Wednesday, July 15, 2020

Mengenal Tradisi Mattampung, Acara Setelah Kematian

Budaya dan tradisi Mattampung. Malam itu sungguh terasa syahdu. Lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi langit-langit ruangan yang ukurannya tidak seberapa. Disana, berkumpul para tetangga dan sanak keluarga yang turut mendoakan. Semoga almarhumah dilimpahkan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Tanpa ada perlawanan, kambing menurut saja ketika dibawa ke pohon manggis. Yah, meskipun kadang kambingnya sering mengembek. Namun menurut saya itu adalah cara komunikasinya, yang tentu saja tidak dipahami oleh manusia. Namun jika dikira-kira, mungkin dia lagi sedang bertanya ‘mau dibawa kemana saya? Mau diapakan saya? Tolong dilepasin dulu ikatan lehernya! Please help me...’ Kurang lebih begitu.

Saat itu matahari baru sepenggalah naik. Saya dan beberapa orang tua sedang berkumpul dibawah rindangnya pohon manggis. Bukan! Bukan lagi panen buah manggis atau sekedar melindungi diri dari terpaan matahari, melainkan akan menyembelih kambing. Penyembelihan tersebut dilakukan karena sebentar lagi akan diadakannya acara mattampung.

Apa itu Mattampung? Kata mattampung berasal dari bahasa Bugis yang memiliki arti mengganti atau memperbaiki. Adapun objek yang diperbaiki adalah kuburan keluarga yang telah meninggal sehingga tampak lebih baik. Oh, iya. Mattampung ini boleh dilakukan kapan saja setelah keluarga merasa sanggup. Biasanya dilakukan setelah 7 hari kematian, 40 hari, 100 hari, setahun ataupun tahun-tahun berikutnya (hitungan menggunakan kalender hijriah).

Dalam tradisi Mattampung juga dilaksanakannya penyembelihan hewan. Hewan yang biasanya disembelih adalah sapi atau kambing. Katanya, hewan yang dikurbankan nantinya akan menjadi kendaraan bagi orang yang telah meninggal. Dengan kata lain, daging kambing yang nantinya disajikan kepada orang lain akan menjadi kiriman amal bagi almarhum/ah yang bersangkutan.

Kambing pun siap untuk disembelih. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan prosesi mappasili atau disebut juga tepung tawar. Saat itu kambing akan dipakaikan kain putih kemudian ditepiskan dengan air pasili. Air pasilinya sendiri terbuat dari kunyit dan beras, sedangkan untuk menepisnya menggunakan daun juang-juang.

Saya pun merengsek kearah kambing, membantu para Pe-Tua lainnya untuk memegang. Kebetulan saat itu saya dipercaya untuk memegang kedua kaki depannya. Dengan menyebut nama Allah dan kalimah-Nya, Kambing tersebutpun disembelih. Seketika darah mengalir deras, tumpah membasahi bumi.

Kambingnya lagi disembelih

Passili atau tepung tawar

Tidak hanya itu, saya juga mendapat kepercayaan untuk ikut serta mengkuliti kambing. Ternyata susah juga ooi. Perlu kesabaran ekstra agar kulitnya tidak robek. Selain itu, pisaunya juga mesti tajam. Dari sinilah saya mendapatkan pelajaran dari Pak Parten bagaimana cara mengkuliti yang benar. Katanya, “kalau tidak mecoba, mana mungkin bisa tahu”.

Ternyata bukan mengkuliti saja yang lebih sulit. Bagi saya ada hal yang mesti lebih hati-hati lagi, yaitu menanggalkan kantong perutnya. Disaat inilah, kita harus ekstra fokus agar pisau yang digunakan tidak merobek kantongnya. Jika itu sampai terjadi, maka siap-siap saja aroma busuk akan mengambang diudara.

Karena saya saat itu merasa tidak punya keahlian, saya pun lebih memilih untuk memegang kantung perut bagian bawahnya, ketimbang ikut melepaskannya. Iya, harus dipegang agar tidak jatuh terhempas ke bumi. Semakin lama, kantong tersebut semakin terasa berat, hingga akhirnya terlepas semua. Selanjutnya, kambing yang telah dikuliti dan dibuang isi perutnya akan dipotong-potong menjadi beberapa bagian.

Lagi Seru Main Zakar Kambing

Sementara didapur, buk ibuk yang terdiri dari para tetangga dan keluarga sibuk mengurusi hal lainnya. Seperti meracik rempah-rempah, membuat kue dan memasak ini-itu. Intinya, buk ibuk yang ada didapur sibuk berkerja, mempersiapkan urusan kampung tengah (perut).

Sibuk menyiapkan perasaan, eh masakan

Madduppa

Untuk mengundang para tamu tentunya memiliki cara tersendiri. Yaitu melalui madduppa atau dalam bahasa Indonesianya berarti mengundang. Namun caranya bukan melalui tulisan, melainkan menyampaikan undangan melalui lisan. Kebetulan saat itu saya diberikan amanat untuk menjadi Padduppa (orang yang madduppa). Saya pun mendatangi rumah para tetangga satu-persatu, menyampaiakan panggilan (undangan) Si Tuan yang punya hajat. Setidaknya ada sekitar 50 rumah yang diundang. Untuk mengetahui madduppa lebih lanjut, silahkan baca disini.

Mengkhatamkan Al-Quran dan Yaasiinan

Malam pun tiba. Para keluarga dan tamu yang diundang berdatangan. Laki-laki memakai kopiah dan perempuannya berpakaian menutup aurat. Dalam prosesi mattampung, sebelum tiba hari pelaksanaan, malam sebelumnya dilakukan pembacaan Yaasiin dan pattemme’ Qur’ang atau mengkhatamkan Al-Quran. Biasanya, pembacaan Al-Quran ini dilakukan selama tiga malam berturut-turut.

Namun, berhubungan pembacaan Al-Quran sudah dikhatamkan oleh anak almarhumah, maka para tamu undangan yang hadir malam itu hanya membaca yaasiin. Setelah selesai, tamu pun disajikan dengan aneka kue yang diletakkan diatas penampan. Saya yang saat itu mengangkatnya mulai tergoda untuk mencicipinya. Setidaknya ada empat jenis kue yang dihidangkan.

Yaasiinan

Tahlilan

Tibalah dihari Pelaksanaan. Saat Pagi, pihak keluarga terlebih dahulu pergi kekuburan untuk mengganti nisan dan melakukan tahlilan. Tidak perlu seluruh keluarga, minimal ada yang mewakili. Karena acaranya yang dilakukan pagi hari mengakibatkan saya tidak bisa mengikuti. Biasa, ada urusan negara. HEHE. Pihak keluarga dan orang-orang yang pulang dari kuburan selanjutnya akan di passili (tepung tawar).

Sekitar pukul 10.00 WIB, tamu-tamu yang diundang akan datang lagi. Saat ini, orang-orang akan membaca tahlilan. Kalimah-kalimah Allah terdengar bergemuruh memenuhi langit-langit ruangan. Mereka terlihat khusyuk memanjatkan do’a kepada sang Illahi. Disaat inilah, kambing kemarin yang disembelih akan disajikan  bersama lauk-pauk yang lain.

Lagi-lagi saya mendapat kepercayaan untuk membantu menyajikan makanan. Makanan tidak disajikan secara prasmanan, melainkan saprahan. Yaitu meletakkannya dilantai dengan menggunakan baki yang besar. Para tamu akan segera menikmatinya setelah pembacaan do’a dan tuan rumah mempersilahkan.

Tahlilan

Massanji

Acara belum selesai sampai disitu. Sekitar jam 1 siang akan kembali diadakan Massanji. Massanji disini bukan nama salah satu musisi terkenal Indonesia, ya. Melainkan adalah melakukan pembacaan barzanji. Tapi untuk ini yang diundang biasanya hanya keluarga dan tetangga terdekat saja. Maklum biasanya saat siang itu, orang-orang lagi enaknya lagi tidur siang. Prosesi acara mattampung pun selesai setelah dilaksanakan massanji.

Ngantu euyyy

Tujuan utama dari diadakannya mattampung adalah untuk memanjatkan do’a kepada Allah agar almarhum atau almarhumah bisa mendapatkan tempat yang layak disisi-NYA. Disisi lain, tardisi yang dilaksankan ini juga syarat akan makna, seperti saling tolong-menolong dan berbagi kepada orang-orang terdekat. Selain itu, mattampung ini bisa menjalin tali silaturrahmi dan memperkuat rasa pepersaudaraan. Tabe’...

Media Sosial yang digunakan: