan, aromanya sudah menyentuh hidung. Kesannya seperti ditusuk jarum, cikit cikit...cikit cikit...cikit cikit...

Dengan mengucapkan bismillah, penulis langsung melahapnya. Untuk rasa jangan diragukan lagi, pastinya sangat nikmat. Tekstur kenyal dari jamur dan meresapnya bumbu-bumbu kedalam sate membuat rasa yang solid. Mereka semua bertemu diatas lidah dan kemudian bersatu, itulah cita rasa Indonesia.

Sebenarnya dalam menilai makanan penulis kurang mengerti apa  saja bumbu-bumbu yang dominan didalam makanan tersebut. Tapi yang pasti, dalam menilai makanan bagi penulis hanya ada dua pilihan. Yaitu enak dan enak sekali. Hehe.. Bukankah dengan bersyukur Allah akan menambahkan lagi nikmat hambanya.

Karena kami makannya duduk lesehan, jadi belum sempat mencoba angkat kaki sebelah, seperti sejarah angkringan diatas. Mungkin untuk selanjutnya bisa dipraktekkan. Ngomong-ngomong, orang disamping kami sudah beberapa kali ganti. Malu juga kalau terlalu lama disini sambil isep batu es. Saatnya pulang, hati senang perut kenyang.


Friday, January 10, 2020

Tempat Tinggal yang Murah Meriah Untuk Mahasiswa

Menjadi mahasiswa tidak hanya mesti pintar dalam akademik saja, tetapi juga harus pintar dalam mengatur keuangan. Kenapa? Yah karena mahasiswa itu pada umumnya memiliki keuangan terbatas, alias masih berharap kiriman dari orang tua.

Nah, berbicara tentang pengeluaran mahasiswa tentunya tidak hanya untuk makan saja, tetapi banyak keperluan lain yang harus dipenuhi. Misalkan biaya tempat tinggal, biaya keperluan kuliah, biaya transportasi, biaya pulsa dan internet, dan biaya untuk keluar malam minggu sama si dia.

Belum lagi biaya fashion dan tak terduga lainnya. Pokoknya kalo ngomongin pengeluaran rasanya tidak ada habis-habisnya. Oleh karena itu, uang pas-pasan dari boss di kampung harus diatur dengan sebaik mungkin.

Dari biaya tersebut ada biaya yang bisa ditekan (pengeluarannya diminimalisir), salah satu contoh adalah tempat tinggal. Tidak hanya mahasiswa, orang yang sudah berkerja tentunya juga akan mencari tempat tinggal yang murah meriah.

Buat Mahasiswa, setidaknya ada beberapa tempat tinggal yang direkomendasikan untuk anda. Tapi ingat, disini tidak membicarakan kostan yang harganya mencapai ratusan ribu untuk perbulan.

 2.Tinggal di Rumah Keluarga

Buat anda yang memiliki keluarga di tanah rantau bersyukurlah, karena setidaknya sudah ada tempat alternatif yang bisa dijadikan tempat tinggal. Apalagi kalau keluarga tersebut adalah saudaramu atau saudara orang tuamu. Pasti mereka akan menawarkan untuk tinggal seatap bersama mereka. Lumayan juga kan uang yang biasanya digunakan untuk bayar kostan bisa ditabung untuk keperluan lain.

Selain biaya tempat tinggal yang gratis, disini makanan sehari-harimu pasti juga akan terjaga. Tapi ingat, meskipun keluarga tidak menuntutmu untuk membayar segala fasilitas yang telah diberikan, setidaknya kamu harus menjadi penghuni yang baik. Entah itu menjaga etika, sering membatu urusan mereka dan sesekali juga mesti belanja makanan. Intinya pandai-pandai anda-lah membuat mereka  nyaman bersama anda.

2. Tinggal di Masjid

A: What? Tinggal di masjid?

B: Iya, tinggal dimasjid.

A: Masjid itu tempat ibadah men, bukan tempat tinggal.

B: Oke, saya akan jelaskan.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid dari dulu juga digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berbagi ilmu, serta tempat istirahat bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Jadi, masjid itu memiliki manfaat yang luas, selama demi kepentingan umat.

Nah, berbicara tentang mahasiswa yang tinggal dimasjid itu sudah biasa. Apalagi di kota-kota besar. Bahkan tidak jarang ada petugas masjid yang mencari mahasiswa untuk bersedia tinggal di masjid. 

Selain biaya tempat tinggal yang gratis, tinggal dimasjid juga banyak manfaatnya. Salah satunya adalah semakin mendekatkan anda kepada sang pencipta. Sedangkan salah duanya adalah anda akan mendapatkan biaya hidup dari pengurus masjid. Tapi ingat, disini tidak hanya sekedar tinggal saja, namun anda juga harus menjaga kebersihan masjid.

Oh iya, penulis juga sempat membaca sebuah artikel tentang mahasiswa yang tinggal dimasjid. Dimana kalau beruntung anda akan mendapatkan berbagai fasilitas tambahan, seperti kasur dan lemari pakaian, kamar yang ber-ac, kamar mandi ada didalam, jaringan wifi dan komputer, plus dapat gaji. Wah, kalau itu sih sudah mirip kostan yang harganya satu jutaan. Dan hebatnya lagi, ia bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumlaud.

3. Tinggal di Asrama

Asrama Tempat Saya Tinggal

Tempat tinggal yang murah meriah untuk mahasiswa yang selanjutnya adalah asrama. Tentunya teman-teman semua sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Asrama mahasiswa merupakan fasilitas yang disediakan untuk sarana tempat tinggal bagi mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan. Asrama mahasiswa ini biasanya disediakan oleh pemerintah daerah atau pun dari unibersitas itu sendiri.

Berbicara tentang asrama, tentunya tidak hanya sekedar bangunan fisik saja. Namun didalamnya juga dilengkapi berbagai fasilitas, selerti tempat tidur, lemari, meja belajar dan kipas angin. Jadi sangat disayangkan jika kita tidak memanfaatkannya.

Untuk biaya gimana? Biaya asrama tentunya sangat terjangakau. Malah bisa sepuluh kali lebih murah dari harga kostan. Pembayaran itu pun biasanya ditujukan untuk kebersihan, seperti membeli pembersih lantai, kantong sampah dan lain-kainnya.

Nah, itulah tempat tinggal murah yang bisa saya rekomendasikan untuk teman-teman. Ketika ada yang lebih terjangkau dan lebih bagus, kenapa masih mau mencari yang lain?

Kira-kira ada tempat tinggal yang murah lagi gak ya buat Mahasiswa?


Pesona Wisata Jembatan Tayan

"Kita mau lewat mana?" Tanya saya kepada teman sebelum berangkat.

"Perginya kita akan lewat jalur darat, sedangkan pulangnya akan lewat jalur air". Dia menjawab, sambil memasang helm dikepala.

"Oke." Saya menyetujuinya dan perjalanan pun dimulai.

Ada banyak jalan menuju Roma. Eh salah, maksudnya Kota Ketapang. Yaitu melalui jalan darat, air dan udara. Semua rute tersebut merupakan pilihan, tinggal kitanya saja yang menentukan.

Jika anda ingin perjalanan yang lebih cepat tanpa banyak membuang waktu,  yah silahkan menggunakan pesawat. Tapi ingat, anda harus merogoh kocek lebih dalam.

Jika anda ingin perjalanan yang tidak melelahkan dan biaya yang terjangkau, yah silahkan menggunakan kapal. Tapi ingat, anda harus bersedia terombang-ambing, kalau tiba-tiba saja gelombang sedang tinggi.

Jika anda ingin perjalanan memiliki banyak cerita dan bisa singgah ketempat wisata yang dilalui, yah silahkan menggunakan kendaraan pribadi. Tapi ingat, perjalanannya jauh dan berliku-liku. Ditambah lagi keadaan cuaca yang kadang tidak menentu. Baru saja panas, eh tiba-tiba saja sudah hujan.

Nah dari ketiga pilihan itu, kami sepakat untuk melalui jalur darat. Kenapa? Ya karena kami ingin berpetualang sekaligus melihat tempat-tempat yang belum kami datangi. Dengan kendaraan roda dua, kami melintasi Jalan Trans Kalimantan menuju Kota Ketapang.

Ada banyak tempat menarik yang bisa disinggahi ketika melakukan perjalanan darat. Salah satunya adalah mampir ke Jembatan Tayan.  Iya, sebuah jembatan penyeberangan dengan pesonanya yang menarik. Sehingga tidak heran, jika banyak masyarakat Kalbar dan luar daerah yang menyempatkan diri untuk kesini.

Berhubung rute perjalanan melaluinya, rasanya berdosa besar jika tidak menyempatkan diri untuk singgah. Kami pun menepikan kendaraan disebuah bukit sebelum melintasi Jembatan Tayan. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun dari atas sini tersaji pemandangan yang sangat menawan.

Kami tidak tahu apa nama bukit ini. Yang pasti disini banyak terdapat tumpukan batu besar, yang membuat view semakin menarik. Dari atas bukit ini pula, anda bisa berfoto dengan background Jembatan Tayan (meskipun sedikit kurang jelas) yang melintasi Sungai Kapuas. Selain itu, deretan bukit diseberang sungai juga akan membuat gambar anda semakin apik.

Berapa lama waktu tempuh ke Jembatan Tayan?

Saat itu kami berangkat pukul 12.30 WIB dan tiba disana sekitar  pukul 16.30 WIB. Sebenarnya waktu tempuh tidak seharusnya selama itu, hanya saja didalam perjalanan beberapa kali diguyur hujan. Belum lagi kami juga sempat singgah disebuah masjid untuk melaksanakan kewajiban. Kalau melakukan perjalanan tuh harus semakin dekat sama Tuhan, biar nikmatnya liburan semakin ditambah.

Waktu tempuh menuju  Jembatan Tayan yang normal adalah 2 jam 30 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 113 kilometer. Tapi ingat, itu hitungannya dari arah Kota Pontianak. Kalau anda datangnya dari Mempawah, Singkawang atau Sambas, maka waktu perjalanannya tentu akan semakin lama.

Setelah puas berfoto di Bukit Batu tadi (bukan nama sebenarnya), kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami akan melintasi jembatan terpanjang di Pulau Kalimantan. Ada hal yang menarik ketika memasuki kawasan Jembatan Tayan, yaitu anda akan menemukan lampu-lampu jalan dengan bentuk seperti kail pancing. Iya, bentuknya melengkung, menyerupai kail pancing terbalik.

Sejarah Singkat Jembatan Tayan

Jembatan Tayan terletak di Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau. Jembatan ini melintas panjang diatas Sungai Kapuas dan melewati Pulau Tayan. Iya, ditengah-tengah sungai terdapat sebuah pulau. Menarik, bukan?

Sebelum adanya jembatan, sehari-hari masyarakat ketika akan menyeberang hanya menggunakan jasa penyeberangan kapal dan perahu tradisional. Untuk sampai ke tempat tujuan pun harus sedikit lama. Kini, akses masyarakat lebih mudah setelah adanya bangunan jembatan. Mereka bisa menyeberang kapan saja dengan waktu yang lebih singkat.

Pembangunan Jembatan Tayan dimulai pada tahun 2011 dan peresmian pada tanggal 22 Maret 2016 oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Panjang jembatan ini mencapai 1,65 kilometer dan merupakan jembatan terpanjang ketiga di Indonesia setelah Jembatan Suramadu dan Jembatan Pasupati.

Tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya saja, jembatan ini tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat yang luas. Bisa dibilang untuk kepentingan satu Pulau Kalimantan. Hal ini dikarenakan Jembatan Tayan merupakan penghubung Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,  dan Kalimantan Timur. Selain itu, jembatan ini juga digunakan untuk menuju ke negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunai Darussalam.

Ada yang tau nama sebenarnya Jembatan Tayan? Orang-orang pada umumnya memang lebih mengenal jembatan tersebut dengan panggilan nama Jembatan Tayan. Hal ini wajar saja, karena secara geografis letaknya berada di Kecamatan Tayan. Namun setelah peresmian, nama jembatan ini resmi menjadi Jembatan Pak Kasih. Pak Kasih merupakan nama salah satu pahlawan asal Kalimantan Barat yang berjuang untuk kemerdekaan.

Kami juga menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke Pulau Tayan. Meskipun tidak lama, tapi lumayanlah untuk berkeliling sejenak. Tanpa membuang waktu, kami segera merogoh kocek tas untuk mengambil kamera sambil berfoto di tulisan jembatan tayan. Akhirnya.. setelah sekian lama diresmikan, baru kali ini bisa kesampaian. Aku orang mana ya?

Kami juga menyempatkan berkekililing disekitar kaki jembatan. Disini terlihat pembangunan yang masih sedang dikerjakan. Dari bentuknya, sepertinya disini akan dijadikan sebagai taman budaya. Karena saat itu sore hari, jadi banyak juga para muda-mudi yang berkeliaran untuk jalan santai. Entah itu bersama pacarnya, teman, orang tua, bahkan dengan peliharaannya. Jadi saya rasa disini sangat cocok untuk anda yang ingin mencari jodoh. Sssttt...

Jembatan Tayan didominasi oleh warna merah putih yang merujuk pada warna bendera Indonesia. Selain jalur untuk kendaraan, dikiri kanan juga tersedia trotoar bagi pejalan kaki. Nah, di trotoar yang berwarna kuning inilah banyak orang dan pengguna jalan lainnya mampir untuk bersantai sambil mengabadikan momen. Termasuk saya salah satunya.

Jalan diatas Jembatan Tayan bisa dikatakan sepi oleh pengendara. Meskipun sesekali lewat kendaraan motor mobil, namun lajunya tidak semaunya. Mungkin mereka juga ingin menikmati keindahan jembatannya.

Seperti yang lainnya, saya juga berfoto ditengah-tengah jembatan dengan landmark Jembatan Tayan. Yah, meskipun setelah dilihat hasil fotonya kurang memuaskan. Tapi sudahlah, yang penting sudah bisa sampai disini. Mungkin ambil fotonya bisa dicoba lagi dijembatan Kapuas Pontianak saat orang  lagi sibuk pulang kerja?


Setelah sibuk berfoto yang kemudian akan dipamerkan dimedia sosial, saya pun langsung menepi ke trotoar. Berdiri sambil menikmati keindahan Sungai Kapuas. Dari atas jembatan anda bisa melihat bagaimana sibuknya aktivitas masyarakat yang ada di pinggiran sungai. Kapal-kapal yang berlalu lalang sambil membawa muatan dan megahnya bukit dari kejauhan.

Banyak hal menarik yang sebenarnya bisa dikakukan disini. Salah duanya adalah kulineran dan menaiki speed boat. Untuk anda yang mempunyai waktu luang kesini, saya sarankan untuk mencoba menaiki speed boat yang akan membawa anda menyusuri Sungai Kapuas. Sambil berfoto dengan gambar Jembatan Tayan yang megah dibelakangnya.

Matahari diufuk barat pun mulai kembali diperaduannya. Dari jauh juga terlihat awan mendung yang berarak kearah kami. Kami pun bergegas, menghampiri kendaraan dan melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Semoga lain kali bisa lagi kesini, menghabiskan waktu yang lebih lama bersama orang yang tercinta.

Friday, January 3, 2020

Impian Gadis Dayak

Perjalanan saat itu harus dihentikan. Tiba-tiba saja langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Awalnya sih hanya gerimis, namun semakin lama hujan tersebut semakin lebat. Membuat sebagian pakaian terasa basah.

Karena berada dijalan pedalaman Kalimantan, membuat kami bingung akan berteduh dimana. Yang ada dipinggir jalan hanyalah pepohonan dan jurang. Selain itu, hsnya orang berhenti dipinggir jalan untuk memakai jas hujan.

Beruntung, sebelum pakaian dan barang lainnya basah kuyup, terlihat beberapa deret rumah disisi kanan jalan. Saya pun memperlambat kendaraan dan menepi disalah satu rumah yang belum jadi. Rumah tersebut sudah memiliki atap, namun belum memiliki dinding.

Kami pun berteduh dibawah rumah tersebut, sambil merehatkan badan setelah menempuh dua jam perjalanan. Bersantai diatas gerobak sambil melihat hilir mudiknya kendaraan.

Belum lama kami bersantai, tiba-tiba datang dua gadis kecil. Mereka datang dari rumah sebelah, berteduh bersama kami layaknya orangnya yang juga kehujanan. Sesekali terdengar mereka berbicara menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak.

Sepintas saya juga sempat berpikir, ini anak tidak takut diculik kah? Saya saja yang sudah besar begini masih takut diculik. Diculik oleh tante-tante girang. Hehe.

Tapi sudahlah. Namanya juga anak-anak, tentunya sangat polos. Yang mereka tahu semua orang adalah baik yang bisa diajak bergembira.

Saya kira kedatangan dua gadis tersebut hanya sekedar untuk bermain pasir didalam rumah. Maklum, pasir biasanya merupakan salah satu alat yang bisa digunakan untuk bermain. Tapi ternyata tidak. Mereka malah memanjati  kayu-kayu yang ada dirumah. Hualah, ini anak kok tingkahnya kayak anak lelaki.

Sesekali saya menoleh kebelakang, untuk melihat lagi tingkah lucu dua gadis tersebut. Setiap saat saya memandang, mereka langsung tertawa sambil berbisik. Rasa curiga pun muncul, mungkin ada hal yang aneh pada diri saya? Atau mungkin tampang saya mirip Sule? Ah sudahlah, namanya juga anak-anak.

Citra, Cinta dan Saya

"Tadi dari mana? Kok hujan-hujan?" Tanya saya, memulai sebuah percakapan.

"Dari rumah yang itu." Gadis yang berbaju oren menjawab, sambil menunjuk sebuah rumah.

Sayapun melihat kearah rumah tersebut, sambil sedikit mengangguk. Tidak jauh dari rumah tersebut juga terdapat warung buah musiman, yang menjual buah durian, manggis dan lainnya.

"Namanya siapa?" Saya kembali bertanya dan menunjuk gadis yang berbaju oren tersebut.

"Citra". Dia menjawab pendek sambil tersenyum-senyum.

"Lalu yang ini siapa namanya?" Saya bertanya ke yang satunya lagi.

"Cinta, Om." Anak tersebut menjawab. 

Setelah mendengarkan namanya membuat saya mulai sedikit curiga. Jangan-jangan saya telah dikadalin nih sama bocah. Kok bisa namanya hampir mirip, sama-sama diawali huruf C dan diakhiri huruf A. Apalagi mereka suka senyum-senyum.

"Itu benar nama kalian berdua?" Saya bertanya dengan tatapan lima rius.

"Iya, Om. Itu nama kami." Gadis yang di pojok kanan menjawab. Dan lagi-lagi mereka tersenyum, sambil mengumpulkan pahala. Karena senyum adalah ibadah.

Baiklah, saya percaya. Gumam dalam hati. 

Perbincangan kami semakin hangat ditengah dinginnya hujan. Dari perbincangan Sedikit-sedikit mereka juga mulai bertanya tentang kami. Dari mana Om? Mau kemana Om? Ngapain mau kesana Om? Sudah punya pacar Om? 

Pertanyaan yang terakhir jangan dibawa serius... itu hanya akal-akalan saya saja. Mana mungkin gadis sekecil itu mikir yang aneh-aneh. Yang mereka pikirkan itu hanyalalah belajar dan bermain.

Semakin panjang pembicaraan, semakin banyak pula hal yang saya tahu tentang mereka. Sama seperti anak-anak yang lain, sekarang ini mereka masih menimba ilmu di sebuah Sekolah Dasar. Citra berusia 9 tahun dan duduk dibangku kelas 4. Sedangkan Cinta berusia 7 tahun dan duduk dibangku kelas 2.

Layaknya seperti kita, mereka juga memiliki sebuah hobi. Sesuatu yang sangat disenangi untuk dilakukan. Citra memiliki hobi main badminton, salah satu olahraga yang banyak disenangi orang. Saya juga sempat bertanya, kira-kira siapa pemain badminton favoritnya. Dia hanya menggeleng-geleng sambil mengatakan tidak tahu.

Sama seperti Citra, Cinta juga memiliki hobi di bidang olahraga. Jika Citra lebih senang badminton, maka  Cinta lebih senang bermain voli. Jawaban tersebut tentu saja mengundang pertanyaan saya yang lebih banyak. Emangnya Cinta bisa? Cinta kan masih kecil? Mainnya dimana? 

Cinta langsung menjawab dengan percaya diri. Dia berusaha meyakinkan saya, meskipun usia masih muda dan badan kecil, bukan berarti tidak bisa melakukan sesuatu yang disenangi. Dia juga menyebutkan tempat biasanya bermain voli, yaitu disekolahan dan lapangan milik masyarakat.

Semoga saja kedepannya mereka bisa mengharumkan nama  Indonesia dikancah dunia.

Berbicara cita-cita tentunya mereka juga punya.

"Kalau besar nanti cita-citanya jadi apa". Saya kembali bertanya kepada mereka

"Saya ingin jadi guru agama, Om." Citra yang langsung menjawab.

"Kalau Cinta, cita-citanya jadi apa?"

"Saya ingin jadi dokter." Cinta menjawab, sambil memandang saya dengan tatapan mata penuh harapan.

Saya juga sempat bertanya kenapa ingin bercita-cita seperti itu. Citra menjawab kalau dia ingin seperti guru Katoliknya disekolahan, yang bisa mengajarkan agama ke yang lainnya. Sedangkan Cinta ingin mengobati orang yang lagi sakit.

Mendengar cita-cita mereka dan alasannya membuat saya merasa takjub. Ternyata dibalik kepolosan mereka berdua, tersimpan sebuah harapan yang besar. Tidak hanya untuk kepentingan mereka, tetapi juga untuk orang banyak. Semoga saja cita-cita yang mereka inginkan akan terwujud dimasa yang akan datang. Belajar yang semangat ya dek...

Tiga puluh menit berlalu. Hujan pun redah, meninggalkan sedikit tetesan air dari atas genteng dan pepohonan. Perbincangan di kaki Bukit Benuah pun harus diakhiri. Saya pun izin pamit dan mereka membalasnya dengan lambaian tangan. Semoga disuatu saat terdengar kabar kalau mereka sudah jadi guru dan dokter.

Tuesday, December 31, 2019

Nike Ardilla Bersenandung di Sungai Kapuas


Dilalui oleh Sungai Kapuas dan Landak membuat beberapa wilayah di Kota Pontianak terpisah secara demografis. Untuk menuju ke wilayah Pontianak yang ada diseberang, masyarakat biasanya menggunakan jembatan tol. Selain itu, tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakan penyeberangan veri dan transportasi air kaunnya.

Pagi itu waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB. Meskipun sedang momennya liburan natal dan menjelang tahun baru, tetap saja aktivitas di Kota Pontianak tetap ramai. Salah satunya adalah penyeberangan veri yang setiap harinya mengantarkan penumpang dan kendaraan untuk menyeberang.

Kendaraan menepi disebuah loket. Saya merogoh uang didalam kocek kemudian menukarkan dengan selembar karcis dari para petugas. Setiap orang yang menggunakan jasa pengangkutan ini harus membayar, dan harganya pun tergantung jenis kendaraan.

Tak hanya kendaraan bermotor dan mobil pribadi saja, berbagai kendaraan lain seperti truk juga menggunakan penyeberangan ini. Semuanya sama, ingin sampai ditempat tujuan lebih cepat. Berapa lama pula waktu yang harus dihabiskan jika melewati jembatan tol. Belum lagi apabila jalan yang dilewati macet.

Kapal yang akan mengangkut kami sudah menepi didermaga, membawa penumpang dari arah seberang. Dari raut wajah mereka terlihat sekali sudah tidak sabar untuk naik kedaratan. Begitu portal rantai dibuka, kendaraan roda dua langsung menancap gas dan berhamburan keluar. Suara bising kendaraan pun memenuhi langit-kangit dermaga saat itu.

Agar tidak saling berdesakan ketika menaiki kapal, maka para petugas mendahukukan kendaraan roda empat dan diatasnya. Baru lah kemudian kendaraan roda dua yang mengisi bagian tengah. Saat itu saya beruntung karena mendapatkan posisi bagian depan, berdampingan dengan deretan truk.

Terompet pun berbunyi. Pertanda kapal sebentar lagi akan berjalan. Saya pun memperbaiki posisi, agar keseimbangan tetap terjaga jika kapal tiba-tiba oleng.

Ada banyak keuntungan ketika mendapatkan posisi didepan (gerbang kapal). Selain kita bisa cepat keluar, tetapi juga bisa menyaksikan keindahan Sungai Kapuas. Melihat bagaimana aktivitas masyarakat dipinggiran sungai dan kapal-kapal besar lainnya yang sedang berlabuh.

Fokus saya mendadak teralihkan oleh suatu hal. Bukan karena silaunya Tugu Tanjak yang berwarna keemasan atau indahnya air mancur yang ada diseberang, melainkan karena suara yang ada di dalam truk pinggir saya.

'Malam-malam aku sendiri. Tanpa cintamu lagi. Ho u wo o o. Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar. Menerpa hidupku. Bahagia kan datang'.

Iya. Itu merupakan sebuah lirik lagu yang pernah populer pada era tahun 90-an. Apalagi kalau bukan judulnya 'Bintang Kehidupan'. Lagu tersebut dinyanyikan dengan lantang oleh abang pengemudi truk. Bahkan saking merdunya, mampu menyaingi suara mesin kapal.

Bersenandungnya lagu Mbak Nike Ardilla diatas kapal, tepatnya diatas Sungai Kapuas menunjukkan bahwa lagu tersebut tidak lekang oleh waktu. Tidak hanya para generasi tempoe doeloe yang mengatahuinya, generasi jaman now pun turut menyanyikannya. Ya, meskipun kadang mereka hanya mengetahui lagunya tanpa mengenal bagaimana wajah penyanyi aslinya.

Sejenak saya teringat tentang sosok mbak Nike Ardilla. Bukan hanya sekedar teringat senyumannya yang manis aduhai, atau suaranya yang sangat merdu, melainkan juga sejumlah prestasi yang pernah ditorehnya. Baik itu disaat sebagai penyanyi, pemain film atau hanya sekedar foto model.

Nike Ardilla sukses berada di puncak kepopulerannya ketika lagu 'Bintang Kehidupan' terbit. Lagu tersebut berhasil membawanya semakin banyak dikenal orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai mancanegara.

Tidak tanggung-tanggung, album lagu tersebut mampu terjual sebanyak 2 juta copy di Asia Tenggara. Selain itu, album tersebut juga mendapatkan penghargaan dari BASF awward 1990 dalam kategori The Best Selling Rock Album. Ini baru secuil dari sederet penghargaan yang telah diraih oleh Mbak Nike Ardilla.

Tanpa terasa kapal yang mengangkut kami ke seberang sudah menepi ke dermaga. Abang sopir yang sibuk menyanyi tadi pun juga telah berhenti. Pihak petugas juga telah melepaskan portal rantai. Itu artinya kami harus bergegas naik kedaratan. Semoga selanjutnya bisa ketemu Mbak Nike Ardila yang lainnya.

Oh ia. Lagu yang dinyanyikan abang sopir truk tadi ternyata bertepatan dengan taggal lahirnya Mbak Nike Ardilla. Dari mana bisa tahu? Ya karena pada saat itu tidak sengaja saya melihat postingan di facebook, bahwa Mbak Nike Ardilla lahir pada tanggal 27 Desember 1975. Seandainya saja Mbaknya masih hidup, pasti umurnya sekarang sudah 44 tahun. 

Friday, December 27, 2019

Mitos Gerhana Matahari


Matahari sudah diatas kepala. Suara adzan yang saling berkumandang pun sudah lama berhenti. Itu pertanda waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Bisa kurang atau bisa saja lebih.

Dibawah pondok sederhana yang beratapkan terpal biru saya terbaring. Sambil memandang keatas, menghitung buah durian yang masih bergantung diatas pohon. Ya, sekarang lagi musimnya buah durian. Meskipun buahnya tidak banyak seperti musim kemarin, tetapi cukuplah untuk makan sekeluarga.

Cuaca yang gerah memang tepat dibawa bersantai. Terbaring, sambil berharap angin sepoi-sepoi datang menghampiri. Apalagi suasananya tentram, jauh dari kebisingan. Meskipun sekali-kali terdengar bunyi suara tokek dan burung pelatuk yang sedang melobangi pohon.

Karena waktunya yang sudah siang membuat mata terasa kantuk. Apalagi saat itu hanya sendirian, tidak ada teman yang bisa diajak berbincang. Alhasil, dalam hitungan menit saya pun terlelap dalam mimpi.

Gedebuk.

Suara durian jatuh membuat saya terbangun. Cuaca saat itu terlihat mendung, sehingga sempat berpikir kalau sebentar lagi akan turun hujan. Tanpa buang waktu, saya pun lekas mencari buah durian sebelum tetes air jatuh kebumi.

Tidak lama kemudian langit tampak semakin gelap. Kebun yang dipenuhi pepohonan rindang terlihat layaknya akan malam. Burung-burung dan binatang lainnya pun enggan untuk bersuara, seakan-akan ada yang mereka takuti.

Saya pun mempercepat langkah menuju pondok. Berbagai pikiran yang macam-macam mulai menghantui kepala. 'Bagaimana jika ada badai datang dan merobohkan pohon-pohon yang ada disekitar pondok. Ini tentunya sangat berbahaya.' 

Syukurlah saat itu saya langsung teringat dengan beredarnya berita bahwa akan ada gerhana matahari cincin atau disingkat GMC. Gerhana matahari cincin adalah dimana bulan menutupi matahari dan hanya menampakkan pinggirannya saja. Pinggiran matahari yang masih terlihat tersebut akan tampak seperti cincin yang bercahaya. Semoga bisa dipahami, dari saya yang anak kampung.

Berbicara mengenai gerhana matahari, masyarakat dikampung saya memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan. Cerita tersebut boleh dipercaya dan boleh juga tidak. Intinya sebuah cerita hadir ditengah masyarakat untuk memberikan hiburan, sebagai pengingat, atau yang lainnya.

Pertama adalah tentang si naga dan matahari. Cerita tersebut sering saya dengarkan ketika masih kecil dan menjadi hal yang menarik untuk dibahas saat itu.

Ketika gerhana matahari tiba, maka alam akan terlihat gelap. Matahari yang tadinya bersinar menerangi bumi seketika akan hilang. Orang-orang kampung mengatakan kalau matahari tersebut telah ditelan oleh naga. Makhluk yang besar penghuni luar angkasa.

Orang-orang dewasa saat itu tahu bahwa cerita tersebut hanyalah mitos. Namun mereka sangat senang menceritakannya kepada kami. Apalagi ada yang bertanya, makin bertambah pula bual yang dikatakan.

Tidak bisa dibayangkan keadaan bumi tanpa matahari. Yang pasti, alam akan selalu terlihat gelap.

Kami pun harus membuat keributan agar naga  tersebut merasa terganggu dan mengeluarkan kembali matahari. Seperti memukul tiang listrik, pohon-pohon dan yang lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana ributnya kampung kami ketika ada gerhana matahari saat itu.

Yang kedua adalah tentang si pohon buah. Memukul-mukul pohon ternyata tidak hanya untuk mengeluarkan matahari dari perut si naga, tetapi juga dipercaya bisa memperbanyak buahnya.

Sampai saat ini, sebagian orang masih percaya bahwa dengan memukuli pohon ketika gerhana berlangsung maka akan menambah jumlah buah. Pohon dengan buah yang biasanya sedikit akan lebih banyak diperiode berikutnya.

Saya sempat bertanya, 'memangya apa hubungannya antara memukul pohon dengan semakin banyaknya buah?'

Jawabanya adalah, karena memukul pohon itu bisa memberikan semangat kepada si pohon untuk berbuah. Sesimpel itu saja jawabannya.  Silahkan anda menilainya sendiri.

Hal yang harus diketahui juga, ternyata cerita si naga diatas hanyalah akal-akalan saja agar kami semangat untuk memukul pohon. Kepolosan kami dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Sungguh terlalu.

Ketiga adalah tentang si babak. Babak yang dimaksud disini bukan berkaitan dengan permainan olahraga atau drama, melainkan babak yang ada dikulit. Tapi bukan juga babak belur.

Menurut KBBI, babak adalah lecet pada kulit. Babak biasanya berwarna merah dan didapati ketika lahir. Orang-orang juga biasa menyebutnya sebagai tanda lahir. Babak ini tidak hanya terdapat diselangkangan atau badan saja, melainkan juga bisa mengenai wajah.

Oleh karena itu, menurut kepercayaan setempat bahwa seseorang yang sedang hamil tidak boleh berada diluar rumah ketika gerhana berlangsung. Baik itu gerhana matahari ataupun gerhana bulan. Jika hal tersebut dikanggar, makan anak yang lahir akan punya babak.

Kurang lebih hanya itulah yang dapat saya bagikan. Setiap tempat itu memiliki cerita dan budaya yang menarik untuk diketahui. Terlepas dari mitos atau tidak, setidaknya kita harus menghargai apa yang mereka yakini.

Ayo, hal menarik apa ditempatmu ketika ada gerhana matahari?

Wednesday, December 25, 2019

Pesona Desa Sungai Ambangah

Panorama Pinggir Jalan Desa Sungai Ambangah

Roda motor mulai melambat ketika akan menaiki Jembatan Kapuas II. Bukan karena jembatannya yang terlalu menanjak, melainkan kendaraan motor kami harus berdesakan dengan yang lainnya. Entah itu roda dua, roda empat, bahkan hingga roda dua belas pun semuanya lewat disini. Apalagi saat itu waktunya makan siang, orang-orang yang ada didalam ruangan sebagiannya keluar untuk mencari makan dan keperluan lainnya.

Merupakan agenda tahunan, kali ini kami melaksanakan kegiatan pengkaderan di Desa Sungai Ambangah. Jangan ditanyakan ini pengkaderan apa? Yang pastinya ini merupakan kegiatan positif yang dilakukan oleh mahasiswa.

Bagi sebagian orang, nama Desa Sungai Ambangah mungkin masih asing ditelinga mereka. Yah begitu jugalah dengan saya yang baru pertama kali mendengarnya. 'Dimana tuh tempatnya?', kurang lebih begitulah kalimat yang saya lontarkan.

Desa Sungai Ambangah merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Ada beberapa rute yang bisa dilalui untuk sampai disini. Pertama adalah melalui jalur Desa Kapur, sedangkan yang kedua adalah melalui jalur air dari arah Desa Arang Limbung. 

Karena posisi kami saat itu berada di Kota Pontianak, tentunya jarak yang paling dekat adalah melalui Jalan Desa Kapur. Sebuah desa yang wajahnya tidak memperlihatkan suasana perkampungan, melainkan lebih keperkotaan. Maklum, wilayah tersebut berada dipinggiran kota. Sedikit banyak juga akan terciprat lajunya pembangunan.

Mendatangi Desa Kapur memang sudah sering dilakukan. Namun untuk sampai kehujung-hujungnya ini merupakan pengalaman pertama kali bagi saya. Siapa sangka ternyata masih ada banyak desa dibelakangnya. Salah satunya adalah Desa Sungai Ambangah.

Berbeda dengan Desa Kapur yang lahannya sudah banyak dijadikan perumahan, di Desa Sungai Ambangah sebagian besar lahannya adalah ladang. Maka jangan heran, kiri-kanan jalan akan terlihat hamparan hijau padi yang sedikit-banyak sudah mengeluarkan buah.

Oh iya, sebelum sampai di Desa Sungai Ambangah kita akan melewati sebuah sungai kecil. Tapi tenang saja, sungai ini sudah ada jembatannya yang bisa dilalui oleh kendaraan. Sungai tersebut bernama Sungai Ambangah yang merupakan cikal bakal nama tempat yang kami datangi.

Pesona alam yang ada di Desa Sungai Ambangah memang menarik untuk dinikmati. Apalagi ketika sore hari tiba. Kita bisa menyaksikan layang-layang yang sedang beradu diatas langit. Yang bermain tidak hanya anak-anak, melainkan juga orang dewasa yang sekedar melepaskan rasa penat. Rasanya seperti sangat jauh dari perkotaan.

Diantara ladang yang hijau juga banyak terdapat pondok-pondok istirahat petani. Kita bisa bersantai disitu sambil menikmati senja sore. Tapi ingat, jangan loncat-loncat diatasnya.

Hal yang harus diketahui, wilayah Desa Sungai Ambangah terletak dipinggiran Sungai Kapuas. Iya, Sungai terpanjang di Indonesia. Jadi sangat rugi jika tidak menyempatkan diri untuk main ketepiannya.

Saya kaget ketika sampai dipesisirnya. Jika dijalan raya tadi jarang sekali ada rumah penduduk, namun disini rumah penduduknya sangat ramai dan rapat-rapat. Berbagai aktivitas juga terlihat disini, seperti anak-anak mandi, penyeberangan yang sibuk mengantarkan orang dan kendaraan, serta ibu-ibu yang sedang mencuci atau pun bercerita diatas pendopo.

Karena berada dipesisir, maka rumah-rumah disini dibuat berbentuk panggung. Hal ini tentu saja agar rumah tidak tergenang air ketika sungai meluap. Untuk menghubungkan dari satu rumah kerumah lainnya ada jembatan yang masyarakat setempat menyebutnya geretak.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan disini. Seperti melihat tongkang lewat yang sedang mengangkut pasir, aktivitas masyarakat setempat, motor air yang sibuk menyeberangkan orang dan kendaraan. Selain itu, kita juga bisa menyaksikan pesawat yang sedang naik dan akan mendarat. Dan yang pastinya disini seru untuk bekubang (mandi).

Terimakasih kepada SMPN 11 Sungai Raya yang merupakan tempat berteduh kami selama di Desa Sungai Ambangah.