Sunday, October 14, 2018

Pohon Durian Terbesar Ada di Pulau Kalimantan

Siapa yang tidak kenal buah yang satu ini. Memiliki banyak duri diseluruh kulitnya, mempunyai aroma yang pekat dan pastinya juga memiliki rasa yang sangat ciri khas. Banyak orang yang menyukainya, namun tidak sedikit pula orang yang membencinya. Ya, apalagi kalau bukan buah durian. Buah yang dijuluki sebagai rajanya segala buah.

Pohon durian sangat tumbuh subur didaratan yang beriklim tropis. Salah satunya adalah di Pulau Kalimantan yang katanya merupakan pusat keanekaragaman buah durian. Layaknya buah pisang dan mangga, buah durian juga memiliki berbagai macam varietas. Malahan menurut saya, dibandingkan dengan buah yang lain, buah durian adalah buah dengan varietas yang paling banyak. Sebut saja durian montong, durian musangking, durian petruk, durian bawor dan masih banyak lagi jenis yang lainnya.

Tapi tahukah Anda bahwa pohon durian terebesar adanya di pulau Kalimantan. Tepatnya berada di  Parit Ambo' Pinang, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Dari beberapa perjalanan saya ke berbagai daerah, besarnya pohon durian yang satu ini belum ada yang bisa menandinginya. Tapi ingat, ini hanya sepengetahuan saya. Mungkin saja ada pohon durian besar lainnya yang belum saya ketahui.




Pohon durian selendang ini memiliki diameter kurang lebih 1,5 meter. Karena besarnya, pohon durian ini telah condong, menghadap kea rah timur. Akar-akarnya juga menyembul diatas permukaan tanah dan memanjang hingga 20 meter lebih. Berbagai tumbuhan liar pun semakin banyak tumbuh diatas pohon, menunjukkan betapa tuanya pohon durian ini. sekali berbuah bisa mencapai 1.000 lebih.

Bagi masyarakat setempat, pohon durian yang satu ini dianamakan durian selendang. Tidak ada yang tahu bagaimana asal mula nama tersebut diberikan. Yang pastinya penamaan tersebut terus diwariskan dari pendahulu hingga sekarang. 

Friday, September 14, 2018

Ada Cerita di Sungai Kakap

Cuaca Sungai Kakap saat itu cukup panas. Meskipun sudah berada didalam rumah dan kipas angin yang menyala, tetap saja hawa panasnya masih terasa. Mungkin hal tersebut dikarenakan letaknya yang berada didaerah laut. Saya sendiri sudah melepaskan baju dan menyeruput segelas air dingin yang disajikan.

"Minum lagi es-nya. Habis ditambah lagi". Seru Saiful sebagai tuan rumah sekaligus teman akrab waktu duduk dibangku SMP dulu.

Perjalanan panjang dari Segedong memang cukup melelahkan dan membuat tenggorokan kering. Apalagi ketika kami berangkat kesini sudah siang alias matahari sudah tegak diatas kepala. Wajar saja jika kami memang tampak seperti orang yang kehausan. Lagian pun diantara kami tidak ada lagi yang namanya rasa sungkan atau malu-malu.

Sungai Kakap, tempat yang kami datangi ini merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kubu Raya. Dikelilingi oleh lautan yang luas menjadikan tempat yang satu ini kaya akan potensi hasil lautnya. Tidak hanya hasil lautnya, tanaman perkebunan juga tumbuh subur di daerah ini. Seperti kelapa, durian  dan langsat punggur yang merupakan produk perkebunan andalan.

Belum lama rasanya mengobrol, istri tuan rumah sudah keluar dari arah dapur. Memmpersilahkan kami untuk masuk makan siang. Tanpa basa-basi kami mengiyakan hajat si tuan rumah. Apalagi waktu sudah menunjukkan makan siang dan perutpun sudah terasa keroncongan.

Karena daerahnya yang berada dipinggir laut, tentunya menu yang disajikan pun tidak akan jauh dari hasil tangkapan laut. Seperti ikan, udang dan cumi. Bahasa gaul dalam masyarakat setempat menyebutnya seafood. Hehehe.

Makan siang ini benar-benar istimewa. Bukan hanya dikarenakan menu seafoodnya, melainkan juga karena bisa makan bersama mereka. Layaknya seperti makan dikantin masa SMP dulu. Bedanya yang ini gratis alias tidak perlu bayar. Yang istimewa lagi adalah tuan rumah yang menambahkan nasi kepiring kami secara diam-diam, meskipun perut sudah kenyang. Mau tidak mau nasi tersebut harus dihabiskan. Antara terlalu baik dan jahil.

Setelah kenyang, kami pun kembali lagi keruang tamu. Kembali melanjutkan perbincangan yang tadinya sempat terhenti. Cerita masa lalu SMP dan masa depan berumah tangga. Memang begini kalau sudah berjumpa teman yang sudah menikah. Pasti nanya-nya kapan nyusul? Kapan nikah? Ia, doakan saja semoga cepat nyusul. Amiin.

Namun rasanya kurang lengkap jika mengunjungi suatu tempat tanpa mengeksplor lebih jauh lagi. Salah satu diantara kami pun bertanya mengenai tempat wisata yang ada di Sungai Kakap. Mungkin saja bisa sekalian untuk dikunjungi.

"Bintang Mas." Tuan Rumah langsung menjawab.

Sontak ruang tamu penuh suara tawa. Siapa pula yang tidak kenal lokasi tersebut. Tapi sudahlah jangan dibahas lagi.

Tempat wisata yang ada di Kecamatan Sungai Kakap memang sangat menarik. Tapi sayang, tempat wisata yang ada disini masih banyak yang belum mengetahuinya. Sebut saja Vihara Xiao Yi Shen Tang yang lokasinya berada ditengah laut, Muara Kakap yang menjadi spot pemancingan sekaligus untuk menikmati sunset yang indah, dan Taman Mangrove Syariah. Selain tempat wisata tersebut, disini juga banyak ditemukan restoran yang menyajikan menu seafood yang segar. Dan pastinya asli tangkapan nelayan Sungai Kakap.

Dari beberapa tempat wisata yang ada diatas, kami sangat tertarik untuk menyambangi Vihara Xiao Yi Tang. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai Kelenteng Tengah Laut. Tanpa disuruhpun, Tuan Rumah langsung bergegas mencari tempat penyewaan perahu yang bisa digunakan untuk menuju kesana. Dari informasi yang saya peroleh, disini banyak tersedia penyewaan perahu yang bisa digunakan oleh para pengunjung. Harganya pun bervariasi, mulai dari 250.000 rupiah hingga 500.000 ribu rupiah. Tergantung ukuran perahunya.

Kami pun berangkat sekitar pukul 15.20 WIB. Jarak antara rumah ke tepian sungai pun tidak jauh, kurang lebih 100 meter. Riak air sungai dan hilir mudiknya perahu menjadi pemandangan ketika kami tiba. Diseberang sana juga terdapat sebuah tanjung yang disebut Tanjung Saleh. Tidak hanya itu, aktivitas nelayan setempat juga terlihat sedang menyiang ikan hasil tangkapan yang nantinya akan dikeringkan. Empat Lima anak kecil juga terlihat berenang dan melompat dari atas tangga pemandian.

"Kalau tenggelam bagaimana?" Tanya salah satu teman. Dengan tawa terbahak-bahak namun dimukanya juga tersirat ada rasa takut.

Yang harus diketahui, teman saya yang bertanya diatas adalah tidak bisa berenang. Meskipun begitu, yang selalu tertawa adalah dia. Sedangkan kami yang bisa berenang malahan banyak memilih untuk diam. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Tuan Rumah membawa sebuah derijen yang bisa digunakan untuk mengapung apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Ukuran perahu yang kami gunakan tidaklah besar. Kurang lebih memiliki panjang 6 meter dan lebar 1 meter. Jadi sangat wajar saja jika yang tidak bisa berenang akan berpikiran hal yang negatif. Termasuk juga saya yang bisa berenang. Apalagi perahu ini dikendalikan oleh Tuan Rumah, bukan si pemilik aslinya.

Perlahan-lahan perahu keluar dari bangsal (tempat berteduhnya perahu). Tuan Rumah pun menarik tali mesin perahu untuk menghidupkannya. Namun tidak berhasil. Beberapa kali mencoba lagi, namun tetap saja tidak berhasil. Dari sinilah saya mulai merasa was-was dengan adanya perjalanan ini. Apakah ini merupakan pertanda? Ah, sudahlah. Tetap berfikir positif saja.

Saat itu juga, seorang nelayan meneriaki kami. Memberikan arahan dari atas perahunya. Namun tetap saja tidak berhasil dan bagian mesin mana yang harus diatur. Akhirnya perahu kami kembali merapat ke tepian menuju ke perahu bapak tersebut. Tak butuh waktu lama, mesin pun menyala. Dua jempol untuk bapak tersebut yang sudi membantu.

Perahu pun melaju, membelah luasnya Sungai Kakap. Tangga pemandian tempat kami turun tadi pun perlahan-lahan mulai hilang. Dari atas perahu ini, kami bisa melihat bagaimana aktifitas masyarakat yang berada ditepian sungai. Begitu juga deretan pondok kafe yang saat itu didatangi oleh para penikmat wisata kuliner. Satu per satu jermal juga kami lewati. Jermal adalah alat penangkapan ikan yang berbentuk pagar dengan menggunakan bambu. Dibelakangnya terdapat jala yang berfungsi untuk menjerat ikan.

Salah Satu Jermal yang Ada di Sungai Kakap

Vihara Xiao Yi Shen Tang merupakan satu-satunya vihara yang berada ditengah laut. Vihara ini dibangun pada tahun 1970 dengan waktu pengerjaan selama satu tahun. Awalnya vihara ini hanyalah gubuk untuk menangkap ikan dan memiliki lokasi sembahyang yang sangat sempit. Lambat laut barulah dilakukan pembangunan. Pengunjung yang datang kesini tidak hanya wisatawan lokal, namun juga wisatawan dari manca negara.

Gambaran Gelombang Ketika Akan Keluar
Dari Sungai Kakap

Semakin mendekati laut, hantaman air diperahu kami semakin terasa. Saya yang saat itu duduk paling depan tentunya tidak luput dari cipratan air. Separuh pakaian pun basah. Gelombang pun semakin besar ketika perahu kami sudah keluar dari mulut sungai. Rasa was-was pun berkecamuk didalam pikiran. Perjalanan semula yang rasanya menyerukan perlahan-lahan terasa menakutkan.

Menghadapi situasi tersebut, saya langsung teringat dengan cerita Uwak saya (Ayah). Saat itu sekitar tahun 76-an, Uwak bersama teman-temannya sedang melakukan perjalanan dari Kecamatan Segedong menuju ke Sungai Kakap. Jangan berpikir saat itu menggunakan transportasi darat, melainkan menggunakan transportasi air, yaitu motor air. Adapun maksud kedatangan tersebut adalah untuk menghadiri pesta muda-mudi yang saat itu katanya merupakan ajang pertemuan yang populer. Pertemuan antara si pria dan wanita dengan dimeriahkan oleh musik dangdut. Kalau sekarang malahan lebih mudah. Meskipun pacarannya dari jarak jauh, namun masih bisa bertatap muka melalui teknologi yang semakin canggih.

Namun hal yang tidak diinginkan terjadi. Motor air yang semulanya gagah mengarungi laut luas, tiba-tiba harus tenggelam akibat terkena ombak besar. Padahal daratan sudah tampak didepan mata. Namun apa daya, takdir sudah ditulis begitu. Tahukah anda dimana tepatnya peristiwa tersebut terjadi? Tepatnya disini, disekitar Vihara Xiao Yi Shen Tang.

Semua barang bawaan hanyut terseret oleh ombak. Orang-orang pada sibuk untuk menyelamat diri dan penumpang yang lainnya. Dan alhamdulillah, kejadian tersebut tidak ada yang memakan korban jiwa. Semua penumpang dinyatakan selamat.Tapi ingat! Mereka semua pada jago berenang dan sudah terbiasa dengan ganasnya alam. Sedangkan kami?

Untuk kedua kalinya. Saya selalu berusaha tetap berpikir positif. Meskipun ombak disana semakin membesar dan membasahi sebagian pakaian. Semua akan baik-baik saja. Lagian, Vihara Xiao Yi Shen Tang sudah tampak didepan mata.

"Kita pulang saja." Teriak Tuan Rumah yang sedang mengemudikan perahu.

Semua yang ada diperahu langsung mengiyakan. Bagaimana pun juga keselamatan adalah nomor satu. Belum lagi salah satu teman kami ada yang tidak bisa berenang. Lagianpun, seandainya bisa berenang, apakah kami bisa sanggup untuk melawan ombak dan kuatnya arus. Perahu kami pun memutar haluan, masuk kembali menuju sungai.

Perahu Sempat Terseret Arus Hingga Membanting Sebuah Jermal

Kami berhenti disebuah jermal. Disinilah kami menambatkan tali perahu untuk singgah memancing. Wajah yang tadinya tegang, sekarang tidak terlihat lagi. Malahan suara tawa lepas terdengar karena mengingat kejadian yang baru dialami.

Dua buah pancing kami ulur. Berharap ada ikan yang sudi memakannya. Arus yang kuat membuat tali pancing kami terseret jauh, meskipun diberi batu pemberat. Sambil menunggu, kami kembali menceritakan kejadian lucu masa SMP. Rasanya cerita waktu itu memang tidak akan habis untuk dibahas.

Gelombang Mulai Redah Namun Arus Masih Cukup Kencang

Kurang lebih tiga puluh menit kami menunggu. Namun tak ada seekor ikan pun yang menyenggolnya, apalagi memakannya. Kami pun memutuskan untuk naik diatas jermal, baru setelah itu langsung pulang.

Diatas Jermal

Petualangan kami di Sungai Kakap tidak hanya berhenti disitu saja. Kami juga melanjutkan untuk melihat bagaimana suasana Pasar Sungai Kakap di sore hari. Saat itu orang-orang masih terlihat ramai meskipun toko-toko sudah pada tutup. Kendaraan berlalu lalang, masyarakat yang berjalan kaki, para penikmat kopi yang sedang bercengkerama disebuah warung hingga penjual makanan yang terlihat sedang sibuk membuka lapaknya.

Perjuangan Seorang Kakek

Perahu Nelayan yang Sedang Tertambat
View Dari Vihara Budha Kutub Utara

Perjalanan kami di Sungai Kakap berakhir di sebuah gerobak apam pinang (martabak manis) milik si Tuan Rumah, Daeng Saiful. Disini kami dihidangkan apam pinang keju susu yang benar-benar nikmat. Buat teman-teman asli orang Sungai Kakap atau sedang bertandang kesini, saya sarankan untuk mampir membeli apam pinang si Tuan Rumah. Satu buah apam pinang harganya dimulai dari 5.000 rupiah. Untuk ukuran dan rasa jangan ditanyakan lagi, pastinya sangat memuaskan.

Apam Pinang Terenak dan Termurah di Pasar Sungai Kakap

Saturday, August 18, 2018

Menggunakan Barang Bekas, Beginilah Hasta Karya Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah

Saat itu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Suasana asrama yang semula lengang perlahan-lahan mulai terdengar riuh. Sesekali terdengar suara teriakan. Teriakan seorang anggota yang sedang mencari anggota kelompoknya.

***

Semua anggota telah berkumpul pada kelompoknya masing-masing. Ada yang di ruang aula, ada yang diruang tamu dan ada yang di teras asrama. Beberapa kelompok pun telah terlihat sibuk merancang sedangkan beberapa kelompok lain masih terlihat sibuk mencari bahan.  Semuanya pada berkerjasama dan beresemangat untuk menghasilkan sebuah kreatifitas yang menarik.

Beginilah cara kecil kami memaknai hari kemerdekaan. Tidak hanya mengadakan pentas seni, namun juga mengadakan berbagai perlombaan menarik.  Salah satu perlombaan  tersebut adalah  hasta karya yang dikerjakan secara berkelompok. Diharapkan dengan adanya perlombaan ini bisa mempererat rasa kebersamaan antar sesama warga Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah.

Hasta karya atau yang sering disebut sebagai kerajinan tangan ini sebagian besar menggunakan barang-barang bekas yang ada disekitar lingkungan asrama. Seperti kertas bekas, koran bekas, botol mineral dan yang lainnya. Sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membuatnya.

Kurang lebih tiga jam lamanya, hasta karya masing-masing kelompok telah selesai dikerjakan. Dan selanjutnya adalah penilaian oleh dewan juri. Berikut hasta karya Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-73.

Vas Bunga - Bingkai Foto - Tempat Pensil dan Pulpen dari Kertas Bekas
Hiasan Pintu Kamar dari Anyaman Tali
Tempat Handphone - Bingkai Foto - Tempat Pensil dan Pulpen dari Stik Ice Cream

Tas dan Kaligrafi dari Koran
Tempat Barang dan Tong Sampah dari Botol Mineral Bekas dan Koran


Harapan untuk ulang tahun Indonesia yang ke-73 ini adalah semoga semakin banyak lagi lahir generasi muda yang berjiwa kreatif dan semangat dalam membangun bangsa.

Friday, August 17, 2018

Tinggal di Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah Itu...

"Kita sangat beruntung karena disediakan fasilitas tempat tinggal oleh pemerintah setempat". Begitulah sepenggal kalimat yang sedang disampaikan seorang  mahasiswa diatas panggung. Didampingi oleh dua orang temannya, wanita yang memegang pengeras suara tersebut memaparkan dengan jelas tentang Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah yang ada di Kota Pontianak.

Saya kenal betul sosok wanita yang sedang berdiri diatas panggung tersebut. Dia merupakan alumni dan saat itu sedang mengenyam pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak. Tidak semua memperhatikan dengan serius apa yang sedang disampaikannya. Maklum, saat itu pikiran kami hanya sedang fokus pada penerimaan amplop hasil ujian tingkat SMA. Belum lagi sebagian dari kami tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi lagi. Presentasi tersebut pun berlalu begitu saja dan diakhiri dengan pembagian sebuah brosur.

'Dinyatakan LULUS'

***

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi akhirnya terpenuhi. Namun yang menjadi permasalahan ketika itu adalah mengenai tempat tinggal. Sebenarnya ada keluarga di Kota Pontianak yang menawarkan untuk tinggal bersama mereka, namun itu pastinya akan merepotkan mereka. Saya pun berpikir bagaimana jika nge-kos saja disekitar kampus biar lebih mudah aksesnya. Tapi disisi lain saya juga terpikir tentang bagaimana keadaan ekonomi orang tua.

Saya pun teringat dengan selembaran brosur yang tersimpan didalam tas. Tanpa menunggu lama saya langsung mengambilnya dan melihat keterangan yang tertera. Lagi-lagi saya mempertimbangkan beberapa hal apabila tinggal diasrama. Bagaimana jika saya selalu diperintah oleh senior asrama? Bagaimana jika lingkungannya tidak bersahabat dan membosankan? Apalagi didalam benak saya sudah tertanam mindset bahwa tinggal diasrama itu tidak bebas alias terkekang.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal diatas, akhirnya saya memutuskan dan meyakinkan diri untuk mencoba dulu bagaimana rasanya tinggal diasrama. Dan ternyata tinggal diasrama itu... sangat menyerukan. Berbeda jauh dengan apa yang saya pikirkan sebelumnya.

Pertama kali datang keasrama saya sudah dibuat kagum dengan bangunan dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah ini. Ternyata apa yang disampaikan oleh alumni ketika presentasi dulu bukanlah isapan jempol belaka. Bangunan yang memiliki 2 lantai ini memiliki berbagai macam ruang yang tentu saja akan membuat penghuninya merasa betah. Seperti ruang tamu yang selalu tersedia koran yang siap dibaca setiap paginya, Aula dengan panggung dan seperangkat pengeras suara yang digunakan untuk kegiatan dan pertemuan, Ruang makan yang berfungsi sebagai tempat menyajikan makanan (makan tanggung sendiri. hehehe), ruang parkir agar keamanan kendaraan terjaga, teras samping dengan fasilitas kursi yang akan yang membuat santai lebih nikmat, jumlah kamar mandi dan toilet yang banyak, dan yang tidak kalah penting adalah ruang tidur yang dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap (tempat tidur pribadi, lemari sekaligus meja belajar pribadi, kipas angin, cermin dan lainnya).

Selain hal yang diatas, juga tersedia lapangan voli sekaligus badminton yang bisa digunakan bersama-sama untuk melepas penat disore hari atau akhir pekan. Tersedia juga tenis meja yang membuat pilihan olahraga semakin bermacam. Sedangkan untuk biaya perbulannya sangat murah yaitu hanya Rp. 20.000.

Satu hal yang membuat tinggal diasrama itu sangat menyerukan adalah berjumpa dengan orang-orang yang baru. Dari teman yang baru inilah banyak hal baru pula yang saya peroleh. Mulai dari cerita daerahnya hingga cerita pribadinya yang kadang lucu dan juga memotivasi.

Saya dan teman-teman lainnya yang baru kuliah saat itu tentunya memiliki pengetahuan yang minim mengenai perkuliahan dan Kota Pontianak. Namun untungnya kami tinggal diasrama yang dihuni oleh  mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kepada merekalah kami sering bertanya seputar perkuliahan dan saling bertukar pikiran. Apalagi jika punya senior asrama yang satu prodi, pasti makin nyambung jika bicara tentang perkuliahannya.

Selain hal-hal seru yang pernah dirasakan diasrama, setidaknya saya juga pernah mengalami hal yang cukup menyedihkan dan saya rasa juga pernah dialami mahasiswa lainnya. Saat itu ketika semester satu keadaan keuangan saya benar-benar sulit. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berlaukkan minyak dan garam. Hal ini akhirnya diketahui oleh seorang teman dan saat itulah dia selalu mengawasi ketika saya makan dan membagi sebagian rezekinya. Hingga sekarang jasa baiknya tidak akan dilupakan.

Tidak hanya itu. Diawal perkuliahan saya juga tidak memiliki laptop yang umumnya dimiliki oleh seseorang yang bersandang mahasiswa. Belum lagi saat itu saya gaptek akan teknologi. Sedangkan setiap pulang kuliah selalu saja ada tugas yang mengharuskan menggunakan laptop. Untunglah ada teman yang bersedia meminjamkan laptopnya meskipun harus bergantian.

Jika ada yang bertanya kenapa saya harus menceritakan hal tersebut? Jawabannya adalah karena saya ingin menunjukkan betapa tingginya rasa kebersamaan tinggal diasrama. Seandainya saja saya nge-kos, apakah ada yang peduli jika mengalami hal serupa tersebut. Beginilah tinggal diasrama, rasa kepedulian dan saling menolong itu sangat dijunjung tinggi.

Lagi-lagi saya mendapatkan hal yang baik dari asrama. Saat itu seorang senior menginformasikan bahwa UNTAN tempat saya mengenyam pendidikan sedang membuka pendaftaran beasiswa. Hal tersebut tentunya merupakan angin segar bagi kami-kami yang memang membutuhkannya. Tanpa pikir panjang besoknya saya dan yang lainnya langsung mengurus segala persyaratan. Usaha tersebuat mebuahkan hasil, sebagian besar diantara kami dinyatakan lolos. Saat itu juga rasanya seperti menemukan oase ditengah luasnya padang pasir.

Tidak hanya berhenti disitu. Ketika memasuki semester 3 seorang alumni asrama mencari warga asrama yang bersedia untuk berkerja ditempatnya. Saya mengambil tawaran tersebut dengan pertimbangan tidak bentrok dengan jam kuliah. Lumayan untuk nambah uang saku diperantauan.

Tidak hanya saya saja yang kuliah sambil kerja. Warga asrama lainnya juga banyak. Kebanyakan dari mereka yang memperoleh pekerjaan mendapatkan informasi dari sesama warga asrama dan alumni. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa jaringan warga asrama mengenai informasi itu sangat besar.

Apakah Tinggal di Asrama Membosankan?

Dimana pun kita berada pasti selalu diiringi yang namanya aturan. Seperti pepatah yang mengatakan, dimanapun bumi dipijak disitu langit dijunjung. Begitu juga dengan Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah yang pastinya memiliki sebuah aturan yang telah disepakati bersama. Untuk asrama putra keluar malamnya dibatasi hingga pukul 22.00 WIB sedangkan untuk yang putrinya pukul 21.00 WIB. Namun untuk malam weekend batas pulangnya diundurkan selama satu jam.

Lalu bagaimana jika ada tugas atau keperluan lain? Saya dulunya juga sempat menanyakan hal yang serupa. Dan malahan saya mengalaminya sendiri ketika ada keperluan diluar yang mengharuskan pulang malam. Untuk hal tersebut tinggal minta izin saja kepada pengurus asrama. Pasti akan diizinkan selama hal yang dilakukan adalah positif.

Walaupun sudah diizinkan, saya masih saja tetap bertanya alias kepo. Kenapa harus minta izin? Jawaban pengurus saat itu sangat sederhana namun tuntas. "Karena orang tua kalian telah mengamanahkan kepada kami untuk menjaga kalian". "Jika ada sesuatu yang terjadi dengan kalian disini adalah tanggung jawab kami". "Seandainya jika ada orang tua kalian menelpon atau teman kalian datang mencari, kami bisa menjawabnya". Saat itulah, pikiran saya tentang asrama 'tidak bebas' perlahan-lahan memudar dengan sendirinya.

Bagaimana dengan Kegiatan Asrama?

Untuk kegiatan asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah jangan ditanyakan lagi. Pastinya sangat menyerukan! Beberapa contoh kegiatan asrama yang selalu diadakan adalah kunjungan ketempat bersejarah dan terkenal, peringatan hari besar, pentas seni asrama, bhakti ramadhan, buka puasa bersama PEMDA Kabupaten Mempawah dan kegiatan menarik  lainnya.

Kegiatan yang selalu dinanti-nantikan adalah ulang tahun Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah. Pada saat itu berbagai macam perlombaan akan diselenggarakan untuk warga asrama. Seperti balon dangdut, tarik tambang, bola sarung, balap karung, guli dalam sendok, paku dalam botol, Tepuk bantal, cucong, balon naga, badminton, tenis meja, voli, tata rias wajah, masak-masak dan lainnya. Sedangkan perlombaan yang melibatkan pihak luar (eksteren) adalah futsal antar asrama, kreasi jilbab dan berbagai perlombaan untuk anak kecil dilingkungan asrama.

Tidak hanya dimeriahkan dengan berbagai perlombaan, ulang tahun asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah juga dimeriahkan dengan adanya senam massal, kegiatan donor darah dan bersih-bersih mushollah.

Tarian Tiga Etnis Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah

Lomba Badminton dalam Rangka Ulang Tahun Asrama

Lomba Balon Dangdut dalam Rangka Ulang Tahun Asrama

Tundang Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah
Pembagian Hadiah Sekaligus Penutupan Ulang Tahun Asrama  Mahasiswa Kabupaten Mempawah
Open House di Rumah Dinas Bupati Kabupaten Mempawah

Pembagian Bunga dalam Rangka Hari Ibu
Buka Puasa Bersama PEMDA Kabupaten Mempawah

Team Futsal Galaherang dalam Kompetisi Futsal Antar Asarama Se-Kota Pontianak

Lebaran Keliling Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah

Kegiatan Bhakti Ramadhan
Diskusi Bersama Pejabat Daerah Kabupaten Mempawah

Bertandang ke Makam Juang Mandor

Kunjungan ke Istana Kadariah Pontianak

Foto diatas hanyalah sebagian kecil dari beberapa kegiatan asrama yang sangat menyerukan. Bagaimana? Tertarik untuk tinggal di Asrama Mahasiswa Kabupaten Mempawah? Jika ia langsung saja datang ke Jalan Sepakat 1 (Ahmad Yani) No. 88 atau menghubungi nomor dibawah ini.

Hairul    :0815-4536-3076
Sabaria  :0896-9374-0420

Thursday, August 9, 2018

Songkok Recca Sebagai Identitas Orang Bugis di Tanah Rantau

Kebiasaan Orang Bugis yang senang berdagang dan merantau kedaerah lain telah dilakukan dari sejak dulu. Menggunakan kapal pinishi, orang-orang Bugis mengarungi lautan yang luas untuk mencari tempat yang baik dalam berdagang hingga menetap disana. Karena kebiasaan merantau tersebutlah, tidak heran jika Orang Bugis mudah dijumpai diseluruh wilayah nusantara. Mulai dari Papua, Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera hingga ke Negeri Malaysia dan Thailand.

Orang Bugis berpegang teguh pada falsafah "Kegai sanre' lopie kotisu to taro sengereng" yang memiliki makna "Dimanapun perahu ditambatkan, disanalah menanam budi baik". Oleh sebab itulah perantau Bugis sangat mudah beradaptasi dengan masyarakat setempat yang didatanginya, meskipun dari segi budaya memiliki perbedaan yang jauh. Sebagai contoh adalah di Kalimantan Barat, keberadaan Orang Bugis banyak dijumpai didaerah pesisir yang hidup berdampingan dengan etnis Melayu, Cina dan yang lainnya.

Meskipun berada jauh dari kampung halaman, bukan berarti perantau Bugis serta-merta melupakan adat budayanya. Hal ini bisa dilihat dari prosesi adat yang masih digunakan dalam acara pernikahan dan yang lain sebagainya. Selain itu, bahasa Bugis juga masih bisa kita dengarkan walaupun ratusan tahun kedatangannya telah berlalu.

Kebanggaan atas budaya leluhur masih tertanam dalam dijiwa keturunan Bugis yang telah beranak-pinak ditanah rantau. Meskipun sejatinya diri mereka sendiri belum pernah menginjakkan kaki ditanah Bugis yang merupakan asal-mula pendahulunya sebelum belayar.

Salah satu hal yang dilakukan untuk menunjukkan identitas dirinya ditanah rantau adalah dengan menggunakan songkok recca atau disini kami sering menyebutnya songkok ogi' (Songkok Bugis). Songkok yang berfungsi sebagai penutup kepala ini semakin banyak digunakan, baik itu dari kalangan muda maupun kalangan yang tua. Dari yang berprofesi pejabat, tokoh masyarakat maupun yang hanya kalangan biasa.

Penulis ingat betul, dulu penggunaan songkok recca ini sangat jarang sekali dijumpai. Paling yang menggunakan hanyalah mereka yang baru berkunjung ketanah Bugis atau mendapatkan oleh-oleh dari mereka yang pulang dari tanah Bugis. Namun dengan perkembangan zaman, keberadaan songkok recca semakin mudah diperoleh melalui pembelian online. Karena itu jugalah, banyak keturunan Bugis yang sudah memilikinya dan menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari maupun kegiatan besar.

Acara Gema Bina Bangun Desa

Acara Pernikahan

Acara Mahasiswa

Monday, July 30, 2018

Nasi Goreng Sampah Pontianak


Berbicara tentang kuliner Kota Pontianak tentunya banyak sekali dan tidak ada habisnya. Salah satunya adalah nasi goreng yang katanya merupakan makanan terenak didunia. 

Dari sekian nasi goreng yang ada di Kota Pontianak, yang satu ini menurut penulis memiliki nama yang unik. Gara-gara namanya jugalah yang membuat penulis akhirnya datang kesini untuk menikmati nasi goreng tersebut.

'Nasi Goreng Sampah'. Begitulah orang-orang sering memanggilnya. Tapi jangan berpikiran jika nasi goreng yang satu ini menggunakan bahan sisa atau lokasinya yang berada ditempat pembuangan sampah. Nasi Goreng Sampah ini sebenarnya hanyalah panggilan masyarakat Pontianak saja karena ukuran porsinya yang lebih banyak. Namun nama nasi goreng ini sebenarnya adalah Nasi Goreng Artomoro yang terletak di Jalan Merdeka Barat.

Karena Porsinya yang besar, maka bisa dipastikan perut anda akan terasa kenyang jika datang kesini.  Bayangkan saja untuk ukuran biasa saja porsinya sama seperti jumbo jika ditempat lain. Untuk harga nasi goreng biasa dibandrol dengan harga yaitu Rp. 11.000, sedangkan untuk porsi jumbo yaitu Rp. 12.000.

Nasi goreng sampah atau nasi goreng Artomoro disajikan dengan toping suwiran ayam. Selain itu anda juga bisa memesan dengan tambahan telur sekaligus mau rasa yang pedas atau tidak. Nasi goreng sampah semakin terasa nikmat ketika dicampur dengan acar yang terdiri dari timun, bawang merah dan cabe rawit. Dan satu hal lagi yang membuat nasi goreng sampah ini berbeda dari tempat yang lainnya, yaitu kita bisa menikmati acar dan kerupuk sepuasnya tanpa batas. Ketika kerupuk dan acar habis diatas meja, maka pelayannya akan datang dan menggantikannya dengan yang lainnya.

Pokoknya makan nasi goreng disini benar-benar puas dah. Apalagi buah mahasiswa seperti saya. Makan nikmat, perut kenyang dan kantongpun tenang.





Wednesday, June 6, 2018

Kita Adalah Satu

Pagi hari datang, kamar penginapan mulai terang, dan lilitan dingin perlahan beranjak pergi. Serpihan-serpihan cahaya menembus celah tirai jendela yang membuat mata terasa silau ketika melihatnya. Rasanya tidak ingin segera beranjak dari kasur empuk yang berbalutkan selimut tebal ini. Apalagi rasa lelah selama perjalanan kemarin benar-benar telah menguras tenaga kami. Walaupun telah beristirahat semalaman, namun rasa lelah disekujur tubuh tetap saja tidak bisa diajak kompromi.

“Oi, bangun semuanya. Sudah siang ini.” Suara Andi berteriak dari arah kamar mandi.

“Ia. Selesaikan saja mandi kau dulu. Baru kami akan segera bangun.” Aku berusaha menjawab teriakan Andi walaupun dengan suara yang terdengar lemas.

Aku berusaha menggerakkan tangan yang menopang tubuh untuk bangkit, meskipun rasa kantuk dan pegal masih mendekap erat tubuh ini. Kepala yang tertunduk dan untaian do’a sudah merupakan rutinitas setiap bangun tidur. Semua itu aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan waktu kepadaku untuk kembali berpetualang di alamnya. Perlahan, ku turunkan kedua kakiku dan melangkah ke sebuah jendela. Seketika ruangan menjadi lebih terang setelah tirai yang berwarna coklat tersebut ku tarik. Teman-teman yang masih tertidur nyenyak protes terhadap apa yang barusan aku lakukan. Kata mereka aku telah merusak mimpi indahnya.

Perlahan, kubuka dua daun jendela yang terkunci keras. Angin pagi yang berlalu menyentuh pelan wajahku dengan sensasi dingin akibat hujan yang berkepanjangan tadi malam. Dari atas penginapan ini juga terlihat bagaimana kesibukkan masyarakat Bali dalam menyambut keindahan pagi. Di pinggiran jalan yang tanpa trotoar tersebut terlihat pula seorang ibu dan bapak dengan menggunakan pakaian khas Bali. Sepertinya mereka adalah sepasang suami istri yang ingin berbelanja di pasar seberang sana. Bagiku mereka adalah pasangan yang sangat romantis.

“Kau sudah bangun Japo?” Tanya Andi yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Seperti yang kau lihat sekarang. Tinggal mereka saja yang belum bangun.” Jawabku sambil memonyongkan mulut ke arah tempat tidur. “Jam berapa motor yang kita sewa akan datang?” Aku melanjutkan pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.

“Mungkin sebentar lagi tiba.” Jawab Andi yang sedang menggoyang tubuh teman yang masih tidur.

Japo, itulah nama panggilanku. Ini adalah untuk pertama kalinya aku datang berliburan ke Bali. Aku tidak hanya sendirian. Namun juga bersama-sama mereka, sahabat terbaikku. Jangan pikir kami semua adalah sahabat yang telah berteman dari kecil, melainkan baru kenal beberapa tahun yang lalu. Awal pertemuan kami bermula dari bangku perkuliahan, ketika kami belum mengenal antara yang satu dan yang lainnya. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda. Aku sendiri berasal dari pedalam Kalimantan Barat yang aksesnya masih berupa jalur sungai yang deras. Tidak hanya asal daerah yang berbeda, latar belakang kami semuanya juga berbeda. Aku sendiri merupakan keturunan Dayak, sedangkan Andi merupakan keturunan Bugis dan dua temanku yang lainnya yaitu Bujang merupakan keturunan Melayu dan Arif keturunan Jawa. Bagi kami, perbedaan itu bukanlah hambatan untuk saling berinteraksi, melainkan adalah sebuah kekuatan yang saling melengkapi.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya motor yang disewa tiba juga. Bli menunjukkan kepada kami surat kendaraan, kunci dan empat buah helm. Sebelumnya aku sempat memanggil mereka dengan sebutan Mas. Tetapi kata mereka dipanggil Bli saja, biar nuansa liburan di Bali lebih terasa. Hal yang harus diketahui, Bli adalah panggilan untuk laki-laki Bali yang lebih tua atau sebaya dengan kita. Indonesia memang benar-benar kaya akan bahasa dan budayanya. 

Tanpa menunggu lama, kami pun segera menaiki motor yang telah disewa. Tapi ada yang sedikit aneh dengan helmnya. Ukurannya lebih besar dari yang biasa kami gunakan. Sontak teman-teman yang lain langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku pikir mereka akan merasa kesal dengan ukuran helm yang besar, tetapi malahan suara tawa yang lepas yang terdengar dari mulutnya. Merupakan hal yang wajar jika ukuran helmnya besar. Ini dikarenakan kebanyakan turis disini adalah para bule yang tentunya memiliki ukuran kepala lebih besar.

“Sudah, nikmatin saja. Lagian ini bukan penghalang untuk kita berpetualang.” Sahut Arif yang sudah berboncengan di motor Andi.

“Betul itu. Lagian, keseruan itu kita sendiri yang menciptakannya.” Timpal Andi yang menoleh ke arah Arif.

Inilah sahabat-sahabatku. Tidak terlalu membesar-besarkan masalah yang kecil. Bagi mereka, selama masih bisa bersama-sama semuanya akan selalu terasa seru untuk dinikmati. 

Motor kami perlahan menuju jalan raya. Gapura-gapura khas Bali yang berderet ditepi jalan memberikan kesan yang menarik kepada setiap mata yang melihat. Perjalanan ini merupakan hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, bahwa kami bisa datang bersama-sama ke Pulau Dewata. Semua itu tentunya tidak terlepas dari adanya persamaan diantara kami. Yaitu sama-sama memiliki rasa cinta yang tinggi akan indahnya alam dan budaya Indonesia yang beraneka ragam. Aku tahu, keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan bukanlah bertujuan untuk saling memisahkan atau pun menunjukkan siapa yang paling hebat. Tetapi ini adalah cara Tuhan bagaimana kita bisa untuk saling memahami dan mengenal antara yang satu dengan yang lainnya.

“Hentikan motornya!” Tiba-tiba Bujang menepuk pundakku agar segera menghentikan kendaraan.

Ada apa lagi ini. Kenapa Bujang tiba-tiba  menyuruhku untuk menghentikan kendaraan. Dari arah belakang Andi sudah berteriak, bertanya kenapa berhenti mendadak seperti ini.

“Ada apa Bujang, kau ingin buang air kecil?” Aku langsung bertanya.

“Bukan. Kau lihat Bapak itu. Kasihan Rantai sepedanya putus, Japo.” Jawab Bujang sambil menunjukkan tangannya ke arah bapak yang sedang mendorong sepeda.

“Terus, apa yang harus kita lakukan?” Aku kembali bertanya. Tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk bapak tersebut.

Melihat kami yang berhenti mendadak, membuat Andi dan Arif penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Perlahan motornya pun menghampiri dan sejajar dengan motor kami.

“Ada apa ini. Kenapa berhentinya lama?” Andi yang sedang berada disamping kami langsung bertanya.

“Kasihan Bapak itu, Di. Dengan usianya yang sudah tua namun harus berjalan kaki mendorong sepedanya dibawah terik  matahari. Apa yang bisa kita lakukan untuk bapak itu? Bujang menjelaskan dan sekaligus mempertanyakan solusinya.

“Oh, itu. Kalau begitu tinggal kita dorong saja sepedanya dengan kaki kita.” Andi memberikan solusi dengan sedikit tertawa.

“Jangan mengambil resiko. Nanti kalau bapaknya jatuh ketika kita dorong bagaimana? Apalagi bapaknya sudah tua.” Arif langsung menimpali dari belakang Andi.

“Tinggal tukar posisi saja. Bapak berboncengan dengan aku sedangkan kau menggunakan sepedanya. Dan yang mendorong adalah Bujang. Bagaimana?” Andi kembali menjelaskan idenya.

Aku dan yang lainnya sepakat atas usulan Andi tersebut. Motor kami pun menghampiri bapak tersebut. Awalnya bapak tersebut menolak tawaran bantuan kami dengan alasan tidak ingin merepotkan. Beberapa saat kemudian bapak tersebut akhirnya bersedia untuk didorong hingga ke tempat bengkel. Didalam perjalanan, sesekali kami dan Bapak tertawa melihat tingkah lucu Arif yang sedang mengendalikan sepeda tersebut. Bagi kami, menolong sesama seperti ini adalah keseruan yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Apalagi hal yang kami lakukan adalah salah satu cerminan budaya Indonesia, yang semakin asing dikalangan anak muda sekarang.

Tidak perlu waktu yang lama,  akhirnya kami sampai disebuah bengkel. Dari raut muka bapak tersebut terlihat senyum yang sederhana namun penuh dengan keikhlasan. Berulangkali bapak tersebut selalu mengucapkan rasa terima kasih. Diambilnya sebuah plastik hitam yang bergantung diatas sepeda. Dirogohnya plastik hitam tersebut dan terlihat empat buah bunga kamboja yang masih terlihat segar.

“Ini adalah bentuk rasa ucapan terimakasih bapak. Bunga kamboja ini bagi masyarakat Bali melambangkan sebuah kesucian seperti halnya hati kalian.” Bapak tersebut tersenyum dan menyerahkan bunga kamboja tersebut.

Kami juga mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan bapak tesebut. Tidak ada terlintas sedikit pun dibenak kami agar kebaikan yang kami lakukan harus dibalas pula. Bagi kami, Tuhan adalah pembalas setiap perbuatan yang sebaik-baiknya. Lagian pula, bukankah hal tersebut merupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong sesama.

Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya kami tiba di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Sesuai dengan namanya, disini kami bisa melihat berbagai atraksi budaya Bali. Langkah kami terhenti ketika melewati sebuah ruangan yang terlihat sedang mementaskan sebuah seni. Kami pun masuk dan menaiki sebuah tribun yang sudah ramai diisi oleh para pengunjung. Walaupun agak terlambat, kami tetap bisa menikmati pertunjukan seni tersebut. Pertunjukkan yang sangat mengagumkan.

“Kau kenapa menangis, Arif?” Aku bertanya kepada Arif sambil menepuk pundaknya.

“Tidak apa-apa.” Jawab Arif dengan senyum simpul.

“Kalau tidak apa-apa, lantas kenapa kau menangis? Apakah kau menyesal karena telah menggunakan uang tabungan untuk berliburan ke Bali.” Andi langsung bertanya juga.

“Bukan karena itu, Andi. Aku menangis karena aku sangat bangga dan cinta dengan budaya-budaya Indonesia. Karena kecintaanku itulah aku tidak ingin suatu saat budaya Indonesia satu per satu hilang akibat kalah saing dengan budaya asing yang kian gencar dimana-mana. Kau lihat Tari Barong tersebut, sungguh sangat indah dipandang mata. Mengenai uang tabungan yang digunakan untuk kesini, itu bisa dikumpulkan lagi. Tetapi pengalaman berpetualang bersama kalian adalah hal yang luar biasa.” Arif menjelaskan dengan takzim. 

Aku merangkulkan tanganku di pundak Arif. “Kau benar sahabatku. Ini adalah perjalanan istimewa kita. Sebuah perjalanan yang suatu saat nanti akan diceritakan pada anak cucu kita. Banyak hikmah yang bisa dipetik setelah melalui perjalanan ini bersama. Salah satunya adalah betapa indahnya alam indonesia dan beranekaragamnya budaya yang ada di Indonesia. Bukan hanya kita yang berpijak di bumi pertiwi ini, tetapi juga ada mereka yang semakin menambah pesona keindahan Indonesia.”

Tanpa kusadari air mataku juga megalir perlahan. Apa yang dirasakan oleh Arif, juga dirasakan oleh aku dan yang lainnya. Seketika aku teringat akan kampung halamanku yang juga memiliki permata indah yang harus selalu dijaga. Yaitu sebuah budaya yang diwariskan oleh para leluhur yang kian hari semakin terancam oleh budaya asing yang masuk tanpa tebendung.

“Indonesia bukan hanya aku, atau kau, atau kita. Tetapi melainkan adalah kita semua yang lahir dan memijakkan kaki di bumi pertiwi ini. Kita dan mereka semuanya adalah tonggak-tonggak penegak bangsa Indonesia yang semakin harum karena keberagaman. Rusak satu, maka kekokohan indonesia akan terancam pula.” Sahut andi, memberikan kata bijak bak seorang inspirator.

Tanpa diperintah, tangan kami sudah saling berpegangan. Kami berjanji akan selalu menjaga keindahan alam dan budaya Indonesia agar tetap lestari di bumi pertiwi ini. Biar seluruh dunia tahu bahwa Indonesia adalah potongan surga yang dititipkan oleh Tuhan dengan berbagai keberagaman.