Tuesday, July 21, 2020

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah artikel tentang perjalanan seorang travel blogger ke Kota Pontianak. Karena yang diceritakan adalah kota saya, tentunya hal tersebut membuat saya penasaran akan  isi cerita tersebut. Hingga akhirnya saya buka. Mata pun mulai membaca, hingga jatuh cinta diawal mula rangkaian katanya.

@khatulistiwapark.official

Seperti travel blogger pada umumnya, setiap perjalanan yang dilakukan adalah inspirasi untuk membuat jejak cerita di blognya. Begitu juga seorang travel blogger yang satu ini, mengisahkan perjalanananya ke Kota Pontianak yang hanya sebentar saja, namun mampu menjajal banyak destinasi wisata di Kota Khatulistiwa.

Tidak tanggung-tanggung, cerita perjalanannya yang singkat itu mampu dia tulis dalam tiga seri. Part 1, part2 dan part3. Jujur saja saya akui, tulisannya sangat begitu apik dan enak dibaca. Karena itulah, setiap cerita perjalanannya saya ikut menikmati dan merasa seakan-akan Pontianak merupakan sebuah kota yang asing bagi saya. Karena rangkaian ceritanya yang bagus pula, saya mampu menghabiskan tiga ceritanya hanya dua kali duduk. Istirahat sejenak hanya karena harus setor air ke toilet.

Dalam cerita perjalanannya, ia membeberkan satu-persatu tempat wisata yang yang ada di Kota Pontianak. Yang menurut saya begitu lengkap dengan menampilkan peta tempatnya, jepretan gambar yang begitu bagus dan deskripsi yang sangat menarik. Dia menyambangi Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikonnya Kota Pontianak. Dia juga mendatangi Rumah Adat Dayak (Rumah Radakng) dan Rumah Adat Melayu. Disini dia menggambarkan begitu harmonisnya masyarakat Pontianak walaupun memiliki latarbelakang yang berbeda. Dia juga menyusuri Sungai Kapuas yang menjadi urat nadi kehidupan sekaligus kebanggaan masyarakat Kalbar.

Tidak hanya itu, Berbagai kuliner yang dia sempat nikmati pun juga diperkenalkan. Seperti Chai Kue, kembang tahu, Kopi Pontianak, Es Klim Petrus dan yang lain-lain-lainnya. Sebagai orang Pontianak tentunya saya sangat bangga membacanya. Bagaimana tidak? Wisata-wisata kita lagi diceritakan dan dibilang menarik. #kamekbangge.

Di hari terakhirnya, sebelum dia terbang meninggalkan Pontianak, lagi-lagi ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke tempat wisata lainnya. Saat itu adalah Keraton Kadariayah, Masjid Jami’ dan Kampung Beting. Disinilah ia menyebutkan keprihatinannya mengenai banyaknya sampah yang berada dikolong rumah warga. Ya, saya tahu betul, ada banyak begitu sampah rumah tangga di Kampung Beting yang berserakan. Tidak hanya dikampung Beting, melainkan juga kampung-kampung lainnya yang ada ditepian Sungai Kapuas.

Jujur saja, saya yang membacanya saat itu juga turut sedih. Sedihnya karena sayang saja, Pontianak yang awalnya diceritakan sangat menarik harus sedikit tercoreng oleh masalah sampah. Tidak hanya sampai disitu, dikolom komentar banyak juga para pembaca yang nimbrung memberikan tanggapannya. Kurang lebih begini,

“Sedih pas baca dan lihat foto kanal di Kampung Beting..Jadi banyak sampah dan terkesan kumuh.”

“Sangat disayangkan Kampung Beting terlihat kotor.”

“Turut prihatin akan sampah-sampah yang menggunung dibawah rumah Kampung Beting.” Yang ini terlalu berlebihan, mengatakan sampahnya menggunung. Belom kena’ lebu’ buda’ Pontianak kali’.

Yah, semoga saja dengan adanya cerita dan tanggapan tersebut bisa mensugesti kita untuk selalu menjaga kebersihan. Tidak hanya masyarakat Kampung Beting, tetapi juga kita semua yang setiap harinya menghasilkan sampah. Buanglah sampah pada tempatnya, bukan pada semaunya. Toh yang malu kita juga kan nantinya? Dikatakan kumuh, kotor, jorok dan sejenis lainnya.

Kepada pemerintah, saya juga menaruh harapan yang besar agar lebih memperhatikan daerah-daerah yang ada dipinggiran sungai. Mungkin perlu dilakukannya revitalisasi agar lingkungan yang ada tampak bersih. Kalau kata orang Pontianak itu “nyaman ditengok”. Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting, agar kebersihannya bisa berkelanjutan.

Kesedihan saya belum berhenti disitu. Diakhir perjalanan, seorang driver hotel yang mengantarnya ke Bandara Supadio menceritakan kalau Kampung Beting itu merupakan daerah kriminal, setiap orang asing yang datang akan selalu dicurigai. “Cobe gak campakkan ke Sungai Kapuas buda’ yang ngomong gitu’, biar dimakan puake.”

Seharusnya, sebagai salah satu pekerja penyedia jasa tidak sepatutnya berbicara seperti itu. Jangan sampai gara-gara omongan tersebut menimbulkan stigma negatif tentang Kampung Beting, yang akhirnya membuat orang-orang yang datang ke Pontianak jadi takut mampir kesana. Padahal kenyataan dilapangannya tidak demikian. Awak datang kamek sambot.

Tabe’...

Thursday, July 16, 2020

Rantau Panjang dan Segelas Kopinya

Ada begitu banyak tempat yang memiliki nama serupa. Salah satunya adalah “Rantau Panjang” yang bisa ditemukan diberbagai wilayah Indonesia. Anda bisa menjumpainya di Aceh, di Medan, di Jambi, di Riau, dan di Kalbar. Bahkan di negeri tetanggapun juga ada. Namun apakah dibalik namanya mempunyai cerita yang sama? Entahlah.

Sang surya mulai kembali diperaduannya, menyisakan seberkas cahaya jingga digaris cakrawala. Suara adzan pun berkumandang, memanggil jiwa-jiwa untuk mendekatkan diri kepada Sang Robbi. Perlahan, terangnya siang dimakan oleh pekatnnya sang malam.

Kendaraan kami melaju dijalan raya yang begitu asing. Iya, bagi saya ini adalah pertamakali melaluinya dan kemana tujuan pun tidak tahu. Yang pasti, malam ini kami akan kerumah teman bernama Tarmidji. Disanalah untuk satu malam kami menumpang nginap, sebelum melanjutkan pulang ke Kota Pontianak. Cek cerita sebelumnya disini.

Yansah, yang saat itu mengemudikan motor membuntuti setiap arah kendaraan Tarmidji. Jalanan yang sebelumnya cukup terang oleh cahaya lampu jalanan, kini hilang menyisakan cahaya kendaraan dan rumah dari pinggiran jalan. Itu artinya, kami telah memasuki wilayah baru dan sudah jauh meninggalkan ibu kota kabupaten.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami tidak tahu kemana tempat yang akan dituju. Apa nama tempatnya dan bagaimana keadaan disana tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Hanya menerka-nerka, mungkin tempat yang akan didatangi banyak terdapat pohon kelapa, atau jika lebih jauh kedalam adalah pohon sawit.

Binatang kecil penikmat malam pun banyak yang berterbangan. Mereka berpesta pora, mengejar cahaya kendaraan yang begitu menarik perhatiannya. Satu ekor sempat memasuki mata, membuat pemandangan terasa perih. Itu saya yang sedang berbonceng, bagaimana lagi dengan Yansah yang berada didepan?

Hingga akhirnya kami keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah jalan perkampungan. Sempat berbelok satu kali, sebelum akhirnya tiba ditujuan. Oh iya, setiap jalan disini juga disertai adanya aliran parit. Parit ini lah yang dahulunya digunakan sebagai jalur transportasi sebelum pembangunanan jalan digalak-galakkan.

Sebagai seorang pendatang, tentunya kita harus menjaga yang namanya kesopanan. Salah satunya adalah mengucapkan salam, untuk memberi tahu ada kedatangan orang sekaligus memanjatkan do’a bagi yang didalamnya. Namun malam itu, rumah yang kami datangi begitu sepi. Hanya terdengar bunyi jangkrik dikebun dan samar-samar suara tetangga. Tetangga manusia, bukan tetangga gaib!

“Orang tue kemane, Tar?” Tanya saya yang saat itu heran kenapa ruamhnya begitu sepi. Sekedar informasi, percakapan yang kami gunakan adalah bahasa Melayu.

“Kalo Emak pegi tempat keluarge, sedangkan Bapak ade disebelah ketempat kakak.” Tarmidji menjawab sambil menunjuk arah.

Saya pun duduk disebuah kursi yang ada didekat jendela. Tak ada kursi lainnya, hanya itulah satu-satunya. Disisi lain, Yansah mulai merebahkan badannya diatas lantai ruang tamu. Tidak lama kemudian, Tarmidji keluar dari kamar sambil membawa sehelai handuk. Lantas menyuruh kami untuk segera mandi.

Oh iya, ketika sampai tadi saya sempat bertanya tentang nama tempat yang kami datangi ini. Namanya adalah Parit Timur, tepatnya di Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Pantasan saja perjalanannya terasa jauh, ternyata kami telah berpindah kecamatan. Dari Sukadana ke Simpang Hilir.

Sekedar informasi, ada banyak daerah di Indonesia yang bernama Rantau Panjang. Seperti Rantau Panjang di Merangin, Rantau Panjang di Kalimantan Timur, Rantau Panjang di Ogan Ilir, Rantau Panjang di Deli Serdang dan Rantau Panjang di Sambas. Dan ada banyak lagi yang lainnya.

Setelah mandi dan makan malam,  waktu selanjutnya adalah bersantai-santai di ruang tengah. Saat itulah seorang bapak-bapak datang dan menghampiri. Ternyata beliau adalah ayahnya Tarmidji yang baru saja pulang dari rumah anaknya. Kami pun menyalaminya dan melemparkan senyuman. Bukan melemparkan cacian apalagi melempar batu, ya.

“Siape kita’ ni? Ayah Tarmidji membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Kita’ dalam bahasa Melayu berarti kalian. 

Saya dan Yansah pun memperkenalkan diri sekaligus memberitahukan dari mana kami berasal.  Dari sini jugalah saya tahu kalau nama beliau adalah Pak Arifin. Obrolan pun semakin seru disaat cerita demi cerita dituturkan. Mulai dari Oesman Sapta Odang  hingga cerita sejarah Rantau Panjang yang begitu menarik perhatian. Inilah bonusnya perjalanan, selain menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan cerita.

“Dulu’nye kampong ini maseh utan, hingge akhernye datang para orang-orang onto’ buka’ lahan. Disitu’lah awal mulenye name Rantau Panjang.” Pak Arifin menceritakan dengan mafhum. Dari guratan wajahnya dan sorotan mata, terlihat begitu jelas beliau sedang berusaha mengingat masa lalu. Mengumpulkan rangkaian-rangkaian kenangan yang kian hari mulai lapuk.

Berdasarkan cerita Pak Arifin dan ditambah lagi informasi dari situs milik Desa Rantau Panjang, bahwa  tempat yang sedang diceritakan ini memang memiliki sejarah yang amat panjang. Namun disini, saya berusaha untuk menuliskannya secara singkat agar lebih cepat dipahami.

Dikisahkan, penduduk pertama Rantau Panjang adalah warga yang hijrah dari Pelintu, Batu Teritip dan Pekajang. Disini mereka bercocok tanam dan menetap di Dungun Karu, Terus Landak, Sungai Siput dan Terus Jawe. Setelah puluhan tahun lamanya, mereka kemudian hijrah kembali menyusuri hilir Sungai Rantau Panjang dan menetap didaerah bernama Sungai Bagan. Kini, tempat tersebut  telah berubah nama menjadi Kampong Tembok Baru.

Dari tahun ke tahun, penduduk Tembok Baru semakin ramai. Tidak hanya karena adanya kelahiran, melainkan juga ramainya para perantau yang singgah dan menetap. Sebagian besar yang datang adalah dari Bugis, Banjar dan Tionghoa. Sehingga jangan heran jika adat istiadat etnis Bugis dan Banjar melekat pada warga Rantau Panjang sampai sekarang ini. Dari cerita yang panjang para perantau tersebutlah sehingga nama ini disematkan.

Saya pun mengangguk-angguk mendengarkannya. Sesekali bertanya, disaat ada rasa penasaran yang melintas. Dari arah dapur datang Tarmidji membawa penampan yang berisi kopi hangat. Asapnya yang mengepul tipis, menyentuh lembut saraf sensorik hidung. Ingin rasanya segera menyeruputnya. Disisi lain, sepiring kue juga turut disajikan. 

“Sile dipinom.” Pak Arifin menyuruh kami untuk meminum kopi.

Tanpa basa-basi, karena takut segera basi, saya pun langsung menuangkan kopi ke sebuah gelas. Yansah pun tidak mau ketinggalan, ia juga ikutan setelah saya. Degan membaca basmalah, kopi hitam mendarat perlahan dibibir. Euh, rasanya begitu nikmat. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan turun membasahi muka bumi. Dinginnya badan segera terhangatkan oleh segelas kopi Rantau Panjang.

Hal yang harus diakui, pamali rasanya bagi saya jika tidak menyeruput kopi yang telah disajikan. Apalagi bagi saya kopi adalah salah satu minuman kesukaan. Oh iya, meskipun menyukainya, bukan berarti saya paham betul akan seluk beluk kopi. Yang saya tahu hanya dua, enak dan sangat enak.

Cerita pun mulai beralih setelah saya melemparkan sebuah pertanyaan. Usut punya usut, ternyata kopi yang sedang kami nikmati adalah kopi yang dipanen dari Rantau Panjang itu sendiri. Malahan petiknya langsung dibelakang rumah Pak Arifin. Katanya juga, kopi merupakan sumber penghasilannya selain karet. Pantasan saja kopinya terasa nikmat dan begitu segar (baru, tadak kepang).

Semoga saja, dengan banyaknya tanaman kopi disini bisa menjadi peluang untuk dibuat produk unggulan. Sehingga bisa mengangkat ekonomi masyarakat dan memperkenalkan nama Rantau Panjang atau Kayong Utara dikancah nasional. Kalau bisa juga internasional. 

Hujan pun redah, selanjutnya kami diajak Tarmidji jalan-jalan. 

Segelas Kopi Rantau Panjang

Besok paginya lagi-lagi kami disuguhkan minuman kopi. Tidak lupa pula sepiring kue yang menemaninya. Namun sebuah kejadian heboh mengejutkan kami disaat sedang nikmatnya menyeruput segelas kopi. Bukan, bukan goyang hebohnya Mbak Inul, melainkan terdengar suara Pak Arifin didapur yang sedang meminta tolong. Sontak kami langsung berlari, menimbulkan suara berisik diatas lantai papan.

Ternyata api sedang berkobar besar dari sebuah tungku tempat memasak. Kalian tahukan bagaimana bentuk tempat memasak tradisional? Dimana diatasnya banyak tersusun kayu api. Saya yang saat itu juga mulai panik karena lidah api tersebut mulai menjilat  dinding dapur. Untung saja tempat memasaknya ada diluar dapur. Dengan bantuan pengendali air, akhirnya  api bisa di padamkan.

“Makaseh, ontong ade kitak” Pak Arifin mengucapkan terimaksih kepada kami yang telah berjibaku menyiramkan air kekobaran api. Meskipun sudah merasa legah, namun sisa rautan ketakutan masih berbekas diwajahnya.

Sebenarnya, bukan beliaulah yang harus mengucapkan terimakasih, melainkan kami. Karena berkat bantuan beliau dan Tarmidji lah sehingga kami bisa mendapatkan penginapan  dan makanan gratis. Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah mendapatkan cerita dalam setiap tegukan kopinya. Sekitar pukul 10.00 WIB kami pamit untuk pergi. Saatnya pulang ke Pontianak.

Yansah dan Pak Arifin

Kalian tahu apa penyebab kebakaran tadi? Penyebabnya adalah kakaknya Tarmidji yang tidak memadamkan bara api setelah menggoreng biji kopi. Tabe’...


Wednesday, July 15, 2020

Mengenal Tradisi Mattampung, Acara Setelah Kematian

Budaya dan tradisi Mattampung. Malam itu sungguh terasa syahdu. Lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi langit-langit ruangan yang ukurannya tidak seberapa. Disana, berkumpul para tetangga dan sanak keluarga yang turut mendoakan. Semoga almarhumah dilimpahkan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Tanpa ada perlawanan, kambing menurut saja ketika dibawa ke pohon manggis. Yah, meskipun kadang kambingnya sering mengembek. Namun menurut saya itu adalah cara komunikasinya, yang tentu saja tidak dipahami oleh manusia. Namun jika dikira-kira, mungkin dia lagi sedang bertanya ‘mau dibawa kemana saya? Mau diapakan saya? Tolong dilepasin dulu ikatan lehernya! Please help me...’ Kurang lebih begitu.

Saat itu matahari baru sepenggalah naik. Saya dan beberapa orang tua sedang berkumpul dibawah rindangnya pohon manggis. Bukan! Bukan lagi panen buah manggis atau sekedar melindungi diri dari terpaan matahari, melainkan akan menyembelih kambing. Penyembelihan tersebut dilakukan karena sebentar lagi akan diadakannya acara mattampung.

Apa itu Mattampung? Kata mattampung berasal dari bahasa Bugis yang memiliki arti mengganti atau memperbaiki. Adapun objek yang diperbaiki adalah kuburan keluarga yang telah meninggal sehingga tampak lebih baik. Oh, iya. Mattampung ini boleh dilakukan kapan saja setelah keluarga merasa sanggup. Biasanya dilakukan setelah 7 hari kematian, 40 hari, 100 hari, setahun ataupun tahun-tahun berikutnya (hitungan menggunakan kalender hijriah).

Dalam tradisi Mattampung juga dilaksanakannya penyembelihan hewan. Hewan yang biasanya disembelih adalah sapi atau kambing. Katanya, hewan yang dikurbankan nantinya akan menjadi kendaraan bagi orang yang telah meninggal. Dengan kata lain, daging kambing yang nantinya disajikan kepada orang lain akan menjadi kiriman amal bagi almarhum/ah yang bersangkutan.

Kambing pun siap untuk disembelih. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan prosesi mappasili atau disebut juga tepung tawar. Saat itu kambing akan dipakaikan kain putih kemudian ditepiskan dengan air pasili. Air pasilinya sendiri terbuat dari kunyit dan beras, sedangkan untuk menepisnya menggunakan daun juang-juang.

Saya pun merengsek kearah kambing, membantu para Pe-Tua lainnya untuk memegang. Kebetulan saat itu saya dipercaya untuk memegang kedua kaki depannya. Dengan menyebut nama Allah dan kalimah-Nya, Kambing tersebutpun disembelih. Seketika darah mengalir deras, tumpah membasahi bumi.

Kambingnya lagi disembelih

Passili atau tepung tawar

Tidak hanya itu, saya juga mendapat kepercayaan untuk ikut serta mengkuliti kambing. Ternyata susah juga ooi. Perlu kesabaran ekstra agar kulitnya tidak robek. Selain itu, pisaunya juga mesti tajam. Dari sinilah saya mendapatkan pelajaran dari Pak Parten bagaimana cara mengkuliti yang benar. Katanya, “kalau tidak mecoba, mana mungkin bisa tahu”.

Ternyata bukan mengkuliti saja yang lebih sulit. Bagi saya ada hal yang mesti lebih hati-hati lagi, yaitu menanggalkan kantong perutnya. Disaat inilah, kita harus ekstra fokus agar pisau yang digunakan tidak merobek kantongnya. Jika itu sampai terjadi, maka siap-siap saja aroma busuk akan mengambang diudara.

Karena saya saat itu merasa tidak punya keahlian, saya pun lebih memilih untuk memegang kantung perut bagian bawahnya, ketimbang ikut melepaskannya. Iya, harus dipegang agar tidak jatuh terhempas ke bumi. Semakin lama, kantong tersebut semakin terasa berat, hingga akhirnya terlepas semua. Selanjutnya, kambing yang telah dikuliti dan dibuang isi perutnya akan dipotong-potong menjadi beberapa bagian.

Lagi Seru Main Zakar Kambing

Sementara didapur, buk ibuk yang terdiri dari para tetangga dan keluarga sibuk mengurusi hal lainnya. Seperti meracik rempah-rempah, membuat kue dan memasak ini-itu. Intinya, buk ibuk yang ada didapur sibuk berkerja, mempersiapkan urusan kampung tengah (perut).

Sibuk menyiapkan perasaan, eh masakan

Madduppa

Untuk mengundang para tamu tentunya memiliki cara tersendiri. Yaitu melalui madduppa atau dalam bahasa Indonesianya berarti mengundang. Namun caranya bukan melalui tulisan, melainkan menyampaikan undangan melalui lisan. Kebetulan saat itu saya diberikan amanat untuk menjadi Padduppa (orang yang madduppa). Saya pun mendatangi rumah para tetangga satu-persatu, menyampaiakan panggilan (undangan) Si Tuan yang punya hajat. Setidaknya ada sekitar 50 rumah yang diundang. Untuk mengetahui madduppa lebih lanjut, silahkan baca disini.

Mengkhatamkan Al-Quran dan Yaasiinan

Malam pun tiba. Para keluarga dan tamu yang diundang berdatangan. Laki-laki memakai kopiah dan perempuannya berpakaian menutup aurat. Dalam prosesi mattampung, sebelum tiba hari pelaksanaan, malam sebelumnya dilakukan pembacaan Yaasiin dan pattemme’ Qur’ang atau mengkhatamkan Al-Quran. Biasanya, pembacaan Al-Quran ini dilakukan selama tiga malam berturut-turut.

Namun, berhubungan pembacaan Al-Quran sudah dikhatamkan oleh anak almarhumah, maka para tamu undangan yang hadir malam itu hanya membaca yaasiin. Setelah selesai, tamu pun disajikan dengan aneka kue yang diletakkan diatas penampan. Saya yang saat itu mengangkatnya mulai tergoda untuk mencicipinya. Setidaknya ada empat jenis kue yang dihidangkan.

Yaasiinan

Tahlilan

Tibalah dihari Pelaksanaan. Saat Pagi, pihak keluarga terlebih dahulu pergi kekuburan untuk mengganti nisan dan melakukan tahlilan. Tidak perlu seluruh keluarga, minimal ada yang mewakili. Karena acaranya yang dilakukan pagi hari mengakibatkan saya tidak bisa mengikuti. Biasa, ada urusan negara. HEHE. Pihak keluarga dan orang-orang yang pulang dari kuburan selanjutnya akan di passili (tepung tawar).

Sekitar pukul 10.00 WIB, tamu-tamu yang diundang akan datang lagi. Saat ini, orang-orang akan membaca tahlilan. Kalimah-kalimah Allah terdengar bergemuruh memenuhi langit-langit ruangan. Mereka terlihat khusyuk memanjatkan do’a kepada sang Illahi. Disaat inilah, kambing kemarin yang disembelih akan disajikan  bersama lauk-pauk yang lain.

Lagi-lagi saya mendapat kepercayaan untuk membantu menyajikan makanan. Makanan tidak disajikan secara prasmanan, melainkan saprahan. Yaitu meletakkannya dilantai dengan menggunakan baki yang besar. Para tamu akan segera menikmatinya setelah pembacaan do’a dan tuan rumah mempersilahkan.

Tahlilan

Massanji

Acara belum selesai sampai disitu. Sekitar jam 1 siang akan kembali diadakan Massanji. Massanji disini bukan nama salah satu musisi terkenal Indonesia, ya. Melainkan adalah melakukan pembacaan barzanji. Tapi untuk ini yang diundang biasanya hanya keluarga dan tetangga terdekat saja. Maklum biasanya saat siang itu, orang-orang lagi enaknya lagi tidur siang. Prosesi acara mattampung pun selesai setelah dilaksanakan massanji.

Ngantu euyyy

Tujuan utama dari diadakannya mattampung adalah untuk memanjatkan do’a kepada Allah agar almarhum atau almarhumah bisa mendapatkan tempat yang layak disisi-NYA. Disisi lain, tardisi yang dilaksankan ini juga syarat akan makna, seperti saling tolong-menolong dan berbagi kepada orang-orang terdekat. Selain itu, mattampung ini bisa menjalin tali silaturrahmi dan memperkuat rasa pepersaudaraan. Tabe’...

Monday, July 13, 2020

Berburu Followers Twitter

“Kalau ingin ikut lombanya harus punya twitter.” Kata Darmawan yang saat itu sedang menatap layar komputer.

“Serius Wan? Jadi saya tidak bisa ikut?” Saya bertanya dengan tatapan yang begitu tajam.

“Bisa ikutlah. Tinggal buat akun twitter saja lalu follow twitternya pihak penyelenggara. Toh tidak ada syarat khusus mengenai seberapa banyak pengikut dan lama penggunaannya.” Darmawan kembali menjelaskan dengan intonasi yang mulai meninggi. Mungkin dia mulai kesal dengan begitu polosnya pikiran saya.

“Oh, iya ya. Ok, akan segera saya buat.”




Jujur saja, menggunakan twitter bagi saya belum terlalu begitu lama, baru dibuat pada tahun 2018 yang lalu. Jika dibandingkan dengan teman-teman yang seangkatan, mereka sudah ada yang menggunakannya semenjak tahun 2009. Itu artinya saya sudah ketinggalan sembilan tahun dari mereka.

Pembuatan akun twitter tersebutpun dikarenakan faktor yang mendesak, yaitu memenuhi syarat perlombaan. Bukan karena adanya keinginan sendiri untuk mencoba media sosial yang baru. Meskipun begitu, rasa penasaran saya untuk mengetahuinya lebih lanjut bisa dibilang cukup tinggi. Saya bertanya kepada Darmawan dan Mbah google bagaimana cara memainkannya. Selain mengikuti akun twitternya penyelenggara lomba, saya pun juga mengikuti akun-akun para petinggi negara dan pesohor lainnya. Yah, meskipun saat itu pengikut saya hanya ada satu, yaitu Darmawan.

Melihat follower yang tunggal, saya pun mencoba menanyakan kebeberapa teman terdekat saya. Apakah mereka menggunakan twitter? Berharap nantinya angka di follower saya bertambah. Namun jawaban yang didapatkan adalah ‘tidak’. Beberapa dari mereka pernah sempat membuat akun twitter, namun kemudian meninggalkannya. Alasan mereka katanya kurang seru.

Hingga akhirnya, saya pun mengikuti jejak mereka. Meninggalkan twitter dalam waktu yang lama.

Disisi lain, pemakaian facebook semakin diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, emak-emak yang separuh waktunya dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarga juga banyak menggunakannya. Bapak-bapak juga tidak mau ketinggalan, mereka juga mulai aktif menggunakan facebook. Katanya sih ingin menjalin silaturrahmi dengan kerabat-kerabat yang berada jauh disana. 

Waktu dari waktu berlalu, hingga akhirnya tiba di tahun 2020. Saat itu ada sebuah kegiatan disalah satu hotel di Kota Pontianak. Untuk menjadi pesertanya mesti memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah mengikuti akun twitternya penyelenggara. Busyet dah, lagi lagi saya harus berurusan dengan yang namanya twitter.

Saya pun mencoba untuk membangkitkan kembali akun twitter saya dari liang kuburnya. Saya sangat bersyukur karena akun tersebut masih bisa hidup. Yah meskipun dengan tampilan seadanya, tanpa tweet dan hanya 2 follower. Asyik, nambah satu follower yang nyasar.

Oh, iya. Setiap peserta kegiatan diatas juga diwajibkan untuk saling mengfollow akun twitter peserta lainnya. Namun sebelum melakukkannya, saya mencoba terlebih dahulu untuk menambah jumlah pengikut. Bukan! Bukan membeli jasa penyedia follower, melainkan saya menanyakan kesemua teman yang ada dikontak whats up saya ‘apakah mereka punya akun twitter’. Yang sudah lama tidak menggunakannya saya paksa untuk segera membuka, walau hanya sekedar mengikuti akun saya. Bukannya apa, malu juga kan sama peserta lainnya yang sudah punya follower banyak.

Dari hasil chat sana-sini, diatambah lagi tanya-tanya teman yang ada di facebook, akhirnya follower saya bertambah menjadi 7 orang. Ternyata susah juga mencari teman yang menggunakan twitter. Saya pun mulai mengikuti twitter twitter para peserta. Disaat itulah, jumlah follower saya meningkat darstis menjadi  menjadi 34. Alhamdulillah...

Ternyata berburu follower twitter itu susah dan butuh perjuangan.

Satu persatu tweet saya mulai muncul di beranda. Entah itu mengenai seputar aktivitas yang dilakukan maupun tentang masalah perasaan. Kadang-kadang juga meretweet punya orang. Saat itulah, pamor twitter dan facebook mulai setara dimata saya. Membuka twitterpun rasanya sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakukan setiap hari. Yah, meskipun hanya sekedar membuka tanpa membuat cuitan.

Hingga akhirnya, tekad saya untuk menambah lagi follower terpicu oleh suatu hal. Dimana teman yang sudah  dikenal lama tidak mengfollowback. Entar kalau jumpa tak jewer telinganya. Mungkin  gitu kali ya kalau sudah banyak follower?

Awalnya saya ber-positive thinking, munkin saja dia lagi jarang buka twitter. Hingga akhirnya tweet dia sering muncul ditimeline. Saya pun mencoba untuk sering menyukai tweetnya, walaupun tidak jarang hanya saya saja yang menyukainya. Namun apa daya, harapan untuk difollback belum berbuahkan hasil. Saat itulah saya berfikir kalau dia merasa gengsi untuk mengikuti akun saya yang pengikutnya hanya secuil. Oh, sungguh teganya-teganyaa.

Saya pun berusaha keras untuk berburu para follower. Satu persatu akun twitter para blogger diikuti. Higga akhirnya saya mendapat peringatan agar tidak mengikuti terlalu banyak dalam hari yang sama. Saat itu kurang lebih 400 akun twitter saya ikuti. Hari Berikutnya pun saya melakukan hal yang sama, dan SELAMAT! Saya berhasil mendapatkan sanksi karena telah melanggar kebijakan mengikuti twitter. Setidaknya kemampuan untuk mengikuti, menyukai dan me-retwee akan dibatasi selama tiga hari.

Tapi lumayanlah, setiap tiga akun yang yang  saya follow, satunya meng-followback. Makasih para followers. Sekarang pengikut saya sudah tiga ratusan lebih.

Oh, iya. Akun teman yang diatas tetap saya ikuti lho.. Berharap suatu saat dia akan sadar kalau disetiap cuitannya selalu ada jempol saya yang menyukainya. Berharap tidak berdosakan?

Udah, hanya itu saja. Tabe’...

Friday, July 10, 2020

Ngapain Saja di Sukadana?

Ketika berbicara Sukadana, kira-kira apa yang terbesit dalam pikiran anda? Sebagian besar orang akan menjawab Lempok Sukadana, sejenis makanan yang berbahan dasarkan buah durian. Sedangkan sisanya akan menjawab tempat kelahiran Oesman Sapta Odang, seorang politisi yang sekarang menjabat Ketum Partai Hanura. Padahal, kota kecil yang berada di Kayong Utara ini memiliki destinasi wisata yang menarik untuk didatangi.

*****

Disalah satu jalan di Sukadana, roda kendaraan kami kembali berputar. Meskipun merupakan kota kecil, namun jalanan penuh oleh ramainya volume kendaraan. Entah itu yang beroda dua ataupun yang beroda empat. Mereka semua tidak hanya berasal dari dalam kota saja, melainkan juga dari luar kota. Maklum, saat itu lagi musim liburan. Ramai orang-orang yang datang ke Sukadana untuk berwisata.

“Kita mau kemana lagi?” Tanya Yansah yang sedang mengemudikan motor.

“Tidak tahu, Yan. Tapi bagaimana kalau kita ke Masjid Apung saja. Sekalian sholat asharnya disana.” Saya memberikan usul.

Ajakan tersebut direstui. Kendaraan yang tadinya tidak tahu ingin dibawa kemana, sekarang sudah memiliki tujuan. Kami pun memutar arah, menuju Masjid Apung yang saat itu lagi jadi primadona Kayong Utara, Khususnya Sukadana. Bermodalkan panduan google maps, kendaraan melaju kencang menuju kesana.

Tujuan awal kami datang ke Sukadana adalah ingin hadir dalam acara festival durian. Namun keinginan tersebut harus kandas, ketika kami tiba acaranya sudah selesai. Begitupun Kampung Bali, keinginan untuk berfoto didepan pura harus diurungkan disaat motor yang kami kendarai mengalami masalah. Bukannya sampai ke pura-nya, eh malah ke RSK. Rumah Sakit Kendaraan.

Speedometer terus menambah angka. Kilometer demi kilometer terus memberi cerita. Kendaraan kami terus melaju hingga akhirnya tiba ditempat tujuan. Dari jauh, empat menara yang menjulang tinggi telihat kokoh diantara warna birunya langit. ‘Tunggu sejenak, kami memarkirkan motor dulu.’ Besit saya dalam hati.

Wisata Religi di Masjid Oesman Al Khair

Semua orang yang datang kesini akan kagum dengan keindahan dan kemegahan Masjid Oesman Al Khair. Bukan hanya sekedar bangunannya yang membuatnya tampak begitu menarik, melainkan juga pemandangan sekelilingnya. Bagaimana tidak? Masjid yang satu ini dibangun dipinggiran pantai dengan latar belakang lautan lepas. Sehingga akan tampak seperti mengapung. Ditambah lagi deretan bukit-bukit disekitarnya yang membuat masjid ini begitu terlihat apik.

Saya mempercepat langkah diantara ramainya pengunjung. Bukan! bukan karena ingin segera ikutan berfoto, melainkan ingin melakasanakan kewajiban. Rasanya kurang afdol juga, datang kesini tapi tidak melaksanakan ibadah. Yah, setidaknya ada alasan utama kenapa datang kesini. Uek...

Sekedar informasi, penamaan masjid Oesman Al Khair diambil dari nama Oesman Sapta Odang. Beliau adalah putra kebanggan Kayong Utara, Bahkan Kalimantan Barat dan Bahkan Indonesia. Namanya pun semakin dikenal setelah beliau menjabat sebagai wakil ketua MPR RI. Dari beberapa informasi juga nih, beliau lah yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun masjid. Dan yang membuat greget lagi adalah beliau menyumbang 11 milyar untuk membantu pembangunan masjid  kebanggan ini.

Bangunan masjid Oesman Al Khair memiliki gaya arsitektur Timur Tengah dengan warnah putih yang dominan. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, bangunan yang menawan ini juga sudah menjadi tujuan wisata. Bahkan sudah bisa dibilang ikonnya Sukadana.

Masjid Oesman Al Khair

Latar Belakang Lautan Lepas

Masjid Oesman Al Khair Dimalam Hari

Nah, kalo anda datang ke Sukadana, jangan lupa untuk mampir kesini. Ada banyak spot foto menarik bisa didapatkan disini. Tapi ingat, kesopanan dan kenyaman orang lain harus tetap dijaga. Jangan sampai karena terlalu asyik berfoto malah menutupi jalan orang lain yang datang ingin beribadah.

Lagi Nunggu Buah Durian Jatuh

Oh, iya. Disekitar Masjid  Oesman Al Khair juga terdapat tugu durian yang menjadi kebanggaan masyarakat Sukadana. Berfoto disini juga tidak kalah menarik dengan latar belakang buah durian yang dijunjung oleh empat tiang. Selain itu, kita juga bisa melihat anak-anak kece yang sedang bermain skateboard disekitar tugu tersebut

Menikmati Senja di Pantai Datok

Perjalanan kembali kami lanjutkan setelah sebuah pesan di whats up masuk. Isi dari pesan tersebut adalah adanya ajakan teman Yansah untuk ketemuan di Pantai Datok. Kami pun mengaminkan dan bergegas menuju kesana.

Nama Pantai Pulau Datok bagi saya sudah tidak asing lagi. Teman-teman kampus dari Kayong Utara dan Ketapang sering menceritakannya. Hingga akhirnya, untuk pertama kali bagi saya bisa menginjakkan kaki disini. Alhamdulillah...

Jarak masjid Oesman Al Khair ke Pantai Pulau Datok tidak begitu jauh. Hanya sebentar saja kami sudah tiba ditempat tujuan. Ketika memasuki kawasan Pantai Pulau Datok, kami disambut oleh gerbang yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Objek Wisata Pantai Pulau Datok. Setelah melewati gerbang tersebut akan ditemukan sebuah spot foto berlatar belakang perahu yang cukup menarik untuk disinggahi.

Orang yang dicari kami jumpai di pinggir jalan arena balapan. Kebetulan saat itu, Pantai Pulau Datok menjadi lokasi diselenggarakannya balapan motor. Dia tidak hanya sendirian, melainkan bersama temannya. Kami pun saling bersalaman dan kenalan.

Perkenalkan, namanya adalah Tarmidji dan temannya bernama Saufi. Dari percakapan, saya baru tahu kalau mereka ternyata dulunya satu kampus dengan saya. Tapi kenapa saya tidak mengenal mereka, paling tidak saya akan merasa kalau wajah mereka tidak asing bagi saya. Tapi sudahlah, mungkin sayanya saja yang kurang melanglang dikampus. Setelah cukup lama menyaksikan balapan, mereka pun mengajak kami untuk bersantai dipinggiran pantai.

Pantai Pulau Datok memang begitu menarik. Pohon-pohonnya yang rindang dann hijau membuat sekitarnya terasa teduh. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata tahun lalu, membuat tempat ini banyak dilakukan penataan. Ya iyalah, acara yang kemarinkan sangat bergengsi. Tidak hanya dihadiri orang dalam negeri saja, tetapi juga tamu-tamu dari macanegara. Makanya dilakukan pembenahan yang ekstra.

Tapi ada satu hal yang sangat disayangkan, yaitu banyaknya sampah yang berserakan. Ini nih perilaku negatif yang saya tidak sukai dari netizen +62. Ingat ya, yang saya tidak sukai itu perilakunya, bukan orangnya. Terlepas tadi malam tahun baru atau lagi ramai orang setidaknya kita harus berprilaku manusia, bertanggung jawab terhadap barang yang dibawa. Padahal dimana-mana banyak dijumpai tempat sampah. Ayo yang masih buang sampah sembarangan segera tobat!

Kami pun merengsek ke alun-alun pantai. Disanalah kami duduk, melanjutkan percakapan yang sempat tertunda sebelumnya. Sekaligus menyaksikan berbagai macam aktivitas pengunjung. Entah itu yang sedang bermain air dibibir pantai, yang sedang bercengkerama dengan kawan dan kekuarga hingga yang sedang berduaan.

Ingin Basahan, Tapi Sayang Hanya Sebentar

Pantai Pulau datok memang menyajikan panorama alam yang begitu indah. Diapit oleh perbukitan membuat pantai ini tampak begitu menarik. Hijaunya perbukitan, birunya langit dan lautan, serta putihnya pasir membuat orang-orang yang datang kesini betah untuk berlama-lama. Apalagi kalau sudah disapu semilir angin, rasanya tidak ingin pergi beranjak.

Ada satu hal lagi yang paling memikat perhatian pengunjung ketika datang kesini. Yaitu matahari terbenam. Katanya, momen matahari tenggelam disini itu sangat apik. Tapi sayang, ketika kami datang disini mataharinya tidak terlihat penuh atau lagi malu-malu. Alias ditutupi oleh awan mendung. Sebelum matahari tenggelam seutuhnya, kami langsung diajak Tarmidji kesebuah tempat yang juga tidak kalah menarik.

Kami pun bergegas pergi, meninggalkan hempasan gelombang yang begitu lembut menyapu bibir Pantai Pulau Datok.

Keheningan di TPI

Entah kemana kami akan dibawa Tarmidji. Tapi katanya, tempat yang akan didatangi juga memiliki pemandangan yang menarik. Kami pun mengiyakan, dan membuntuti motor mereka dari belakang.

Setelah keluar jalan raya, kami dituntun memasuki sebuah jalan yang saat itu terlihat sepi. Hanya satu dua orang yang kami jumpai. Disisi kiri jalan, tepatnya kaki perbukitan terlihat deretan pohon durian yang berbaris rapi. Saya pun menengadahkan wajah keatas, terlihat buah-buah durian yang bergantungan begitu anggun. Seketika pikiran negatif mulai merasuk, bagaimana jika tiba-tiba yang diatas itu jatuh menimpa kami. Atau dari atas bukit menggelinding buah durian dan langsung menghantam wajah kami? Jaohkan bale, Ya Allah...

Ternyata pemandangan disekitar TPI juga menarik. Eh, tapi ini bukan TPI stasiun TV, melainkan Tempat Pelelangan Ikan. Meskipun demikian, tidak ada terlihat aktivitas jual ikan disana. Kata teman sih memang belum digunakan sebagaimana mestinya. Untuk sekarang hanya digunakan sebagai tempat bongkar muat barang yang akan berangkat atau baru tiba dari Pulau Maya.

Karena suasananya yang sepi, membuat tempat ini sangat cocok bagi para penikmat keheningan alam. Disini kita bisa mendengarkan bagaimana begitu lembutnya deburan ombak menyentuh pinggir daratan. Disini juga kita bisa menyaksikan pulau kecil dan begitu indahnya masjid Oesman Ai Khair dari jauh. Disini pula kami sempat menjumpai gadis manis yang begitu cantik.

Panorama Sekitar TPI

Masjid Oesman Al Khair tampak dari TPI

Kami pun beranjak pergi setelah suara adzan berkumandang. Tabe'...

Tuesday, July 7, 2020

Selamat Datang di Sukadana

Tugu Durian Sukadana

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang, perjalanan kembali kami lanjutkan kedaerah berikutnya. Kali ini kami akan menyambangi Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di  Sukadana. Bukan tanpa alasan, disana kata teman-teman tempat wisatanya juga tidak kalah menarik. Apalagi saat itu katanya akan diadakan festival durian, yang hanya diselenggarakan ketika musim durian tiba.

Sukadana, merupakan kota kecil yang sangat menawan. Dulunya ia adalah bagian dari daerah Kabupaten Ketapang. Namun, setelah adanya pemekaran wilayah kini masuk kedalam wilayah Kabupaten Kayong Utara. Statusnya pun sekarang berubah menjadi sebuah ibu kota kabupaten. Sejak itulah, pembangunan  dan kegiatan ekonomi disini semakin menggeliat. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata. Tapi sayang, saat festival kemarin tidak kesini.

Saat itu hampir jam 11.00 WIB. Matahari lagi semangatnya menyinari hamparan bumi. Punggung tangan yang tugasnya mengendalikan motor, terasa hangat ketika disapa sang mentari. Maklum, tak ada sarung tangan yang melindunginya. Selain itu jalan yang kami lalui juga sedang dalam perbaikan. Jalanan yang berbatu dan berdebu menjadi santapan saat itu. Tapi tenang saja, karena itu dulu disaat tahun baru. Untuk sekarang saya rasa jalannya sudah bagus. Iya kan?

Ada hal yang membuat lebih seru perjalanan kali ini. Jika sebelumnya perjalanan menuju Ketapang hanya berdua saja, maka untuk sekarang ada rombongan lain. Ya,  ada rombongan anak jalanan yang sedang melakukan touring. Meskipun kami tidak saling kenalan dan salin sapa, tapi setidaknya ada teman dalam berkendaraan. Mereka ngebut, kami pun juga ikutan ngebut. Walaupun kadang mereka menoleh dan mungkin dalam benaknya berpikir 'ini siapa? Kenapa dari tadi ngikut terus?' Bodo amat, yang penting kami ini tidak ada niat jahat.

Tanda telah memasuki wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah setelah kita memasuki wilayah Siduk. Sebuah dusun yang ada di Kecamatan Sukadana. Setelah inilah, akan banyak kita jumpai para penjual durian dipinggiran jalan. Mereka menggantungnya dibawah pondok beratapkan terpal dan tidak sedikit pula yang hanya meletakkan ditanah.

Selain itu, gantungan-gantungan tempoyak juga membuat pondok tersebut semakin terlihat ramai. Ditambah lagi buah manggis yang tentu saja sangat menarik perhatian pengguna jalan. Satu dua orang singgah, negoisasi harga, memilih durian dan manggis lalu duduk menikmatinya. Terlihat pula yang langsung membawanya pulang.

Ah, sungguh enak rasanya jika saat tegak hari mampir ke pondok sambil menikmati buah manggis. Atau mencicipi legitnya buah durian. Tapi apalah daya, kami hanyalah pengelana dengan uang yang seadanya.

Ketika tiba dipersimpangan tiga, kami dan anak geng motor harus berpisah. Kami memilih belok jalur kanan sedangkan mereka tetap lurus saja. Semoga liburannya menyenangkan, kawan.

Oh, iya. Perjalanan dari Kota Ketapang menuju Sukadana tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan atau jarak tempuh sejauh 83.5 km. Lebih jauh jika dari Pontianak ke Singkawang.

Tujuan kami sekarang adalah pergi kerumah teman yang ada di Sedahan Jaya. Hanya bermodalkan share location, kami terus menyusuri jalanan yang belum pernah kami lewati. Entah bagaimana kondisi jalan yang akan ditempuh kedepannya itu adalah masih misteri. Namun yang pastinya, tempat yang akan didatangi ini bersampingan dengan Kampung Bali.

Tidak perlu waktu yang lama dengan dibantu oleh semakin canggihnya teknologi, akhirnya kami sampai dirumah tujuan. Yah meskipun sempat lewat beberapa rumah, hingga akhirnya orang yang dicari meneriaki kami. Memberitahukan kalau rumahnya sudah lewat. Untuk nama kampung yang kami datangi ini saya sudah lupa. Maklum, tulisan ini baru bisa saya buat setelah enam bulan kejadian. Ah, penulis macam apa saya ini. Tidak mencatat detail nama tempat yang didatangi. Yang pastinya, kampungnya begitu tenang dengan latar perbukitan.

Perkenalkan dulu, nama pemilik rumah yang kami datangi ini adalah Eko. Salah satu teman kampus Yansah (teman perjalanan saya). Entah bagaimana awal ceritanya, perjalanan kami diketahui beliau dan menyuruh kami untuk mampir kerumahnya. Kami pun menyempatkan diri walaupun hanya sebentar.

Baru saja memarkirkan kendaraan, sudah terdengar suara bapak-bapak yang mempersilahkan naik. Saat itu kami masuk melalui pintu samping, dimana keluarga Eko sedang berkumpul. Saya dan Yansah pun menyalami mereka satu persatu. Ada bapaknya Eko, mamanya Eko dan pamannya Eko. Kedatangan kami disambut begitu hangat oleh Eko beserta keluarganya.

“Dari mana Dek?” Mama Eko bertanya dengan logat Jawa yang begitu terdengar lembut bagi orang Kalimantan.

“Dari Pontianak, Buk.” Saya lebih dulu menyebutkan.

Percakapan dua kubu pun terjalin. Kami menceritakan dari mana asal kami, kemudian bagaimana ceritanya bisa sampai di Sukadana hingga tentang perkuliahan pun juga ikut diceritakan. Sebaliknya, beliau menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat disana. Percakapan semakin hangat ketika cangkir-cangkir kopi disajikan. Mantap betul...

Dari percakapan itulah kami tahu kalau dearah ini dulunya adalah pemukiman transmigrasi. Mereka didatangkan dari pulau Jawa dan Bali untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Selain itu, tidak jauh dari sini juga ada kawasan hutan lindung yang sering disebut Taman Nasional Gunung Palung. Disanalah beragam jenis satwa dijaga untuk kelestariannya.

Rasanya belum puas untuk mendengarkan cerita.  Tapi apa daya, kami segera pamit disaat jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Eko dan sekeluarga yang sudi untuk berbagi. Berbagi tempat berteduh, berbagi cerita dan berbagi makanan.

Lalu bagaimana dengan cerita pesta durian dan kampung Balinya? Pesta duriannya telah lama usai disaat kami tiba. Sedangkan kampung Bali nya hanya sekedar datang, tidak ke viharanya dikarenakan motor yang bermasalah.

Kecewa? Pastinya iya. Namun semua itu terbayarkan dengan berjumpa Eko dan sekeluaraganya yang begitu ramah dan bersahaja. Lagian pun saya yakin, ada hal-hal menarik lainnya yang sudah menunggu. Selamat Datang di Sukadana...


Monday, June 29, 2020

5 Ciuman yang Membuat Meriang

"Ciuman ini spesial dan sungguh berbeda. Ciuman yang membuat darah disekujur tubuh langsung mengalir kencang".

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasanya kurang seru juga jika hanya berdiam diri dirumah. Keluar masuk pintu dan menatap layar ponsel yang lagi kekurangan sinyal. Yah, meskipun saat itu katanya lebih baik dirumah saja karena lagi masa pandemi. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi kekebun memanen buah pinang.

Tapi rencana hanyalah tinggal rencana. Keinginan pergi kekebun saya urungkan dulu setelah melihat sebuah kotak peti. Disana terlihat lebah yang datang pergi dan sebagian kecil berkumpul di lubang pintu masuk. Saat itulah, menghampirinya adalah hal yang menarik untuk dilakukan.

Bermula dari sebuah iklan ditelevisi. Saat itu ada produk madu yang memperlihatkan bagaimana proses madu dihasilkan. Disana tampak jika madu tersebut diperoleh dari lebah peternakan. Dari iklan itulah saya mulai kepo dan ingin mengetahuinya lebih lanjut.

Saya pun mulai mencari-cari video mengenai peternakan lebah di youtube. Ada banyak konten yang membahasnya disana. Ternyata untuk berernak lebah itu sangat mudah. Tinggal membuat kotak peti serta menyusun beberapa potongan kayu untuk bergantungnya sarang. Kemudian memancingnya dengan mengoleskan gula cair didalamnya agar lebah mau mampir dan bersarang.

Hal yang membuat saya terkesan adalah disaat peroses pemanenannya. Dimana pemilik ternak lebah dengan santai mengambil madunya. Bahkan ada beberapa video yang pemanennya tidak menggunakan alat-alat pelindung apapun. Hanya berupa pisau saja untuk memotong sarangnya, kuas untuk membersihkan lebahnya dan baskom untuk tempat sarang madunya.

Lebih parah lagi adalah disaat tangannya banyak dihinggapi lebah. Dengan santai ia mengusirnya menggunakan tangan yang satunya. Tidak ada suara 'au' atau 'aduh' yang terdengar dari mulutnya. Mungkin ini yang dinamakan patuh pada tuan. Dan saat itulah saya mencoba untuk membuatnya dan mengubah orientasi pemikiran saya bahwa lebah adalah sahabat. 

Kotak lebah tersebut saya buat sekitar  tiga bulan yang lalu. Tidak terasa juga, jika sekarang sudah ada penghuninya. Dan sebagai seorang pemilik, tentunya berharap ada imbalan yang bisa didapatkan. Sudah tahukan upah apa yang saya maksud? Enak saja numpang nginap gratis.

Saya pun menghampirinya. Karena keadaan sekitar yang lagi banjir, agak sedikit sulit untuk mempercapat langkah. Selain itu juga menimbulkan suara berisik, yang membuatnya sedikit terganggu. Setelah merapat, terdengar suara riuh lebah yang ada didalam kotak peti. Namun saya tidak berani untuk menyentuhnya, apalagi harus membuka papan peti bagian atas. Yang ada malah saya yang diserbu duluan.



Saya pun kembali lagi kerumah. Memakai berbagai perlengkapan anti sengatan lebah. Seperti menggunakan sarung tangan, jacket yang tebal, sepatu boot, helm dan karung bawang. Helm? Memangnya mau balapan? Tidak sih. Tapi serius itu sangat bermanfaat dari hantaman buntutnya sih lebah. 

Sekejap saya sudah mirip astronot dengan pakaiannya yang super canggih. Dibagian kepala sudah diamankan dengan menggunakan bandana, kemudian dilapisi tudung jacket, dipasang helm dan dibungkus lagi dengan karung bawang. Pokoknya sangat mengedepankan yang namanya 'safety'. Dibagian kaki terpasang sepatu boot yang tingginya hampir selutut. Sedangkan dikedua tangan ada baskom, pisau dan kuas.

Tapi yang membuat kesal adalah ketika diketawain kakak dan adik saya. Bukannya diberi semangat, eh malah dikatain mirip alien. Kalau saya mirip alien lalu mereka mirip siapa? Selain itu, mereka juga mulai berkata yang aneh-aneh. "Awas, lebih baik disuntik bidan ketimbang disengat lebah". Hubungannya apa coba? Saya pun memilih pergi ketimbang menghiraukan omongan mereka.

Dengan sedikit susah oayah menerobos banjir, akhirnya tiba dilokasi. Saat itu masih merasa ragu apakah akan membuka tudung petinya. Bagaimana jika lebahnya menyembur keluar dan menggigit saya. Atau malah ramai-ramai mengangkat saya dan menyangkutkan di pohon durian. Tidak! Itu tidak mungkin. Semuanya akan baik-baik saja. Apalagi saya adalah pemilik petinya. Jika membandel sedikit mereka harus segera angkatkan kaki. Camkan itu...

Saya pun menarik napas dalam-dalam dan mengingat kembali mengenai tutorial memanen madu yang ada di youtube. Harus tetap selalu santai, agar lebahnya tidak merasa terganggu. Dan... bismillah, papan tersebut saya buka.

Satu dua tiga puluh detik suasana terlihat lengang. Hanya terdengar suara dengungan lebah dan detak jantung. Maklum, ini adalah pertama kalinya bagi saya melakukannya. Sesantai-santai apapun saya berusaha, tetap saja rasa cemas masih ada. Sebuah naluri alamiah manusia yang diciptakan oleh Tuhan.

Keadaan berubah ketika saya mulai mengangkat sarangnya. Satu dua bahkan belasan mulai berterbangan. Selebihnya merayap-rayap disarung tangan, bahkan ada juga yang mulai menempelkan buntutnya dicelah sarung tangan. Hingga akhirnya satu ciuman perdana mendarat dijari telunjuk. Ayo daeng, kamu harus tetap kelihatan cool...

Saya berusaha tetap santuy meskipun sebenarnya rasa sakit sengatan lebah tadi mulai terasa. Mengikuti arahan video, perlahan-lahan saya membersihkan sarangnya. Eits, tunggu dulu, madunya kemana? Kenapa hanya beberapa lubang saja yang berisi. Dan itu pun tidak penuh. Mungkin rezeki ada disarang yang lainnya.

Saya kembali mengangkat sarang yang berikutnya. Saat itulah amukan lebah semakin menjadi-jadi. Tidak ada lagi yang namanya santuy atau bersikap manis. Saya mulai mempercepat kerja, membersihkan lebah dari sarangnya. Namun keberuntungan masih belum berpihak. Sarang yang saya ambil hanya berisi calon-calon lebah. Dan lagi lagi-lagi juga, sengatan lebah kembali mendarat di jari manis.

Diatas kepala sudah tidak terhitung sudah berapa banyak lebah yang terbang. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menempel dipakaian dan karung bawang. Dengan sekuat tenaganya mereka berusaha untuk masuk. Jlebb! Hingga akhirnya, satu ciuman manis lebah mendarat dibibir. Entah sejak kapan pula dia menerobos Benteng Takeshi dan luput dari pandangan? Karena amukannya yang semakin menjadi pula, akhirnya saya berlari diatas banjir, mirip seperti Wiro Sableng yang sedang berjalan diatas air.

Namun semuanya terlambat. Dua sengatan kembali mendarat lagi ditangan. Jadi total ciuman manis yang saya dapatkan adalah lima. Saya pun segera naik kerumah dan langsung menuju mandi. Sebelum efek ciuman beracun tersebut beraksi.

"Mana madunya?" Kakak yang didapur bertanya.

"Itu. Madunya hanya sedikit. Yang banyak hanya anak lebahnya". Saya menunjuk keatas meja. Berusaha bersikap santai. Seolah-olah tidak ada musibah yang baru saja telah terjadi. 

Bukannya apa. Seandainya mereka tahu kalau barusan saja saya disengat oleh 5 lebah, pasti mereka akan tertawa-tawa. Menganggap kalau ini adalah sebuah hiburan dan patut dijadikan trending topik didalam rumah. Apalagi kalau emak sampai tahu, yang ada malah saya diomelin. Tidak! Saya harus merahasikan kejadian ini rapat-rapat.

Kemudian saya pergi kekamar, memilih rebah diatas kasur. Tidak lupa sebelumnya untuk mengunci pintu. Takut kalau lebahnya tiba-tiba datang menyerang. Hingga pada akhirnya saya terlelap.

Sekitar pukul 11.00 WIB badan saya merasa meriang alias deman. Sekujur tubuh sangat terasa dingin dan tulang-tulang rasanya ngilu. Bagian tubuh yang disengat oleh lebah jangan ditanya lagi. Pastinya sudah bengkak. Apalagi yang dibagian bibir, jelas sekali terasa nyut-nyutnya. Tapi syukurlah, meriang itu tidak berlangsung lama. Panas badan saya kembali normal setelah keringat seperti berkerja diladang keluar.

Saya pun juga menggunakan masker ketika keluar kamar. Ketika ditanya kenapa memakai itu. Saya hanya menjawab 'lagi musim korona. Harus kebih waspada'. Hal tersebut tentu saja memicu rasa penasaran dari kekuarga. Hingga pada akhirnya, saya jujur kalau tadi pagi mendapat 5 ciuman manis dari lebah. Salah satunya adalah dibibir. After that, saya dapat wejangan panjang dari emak. Tapi sungguh, emak begitu karena dia sangat sayang dan masih peduli sama saya.

Saat itu saya sadar, memanen lebah tidak semudah divideo tutorial yang ada di youtube. Tabek...