Monday, May 14, 2018

Berbagai Pilihan di Bebek Boedjang Pontianak

Berbagai Pilihan di Bebek Boedjang Pontianak. Bagi sebagian orang mungkin menikmati menu bebek sedikit kurang diminati. Namun tidak dipungkiri juga, sebagian orang banyak juga yang mencintai kuliner dengan sajian utama dari daging bebek. Semua tentunya tergantung dengan selera dan persepsi yang ada dipikiran masing-masing konsumen.

Mencari tempat makan dengan menyajikan menu khas bebek di Kota Pontianak tentunya tidak sulit. Tinggal keluar dan jalan-jalan saja maka anda akan menemukannya. Sebut saja salah satunya adalah Bebek Boedjang yang terletak di Jalan Johan Idrus (Jalan Sumatra).

Lokasi yang strategis membuat tempat makan yang satu ini selalu ramai dikunjungi. Restoran yang didominasi oleh warna kuning ini tentunya juga menyajikan berbagai pilihan menu bebek yang siap menggoyang lidah para penikmatnya. Setiap menu juga memiliki dua varian. Tinggal dipilih saja mau yang digoreng atau yang dibakar.

Selain manyajikan menu bebek, disini juga menyajikan berbagai menu yang lainnya. Seperti ayam, burung, ikan, udang dan cumi. Jadi sangat cocoklah untuk kumpul bareng teman yang memiliki beragam selera.

Bebek Boedjang Pontianak

"Menu spesial disini ada lebel bintang didaftar menunya Bang". Sahut pelayannya ketika diantara kami menanyakan menu yang recomended.

Tak perlu waktu lama, kami pun memilih bebek bakar kacang, bebek bakar rica dan bebek belur. Untuk harga menurut saya disini lebih sedikit murah dibandingkan dengan tempat lainnya yang pernah saya datangi.

Salah satu yang menjadi nilai plus restoran Bebek Boedjang adalah lokasinya yang luas. Sehingga tidak perlu khawatir jika datang disini tidak kebagian tempat atau desak-desakan dengan pengunjung yang lainnya. Untuk lokasi tempat duduk tinggal dipilih saja, mau yang menggunakan kursi atau duduk lesehan diatas lantai. Atau mungkin kepinginnya sambil baring diatas kasur? Jika begitu pesanannya harus dibungkus terlebih dahulu dan lansung dibawa pulang kerumah. Hehehe.

Belum lama kami ngobrol, makanan yang kami pesan sudah datang dibawa oleh Mbaknya. Seperti ini nih yang kami suka. Pelayanan yang cepat!

Ketika disajikan diatas meja, saya sudah jatuh cinta dengan ukurannya yang besar. Beginilah yang dinamakan pandangan pertama dan dari mata jatuh ke hati. Tidak hanya itu, aroma rempahnya yang wangi juga mengundang selera makan kami.

Setelah difoto, kami pun langsung bergegas menuju  westafel untuk mencuci muka. Eh salah, maksudnya mencuci tangan. Barulah setelah itu kami menikmati hidangan yang sudah ada didepan mata. Tapi jangan lupa baca do'a dulu biar makanan yang masuk kedalam perut menjadi lebih berkah. 

Untuk menilai makanan secara spesifik tentunya saya kurang mengerti. Tapi setidaknya saya bisa membedakan mana makanan yang enak dan mana makanan yang tidak enak. Dan makanan yang sedang kami santap ini memang recomended untuk anda yang sedang berburu kuliner bebek di Kota Pontianak.

Bebek Bakar Kacang. IDR 31.5 K
Setiap menu bebek yang disajikan tentunya memiliki citarasa yang tersendiri. Seperti menu Bebek Bakar Kacang yang ditaburi potongan kacang sehingga ketika disantap akan terasa kriuk-kriuknya. Untuk tekstur daging bebeknya jangan ditanya lagi, pastinya empuk dan bumbunya juga menyerap hingga kedalam.

Bebek Bakar Rica. IDR 30 K
Tampilan menu Bebek Bakar Rica mirip dengan bebek bakar pada umumnya. Yang membedakan hanya dari rasanya saja yang terasa sedikit pedas.

Bebek Belur. IDR 28.7 K
Untuk yang suka rasa pedas, saya menyarankan untuk mencoba menu yang satu ini, Bebek Belur. Tampilan yang menyerupai ayam geprek ini siap menantang anda yang penikmat rasa pedas.

Cah Kangkung Seafood. IDR 15 K
Cah kangkung seafood terdiri dari potongan cabe besar, tomat, udang dan cumi. Rasanya yang  nikmat sangat cocok untuk menemani sajian menu bebek.

Setelah menikmati makanan yang pedas, rasanya kurang lengkap jika tidak meminum minuman yang segar. Untuk itu saya menyarankan jika berkunjung ke Bebek Boedjang Pontianak cobalah juga Es Mangga Bujang dan Es Lidah Buaya.

Es Mangga Bujang. IDR 12 K     Es Lidah Buaya. IDR 8 K
Es Mangga Bujang adalah minuman buah mangga yang dicampur dengan susu. Yang membuat minuman ini semakin nikmat adalah adanya potongan-potongan buah mangga dan nata de coco didalamnya. Minuman yang selanjutnya adalah Es Lidah Buaya yang merupakan minuman khas Kota Pontianak. Minuman ini disajikan dengan biji selasih yang memiliki manfaat untuk kesehatan.

Saturday, May 5, 2018

Misteri Rumah Peninggalan Belanda di Bukit Peniraman

"Eh, udah sore dah ni, nanti-nanti lah". Jawab Mastur ketika kami mengajaknya untuk mampir di rumah peninggalan Belanda. 

Setelah berunding sedikit lama, akhirnya ia mengiyakan. Motor yang tadinya berjalan beriringan, sekarang kembali berderetan membentuk formasi antri. 

Tidak lama kemudian, motor kami pun memasuki sebuah jalan yang tidak lain adalah menuju ke sebuah bukit tempat rumah peninggalan Belanda berada. Dari arah jalan raya yang kami lewati sebelumnya, bisa terlihat bagaimana separuh dari bukit tersebut sudah dikeruk untuk diambil tanahnya. Sudah dapat dipastikan bahwa keberadaan tempat bersejarah ini tidak dilindungi alias terancam hilang.

Sebelum mendaki bukit, Mastur terlebih dahulu mengajak kami untuk mendatangi rumah penduduk yang ada di kaki bukit. Rumah penduduk di kaki bukit ini pun tidak terlalu banyak, kurang lebih hanya terdapat lima rumah. Adapun tujuan kunjungan tersebut adalah bermaksud untuk meminta izin kepada penduduk setempat bahwa kami akan mendaki bukit yang ada diatas sana.

Setelah mendapatkan izin dari penduduk setempat, kami pun bersiap-siap untuk melakukan pendakian keatas bukit.

"Aku tadak ikot. Kitak jak yang naek ke atas ie". Kata Mastur ketika kami telah bersiap-siap untuk naik keatas.

"Macam mane pulak tadak ikot, yang tau kan ente?" Tanya teman yang lain.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap naik keatas, meskipun diantara kami yang akan naik belum ada yang pernah datang kesini. Yang tahu betul letak rumah peninggalan Belanda adalah Mastur, karena dia berasal dari daerah ini dan sebelumnya juga pernah datang ke tempat tersebut. Dari raut wajahnya saya dapat menebak, ada sesuatu hal yang disembunyikan atau ditakuti diatas sana.

Kami pun mulai melakukan pendakian. Diawal pendakian memang terasa mudah karena telah tersedia anak tangga. Tapi anak tangga tersebut hanya sampai di Pekong, tempat ibadah umat Khonghucu. Untuk pendakian selanjutnya kami harus melalui jalan setapak yang menanjak. Berjalan dilereng bukit ini juga harus hati-hati, karena sebagiann badan bukit sudah dikeruk untuk diambil tanahnya.

Belum sampai ditempat tujuan, kami sudah dikagetkan dengan sesuatu hal yang aneh. Tiba-tiba angin kencang datang dari arah laut. Hal ini tentu saja membuat pohon-pohon yang ada disekitar bukit bergoyang dan seakan-akan ingin merebahkan batangnya. Kami pun menghentikan sejenak pendakian, mencari tempat yang  lapang untuk menghindari pohon yang misalkan saja tiba-tiba tumbang. 

Pendakian dilanjutkan kembali setelah angin mulai redah. Di ufuk barat terlihat matahari yang mulai semakin condong. Jalan yang sebelumnya berjalur sekarang sudah hilang karena sudah banyak ditumbuhi oleh rumput liar. Sesekali kami harus menerobos semak belukar ketika tidak ada jalan yang harus dilalui.

Setelah cukup lama mendaki, akhirnya kami sampai di puncak bukit. Lokasi beradanya rumah peninggalan Belanda. Ekspresi kami ketika tiba  disini adalah bahagia yang dibalut kesedihan. Bahagia ketika kami bisa sampai diatas puncak, dan sedih ketika melihat tempat bersejarah ditelantarkan.

Dari atas puncak bukit kami bisah melihat bagaimana panorama alam yang ada disekitar Desa Peniram. Mulai dari hamparan sawah yang hijau, deretan pohon kelapa yang berbaris rapi dan bentangan laut yang luas sejauh mata memandang. Dari sinilah saya mulai tahu, kenapa orang Belanda memilih disini sebagai tempat tinggalnya. Selain dikarenakan keindahannya, namun diatas sini juga mudah untuk memantau setiap kapal yang berlayar.

Kondisi rumah Belanda yang sekarang berbeda jauh dengan apa yang diceritakan oleh kakakku. Dulu rumah ini sangat terawat, sampai akhirnya ditinggalkan oleh penjaganya. Sekarang rumah bersejarah ini terlihat sedikit mengerikan dan banyak dikerumuni tumbuhan liar. Padahal desain rumah ini sangat menarik dan memiliki nilai artistik yang tinggi. Mulai dari bentuknya yang klasik hingga atapnya yang masih menggunakan atap sirap atau atap yang terbuat dari kayu ulin. Seandainya saja rumah ini masih dijaga, pastinya akan menjadi salah satu daya tarik wisata yang ada di Kabupaten Mempawah. Ah sudahlah.

Sebelum memasuki rumah tersebut, hal yang terlebih dahulu kami lakukan adalah melihat sekitar rumah. Meskipun sudah lama ditinggalkan oleh penjaganya, namun dihalaman kiri rumah tidak dipenuhi oleh semak belukar. Sesuatu yang aneh melihat halaman lapang ditempat yang sudah jarang didatangi. Tanpa menunggu lama kami pun mengeluarkan handphone untuk mengabadikan momen ketika berada disini.

Setelah puas berfoto, barulah kami memasuki bagian dalam rumah. Mesti sedikit ekstra hati-hati, karena papan yang diinjak sudah banyak yang lapuk dimakan usia. Baru diambang pintu, kami sudah bisa melihat secara keseluruhan isi diruang tengah rumah ini. Sampah plastik dan daun-daun kering yang masuk dari atap yang bolong terlihat berserakan diatas lantai. Hal yang sempat membuat kami ngeri adalah ketika melihat sebuah boneka tergantung diatas langit-langit rumah. Bonekanya bukan berbentuk kucing atau binatang lainnya, melainkan menyerupai manusia (anak-anak perempuan). Siapa pula yang membawa boneka dan menggantungnya disini?

Belum sempat kami memotret isi ruangan, tiba-tiba sebuah plastik hitam terseret dari ruangan sebelah kiri menuju ke ruangan yang ada disebelah kanan. Seperti ada seseorang yang manariknya. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung berlarian keluar dan meninggalkan rumah tersebut. Tidak perduli jalan yang kami lalui menurun dan memiliki jurang. Pikiran kami hanya satu, yaitu harus segera pergi dari tempat ini. Setelah setengah perjalanan, barulah kami menghentikan pelarian tersebut. Niat semula yang ingin melihat semua ruangan, menjadi batal gara-gara kejadian ini.

Rumah Belanda
Keadaan Rumah Belanda yang Banyak Dikerumun Tumbuhan Liar

Bagian Halaman Kiri Rumah Belanda

Semuanya Pada Jongkok Ketika Angin Kencang Datang

Kecewa di Wisata Alam Kalibiru

Setelah berwisata ke Candi Borobudur, Perjalanan dilanjutkan kembali menuju salah satu tempat wisata yang ada di Kota Yogyakarta. Tempat wisata yang satu ini menurut teman lagi naik daun dan banyak dibagikan di media Sosial. Tempat tersebut adalah Wisata Alam Kalibiru yang terletak di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Keadaan jalan ketika memasuki area Wisata alam Kalibiru perlahan-lahan mulai berubah. Jika sebelumnya permukaan jalan hanya terasa datar saja, kali ini lebih terasa menanjak dan kadang sering berbelok. Hal ini tentu saja dikarenakan tempat wisata yang akan dituju berada diatas perbukitan, dengan ketinggian mencapai 450 mdpl. Tidak hanya itu, pepohonon disekitar bukit wisata alam Kalibiru juga semakin rapat dan udara yang dirasakan pun terasa sejuk.

Berkat Pak Sopir yang handal, akhirnya kami sampai diatas dengan selamat. Untuk masuk ke kawasan wisata ini, setiap pengunjung akan dikenakan biaya. Harganya pun sangat murah, alias tidak perlu merogoh kocek yang lebih dalam. Setiap pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 3.000.

Tidak ingin membuang waktu lebih lama, kami pun langsung menuju ke spot foto yang berada diatas pohon. Selain berfoto yang kekinian, para pengunjung juga bisa melakukan kegiatan  menarik yang lainnya. Seperti mencoba wahana outbond, melintasi jalur trekking, hingga melakukan camping. Fasilitas lain yang mendukung yaitu pendopo untuk bersantai dan tempat penginapan.

Awal mulanya saya kira penamaan Wisata Kalibiru berawal dari sebuah nama waduk yang ada dibawah. Namun ternyata Kalibiru adalah nama dari sebuah bukit yang saat ini kami naiki, Sementara nama waduk yang ada di dibawah adalah waduk Sermo. Jika ada yang beranggapan seperti itu tentunya wajar saja. Karena setiap foto Wisata Kalibiru yang beredar selalu menampakkan latar belakang Waduk Sermo.

Untuk berfoto diatas menara pandang, tentunya harus membayar terlebih dahulu. Setiap pengunjung yang ingin berfoto diatas sana akan dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000. Hasil foto yang diperolehpun tentunya akan sangat menarik dengan backgroud Waduk Sermo dibelakangnya.

Karena sudah tidak sabar, kami pun langsung menuju ke pihak pengelola untuk mendaftarkan diri.

"Maaf Mas, apakah ingin menunggu?" Tanya pihak pengelola kepada kami.

"Berapa lama Pak waktunya kami harus menungggu?" Tanya balik kami kepada pihak pengelola.

"Sekarang masih banyak yang antri Mas. Kalau ingin menunggu, mungkin gilirannya sekitar jam lima lewat". Pihak pengelola menjawab dengan gaya bicara yang lembut dan sopan.

Tanpa pikir panjang, kami pun izin pamit dengan pihak pengelola. Bagaimana mungkin bisa menunggu, sedangkan kami masih memiliki daftar tempat wisata yang harus dikunjungi.

Setelah cukup jauh dari pihak pengelola, kami semua berunding kembali. Apakah harus berada disini hingga sore, atau melanjutkan perjalanan yang berikutnya. Hasil dari perundingan tersebut adalah kami harus tetap dengan perencanaan awal. Yaitu mendatangi hutan Pinus dan Gumuk Pasir.

Ketika hal yang diinginkan tidak tercapai, tentunya akan timbul rasa kecewa. Begitulah yang kami rasakan. Kami hanya bisa befoto dengan background menara pandang, bukan diatas menara pandang. Tapi setidaknya kami bersyukur, karena telah diberi kesempatan untuk bisa datang disini. Semoga dilain kesempatan bisa mampir kesini lagi dan berfoto diatas menara pandang.


Wisata Alam Kalibiru
Aksi Nekat Ketika Gagal Berfoto Diatas Menara Pandang

Lagi kompromi

Jangan Sedih Mbak, Nanti Datang Lagi Kesini

Berfoto dengan Background Menara Pandang, Bukan Berfoto Diatas Menara Pandang

Pengunjung yang Lain, Bukan Kami

Thursday, April 19, 2018

Candi Borobudur, Candi Buddha Termegah Di Dunia

Semua orang pastinya memiliki sebuah impian. Begitu pula dengan Si penulis, yang masa kecilnya berkeinginan mendatangi Candi Borobudur. Sebuah situs yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia dan masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia.

Beranjak dari Kota Yogyakarta, perjalanan kami menuju Candi Borobudur dimulai. Candi Borobudur terletak di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Jarak yang ditempuh sekitar 42,5 km dan waktu yang dihabiskan didalam perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit.

 Candi Borobudur, Candi Buddha Termegah di Dunia

Candi Borobudur merupakan candi yang bercorak Budha dan memiliki ukuran yang paling megah didunia. Bagaimana? Kerenkan? Candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 780-840 M dimasa dinasti Sailendra. Karena bentuknya yang megah dan arsitekturnya yang unik membuat tempat ini selalu menjadi perhatian menarik bagi wisatawan lokal maupun dari luar negeri.

Candi Borobudur sebelumnya sempat lama hilang atau ditinggalkan oleh penduduknya. Barulah pada tahun 1814, warisan budaya Indonesia yang megah ini berhasil ditemukan kembali oleh HC. Cornelius atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles. Saat ditemukan, kondisi Candi Borobudur sangat menyedihkan karena sudah terlihat layaknya bukit akibat ditimbun oleh debu vulkanik dan ditumbuhi pepohonan. Barulah setelah itu dilakukan pembersihan dan pembugaran secara besar-besaran.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang melaju diatas jalan raya telah tiba di Candi Borobudur. Setelah selesai memarkir mobil, kami pun menuju pintu masuk sekaligus tempat pembelian tiket. Pemandangan pertama yang disaksikan ketika tiba disini adalah antrian para pengunjung yang panjang sehingga membutuhkan waktu untuk masuk kedalam. Tapi tenang saja, waktu yang digunakan untuk mengantri akan terbalas dengan menyaksikan keindahan dan kemegahan Candi Borobudur.

Pengunjung yang Terlihat Sedang Mengantri Untuk Masuk

Lalu kenapa candi ini dinamakan Candi Borobudur? Menurut Mbah Google yang saya baca diinternet, banyak pendapat yang menyatakan asal usul penamaan Candi Borobudur. Salah satunya adalah berasal dari bahasa sansekerta yaitu 'bara' yang berarti komplek candi atau biara dan kata 'beduhur' yang berarti tinggi. Selain itu, pendapat lain mengatakan bahwa Candi Borobudur berasal dari kata 'para Buddha' yang mengalami pergeseran penyebutan sehingga menjadi 'borobudur'. Namun yang pastinya, penyebutan nama Borobudur pertamakali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Stamford Raffles.


Memiliki jalur masuk yang cukup banyak, membuat antrian setidaknya akan lebih cepat. Selanjutnya kami langsung menuju tempat lokasi Candi Borobudur berada. Dari kejauhan terlihat bagaimana keindahan dan kemegahan yang diperlihatkan oleh Candi Borobudur. Sebuah situs sejarah yang selalu dipelajari dalam mata pelajaran IPS dan pusat tujuan wisata di dunia.

Karena merupakan tempat wisata, tentunya disekitar lokasi ini banyak yang menawarkan jasa. Seperti sewa payung untuk para pengunjung yang tidak tahan akan teriknya sinar matahari. Selain itu ada juga yang menawarkan jasa pemotretan dengan foto yang langsung jadi ditemat.

Namun jika anda memiliki kamera sendiri, tidak ada salahnya minta difotokan sama para pengunjung lainnya. Tidak perlu sungkan, karena orang Indonesia itu baik-baik dan terkenal suka menolong. Atau ingin seperti yang kami lakukan. Pertama-tama kami menawarkan bantuan kepada para pengunjung yang ingin foto rame-rame, baru kemudian giliran kami yang meminta tolong pada pengunjung tersebut. Bukan maksudnya mengharapkan balasan, namun hanya sekedar menerapkan simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan. Hehehe.

Hasil Dari Simbiosis Mutualisme

Setelah simbiosis mutualisme terlaksana, kami pun mulai menaiki tangga Candi Borobudur. Dari sini terlihat dengan jelas apa saja sebenarnya yang ada didalam. Candi Borobudur memiliki 9 teras berundak, 6 teras pertama memiliki bentuk persegi layaknya sebuah lorong atau jalan kecil. Sedangkan tiga yang lainnya memiliki bentuk  melingkar dan terdapat diatas bangunan.

Sebuah Teras yang Berbentuk Persegi Dengan Pesona Relief di Dinding Batu

Terlihat Arca Buddha dan Relief di Dinding

Hal yang sangat menarik adalah ketika melihat relief yang ada di dinding Candi Borobudur. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa mahirnya para pengukir pada saat itu. Relief tersebut menceritakan tentang Ramayana dan bagaimana kehidupan masyarakat setempat pada saat itu. Untuk membacanya pun memiliki teknik sendiri, yaitu dimulai dengan arah kiri atau mengikuti arah putaran jam. Setidaknya terdapat 1460 relief yang terukir diatas dinding batu yang keras ini.

Tidak hanya keindahan relief, di Candi Borobudur juga terdapat stupa yang semakin menambah kesan keindahan. Jumlah stupa di Candi Borobudur sebanyak 72 buah. Stupa adalah bangunan yang memiliki bentuk seperti lonceng atau bangunan setengah lingkaran. Stupa terbesar berada diatas, sedangkan stupa yang lain mengelilinginya. Selain itu terdapat juga Arca Buddha yang berjumlah sebanyak 504 buah. Arca Buddha tersebut duduk bersila dengan posisi tangan berbentuk mudra atau sikap tangan simbolis umat Buddha.

Bentuk Stupa Yang Ada di Candi Borobudur
Terlihat Stupa yang Mengelilingi Stupa Utama di Puncak Candi Borobudur

Setelah puas menyusuri lorong dan melihat relief, akhirnya tangga yang kami naiki sudah mencapai posisi teratas. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa puncak dari Candi Borobudur adalah berupa stupa yang berukuran besar. Dari atas sini, para pengunjung akan lebih bebas melihat bagaimana keadaan disekitar Candi Borobudur dan pemandangan pegunungan yang mengelilinginya. Tidak jauh dari Candi Borobudur juga terdapat candi lainnya seperti Candi Mendut dan Candi Pawon.

Puncak Dari Candi Borobudur

Ketika berada diarea keluar Candi Borobudur, pengunjung akan menjumpai sebuah tempat yang layaknya sebuah kampung. Sebuah kampung yang dipenuhi oleh para pedagang yang menawarkan oleh-oleh. Mulai dari pakaian, aksesoris, patung-patung, lukisan, dan berbagai gantungan kunci yang tentunya memiliki bentuk Candi Borobudur. Untuk harga, menurut saya disinilah yang paling murah. Bagaiman? Tertarik untuk datang ke candi Buddha termegah di dunia?

Sunday, April 15, 2018

7 Cara Menikmati Keindahan Sungai Kapuas

7 cara menikmati keindahan Sungai Kapuas. Sungai memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya bermanfaat sebagai sumber air bersih, namun sungai sejak lama juga telah digunakan sebagai jalur transportasi. Manfaat sungai yang lainnya adalah sebagai tempat hidup ikan yang menjadi makanan bagi manusia, sumber air untuk pertanian, hingga difungsikan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Bahkan tidak sedikit juga suatu daerah yang menjadikan sungainya sebagai ikon wisata atau tempat rekreasi.

Di Indonesia, keberadaan sungai tentunya sangat mudah untuk dijumpai. Seperti di Pulau Sumatera akan dijumpai Sungai Kampar, Sungai Deli dan Sungai Musi. Di Pulau Jawa akan dijumpai Sungai Bengawan Solo, Sungai Brantas dan Sungai Citarum. Di Pulau Kalimantan akan dijumpai Sungai Kapuas, Sungai Mahakam dan Sungai Barito. Sedangkan di Pulau Sulawesi akan dijumpai Sungai Lariang, Sungai Saddang  dan Sungai Bila.

Sumber: WinNetNews.com

Dari sekian banyak sungai yang ada di Indonesia, Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas berada di Provinsi Kalimantan Barat yang mengalir dari Kabupaten Kapuas Hulu hingga melewati Kota Pontianak. Panjang Sungai Kapuas mencapai 1.143 km dan lebar yang mencapai 70-150 meter.

Lalu kenapa dinamakan Sungai Kapuas? Asal mula nama Sungai Kapuas diambil dari nama daerah yang ada di bagian hulu sungai, yaitu Kapuas. Nama lain dari Sungai Kapuas adalah Sungai Batang Lawai. Penyebutan nama tersebut bermula dari Kesultanan Banjar yang mengacu pada sebuah daerah yaitu Lawie atau Lawai yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Melawi.

Jika berkunjung ke Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak tentunya akan kurang lengkap jika tidak mampir ke Sungai Kapuas. Berikut 6 hal yang bisa dilakukan pengunjung untuk menikmati keindahan Sungai Kapuas.

1. Bermain Kano


Sumber: Tribunnews.com
Menikmati keindahan Sungai Kapuas tidak hanya dilakukan dipinggiran sungai saja, namun juga dilakukan dengan mengarungi sungai itu sendiri. Sesekali cobalah untuk merasakan bagaimana rasanya mandi disungai terpanjang se Indonesia. Tenang... sungainya dijamin aman. Tidak ada ular piton seperti yang sering diilustrasikan di film-fim.

Jika menginginkan sesuatu yang lebih, disini juga tesedia kano yang bisa disewa oleh pengunjung. Dengan menggunakan kano, pengunjung bisa menyeberangi Sungai Kapuas dengan mendayung sambil melihat keindahan rumah panggung yang berbaris. Tanpa disadari, pengunjung yang bermain kano juga telah melakukan olahraga air. Lumayan untuk kebugaran tubuh.

2. Menyaksikan Sunset


Sumber: hiveminer.com
Menyaksikan sunset merupakan salah satu aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung ketika bersantai dipinggiran Sungai Kapuas. Transportasi air yang hilir mudik, barisan rumah panggung dipinggiran sungai serta layang-layang dilangit khatulistiwa menambah kesan yang menawan ketika senja tiba.

3. Menyusuri Sungai Kapuas dengan Kapal Bandong


Sumber: planetborneo.com
Ada yang tau apa itu kapal Bandong? Jika belum tahu ayo langsung saja datang ke Kota Pontianak. Kapal Bandong merupakan transportasi air tradisional khas Kalimantan Barat yang tebuat dari kayu. Yang membedakannya dengan kapal yang lain adalah bentuknya yang menyerupai rumah. Atas dasar itulah banyak juga yang menyebutnya sebagai rumah terapung.

Ketika bertandang ke Kota Pontianak, maka sangat disarankan untuk mencoba kapal ini. Kapal Bandong yang berbentuk rumah ini akan membawa para pengunjung menyusuri Sungai Kapuas dengan menyaksikan bagaimana aktivitas masyarakat dipinggiran sungai. Selain itu, rute kapal ini juga akan melalui beberapa tempat bersejarah di Kota Pontianak. Seperti Keraton Kadariah dan Masjid Jami' yang merupakan masjid tertua di Kota Pontianak. Tidak hanya disiang hari, kapal bandong ini juga beroperasi dimalam hari. 

4. Berjalan Santai Diatas Geretak

Sumber: socimage.net
Menyebut nama geretak tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Pontianak. Geretak sejatinya adalah sebutan untuk jembatan yang umumnya terbuat dari kayu. Dipinggiran Sungai Kapuas Pontianak, geretak ini menjadi penghubung antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya. Ketika berjalan diatas geretak maka akan terdengar suara 'tak tak tak', dan dari suara itulah konon katanya asal muLA kata 'geretak'.

Bagi anda yang senang berjalan kaki, tidak ada salahnya untuk mencoba diarea kawasan geretak ini. Geratak ini tentunya sangat kokoh, karena terbuat dari kayu belian yang jika terendam air akan semakin awet. 

5. Bersantai di taman alun-alun kapuas

Sumber: klikwisatamenarik.blogspot.co.id
Salah satu tempat yang menjadi favorit untuk menikmati keindahan Sungai Kapuas adalah Taman Alun-Alun Kapuas. Selain menikmati udara yang segar, disini juga merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan aktifitas dipersimpangan tiga sungai (Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak). Ketiga sungai inilah yang menjadi bagian dari lambang Kota Pontianak.

View lainnya yang bisa disaksikan disini adalah bangunan-bangunan tua, penyebarangan kapal feri, transportasi air tradisional yang berlalu-lalang, hingga penjual makanan dan minuman yang berjualan diatas perahu.

6. Bersantap Kuliner di Pinggiran Sungai Kapuas


Sumber: Sitimustiani.com
Rasanya kurang lengkap jika mengunjungi suatu daerah tanpa menikmati makanan khasnya. Kalau menurut Mbak Inul itu bagai sayur tanpa garam, kurang enak, kurang sedap. Hualah, teringat artis dangdut jadinya.

Jika anda senang kuliner sambil menikmati angin sepoi-sepoi, maka disinilah tempat yang pas untuk anda. Yaitu mencicipi makanan di kafe-kafe yang ada dipinggiran Sungai Kapuas. Kafe yang ada dipinggiran Sungai Kapuas tentunya sangat menarik, karena rata-rata posisinya terapung diatas sungai.

7. Menyaksikan meriam karbit


Sumber: pontianakpost.co.id
Meriam karbit merupakan salah satu ikon wisata Kota Pontianak. Permainan rakyat yang satu ini tentunya tidak dilakukan setiap hari, melainkan hanya dibulan puasa hingga hari raya idul fitri. Tidak hanya sekedar permainan, meriam karbit juga menyiratkan bagaimana sejarah awal berdirinya Kota Pontianak.

Dipisahkan oleh Sungai Kapuas, masing-masing kubu akan menunjukkan dentuman suara meriamnya yang menggelegar. Meriam yang digunakan pun bukanlah terbuat dari pipa logam, melainkan dari pohon kayu pilihan dengan diameter yang mencapai 60 cm. Bagaimana? Menarik untuk menyaksikannya? Ayo datang ke sungai terpanjang se Indonesia.

Monday, April 2, 2018

Pesona Kulminasi Matahari Di Kota Pontianak


Pesona Kulminasi Matahari di Kota Pontianak. Kota Pontianak merupakan ibu kota Kalimantan Barat. Kota yang dilalui oleh sungai terpanjang di indonesia ini, tidak hanya terkenal akan cerita mistisnya saja, namun juga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa dikarenakan Kota Pontianak dilalui oleh garis khatulistiwa yang memisahkan antara belahan bumi bagian selatan dan belahan bumi bagian utara. Tidak heran jika cuaca di Kota Pontianak akan terasa lebih panas dibandingkan dengan daerah yang lainnya.

Karena merupakan Kota Khatulistiwa, disebelah utara Kota Pontianak telah berdiri sebuah Tugu Khatulistiwa. Pendirian tugu tersebut pertama kali dilakukan oleh alhi geografi berkebangsaan Belanda pada tahun 1928 untuk menentukan titik 0 equator atau garis khatulistiwa. Semulanya simbol tersebut hanya berupa toggak dan anak panah, kemudian pada tahun 1930 disempurnakan dengan menambahkan lingkaran.

Dilalui oleh garis khatulistiwa, menjadikan Kota Pontianak sangat menarik untuk dikunjungi. Karena letaknya yang tepat digaris khatulistiwa itulah bererapa fenomena alam yang unik terjadi.  Salah satu fenomena alam yang bisa disaksikan adalah terjadinya kulminasi matahari. Lalu, apakah sebenarnya kulminasi matahari itu?

Kulminasi matahari adalah dimana posisi matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itulah matahari akan berada tepat diatas kepala dan akan menghilangkan semua bayangan yang ada disekitarnya dalam beberapa detik. Peristiwa kulminasi matahari terjadi sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Untuk waktunya berada diantara pukul 11.49-11.50 WIB.

Untuk meperkenalkan fenomena alam yang sangat menarik tersebut, pemerintah Kota Pontianak selalu mengadakan even untuk merayakannya. Perayaan tersebut dikemas sedemikian menariknya dengan menyajikan berbagai pertunjukan kesenian. Perayaan kulminasi matahari tersebut tidak hanya berhasil  menarik perhatian wisatawan lokal saja, namun juga wisatawan mancanegara.

Meskipun telah lama berada di Kota Pontianak, namun bagi saya mengunjungi Tugu Khatulistiwa disaat perayaan kulminasi matahari adalah pertama kali. Sebelumnya pernah datang, namun bukan disaat yang tepat seperti ini. Sekedar info, kegiatan kulminasi matahari biasanya akan dimulai pada pukul 10.00 wib. Sambil menunggu acara puncaknya (11.45-11.50 wib), pengunjung akan dihibur dengan berbagai pertunjukan kesenian. Seperti tarian dari tiga etnis dari Melayu, Dayak dan Tionghoa.

Jarak dari pusat Kota Pontianak ke Tugu Khatulistiwa tidaklah terlalu jauh, yaitu hanya 12,3 km atau waktu tempuh kurang lebih 26 menit. Itu pun jika melewati jembatan tol yang mengharuskan sedikit memutar. Namun jika menyeberang dengan menggunakan kapal feri tentunya jarak tempuh akan lebih singkat.

Peta Menuju Tugu Khatulistiwa dari arah pusat Kota Pontianak

Berhubung saya datang disaat pukul 12.20, tentunya kejadian kulminasi matahari telah saya lewatkan. Begitu juga tarian multi etnis yang melambangkan keberagaman Kota Pontianak tentunya telah usai. Walaupun begitu, kemeriahan kulminasi matahari dapat saya rasakan dari pertunjukan kesenian yang ditampilkan selanjutnya.

Berikut keseruan yang masih bisa saya rasakan ketika datang disini. 

Payung Warna-Warni
Hal pertama yang menarik perhatian kami ketika memasuki kawasan Tugu Khatulistiwa adalah payung warna-warni. Payung warna-warni tersebut digantung disepanjang kawasan monumen Tugu Khatulistiwa. Hadirnya payung warna-warni tentunya menambah kesan yang sangat menarik ketika mengambil gambar. Tidak heran banyak pengunjung yang mengabadikan momennya diantara payung-payung yang bergantung.

Tidak hanya warna-warni payung saja, namun juga terlihat tudung kepala khas petani Kalbar yang di cat berbagai warna. Tudung kepala tersebut digantung layaknya hiasan dinding. Selain itu terlihat juga manggar yang biasanya selalu hadir di acara pernikahan dan ulang tahun Kota Pontianak.

Terlihat sangat fokus ketika mengambil gambarnya

Terlihat beberapa pengunjung yang mengabadikan momennya ketika datang disini

Robot Kuntilanak
Hal yang juga sangat menarik  adalah hadirnya robot kuntilanak. Robot kuntilanak yang diidentik dengan pakaian putih, berambut panjang dan muka yang mengerikan ini menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk datang. Meskipun memiliki wajah yang seram, mbak Kunti ini tetap banyak dikerumuni oleh para pengunjung untuk dimintai foto bareng.

Jika para remaja dan orang dewasa berebutan untuk berfoto, maka berbeda dengan anak-anak kecil yang ragu-ragu untuk menghampirinya. Hal yang sangat lucu adalah ketika robot kuntilanak tersebut mengejar anak-anak kecil yang sedang lewat atau ingin menghampirinya. Robot ini tentunya dikendalikan oleh pemiliknya melalui remot.

Mbak Kunti diajak foto sama para penggemar

Mbak Kunti lagi main kejar-kejaran sama anak-anak

Pesawat Tanpa Awak 
Walaupun tidak menyaksikannya dari awal, namun kami sempat menonton penerbangan pesawat tanpa awak disaat detik-detik akan diturunkan. Penerbangan pesawat tanpa awak ini tentunya juga menarik perhatian pengunjung yang datang. Diketahui bahwa pesawat tanpa awak tersebut berbahan bakar tenaga surya. Wuih, sangat menarik ini.

Pesawat tanpa awak

Menyaksikan Peragaan Benda Angkasa di Planetarium Mini
Salah satu hal yang juga sangat menarik adalah hadirnya planetarium mini. Planetarium sendiri adalah tempat untuk memperagakan bagaimana susunan bintang-bintang dan pergerakan benda-benda lainnya yang ada diluar angkasa. Meskipun ukuran planetariumnya dalam bentuk mini, tapi setidaknya bisa membuat para pengunjung merasa puas dengan informasi yang diperoleh.

Planetarium tampak dari luar
Awalnya sempat ragu-ragu untuk mendekati area ini. Karena dikira tempat ini hanya dikhususkan untuk anak-anak sekolah. Namun setelah melihat bapak-bapak  juga ada yang ikut mengantri, saya dan teman pun langsung bergegas menghampiri lokasi tersebut. Ternyata planetarium ini terbuka untuk segala usia, walaupun kenyataannya memang banyak dipenuhi anak-anak sekolah. Untuk masuk disini pun kita dikenakan biaya cuma-cuma alias gratis.

Di dalam planetarium mini yang berbentuk kubah ini, pengunjung akan diinstruksikan untuk berbaring. Hal ini dikarenakan agar kita lebih bisa menikmati dan menghindari cidera leher akibat selalu mendongak ke atas. Setelah proyektor dihidupkan, perlahan-lahan kubah yang ada diatas kepala dipenuhi bintang-bintang dan benda luar angkasa yang lainnya. Penanyangan ini semakin menarik ketika seorang narator menjelaskan disetiap perubahan tampilan

Mendirikan Telur
Melihat telur melayang atau terbang itu sudah biasa (tinggal dilempar saja, telurnya sudah terbang). Namun bagaimana jika melihat sebuah telur bisa berdiri? Semua itu bisa dilakukan diarea Tugu Khatulistiwa ini.

Ketika datang ke Tugu Khatulistiwa, tentunya mendirikan telur sudah menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Untuk para pengunjung tentunya tidak perlu repot-repot untuk membawa telur, karena pihak panitia telah menyediakannya. Selamat mencoba...

Telur yang bisa berdiri

Berfoto Bareng Ular
Selain hal diatas, disini juga ada kegiatan yang cukup ekstrim untuk dilakukan. Yaitu berfoto bareng ular dengan ukuran yang lumayan besar. Tapi tenang saja, ular yang didatangkan adalah ular yang baik-baik. Ularnya tidak doyan sama daging manusia, doyannnya cuma sama daging tikus saja. hehehe.

Foto bareng ular secara gratis

Lincahnya Atraksi Barongsai
Hadirnya barongsai juga menambah kemeriahan perayaan kulminasi matahari di Kota Pontianak. Barongsai sendiri merupakan tarian tradisional masyarakat Tionghoa dengan menggunakan kostum yang menyerupai singa. Untuk satu kostum atau satu singa dimainkan oleh dua orang.

Dengan atraksi yang lincah, barongsai tersebut menari-nari layaknya seekor singa. Tidak jarang juga barongsai tersebut tampil dengan atraksi berdiri yang mengundang rasa kagum dan tepuk tangan para penonton. Dan yang lebih seru lagi, ketika barongsai tersebut membagi-bagikan buah jeruk dengan cara melempar melalui mulutnya

Barongsai dan pengiring musik diawal pertunjukkan


Atraksi barongsai yang sedang berdiri

Atraksi Kuda Lumping
Semakin sore, suasana di Tugu Khatulistiwa semakin menyerukan dan ramai didatangi oleh para pengunjung. Pada saat itulah, penampilan dari kuda lumping yang dimainkan oleh para wanita dan lelaki menunjukkan kehebohan pertunjukannya. Tidak heran, jika banyak penonton yang menyaksikannya hingga selesai. Namun sayang, saya tidak bisa mengambil gambar pertunjukkan dikarenak handphone yang sudah mati.

Sumber gambar: delikkalbar.com
Selain menyaksikan keseruan diatas, pengunjung juga bisa bersantai ditepian Sungai Kapuas, menyusuri Sungai Kapuas dengan menggunakan kapal bandong, hingga menyantap kuliner. Disini juga tersedia Musholla yang bisa digunakan umat muslim untuk beribadah.

Thursday, March 29, 2018

Mengenal Budaya Bali Di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park



Masih dengan orang yang sama, Andi, Japo, Galuh, Desi, Dila, dan Mbak Wulan dalam mengeksplor tempat wisata yang ada di Bali. Bersama merekalah setiap langkah dan kejadian diukir dalam sebuah cerita selama berada di sini. Andi, Japo dan Galuh sebelumnya memang merupakan teman sekelas dalam perkuliahan, sedangkan Desi, Dila dan Mbak Wulan baru saya kenal ketika akan dilaksanakannya liburan. Walaupun baru berkenalan...namun perjalanan bersama mereka terasa sangat menyerukan.

Tak kenal maka tak sayang. Mungkin itulah salah satu dari prinsip sebuah perjalanan kami. Meski baru mengenal mereka, namun rasanya sudah seperti berteman semenjak didalam kandungan. Eh, maksudnya waktu Kecil. Mereka semua paling enak jika diajak bicara dan tidak sungkan didalam bergaul. Seperti Desi yang selalu membuat suasana lucu dan kadang juga sering bertingkah konyol, Dila yang selalu menenangkan ketika ada masalah dan Mbak wulan yang udah seperi kakak sendiri karena banyak mengurus segala keperluan selama liburan.

Dari diantara kami semua, hanya Andi yang sudah pernah mengunjungi pulau Dewata ini. Mungkin karena hobinya yang suka jalan-jalan telah membawanya ke beberapa tempat menarik yang ada di Indonesia. Seperti bandung, Malang, Jogja dan lainnya. Meskipun sudah pernah kesini, tetap saja beberapa kali kami kesasar dibuat olehnya. Tapi berkat perjuangan keras dialah, liburan ini bisa terlaksanakan.

Singkat cerita, walaupun sebelumnya sempat kesasar akhirnya perjalanan kami sampai juga di Garuda Wisnu Kencana. Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun langsung menuju sebuah tempat pembelian tiket. Harga tiket yang ditawarkan bervariasi. Untuk wisatawan domestik harganya lebih murah dibandingkan dengan harga tiket wisatawan mancanegara

Sekedar informasi, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park merupakan taman wisata dengan menonjolkan unsur-unsur yang kaya akan kebudayaan Bali. Sehingga Tidak heran jika Garuda Wisnu Kencana  Cultural Park ini  sering disebut sebagai landmark-nya Bali. Terletak di Desa Ungasan, Kabupaten Badung membuat daerah ini sangat mudah untuk dijangkau dari pusat keramaian. Jika anda berkunjung kesini dari Kota Denpasar maka waktu yang diperlukan kurang lebih selama 45 menit. Namun jika datang dari arah Airport Ngurah Rai maka waktu yang digunakan akan lebih cepat yaitu kurang lebih 25 menit.

Pembangunan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park digagas oleh Bapak I Nyoman Nuarta yang memang merupakan salah satu seniman patung yang terkenal di Indonesia. Taman budaya ini memiliki luas kurang lebih 60 hektar dengan objek utamanya adalah patung Wisnu yang sedang menunggangi Garuda. Walaupun ketika kami datang pembuatan patung tersebut belum rampung, namun kemegahan bagian-bagian patung tersebut telah membuat kami berdecak kagum.

GWK terbagi beberapa area. Area pertama yang kami lalui adalah adalah street theater yang merupakan titik awal ketika kami berkunjung ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Disini terdapat stan makanan dan restoran yang akan mengurus masalah kampung tengah. Jadi tidak perlu khawatir akan kelaparan ketika berkunjung disini.

Disebelah kiri street theater terdapat area yang disebut amphiteater. Amphiteater merupakan area yang dikhususkan untuk menampilkan pertunjukkan kesenian. Pertunjukan yang biasanya ditampilkan disini adalah tarian, seperti tari barong dan joget bumbung. Tarian yang ditampilkan tentunya akan membuat para pengunjung terkesima akan kayanya budaya yang dimiliki Bali. Maeskipun kami sempat kecewa karena tidak bisa menyaksikan pertunjukkan Tarian Kecak, namun setidaknya bersyukur bisa menyaksikan tarian yang lainnya. Untuk anda yang ingin menyaksikan tarian Kecak disini, saya sarankan datang pada waktu sore hari. Karena pertujukkan tersebut biasanya dilaksanakan pada waktu menjelang malam.



Area selanjutnya yang kami susuri adalah lotus pond, merupakan area outdoor yang terbesar dengan dikelilingi bukit-bukit batu kapur yang telah dibentuk. Disini anda akan melihat batu kapur yang berbentuk persegi dengan tumbuhan yang hidup diatasnya. Batu-batu yang tinggi tersebut terlihat seperti benteng yang mengelilingi hamparan padang rumput yang hijau. Tidak hanya menikmati keindahannya saja, disini anda juga tersedia penyewaan segway yang bisa anda mainkan.

Kiutour.com

Setelah Puas berjalan menyusuri batu-batu kapur tersebut, selanjutnya kami menaiki tangga untuk menuju area Wisnu Plaza yang berada ditanah paling tinggi. Pada tingkatan pertama kami menemukan patung garuda yang begitu megah. Tanpa basa-basi lagi kami langsung mengabadikan momen tersebut.


Ketika menuju Patung Garuda Wisnu Kencana, kami diikatkan selendang warna kuning oleh petugas. Saya juga kurang tahu apa tujuan penggunaan selendang tersebut. Yang pastinya dengan menggunakan selendang tersebut akan membuat para pengunjung lebih merasakan suasana budaya Bali.

Tidak perlu waktu yang lama untuk mendaki tangga, kamipun akhirnya tiba di tanah tertinggi kawasan Garuda Wisnu Kencana. Kemegahan patung Wisnu benar-benar sangat menakjubkan. Dari atas ini juga kita bisa lebih leluasa untuk melihat bagaimana keindahan disekitar Garuda Wisnu Kencana Cultural Park


Jika berkunjung ke Bali, saya sangat merekomendasikan anda untuk datang di tempat ini. Selain tamannya yang menarik dan unik, disini anda juga akan belajar banyak hal mengenai budaya yang ada di Bali.