Wednesday, March 4, 2020

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 2

Perjalanan Ketapang. Suara ayam berkokok menghentikan tidur lelap panjang kami. Saya memaksakan untuk membuka mata, melawan dekapan rasa malas yang begitu erat. Belum lagi suasana pagi sungguh terasa dingin. Kabut embun pun malah masih tampak turun, membasahi rerumputan yang ada disekitar masjid.

Saya bergegas kekamar kecil, seperti biasa membuang sisa cairan yang sudah tidak dipakai. Baru setelah itu, mencuci muka dengan air yang mirip dari kulkas. Meskipun begitu, itu sungguh sangat menyegarkan. Membuat mata lebih terjaga.

Saya baru sadar, sepertinya tidak ada yang adzan subuh dimasjid ini. Atau mungkin saya yang tidak mendengar karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan? Ah mana mungkin pula. Selelap-lelapnya orang tidur dimasjid pasti akan sadar ketika suara adzan dikumandangkan. Lagian tidak mungkin pula orang yang datang kemasjid membiarkan kami tertidur sehingga tidak ikut sholat berjamaah. Iya kan?

Masjid yang berada jauh dipedalaman Kalimantan ini sungguh sangat berjasa dalam perjalanan kami. Selain sebagai tempat penginapan gratis, melainkan juga disini kami mengisi daya baterai ponsel yang hampir sakratul maut. Ditambah lagi mandi. Mungkin inilah yang dinamakan kalau masjid itu untuk kemaslahatan ummat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusatnya menuntut ilmu  dan tempat persinggahan bagi orang yang melakukan perjalanan jauh. Malam sebelumnya kami juga sempat izin menginap kepada tetangga yang sedang pulang kerumahnya.

Setelah mengemaskan segala barang bawaan, perjalanan menuju pusat Kota Ketapang kami lanjutkan kembali. Meskipun rasa dingin berbisik agar kami lebih baik bersantai dulu, sembari menunggu matahari sepenggalah naik.

Jalanan pagi itu terlihat lengang. Saking sepinya, kami bebas saja menggunakan jalur tetangga. Cuma mesti tetap hati-hati, karena bisa saja tiba-tiba muncul sebuah mobil yang melaju kencang. Tidak kebayangkan kalau terkena langgar dan kendaraan kami terpelanting nyangkut dipohon sawit.

Berbeda dengan semalam, kali ini kendaraan kami lebih sedikit lambat. Selain dikarenakan cuacanya yang dingin, melainkan kami juga ingin menikmati lebih banyak perjalanan, melihat pemandangan yang ada dikiri-kanan jalan. Kecuali jika dihadapan ada jalan yang menanjak, pastinya harus ancang-ancang dulu dengan kelajuan yang tinggi. Kalau disaat menanjak baru ingin melajukan kendaraan, yang ada malah motor kami mundur lagi kebelakang.

Panorama Keindahan Kabupaten Ketapang

Panorama alam disepanjang perjalanan menuju Kota Ketapang memang begitu menawan. Dari jauh arah memandang, terbentang deretan bukit yang berdiri dengan kokohnya. Begitu juga kiri kanan kami, sudah berapa banyak bukit yang dilewati, hilang dan kemudian diganti dengan yang lainnya. Keindahan bukit semakin terlihat, tatkala kabut memahkotai puncaknya. Seringkali pula tampak seperti adanya kebakaran ditengah hijau dan rindangnya pepohonan.

Seperti jalanan sebelumnya, tidak hanya jalanan turun naik yang harus kami lewati, tetapi juga jalanan yang berkelok-kelok layaknya sedang mengikut tes izin mengemudi. Bedanya kalau disini berada dikaki bukit, salah sedikit langsung menabrak tebing atau terguling-guling didalam jurang. Lebih ekstrimkan?

Nah, dikelokan yang berjurang inilah banyak dijumpai para penjual durian. Mereka menghamparkan dagangannya dibawah gubuk bambu yang beratapkan terpal. Meskipun saat itu masih dikatakan sangat pagi, namun sudah banyak para pedagang yang membuka lapaknya.

Saya sempat berpikir sebenarnya apa alasan mereka berdagang ditempat yang berkelok? Kenapa tidak disekitar jalan lurus yang keamanannya lebih sedikit terjaga. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika tiba-tiba saja ada kendaraan yang hilang kendali dan menabrak lapak mereka. Itu sangat berbahaya bung bagi keselamatan mereka. Tapi semoga saja itu tidak pernah terjadi.

Setelah melewati tempat yang serupa lagi, saya mulai menerka-nerka alasan mereka yang berjualan disekitar jalanan yang berkelok. Mungkin dikarenakan tempat mereka memanen buah durian ada disekitar situ. Jadi untuk mengefisienkan waktu akhirnya mereka membuka lapak tidak jauh dari pohon durian. Ketika ada buah yang jatuh, pedagangpun bisa langsung menjualnya. 

Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik sebuah bukit. Entah bukit apa namanya, yang pasti sebagian punggungnya berpencar warna jingga akibat cahaya matahari. Badan yang tadi kedinginan pun kini mulai berangsur hangat. Tidak ada lagi alasan untuk tidak melajukan kendaraan.

Dalam perjalanan, mata saya teralihkan ke seorang ibu yang berjalan dipinggir jalan. Dibelakangnya tergendong sebuah keranjang yang berisi tumpukan buah durian. Dalam masyarakat Dayak, keranjang itu disebut tankin. Keranjang yang terbuat dari rotan ini berfungsi untuk mengangkut tangkapan ikan dan berbagai hasil bumi lainnya.

Kurang lebih pukul 8 WIB, kami tiba di Kecamatan Sandai. Hiruk-pikuk aktivitas pagi jelas terlihat disini. Lalu lalang kendaraan, ibu-ibu yang pergi belanja dan bapak-bapak yang berbincang di warung kopi menjadi pemandangan yang lumrah dikawasan pasar.

Berhubung perut juga sudah lapar, maka kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di sebuah warung. Tapi sayang, warung yang disinggahi ini tidak menyediakan menu sabu (sarapan bubur) apalagi narkoba (nagasari korket bakwan). Nasi kuning pun juga tidak ada. Tidak ada pilihan lain, akhirnya kami memesan mie instan rasa ayam lengkap dengan telurnya.

Sebenarnya ini warung hanya sekedar untuk usaha sampingan. Disampingnya ada tempat pencucian kendaraan yang merupakan usaha utama. Nah karena itulah, untuk membuat pelanggan tidak terasa lama dan bosan menunggu, disediakanlah warung ini untuk tempat bersantai. Selain itu disini jugalah tempat transaksi pembayaran setelah kendaraan selesai dibersihkan.

Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya dua mangkuk mi instan tersaji diatas meja. Dengan asapnya yang mengepul, saya mulai menyendok sedikit kuahnya. Saya menambahkan sedikit perasan limau yang membuat aroma dan rasanya semakin menggoda. Seketika kami sibuk dengan sarapan.

Tidak lama kemudian ibu warung datang kembali, mengantarkan dua gelas air putih. Dengan sedikit perbincangan, ibu bertanya dari mana asal kami dan mau kemana. Saya menghabiskan dulu sisa mi yang ada didalam mulut, baru kemudian menjawab. Kemudian ibu yang saya prediksi berumur 45 tahun tersebut pergi menuju ke sebuah ember yang ada di pojok halaman.

Sambil menikmati sarapan yang sungguh nikmat dikala lapar, mata saya melirik ke ibu tadi. Dengan membincing sebuah ember, beliau menuju kesalah satu mobil berwarna hitam. Tangannya yang lincah, membuat tanah kuning yang masih nempel membandel hilang disetiap jengkal gosokannya.

Sarapan telah usai. Dengan bersandarkan disebuah kursi panjang, jari-jemari kami kembali berselancar diatas layar ponsel. Mumpung lagi banyak sinyal, kalau sudah melanjutkan perjalanan lagi pasti sinyalnya akan hilang. Kecuali kalau sudah sampai di kota kecamatan.

Saya pun mulai membuat status di media sosial, memberi kabar didunia maya mengenai petualangan kami hari ini. Ternyata saya kurang cepat, lebih duluan Yansah yang memposting foto dengan latar papan arah jalan. Satu hal aneh dari sisi dia, Yansah paling senang berfoto dengan view  tersebut. Tidak jarang kami harus berhenti hanya untuk melakukan aksi ini.

"Dari mana dek?" Bapak yang sedang mecuci mobil tadi tiba-tiba ada disamping kami, duduk sambil membuka sebuah percakapan.

"Dari Pontianak, Pak." Saya berusaha menjawab.

Perbincangan saya bersama bapak tersebut semakin hangat. Kalau Yansah jangan ditanya, dia sibuk dengan layar ponselnya. Menanyakan keberadaan temannya yang berdomisili di Ketapang. Dari sekian banyak yang ditanya, masing-masing punya jawaban tersendiri. Ada yang bilang masih di Kota Pontianak, ada yang bilang mau jalan sama pacar, ada yang lagi liburan sama keluarga dan ada yang tiba-tiba putus kontak setelah ditanya "Bolehkah kami mampir dirumahmu?" Mungkin sinyal lagi bermasalah atau dia tiba-tiba terkena obat bius yang mengharusnya tidur panjang.

Dari perbincangan kami, bapak juga sempat menanyakan kenapa tahun barunya malah pergi ke kampung? Bukankah di Pontianak lebih meriah? Yah saya jawab saja ingin sekali-kali merasakan suasana pergantian tahun baru didaerahnya orang. Sontak bapak tersebut tertawa sambil mengatakan tidak ada serunya jika tahun baru disini. Sesekali juga menunjuk mobil yang melintas menuju Kota Pontianak. Maksud dari bapak itu adalah 'orang Ketapang saja ramai yang ke Pontianak, kenapa pula kalian yang datang kesini?'

Matahari semakin tinggi mendaki bukit. Rasanya sudah cukup lama untuk kami bersantai-santai di daerah Sandai. Kami pun izin kepada bapak dan ibu yang sungguh begitu ramah. Bahkan disaat kendaraan akan berangkat ibunya berkata "hati-hati dijalan".

Jika sebelumnya kebanyakan saya yang membawa kendaraan, sekarang giliran jatahnya Yansah. Cuma ada satu hal yang membuat saya khawatir adalah dia sering kali memainkan handphonnya ketika berkendara. Setiap saya memperingatinya selalu saja berkata santai. Ok, kalau gitu kecepatannya juga harus disantaikan. Jangan sampai karena selalu menganggap semuanya santai akhirnya berujung santai dirumah sakit. Pahamkan? Akhirnya tidak butuh waktu lama saya sudah mengambil alih motor.

Jalanan kali ini lebih sedikit ramai. Kami lebih sering menjumpai para pengendara, bahkan sering pula mobil tiba-tiba menyalip dari belakang. Pernah ada sebuah mobil yang seketika sudah berada disamping dengan jarak hanya sejengkal. Menyalip sih boleh, tapi tolong dijaga juga kenyamanan pengguna kendaraan yang lain. Dia sih enak yang lecet paling hanya bodi mobilnya. Sedangkan kami?

Selain itu, pemukiman juga semakin mudah dijumpai. Sesekali saya perhatikan bagian bumbungnya, terdapat ukiran naga yang menyilang. Meskipun sebagian besar rumah lebih modern, namun unsur-unsur tradisional masih bisa kita jumpai. Selain itu, terlihat juga bagaimana kesibukan masyarakat ketika bergotong royong membangun pohon natal yang besar.

Kendaraan kami masih melaju, menaiki dan menurun disebuah jalan yang mendaki bukit. Sesekali kami singgah, ketika menemukan spot wisata yang sangat menarik. Mumpung terlanjur lewat disini, esok lusa mungkin sudah lain lagi ceritanya.

Sekarang kami juga tidak perlu khawatir lagi untuk masalah bensin. Sekarang lebih mudah untuk menemukan tempat pengisian bahan bakar dipinggir jalan. Seandainya pun pertamina belum diketemukan, masih ada penjual eceran yang menjualnya.

Semakin panjang perjalanan, semakin banyak hal unik pula yang ditemukan. Salah satunya adalah bagaimana keelokan rumah adat dari suku Dayak. Meskipun pada akhirnya tidak sempat mampir, karena orang yang sedang diboncengi tidak mau untuk singgah.

Salah duanya yang menarik dalam perjalanan kali ini adalah melihat pemakaman dari masyarakat suku Dayak. Uniknya kuburan disini adalah diatasnya ada berbagai macam barang punyanya yang meninggal. Seperti televisi, radio dan berbagai jenis lainnya. Sebagai informasi, hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Dayak, bahwa setiap yang meninggal akan diikutsertakan juga dengan barang kesayangannya.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami kembali sampai di sebuah kota kecamatan. Kali ini adalah Nanga Tayap, 346 kilometer dari Kota Pontianak. Kami saat itu hanya melewati pasarnya, yang sedang ramai oleh para pengunjung. Untuk menjaga keamanan, saya memperlambat laju kendaraan agar tidak menyeruduk maupun diseruduk.

Saya memperhatikan bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan. Sekilas, pasar Nanga Tayap terlihat seperti kota tua, dengan bangunan ruko buatan tempo dulu. Mungkin daerah ini dulunya  sempat menjadi salah satu pusat perdagangan didaerah pedalaman.

Nanga Tayap kami lalui begitu saja. Kali ini kami sedikit mengalami kendala dalam menentukan arah jalan. Google map yang selama ini memandu kami mengarahkan ke sebuah jalan tanah kuning. Dari bentuknya, sepertinya ini merupakan jalan milik perusahaan sawit untuk mendistribusikan hasil panennya. Melihat Yansah yang kebingungan membuat saya menghentikan dulu kendaraan. Berharap ada orang yang lewat sekaligus numpang bertanya.

Setelah lima menit, tak ada satu pun para pengendara yang lewat. Terkaan saya yang menganggap jalan dihadapan kami adalah jalan pintas, berubah menjadi anggapan kalau pemandu pintar kami lagi eror. Akhirnya kami memutar arah dan kembali menyusuri Jalan utama, Transkalimantan.

Sepanjang perjalanan kami berharap ada masyarakat dipinggir jalan yang bisa ditanya. Namun ternyata tidak. Hanya ada satu pengguna jalan, yang sedang menghentikan kendaraannya. Namun itu adalah cewek, takut pula kami nanti dikira maling atau lelaki jalang yang sedang mencari mangsa. Hingga akhirnya kami sampai disebuah persimpangan tiga. Dipapan penunjuk arah tertera, jika lurus akan menuju Kalimantan Tengah. Sedangkan belok kanan akan menuju ke hati adek. Hiyak...

Kendaraan berbelok kekanan menuju arah Tumbang Kacang. Kali ini kendaraan diserahkan sepenuhnya kepada Yansah untuk membawa. Kondisi jalan sedikit berbeda, dimana kemulusannya lebih terasa kasar. Hal itu bisa dirasakan melalui desiran ban bahkan lewat mata telanjang sekalipun terlihat. Tidak jarang pula, lubang menambah estetika seni dari jalan yang dilalui ini.

Deretan rumah dijalan ini cukup banyak. Bahkan kami harus lebih memperlambat laju kendaraan karena banyaknya anak kecil. Orang-orang dewasa pun tidak jarang kami temui, mereka bersantai diteras rumah sambil meyeruput segelas minuman. Setelah melalui jalan yang ramai ini, kami kembali menemukan jalanan yang sepi.

Kami kembali menemukan persimpangan tiga. Mengikuti petunjuk google map, kami memilih untuk berbelok kanan melalui jalan yang bertanah kuning. Banyak batu pula. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti, sambil memastikan lagi kebenaran informasi yang ada dilayar ponsel.

Lagi-lagi tidak ada satu orang pun yang lewat. Hingga akhirnya kami beranggapan bahwa google map betul-betul eror dan segera memutuskan untuk memutar arah, kembali ke jalan yang utama. 50 meter setelah keluar, seorang ibu-ibu sedang tampak membersihkan halaman rumahnya. Kami menghampiri dan kemudian mengutarakan maksud dan tujuan. Apakah ibu memiliki anak gadis yang siap dipinang?

"Kalau mau ke Sungai Melayu lewat jalan ini juga bisa, cuma mutarnya jauh. Tapi kalau mau lebih dekat, lewat arah jalan itu saja". Ibu tersebut menjelaskan sambil menunjuk sebuah jalan. Itu adalah persimpangan tiga, tempat yang tadinya sempat kami masuki.

Berhubung ibunya tidak memiliki anak gadis, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Masuk kembali kejalan tanah kuning yang bebatuan. Seandainya saja ini jalan bisa berbicara, mungkin mereka akan bertanya seperti ini.

"Hei anak malang yang sedang liburan dengan biaya terbatas, kenapa kembali lagi kesini?" Tanya sijalan dengan nada yang menghardik.

"Kami sedang mencari barang yang terjatuh." Mungkin ini jawaban yang tepat.

Setidaknya banyak pelajaran setelah kejadian tersebut. Yang pertama adalah kami telah suudzon sama google map, padahal dia telah menunjuki kami jalan yang lurus. Oleh karena itulah, didalam perjalanan kami lebih banyak beristighfar. Yang kedua adalah malu bertanya. Padahal dari SD sudah diajarkan, kalau orang yang malu bertanya itu akan sesat dijalan. Contohnya ini.

Kurang lebih sepuluh menit perjalanan, kami bertemu dengan banyak kendaraan. Mereka keluar dari arah jalan yang ada disebelah kanan kami. Pikiran saya mulai melayang-melayang sambil memutar kembali memori perjalanan sebelumnya. Apa mungkin mereka lewat jalan sawit yang sempat kami masuki? Kalau memang itu benar, berarti kami telah memutar jauh.

Jumpa Kata Bijak di Jalanan

Perjalanan memang memberikan kita banyak pelajaran. Selain banyak tahu tentang daerah orang lain, tetapi juga ajang untuk melatih kesabaran, bagaimana sabar ketika ingin sampai ditujuan. Kadang yang didapatkanpun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Yang semulanya ingin sampai lebih cepat, eh malah kesasar dan tiba dalam waktu yang lama. Tapi yakinlah, rencana Tuhan itu selalu baik dan selalu saja ada hikmahnya. Salah satunya adalah bisa berbagi senyuman dengan ibu yang tadi.

Setelah melewati jalan tanah kuning, kami kembali melalui jalanan yang beraspal. Meskipun kualitasnya tidak semulus seperti jalan miliknya provinsi. Dari sinilah saya sempat melontarkan pertanyaan kepada Yansah, mengapa jalan aspal antar kecamatan itu rata-rata cepat rusak? Setidaknya ada dua kemungkinan dari hasil diskusi santai kami ini. Yang pertama adalah karena memang kontur tanahnya yang belum padat. Sedangkan yang kedua adalah dananya minim, belum lagi ditambah potong sana potong sini. Kami pun tertawa, larut dalam sapuan angin perjalanan.

Ditengah lajunya kendaraan, pandangan saya tertuju pada sekelompok orang yang sedang bersantai dibawah rimbunan pohon karet. Dari jauh mereka tampak senang, sambil mengabadikan gambar melalui kamera. Tempat tersebut memang sangat menarik. Sepanjang jauh memandang, sepanjang itu pula deretan pohon karet berbaris rapi. Tidak hanya itu, terlihat pula rombongan keluarga yang menyantap makanan. Pokoknya tidak kalah menariklah dengan wisata hutan pinus yang ada dipulau Jawa.

Belum lama menyaksikan rimbunan pohon karet, kami kembali disuguhkan dengan keindahan alam Sang Pencipta. Sebelah kiri arah jalan tampak sepasang bukit yang begitu menawan dipandang. Warna hijau ilalang yang terhampar luas membuat bukit tersebut layak seperti padang bermainnya teletubies.

Saya menepuk pundak Yansah, sambil memberi kode untuk mampir. Kendaraan kami pun masuk ke sebuah jalan gang yang bernama gang Bukit Indah. Tidak banyak rumah warga yang dijumpai. Semakin jauh masuk kedalam, semakin rindang pula pohon yang ditemukan.

Motor berhenti ketika tiba ditikungan jalan. Entah apa pula yang membuat Yansah menghentikan kendaraan, yang pastinya dihadapan kami jalan semakin kecil dan deretan pohon semakin lebat.

"Ada apa Yan?" Tanya saya kepada Yansah dengan keheranan.

"Kita putar arah saja. Dan melanjutkan kembali perjalanan." Yansah menjelaskan sambil melihat saya dari kaca spion sebelah kanan.

Awalnya saya menolak dan mencoba untuk meyakinkannya bahwa tempat cantik yang mirip seperti Bukit Teletubbies itu sudah dekat. Tidak jauh dari tempat pemberhentian kami pun terlihat sebuah jalan setapak yang mungkin saja itu jalur menuju kaki bukit. Namun dengan alasan tujuan perjalanan yang masih panjang, akhirnya saya mengalah demi sesuatu yang harus diprioritaskan. Perlahan kendaraan kami menuju keluar.

Meskipun niat untuk ketempat tersebut diurungkan, tetapi bukan berarti mengabadikan momen juga harus ditiadakan. Saya dan Yansah kembali memasuki sebuah gang yang persis ada diseberang jalan. Disinilah sebuah lukisan indah milik Tuhan diabadikan. Sekedar informasi, tempat cantik yang disinggahi ini bernama Desa Lalang Panjang Kecamatan Pemahan.

Bukit Teletubbies Kabupaten Ketapang

Perjalanan kembali dilanjutkan. Entah sudah berapa kilometer jalur yang kami susuri. Yang pasti, kami sudah terlampau jauh dari kemacetan jalan ibu kota provinsi disaat sore hari.

Kecepatan kendaraan sedikit terhambat ketika kami memasuki wilayah Sungai Melayu. Jalanan yang berlubang-lubang dan bebatuan yang menyembul membuat harus lebih hati-hati. Tidak hanya keamanan kami saja yang terancam, tetapi juga bisa-bisa kami melanggar pengendara lainnya. Apalagi ketika tiba disini semakin ramai jumlah penduduknya.

Saya berusaha santai, sambil menikmati goyangan motor yang mulai tidak karuan. Kadang sesekali kaki tergelincir, membuat keseimbangan kendaraan susah terkendali. Seandainya saja persendian ini bisa bicara, mungkin ia akan berteriak untuk menghentikan perjalanan. Namun yang pastinya seluruh badan sungguh terasa encok.

Setelah melewati jalan panjang yang melelahkan tersebut, kami akhirnya tiba dimasjid Indotani  pada pukul 13.00 WIB. Menarik bukan setelah mendengar nama tempat ibadahnya? Disinilah, kami harus beristirat panjang akibat hujan yang datang tiba- tiba.

Ditengah bunyi rinai hujan, saya bersandar didinding masjid sambil meluruskan kaki. Dari sekian rute yang kami lalui, jalur barusan adalah jalur yang paling bermasalah. Bukan hanya menyusahkan kami saja, tapi juga para pengguna kendara lainnya. Jadi jangan heran jika dijalanan banyak motor dan orang yang berjoget tidak karuan sambil diiringi hentakan bawah mesin menyentuh batu.

Sambil bersantai, saya raba-raba bagian pinggang. Lalu turun ke kaki sambil menekannya. Bukan apa? Takutnya ada engsel yang lepas atau baut yang tanggal. Kan bisa jadi masalah kalau sampai hal tersebut terjadi. Hehe.

Pukul sudah menunjukkan 16.30 WIB. Rasanya sudah sangat lama kami terjebak dalam hujan yang deras. Namun syukurnya kami berteduh di masjid sehingga bisa meluruskan badan sekalian mengisi daya ponsel. Saya menatap jendela, memperhatikan sebuah warung yang membuat perut semakin terasa lapar.

Tidak lama kemudian, derasnya air yang turun kebumi mulai berkurang. Tanpa membuang waktu lagi, kami pun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Belum jauh dari arah masjid Indotani, kami sudah berhadapan dengan macetnya jalan. Dihadapan kami sudah berantrian kendaraan yang melalui jembatan sementara dari arah seberang. Disisi kanan, terlihat kesibukan para pekerja yang sedang melaksanakan tugasnya.

Lagi-lagi air dari langit turun deras, yang seakan-akan mengolok perjalanan kami. Kendaraan pun menepi disebuah warung tak jauh dari lokasi pembangunan jembatan. Tidak ada nama warungnya, tapi yang pastinya tempat ini bisa melindungi kami dari guyuran hujan sekaligus tempat persinggahan untuk mengisi perut yang sudah lapar.

"Pak, mau beli nasi." Saya memanggil bapak pemilik warung yang sedang duduk bersandar dikursi panjang.

"Silahkan dek, ambil sendiri makanannya." Bapak tua yang umurnya saya prediksi sekitar 60 tahun tersebut mempersilahkan kami.

Tanpa merasa canggung, saya langsung membuka tirai etalase. Tidak banyak lauk pilihan yang ada disana. Hanya ada ikan, telur dadar, tempe, sayur dan sambal. Saya setengah berteriak kearah bapak, untuk menanyakan ikan apa yang sedang terhidang. Bapak tersebut berkata kalau itu adalah ikan tapa, spesies ikan air tawar yang banyak ditemukan disungai Kalimantan. Oi, sudah lama tidak mencicipinya.

Potongan Ikan tapah mendarat manis diatas piring. Sejenak saya teringat bagaimana cerita seru tentang spesies air tawar ini. Dulu sebelum parit tercemar, untuk mendapatkan ikan ini sangatlah mudah. Tinggal turun keparit saja sambil menangguk dibawah pohon nipah sudah dapat tiga sampai empat ekor. Jika beruntung malah bisa lebih banyak. Kalau sekarang? Sudah sangat susah, setelah pendangkalan dan pencemaran air semakin merajalela. Namun dibeberapa tempat, keberadaan ikan ini masih sangat terjaga kelestariannya.

IDR 25K

Saya sangat lahap menikmati makanan tersebut. Apalagi ditengah derasnya hujan yang sedang mengguyur Sungai Melayu. Belum lagi dalam satu hari ini kami hanya sekali makan, itupun menunya adalah mie instan. Memang betul apa yang dikatakan orang, nikmatnya makanan itu akan sangat terasa ketika lapar sedang mendera.

Hari semakin sore. Langit mulai terlihat redup bersama jutaan tetesan hujan yang membasahi bumi. Saya mulai khawatir apakah malam ini akan tiba di Kota Ketapang? Jika tidak, tentu kacau balaulah niat kami yang ingin tahun baru disana. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan disaat hujan tidak terlalu lebat.

Membawa motor disaat hujan bisa dikatakan enak-enak susah. Enaknya jalan terlihat lebih lengang dan bisa mencicipi minuman gratis lagi segar. Susahnya adalah jarak pandang semakin berkurang dan mendapatkan serangan dibagian wajah. Iya, air hujan yang jatuh dimuka tidak ada ubahnya seperti jarum suntik. Ingin menutup kaca helm malah pandangan menjadi gelap. Bisa-bisa kami keluar jalur dan tergelincir direrumputan.

Kendaraan melaju ditengah jalan yang berbasahkan hujan. Siang pun perlahan mulai dilahap gelapnya malam. Sepanjang perjalanan, tak banyak rumah yang dijumpai. Hanya padang rerumputan luas sejauh mata memandang.

Padang rerumputan? Saya langsung teringat dengan cerita teman dikampus mengenai tempat misterius yang ada di Ketapang. Katanya, daerah tersebut bernama padang dua belas yang hanya berisikan tumbuhan rumput. Konon, disitu ada sebuah kerajaan besar yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Penghuninya pun merupakan makhluk ghaib yang orang setempat menyebutnya sebagai orang kebenaran.

Orang kebenaran tersebut memiliki ciri tersendiri, yaitu tidak memiliki garis diantara hidung dan bibirnya. Katanya, jika mereka memberikan kunyit kepada kita maka akan berubah menjadi emas. Tidak hanya itu, kata teman-teman, Rhoma irama sempat mengatakan pernah konser disana. Tetapi yang ditampakkan bukan padang rumput yang luas, melainkan sebuah kota dengan bangunan yang megah. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang pasti ada sisi lain yang tidak kita ketahui.

Saya menyeka air yang mengalir diwajah. Entah beberapa kali air menerobos pelupuk mata yang menyebabkan rasa perih. Dibelakang, Yansah hanya terdiam dengan raut wajah yang pasrah. Menerima kalau hujan tak berkesudahan dan membasahi sebagian pakaiannya. Inilah kesalahan fatal kami yang hanya membawa satu mantel ketika melakukan perjalanan jauh. Itupun mantel baju yang hanya bisa digunakan satu orang.

Langit sudah benar-benar gelap. Tidak ada lampu lain yang menerangi jalanan kecuali lampu kendaraan. Rumah penduduk pun belum ada yang telihat. Hanya rinai-rinai hujan yang menari didekapan cahaya. Saya melihat kearah jam tangan, tahu kalau sekarang sudah waktunya maghrib.

Laju motor diperlambat. Bukan karena jalanan yang semakin susah atau kami ingin mencari tempat persinggahan, melainkan karena sebuah kendaraan didepan kami. Kendaraan tersebut tidak berlampu dan merayap pelan dipinggiran jalan. Saya pun berusaha menyinarinya dari belakang. Tapi ingat, kami menolong bukan karena ingin mendapatkan kunyit emas. Melainkan karena panggilan rasa kemanusiaan lah yang menggerakkan hati untuk bertindak.

Hujan perlahan mulai redah. Jalanan yang tadinya sepi oleh kendaraan sekarang lebih ramai. Kami tiba di Kota Ketapang kurang lebih pada pukul 20.00 WIB. Laju motor semakin melambat akibat banyaknya volume kendaraan. Terlebih anak-anak muda yang membawa kendaraan semaunya saja, seolah-olah punya nyawa tiga. Yang sudah berkeluarga pun tidak mau kalah, mereka terlihat antusias menyiapkan pembakaran dihalaman depan rumah. Bahkan ada yang saling adu musik dangdut, yang jaraknya hanya di pisahkan satu rumah.

Hiruk-pikuk semakin terlihat ketika masuk dikawasan pasar. Tidak hanya cafe-cafe yang memanen rezeki pada malam ini, tetapi juga para pedagang kaki lima yang menjual atribut malam tahun baru dan makanan. Tidak jauh dari kami juga terlihat seorang anak kecil yang sedang merengek untuk minta dibelikan terompet. 'ayo ma, belikan saya satu', kurang lebih begitulah maksud raut wajah si kecil.

Dari jauh sudah tampak jembatan Pawan 1 yang menghubungkan kedaerah seberang. Kendaraan yang akan lewat tidak ada ubahnya seperti semut yang sedang berjalan. Diatas jembatan saya bergumam dalam hati 'akhirnya tiba juga di pusat Kota Ketapang'. Oh Sungai Pawan, dulu saya hanya bisa mendengar namamu ketika dinyanyikan. Namun sekarang keindahanmu sudah ada didepan mata, bercahayakan lampu malam yang sungguh mempesona. Saya tersenyum-senyum sendiri, sampai tidak sadar kalau didepan sudah berdiri tugu ale-ale, maskotnya Kota Ketapang.


Baca juga:

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 1

Perjalanan Nekat ke Perbatasan Indonesia Malaysia 

Monday, February 10, 2020

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 1

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang. Sebenarnya cerita perjalanan ini sudah cukup lama, kurang lebih satu bulan yang lalu. Namun dikarenakan banyak pengalaman menarik dalam pertualangan tersebut, rasanya sangat disayangkan jika kenangan-kenangan tersebut hilang bersama putaran waktu. Yah, kalau meminjam kata gaul anak sekarang adalah late post. Sesuatu yang telah lama terjadi, tetapi baru sempat diceritakan sekarang.

Berawal dari akhir tahun yang diidentik dengan liburan panjang. Rasanya sangat sia-sia jika dimalam tahun baru hanya dihabiskan untuk duduk termenung sambil memikir yang tidak karuan. Bukankah kalau banyak melamun entar jadi korban godaan setan? Mau main handphone biar ada aktifitas, yang ada malah stalking postingannya si Dia. Ayo siapa yang masih sering stalking status mantan disaat waktu luang? Ternyata move on itu tidak semudah yang dikatakan.

Untuk menghindari hal yang unfaedah tersebut, maka saya pun iseng-iseng menanyakan agenda teman diakhir tahun. Tanpa menunggu lama, chat saya melalui whatsapp langsung dibalas, yang kecepatannya mungkin menyamai kecepatan cahaya.

Saat itu minus lima hari sebelum tahun baru. Kebetulan teman yang diatas tadi mengajak untuk liburan bareng ke Pulau Datok yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Tanpa banyak tanya lagi, saya langsung menanyakan berapa biayanya? (cuma satu pertanyaan). Maaf, masalah keuangan itu sangat penting. Jangan sampai ingin berpergian jauh namun dompet ternyata tipis. Yang ada malah jadi gelandangan disana dan tidak pulang-pulang seperti Bang Toyeb.

Dia menyebutkan angka  400 ribuan untuk biaya transportasi dan makan selama 3-4 hari. Kebetulan saat itu didompet ada setengah juta (biar kedengaran banyak), dan saya rasa itu sudah cukup untuk melakukan liburan diakhir tahun baru. Meskipun pada akhirnya uang tersebut berkurang karena kebutuhan sehari-hari sebelum berangkat. 

Hari yang diidam-idamkan akhirnya tiba. Burung-burung disekitar rumah bercuit-cuitan dengan riang. Entah mereka senang karena menyambut matahari pagi atau sedang menemukan banyak makanan, yang pastinya mereka sama sepeti saya. Sama-sama bahagia. Diatas meja terdengar suara pesan masuk. Dengan pakaian yang masih menggantung dileher, saya buru-buru meraih handphone tersebut dan membukanya.

Isi pesannya begini. 'Bang, liburan ke Pulau Datok tidak jadi. Kawan yang bersangkutan ada halangan'. Seketika saya mematung dengan keadaan mulut menganga. Secepatnya saya langsung beristighfar dan sadar kalau malam tahun baru akan dihabiskan didalam kamar. Saya pun langsung berlari kebelakang dan menangis dibawah keran air.

Belum sempat nangis dibawah keran air, sebuah pesan dari orang yang sama  masuk lagi. Kali ini ia menyarankan bagaimana jika liburannya tetap dilakasanakan. Hanya saja tujuan wisatanya yang berbeda. Jika awalnya akan menyeberang ke sebuah pulau, maka untuk ini masih didaratan besar Pulau Kalimantan. Tanpa perlu banyak tanya lagi saya langsung menjawab, YES.

Meskipun hanya berdua, namun liburan saat itu tetap dilaksanakan. Tujuan liburan kami jatuh pada sebuah daerah yang ada di selatan Kalimantan Barat. Tepatnya di Kabupaten Ketapang. Meskipun jaraknya jauh, tidak sedikitpun menyurutkan semangat untuk liburan. Apalagi katanya di Ketapang banyak tempat wisata yang bisa didatangi.

Nah, sebelum melanjutkan cerita perjalanan saya, alangkah lebih baiknya kita mengenal dulu sekilas tentang Kabupaten Ketapang. Biar tulisan ini bisa memberikan edukasi, yah walaupun secuil.

Nama Ketapang tentunya banyak digunakan sebagai nama tempat. Salah satu contohnya adalah yang ada di Banyuwangi. Jadi jangan heran jika mengetikkan kata kunci wisata Ketapang maka muncul pula nama tempat tersebut. Untuk itu penulis menekankan lagi bahwa cerita ini berlatarkan disebuah daerah yang ada di Pulau Kalimantan.

Kabupaten Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Pusat pemerintahan sekaligus perekonomian kabupaten ini berada di Kecamatan Delta Pawan. Dari sekian kabupaten, Ketapang merupakan kabupaten dengan wilayah yang paling luas, bahkan lebih luas dari Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, daerah yang dijuluki sebagai Kota Ale-Ale ini juga berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana pajangnya perjalanan kami nanti. Ok, lanjut keceritanya.

Minus 2 hari tahun baru. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Teman yang akan menjadi kawan liburan juga sudah datang. Oh iya, saya perkenalkan dulu, namanya Suryansyah. Biasanya dipanggil Yansah, biasa juga dipanggil Cuan (entah dari mana panggilan ini bermula). Dia merupakan seorang aktivis kampus yang senang melakukan perjalanan dan ikut organisasi. Saking aktifnya, disetiap group media sosial yang saya masuki selalu nongol akunnya. Tidak terbayang bagaimana banyaknya laporan pemberitahuan di ponselnya

Baru saja mau berangkat tiba-tiba hujan yang tanpa diundang datang. Turun dari langit membasahi bumi Khatulistiwa yang saat itu lagi panas-panasnya. Sambil menunggu redah, kami memanfatkan untuk berdiskusi kecil mengenai jalur yang akan dilaluii ketika berangkat. Dengan pertimbangan ini itu akhirnya kami memutuskan untuk melalui jalur darat.

Setidaknya ada banyak jalan menuju Ketapang. Yang pertama adalah jalur darat dengan melalui Jalan Transkalimantan. Yang kedua adalah jalur air, yaitu dengan menggunakan motor klotok melalui pangkalan Senghie ataupun Rasau Jaya. Yang ketiga adalah jalur udara melalui bandara Supadio di Pontianak.

Hujan sudah redah, tanpa membuang-buang waktu lagi kami langsung bergegas berangkat. Setidaknya melakukan perjalanan disaat cuaca yang mendung membauat perjalanan terasa lebih enak. Yah meskipun pada akhirnya harus melawan sedikit kemacetan disaat menyeberang jembatan Kapuas 2.

Tapi yang menjadi masalah adalah hujan sepertinya juga ikut nimbrung dalam perjalanan kami. Oleh karena itu sempat beberapa kali kami mampir untuk berteduh dalam waktu yang lama. Akhirnya waktu kami harus dihabiskan untuk melihat tetesan air dari ujung genteng. Inilah hukuman dari sebuah keteledoran, sudah tau musim hujan masih juga tidak membawa perlengkapan. Nasibmu lah nak..

Sebenarnya jas hujan ada, namun hanya bisa digunakan oleh satu orang saja. Mana pula saya membiarkan Yansah kehujanan dibelakang sambil menengadahkan muka diatas meminum air. Yang ada malamnya bisa jadi sakit perut karena kembung.

Kami pun menghentikan kendaraan disebuah kaki bukit. Selain karena hujan yang sudah tidak bisa diajak kompromi, melainkan disitu juga ada sebuah tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh. Sebuah rumah yang masih dalam proses pembangunan.

Hanya kami berdua yang bertahan lama dirumah tersebut. Pengendara lainnya hanya mampir sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan kembali setelah memasang jas hujan. Dalam hitungan detik mereka hilang diturunan jalan.

Sebenarnya yang namanya menunggu itu memang sangat membosankan. Tapi syukurlah disini masih ada sinyal yang membuat akses informasi masih bisa dilakukan. Kalaupun tidak ingin bermain ponsel, yah disini kita bisa memperhatikan kemegahan bukit yang menjulang tinggi, sembari menghitung jumlah pohonnnya, eh maksud saya melihat jenis-jenis pohonnya. Selain itu kita bisa memperhatikan tingkah-tingkah para pengendara yang lalu-lalang. Dari sekian yang lewat pasti ada yang mengundang kelucuan, yang membuat diri senyum-senyum sendirian.

Tapi dari sekian kejadian disini yang paling menarik adalah ketika bertemu dua bocah kecil. Mereka gadis mungil yang lucu dan senang untuk bercerita. Dari merekalah banyak informasi yang saya dapatkan seputar tempat persinggahan kami. Dari obrolan bersama mereka jugalah kami tahu kalau bukit yang ada dihadapan ini bernama Bukit Binuah. Singkat cerita, akhirnya mereka menceritakan hobi dan juga cita-citanya yang membuat saya terharu sekaligus juga sedikit geli hati. Kenapa? Silahkan cek cerita mereka disini.

Hujan sudah mulai redah. Yah meskipun masih menyisakan gerimis dan awan mendung dimana-mana. Namun rasanya sangat disayangkan kalau tidak segera langsung melanjutkan perjalanan. Iya kalau hujan yang ditunggu hujannya berhenti? Kalau semakin lebat? Sekarang ini cuaca sulit untuk diprediksi. Seperti sikapnya kepadaku. Yak..

Kami pun pamit pada mereka. Meskipun memiliki usia yang jauh lebih mudah, namun mereka adalah seorang guru. Yang membagikan pengetahuan kepada kami disaat berteduh dalam perjalan panjang. Mungkin mereka layak diberikan julukan sebagai Mutiara Binuah. Yah ditangan merekalah masa depan tanah kelahirannya akan berlanjut.

Kendaraan perlahan berjalan, dari teras rumah yang setengah jadi itu mereka melambaikan tangan. Seakan-akan baru menyambut kedatangan anak presiden. Semoga saja suatu saat terbesik sebuah kabar kalau cita-cita mereka sudah tercapai.

Motor pun melaju dibadan jalan yang sebelumnya tidak pernah saya lalui. Karena merupakan jalan penghubung antar provinsi, tentunya jalan ini kemulusannya sangat dijaga. Kebayangkan bagaimana jika sedang melakukan perjalan jauh tapi jalan yang dilalui berlubang dimana-mana. Waktu tempuh yang harusnya hanya sehari bisa menjadi berhari-hari.

Meskipun jalannya bagus, tapi kehatian-hatian dalam berkendaraan itu harus tetap diperhatikan. Maklum jalan yang dilewati ini kadang meliuk-liuk dikaki bukit dan juga naik turun. Apalagi ini pertama kali kami melewatinya, bagaimana kondisi jalan didepan tentunya tidak tahu. Bisa saja didepan ada lubang besar atau mungkin saja ada sekelompok orang yang sedang bermain kelereng.

Hujan pun turun kembali, membersihkan debu dan polusi kendaraan di wajah kami. Hujannya sangat baikkan? Tapi ngomong-ngomong, setiap peristiwa itu memang selalu ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya yang tadi sedangkan negatifnya adalah waktu perjalanan akan semakin bertambah. Dan ketika waktu semakin lama, maka biaya perjalanan juga ikut nambah. Lagi-lagi kami harus mampir berteduh sambil mengecek apakah wajah sudah bersih atau belum.

Akhirnya setelah melewati jalan lurus yang begitu panjang, tibalah kami disebuah persimpangan tiga. Persimpangan ini bernama Simpang Ampar. Jika belok kekiri akan menuju kearah Sosok sedangkan belok kanan adalah menuju Tayan sekaligus Ketapang. Nah, ditengah-tengah Simpang Ampar ini juga memiliki sebuah ikon yang sangat menarik. Yaitu sebuah patung pria Dayak yang memakai baju daerah sambil memegang mandau ditangan kanannya. Jadi kalau anda lewat disini bolehlah mampir sebentar untuk foto-foto.

Setelah persimpangan ini (belok kanan) terdapat sebuah masjid yang bisa disinggahi oleh umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah dulu. Selain untuk melaksanakan kewajiban, dibagian belakangnya juga terdapat pelataran yang bisa digunakan untuk rebahan. Selain itu ada juga yang lagi makan bersama rombongan seperti yang kami jumpai.



Nah, kalau sudah sampai di Tayan rasanya kurang afdol kalau tidak singgah di spot wisatanya. Apalagi kalau bukan Jembatan Tayan? Tidak hanya desain jembatannya yang menawan, tetapi bentangan alam disekitarnya juga eksotis. Salah satunya adalah sebuah bongkahan batu yang cantik dengan view Jembatan Tayan dibelakangnya. Jadi usahakan kalian harus singgah disini juga yah. Cek cerita tentang Jembatan Tayan disini.

Karena waktu yang sudah sore, perjalanan menuju Ketapang kembali dilanjutkan. Meskipun belum puas menikmati keindahannya Jembatan Tayan, tapi lumayanlah sempat mampir sebentar dan menjepret beberapa foto. Tidak jauh dari lokasi telah berarak awan mendung yang akan menghampiri. Semoga saja perjalanan selanjutnya bisa lebih lancar.

Saya pun melajukan kendaraan. Semakin jauh dari arah Tayan, jalanan yang dilalui semakin tampak lengang. Rumah-rumah pun juga semakin sepi. Sesekali hanya tampak satu dua orang pengendara yang melesat laju berlawanan arah.

Siang pun perlahan diganti dengan waktu malam. Serangga-serangga penghias malam pada berkeluaran, berterbangan dan seakan-akan mengajak kami untuk balapan. Yang buat kesal dari binatang kecil ini adalah kalau sudah masuk mata. Halus sih, tapi perihnya sungguh luar biasa.

Waktu sholat maghrib telah tiba. Namun tak ada satu masjid pun yang kami jumpai didalam perjalanan. Sebenarnya tidak jauh dari Tayan tadi sempat lihat ada sebuah masjid, namun dikarenakan waktu sholat belum masuk, akhirnya kami melanjutkan saja perjalanan. Dan disinilah kami membuat kesalahan lagi, yaitu tidak mengatur kapan waktunya akan berhenti dan kapan akan melanjutkan.

Sekedar saran, buat kalian yang baru pertama kali pergi kesuatu tempat dan saat itu akan memasuki waktu sholat, saya saranin untuk segera singgah dimasjid yang dijumpai. Meskipun waktu adzannya 10 menitan lagi, tapi setidaknya tidak keteteran seperti kami. Apalagi waktu sholat maghrib itukan terbatas.

Ditengah gelapnya malam, motor kami lincah naik turun  melintasi jalanan. Kemudian berkelok dipunggung bukit dengan jurang dipinggirnya. Kondisi jalan seperti itu sudah biasa ketika memasuki wilayah pedalaman Kalimantan. Hal ini dikarenakan demografi daerahnya yang banyak perbukitan.

Oh iya, kalau sedang melakukan perjalanan disaat malam harus extra hati-hati. Selain dikarenakan banyak truk yang melaju kencang, tetapi juga kadang ada kendaraan motor yang tidak memiliki lampu. Alhasil kami dibuat kaget ketika kendaraan kami saling berpas-pasan dengannya. Saya kira itu adalah makhluk alien yang tiba-tiba muncul dihadapan, ternyata bukan. Selain itu, dipinggiran jalan juga biasanya ada pejalan yang sedang jalan santai. Jadi jangan sampai kepinggiran benar yah..

Perjalanan semakin jauh ke pedalaman. Berbeda dengan jalan-jalan yang ada dikota, disini penerangan jalan kami sungguh hanya bergantung pada lampu motor. Apa yang ada di pinggiran kiri kanan jalan pun tidak terlihat begitu jelas. Maklum, cuaca yang mendung membuat bulan dan bintang enggan untuk menampakkan dirinya.

"Kalau motor kita mogok gimana yah". Tiba-tiba Yansah dari bekakang bersuara.

Ini anak bicara apaan? Berani-beraninya ngomong yang sembarangan ditempat yang antah berantah. Bukankah ditempat yang belum kita kenali itu dilarang untuk sesumbar.  Untung saja saat itu saya yang membawa kendaraan. Kalau bukan, udah kena tonjok nih mulut bocah. Sahutan Yansah tersebut saya abaikan begitu saja dan kembali fokus membawa kendaraan.

Saya menatap layar speedometer. Memastikan bahwa bahan bakar kami tersedia cukup. Untunglah disana masih terlihat tiga balok. Setidaknya cukup membawa kami sampai ke tempat pengisian, meskipun itu cuma eceran.

Ada beberapa kampung yang kami lewati, namun tak ada satupun yang menjual bensin eceran. Dalam benak mulai was-was takut saja kalau bahan kendaraan kami habis. Pastinya kami harus mendorong motor diatas jalan yang menanjak. Jangan biarkan itu terjadi ya Allah..

Tidak hanya kendaraan yang mesti segera diisi, perut kami pun juga mulai meronta-ronta untuk diberi bagian. Kenapa pula tidak terfikirkan untuk makan dahulu ketika masih berada di Tayan. Mana ada pula penjual makanan ditengah-tengah hutan dan perkebunan sawit. Malam-malam lagi. Walaupun ada yang jual paling itu miliknya Suzana.

Ditengah kelaparan yang mendera, dari jauh tampak sosok hitam besar berdiri di pinggir jalan. Saya langsung memperbanyak istighfar dan tidak berani untuk melihatnya. Saya lebih fokus kearah jalan dan memperlaju kecepatan kendaraan. Tidak perduli jika kalau Yansah dibelakang tiba-tiba saja jatuh. Siapa suruh tidak mau membawa motor.

Jarak kami ke sosok besar hitam tersebut semakin dekat. Penampakan seperti ini tentunya bisa saja terjadi, apalagi dilokasi yang jauh dari pemukiman, tempatnya jin bertendang. Yansah dibelakang hanya santai saja, seolah-olah tidak melihat sesuatu. Apakah mata dia kabur sehingga tidak bisa melihat jelas ketika ditempat yang minim cahaya? Atau mungkin saya mendadak dibuka mata batinnya?

Dengan mengucapkan basmalah saya mencoba melihat sosok tersebut. Mumpung dekat dan diberi kesempatan untuk bisa melihatnya. Sayang juga kesempatan disia-siakan begitu saja. Betapa kagetnya saya ketika menoleh kearah tersebut, ternyata itu hanyalah pohon besar yang dari jauh tampak seperti makhluk. Kampret...saya dibuai oleh imajinasi sendiri.

Bersyukur, tidak jauh dari lokasi kejadian tersebut kami menemukan sebuah rumah makan. Tempat makan ini lumayan besar, dengan lantai keramik dan dinding beton berwarna krem. Tidak hanya menjual makanan, bensin juga tersedia disini. Saya lupa nama daerah yang kami singgahi ini, namun yang pastinya disini banyak terdapat sawit.

Baru saja memarkirkan kendaraan, Yansah langsung memanggil Mbaknya untuk isi bensin. Takut sekali dia stok barang tersebut habis dibeli oleh orang yang lewat. Sambil menunggu mbak mengisi tangki, saya memperhatikan belakang wanita yang berumuran 30-an itu. Bukan maksud berpikir yang ngeres, melainkan takut saja belakangnya si Mbak itu bolong. Dan Alhamdulillah, belakangnya sama seperti wanita pada umumnya dan kakinya pun masih jejak ke lantai.

Saya mendekati sebuah etalase sambil melihat menu-menu yang disajikan. Disini kita harus mandiri, alias ngambilnya sendiri. Tanpa waktu yang lama, sepiring nasi dan lauk sudah terkumpul. Lauk yang saya pilih pun hanyalah yang murah-murah saja. Menu andalan mahasiswa, yang penting murah dan kenyang.

Saya langsung duduk di bangku bagian dalam. Baru saja satu sendok makanan masuk dalam mulut, mbaknya sudah datang menghampiri. Menanyakan minuman apa yang mau dipesan. Saya pun langsung menjawab teh es sambil melemparkan sedikit senyuman, biar si mbaknya membuatkan minuman yang manis.

Apapun makananannya kalau dinikmati ketika lapar sedang akut tentu sangat terasa enak. Yah mungkin begitulah sedikit gambaran kami saat itu. Makan dengan sangat lahap dan tanpa meninggalkan noda yang membandel.

Setelah sempat juga buang air kecil dibekang dan menikmati hiburan televisi, saya langsung bergegas kekasirnya. Oh iya, saya mau kasi tahu. Jangan kaget jika harga makanan disini bisa mencapai dua kali lipat harga makanan di Pontianak. Hal ini dikarenakan harga-harga bahan pokok disini lebih mahal akibat rantai distribusi yang panjang. Pahamkan maksudnya?

Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini dengan suasana hati yang lebih tenang karena perut telah kenyang. Cuma saja, kalau perut sudah penuh begini bawanya ingin lebih lama bersantai atau menguap-nguap diatas kasur. Ya Allah, hilangkanlah rasa malas hambamu ini.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam delapan malam. Rasa dingin yang menyapu kulit mulai lebih terasa. Sama seperti sebelumnya, jalan-jalan terlihat sangat lengang. Hanya kendaraan roda empat keatas saja yang sering dijumpai. Keadaan sunyi sepi inilah yang dimanfaatkan para pengendara itu untuk melaju kencang.

Didalam perjalanan kami juga sempat menjumpai sekumpulan truk yang sedang terparkir dijalan yang menanjak. Awalnya saya sempat mikir jangan-jangan itu merupakan segerombolan perampok. Maklum, ketika jalan menanjak membuat kecepatan kendaraan akan semakin berkurang. Tapi ternyata tidak, mereka malah tidak peduli ketika kendaraan kami tiba diatas. Paling mereka hanya melihat sesekali saja, baru setelah itu sibuk lagi dengan cerita serunya. Sepertinya truk-truk yang berbaris dipinggiran jalan tersebut adalah truk pengangkut sawit.

Tidak lama kemudian kami tiba di Balai Bekuak. Ini tandanya kalau kami sudah memasuki wilayah Kabupaten Ketapang. Jalanan yang tadinya terlihat sepi dan gelap kini terlihat lebih ramai dan terang. Ruko-ruko berderet disepanjang jalan dengan macam jualannya masing-masing. Ada yang menjual aneka handphone hingga lapak makanan pun mudah untuk dijumpai.

Balai Bekuak kami lewati begitu saja. Rasanya sih ingin singgah untuk sekedar ngopi dan wifi-an, namun karena alasan perjalanan yang masih jauh membuat keinginan tersebut diurungkan. Mungkin lain kali ada waktu yang tepat.

Jalanan kali ini tidak begitu lengang, lebih sering kali bertemu dengan para pengendara lainnya. Rumah-rumah pun lebih sering kami jumpai. Entah ada kegiatan apa, didepan kami semakin tampak ramai pemuda-pemudi yang berboncengan. Dipinggiran jalan pun terlihat orang-orang pejalan kaki yang sesekali berbicara pada rombongannya. Dari kejauhan, terdengar juga suara musik dangdut yang didendangkan.

Saya memperlambat laju kendaraan. Selain karena menjaga keamanan karena ramainya orang, melainkan juga penasaran terhadap apa yang membuat mereka berkumpul. Motor pun semakin diperlambat dan sedikit menepi agar tidak diseruduk kendaraan lain dari belakang. Tidak lucu juga kan kalau tiba-tiba saja kendaraan kami jatuh diantara keramaian massa. Belum lagi kalau sampai tejadi adu bacot antara kami dengan yang melanggar. Bisa-bisa kabar kejadian itu langsung viral di Pontianak informasi dengan judul 'Seorang pemuda memarutkan kulit durian ke seorang pengguna kendaraan'.

Diantara ramainya orang dipinggir jalan, ada seorang gadis yang meyapa kami dengan senyum manisnya. Mimpi apa semalam yak? Sebagai pendatang yang baik hati dan tidak sombong, tentunya saya membalas sapaan tersebut dengan senyuman terbaik. Lalu kemudian dia loncat-loncat kegirangan diantara teman-temannya.

Rasa keingintahuan membuat kami untuk mampir. Kendaraan pun diparkirkan diantara kendaraan para pengunjung yang lainnya. Tidak jauh dari kami, berdiri sebuah plang yang menyatakan kalau kami sedang berada di Balai Pinang. Saya dan Yansah pun segera masuk ke sebuah lapangan, membaur dengan para pendatang lainnya.

"Masih mau digoyang...?" Teriak seorang pembawa acara yang ada diatas panggung.

Sontak para penonton yang ada dilapangan berteriak 'masih'. Terutama para lelaki yang suaranya sangat terdengar jelas. Seorang biduan pun maju kedepan, sambil terlebih dahulu menyapa para fans beratnya. Lagi-lagi lapangan dipenuh oleh teriakan yang begitu histeris, mungkin hampir mirip dengan konsernya Lady Gaga. Tanpa menunggu lama sebuah tembang lagu yang berjudul Belah Duren pun dinyanyikan. Kebetulan saat itu pas lagi musimnya buah durian.

Rasa penasaran kami pun terjawab. Ternyata ini adalah pesta rakyat dalam rangka penutupan turnamen sepak bola. Oleh karena itulah, ramai muda-mudi  yang pada berdatangan kesini. Tidak hanya dihibur dengan alunan musik, disini juga banyak penjual minuman dan makanan ringan yang akan membuat malam santai lebih nikmat. Selain itu ada juga hiburan lempar kaleng dan permainan pasar malam lainnya.

Ada satu hal yang membuat saya kagum dengan para pengunjung disini. Banyak dari mereka yang datang dengan tampilan sederhana saja, memakai celana pendek dan sendal jepit. Tidak ada rasa gengsi tampak diraut wajahnya, yang ada hanya rasa riang karena bisa kumpul bareng bersama teman. Untuk ceweknya jangan ditanyakan lagi, jarang dijumpai mereka yang memakai warna merah dipipih. Mereka lebih tampak cantik alami, sesuatu yang disukai semua orang. Tapi sungguh, gadis-gadis Dayak disini memang terlihat sangat jelita.

Kami melanjutkan kembali perjalanan. Karena hari yang semakin malam tentunya membuat rasa dingin lebih terasa. Apalagi ini didaerah pedalaman yang masih banyak memikiki pohon. Hingga akhirnya kami berhenti ketika menemukan sebuah masjid didaerah Semandang Kanan. Lagian sudah dua waktu yang telah kami lalaikan.

22.30 WIB. Malam semakin larut dan badan pun semakin kalut. Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di teras masjid. Ditemani dinginnya malam dan nyayian indah nyamuk, kami terlelap bersama rasa kelelahan.

Baca juga:
Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 2

Saturday, January 11, 2020

Angkringan Terenak di Kota Pontianak

Membahas kuliner di Kota Pontianak tentunya tidak akan habis. Dari yang halal hingga yang tidak halal semuanya ada disini. Dari cita rasa yang manis hingga yang asin semuanya bisa dijumpai.

Malam itu Kota Pontianak baru saja diguyur hujan. Nah kalau sudah dingin-dingin paling enaknya melakukan sesuatu. Tapi bukan sesuatu yang itu tuh, bukan pula menarik selimut diatas kasur. Melainkan mencoba kuliner malam untuk mengenyangkan perut sekaligus menghangatkan badan. Iya, orang yang kedinginan itu perlu karbohidrat yang lebih supaya cepat ngantuk dan segera tidur. Apa hubungannya???

Saat itu salah satu teman mengajak makan dan merekomendasikan untuk ke angkringan. Katanya sih ini tempat angkringan paling enak dan tentunya juga bersahabat di dompet. Maafkanlah kami yang selalu mencari harga murah dan menuntut rasa yang lebih.

Kalau dia yang merekomendasikan tentunya tidak perlu diragukan lagi. Sudah berapa banyak tempat yang ia datangi hanya untuk mencari sesuap nasi. Dan jika ada tempat yang berkesan, langsung melapor ke kami. Tanpa ini itu lagi, kami langsung segera terbang menuju TKP.

Berbicara tentang angkringan tentunya sudah tidak asing lagi. Makanan yang sederhana ini namun tidak sesederhana RM Sederhana ternyata memiliki sejarah tersendiri. Dan berikut ini sejarah singkat angkringan.

Alkisah, hiduplah seorang bapak-bapak di Tanah Jawa yang bernama Mbah Pairo. Dalam kesehariannya, mbah tersebut menjajakan makanan dengan cara dipikul. Sambil berjalan kaki, si Mbah berteriak Ting...Ting...Hik. Mendengar suara tersebut, membuat para perawan yang ada di Kota Jogja berkeluaran ke teras rumah. Mereka tersipu malu karena merasa dirinya telah di panggil oleh si Mbah.

Sebelumnya nama panggilan angkringan adalah Hik yang diadopsi dari teriakan si Mbah tadi. Tahu tidak, ternyata nama panggilan tersebut memiliki arti tersendiri. Yaitu Hidangan Istimewa Kampung (HIK).

Lambat laut, dagangan Mbah tersebut semakin laris. Tidak hanya digandrungi oleh perawan saja, tetapi juga dari semua kalangan. Baik itu laki-kaki, perempuan, setengah laki-laki perempuan, semuanya sangat menyukainya. Akhirnya si Mbah memutuskan untuk mangkal disuatu tempat dengan menggunakan gerobak barunya.

Biar bisa menyenangkan para langganan, disediakanlah kursi panjang untuk duduk. Setiap tamu yang makan disini kebanyakkan menaikkan sebelah kakinya diatas kursi tersebut. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki tersebutlah muncul istilah angkringan atau nangkring.

Bagaimana? Sedikit banyak sudah tahukan awal mula adanya angkringan. Jadi ingat, ketika makan disana harus menaikkan sebelah kaki diatas kursi. Biar suasana makannya lebih terasa. Hehe... Oh iya, tentang perawan dicerita tadi hanya tambahan bumbu dari penulis. Nuwun sewu...

Kembali ke cerita awal.

Angkringan yang kami maksud adalah O' Angkringan. Bagaimana? Simpel dan mudah diingatkan nama lapaknya. O...angkringan...

O' Angkringan terletak di Jalan Panglima Aim No. 1. Lokasinya berdekatan dengan kampus Akper YARSI. Jadi buat teman-teman yang mau datang kesini, diingat tuh alamatnya. Lapaknya dibuka saat sore hingga malam. Jadi jangan keawalan dan juga kemalaman.

Kami datang sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu masih terlihat banyak yang mengantri, untuk menunggu giliran memilih makanan. Berhubung saya datangnya dudi, jadi kurang elok juga jika ikut nimbrung berdesakan disitu. Menunggu waktu yang tepat.

Meskipun kami tiba sudah cukup malam, namun tetap saja masih ramai pelanggan yang datang. Sebagian besar mereka hanya datang membeli dan baru dinikmati setelah sampai dirumah. Maklum, disini hanya disediakan dua meja serta duduk lesehan didepan rumah. Yah namanya juga angkringan, jadi ciri khasnya adalah kesederhanaan.

Tibalah giliran kami untuk memilih. Nah, kalau ada diangkringan tentu nasi yang disediakan adalah nasi kucing. Tapi tenang saja, ini bukan nasi kucingnya si anu, melainkan merupakan nasi yang porsinya lebih sedikit. Karena ukurannya yang minim itulah membuat harganya lebih miring.

Untuk nasi kucingnya setidaknya ada beberapa pilihan, seperti nasi teri, nasi jamur, nasi bakar dan lainnya. Dari seua yang disajikan, penulis lebih tertarik untuk mencoba nasi jamur.

Untuk melengkapi nasi tersebut biar semakin maknyus,disediakan juga beraneka ragam sate. Seperti sate hati, sate ampela, sate telur puyuh, sate kikil, sate usus ayam, sate ceker, tempe, tahu dan masih banyak yang lainnya. Untuk harga pertusuknya dimulai dari harga 2.000-3.000.

Nih Pilihan Satenya

Setelah memilih barulah kita berikan kepenjaga lapaknya. Mereka akan mencatat makanan kita kemudian akan dipanggang diatas bara api, yang konon panasnya tidak sepanas api neraka. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

Sambil menunggu pesanan datang, kami terlebih dahulu memesan minuman. Dari sekian pilihan minuman di O'angkringan, kami semua kompak untuk memesan air serbat. Apa tuh? Ini merupakan salah satu minuman tradisional punyanya Pontianak. Air ini rasanya manis, hanya saja ada campuran rempah yang mebuat cita tasanya sedikit berbeda. Penasaran? Kuy langsung dicoba.

Tidak perlu menunggu lama, pesanan kami akhirnya tiba. Belum saja diletakkan, aromanya sudah menyentuh hidung. Kesannya seperti ditusuk jarum, cikit cikit...cikit cikit...cikit cikit...

Dengan mengucapkan bismillah, penulis langsung melahapnya. Untuk rasa jangan diragukan lagi, pastinya sangat nikmat. Tekstur kenyal dari jamur dan meresapnya bumbu-bumbu kedalam sate membuat rasa yang solid. Mereka semua bertemu diatas lidah dan kemudian bersatu, itulah cita rasa Indonesia.

Sebenarnya dalam menilai makanan penulis kurang mengerti apa  saja bumbu-bumbu yang dominan didalam makanan tersebut. Tapi yang pasti, dalam menilai makanan bagi penulis hanya ada dua pilihan. Yaitu enak dan enak sekali. Hehe.. Bukankah dengan bersyukur Allah akan menambahkan lagi nikmat hambanya.

Karena kami makannya duduk lesehan, jadi belum sempat mencoba angkat kaki sebelah, seperti sejarah angkringan diatas. Mungkin untuk selanjutnya bisa dipraktekkan. Ngomong-ngomong, orang disamping kami sudah beberapa kali ganti. Malu juga kalau terlalu lama disini sambil isep batu es. Saatnya pulang, hati senang perut kenyang.


Friday, January 10, 2020

Tempat Tinggal yang Murah Meriah Untuk Mahasiswa

Menjadi mahasiswa tidak hanya mesti pintar dalam akademik saja, tetapi juga harus pintar dalam mengatur keuangan. Kenapa? Yah karena mahasiswa itu pada umumnya memiliki keuangan terbatas, alias masih berharap kiriman dari orang tua.

Nah, berbicara tentang pengeluaran mahasiswa tentunya tidak hanya untuk makan saja, tetapi banyak keperluan lain yang harus dipenuhi. Misalkan biaya tempat tinggal, biaya keperluan kuliah, biaya transportasi, biaya pulsa dan internet, dan biaya untuk keluar malam minggu sama si dia.

Belum lagi biaya fashion dan tak terduga lainnya. Pokoknya kalo ngomongin pengeluaran rasanya tidak ada habis-habisnya. Oleh karena itu, uang pas-pasan dari boss di kampung harus diatur dengan sebaik mungkin.

Dari biaya tersebut ada biaya yang bisa ditekan (pengeluarannya diminimalisir), salah satu contoh adalah tempat tinggal. Tidak hanya mahasiswa, orang yang sudah berkerja tentunya juga akan mencari tempat tinggal yang murah meriah.

Buat Mahasiswa, setidaknya ada beberapa tempat tinggal yang direkomendasikan untuk anda. Tapi ingat, disini tidak membicarakan kostan yang harganya mencapai ratusan ribu untuk perbulan.

 2.Tinggal di Rumah Keluarga

Buat anda yang memiliki keluarga di tanah rantau bersyukurlah, karena setidaknya sudah ada tempat alternatif yang bisa dijadikan tempat tinggal. Apalagi kalau keluarga tersebut adalah saudaramu atau saudara orang tuamu. Pasti mereka akan menawarkan untuk tinggal seatap bersama mereka. Lumayan juga kan uang yang biasanya digunakan untuk bayar kostan bisa ditabung untuk keperluan lain.

Selain biaya tempat tinggal yang gratis, disini makanan sehari-harimu pasti juga akan terjaga. Tapi ingat, meskipun keluarga tidak menuntutmu untuk membayar segala fasilitas yang telah diberikan, setidaknya kamu harus menjadi penghuni yang baik. Entah itu menjaga etika, sering membatu urusan mereka dan sesekali juga mesti belanja makanan. Intinya pandai-pandai anda-lah membuat mereka  nyaman bersama anda.

2. Tinggal di Masjid

A: What? Tinggal di masjid?

B: Iya, tinggal dimasjid.

A: Masjid itu tempat ibadah men, bukan tempat tinggal.

B: Oke, saya akan jelaskan.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid dari dulu juga digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berbagi ilmu, serta tempat istirahat bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Jadi, masjid itu memiliki manfaat yang luas, selama demi kepentingan umat.

Nah, berbicara tentang mahasiswa yang tinggal dimasjid itu sudah biasa. Apalagi di kota-kota besar. Bahkan tidak jarang ada petugas masjid yang mencari mahasiswa untuk bersedia tinggal di masjid. 

Selain biaya tempat tinggal yang gratis, tinggal dimasjid juga banyak manfaatnya. Salah satunya adalah semakin mendekatkan anda kepada sang pencipta. Sedangkan salah duanya adalah anda akan mendapatkan biaya hidup dari pengurus masjid. Tapi ingat, disini tidak hanya sekedar tinggal saja, namun anda juga harus menjaga kebersihan masjid.

Oh iya, penulis juga sempat membaca sebuah artikel tentang mahasiswa yang tinggal dimasjid. Dimana kalau beruntung anda akan mendapatkan berbagai fasilitas tambahan, seperti kasur dan lemari pakaian, kamar yang ber-ac, kamar mandi ada didalam, jaringan wifi dan komputer, plus dapat gaji. Wah, kalau itu sih sudah mirip kostan yang harganya satu jutaan. Dan hebatnya lagi, ia bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumlaud.

3. Tinggal di Asrama

Asrama Tempat Saya Tinggal

Tempat tinggal yang murah meriah untuk mahasiswa yang selanjutnya adalah asrama. Tentunya teman-teman semua sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Asrama mahasiswa merupakan fasilitas yang disediakan untuk sarana tempat tinggal bagi mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan. Asrama mahasiswa ini biasanya disediakan oleh pemerintah daerah atau pun dari unibersitas itu sendiri.

Berbicara tentang asrama, tentunya tidak hanya sekedar bangunan fisik saja. Namun didalamnya juga dilengkapi berbagai fasilitas, selerti tempat tidur, lemari, meja belajar dan kipas angin. Jadi sangat disayangkan jika kita tidak memanfaatkannya.

Untuk biaya gimana? Biaya asrama tentunya sangat terjangakau. Malah bisa sepuluh kali lebih murah dari harga kostan. Pembayaran itu pun biasanya ditujukan untuk kebersihan, seperti membeli pembersih lantai, kantong sampah dan lain-kainnya.

Nah, itulah tempat tinggal murah yang bisa saya rekomendasikan untuk teman-teman. Ketika ada yang lebih terjangkau dan lebih bagus, kenapa masih mau mencari yang lain?

Kira-kira ada tempat tinggal yang murah lagi gak ya buat Mahasiswa?


Pesona Wisata Jembatan Tayan

"Kita mau lewat mana?" Tanya saya kepada teman sebelum berangkat.

"Perginya kita akan lewat jalur darat, sedangkan pulangnya akan lewat jalur air". Dia menjawab, sambil memasang helm dikepala.

"Oke." Saya menyetujuinya dan perjalanan pun dimulai.

Ada banyak jalan menuju Roma. Eh salah, maksudnya Kota Ketapang. Yaitu melalui jalan darat, air dan udara. Semua rute tersebut merupakan pilihan, tinggal kitanya saja yang menentukan.

Jika anda ingin perjalanan yang lebih cepat tanpa banyak membuang waktu,  yah silahkan menggunakan pesawat. Tapi ingat, anda harus merogoh kocek lebih dalam.

Jika anda ingin perjalanan yang tidak melelahkan dan biaya yang terjangkau, yah silahkan menggunakan kapal. Tapi ingat, anda harus bersedia terombang-ambing, kalau tiba-tiba saja gelombang sedang tinggi.

Jika anda ingin perjalanan memiliki banyak cerita dan bisa singgah ketempat wisata yang dilalui, yah silahkan menggunakan kendaraan pribadi. Tapi ingat, perjalanannya jauh dan berliku-liku. Ditambah lagi keadaan cuaca yang kadang tidak menentu. Baru saja panas, eh tiba-tiba saja sudah hujan.

Nah dari ketiga pilihan itu, kami sepakat untuk melalui jalur darat. Kenapa? Ya karena kami ingin berpetualang sekaligus melihat tempat-tempat yang belum kami datangi. Dengan kendaraan roda dua, kami melintasi Jalan Trans Kalimantan menuju Kota Ketapang.

Ada banyak tempat menarik yang bisa disinggahi ketika melakukan perjalanan darat. Salah satunya adalah mampir ke Jembatan Tayan.  Iya, sebuah jembatan penyeberangan dengan pesonanya yang menarik. Sehingga tidak heran, jika banyak masyarakat Kalbar dan luar daerah yang menyempatkan diri untuk kesini.

Berhubung rute perjalanan melaluinya, rasanya berdosa besar jika tidak menyempatkan diri untuk singgah. Kami pun menepikan kendaraan disebuah bukit sebelum melintasi Jembatan Tayan. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun dari atas sini tersaji pemandangan yang sangat menawan.

Kami tidak tahu apa nama bukit ini. Yang pasti disini banyak terdapat tumpukan batu besar, yang membuat view semakin menarik. Dari atas bukit ini pula, anda bisa berfoto dengan background Jembatan Tayan (meskipun sedikit kurang jelas) yang melintasi Sungai Kapuas. Selain itu, deretan bukit diseberang sungai juga akan membuat gambar anda semakin apik.

Berapa lama waktu tempuh ke Jembatan Tayan?

Saat itu kami berangkat pukul 12.30 WIB dan tiba disana sekitar  pukul 16.30 WIB. Sebenarnya waktu tempuh tidak seharusnya selama itu, hanya saja didalam perjalanan beberapa kali diguyur hujan. Belum lagi kami juga sempat singgah disebuah masjid untuk melaksanakan kewajiban. Kalau melakukan perjalanan tuh harus semakin dekat sama Tuhan, biar nikmatnya liburan semakin ditambah.

Waktu tempuh menuju  Jembatan Tayan yang normal adalah 2 jam 30 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 113 kilometer. Tapi ingat, itu hitungannya dari arah Kota Pontianak. Kalau anda datangnya dari Mempawah, Singkawang atau Sambas, maka waktu perjalanannya tentu akan semakin lama.

Setelah puas berfoto di Bukit Batu tadi (bukan nama sebenarnya), kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami akan melintasi jembatan terpanjang di Pulau Kalimantan. Ada hal yang menarik ketika memasuki kawasan Jembatan Tayan, yaitu anda akan menemukan lampu-lampu jalan dengan bentuk seperti kail pancing. Iya, bentuknya melengkung, menyerupai kail pancing terbalik.

Sejarah Singkat Jembatan Tayan

Jembatan Tayan terletak di Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau. Jembatan ini melintas panjang diatas Sungai Kapuas dan melewati Pulau Tayan. Iya, ditengah-tengah sungai terdapat sebuah pulau. Menarik, bukan?

Sebelum adanya jembatan, sehari-hari masyarakat ketika akan menyeberang hanya menggunakan jasa penyeberangan kapal dan perahu tradisional. Untuk sampai ke tempat tujuan pun harus sedikit lama. Kini, akses masyarakat lebih mudah setelah adanya bangunan jembatan. Mereka bisa menyeberang kapan saja dengan waktu yang lebih singkat.

Pembangunan Jembatan Tayan dimulai pada tahun 2011 dan peresmian pada tanggal 22 Maret 2016 oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Panjang jembatan ini mencapai 1,65 kilometer dan merupakan jembatan terpanjang ketiga di Indonesia setelah Jembatan Suramadu dan Jembatan Pasupati.

Tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya saja, jembatan ini tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat yang luas. Bisa dibilang untuk kepentingan satu Pulau Kalimantan. Hal ini dikarenakan Jembatan Tayan merupakan penghubung Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,  dan Kalimantan Timur. Selain itu, jembatan ini juga digunakan untuk menuju ke negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunai Darussalam.

Ada yang tau nama sebenarnya Jembatan Tayan? Orang-orang pada umumnya memang lebih mengenal jembatan tersebut dengan panggilan nama Jembatan Tayan. Hal ini wajar saja, karena secara geografis letaknya berada di Kecamatan Tayan. Namun setelah peresmian, nama jembatan ini resmi menjadi Jembatan Pak Kasih. Pak Kasih merupakan nama salah satu pahlawan asal Kalimantan Barat yang berjuang untuk kemerdekaan.

Kami juga menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke Pulau Tayan. Meskipun tidak lama, tapi lumayanlah untuk berkeliling sejenak. Tanpa membuang waktu, kami segera merogoh kocek tas untuk mengambil kamera sambil berfoto di tulisan jembatan tayan. Akhirnya.. setelah sekian lama diresmikan, baru kali ini bisa kesampaian. Aku orang mana ya?

Kami juga menyempatkan berkekililing disekitar kaki jembatan. Disini terlihat pembangunan yang masih sedang dikerjakan. Dari bentuknya, sepertinya disini akan dijadikan sebagai taman budaya. Karena saat itu sore hari, jadi banyak juga para muda-mudi yang berkeliaran untuk jalan santai. Entah itu bersama pacarnya, teman, orang tua, bahkan dengan peliharaannya. Jadi saya rasa disini sangat cocok untuk anda yang ingin mencari jodoh. Sssttt...

Jembatan Tayan didominasi oleh warna merah putih yang merujuk pada warna bendera Indonesia. Selain jalur untuk kendaraan, dikiri kanan juga tersedia trotoar bagi pejalan kaki. Nah, di trotoar yang berwarna kuning inilah banyak orang dan pengguna jalan lainnya mampir untuk bersantai sambil mengabadikan momen. Termasuk saya salah satunya.

Jalan diatas Jembatan Tayan bisa dikatakan sepi oleh pengendara. Meskipun sesekali lewat kendaraan motor mobil, namun lajunya tidak semaunya. Mungkin mereka juga ingin menikmati keindahan jembatannya.

Seperti yang lainnya, saya juga berfoto ditengah-tengah jembatan dengan landmark Jembatan Tayan. Yah, meskipun setelah dilihat hasil fotonya kurang memuaskan. Tapi sudahlah, yang penting sudah bisa sampai disini. Mungkin ambil fotonya bisa dicoba lagi dijembatan Kapuas Pontianak saat orang  lagi sibuk pulang kerja?


Setelah sibuk berfoto yang kemudian akan dipamerkan dimedia sosial, saya pun langsung menepi ke trotoar. Berdiri sambil menikmati keindahan Sungai Kapuas. Dari atas jembatan anda bisa melihat bagaimana sibuknya aktivitas masyarakat yang ada di pinggiran sungai. Kapal-kapal yang berlalu lalang sambil membawa muatan dan megahnya bukit dari kejauhan.

Banyak hal menarik yang sebenarnya bisa dikakukan disini. Salah duanya adalah kulineran dan menaiki speed boat. Untuk anda yang mempunyai waktu luang kesini, saya sarankan untuk mencoba menaiki speed boat yang akan membawa anda menyusuri Sungai Kapuas. Sambil berfoto dengan gambar Jembatan Tayan yang megah dibelakangnya.

Matahari diufuk barat pun mulai kembali diperaduannya. Dari jauh juga terlihat awan mendung yang berarak kearah kami. Kami pun bergegas, menghampiri kendaraan dan melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Semoga lain kali bisa lagi kesini, menghabiskan waktu yang lebih lama bersama orang yang tercinta.

Friday, January 3, 2020

Impian Gadis Dayak

Perjalanan saat itu harus dihentikan. Tiba-tiba saja langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Awalnya sih hanya gerimis, namun semakin lama hujan tersebut semakin lebat. Membuat sebagian pakaian terasa basah.

Karena berada dijalan pedalaman Kalimantan, membuat kami bingung akan berteduh dimana. Yang ada dipinggir jalan hanyalah pepohonan dan jurang. Selain itu, hsnya orang berhenti dipinggir jalan untuk memakai jas hujan.

Beruntung, sebelum pakaian dan barang lainnya basah kuyup, terlihat beberapa deret rumah disisi kanan jalan. Saya pun memperlambat kendaraan dan menepi disalah satu rumah yang belum jadi. Rumah tersebut sudah memiliki atap, namun belum memiliki dinding.

Kami pun berteduh dibawah rumah tersebut, sambil merehatkan badan setelah menempuh dua jam perjalanan. Bersantai diatas gerobak sambil melihat hilir mudiknya kendaraan.

Belum lama kami bersantai, tiba-tiba datang dua gadis kecil. Mereka datang dari rumah sebelah, berteduh bersama kami layaknya orangnya yang juga kehujanan. Sesekali terdengar mereka berbicara menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak.

Sepintas saya juga sempat berpikir, ini anak tidak takut diculik kah? Saya saja yang sudah besar begini masih takut diculik. Diculik oleh tante-tante girang. Hehe.

Tapi sudahlah. Namanya juga anak-anak, tentunya sangat polos. Yang mereka tahu semua orang adalah baik yang bisa diajak bergembira.

Saya kira kedatangan dua gadis tersebut hanya sekedar untuk bermain pasir didalam rumah. Maklum, pasir biasanya merupakan salah satu alat yang bisa digunakan untuk bermain. Tapi ternyata tidak. Mereka malah memanjati  kayu-kayu yang ada dirumah. Hualah, ini anak kok tingkahnya kayak anak lelaki.

Sesekali saya menoleh kebelakang, untuk melihat lagi tingkah lucu dua gadis tersebut. Setiap saat saya memandang, mereka langsung tertawa sambil berbisik. Rasa curiga pun muncul, mungkin ada hal yang aneh pada diri saya? Atau mungkin tampang saya mirip Sule? Ah sudahlah, namanya juga anak-anak.

Citra, Cinta dan Saya

"Tadi dari mana? Kok hujan-hujan?" Tanya saya, memulai sebuah percakapan.

"Dari rumah yang itu." Gadis yang berbaju oren menjawab, sambil menunjuk sebuah rumah.

Sayapun melihat kearah rumah tersebut, sambil sedikit mengangguk. Tidak jauh dari rumah tersebut juga terdapat warung buah musiman, yang menjual buah durian, manggis dan lainnya.

"Namanya siapa?" Saya kembali bertanya dan menunjuk gadis yang berbaju oren tersebut.

"Citra". Dia menjawab pendek sambil tersenyum-senyum.

"Lalu yang ini siapa namanya?" Saya bertanya ke yang satunya lagi.

"Cinta, Om." Anak tersebut menjawab. 

Setelah mendengarkan namanya membuat saya mulai sedikit curiga. Jangan-jangan saya telah dikadalin nih sama bocah. Kok bisa namanya hampir mirip, sama-sama diawali huruf C dan diakhiri huruf A. Apalagi mereka suka senyum-senyum.

"Itu benar nama kalian berdua?" Saya bertanya dengan tatapan lima rius.

"Iya, Om. Itu nama kami." Gadis yang di pojok kanan menjawab. Dan lagi-lagi mereka tersenyum, sambil mengumpulkan pahala. Karena senyum adalah ibadah.

Baiklah, saya percaya. Gumam dalam hati. 

Perbincangan kami semakin hangat ditengah dinginnya hujan. Dari perbincangan Sedikit-sedikit mereka juga mulai bertanya tentang kami. Dari mana Om? Mau kemana Om? Ngapain mau kesana Om? Sudah punya pacar Om? 

Pertanyaan yang terakhir jangan dibawa serius... itu hanya akal-akalan saya saja. Mana mungkin gadis sekecil itu mikir yang aneh-aneh. Yang mereka pikirkan itu hanyalalah belajar dan bermain.

Semakin panjang pembicaraan, semakin banyak pula hal yang saya tahu tentang mereka. Sama seperti anak-anak yang lain, sekarang ini mereka masih menimba ilmu di sebuah Sekolah Dasar. Citra berusia 9 tahun dan duduk dibangku kelas 4. Sedangkan Cinta berusia 7 tahun dan duduk dibangku kelas 2.

Layaknya seperti kita, mereka juga memiliki sebuah hobi. Sesuatu yang sangat disenangi untuk dilakukan. Citra memiliki hobi main badminton, salah satu olahraga yang banyak disenangi orang. Saya juga sempat bertanya, kira-kira siapa pemain badminton favoritnya. Dia hanya menggeleng-geleng sambil mengatakan tidak tahu.

Sama seperti Citra, Cinta juga memiliki hobi di bidang olahraga. Jika Citra lebih senang badminton, maka  Cinta lebih senang bermain voli. Jawaban tersebut tentu saja mengundang pertanyaan saya yang lebih banyak. Emangnya Cinta bisa? Cinta kan masih kecil? Mainnya dimana? 

Cinta langsung menjawab dengan percaya diri. Dia berusaha meyakinkan saya, meskipun usia masih muda dan badan kecil, bukan berarti tidak bisa melakukan sesuatu yang disenangi. Dia juga menyebutkan tempat biasanya bermain voli, yaitu disekolahan dan lapangan milik masyarakat.

Semoga saja kedepannya mereka bisa mengharumkan nama  Indonesia dikancah dunia.

Berbicara cita-cita tentunya mereka juga punya.

"Kalau besar nanti cita-citanya jadi apa". Saya kembali bertanya kepada mereka

"Saya ingin jadi guru agama, Om." Citra yang langsung menjawab.

"Kalau Cinta, cita-citanya jadi apa?"

"Saya ingin jadi dokter." Cinta menjawab, sambil memandang saya dengan tatapan mata penuh harapan.

Saya juga sempat bertanya kenapa ingin bercita-cita seperti itu. Citra menjawab kalau dia ingin seperti guru Katoliknya disekolahan, yang bisa mengajarkan agama ke yang lainnya. Sedangkan Cinta ingin mengobati orang yang lagi sakit.

Mendengar cita-cita mereka dan alasannya membuat saya merasa takjub. Ternyata dibalik kepolosan mereka berdua, tersimpan sebuah harapan yang besar. Tidak hanya untuk kepentingan mereka, tetapi juga untuk orang banyak. Semoga saja cita-cita yang mereka inginkan akan terwujud dimasa yang akan datang. Belajar yang semangat ya dek...

Tiga puluh menit berlalu. Hujan pun redah, meninggalkan sedikit tetesan air dari atas genteng dan pepohonan. Perbincangan di kaki Bukit Benuah pun harus diakhiri. Saya pun izin pamit dan mereka membalasnya dengan lambaian tangan. Semoga disuatu saat terdengar kabar kalau mereka sudah jadi guru dan dokter.

Tuesday, December 31, 2019

Nike Ardilla Bersenandung di Sungai Kapuas


Dilalui oleh Sungai Kapuas dan Landak membuat beberapa wilayah di Kota Pontianak terpisah secara demografis. Untuk menuju ke wilayah Pontianak yang ada diseberang, masyarakat biasanya menggunakan jembatan tol. Selain itu, tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakan penyeberangan veri dan transportasi air kaunnya.

Pagi itu waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB. Meskipun sedang momennya liburan natal dan menjelang tahun baru, tetap saja aktivitas di Kota Pontianak tetap ramai. Salah satunya adalah penyeberangan veri yang setiap harinya mengantarkan penumpang dan kendaraan untuk menyeberang.

Kendaraan menepi disebuah loket. Saya merogoh uang didalam kocek kemudian menukarkan dengan selembar karcis dari para petugas. Setiap orang yang menggunakan jasa pengangkutan ini harus membayar, dan harganya pun tergantung jenis kendaraan.

Tak hanya kendaraan bermotor dan mobil pribadi saja, berbagai kendaraan lain seperti truk juga menggunakan penyeberangan ini. Semuanya sama, ingin sampai ditempat tujuan lebih cepat. Berapa lama pula waktu yang harus dihabiskan jika melewati jembatan tol. Belum lagi apabila jalan yang dilewati macet.

Kapal yang akan mengangkut kami sudah menepi didermaga, membawa penumpang dari arah seberang. Dari raut wajah mereka terlihat sekali sudah tidak sabar untuk naik kedaratan. Begitu portal rantai dibuka, kendaraan roda dua langsung menancap gas dan berhamburan keluar. Suara bising kendaraan pun memenuhi langit-kangit dermaga saat itu.

Agar tidak saling berdesakan ketika menaiki kapal, maka para petugas mendahukukan kendaraan roda empat dan diatasnya. Baru lah kemudian kendaraan roda dua yang mengisi bagian tengah. Saat itu saya beruntung karena mendapatkan posisi bagian depan, berdampingan dengan deretan truk.

Terompet pun berbunyi. Pertanda kapal sebentar lagi akan berjalan. Saya pun memperbaiki posisi, agar keseimbangan tetap terjaga jika kapal tiba-tiba oleng.

Ada banyak keuntungan ketika mendapatkan posisi didepan (gerbang kapal). Selain kita bisa cepat keluar, tetapi juga bisa menyaksikan keindahan Sungai Kapuas. Melihat bagaimana aktivitas masyarakat dipinggiran sungai dan kapal-kapal besar lainnya yang sedang berlabuh.

Fokus saya mendadak teralihkan oleh suatu hal. Bukan karena silaunya Tugu Tanjak yang berwarna keemasan atau indahnya air mancur yang ada diseberang, melainkan karena suara yang ada di dalam truk pinggir saya.

'Malam-malam aku sendiri. Tanpa cintamu lagi. Ho u wo o o. Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar. Menerpa hidupku. Bahagia kan datang'.

Iya. Itu merupakan sebuah lirik lagu yang pernah populer pada era tahun 90-an. Apalagi kalau bukan judulnya 'Bintang Kehidupan'. Lagu tersebut dinyanyikan dengan lantang oleh abang pengemudi truk. Bahkan saking merdunya, mampu menyaingi suara mesin kapal.

Bersenandungnya lagu Mbak Nike Ardilla diatas kapal, tepatnya diatas Sungai Kapuas menunjukkan bahwa lagu tersebut tidak lekang oleh waktu. Tidak hanya para generasi tempoe doeloe yang mengatahuinya, generasi jaman now pun turut menyanyikannya. Ya, meskipun kadang mereka hanya mengetahui lagunya tanpa mengenal bagaimana wajah penyanyi aslinya.

Sejenak saya teringat tentang sosok mbak Nike Ardilla. Bukan hanya sekedar teringat senyumannya yang manis aduhai, atau suaranya yang sangat merdu, melainkan juga sejumlah prestasi yang pernah ditorehnya. Baik itu disaat sebagai penyanyi, pemain film atau hanya sekedar foto model.

Nike Ardilla sukses berada di puncak kepopulerannya ketika lagu 'Bintang Kehidupan' terbit. Lagu tersebut berhasil membawanya semakin banyak dikenal orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai mancanegara.

Tidak tanggung-tanggung, album lagu tersebut mampu terjual sebanyak 2 juta copy di Asia Tenggara. Selain itu, album tersebut juga mendapatkan penghargaan dari BASF awward 1990 dalam kategori The Best Selling Rock Album. Ini baru secuil dari sederet penghargaan yang telah diraih oleh Mbak Nike Ardilla.

Tanpa terasa kapal yang mengangkut kami ke seberang sudah menepi ke dermaga. Abang sopir yang sibuk menyanyi tadi pun juga telah berhenti. Pihak petugas juga telah melepaskan portal rantai. Itu artinya kami harus bergegas naik kedaratan. Semoga selanjutnya bisa ketemu Mbak Nike Ardila yang lainnya.

Oh ia. Lagu yang dinyanyikan abang sopir truk tadi ternyata bertepatan dengan taggal lahirnya Mbak Nike Ardilla. Dari mana bisa tahu? Ya karena pada saat itu tidak sengaja saya melihat postingan di facebook, bahwa Mbak Nike Ardilla lahir pada tanggal 27 Desember 1975. Seandainya saja Mbaknya masih hidup, pasti umurnya sekarang sudah 44 tahun.