Wednesday, November 22, 2017

Semaraknya Makan Saprahan Akbar di Kota Pontianak

Sumber gambar: POM Kalbar

Makan saprahan merupakan salah satu tradisi masyarakat Melayu yang masih tetap terjaga kelestariannya. Kata saprahan sendiri berasal dari kata 'saprah' yang berarti hampar atau berhampar. Lebih jelasnya, makan saprahan adalah budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan diatas lantai secara bersama. Makan saprahan ini tentunya kaya akan makna kebersamaan dan nilai persaudaraan. Oleh karena itulah, tradisi makan saprahan harus selalu tetap dipertahankan.

Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang keikutsertaan dalam acara makan saprahan akbar di Kota Pontianak. Jika biasanya makan saprahan menggunakan makanan berat alias nasi beserta lauknya, untuk kali ini sedikit berbeda yaitu dengan menggunakan konsep makan tambol sepuasnya.

Mungkin bagi sebagian orang masih asing dengan istilah tambol. Tambol berasal dari bahasa Melayu yang berarti kue. Kue yang dimaksud pun adalah kue-kue tradisional, bukannya kue snack yang banyak bergantung diwarung. Menjadikan 'makan tambol sepuasnye' sebagai konsep dalam makan saprahan akbar tentunya tidak terlepas adanya upaya untuk memperkenalkan dan melestarikan kue tradisonal asli Pontianak. Kegiatan budaya seperti ini nih yang mesti diapresiasi tinggi.

Bercerita tentang keikutsertaan saya beserta kawan-kawan dalam makan saprahan akbar tentunya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika kebanyakan pria yang datang menggunakan kostum telok belanga beserta tanjak, berbeda dengan kami yang hanya menggunakan baju komunitas. Warna-warni pakaian telok belanga dan berbagai macam bentuk tanjak membuat suasana budaya Melayu benar-benar terasa kental dan sangat hidup. Apalagi ditambah wanitanya yang juga memakai baju kurung dan kain songket.

Meskipun kami sedikit berbeda dengan yang lainnya, bukan berarti kami harus minder atau malu. Karena kehadiran kami yang ikut meramaikan kegiatan ini tentunya juga sangat diapresiasi oleh panitia dan lainnya. Semoga saja untuk acara yang berikutnya kami juga bisa menggunakan kostum telok belanga beserta tanjak. 

Sebelum memasuki lokasi makan saprahan, terlebih dahulu kami melakukan registrasi ke panitia. Selain untuk memastikan seberapa banyak peserta yang hadir, registrasi ini juga berkaitan dengan nomor undian doorprize. Mengetahui adanya pembagian dooprize membuat kami semakin semangat untuk mengikuti acara ini, meskipun malam sebelumnya hanya tidur dua jam.

Dalam makan saprahan akbar ini, jumlah peserta yang hadir melebihi target. Jika terget yang ditentukan sebelumnya sebanyak 1.500 peserta, namun yang hadir pada saat itu bisa mencapai 2.500 peserta. Semua ini tentunya tidak terlepas dari semangat dan kerja keras panitia

Setelah melakukan registrasi, kami pun berjalan menuju lokasi makan saprahan. Hamparan kain kuning yang menjadi alas untuk duduk terhampar sangat panjang. Disana juga terdapat panitia yang mempersilahkan kami untuk duduk. Amboi... serasa orang penting pula kami ini. 

Dalam memilih tempat duduk, tentunya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Yang paling utama bagi saya adalah posisi duduk tidak boleh jauh dari panggung, agar bisa melihat dengan jelas setiap prosesi acara yang dilaksanakan.

Masyarakat yang terlihat antusias (Sumber gambar: POM Kalbar)

Masyarakat yang terlihat antusias  (sumber gambar: POM Kalbar)

Adanya acara makan saprahan ini tentunya diharapkan bisa membuat tali persaudaraan menjadi erat. Dari makan saprahan inilah kita bisa saling mengenal saudara kita yang berasal dari daerah lain. Seperti hal yang kami alami. Dari sini kami bisa mengenal saudara kami yang berasal dari Kubu Raya. Komunikasi pun terjalin hingga kami saling bertanya.

Saya hampir lupa menceritakan sosok penyelenggara kegiatan makan saprahan akbar kali ini. Adanya kegiatan budaya ini dipelopori oleh Persatuan Mahasiswa Melayu (PMM) dan Persatuan Orang Melayu (POM). Meskipun setiap tahunnya di Kota Pontianak selalu diadakan makan saprahan, namun kali ini merupakan puncak makan saprahan dengan peserta terbanyak. Bagaimana, mantapkan?
Kedatangan Walikota Pontianak (Sumber gambar: POM Kalbar)

Tidak lama berselang kami duduk, suara hadrah yang diiringi sholawat terdengar menggema. Menandakan datangnya seorang tamu kehormatan. Dalam makan saprahan akbar ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak, Bapak Edi Rusdi Kamtono.
Prosesi tepung tawar (sumber gambar: POM Kalbar)



Kata sambutan ketua Persatuan Mahasiswa Melayu (sumber gambar: POM Kalbar)

Acara makan saprahan akbar di buka oleh Bapak Edi Rusdi Kamtono dengan prosesi tepung tawar dan menaburkan beras kuning sekaligus. Tidak hanya Wakil Walikota Pontianak saja yang menyampaikan kata sambutan, Ketua Persatuan Orang Melayu (POM) dan ketua Persatuan Mahasiswa Melayu (PMM) juga berkesampatan dalam memberikan kata sambutan.

Menikmati berbagai sajian tambol

Puncak dari acara ini adalah makan tambol yang terlebih dahulu membaca do'a tolak bala bersama. Berbagai macam jenis kue tradisional Pontianak pun hadir didalam piring. Mulai dari kelepon, doko'-doko', lepat ubi, apam made', apam kusoi, geto' dan lain-lainya.

Atraksi silat Melayu (sumber gambar: POM Kalbar)

Kegiatan makan saprahan akbar juga dimeriahkan dengan penampilan kesenian Melayu lainnya seperti tundang (pantun berdendang), silat dan tarian Melayu. Dan tidak kalah menariknya adalah pembagian doorprize diakhir acara.

Harapan kedepannya, semoga acara budaya seperti ini bisa selalu diagendakan setiap tahunnya. Selain sebagai ajang silaturrahmi, makan saprahan akbar ini juga merupakan ajang melestarikan dan memperkenalkan budaya Melayu kepada khalayak ramai. Mulai dari kesenian, pakaian adat hingga ragam kulinernya.




Media Sosial yang digunakan:

2 comments

Makan saprahan salah satu budaya Melayu yang harus dipertahankan. Takkan hilang Melayu dari bumi.

Betul bang. Jangan sampai satu persatu budaya yang kita miliki dilupakan apalagi tak dikenal oleh anak cucu kedepannya.


EmoticonEmoticon