Monday, January 14, 2019

Berburu Si Manis Saat Tengah Malam


"Yok kite pegi makan durian". Ajak seorang alumni asrama yang saat itu sedang bermain keasrama. Tapi bukan untuk bermain catur, bukan bermain daun remi dan sebagainya, melainkan hanya sekedar intuk mempererat tali silaturrahmi.

Sebenarnya saya sedikit malas ingin mengiyakan ajakan tersebut. Bukannya karena saya tidak suka buah durian atau 'malu-malu kucing' ketika ditraktir, melainkan saat itu sudah diatas jam 12 malam. Saatnya untuk tidur, apalagi kantuk sudah datang melanda. Namun karena teman selalu meminta untuk ikut dan tidak akan berhenti merengek sebelum saya mengangguk, akhirnya saya bersedia untuk menemaninya.  Selain itu, tidak baik juga menolak rezeki yang datang seperti  'durian runtuh'.

Tidak semua yang berkumpul saat itu ikut berburu buah durian. Yang pergi saat itu hanya saya, Nurdin (teman seperjuangan skripsi disemester akhir), Bang Sugi (yang saat itu masih menunggu hasil pengumuman CPNS dan semoga saja lolos), dan Bang Zaini (merupakan kru di PON TV sekaligus merupakan big boss untuk makan buah durian ini).

Kamipun berangkat sekitar jam 24.20 WIB. Jalan pertama yang kami susuri adalah Jalan Imam Bonjol yang tak jauh dari lokasi kami. Disini kurang lebih ada tujuh lapak durian yang kami temukan. Tapi entah kenapa tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatian untuk disinggahi. 

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke Jalan Veteran. Ketika memasuki kawasan ini terlihat sekali banyak umat yang sedang melakukan transaksi jual beli. Maklum, disini merupakan lokasi Pasar Flamboyan yang merupakan pasar induk di Kota Pontianak sekaligus di Kalimantan Barat. Disini kami sempat singgah disalah satu lapak durian, meskipun pada akhirnya kami mencari tempat yang lain lagi.

Meskipun Kota Pontianak bukanlah daerah pertanian, namun ketika musim buah tiba daerah ini akan dibanjiri oleh berbagai jenis buah. Salah satu contoh adalah buah durian. Buah durian tersebut datang dari berbagai daerah yang ada di Kalbar.

Karena tempat yang kami singgahi tadi kurang berkenan dihati, akhirnya kami melanjutkan kembali pencarian (mencari buah durian yang memiliki biji emas, hehe). Kali ini kami pergi kedaerah seberang, yaitu Jalan Tanjung Raya 2. Beruntung saat itu sudah diatas jam 12 malam, jadi jalan terasa cukup lengang. Mudah dan bebas untuk kemana-mana.

Untuk kesana kami harus menyeberangi jembatan tol kapuas 1 yang menghubungkan Pontianak Kota dan Pontianak Timur. Jembatan ini merupakan jembatan kebanggaan masyarakat Pontianak, karena diatas sinilah kita bisa melihat betapa eloknya lekukan Sungai Kapuas. Ditambah lagi banyaknya cahaya lampu dan aktivitas masyarakat yang menjadikan pemandangan disini sangat menarik.

Baru saja memasuki Jalan Tanjung Raya 2, kami sudah disambut dengan pemandangan lapak buah durian. Disini terlihat banyak pedagang buah durian yang menghamparkan dagangannya dipinggiran jalan. Jarak antara pedagang yang satu ke pedagang yang lainnya pun tidak berjauhan, mereka saling berdekatan tanpa merasa khawatir akan kehilangan pelanggan.

Satu persatu lapak durian tersebut kami lewati. Meskipun saat itu sudah sangat malam, namun tak sedikitpun rasa kantuk terlukis diwajah pedagang tersebut. Malahan diwajahnya terlontarkan senyuman sekaligus  harapan bahwa kedatangan kami membawakan rezeki untuk mereka.

Saya yakin betul,  sebenarnya mereka terasa sangat lelah dan mengantuk. Namun dikarenakan demi tungku dapur yang harus selalu mengepul, mereka rela melakukan ini dengan senang hati. Saya berdoa semoga saja penghasilan yang didapatkan dari  'pejuang malam' ini bisa besar. Maklum saja, yang namanya pedagang itu bisa saja untung dan bisa saja rugi. Apalagi yang diperdagangkan adalah buah, sebuah produk yang cepat rusak.

Kami pun berhenti disalah satu lapak yang dibelakangnya berdiri kokoh bangunan ruko. Sisi kiri tempat tersebut terdapat sebuah kios yang memang digunakan untuk menjual buah. Beberapa orang terlihat sedang memilih, dan beberapa orang juga terlihat sedang menikmati buah durian.

"Ayok dek dipilih buahnye". Pedagang duriannya mempersilahkan kami

Dilapak sini ada beberapa tumpukan buah durian. Durian tersebut ditumpuk sesuai ukurannya masing-masing. Setiap tumpukan sudah diberi tulisan harga  masing-masing. Untuk ukuran yang paling kecil harga yang dikenakan Rp. 5.000 perbuah. Selain ditumpuk, ada juga durian yang digantung. Untuk harga durian yang dogantung pastinya lebih mahal dibandingkan dengan yang ada dibawah. Yaitu dimulai dari Rp. 25.000 sampai 35.000 untuk perbuahnya.

Tanpa dipersilahkan lagi, kami sudah langsung memilih ditumpukan yang harganya paling rendah. Sebenarnya big boss sempat menyarankan untuk ketumpukan sebelah saja yang memiliki ukuran lebih besar. Namun dikarenakan karakter jiwa kami yang sudah murahan, eh maksudnya suka yang barang murah meriah, akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang harga segitu saja.

Sambil memilih, kamipun sempat berbincang dengan penjual duriannya. Salah satu hal yang dibicarakan adalah mengenai asal durian ini. Dari situlah kami tahu ternyata durian tersebut didatangkan dari Sekadau, yang jaraknya kurang lebih 183 Km dari Kota Pontianak.

Pedagang buahnya juga berbaik hati, Ia membantu kami untuk memilih buah durian yang isinya bagus. Berbeda dengan malam sebelumnya (lapaknya beda), dimana kami hanya dibiarkan begitu saja untuk memilih buah durian (padahal yang beli hanya kami saja). Belum lagi kami harus membuka sendiri, menggunakan pisau iris bawang yang ketika ditusukkan malah menimbulkan rasa takut. Ia, takutnya jika pisaunya patah malah kami yang harus disuruh ganti.

"Wah, ini ada kepala botak didalamnye dek". Kata pedagangnya ketika saya menunjukkan sebuah durian.

"Maksudnye tuyul bang?" Tanya saya dengan polos. Dalam hati saya bergumam, seru juga bisa melihat tuyul didalam buah durian. Apalagi jika dibawa pulang, bisa disuruh untuk mencari uang yang banyak. Hehe.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, penjual duriannya langsung tertawa. Ia lantas menunjukkan sebuah lubang dikulit durian yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Dan kepala botak yang dimaksud adalah ulat yang berada didalamnya. Ulat tersebut memiliki tubuh yang cukup besar dengan kepala berwarna kecoklatan.

Pedagangnya lagi belah duren dimalam hari
Untuk pertama, kami hanya mencoba lima buah durian dulu. Setelah dibuka oleh pedagangnya, kami pun  membawa buah tersebut didekat sebuah ruko dengan cahaya lampu yang remang-remang. Layaknya anak kecil, kami pun berjongkok dan mengelilingi buah durian tersebut.

Tanpa menunggu lama, kami pun mulai mencicipi buah yang aduhai tersebut. Aromanya yang harum dan rasanya yang manis legit membuat penggemarnya akan selalu ketagihan. Tapi saya heran, kenapa masih saja ada orang yang membencinya. Apakah karena harganya yang murah dan boleh dibuka oleh siapa saja sehingga mereka memandangnya sebelah mata? Ah sudahlah, namanya juga kehidupan. Selalu ada dua sisi. Yang pastinya, berburu si manis saat tengah malam sungguh  sangat menyerukan.

Merasa kurang puas dengan yang tadi, kami pun akhirnya menambah lagi. Malahan kali ini kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Sungguh baiknya engkau nak, semoga Allah melipah rezeki padamu dan kami semua.

Durian yang kami rasa tak semuanya terasa manis. Kadang-kadang ada yang rasanya sedikit pahit. Tapi itu bukan karena menggunakan pemanis buatan, melainkan jenis duriannya yang beda. Hehe.

Hal yang saya suka dengan durian yang berukuran kecil adalah karena sering menemukan kucing tidur (tadi tuyul, sekarang kucing tidur). Namun bukan bearti kucing benaran, melainkan adalah dimana pada sisi durian tersebut hanya terdapat satu biji durian. Karena bentuknya seperti kucing yang sedang tidur makanya dinamakan demikian. Kucing tidur ini selalu menjadi rebutan, selain ukurannya yang lebih besar juga ada rasa kebanggan tersendiri.

Inilah Dia Kucnig Tidurnya

Karena masih kurang puas, big boss kami pun menambah lagi sebanyak lima buah. Dan lagi-lagi kami diberi gratis 1 oleh pedagangnya. Jadi total durian yang dibuka saat itu berjumlah 17 buah. Saat itulah kami baru menyadari, ternyata kami hanyalah nafsu semata. Semuanya karena khilaf, kami tidak mampu untuk menghabiskannya smua.

Kami pun pulang dalam keadaan kenyang dan mabuk kepayang.

Wednesday, January 9, 2019

Kuntilanak Senang Pada Alat Kelamin Pria Namun Takut Payudara Wanita

Ilustrasi

Untuk orang Indonesia tentu saja 'hantu kuntilanak' sudah tidak asing lagi. Bagaimana tidak, hampir sebagian besar film horror Indonesia menggunakan sosok hantu tersebut sebagai pemerannya. Dalam dunia perfilman, hantu kuntilanak ditampilkan sebagai sosok perempuan dengan pakaian putih dan berambut panjang. Tidak hanya itu, kuntilanak juga sering diadegankan serings tertawa bahkan menangis. 

"Jangan berkeliaran disaat maghrib, nanti diculik hantu". Kata Emak mengingatkan saya disaat masa kecil dulu. Sampai sekarang pesan tersebut masih teringat jelas.

Menurut cerita, kuntilanak memang sering mengganggu anak kecil dan bahkan menculiknya. Oleh karena itulah, biasanya orang tua sangat melarang anaknya untuk berkeliaran disaat maghrib menjelang.

Di Pulau Kalimantan tepatnya di Kalimantan Barat yang merupakan daerah saya sendiri, hantu kuntilanak memiliki popularitas yang tinggi dibandingkan dengan hantu yang lainnya. Selain karena populasinya yang memang banyak (Haha, emangnya bisa dihitung), kepopuleran hantu tersebut juga dikarenakan adanya keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kota Pontianak.

Berikut sekilas ceritanya.

Sebelum berdirinya Kota Pontianak, daerah tersebut dulunya hanyalah sebuah hutan dengan pepohonan yang lebat. Hingga suatu saat datanglah Sultan Syarif Abdurrahman untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal. Namun disaat itu, hantu kuntilanak yang berada di pohon selalu mengganggu beliau. Merasa risih dengan hal itu, Sultan menembakkan meriam kearah hutan tersebut.  Lambat laun, tempat tersebut semakin ramai oleh penduduk dan mengakibatkan hantu kuntilanak semakin menjauh dari keramaian. Dari kejadian tersebutlah lahirlah yang namanya Pontianak (pohon dan kuntilanak). Kurang lebih begitulah cerita singkatnya.

Sekarang saatnya fokus untuk menceritakan hantu kuntilanak yang ada di daerah saya. Kebetulan kampung saya sangat jauh dari perkotaan dan pastinya dekat dengan hutan (tapi sayang, sekarang hutan tersebut semakin terkikis). Karena merupakan perkampungan atau perdesaan, disini masih banyak sekali terdapat pohon-pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi . Terutama adalah pohon durian yang sejak lama telah dibudidayakan.

Mengenai hantu kuntilanak, pohon durian merupakan salah satu tempat favorit  bagi mereka. Entah itu untuk sekedar ia duduk, bergantung atau meloncat dari dahan yang satu kedahan yang lainnya (hehe, cocok jadi pemain sirkus). Yang pastinya, di pohon durian tersebutlah masyarakat sering menemukan sosok wanita tersebut.

Kebiasaan masyarakat kami, ketika musim buah durian tiba adalah mereka akan menginap dikebun untuk menunggu durian gugur. Disaat itulah, kadang masyarakat mendengarkan suara tawa dan tangisan yang disertai dahan yang bergoyang-goyang. Tidak jarang juga, hantu kuntilanak tersebut mengerjai si Penjaga durian, dengan seolah-olah banyak buah durian gugur. Namun setelah disusuri tidak ada satupun buah durian disana.

Ketika menunggu pohon durian, ada satu pantang yang tidak boleh dilanggar dan sangat diyakini masyarakat setempat. Yaitu membakar kulit durian dibawah pohonnya. Jika hal tersebut dilanggar, maka pada saat malam tiba akan muncul sosok hantu tersebut untuk menganggu si penunggu durian. Baik itu hanya sekedar menangis dan tertawa hingga menampakkan wujudnya. 

"Hantu kuntilanak itu tidak menggunakan pakaian putih, melainkan ia telanjang". Kurang lebih begitulah pengakuan salah satu orang yang pernah melihatnya. Hal tersebut juga di iakan oleh masyarakat lain yang pernah melihatnya.

Sebelumnya kita telah meyakini bahwa hantu kuntilanak memakai busana putih yang memanjang kebawah. Itu wajar saja karena kita menyaksikannya dilayar televisi, mana mungkin pula ditampilkan secara terbuka. Namun yang pastinya (menurut yang pernah melihat, semoga saya tidak akan pernah), disaat menampakkan dirinya dipohon durian, kuntilanak sering bergantung dengan posisi yang terbalik (kepala berada dibawah). Selain itu, hantu kuntilanak juga memiliki rambut yang panjang serta tidak memiliki payudara. Jangan-jangan hantunya banci kali ya, hehe.

Hantu yang dikenal sebagai sosok wanita ini juga sangat senang mengganggu pria. Pernah beberapa kali penunggu durian dikejar oleh hantu kuntilanak. Jika dikejar cewek cantik sih enak, ini malah dikejar cewek jadi-jadian, hehe. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kesenangan hantu kuntilanak kepada pria dikarenakan ia sangat senang memainkan alat kelamin pria, terutama dua bola yang menggantung. Bahkan menurut cerita yang beredar hantu kuntilanak tidak akan segan untuk memakan alat kelamin tersebut. Ini nih yang menyebabkan saya kadang takut menjaga pohon durian sendirian disaat malam.

Meskipun dikenal sebagai makhluk yang kadang suka mengganggu, ternyata hantu kuntilanak takut akan beberapa hal ini. Yang pertama adalah ia sangat takut dengan kobaran api yang besar. Saya juga  tidak tahu mengapa hantu ini takut akan kobaran api. Yang pasti hal tersebut biasa nya dilakukan masyarakat ketika hantu kuntilanak tidak mau beranjak lari.

Yang kedua adalah hantu kuntilanak takut sama paku dan gunting. Dalam masyarakat kami, wanita yang sedang hamil akan diselipkan paku diatas rambutnya. Katanya sih hantu kuntilanak itu sering membuntuti wanita yang sedang hamil. Sedangkan pada bayi, dibawah ayunannya biasanya diletakkan berbagai barang seperti paku, gunting dan cermin.

Yang selanjutnya adalah bahwa hantu kuntilanak sangat takut dengan barang yang dimiliki oleh wanita dewasa, yaitu payudara. Dikatakan juga bahwa hantu ini merasa malu karena tidak memiliki payudara layaknya seorang perempuan. Pernah kejadian, dimana saat itu hantu kuntilanak menganggu sepasang suami istri yang sedang menunggu pohon durian disebuah pondok. Merasa risih dengan ulah kuntilanak yang tidak berhenti tertawa, si istri langsung keluar dan menggoyang-goyangkan payudaranya (maaf agak menjurus ke potno). Setelah kejadian tersebut, suara tawa langsung berhenti dan hantu kuntilanaknya langsung hilang.  Apa yang saya ceritakan barusan bukanlah rekayasa dan saksi kejadian tersebut juga masih hidup sampai sekarang.

Yang terakhir adalah hantu kuntilanak sangat takut mengganggu orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat.

Hanya cukup sekian cerita saya mengenai hantu kuntilanak. O iya, Kalimantan Barat saat ini lagi musim buah durian. Ayo datang kemari! Siapa tahu setelah datang kesini  pulangnya bawa kuntilanak. Ups salah , maksudnya bawa jodoh.

Monday, January 7, 2019

Si Kakek dan Pohon Durian


Disebuah perkampungan, hiduplah seorang kakek yang sudah tua. Kakek tersebut sangatlah bijaksana dan disegani oleh masyarakat disekitarnya. Dalam keseharian, kehidupan kakek selalu berkutat dalam dunia pertanian. Bila musim tanam padi tiba, maka waktu kakek banyak dihabiskan untuk berladang. Namun bila musim tanam telah selesai, kakek biasanya pergi untuk melihat kebun.

Disaat musim buah tiba, Kakek lebih sering  untuk mengunjungi kebunnya. Apalagi disaat musim buah durian tiba, Kakek biasanya menginap dikebun untuk menunggu durian jatuh. Bukan hanya kakek saja, masyarakat setempat yang memiliki pohon durian juga melakukan hal yang sama. Kebun yang tadinya sepi berubah menjadi kampung dadakan yang dipenuhi cahaya pelita ketika malam tiba.

Kebun kakek tidak hanya diisi oleh pohon durian saja, tetapi juga bermacam-macam pepohonan. Seperti pohon kelapa, pohon kopi, pohon langsat, pohon cempedak, pohon mangga, pohon pisang dan lain-lainnya. Banyaknya pohon buah-buahan tersebut tentu saja tidak terlepas dari kebiasaan kakek yang hobi bercocok tanam.

Ketika menunggu pohon durian, Kakek biasanya hanya ditemani oleh sang Nenek. Namun kali ini sedikit berbeda karena salah satu cucunya ikut menemani mereka. Hal ini tentu saja membuat kakek sangat bahagia, apalagi si cucu juga suka membantu kakek memungut durian.

Setelah makan pagi, diatas pondok sederhana yang beratapkan daun nipah, si kakek meceritakan dongeng kapada cucunya. Dari ekspresi si cucu, terlihat jelas bahwa dia sangat antusias mendengarkan cerita tersebut. Kadang-kadang si cucu tertawa, bergidik dan juga sering bertanya.

Disaat seru-serunya bercerita, terdengar suara durian yang sedang jatuh. Tanpa disuruh lagi, si cucu langsung berlari dan menuju ketempat suara tersebut. Betapa sangat senangnya sang cucu ketika menemukan durian yang berukuran besar. Ia pun lantas mengambilnya dan dan membawanya ke pondok.

"Wah besar sekali duriannya". Ucap pujian si kakek ketika melihat durian yang dibawa cucunya.

"Ia Kek". Timpal si cucunya yang terlihat sangat senang.

"Sekarang pakai jeketmu. Kita akan pergi kekebun diseberang sana". Kakek memerintahkan cucunya agar segera bergegas.

Tanpa banyak tanya, si cucu langsung mengambil jeketnya dan mengikuti langkah si kakek. Kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya tibalah mereka ditempat tujuan. Kakek pun meletakkan cangkulnya beserta karung yang dibawanya.

Kebun yang satu ini berbeda jauh dengan kebun yang sebelumnya. Jika kebun sebelumnya banyak tanaman yang tumbuh disana, kali ini hanyalah pohon kelapa yang masih belum berbuah. Selain itu ada juga pohon pisang dan selebihnya hanyalah semak belukar. Sejatinya, kebun ini baru dibeli kakek sekitar lima tahun yang lalu.

Si kakek pun mengambil cangkul dan membuat bedengan bundar. Meskipun tidak sekuat dulu lagi, namun kakek tetap bersemangat. Setelah bedengan jadi barulah ia menyuruh si cucu untuk mengambilkan karung yang dibawa tadi.

"Kau bantu kakek menanamnya". Dengan tersenyum, kakek menujukkan beberapa bibit kepada cucunya.

Tanpa disuruh dua kali, si cucu sudah bergerak untuk menanam bibit tersebut. Betapa senangnya ia, bisa menanam pohon durian yang merupakan salah satu buah favorit. Ini merupakan liburan yang sangat menyenangkan baginya.

Setelah selesai menanam, si kakek mengajak cucunya untuk istirahat dibawah pohon kelapa.

"Kek". Tegur si cucu yang sedang memainkan ranting.

"Ia cucuku". Sahut kakek dengan senyuman yang selalu mengembang dibibirnya.

"Emangnya seberapa cepat pohon durian ini akan berbuah kek" Tanya si cucu yang saat itu penasaran.

"Cepat atau lambatnya itu tergantung jenis bibitnya. Bibit yang kita tanam ini pada umumnya akan berbuah setelah 15 tahun keatas". Jelas kakek kepada cucunya yang haus akan pengetahuan.

Mendengarkan penjelasan tersebut, si cucu merasa terkejut. 'Lama juga' pikir si cucu dalam hati. Ia pun kemudian bertanya lagi kepada si kakek.

"Kakek kan sudah tua. Tapi kenapa mau menanam pohon durian yang baru bisa dirasakan dalam waktu yang lama. Atau kenapa tidak menanam yang lain saja, seperti sayuran yang bisa cepat dipanen?" . Tanya si cucu dengan polosnya.

Mendengarkan pertanyaaan si cucu, si kakek langsung tertawa. Entah kalimat apa yang dinilainya merasa lucu. Kakek pun bergerak mendekati sang cucu, lalu  duduk dan menepuk pelan bahu si cucu.

"Cucuku". Kata si kakek sambil memandang lamat-lamat wajah cucunya. "Mungkin pohon durian yang kita tanam barusan tadi tidak akan pernah kakek rasakan hasilnya. Namun kakek yakin, rasa nikmatnya buah durian tersebut akan dirasakan oleh anak cucu kakek kelak. Itu sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa pada kakek. Menanamlah sebanyaknya cucuku! Karena meskipun pohon yang ditanam mati, ia tidak akan meminta untuk dikafani". Jelas kakek dengan cukup panjang.

Si cucu selalu antusias ketika mendengarkan penjelasan si kakek. Apalagi kakek memang sangat jago dalam bercerita.

"Cucuku". Sekali lagi kakek memandang lamat-lamat wajah cucunya. " Pohon durian ini kakek tanam agar anak cucu kakek juga bisa merasakan bagaimana serunya menjaga pohon durian. Seperti yang kau rasakan saat ini, makan dan bermalam disebuah pondok yang sederhana. Selain itu, kakek tidak ingin jika suatu saat diantara kalian ada yang menjadi pencuri durian dikebun orang, hanya karena tidak memiliki pohon durian". Jelas kakek yang diakhiri dengan suara tawa.

Setelah bercerita cukup panjang, akhirnya si kakek dan cucunya pulang ke pondok durian mereka.

Saturday, January 5, 2019

Hal Unik Di RSUD Kota Pontianak

Banyak hal unik yang biasanya terjadi disekitar kita. Baik itu dari alamnya, tingkah laku masyarakatnya ataupun yang lainnya. Seperti yang satu ini, merupakan pengalaman unik saya ketika membawa orang tua untuk berobat di RSUD Kota Pontianak.

Saat itu hari masih gelap dan ibadah sholat subuh baru saja selesai dilaksanakn. Hembusan angin yang menerpa kulit membuat badan terasa semakin dingin. Motor saya melaju kencang diantara lengangnya jalan. Tak banyak yang melintasi jalan disaat subuh hari. Yang sering terlihat hanyalah pedagang sayur yang mengambil dagangannya di Pasar Flamboyan (pasar induk).

Ini adalah yang kedua kalinya saya membawa Bapak untuk berobat di RSUD Kota Pontianak. Kali ini Bapak tidak ingin seperti 2 minggu yang lalu, mendapatkan nomor antrian yang tinggi dan pulang disaat waktu maghrib. Selain itu Bapak juga tidak ingin terkena macet dan terburu-buru ketika menuju rumah sakit.

Kami tiba dirumah sakit sekitar pukul 05.40 WIB. Saya pikir kamilah orang yang pertama sampai kesana. Ternyata dugaan itu salah. Diteras rumah sakit sudah cukup ramai oleh pasien yang akan berobat. Mereka terlihat berdiri didepan pintu dan duduk dianak tangga.

"Ayo barangnya simpan disitu". Sahut salah satu orang yang ada disitu. Entah dia sebagai pasien atau membawa keluarganya yang sakit.

'Barang apa yang mau disimpan?'. Tanya saya dalam hati. Bukannya helm sudah disompan diatas motor. Atau mungkin air mineral untuk dijampi-jampi? Tapi ini kan rumah sakit bukan tempatnya Mbah  Dukun. Hehe.

Setelah semakin dekat, saya baru tahu apa yang dimaksud oleh orang tadi. Ternyata 'barang' yang dimaksud adalah sebuah benda (berbentuk apa saja) yang diletakkan didepan pintu rumah sakit. Barang tersebut sebagai bukti siapa yang datang paling awal. Semakin awal anda tiba, maka posisinya akan semakin didepan. 


Berbagai jenis barang berbaris rapi, layaknya anak pramuka yang sedang latihan baris-berbaris. Mulai dari botol obat, botol minuman, batu, tas belanja sayuran, topi hingga surat undangan dari sang mantan. Ia, serius! Undangan dari sang mantan, tapi mantannya orang lain. Barisan ini akan selalu menerima anggota baru hingga pintu rumah sakit dibuka.

Salah seorang pasien mengaku Ia datang ke RSUD Kota Pontianak saat pukul 04.00 WIB Semua dilakukannya untuk mendapatkan nomor antrian yang lebih awal. Bahkan ada yang datang pukul 02.00 WIB hanya sekedar untuk meletakkan barang sebagai bukti yang lebih awal. Setelah itu, barulah Ia pulang dulu kerumah dan akan kembali lagi disaat pintu rumah sakit akan dibuka. Mantul, mantap betul.

Hal unik yang dilakukan diatas tentu saja bertujuan untuk menghindari keributan dan saling desakan ketika pintu rumah sakit dibuka. Selain itu, pasien yang datang lebih awal juga bisa duduk-duduk santai tanpa merasa khawatir posisinya akan diambil oleh orang lain.

Setelah pintu rumah sakit dibuka, barulah satu persatu pasien akan mengambil barangnya dan masuk untuk mengambil nomor antrian yang sesungguhnya.


Friday, November 16, 2018

Nenek Moyangku Bukan Hanya Seorang Pelaut, Namun Juga Peladang


Mereka bilang nenek moyangku adalah seorang pelaut. Mereka bilang nenek moyangku sangat tangguh mengarungi laut bebas. Mereka bilang nenek moyangku tidak gentar ketika melawan badai. Mereka bilang nenek moyangku tak akan mundur ketika layar telah dikembangkan.

Sering mendengarkan kalimat yang mirip diatas? Jika ia, selamat! Masa kecil anda pasti bahagia karena dipenuhi lagu anak-anak. Bukan seperti sekarang ini (kids zaman now) dimana dunia anak-anak dipenuhi oleh lagu percintaan yang ujung-ujungnya akan galau. 

Beberapa kalimat diatas memang kata-katanya  tidak sama persis dengan lirik lagu yang berjudul 'Nenek Moyangku Seorang Pelaut'. Namun makna yang tersirat tetaplah sama, menceritakan bagaimana hebatnya nenek moyang kita dalam mengarungi lautan. Lagu karya Ibu Soed ini dulunya sering kami nyanyikan ketika masa kanak-kanak. Bahkan sampai sekarangpun, kadang-kadang saya menyanyikannya disaat momen tertentu. Misalnya ketika menaiki kapal.

Namun saya tidak lantas percaya dengan apa yang dikatakan mereka tentang nenek moyangku. Bisa saja itu hanya merupakan karangan mereka. Bisa saja itu hanya sebuah lagu untuk menghibur kami semua.
Kepolosan yang disertai keingintahuan besar akhirnya mengantarkan saya untuk bertanya kepada orang tua.

"Benar, nenek moyangmu adalah pelaut yang hebat". Uwak menjawab dengan tersenyum sambil mengusap rambutku.

Uwak adalah panggilan untuk seorang ayah.

Saat itu saya masih berumur tujuh tahun. Tentu saja rasa keingintahuan saya akan suatu hal sangat besar. Seperti yang satu ini, tentang nenek moyang saya.

Meskipun sudah dijawab oleh Uwak, namun tetep saja saya selalu melontarkan pertanyaan yang baru. Jika benar nenek moyang saya adalah seorang pelaut, kenapa kehidupan kami berkutat di pertanian, bukan dilautan. 

"Lihatlah diri kita sekarang, Nak. Kita berada jauh dari Pulau Sulawesi, tempat asal mula nenek moyangmu berada. Beribu-ribu kilometer mereka berlayar, hingga akhirnya sampai kesini. Saat itu belum ada yang namanya mesin untuk menggerakkan kapal. Pelayaran masih sangat tergantung dengan keadaan angin". Uwak kembali menjelaskan.

Uwak selalu sabar menjawab setiap pertanyaan yang terucap dari mulutku. Malahan beliau tampak senang ketika menceritakannya. Sesekali disaat bercerita, uwak menyeruput teh hangat, minuman kesukaaannya.

Nenek moyangku adalah seorang pelaut yang ulung. Ketika layar kapal dikembangkan, pantang baginya untuk kembali kedaratan sebelum sampai ditujuan. Kepiawaiannya dalam mengarungi laut yang luas telah terkenal dimana-mana. Tidak  heran jika saat itu mereka berlayar sampai ke semenanjung Melayu bahkan antar benua.

Tak ada rasa khawatir ketika malam tiba mendekap. Semuanya diserahkan kepada Tuhan, Sang Pemilik Skenario dalam kehidupan. Baginya lautan adalah sahabat dan rasi bintang adalah penunjuk jalan ketika berlayar.

Ada banyak alasan kenapa nenek moyangku senang berlayar. Yang pertama adalah karena jiwa mereka adalah petualang, senang akan tantangan dan hal yang baru. Yang kedua adalah karena mereka sangat gemar berdagang. Yang ketiga adalah karena mereka ingin mencari penghidupan yang lebih baik dan merdeka atas penindasan. 

Kesenangan nenek moyangku akan hal yang baru telah membawanya berpetualang ketempat yang baru pula. Mereka banyak melakukan persinggahan diberbagai daerah dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Baginya hal tersebut adalah kesempatan yang sangat berharga.

Kegemaran dalam berdagang, secara tidak langsung juga memaksa mereka untuk pandai dalam berlayar. Hal tersebut agar dagangan mereka bisa dibawa dari satu pulau kepulau yang lainnya, lalu kembali dengan membawa keuntungan. Meskipun pada kenyataannya, banyak yang menetap ditempat yang baru.

Ketika berlayar dengan membawa banyak dagangan, tentunya banyak ancaman yang mungkin akan dihadapi. Bukan hanya kapal yang sarat, kerasnya ombak dan kuatnya badai, melainkan juga para perompak yang bisa saja menghadang didalam pelayaran. Namun siapa pula yang berani melakukannya, karena bagi nenek moyangku hak harus selalu tetap dipertahankan. Mereka akan rela mati demi mempertahankan barang miliknya.

Nenek moyangku bukan hanya sekedar penikmat berlayar. Tetapi mereka juga terkenal sebagai pembuat perahu untuk berlayar. Kalian pernah melihat uang kertas 100 rupiah? Ya, disitu ada gambar kapal pinishi yang merupa salah satu karya nenek moyangku. Dengan kapal itulah, nenek moyangku melanglang buana hingga kemana-mana.

Namun apakah nenek moyangku hanya seorang pelaut, kawan? Jawabannya tentu sajas tidak. Nenek moyangku juga merupakan seorang peladang yang hebat. Mereka sangat pandai dalam hal bercocok tanam.

Seperti sebagian besar masyarakat Indonesia, nenek moyangku makanan pokoknya adalah juga nasi. Karena itulah mereka harus menanam padi untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Mereka dulunya menebang hutan belantara hingga menjadi lahan perkebunan dan perladangan.

Saking pandainya nenek moyangku dalam berladang, mereka bisa tahu kapan saat yang tepat untuk menyemai benih. Semua itu diperolehnya dengan membaca keadaan alam sekitar.

Hingga tibalah saat panen. Semua orang saat itu bersuka cita menyambutnya. Saat itu juga akan dilaksanakan acara mappadendang, ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang didapat.

"Nenek moyangmu bukan hanya seorang pelaut yang hebat, namun juga peladang yang pandai". Uwak kembali menegaskan tentang bagaimana nenek moyangku.

Thursday, November 15, 2018

Tolong Ajarkan Saya Bahasa Sambas

Semua berawal dari liburan kami di daerah Sambas. Saat itu, seorang teman yang berasal dari Sambas mengajak saya dan teman lainnya untuk liburan ke kampung halamannya. Ajakan ini tentu saja merupakan sebuah kabar yang gembira. Apalagi ketika itu bertepatan dengan liburan hari raya Idul Adha.

Ini foto yang kesekian kalinya saya datang di Sambas

Liburan ke Sambas pun terlaksana. Kurang lebih 6 jam perjalanan dengan menggunakan bis, akhirnya kami tiba ditempat tujuan. Tepatnya di Tebas yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Sambas. Sebagai anak yang soleh dan sopan, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari dan menyalami orang tua Si Teman, sambil memberikan senyuman yang terbaik. Padahal itu semua ada maunya, biar bisa diizinin untuk menginap disana. Hehehe, kalimat yang barusan hanya sekedar candaan. Karena walau bagaimanapun, kita harus selalu menghormati yang lebih tua, apalagi kita adalah seorang tamu.

Kesan pertama ketika saya sampai di Sambas (meskipun saat itu belum sampai dikotanya) adalah merasa aneh dan terasing. Terasing disini bukan berarti orangnya yang tidak wellcome, melainkan bahasa yang digunakan terasa asing ditelinga saya. Saya juga sempat berpikir, apa mungkin saya telah berada di pulau lain? Setelah beberapa saat, saya pun menyadarinya ternyata diri inilah yang kurang wawasan dan piknik ke tempat lain.

Bahasa Sambas merupakan salah satu bahasa yang banyak dituturkan oleh masyarakat Kalimantan Barat. Bahasa ini tersebar dibeberapa daerah, seperti Sambas, Singkawang, sebagian Bengkayang dan Mempawah. 

Keunikan dari bahasa Melayu Sambas adalah pada dialeknya dan penyebutan huruf 'e'. Jika kata 'kemana' dalam bahasa Melayu Pontianak dipanggil 'kemane', maka dalam bahasa sambas 'e' tersebut penyebutannya sama seperti kata 'lele'. Selain itu, kosakata yang digunakan juga banyak perbedaan dengan bahasa Melayu pada umumnya.

Untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, saya lebih banyak mengangguk ketika berbicara dengan kelurga Si Teman. Meskipun banyak kata-kata yang tidak dimengerti, namun setidaknya saya sedikit paham arah pembicaraannya. Kadang-kadang saya juga berkata 'aok' yang memiliki arti 'iya' atau mengiakan.

Orang Sambas itu sangat ramah-tamah ketika menyambut tamu. Begitulah hal serupa yang kami rasakan ketika datang disini. Selain itu, mereka juga sering menyelipkan guyonan diselah-selah pembicaraan. Hal tersebutlahlah yang membuat suasana diruang tamu semakin terasa hangat. Tidak dingin dan tidak juga panas.

Baru saja setengah hari berada di Sambas, saya sudah memiliki beberapa kosakata bahasa Sambas. Seperti inun yang berarti itu, itok' yang berarti ini dan insanak yang berarti keluarga. Itu semua karena Si Teman yang bersedia menjadi transleter kami selama disini. Rasanya sungguh menyerukan belajar bahasa baru.

O iya kawan. Ditebas ini terkenal sebagai daerah penghasil jeruk atau masyarakat  setempat menyebutnya limau. Malahan daerah ini merupakan salah satu pemasok terbesar buah jeruk yang ada di Kalimantan Barat. Jeruk yang berasal dari sini terkenal dengan rasanya yang manis. Oleh karena itulah, banyak para pedagang di Kota Pontianak yang menyebut jeruknya berasal dari tebas. Meskipun biasanya tidak berasal dari sana.

Tapi sayang, jeruk Tebas ini sangat sombong dan seperti kacang lupa pada kulitnya. Setelah menjadi duta merek dalam sebuah produk dan sering tampil dilayar kaca, ia mengubah namanya menjadi jeruk Pontianak. Sedih juga melihatnya. Hehehe.

Selama berada disini, saya yakin tidak akan kekurangan vitamin C sedikitpun. Malahan kemungkinan overdosis. Bagaimana tidak, setiap harinya selalu datang puluhan keranjang buah jeruk dari perkebunan. Kami juga sering disuruh ibunya  Si Teman untuk kedepan (tempat pemilahan buah jeruk) untuk memakan buah jeruk.

Dari situlah saya juga mendapatkan sebuah ilmu. Sebelum dipasarkan buah jeruk tersebut terlebih dahulu akan melalui dua proses. Dalam bahasa Sambas menyebutnya sortasi dan grading. Sortasi dilakukan dengan cara memisahkan buah yang sehat dengan buah yang cacat atau busuk. Sedangkan grading dilakukan untuk memisahkan buah jeruk berdasarkan warna dan ukuran. Baru kemudian dimasukkan dalam box yang terbuat dari kayu. Setelah itu dipasarkan dan dapat uang.

Hari raya Idul Adha pun tiba. Suara takbir yang mengagungkan kebesaran Allah berkumandang dimana-mana. Rasa senang sekaligus sedih bercampur disaat itu. Karena saat itu adalah pertama kalinya bagi saya merayakan hari besar jauh dari keluarga. Sedihnya cukup sampai disitu saja.

Perayaan Idul Adha di daerah Sambas betul-betul dilaksanakan dengan meriah. Berbagai hidangan kue memenuhi meja yang ada diruang tamu. Seperti lapis legit dan lapis belacan yang merupakan kue khas Sambas, snack dan berbagai macam kue kering (cookies). Pokoknya hari itu makanan kami tinggi akan kandungan mentega. Sekali-kali tak apelah...

Dihari yang sama, orang tua Si Teman juga melaksanakan ibadah qurban. Penyembelihan tersebut dilakukan disamping rumah.  Saya juga ikut terlibat dalam hal tersebut, meskipun sebelumnya belum pernah melakukannya.

Singkat cerita, sapi yang akan disembelih tidak bisa diajak kompromi alias susah diatur. Saya yang saat itu sedang bingung mau menolong bagaimana, langsung saja memegang paha belakang dan ekornya agar sapi tersebut bisa tenang. Dan Alhamdulillah, sapi tersebut tidak lagi anarkis dan merelakan dirinya disembelih karena Allah.

Penyembelihan sapinya telah selesai dan malahan sudah dalam proses dimasak. Tapi bau kotoran sapi yang ada ditangan saya tidak hilang-hilang, meskipun telah berulang kali dicuci menggunakan sabun. Lap tangan yang saya gunakan malahan juga terikut bau. Teman-teman juga menghindari saya karena takut dijahili. Tapi begitu ada kesempatan, saya langsung menggosokkan tangan saya ketangan mereka. Alhasil, bau tersebut juga menular. Puas rasanya mengerjai mereka. Astagfirullah...(Tapi jahil saya hanya kepada teman. Aslinya saya ini baik. Buktinya saya tidak menjahili keluarga Si Teman. Hehehe).

"Yo udah masak din. Makanlah, usah supan-supan". Kurang lebihl begitulahbkata ibu Si Teman yang sedang menyajikan makanan, lalu mempersilahkan kami. Sesekali ibunya juga mengguyoni saya, mengingat saya yang sedang memegang ekor sapi ketika pagi tadi.

Didepan kami tersaji berbagai menu dari sapi. Seperi sop tulang, rendang dan sate. Akhirnya, semua yang saya lakukan terbayar dengan makanan ini semuanya. Tanpa disuruh lagi, kami pun menikmati makanan tersebut. Tapi ingat, saat makan waktu itu menggunakan sendok, belum berani menggunakan tangan. Takutnya makanan dipiring saya nanti terkontaminasi oleh bau yg aneh.

Keesokan harinya kami mengunjungi sebuah tempat wisata yang ada di Sambas, yaitu Danau Sebedang. Danau ini cukup luas dan memiki panorama yang indah. Di salah satu bukit juga terdapat pemakaman etnis Tionghoa yang menandakan keberagaman etnis didaerah ini.

Seperti yang kami lakukan, kebanyakan masyarakat yang datang kesini tidak hanya sekedar untuk bersantai, melainkan juga untuk bermain air alias mandi. Disini juga tersedia sewa pelampung besar yang bisa digunakan beramai-ramai.

Kurang lebih tiga jam kami bermain air, baru setelah itu memutuskan untuk menyudahinya. Tangan kami pun sudah terlihat keriput dan pucat. Tapi saya sangat bersyukur, setelah berendam cukup lama akhirnya bau kotoran sapi yang ada ditangan hilang. Alhamdulillah...

Usai mengganti pakaian, kami pun melanjutkannya dengan bersantai di sebuah warung. Rasanya sungguh nikmat, setelah lama bermain air langsung menyantap makanan. Ditambah lagi air kelapa yang terasa segar. Nikmat Tuhan mana lagikah yang akan saya dustakan.

Lagi seruan bersantai sekaligus menikmati angin Danau Sebedang, tiba-tiba seorang teman datang berlarian dan menghampiri.

"Ade buda' bedako' di pingger danau". Ucap seorang teman dengan menggunakan bahasa Melayu Pontianak dicampur Melayu Sambas.

"Bedako'? Ape tuh?". Tanya saya yang saat itu belum tahu apa artinya.

"Dari pada penasaran, bagos kau langsung nengok jak kesanak". Ia menjawab yang disertai dengan tawaan.

Saat itu saya berpikir mungkin artinya menangkap ikan atau mungkin ada yang luka. Dengan polosnya, saya beserta kedua orang teman lainnya datang menghampiri ketempat tersebut.

Kaget, sedih, lucu semuanya bercampur aduk disaat saya menyaksikan sebuah pertunjukan di pinggiran danau, yang lokasinya sedikit tersembunyi. Kaget, karena melihat adegan mesum yang dilakukan ditempat umum. Sedih, karena pelakunya masih anak-anak yang perkiraan saya masih duduk dibangku SMP. Dan lucu, karena saya berhasil dijebak oleh teman. Bedako' artinya berpelukan. Bertambah lagi satu kosakata bahasa Sambas didalam galeri pikiran saya.

Mumpung masih suasana lebaran, Si Teman juga mengajak untuk jalan-jalan ketempat temannya. Rumahnya tidak jauh, hanya berjalan kaki sudah sampai.

Kebetulan saat itu Si Dia ada dirumah. Dia pun mempersilah kami masuk dan duduk diatas kursi. Si dia merupakan seorang gadis ayu, dan saya rasa dia merupakan salah satu kembang desa yang ada disini.

Si Teman pun memperkenalkan kami satu persatu kepada Si Dia. Sebagai balasannya, Si Dia juga memperkenalkan diri sambil memberikan senyuman terbaik. Tapi ingat,  itu senyuman bukan berarti mereka suka dari salah satu kami, melainkan sudah merupakan tatakrama ketika bertemu orang lain. Si Dia orangnya juga mandiri, buktinya yang membuatkan kami minuman adalah dia, bukan kakaknya, bukan adiknya, bukan ibunya, apalagi ayahnya.

Singkat cerita, pembicaraan kami semakin hangat dan ngelantur entah kemana. Tidak jarang juga, suara tawa pecah memenuhi langit-langit ruang tamu. Entah berapa kali suda kami menjemput kue yang ada diatas meja.

"Ayo dimakan juga kuenya. Se'an supan-supan". Saya mencoba untuk berbasa-basi kepada Si Dia dengan menggunakan bahasa Sambas.

Sejenak ruangan tamu menjadi lengang, baru kemudian dipenuhi oleh suara tawa. Terutama suara tawa Si Teman yang bunyinya paling keras. Usut punya usut ternyata kata-kata yang saya gunakan ada yang salah. Niatnya ingin begini 'jangan malu-malu' tapi malah menjadi begini 'tidak ada malu-malu'.

Se'an : tidak ada
Supan : malu

Saat kejadian tersebut, saya benar-benar merasa sangat malu.  Mungin muka ini sudah terlihat seperti udang yang direbus (jangan dibayangkan, entar malah jadi lapar). Rasanya saat itu saya ingin menghilang atau memundurkan waktu biar bisa memperbaiki semuanya. Tapi sayang, saya bukan Doraemon yang punya banyak alat ajaib.

Meskipun begitu, sampai sekarang saya tidak pernah kapok untuk belajar bahasa Sambas. Malahan saya semakin kepo ketika ada kosakata bahasa Sambas yang belum diketahui. Bagaimana, ada yang berminat untuk mengajari saya bahasa Sambas. Tapi mesti tahan karena diri ini sering merasa sok tahu. Hehehe.


Nama tokoh sengaja tidak disebutkan.
Kejadian pada tahun 2010 silam.

Monday, November 12, 2018

4 Hal Sederhana Untuk Mengurangi Pencemaran Sungai

Sumber gambar: goriau.com

Air merupakan sumber kehidupan bagi miliaran manusia dan makhluk lainnya. Tanpa air, manusia akan mati dalam kehausan. Tanpa air, tumbuhan akan layu dan perlahan-lahan juga mati dalam kekeringan. Tanpa air, tentunya tidak akan ada ikan yang tersaji diatas meja makan. Tanpa air juga, tentunya tidak akan ada minuman kemasan bermerek yang beredaran dipasaran. Pada intinya kehidupan kita sangat tergantung pada keberadaan air.

Karena begitu pentingnya air, sebagian besar orang memilih untuk bermukim disekitar sumber air. Entah itu dipinggiran sungai, dipinggiran parit, dipinggiran danau bahkan dipinggiran laut. Selain untuk keperluan mandi, air juga digunakan untuk keperluan memasak, mencuci dan juga sebagai sumber mata pencaharian. Oleh sebab itulah, keterjagaan air dari pencamaran adalah merupakan hal yang penting.

Meskipun begitu tetap saja masih banyak orang yang mengesampingkan tentang keberadaan air. Tanpa sengaja ataupun disengaja banyak dari masyarakat yang masih melakukan aktivitas pencemaran air. Padahal dia tidak menyadari, dari awal bangun tidur hingga tertidur lagi mereka selalu berurusan dengan yang namanya air. Ketahuilah, sumber air yang bebas dari pencemaran akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita.

Salah satu sumber air yang paling rentan terhadap pencemaran adalah sungai. Banyak hal yang dilakukan manusia tanpa disadari telah mencemarinya, baik itu aktivitas yang ada dihulu sungai maupun yang ada dihilir sungai. Seperti pertambangan, limbah industri, pembuangan sampah yang sembarangan, hingga pemakain produk mandi juga mengakibatkan pencemaran sungai.

Menghilangkan pencemaran air disungai tentunya sangat sulit. Oleh karena itulah perlu adanya kebijakan pemerintah setempat agar air yang masih bersih tetap terjaga kelestariannya dan yang sudah tercemar tidak semakin parah. Entah itu melalui kebijakan perizinan pertambangan dan industri, pengawasan terhadap penangkapan ikan yang mengancam lingkungan, hingga pemetaan kawasan.

Namun rasanya tidak elok jika untuk kepentingan bersama ini hanya dibebankan kepada pemerintah saja. Kita semuanya juga memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga kelestarian sungai. Apalagi jika kita berdomisili dipinggiran sungai. Berikut hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi pencemaran sungai.

1.    Tidak membuang sampah disungai.
Kadang kita terlalu menyepelekan dengan sebutir sampah. “ini kan cuma bungkus permen, kecil lagi.” Kata seperti itulah yang sering kita dengarkan. Tapi tanpa disadari hal tersebut selalu dilakukan dan lama kelamaan sampah tersebut menjadi banyak. Sampah ini jugalah yang membuat sungai menjadi dangkal dan tak enak dipandang mata. Ingin mandi pun terasa risih jadinya.

2.    Menggunakan alat mandi hanya secukupnya saja
Sabun, pasta gigi, shampoo, detergen dan alat mandi lainnya sudah menjadi kebutuhan kita dalam sehari-hari. Namun tahukah teman-teman bahwa produk-produk tersebut mengandung bahan kimia yang tentunya tidak baik untuk ekosistem sungai. Meskipun tidak bisa menghindarinya, namun kita dapat menguranginya dengan menggunakan hanya secukupnya saja. Lumayan jugakan bisa sedikit menghemat pengeluaran.

3.    Tidak membuang air (air kecil dan air besar) disungai.
Kebanyakan dari masyarakat yang tinggal ditepian sungai memiliki MCK yang langsung merembes kesungai. Akibatnya sungai menjadi tecemar oleh bakteri dan terlihat menjijikkan. Namun sekarang sudah banyak masyarakat yang sadar akan hal tersebut dan tidak melakukannya lagi. Bagi yang masih melakukannya, sebaiknya dihentikan ya. Hehehe.

4.    Melakukan kerja bakti
Kerja bakti yang dimaksud disini adalah membersihkan lingkungan sungai yang ada disekitar kita. Yaitu dengan cara menjaringnya, baru kemudian dinaikkan diatas daratan. Meskipun pada kenyataannya setelah dibersihkan, selalu saja ada sampah yang datang lagi dan lagi. Namun yakinlah, sekecil apapun yang kita lakukan selalu ada manfaatnya dan mendapatkan balasan dari Tuhan. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman?