Monday, December 9, 2019

Madduppa Pada Masyarakat Bugis Di Kecamatan Segedong


Sebagian besar masyarakat yang ada di Kecamatan Segedong merupakan keturunan Bugis. Meskipun sudah tidak menggunakan bahasa Bugis dalam kesehariannya, bukan berarti tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang harus ditinggalkan begitu saja. Salah satu tradisi yang masih sering dilakukan adalah madduppa.

Madduppa dalam masyarakat Bugis memiliki makna mengundang atau memberi kabar. Bagi masyarakat Bugis, ketika mengundang seseorang tidaklah boleh sembarangan, namun memiliki tatacara tertentu. Sebelum terkenalnya surat undangan, tradisi madduppa inilah yang selalu digunakan untuk mengundang tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Madduppa ini biasanya digunakan ketika ada hajatan mappabotting (pernikahan), mappanre temme' (khatamul Qur'an), menre' bola (naik rumah), menre' tojang (aqiqah), ataupun tahlilan untuk orang yang meninggal.

Orang yang memiliki hajatan akan menunjuk seseorang yang dipercaya untuk mengundang. Orang yang dipercayai ini disebut padduppa. Orang yang melakukan padduppa ini tentunya harus berpakaian sopan (menggunakan sarung dan songkok atau kopiah).

Adapun tatacara dalam madduppa adalah seorang padduppa harus mengucapkan salam ketika sampai dirumah yang akan diundang. Setelah tuan rumah membukakan pintu, padduppa akan meyalami tuan rumah sebagai bentuk rasa hormat sebagai tamu. Kemudian Paddupa akan duduk ketika tuan rumah telah mepersilakan.

Selanjutnya adalah penyampaian maksud kedatangan atau undangan melalui lisan. Adapun kata-kata yang disampaikan saya contohkan sebagai berikut dengan menggunakan nama Wak Semang sebagai  orang yang punya hajatan dan wak Apo' sebagai orang yang diundang.

"Wak Apo', Kireng seleng wak Semang suro ki' lekka ki bolana baja ele' te' fitu. Burane makkundre."

Artinya: Wak Apo', kirim salam wak Semang mempersilahkan kerumahnya besok pagi jam tujuh. Laki-laki  perempuan.

Begitulah isi undangan yang disampaikan secara lisan oleh padduppa. Jika yang diundang hanya laki-laki saja, maka pesan yang disampaikan tidak perlu ada kata kalimat burane makkundre. Namun jika yang diundang semua anggota (laki-laki dan perempuan) maka kalimat tersebut harus disebutkan diujung pesan. Dan jika ada pertanyaan dari tuan rumah yang diundang, maka paddupa akan menjelaskan sesuai yang diketahuinya. Setelah itu padduppa akan izin pamit.

Dalam madduppa tentunya tidak serta merta harus menggunakan bahasa Bugis saja. Semuanya tergantung dengan tuan rumah yang didatangi. Jika selain Bugis, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu yang merupakan bahasa interaksi sehari-hari.

Namun bagaimana jika rumah yang didatangi sedang kosong. Untuk mengatasi hal tersebut padduppa biasanya akan mengikatkan sesuatu di gagang pintu pemilik rumah. Baik itu berupa tali rapiah atau pelepah daun pisang yang kering yang biasanya sangat mudah dijumpai disekitar rumah. Pengikatan tersebut bertujuan agar si pemilik rumah tahu bahwa ada undangan. Jadi jangan heran jika suatu saat masuk kedaerah Segedong menemukan hal tersebut.

Begitulah sebuah tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Ketika mengundang seseorang tidak hanya sekedar menyampaikan berita saja, namun ada etika yang harus dijaga. Mengucapkan salam, berjabat tangan dan penyampaian pesan harus dalam keadaan duduk.

Lain ketupat lain isi
Lain tempat lain tradisi

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon