Wednesday, February 6, 2019

Wisata Ke Taman Cinta Pajintan


"Kita sekalian mampir ke Taman Cinta Pajintan, ya". Ajak seorang teman yang sedang saya boncengi.

Saat itu, saya dan kelima teman sedang melakukan perjalanan menuju ke Sambas, menghadiri sebuah acara pernikahan. Karena ajakan tersebut mendadak, saya pun menanyakan kepada teman yang lain apakah mereka setuju. Maklum, agenda tersebut tidak ada dalam perencanaan kami, apalagi perjalanan yang akan kami tempuh masih jauh.

Setelah berdiskusi singkat dipinggir jalan, akhirnya diperoleh keputusan bahwa kami akan mampir ketempat wisata tersebut. Meskipun tempat tujuan utama masih jauh. Dengan mengandalkan google map, kami pun langsung menuju kelokasi.

Untuk sampai disana ternyata tidak semulus yang kami bayangkan. Didalam perjalanan kami sempat kesasar di pusat kotanya. Meskipun sudah menggunakan alat bantu, namun tetap saja teman dibelakang salah menggunakannya. Tetapi itu bukan seutuhnya salah dia, melainkan juga salah saya yang tidak jeli dan tau seluk-beluk Kota Singkawang. Akhirnya, kami pun sedikit menjauh dari tujuan.

Disaat lagi bingung-bingungnya, hujan pun turun membasahi bumi seribu kelenteng. Tidak luput pula, lampion-lampion yang menghiasi jalanan juga ikut basah dan bergoyang-goyang ditiup angin. Kebetulan saat itu akan menjelang imlek, jadi setiap sudut Kota Singkawang dipenuhi oleh ornamen-ornamen yang bernuansa warna merah. Setidaknya, dua kali kami harus berhenti dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung.

Tidak sampai disitu saja, kami juga harus kejebak macet di Jalan Sudirman. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena kondisi jalan yang rusak, berlubang-lubang. Aneh juga masih bisa menemukan jalan yang begituan di Kota Singkawang. Apalagi jalur tersebut menghubungkan ketempat wisata.

Kurang lebih 20 menit dari pusat Kota Singkawang, akhirnya sampai juga di Taman Cinta Pajintan. Tempat wisata ini terletak di Jalan Pajintan, Singkawang Timur. Tulisan 'WATERBOOM' disisi kiri dan 'Taman Cinta' disisi kanan menyambut kedatangan kami. Selain itu, terdapat juga patung keberagaman etnis (Melayu, Dayak, Tionghoa) yang melambangkan keharmonisan. Ketika memasuki pintu gerbang, kami harus berhenti sebentar dulu untuk membayar biaya parkir sebesar Rp. 2.000.

Taman Cinta Pajintan atau nama lainnya Taman Cinta Waterboom Gunung Poteng saat ini menjadi salah tujuan wisata favorit yg ada di Singkawang. Tempat wisata ini mengusung konsep waterboom dan taman yang menjadikannya sangat menarik untuk dikunjungi.

Setelah memarkirkan kendaraan, tanpa menunggu lama lagi kami pun langsung menuju ke loket.  Untuk harga tiket dikenakan biaya sebesar Rp. 40.000. Harga tersebut berlaku untuk setiap harinya, baik weekday maupun weekend. Dengan tiket sekali bayar tersebut, kita sudah bisa menikmati semua wahana dan fasilitas yang ada didalamnya. Namun anda bisa mendapatkan diskon sebesar 50% apabila anda datang  diatas jam 17.00 WIB atau anda merupakan anggota TNI atau Polisi. Selain itu ada juga tiket masuk gratis untuk bayi dibawah umur 2 tahun, anak panti asuhan dan panti jompo. Baik juga ya pihak pengelolahnya.

Pepohonan yang hijau, warna-warni ornamen bunga dan danau yang cukup luas merupakan pandangan pertama ketika masuk didalamnya. Teman-teman yang masuk duluan sudah berjalan cepat menuju salah satu spot yang memang menarik. Disinilah, tugas kami sebagai fotograper bagi mereka dimulai. Hehe.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sebuah jalan disisi kiri, yang lebih mirip sebuah lorong. Dibawahnya, terhampar rumput sintetis yang berwarna hijau. Diatasnya juga bergantung warna-warni daun bunga sintetis. Perpaduan ornamen tersebut memang menjadikan spot ini sangat menarik dan sekilas nuansanya mirip di acara pernikahan.

Sesuai namanya, taman cinta memang banyak memberikan kesan yang indah. Baru saja masuk disini sudah berjumpa gadis cantik dan ia malah menyapa nama saya. Saya pun berdiri kakuh, berusaha mengingat siapakah gerangan tersebut. Wajahnya tentu saja tidak asing, namun saya betul-betul lupa namanya. Hingga pada akhirnya dia menyalami saya dan menyebutkan namanya. Saat itulah saya baru ingat, dia adalah junior saya waktu SMA dulu. Sudah lama kami tidak bertemu, namun disaat bertemu tidak lama.

Selain itu, tempat ini juga sepertinya jadi lokasi CLBK bagi teman saya. Kata dia sih mereka sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa. Hanya berteman saja. Namun kenyataannya, mereka berboncengan satu motor dan sering berfoto berduaan (meskipun malu-malu). Emangnya kami anak kecil apa, yang mudah saja dikadalin. Tapi semoga saja hubungan mereka masih bisa dilanjutkan hingga kejenjang pernikahan.

Dan yang tidak kalah penting adalah tempat ini mempererat tali persahabatan kami.


Setelah puas berfoto dan memanjakan teman dengan banyak jepretan, kami pun melanjutkan kembali perjalanan, menyusuri lorong tersebut. Dihujung lorong terdapat playground yang banyak terdapat anak-anak. Namun itu bukanlah tujuan, kami pun belok ke arah kanan menuju arah danau.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya tibalah kami ditepian danau. Ditengah danau terdapat sebuah gazebo yang berbentuk kuil. Dominasi warna merah dan kuning memberikan kesan ceria setiap pengunjung yang melihatnya. Di sebelah selatan danau tampak Gunung Poteng yang diselimuti kabut tipis. Maklum baru selesai hujan.

Ada banyak taman dan kursi santai yang disediakan di pinggiran danau. Salah satunya adalah taman dengan bentuk love. Selain itu, ada juga ikan hiu yang nyangkut dan dinosaurus yang satu-satunya masih bertahan hidup di Kota Singkawang. Hehe.





Belum puas menikmati keindahan alamnya, tiba-tiba awan hitam menyerang kami dengan peluru airnya. Seketika tawa dan kebahagian hilang, dibasuh oleh tembakan air tersebut. Kami pun berlari, menuju gazebo yang terdekat.

Tidak ada yang bisa kami lakukan saat itu, kecuali melihat tetesan air hujan dan kegembiraan anak kecil yang berada dikolam. Kebetulan gazebo kami persis berada di area water playground. Sebuah tempat yang menyediakan berbagai wahana, seperti seluncuran, rumah atau kastil buatan dan yang lainnya.

Meskipun Lagi Hujan Namun Mereka Tetap Menikmatinya

Melihat hujan yang tidak kunjung redah, saya pun mencoba untuk berjalan dibawah kanopi panjang yang ada dipinggiran kolam. Sama seperti tempat yang lainnya, diarea ini juga dihiasi oleh daun dan bunga-bunga sintetis. Beberapa orang dewasa juga terlihat berteduh dibawah sini.

"Kita mandi saja, yok". Ajak salah satu teman ketika saya balik ke gazebo.

Mendengar ajakan tersebut saya langsung tertawa. Yang benar saja mau mandi disini, tanpa ada persiapan apa pun. Seandainya ingin sekalian mandi disini kenapa tidak bilang dari awal, kan bisa beli celana bola dipedagang depan. Ajakan tersebut saya tolak dengan pertimbangan tidak ada celana basah.

"Kita sudah bayar mahal namun tidak menikmati fasilitas dan wahananya, kan rugi jadinya". Teman yang mengajak tadi kembali memberikan argumennya.

Salah satu teman mulai mengangguk, mengiyakan argumen barusan. Ini nih, kalau sudah berurusan dengan untung rugi, susah untuk dinego lagi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan kami liburan juga jarang, selain itu hari juga masih hujan, maka diputuskanlah akan mandi. Adapun syaratnya, semuanya harus ikut mandi (meskipun pada kenyataannya ada satu teman yang tidak menceburkan diri).

Berhubungan ada membawa celana jeans pendek, jadi itulah yang bisa digunakan. Saya pun berlari menerobos rintikan hujan, dan menceburkan diri didalam kolam. Saat itu juga lutut terasa sakit, karena harus terbentur dengan dasar kolam. Saya pun sedikit mengeluh, menahan rasa sakit akibat tidak hati-hati.

"Ayo turun, jangan ingkar janji". Teriak saya yang sudah duluan didalam kolam.

Bukannya menjawab ia, mereka malah mentertawakan saya. Awas saja kalau mereka tidak menepati janjinya. Tak jewer nanti telinganya. Tidak perlu waktu lama, mereka pun berlarian satu persatu, terjun dan membasahkan pakaian yang digunakannya.

Selamat datang dikolam renang anak-anak. Hihihi.

Water playground Taman Cinta Pajintan memiliki beberapa wahana yang bisa dinikmati. Seperti ember tumpah, kastil buatan dan seluncurun/perosotan (water slide). Untuk seluncurannya sendiri ada empat jenis. Yang pertama adalah seluncuran dengan jenis race (balap). Dimana seluncuran ini memiliki banyak jalur yang bisa digunakan para pengunjung untuk saling berlomba. Yang kedua adalah seluncuran dengan jenis family (keluarga). Dimana seluncuran ini memiliki ukuran lebar yang cukup besar untuk bermain keluarga. Disini pengunjung bisa berseluncur dengan menggunakan pelampung yang disediakan pihak pengelola. Yang ketiga adalah seluncuran dengan jenis tertutup atau lorong. Yang terakhir adalah seluncuran dengan jenis singgle atau satu jalur saja.


Karena ketinggian air disini kurang lebih hanya 60 cm saja, saya pun mesti berjalan dengan cara beringsut. Jangan tanyakan untuk berenang, karena sudah pasti tangan akan sering menyentuh dasar kolam. Kecuali yang berenang adalah anak kecil.

Melihat yang lainnya berseluncuran, membuat saya juga ingin melakukannya. Saya pun berjalan dengan susah payah menuju ke seluncuran dengan desain kepala naga tersebut. Sebenarnya sedikit malu karena dipandang tante-tante yang sedang menjaga anaknya. Tapi kenapa pula mesti malu, toh kita disini masuknya bayar. Atau mungkin tantenya.....sssttt! Ah sudahlah.

Untuk sampai ke puncak, para pengunjung harus menaiki anak tangga. Namun dikarenakan seluncurannya tidak terlalu tinggi, jadi hanya sebentar saja untuk sampai disana.

Saya pun bersiap-siap, berdiri didepan jalur yang berwarna kuning. Satu dua orang yang berada disamping sudah meluncur dan malah sudah sampai dibawah sana. Hingga tibalah saatnya saya, dengan keyakinan penuh bahwa permainan ini akan sangat menyerukan. Namun apa daya, saya malah tersangkut-sangkut diseluncuran akibat menggunakan celana jeans. Dengan bantuan dorongan tangan, saya berusaha agar segera tiba diujung.

Agar tetap menikmati, saya pun lebih memilih untuk berendam di air. Sambil sesekali menuju ke ember tumpah. Selain itu, juga bermain pelampung yang disediakan secara gratis. Kebahagiaan itu kita yang menentukan.

Efek Menggunaka Celana Jeans, Jadi Hanya Bisa Begini Saja
Berhubung hujan sudah mulai redah, kami pun memutuskan untuk segera naik. Meskipun sebelumnya saya merasa berat hati, masih ingin berlama-lama bermain diair.

Di Taman Cinta Panjintan terdapat berbagai fasilitas yang akan akan memudahkan pengunjung. Seperti mushollah, penginapan dan villa serta restoran. Selain itu, terdapat juga air mancur yang bisa menari.



Banyak lokasi di wisata ini yang tidak sempat kami sambangi. Mau diapakan lagi, karena saat itu memang sudah sore dan tujuan kami juga masih jauh. Namun meskipun begitu, kami menyempatkan diri untuk pergi ke seberang danau.

Banyak tempat yang tidak kalah menariknya ketika tiba diseberang. Seperti taman bambu, taman love love, dan patung binatang dengan warna keemasan. Selain itu terdapat juga wahana ombak buatan. Tapi sayang, wahana tersebut hanya buka dihari minggu saja.




Lokasi Wahana Ombak Buatan

Monday, February 4, 2019

Menikmati Nasi Timbel di Kota Singkawang

Kota Singkawang atau yang dijuluki sebagai Kota Seribu Kelenteng merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kalbar. Kota yang terletak disebelah barat Pulau Borneo ini memiliki keindahan alam yang menawan dan budaya yang sungguh menarik. Tidak hanya itu, Kota Singkawang juga menyajikan bermacam kuliner, baik yang lokal maupun luar daerah.

Berbicara kuliner di Kota Singkawang, saya punya sedikit cerita mengenai tempat makan yang sempat kami singgahi. Saat itu saya beserta lima teman sedang melakukan perjalanan menuju Tebas, Kabupaten Sambas. Berhubung hari itu sudah siang dan perutpun sudah keroncongan, kami pun memutuskan untuk singgah disalah satu tempat makan yang ada dipinggiran jalan. 

Kedai Abah dan Ambu, itulah nama tempat makan yang kami singgahi. Terletak di Jalan Pasir Panjang yang berseberangan dengan Rindam XII/TPR Singkawang. Hal yang membuat kami tertarik untuk singgah disini adalah karena di neonbox-nya tertulis 'Nasi Timbel Khas Cianjur'. Ya, karena rasa penasaran itulah akhirnya kami merapatkan kendaraan dirumah makan tersebut.

Tidak ada menu lain yang disajikan di Kedai Abah dan Umbu kecuali nasi timbel. Makanan yang satu ini merupakan makanan khas Sunda yang ada di Kota Singkawang. Menurut cerita, makanan ini hadir karena adanya kebiasaan masyarakat Sunda ketika pergi kesawah membawa bekalan nasi yang dibungkus daun pisang. Oleh karena itulah, ciri khas dari nasi timbel adalah nasinya di bungkus daun pisang. 

Makanan yang dinantikan akhirnya tiba. Pelayan dengan kerudung kuning (bukan kerudung merah) meletakkan satu-persatu nasi timbel diatas meja makan. Sontak, rasa lapar yang tadinya mulai reda kembali datang. Namun bukan mencuci tangan yang segera saya lakukan, melainkan meraih android untuk mengambil gambar. Harap maklum, kids jaman now.


Diatas piring rotan, nasi timbel disajikan dengan berbagai macam lauk. Tampilannya memang seperti pecel ayam yang ada di rumah makan lamongan, namun yang satu ini memiliki ciri khas yaitu nasinya dibungkus daun pisang. Menurut mbak yang menyajikan, nasi tersebut dibungkus ketika masih panas-panas, tanpa dibakar atau dikukus lagi. Adapun lauk-pauknya seperti gambar diatas, ada ayam goreng, tempe, tahu, sayur kol dan timun serta sambal terasi. Untuk harga perporsinya hanya dibandrol Rp. 18.000.

Tanpa menunggu lama lagi, saya pun membuka bungkus nasi. Uap panas nasi masih bisa dirasakan. Tangan pun mulai menggerayang, lalu mecubit bagian ayam goreng tersebut. Biar tambah nikmat tidak lupa juga dicocolkan kesambal terasi. Hangatnya nasi, gurihnya ayam dan pedasnya sambal terasi benar-benar membuat makan siang itu terasa nikmat.

Ayam goreng dari nasi timbel memang terasa enak. Ayamnya terasa empuk dan bumbu-bumbunya meresap hingga kedalam. Ditambah lagi pedasnya sambal terasi yang benar-benar menggugah selera. Selain itu, tahunya juga terasa enak dengan bumbu yang meresap hingga kedalam. Sampai-sampai teman disebelah meminta tahu saya, meskipun pada akhirnya tidak dapat karena sudah habis.

Untuk minumannya, kami lebih memilih es tebu dengan harga Rp. 3.000. Selain itu ada juga kelapa muda dan minuman yang lainnya.

Bagaimana, tertarik untuk mencobanya? Saya rasa tidak ada salahnya jika anda mampir di Kedai Abah dan Ambu untuk menikmati nasi timbel khas Cianjur.

Thursday, January 31, 2019

Wisata Mangrove Polaria Buat Hari Jadi Lebih Berwarna


Sebuah gerbang beratapkan genteng biru menyambut kedatangan kami. Dibawahnya bergantungkan tulisan 'selamat datang', sebuah ucapan yang sering ditemukan ketika memasuki kawasan wisata. Dua buah ban mobil juga terlihat disamping gerbang, yang dikreasikan dengan cat warna-warni. 

Sambil menunggu teman yang lain, saya pun menghentikan motor didepan gerbang tersebut. Disisi kiri terdapat sebuah parit (anak sungai) yang dipenuhi oleh motor klotok yang sedang tertambat. Karena merupakan daerah pinggiran laut, menjadikan masyarakat disini banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Sebenarnya kedatangan kami ditempat wisata ini bukanlah tujuan utama, melainkan untuk menghadiri undangan pernikahan didaerah Sungai Bundung Laut. Namun dikarenakan adanya ajakan salah satu teman, akhirnya kami menyempatkan diri untuk mampir kesini. Rugi juga jika sudah melakukan perjalanan jauh namun tidak mencicipi keindahan wisatanya. Inilah dia, Mangrove Polaria Tanjung Pagar yang menambah daftar wisata di Kabupaten Mempawah.

Merupakan daerah pesisir, menjadikan sebagian daerah Kabupaten Mempawah rawan akan abrasi pantai. Namun hal tersebut tentu saja dapat dicegah oleh adanya pohon-pohon dipinggiran pantai. Salah satunya adalah pohon bakau (mangrove) yang semakin banyak ditanam oleh komunitas-komunitas peduli pesisir. Sangat bangga punya orang-orang seperti mereka.

Karena teman yang ditunggu sudah tiba, kami pun bersama-sama memasuki kawasan wisata tersebut. 

"Ini bang, karcis parkirnye". Seorang wanita berkerudung datang sambil menunjukkan selembar kertas. Disitu tertulis kata 'parkir' dan angka '2.000'. 

Tanpa menunggu lama, kami pun merogoh kocek untuk membayar biaya parkir tersebut. Total uang yang harus dibayar saat itu adalah Rp. 6.000. Untuk biaya parkir memang harus dibayar diawal. Tapi tenang saja, petugas parkirnya akan selalu setia menunggu hingga para pengunjungnya pulang semua.

Setelah merogoh kocek sana-sini, total uang yang terkumpul saat itu hanya 5.000 rupiah saja. Melihat muka kami yang mungkin 'menyedihkan', Mbaknya pun mengikhlaskan jika kami hanya membayar segitu saja.

Namun kami tidak lantas mengiakan budi baik Mbak tersebut. Bagaimanapun juga tempat wisata yang kami datangi ini butuh biaya untuk perawatannnya dan membayar pekerjanya. Pencarian pun dilanjutkan kekocek tas. Dan alhamdulillah, uang receh 1.000 rupiah ditemukan terselit diantara benda yang lain. Sebenarnya kami punya uang 20.000 rupiah, namun si mbaknya juga berkata tidak punya uang kecil untuk kembalian.

Kami langsung bergerak menuju pos tiket yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Setiap pengunjung hanya dikenakan Rp. 5.000. Bagaimana, cukup terjangkau kan? Setara dengan 2 bungkus mie goreng. Tanpa basa-basi lagi dengan penjaganya, saya dan ketiga teman langsung memasuki lokasi wisata taman mangrove polaria.


Lagi-lagi kami disambut oleh kata 'selamat datang' di pintu gerbang (ini sudah gerbang yang kedua). Warna-warni, merah kuning hijau dilangit yang biru memberikan kesan ceria setiap yang melihatnya. Pokoknya, kalau anda lagi sedang kesal, marah, bad mood dan lain sebagainya, coba saja datang kesini. Dijamin hari-harimu akan terasa berwarna. Hehe. Kate siape? Ie kate saye lah.

Ketika memasuki wisata mangrove polaria, disisi sebelah kanan terdapat sebuah kawasan bermain yang menurut saya memang dikhususkan untuk anak-anak. Disini terdapat berbagai wahana permainan, seperti yun diayun (ayunan), rumah pohon dan seluncuran. Karena saat itu masih ramai orang terutama anak-anak, kami pun memutuskan untuk  melanjutkan perjalanan, menyusuri tempat ini lebih dalam. Kan malu juga jika nimbrung sama mereka.



Sedangkan disisi sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang bertuliskan 'pondok serba guna'. Sesuai namanya, pondok ini tentu saja digunakan bagi mereka yang ingin mengadakan pertemuan atau rapat dan kegiatan edukasi atau kegiatan lainnya. Bangunannya terlihat cukup luas dengan polesan warna-warni yang memikat hati.

Wisata Mangrove Polaria Tanjung Pagar dipelopori oleh Bapak Ilham M. Amin yang merupakan kepala Desa Mendalok. Tempat wisata ini terinspirasi dari kunjungan beliau ke salah satu wisata mangrove yang ada di Probolinggo, Jawa Timur. Untuk sampai kesini, dari Kota Pontinak dengan jarak tempuh kurang lebih 100 Km atau waktu tempuh kurang lebih 2 jam 20 menit.

Kami pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jembatan papan yang telah dicat. Jembatan dengan ketinggian kurang lebih 40 cm ini tentu saja memberikan kemudahan bagi para pengunjung untuk mengeksplor lebih jauh kawasan wisata mangrove Polaria. Maklum saja, tanah yang ditumbuhi pohon mangrove ini memiliki kontur yang lembut bahkan berlumpur.

Kurang lebih 70 meter dari pintu gerbang (lupa-lupa ingat panjangnya) terdapat sebuah taman. Karena disini ada bacground hati yang sedang terpanah, maka tempat ini sepertinya lebih cocok dinamakan 'taman cinta'. Disekitarnya terdapat kursi panjang dan pondok yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai. Apalagi yang datang bersama pasangan, pasti sangat romantislah untuk berduaan. Tapi ingat, pasangannya yang halal ya.


Merasa penasaran dengan sekitarnya, saya pun menghampiri sebuah bangunan dengan dua bilik yang berpintu. Setelah dekat ternyata tempat tersebut adalah toilet. Toilet ini juga dicat warna-warni yang mungkin saja akan menambah rasa betah untuk para pengunjungnya. Dan yang paling penting adalah selalu tersedia air untuk digunakan.

Kami melanjutkan lagi perjalanan hingga tiba di persimpangan tiga. Disinilah saya mulai berpisah dengan rekan-rekan yang lainnya. Rasa sedih yang teramat dalam tidak bisa dielakkan (hehe, lebai sedikit tak ape kan). Teman-teman yang lain lebih memilih jalan dengan plang 'move on' sedangkan saya sendiri memilih jalan 'lupakan mantan'.


Semakin masuk kedalam, maka semakin lebat pula pohon mangrove yang ditemukan. Disini terlihat banyak mangrove dengan pohon yang cukup besar.  Pohon tersebut memiliki akar yang menyembul dari permukaan tanah layaknya tangan-tangan gurita.

Mangrove memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Seperti menjaga pantai dari abrasi dan angin kencang, penyaring air asin menjadi tawar, penghasil oksigen, tempat berkembangbiakaan hewan baik yang dilaut maupun didarat, hingga dijadikan sebagai tempat rekreasi.

Untuk anda yang mudah capek (bukan yang dimate ie) tentunya tidak perlu khawatir ketika mengeksplor tempat wisata Mangrove Polaria ini. Karena disepanjang perjalanan banyak tersedia tempat beristirahat, baik itu hanya berupa kursi santai atau pun pondok santai. Bahkan disini juga disediakan tempat santai khusus untuk anak musik, karna dibelakangnya ada background gitar. Tapi jangan pulak manggung disinik ie, takotnye nantik roboh.



Selain tempat santai tersebut, didalam perjalanan juga disuguhkan kata-kata motivasi yang sekaligus juga menggelitik hati. Seperti 'lupakan mantan', 'move on', 'ber 1 kita teguh ber 2 kita married', 'kalau sudah jomblo kabari aku yah' dan lain-lain. Bahkan ada yang memelintirkan singkatan dari nama sebuah lembaga, KPK (Kapan Punya Kekasih). Kata-kata tersebut tentunya memberikan daya tarik untuk pengunjung, bahkan tak sedikit dari mereka yang berfoto disampingnya.


Perjalanan saya terhenti ketika tiba disebuah jembatan yang tinggi (jembatannya menanjak). Bukan karena tidak sanggup untuk mendaki, melainkan diatas sana terlihat empat gadis yang sedang tertawa riang. Ditangan salah satu gadis berkerudung cokelat muda (bukan berkerudung merah) terdapat sebuah kue dengan lilin yang sedang menyala. Rupanya mereka sedang merayakan hari ulang tahun dari salah satu sahabatnya. Rasanya kurang enak, jika saya tiba-tiba lewat dan menjeda kebahagian mereka. Apalagi hanya sendirian.

Kehadiran saya akhirnya diketahui oleh mereka. Sontak suasana kegembiraan dan suara tawa perlahan meredah. Mungkin mereka merasa malu atau tidak enak, tetapi saya malah lebih merasa tidak enak karena telah merampas kebahagiaannya (hehe, maaf ie dek). Salah satu dari mereka juga sempat mempersilahkan saya untuk lewat. Namun saya lebih memililih melakukannya setelah api yang ada dililin angka 18 itu padam. Ngomong-ngomong selamat ulang tahun ie dek, semoga keinginannye tercapai. Amiin.




Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya saya tiba disebuah tempat dengan view lautan lepas. Suara ombak yang menerjang bibir daratan terdengar sayu- sayu bersatu suara tawa para pengunjung. Langit yang berwarna kebiruan ditambah jingganya surya menjadikan suasana sore saat itu benar-benar menenangkan. Disinilah saya kembali menemukan teman seperjalanan yang sempat berpisah.

Banyak spot foto yang sangat menarik disini. Seperti  anyaman rotan yang seperti membentuk sarang burung, replika perahu dan yang lainnya. Selain itu, dari sini kita juga bisa menikmati keindahan Pulau Penibung dan Temajo dari kejauhan. Berikut beberapa fotonya.





Setelah puas kesana-kesini, akhirnya kami memutuskan untuk bersantai disalah satu spot yang ada diujung jembatan. Karena lokasinya cukup jauh dari keramaian, membuat suasana disini lebih terasa menenangkan. Tak banyak hal yang kami lakukan selain duduk manis sambil menikmati matahari sore yang sebentar lagi akan kembali keperaduannya.

Perlahan-lahan sang surya hilang, bersembunyi dibalik lautan luas. Ia pergi membawa semua rasa penat yang ada dikepala kami. Tak ada angin yang mengirinya kepergiannya. Namun ombak selalu setia, memberikan alunan musiknya meskipun hanya riakkan kecil. Seketika, cahaya jingga menyebar diujung cakrawala sana.

Duduk manis kami terpaksa harus dihentikan ketika ada seorang ibu bersama gadisnya datang menghampiri. Bukan! Bukan untuk menawarkan gadisnya kepada kami, melainkan mereka juga ingin berfoto di spot yang sejak tadi kami kuasai.




Monday, January 14, 2019

Berburu Si Manis Saat Tengah Malam


"Yok kite pegi makan durian". Ajak seorang alumni asrama yang saat itu sedang bermain keasrama. Tapi bukan untuk bermain catur, bukan bermain daun remi dan sebagainya, melainkan hanya sekedar intuk mempererat tali silaturrahmi.

Sebenarnya saya sedikit malas ingin mengiyakan ajakan tersebut. Bukannya karena saya tidak suka buah durian atau 'malu-malu kucing' ketika ditraktir, melainkan saat itu sudah diatas jam 12 malam. Saatnya untuk tidur, apalagi kantuk sudah datang melanda. Namun karena teman selalu meminta untuk ikut dan tidak akan berhenti merengek sebelum saya mengangguk, akhirnya saya bersedia untuk menemaninya.  Selain itu, tidak baik juga menolak rezeki yang datang seperti  'durian runtuh'.

Tidak semua yang berkumpul saat itu ikut berburu buah durian. Yang pergi saat itu hanya saya, Nurdin (teman seperjuangan skripsi disemester akhir), Bang Sugi (yang saat itu masih menunggu hasil pengumuman CPNS dan semoga saja lolos), dan Bang Zaini (merupakan kru di PON TV sekaligus merupakan big boss untuk makan buah durian ini).

Kamipun berangkat sekitar jam 24.20 WIB. Jalan pertama yang kami susuri adalah Jalan Imam Bonjol yang tak jauh dari lokasi kami. Disini kurang lebih ada tujuh lapak durian yang kami temukan. Tapi entah kenapa tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatian untuk disinggahi. 

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke Jalan Veteran. Ketika memasuki kawasan ini terlihat sekali banyak umat yang sedang melakukan transaksi jual beli. Maklum, disini merupakan lokasi Pasar Flamboyan yang merupakan pasar induk di Kota Pontianak sekaligus di Kalimantan Barat. Disini kami sempat singgah disalah satu lapak durian, meskipun pada akhirnya kami mencari tempat yang lain lagi.

Meskipun Kota Pontianak bukanlah daerah pertanian, namun ketika musim buah tiba daerah ini akan dibanjiri oleh berbagai jenis buah. Salah satu contoh adalah buah durian. Buah durian tersebut datang dari berbagai daerah yang ada di Kalbar.

Karena tempat yang kami singgahi tadi kurang berkenan dihati, akhirnya kami melanjutkan kembali pencarian (mencari buah durian yang memiliki biji emas, hehe). Kali ini kami pergi kedaerah seberang, yaitu Jalan Tanjung Raya 2. Beruntung saat itu sudah diatas jam 12 malam, jadi jalan terasa cukup lengang. Mudah dan bebas untuk kemana-mana.

Untuk kesana kami harus menyeberangi jembatan tol kapuas 1 yang menghubungkan Pontianak Kota dan Pontianak Timur. Jembatan ini merupakan jembatan kebanggaan masyarakat Pontianak, karena diatas sinilah kita bisa melihat betapa eloknya lekukan Sungai Kapuas. Ditambah lagi banyaknya cahaya lampu dan aktivitas masyarakat yang menjadikan pemandangan disini sangat menarik.

Baru saja memasuki Jalan Tanjung Raya 2, kami sudah disambut dengan pemandangan lapak buah durian. Disini terlihat banyak pedagang buah durian yang menghamparkan dagangannya dipinggiran jalan. Jarak antara pedagang yang satu ke pedagang yang lainnya pun tidak berjauhan, mereka saling berdekatan tanpa merasa khawatir akan kehilangan pelanggan.

Satu persatu lapak durian tersebut kami lewati. Meskipun saat itu sudah sangat malam, namun tak sedikitpun rasa kantuk terlukis diwajah pedagang tersebut. Malahan diwajahnya terlontarkan senyuman sekaligus  harapan bahwa kedatangan kami membawakan rezeki untuk mereka.

Saya yakin betul,  sebenarnya mereka terasa sangat lelah dan mengantuk. Namun dikarenakan demi tungku dapur yang harus selalu mengepul, mereka rela melakukan ini dengan senang hati. Saya berdoa semoga saja penghasilan yang didapatkan dari  'pejuang malam' ini bisa besar. Maklum saja, yang namanya pedagang itu bisa saja untung dan bisa saja rugi. Apalagi yang diperdagangkan adalah buah, sebuah produk yang cepat rusak.

Kami pun berhenti disalah satu lapak yang dibelakangnya berdiri kokoh bangunan ruko. Sisi kiri tempat tersebut terdapat sebuah kios yang memang digunakan untuk menjual buah. Beberapa orang terlihat sedang memilih, dan beberapa orang juga terlihat sedang menikmati buah durian.

"Ayok dek dipilih buahnye". Pedagang duriannya mempersilahkan kami

Dilapak sini ada beberapa tumpukan buah durian. Durian tersebut ditumpuk sesuai ukurannya masing-masing. Setiap tumpukan sudah diberi tulisan harga  masing-masing. Untuk ukuran yang paling kecil harga yang dikenakan Rp. 5.000 perbuah. Selain ditumpuk, ada juga durian yang digantung. Untuk harga durian yang dogantung pastinya lebih mahal dibandingkan dengan yang ada dibawah. Yaitu dimulai dari Rp. 25.000 sampai 35.000 untuk perbuahnya.

Tanpa dipersilahkan lagi, kami sudah langsung memilih ditumpukan yang harganya paling rendah. Sebenarnya big boss sempat menyarankan untuk ketumpukan sebelah saja yang memiliki ukuran lebih besar. Namun dikarenakan karakter jiwa kami yang sudah murahan, eh maksudnya suka yang barang murah meriah, akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang harga segitu saja.

Sambil memilih, kamipun sempat berbincang dengan penjual duriannya. Salah satu hal yang dibicarakan adalah mengenai asal durian ini. Dari situlah kami tahu ternyata durian tersebut didatangkan dari Sekadau, yang jaraknya kurang lebih 183 Km dari Kota Pontianak.

Pedagang buahnya juga berbaik hati, Ia membantu kami untuk memilih buah durian yang isinya bagus. Berbeda dengan malam sebelumnya (lapaknya beda), dimana kami hanya dibiarkan begitu saja untuk memilih buah durian (padahal yang beli hanya kami saja). Belum lagi kami harus membuka sendiri, menggunakan pisau iris bawang yang ketika ditusukkan malah menimbulkan rasa takut. Ia, takutnya jika pisaunya patah malah kami yang harus disuruh ganti.

"Wah, ini ada kepala botak didalamnye dek". Kata pedagangnya ketika saya menunjukkan sebuah durian.

"Maksudnye tuyul bang?" Tanya saya dengan polos. Dalam hati saya bergumam, seru juga bisa melihat tuyul didalam buah durian. Apalagi jika dibawa pulang, bisa disuruh untuk mencari uang yang banyak. Hehe.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, penjual duriannya langsung tertawa. Ia lantas menunjukkan sebuah lubang dikulit durian yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Dan kepala botak yang dimaksud adalah ulat yang berada didalamnya. Ulat tersebut memiliki tubuh yang cukup besar dengan kepala berwarna kecoklatan.

Pedagangnya lagi belah duren dimalam hari
Untuk pertama, kami hanya mencoba lima buah durian dulu. Setelah dibuka oleh pedagangnya, kami pun  membawa buah tersebut didekat sebuah ruko dengan cahaya lampu yang remang-remang. Layaknya anak kecil, kami pun berjongkok dan mengelilingi buah durian tersebut.

Tanpa menunggu lama, kami pun mulai mencicipi buah yang aduhai tersebut. Aromanya yang harum dan rasanya yang manis legit membuat penggemarnya akan selalu ketagihan. Tapi saya heran, kenapa masih saja ada orang yang membencinya. Apakah karena harganya yang murah dan boleh dibuka oleh siapa saja sehingga mereka memandangnya sebelah mata? Ah sudahlah, namanya juga kehidupan. Selalu ada dua sisi. Yang pastinya, berburu si manis saat tengah malam sungguh  sangat menyerukan.

Merasa kurang puas dengan yang tadi, kami pun akhirnya menambah lagi. Malahan kali ini kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Sungguh baiknya engkau nak, semoga Allah melipah rezeki padamu dan kami semua.

Durian yang kami rasa tak semuanya terasa manis. Kadang-kadang ada yang rasanya sedikit pahit. Tapi itu bukan karena menggunakan pemanis buatan, melainkan jenis duriannya yang beda. Hehe.

Hal yang saya suka dengan durian yang berukuran kecil adalah karena sering menemukan kucing tidur (tadi tuyul, sekarang kucing tidur). Namun bukan bearti kucing benaran, melainkan adalah dimana pada sisi durian tersebut hanya terdapat satu biji durian. Karena bentuknya seperti kucing yang sedang tidur makanya dinamakan demikian. Kucing tidur ini selalu menjadi rebutan, selain ukurannya yang lebih besar juga ada rasa kebanggan tersendiri.

Inilah Dia Kucnig Tidurnya

Karena masih kurang puas, big boss kami pun menambah lagi sebanyak lima buah. Dan lagi-lagi kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Jadi total durian yang dibuka saat itu berjumlah 17 buah. Saat itulah kami baru menyadari, ternyata kami hanyalah nafsu semata. Semuanya karena khilaf, kami tidak mampu untuk menghabiskannya smua.

Kami pun pulang dalam keadaan kenyang dan mabuk kepayang.

Wednesday, January 9, 2019

Kuntilanak Senang Pada Alat Kelamin Pria Namun Takut Payudara Wanita

Ilustrasi

Untuk orang Indonesia tentu saja 'hantu kuntilanak' sudah tidak asing lagi. Bagaimana tidak, hampir sebagian besar film horror Indonesia menggunakan sosok hantu tersebut sebagai pemerannya. Dalam dunia perfilman, hantu kuntilanak ditampilkan sebagai sosok perempuan dengan pakaian putih dan berambut panjang. Tidak hanya itu, kuntilanak juga sering diadegankan serings tertawa bahkan menangis. 

"Jangan berkeliaran disaat maghrib, nanti diculik hantu". Kata Emak mengingatkan saya disaat masa kecil dulu. Sampai sekarang pesan tersebut masih teringat jelas.

Menurut cerita, kuntilanak memang sering mengganggu anak kecil dan bahkan menculiknya. Oleh karena itulah, biasanya orang tua sangat melarang anaknya untuk berkeliaran disaat maghrib menjelang.

Di Pulau Kalimantan tepatnya di Kalimantan Barat yang merupakan daerah saya sendiri, hantu kuntilanak memiliki popularitas yang tinggi dibandingkan dengan hantu yang lainnya. Selain karena populasinya yang memang banyak (Haha, emangnya bisa dihitung), kepopuleran hantu tersebut juga dikarenakan adanya keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kota Pontianak.

Berikut sekilas ceritanya.

Sebelum berdirinya Kota Pontianak, daerah tersebut dulunya hanyalah sebuah hutan dengan pepohonan yang lebat. Hingga suatu saat datanglah Sultan Syarif Abdurrahman untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal. Namun disaat itu, hantu kuntilanak yang berada di pohon selalu mengganggu beliau. Merasa risih dengan hal itu, Sultan menembakkan meriam kearah hutan tersebut.  Lambat laun, tempat tersebut semakin ramai oleh penduduk dan mengakibatkan hantu kuntilanak semakin menjauh dari keramaian. Dari kejadian tersebutlah lahirlah yang namanya Pontianak (pohon dan kuntilanak). Kurang lebih begitulah cerita singkatnya.

Sekarang saatnya fokus untuk menceritakan hantu kuntilanak yang ada di daerah saya. Kebetulan kampung saya sangat jauh dari perkotaan dan pastinya dekat dengan hutan (tapi sayang, sekarang hutan tersebut semakin terkikis). Karena merupakan perkampungan atau perdesaan, disini masih banyak sekali terdapat pohon-pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi . Terutama adalah pohon durian yang sejak lama telah dibudidayakan.

Mengenai hantu kuntilanak, pohon durian merupakan salah satu tempat favorit  bagi mereka. Entah itu untuk sekedar ia duduk, bergantung atau meloncat dari dahan yang satu kedahan yang lainnya (hehe, cocok jadi pemain sirkus). Yang pastinya, di pohon durian tersebutlah masyarakat sering menemukan sosok wanita tersebut.

Kebiasaan masyarakat kami, ketika musim buah durian tiba adalah mereka akan menginap dikebun untuk menunggu durian gugur. Disaat itulah, kadang masyarakat mendengarkan suara tawa dan tangisan yang disertai dahan yang bergoyang-goyang. Tidak jarang juga, hantu kuntilanak tersebut mengerjai si Penjaga durian, dengan seolah-olah banyak buah durian gugur. Namun setelah disusuri tidak ada satupun buah durian disana.

Ketika menunggu pohon durian, ada satu pantang yang tidak boleh dilanggar dan sangat diyakini masyarakat setempat. Yaitu membakar kulit durian dibawah pohonnya. Jika hal tersebut dilanggar, maka pada saat malam tiba akan muncul sosok hantu tersebut untuk menganggu si penunggu durian. Baik itu hanya sekedar menangis dan tertawa hingga menampakkan wujudnya. 

"Hantu kuntilanak itu tidak menggunakan pakaian putih, melainkan ia telanjang". Kurang lebih begitulah pengakuan salah satu orang yang pernah melihatnya. Hal tersebut juga di iakan oleh masyarakat lain yang pernah melihatnya.

Sebelumnya kita telah meyakini bahwa hantu kuntilanak memakai busana putih yang memanjang kebawah. Itu wajar saja karena kita menyaksikannya dilayar televisi, mana mungkin pula ditampilkan secara terbuka. Namun yang pastinya (menurut yang pernah melihat, semoga saya tidak akan pernah), disaat menampakkan dirinya dipohon durian, kuntilanak sering bergantung dengan posisi yang terbalik (kepala berada dibawah). Selain itu, hantu kuntilanak juga memiliki rambut yang panjang serta tidak memiliki payudara. Jangan-jangan hantunya banci kali ya, hehe.

Hantu yang dikenal sebagai sosok wanita ini juga sangat senang mengganggu pria. Pernah beberapa kali penunggu durian dikejar oleh hantu kuntilanak. Jika dikejar cewek cantik sih enak, ini malah dikejar cewek jadi-jadian, hehe. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kesenangan hantu kuntilanak kepada pria dikarenakan ia sangat senang memainkan alat kelamin pria, terutama dua bola yang menggantung. Bahkan menurut cerita yang beredar hantu kuntilanak tidak akan segan untuk memakan alat kelamin tersebut. Ini nih yang menyebabkan saya kadang takut menjaga pohon durian sendirian disaat malam.

Meskipun dikenal sebagai makhluk yang kadang suka mengganggu, ternyata hantu kuntilanak takut akan beberapa hal ini. Yang pertama adalah ia sangat takut dengan kobaran api yang besar. Saya juga  tidak tahu mengapa hantu ini takut akan kobaran api. Yang pasti hal tersebut biasa nya dilakukan masyarakat ketika hantu kuntilanak tidak mau beranjak lari.

Yang kedua adalah hantu kuntilanak takut sama paku dan gunting. Dalam masyarakat kami, wanita yang sedang hamil akan diselipkan paku diatas rambutnya. Katanya sih hantu kuntilanak itu sering membuntuti wanita yang sedang hamil. Sedangkan pada bayi, dibawah ayunannya biasanya diletakkan berbagai barang seperti paku, gunting dan cermin.

Yang selanjutnya adalah bahwa hantu kuntilanak sangat takut dengan barang yang dimiliki oleh wanita dewasa, yaitu payudara. Dikatakan juga bahwa hantu ini merasa malu karena tidak memiliki payudara layaknya seorang perempuan. Pernah kejadian, dimana saat itu hantu kuntilanak menganggu sepasang suami istri yang sedang menunggu pohon durian disebuah pondok. Merasa risih dengan ulah kuntilanak yang tidak berhenti tertawa, si istri langsung keluar dan menggoyang-goyangkan payudaranya (maaf agak menjurus ke potno). Setelah kejadian tersebut, suara tawa langsung berhenti dan hantu kuntilanaknya langsung hilang.  Apa yang saya ceritakan barusan bukanlah rekayasa dan saksi kejadian tersebut juga masih hidup sampai sekarang.

Yang terakhir adalah hantu kuntilanak sangat takut mengganggu orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat.

Hanya cukup sekian cerita saya mengenai hantu kuntilanak. O iya, Kalimantan Barat saat ini lagi musim buah durian. Ayo datang kemari! Siapa tahu setelah datang kesini  pulangnya bawa kuntilanak. Ups salah , maksudnya bawa jodoh.

Monday, January 7, 2019

Si Kakek dan Pohon Durian


Disebuah perkampungan, hiduplah seorang kakek yang sudah tua. Kakek tersebut sangatlah bijaksana dan disegani oleh masyarakat disekitarnya. Dalam keseharian, kehidupan kakek selalu berkutat dalam dunia pertanian. Bila musim tanam padi tiba, maka waktu kakek banyak dihabiskan untuk berladang. Namun bila musim tanam telah selesai, kakek biasanya pergi untuk melihat kebun.

Disaat musim buah tiba, Kakek lebih sering  untuk mengunjungi kebunnya. Apalagi disaat musim buah durian tiba, Kakek biasanya menginap dikebun untuk menunggu durian jatuh. Bukan hanya kakek saja, masyarakat setempat yang memiliki pohon durian juga melakukan hal yang sama. Kebun yang tadinya sepi berubah menjadi kampung dadakan yang dipenuhi cahaya pelita ketika malam tiba.

Kebun kakek tidak hanya diisi oleh pohon durian saja, tetapi juga bermacam-macam pepohonan. Seperti pohon kelapa, pohon kopi, pohon langsat, pohon cempedak, pohon mangga, pohon pisang dan lain-lainnya. Banyaknya pohon buah-buahan tersebut tentu saja tidak terlepas dari kebiasaan kakek yang hobi bercocok tanam.

Ketika menunggu pohon durian, Kakek biasanya hanya ditemani oleh sang Nenek. Namun kali ini sedikit berbeda karena salah satu cucunya ikut menemani mereka. Hal ini tentu saja membuat kakek sangat bahagia, apalagi si cucu juga suka membantu kakek memungut durian.

Setelah makan pagi, diatas pondok sederhana yang beratapkan daun nipah, si kakek meceritakan dongeng kapada cucunya. Dari ekspresi si cucu, terlihat jelas bahwa dia sangat antusias mendengarkan cerita tersebut. Kadang-kadang si cucu tertawa, bergidik dan juga sering bertanya.

Disaat seru-serunya bercerita, terdengar suara durian yang sedang jatuh. Tanpa disuruh lagi, si cucu langsung berlari dan menuju ketempat suara tersebut. Betapa sangat senangnya sang cucu ketika menemukan durian yang berukuran besar. Ia pun lantas mengambilnya dan dan membawanya ke pondok.

"Wah besar sekali duriannya". Ucap pujian si kakek ketika melihat durian yang dibawa cucunya.

"Ia Kek". Timpal si cucunya yang terlihat sangat senang.

"Sekarang pakai jeketmu. Kita akan pergi kekebun diseberang sana". Kakek memerintahkan cucunya agar segera bergegas.

Tanpa banyak tanya, si cucu langsung mengambil jeketnya dan mengikuti langkah si kakek. Kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya tibalah mereka ditempat tujuan. Kakek pun meletakkan cangkulnya beserta karung yang dibawanya.

Kebun yang satu ini berbeda jauh dengan kebun yang sebelumnya. Jika kebun sebelumnya banyak tanaman yang tumbuh disana, kali ini hanyalah pohon kelapa yang masih belum berbuah. Selain itu ada juga pohon pisang dan selebihnya hanyalah semak belukar. Sejatinya, kebun ini baru dibeli kakek sekitar lima tahun yang lalu.

Si kakek pun mengambil cangkul dan membuat bedengan bundar. Meskipun tidak sekuat dulu lagi, namun kakek tetap bersemangat. Setelah bedengan jadi barulah ia menyuruh si cucu untuk mengambilkan karung yang dibawa tadi.

"Kau bantu kakek menanamnya". Dengan tersenyum, kakek menujukkan beberapa bibit kepada cucunya.

Tanpa disuruh dua kali, si cucu sudah bergerak untuk menanam bibit tersebut. Betapa senangnya ia, bisa menanam pohon durian yang merupakan salah satu buah favorit. Ini merupakan liburan yang sangat menyenangkan baginya.

Setelah selesai menanam, si kakek mengajak cucunya untuk istirahat dibawah pohon kelapa.

"Kek". Tegur si cucu yang sedang memainkan ranting.

"Ia cucuku". Sahut kakek dengan senyuman yang selalu mengembang dibibirnya.

"Emangnya seberapa cepat pohon durian ini akan berbuah kek" Tanya si cucu yang saat itu penasaran.

"Cepat atau lambatnya itu tergantung jenis bibitnya. Bibit yang kita tanam ini pada umumnya akan berbuah setelah 15 tahun keatas". Jelas kakek kepada cucunya yang haus akan pengetahuan.

Mendengarkan penjelasan tersebut, si cucu merasa terkejut. 'Lama juga' pikir si cucu dalam hati. Ia pun kemudian bertanya lagi kepada si kakek.

"Kakek kan sudah tua. Tapi kenapa mau menanam pohon durian yang baru bisa dirasakan dalam waktu yang lama. Atau kenapa tidak menanam yang lain saja, seperti sayuran yang bisa cepat dipanen?" . Tanya si cucu dengan polosnya.

Mendengarkan pertanyaaan si cucu, si kakek langsung tertawa. Entah kalimat apa yang dinilainya merasa lucu. Kakek pun bergerak mendekati sang cucu, lalu  duduk dan menepuk pelan bahu si cucu.

"Cucuku". Kata si kakek sambil memandang lamat-lamat wajah cucunya. "Mungkin pohon durian yang kita tanam barusan tadi tidak akan pernah kakek rasakan hasilnya. Namun kakek yakin, rasa nikmatnya buah durian tersebut akan dirasakan oleh anak cucu kakek kelak. Itu sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa pada kakek. Menanamlah sebanyaknya cucuku! Karena meskipun pohon yang ditanam mati, ia tidak akan meminta untuk dikafani". Jelas kakek dengan cukup panjang.

Si cucu selalu antusias ketika mendengarkan penjelasan si kakek. Apalagi kakek memang sangat jago dalam bercerita.

"Cucuku". Sekali lagi kakek memandang lamat-lamat wajah cucunya. " Pohon durian ini kakek tanam agar anak cucu kakek juga bisa merasakan bagaimana serunya menjaga pohon durian. Seperti yang kau rasakan saat ini, makan dan bermalam disebuah pondok yang sederhana. Selain itu, kakek tidak ingin jika suatu saat diantara kalian ada yang menjadi pencuri durian dikebun orang, hanya karena tidak memiliki pohon durian". Jelas kakek yang diakhiri dengan suara tawa.

Setelah bercerita cukup panjang, akhirnya si kakek dan cucunya pulang ke pondok durian mereka.

Saturday, January 5, 2019

Hal Unik Di RSUD Kota Pontianak

Banyak hal unik yang biasanya terjadi disekitar kita. Baik itu dari alamnya, tingkah laku masyarakatnya ataupun yang lainnya. Seperti yang satu ini, merupakan pengalaman unik saya ketika membawa orang tua untuk berobat di RSUD Kota Pontianak.

Saat itu hari masih gelap dan ibadah sholat subuh baru saja selesai dilaksanakn. Hembusan angin yang menerpa kulit membuat badan terasa semakin dingin. Motor saya melaju kencang diantara lengangnya jalan. Tak banyak yang melintasi jalan disaat subuh hari. Yang sering terlihat hanyalah pedagang sayur yang mengambil dagangannya di Pasar Flamboyan (pasar induk).

Ini adalah yang kedua kalinya saya membawa Bapak untuk berobat di RSUD Kota Pontianak. Kali ini Bapak tidak ingin seperti 2 minggu yang lalu, mendapatkan nomor antrian yang tinggi dan pulang disaat waktu maghrib. Selain itu Bapak juga tidak ingin terkena macet dan terburu-buru ketika menuju rumah sakit.

Kami tiba dirumah sakit sekitar pukul 05.40 WIB. Saya pikir kamilah orang yang pertama sampai kesana. Ternyata dugaan itu salah. Diteras rumah sakit sudah cukup ramai oleh pasien yang akan berobat. Mereka terlihat berdiri didepan pintu dan duduk dianak tangga.

"Ayo barangnya simpan disitu". Sahut salah satu orang yang ada disitu. Entah dia sebagai pasien atau membawa keluarganya yang sakit.

'Barang apa yang mau disimpan?'. Tanya saya dalam hati. Bukannya helm sudah disompan diatas motor. Atau mungkin air mineral untuk dijampi-jampi? Tapi ini kan rumah sakit bukan tempatnya Mbah  Dukun. Hehe.

Setelah semakin dekat, saya baru tahu apa yang dimaksud oleh orang tadi. Ternyata 'barang' yang dimaksud adalah sebuah benda (berbentuk apa saja) yang diletakkan didepan pintu rumah sakit. Barang tersebut sebagai bukti siapa yang datang paling awal. Semakin awal anda tiba, maka posisinya akan semakin didepan. 


Berbagai jenis barang berbaris rapi, layaknya anak pramuka yang sedang latihan baris-berbaris. Mulai dari botol obat, botol minuman, batu, tas belanja sayuran, topi hingga surat undangan dari sang mantan. Ia, serius! Undangan dari sang mantan, tapi mantannya orang lain. Barisan ini akan selalu menerima anggota baru hingga pintu rumah sakit dibuka.

Salah seorang pasien mengaku Ia datang ke RSUD Kota Pontianak saat pukul 04.00 WIB Semua dilakukannya untuk mendapatkan nomor antrian yang lebih awal. Bahkan ada yang datang pukul 02.00 WIB hanya sekedar untuk meletakkan barang sebagai bukti yang lebih awal. Setelah itu, barulah Ia pulang dulu kerumah dan akan kembali lagi disaat pintu rumah sakit akan dibuka. Mantul, mantap betul.

Hal unik yang dilakukan diatas tentu saja bertujuan untuk menghindari keributan dan saling desakan ketika pintu rumah sakit dibuka. Selain itu, pasien yang datang lebih awal juga bisa duduk-duduk santai tanpa merasa khawatir posisinya akan diambil oleh orang lain.

Setelah pintu rumah sakit dibuka, barulah satu persatu pasien akan mengambil barangnya dan masuk untuk mengambil nomor antrian yang sesungguhnya.