Thursday, February 21, 2019

Menengok Rumah Adat Melayu Mempawah Yang Baru


Saat itu matahari sudah meninggi, menyinari Bumi Bestari. Para lelaki terlihat rapi dengan menggunakan pakaian warna putih menuju rumah Illahi. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali lewat mobil yang melaju kencang. Hari itu adalah hari jum'at dan tidak lama lagi akan berkumandang suara adzan.

Tak perlu tergesa-gesa, motor yang kami kendarai tetap bergerak dengan kecepatan konstan. Bagi kami keselamatan adalah nomor utama, apalagi jangan sampai mencelakakan orang lain. Disaat akan menyeberangi jalur, mata terlirik dengan sebuah bangunan yang bernuansa kuning. Warnanya yang mencolok membuat semua orang yang lewat akan tertuju kepadanya. Melihat bangunan tersebut, saya langsung teringat dengan postingan foto oleh salah satu teman yang ada di facebook. Bangunan yang mewah tersebut adalah rumah adat Melayu Mempawah yang baru saja dibangun.

***

Disaat pulang menuju Kota Pontianak, kami menyempatkan diri untuk mampir ketempat tersebut. Kebetulan saat itu akses untuk masuk kehalamannya terbuka (tidak diportal), yang membuat kami yakin tempat ini boleh disinggahi. Meskipun sebelumnya ada anggapan bahwa tempat ini tidak boleh disinggahi karena belum diresmikan. Jika kami telah melakukan kesalahan mohonlah dimaafkan.

Sebagai pemuda Kabupaten Mempawah, tentunya saya sangat merasa bangga akan kehadiran bangunan ini. Bagaimana tidak, setahu saya ini merupakan pertama kalinya daerah kami memiliki rumah adat Melayu secara resmi (jika salah tolong diberi tau ie). Meskipun sejak lama telah ada Istana Amantubillah dengan nuansa khas Melayu.

Setelah memarkirkan motor, kami pun langsung mendekati bangunan tersebut. Karena tempatnya masih baru, kami pun tidak ingin menghapus jejak ketika mampir disini. Tanpa disuruh lagi, sebuah alat bantu yang bernama android dikeluarkan untuk mengambil gambar yang terbaik.

Untuk keseluruhan, pembangunan rumah adat Melayu Mempawah ini memang belum rampung. Hanya bangunan rumahnya saja yang menurut saya sudah selesai dikerjakan. Selebihnya seperti jalan masuk, pagar dan plang nama belum dibuat. Selain itu, halamannya juga perlu ditata lagi agar terlihat lebih menarik. Baik itu dengan penanaman rumput, pohon maupun taman.

Meskipun belum selesai, namun keindahan rumah adat Melayu Mempawah ini sudah bisa dirasakan. Perpaduan antara warna kuning dan coklat pada bangunan memberikan kesan estetika yang elegan. Penggunaan warna kuning ini tentu saja tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat Melayu bahwa warna tersebut melambangkan kesucian.

Rumah Adat Melayu Mempawah ini memadukan antara konsep modern dan tradisional. Dikatakan modern karena menggunakan beton dan lantai dari keramik. Sedangkan yang saya ketahui, rumah Melayu itu diidentik dengan menggunakan materil dari kayu, baik itu tiangnya, tangganya, lantainya dan lain-lainnya. Namun itu bukanlah masalah, yang terpenting adalah rumah ini masih menggunakan corak dan ciri khas Melayu.

Seperti rumah Melayu lainnya, Rumah Adat Melayu Mempawah juga berbentuk rumah panggung. Dimana bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang dengan ketinggian  yang mencapai satu meter lebih.


Sebelumnya saya juga tidak terlalu memperhatikan, ternyata disalah satu bagian bangunan memiliki bentuk yang sama dengan  bagian bangunan di Istana Amantubillah. Pada atap bagian bangunan depan (selasar) terlihat corak ragam hias yang sama. Diatas atap terdapat tonggak yang lurus dan ukiran kayu yang berupa motif pucuk tanaman dan gelombang. Dibawah atap (dibawah lisplang) juga terdapat tiga tiang gantung  dan ukiran kayu bermotif tanaman. Selain itu, dibagian depan selasar juga terdapat dua buah bintang segi delapan, yang bentuknya mirip roda kemudi kapal.

Dilansir dari situs Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Rumah Adat Melayu Mempawah rencana kedepannya akan dilengkapi dengan area wisata kuliner dan perpustakaan agama. Wah, keren juga nih perencanaannya! Apalagi mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Masjid Agung Alfalah, pastinya hal tersebut sangat mendukung dan dibutuhkan. Pengunjung yang mampir untuk menunaikan ibadah, bisa sekaligus untuk bersantap kuliner atau menambah wawasan.

Setelah puas berfoto dibagian depan, kami melanjutkan kembali untuk menyusuri bagian yang lainnya. Meskipun tidak bisa melihat bagian dalam, namun menjajal bagian depan sudah lebih dari cukup. Layaknya rumah Melayu lainnya, pinggiran tangga dan teras juga diberi pagar ukiran kayu.

Berikut beberapa foto yang kami dapatkan.





Kehadiran Rumah Adat Melayu Mempawah ini tentunya sangat didambakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah. Oleh karena itu, harapan penulis semoga  kedepannya bangunan ini bisa menjadi tempat silaturrahmi dan tumbuh berkembangnya budaya Melayu. Takkan hilang Melayu ditelan zaman.

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon