Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, January 18, 2024

Awal Mula Menjadi Mitra Badan Pusat Statistik

Petugas sensus BPS. Tidak terasa sekarang sudah berada ditahun baru. Nah selagi masih awal, ada ucapan ribuan terimakasih kepada masyarakat Indonesia. Terkhususnya lagi kepada masyarakat Kabupaten Mempawah yang telah menerima kami dalam melakukan pendataan dilapangan. Setidaknya ada dua kegiatan besar yang telah dilaksanakan oleh BPS di tahun 2023 yang lalu, yaitu Sensus Pertanian dan pendataan lengkap KUMKM. 


Tanpa adanya partisipasi anda, tentunya kegiatan tersebut tidak akan berjalan lancar dengan semestinya. Selain itu, ucapan selamat juga disampaikan untuk kelulusan mitra 2024. Semoga kedepannya kita bisa berkontribusi lebih dalam meningkatkan kualitas data untuk Indonesia maju.


Pegawai Organik dan mitra BPS Kabupaten Mempawah


Berbicara tentang Badan Pusat Statistik, tentunya memiliki banyak sumbangsih dalam kehidupan, terutama kehidupan ane. Tidak hanya tempat meraup rezeki, disini juga tempat menggarap ilmu dan pengalaman. Saya diajarkan bagaimana kerjasama dalam tim, mengatur strategi dan waktu, hingga melatih kesabaran dalam menyelesaikan pekerjaan. Selain itu, relasi juga semakin luas dan tentunya masih banyak lagi yang lainnya...


Awal mula menjadi mitra BPS pada tahun 2020, kegiatan Sensus Penduduk. Karena merupakan agenda besar, pastinya memerlukan banyak tenaga lapangan. Disinilah, untuk yang kedua kalinya saya mencoba mendaftar, dan alhamdulillah dinyatakan lulus.  Dan Ini lah pekerjaan perdana saya setelah sekian purnama menganggur. Sebelumnya sempat mendaftar di kegiatan pemetaan bareng teman-teman, dan melipir di warung kopi legendaris Kota Mempawah.


Mendapatkan pekerjaan dikampung halaman membuat diri ini geli hati (meskipun hanya sebatas kontrak). Teringat sebuah perbincangan antara saya, Isra' dan Amar dalam sebuah kamar asrama. Saat itu kami membicarakan tentang rencana kedepan setelah menyelesaikan pendidikan. Sambil menyeruput air galon dan ditemani alunan mesin printer, saya dan amar mengatakan kalau kami akan mencari pekerjaan di kota. Tapi apa daya, keadaan Uwak yang sakit mengharuskan untuk kembali ke kampung halaman.


Berhubung kegiatan Sensus Penduduk bentrok dengan pandemi covid-19 (corona lupa atur jadwal), kegiatan pelatihan yang semulanya direncanakan akan dilakukan serentak se-kabupaten akhirnya diubah hanya per kecamatan. Dan itu pun dilakukan dalam waktu yang terbatas. Saat inilah, orang BPS yang pertama kali dikenali adalah Bang Joko Pranoto, yang saat itu merupakan pengawas lapangan.


Karena situasi yang lagi genting,  semua petugas wajib menerapkan protokol kesehatan saat turun lapangan. Tidak tanggung-tanggung, untuk menunjang kerja  petugas dilengkapi dengan masker, facial field, sarung tangan,  serta hand sinitizer. Dari sinilah saya tahu, kalau BPS sebegitu pedulinya untuk keamanan dan keselamatan mitranya.


Memastikan Batas Wilayah ke Pak RT


Tapi harus diakui, menggunakan perlengkapan diatas saat dilapangan membuat gerah dan pergerakan agak sedikit sulit. Bernafas dengan menggunakan masker dan tidak, tentu akan terasa berbeda. Begitu pula memegang alat tulis menggunakan sarung tangan tentunya akan terasa janggal. 


Terlebih sebagian kecil warga ada yang merasa was-was dengan atribut yang digunakan, seakan-akan wabah corona sudah menghampiri. Apalagi anak kecil yang takut akan kehadiran kami karena dikira petugas kesehatan yang membawa jarum suntik. Tapi tidak apa-apa, asalkan kesehatan semuanya tetap terjaga.


Untuk pendataan Sensus Penuduk 2020 dilakukan dengan sistem drop out pick up (DOPU), dimana dokumen tersebut nantinya akan diisi secara mandiri oleh responden. Jika telah selesai baru kemudian diambil kembali oleh petugas. Awalnya saya kira pekerjaan bakalan sangat mudah, karena semua yang mengisinya adalah masayarakat. Tetapi...


Perdana turun dilapangan, saya mencoba untuk dilingkungan sendiri dulu. Disini saya lebih mengenal medan, dan jika ada kesalahan dan kekurangan lebih mudah untuk melakukan pendataan kembali.  Setelah memberikan pengarahan dan tata cara pengisian, saya pun langsung membagikan ke setiap bumbung yang didatangi, dan berharap lusa sudah bisa segera diambil.


Saat malam pulang kerumah, ternyata sudah ada  yang mengantarkan dokumen dirumah. Wuih, respon warganya mantap betul ini, belum ditagih malah ada yang sudah bawa kerumah. Tapi setelah diperiksa ternyata setiap lembaran yang diisi adalah identitas kepala keluarga. Dan itu berisi di semua halaman. Mau tidak mau saya harus menghapus dibagian yang salah, dan pergi mendata lagi.


Dua hari selanjutnya saya datang lagi TKP, mencoba untuk mengambil dokumen yang dititipkan. Namun naasnya, sebagian besar belum diisi sama sekali.  Dari 27 hanya 2 yang bisa dibawa pulang. Lalu apa gunanya penjelasan panjang kali lebar yang dipaparkan kemarin? Dari sini saya sadar, bahwa kepedulian masyarakat untuk mengisi ini tidak terlalu tinggi. Jikalau terus begini tentunya tidak bakalan bisa selesai tepat waktu.


Saya pun mulai mengatur strategi, menggunakan jurus kepepet. Yaitu dimana setiap dokumen yg diantarkan hari ini harus diambil di hari tersebut juga. Bukannya apa, takutnya jika dimalamkan  dokumennya bakalan tidur nyenyak seperti sebelumnya.  Disini untuk yang bisa membaca akan diberikan penjelasan dan memberikan contoh dokumen yang telah berisi baru kemudian beranjak kerumah berikutnya. Untuk yang tidak bisa calistung atau ada kendala lainnya langsung saya bantu ditempat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.


Menerapkan strategi kepepet ternyata betul-betul manjur. Disini saya sadar orang bakalan bertindak cepat ketika mereka merasa terdesak. Sama halnya pengisian dokumen sensus penduduk, responden langsung menyegerakan karena merasa harus dikumpulkan hari itu juga. Bahkan tidak jarang, belum selesai saya bantu tetangga sebelahnya mengisi, sudah ada mereka datang mengantarkan dokumen. Disini pun saya tidak serta merta lansung menerima, melainkan juga memastikan kembali mengenai kebenaran isi dokumen. 


Tantangan Sensus Penduduk 2020 tidak hanya soal pandemi, melainkan juga musim penghujan. Alhasil, baru seminggu dilapangan kami sudah dihadapkan dengan banjir. Mau tidak mau, selain menggunakan protokol kesehatan, kami juga harus mengarungi genangan air demi terdatanya seluruh warga. Tangan kiri memegang celana dan tangan kanan memegang tas yang dijunjung (tali tasnya putus, padahal baru semingguan dipakai). Bahkan ada beberapa rumah yang saat itu aksesnya harus menggunakan sampan. Kalau diingat-ingat, rasanya lucu kali saat itu. Jadi malu baut dipaha dilihat warga.


Meskipun dihadapkan dengan pandemi dan bencana alam, alhamdulillah tugas sensus penduduk bisa selesai lebih cepat, sebelum batas waktu yang ditentukan. Tidak hanya di lapangan, melainkan juga kerapian dokumen siap untuk diserahkan. Info ini pun langsung tersebar di group kecamatan, bahkan beberapa teman langsung japri "serius sudah selesai?" "Kok bisa cepat selesai?" 


Disini saya tekankan, kalau kita hanya betul-betul berharap semuanya diisi responden, tanpa ada bantuan kita, tentunya tidak bakalan selesai. Belum lagi kesalahan pengisian yang sering terjadi, yang pastinya bakalan membuat kita untuk melakukan pendataan kembali. Hal ini tentu saja akan menambah waktu.


Disisi lain, hal yang sangat memotivasi saya untuk segera menyelesaikan pekerjaan adalah karena saat itu saya juga mengurus orang tua yang sedang sakit. Makanya disaat turun lapangan saya akan menggunakan waktu tersebut sebaik-baiknya agar bisa mendata sebanyak mungkin. Disaat malam sambil menjaga Uwak saya sempatkan juga untuk memeriksa dan merapikan dokumen yang sudah ada. Hal ini selalu saya lakukan hingga tugas benar-benar selesai.


Nah buat yang selalu bilang "enak ia udah selesai" coba kalimatnya diganti "jam berapa tidurnya?"


Disaat menyerahkan dokumen, saya ditawari oleh Bang Joko untuk mengikuti kegiatan BPS berikutnya, Post Enumeration Survei Sensus Penduduk. Beliau menjelaskan, untuk pekerjaan ini sedikit berbeda dengan yang sebelumnya. Dimana saat dilapangan nanti akan mewawancarai responden menggunakan android, melalui aplikasi CAPI. Jadi kita tidak perlu lagi membawa banyak dokumen untuk memenuhi tas.


Berhubung keadaan Uwak yang tidak sehat, saya pun coba menceritakan tentang penawaran tersebut kepada beliau. Disini Uwak berkata "jangan cari yang jauh-jauh". Saya pun menjelaskan kalau nanti kerjanya bakalan di Kecamatan Segedong dan Kecamatan Siantan (sebelum berubah nama menjadi Kecamatan Jongkat). Lagian pun jam kerjanya bebas, bisa berangkat dan pulang kapan saja.


Beberapa hari kemudian saya bercerita kembali kepada Uwak bahwa saya menerima tawaran tersebut. Beliau tampak banyak terdiam, antara setuju atau tidak. Saya yang duduk di pinggir dipan, sesekali menyuapkan buah anggur, hasil gaji pertama setelah menjadi mitra BPS. Tidak hanya itu, permen susu kesukaannya juga saya belikan. Jujur, bisa membelikan sesuatu untuk orang tua sungguh membahagiakan.


Dikarenakan masih pandemi, maka pelatihan petugas untuk kegiatan PES SP dilakukan secara online. Untuk melancarkan agenda tersebut, kami menggunakan aplikasi Zoom Meeting. Meskipun pelatihan dilakukan dalam jarak yang jauh, namun apa yang menjadi pokok bahasan bisa tersampaikan. Apalagi lagi materi yang dibahas kurang lebih sama seperti Sensus Penduduk. Karena pada kegiatan ini kita hanya melakukan pendataan ulang terhadap beberapa blok dengan menggunakan aplikasi CAPI. Dari kegiatan inilah nantinya akan ditemukan tingkat keeroran dari Sensus penduduk Sebelumnya.


Pada kegiatan PES SP pihak BPS yang saya kenal bertambah. Disini saya mengenal bang Arif Yuandi dan Pak Bambang selaku pengawawas lapangan. Disini juga sempat dikunjungii oleh ibu Laila, Kepala BPS Kabupaten Mempawah. Awalnya saya tidak yakin jika beliau benar-benar akan datang, karena lokasi yang berada jauh dihujung kampung dan medan jalan yang rusak serta kecil. Tetapi Bu Laila membuktikan keinginannya hingga akhirnya sampai dilokasi. Apakah ini namanya wanita tangguh?


Jika dibandingkan dengan kegiatan Sensus Penduduk sebelumnya, kegiatan PES SP ini jauh lebih mudah. Hal ini dikarenakan untuk lapangan kita lebih banyak menggunakan android, yang tentu saja akan mengurangi beban didalam tas. Terlebih, jika ada data yang kurang atau belum terisi maka akan ada pemberitahuannya. Begitu juga poin-poin yang tidak perlu ditanyakan akan melompat sendirinya. Lebih sakti daripada kera sakti.


Namun jalan bagus tak selamanya mulus. Adakalanya turun naik, berkelok hingga dipenuhi lubang. Saat itu aplikasi lagi error, tidak bisa mengirim file bahkan dokumen tidak terbaca. Saat itu saya langsung mengkonfirmasi ke pengawas mengenai kendala tersebut. Dan ternyata memang servernya yang sedang bermasalah.


Berhubung saat itu lokasi tugas saya jauh, kurang lebih membutuhkan waktu perjalanan 2 jam pulang-pergi, rasanya rugi jika balik tanpa ada progres sedikit pun. Hingga saat siang sekitar jam 1, dokumen sudah mulai bisa diinput, hanya saja belum bisa dikirim. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali dengan metode menyimpan data dan mengirimnya di kemudian hari.


Disaat sedang wawancara, tiba-tiba dering panggilan masuk tampak dilayar handphone. Disitu tertera jelas nama Ucu, adik bungsu yang sedang pulang kampung dan merawat Uwak. Seketika jantung berdegup kencang. Saya pun izin membuka telepon tersebut kepada responden. 


Suara isak tangis menyambut ketika panggilan telpon diangkat. Saya tahu, ada hal yang menyedihkan sedang terjadi disana. Hingga suara terdengar "Bang, Uwak sudah meninggal." Saat itu juga air mata langsung membasahi pipi. Saya pun lekas pamit ke responden dan  izin wawancaranya dilanjutkan lain hari.


Motor pun melaju diantara kesibukan pengguna jalan dan desingan kendaraan. Saat itu juga saya teringat semua kejadian-kejadian tadi malam. Dimana Uwak sempat berkata ingin tidur dikamar depan yang ternyata adalah pembaringan terakhir di ruang tamu. Malam itu juga beliau sempat menanyakan kapan mau dibawah ketanah? Yang saya jawab "uwak harus sembuh dulu biar bisa jalan-jalan". Tapi ternyata yang dimaksud adalah kuburan, tempat peristirahatan terakhir. Saya tidak peka terhadap tanda-tanda itu.


Belum lagi kejadian siang ini dimana server yang mendadak error ternyata merupakan cara semesta biar saya lekas pulang. Namun lagi-lagi saya tidak membacanya. Dan saya sesalkan adalah sebelumnya Uwak tidak mengizinkan ikut kegiatan ini. Namun karena keinginan saya untuk dapat penghasilan membutakan segalanya. Ya, setiap pilihan punya resiko sendiri. Termasuk ini, saya tidak bisa melihat saat-saat Uwak terakhir kali menarik napas. 


Setelah dikebumikan, saya pun meminta izin ke Pak Bambang dan melaporkan mengenai kejadian yang baru dialami. "Innalillahi wainnailaihi roji'un, turut berduka cita. Lapangannya dilajutin nanti saja, Mas." jawab pak Bambang diseberang telepon. Meskipun beliau tidak membatasi waktu izin, namun saya sadar tugas ini harus diselesaikan segera mungkin. Alhamdulillah, tugas tersebut bisa selesai sebelum waktu akhir.


Setelah selesai dilapangam, pekerjaan tersebut di cek lagi oleh pihak BPS melalui ajuan pertanyaan ke Pak RT. Data yang kita peroleh akan disandingkan dengan jawaban Pak RT. Saat itu saya ingat betul yang bertugas adalah Kak Adila dan ditemani Bang Arif. 


Selanjutnya, karena sudah tidak jauh dari Pontianak kami diajak oleh bang Arif makan di D'Bamboo. Disini saya semakin banyak tahu tentang BPS dan kegiatannya. Sosok bang Arif yang humoris, Kak Adila dan pihak BPS lainnya  yang baik memberikan mindset dipikiran saya bahwa orang-orang dilingkungan Badan Pusat Statistik Mempawah itu friendly. Meskipun saya hanya sebagai mitra, namun komunikasi dan perlakuan sama seperti teman pada umumnya. Ketika ada kekeliruan maka kita akan diarahkan tanpa menyudutkan.


Oh iya, gaji dari kegiatan PES SP saya buatkan buku yasin untuk almarhum Uwak. Setidaknya sedikit mengobati penyesalan.


Setelah dua kegiatan diatas, saya kembali ditawari pekerjaan oleh Bang Joko, yaitu Susenas. Menurut dari para suhu dan pihak BPS, ini adalah pekerjaan yang paling tersulit dari semua pekerjaan yang ada di Badan Pusat Statistik. Awalnya sempat ragu juga untuk menerimanya, namun karena dari info akan ada pelatihan secara tatap muka saya pun menerimanya.


Jika sebelumnya pelatihan hanya dilakukan melalui Zoom Meeting, maka pelatihan kali ini dilakukan secara tatap muka, bertempat di Hotel Wisata Nusantara Mempawah.  Lumayanlah, setelah sekian lama dihadapi dengan wabah pandemi, akhirnya bisa liburan tipis-tipis. Staycation di hotel, kwkwwk.


Dikegiatam ini saya mulai kenal sama Mbak Safira Nurrosyid dan Kak Syarifah Apriani, yang saat itu merupakan pemateri susenas. Dari pemaparan beliau sepertinya apa yang oleh para senior sampaikan ada betulnya. Apalagi saya masih newbie didunia pendataan. Banyak pula yang akan ditanyakan ke responden.


Ia betul! Segala pendapatan dan pengeluaran semuanya harus ditanyakan. Dari yang dimakan, barang yang dibeli baik itu tampak mau pun tidak tampak, begitu pula jasa, memberi makan dan makan ditempat orang juga harus dicatat. Belum lagi status pernikahan, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Semua pertanyaan tersebut terangkum dalam 2 dokumen Susenas.


Bahkan tidak jarang dilapangan sering ditanyakan oleh responden "ini data untuk apa sih? Sedetail itu pertanyaannya." Nah karena sudah telanjur ditanya, rasanya kurang bijak juga jika tidak dijawab. Susenas itu merupakan singkatan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, dimana data yang dibutuhkan berupa data pendidikan, kesehatan, perumahan, konsumsi atau pengeluaran rumah tangga, dan sosial ekonomi lainnya.


Lalu apa pentingnya data tersebut? Dari data tersebut tentunya bisa diketahui gambaran umum mengenai pendapatan, tingkat kesejahteraan, masalah sosial hingga akses terhadap layanan dasar (terutama akses pendidikan dan kesehatan). Data ini lah yang nantinya akan digunakan oleh pemerintah untuk pembangunan dan membuat kebijakan. 


Bincang-bincang, dari kegiatan susenas tentunya banyak pelajaran yang bisa  dipetik. Yang pertama adalah tidak selamanya kepo itu negatif, ada kala nya kita memerlukan banyak informasi sedetail-detailnya, untuk menyajikan data yang lebih akurat. Meskipun itu sebuah pertanyaan yang tabuh untuk dibicarakan oleh seorang lelaki. Untuk hal yang sensitif tentunya kita mesti awali dengan kata 'maaf' agar tidak menyinggung responden.


Yang kedua adalah setiap pekerjaan pasti selesai. Saya akui, diantara kegiatan BPS, Susenas adalah yang sulit. Setidaknya ada dua tahapan yang dikerjakan, yang pertama adalah pemutakhiran dan yang kedua adalah pencacahan. Setelah tahapan pertama selesai, maka masing-masing blok akan terpilih sebanyak sepuluh sampel rumah tangga. Sampel tersebutlah yang nantinya akan kedatangan detektif Conan dengan mengajukan banyak pertanyaan, hehe. Setidaknya ada 2 dokumen yang harus diisi, dimana setiap dokumen isinya saling terkaitan.


"Dicoba saja dulu bang. Kalau salah nanti dokumennya dibalikin dan diperbaiki" inilah guyonan yang sempat dikeluarkan Bang Joko sambil cekikikan saat pelatihan. Meskipun cuma candaan tapi kata-kata tersebut memiliki makna yang besar. Disini kami diberikan kesempatan untuk belajar yang sebesar-besarnya. Yang penting coba saja dulu, kalau salah diperbaiki lagi. Jangan menunggu bagus baru mau mulai, tetapi mulailah dulu untuk menjadi bagus. 


Disisi lain, kami pun sadar ada sebuah kepercayaan yang diamanahkan. Mau tidak mau harus melakukannya dengan baik. Walaupun saat itu saya sadari masih banyak kekurangannya.


Yang ketiga adalah attitude. Pernah mendengar kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Ya, saya sangat menghargai nilai ini, yang artinya kemanapun kita berada harus menghormati budaya setempat. Sopan santun mesti selalu dijaga, baik itu dari tutur kata mau pun tingkah laku. Meminta izin ke penguasa wilayah, seperti RT atau yang lainnya untuk menginfokan maksud kedatangan.


Begitu juga jika kerumah warga, jika sudah lebih dari tiga kali mengucapkan salam tidak ada jawabannya, sebaiknya kita pergi.  Karena kita tidak tahu mungkin saja orang yang ada didalam rumah lagi sibuk, lagi istirahat, sakit atau memang rumahnya lagi kosong, hehe. Lain waktu baru didatangi lagi.


Untuk wawancara susenas tentunya membutuhkan banyak waktu. Sebelum dimulai alangkah lebih baiknya kita tanyakan dulu kesedian responden. Kalau jawabnya bersedia, ok dilanjutkan. Kalau misalnya lagi sibuk, atau anaknya lagi rewel atau sedang buru-buru keluar sebaiknya ditunda dulu. Kemudian tanyakan kapan bisa datang kembali untuk melakukan wawancara. Karena disini kita harus memperhatikan emosional responden untuk mendapatkan jawaban yang bagus. Sungguh banyak pelajaran ketika menjadi petugas susenas.


Berkat dari kegiatan ini juga saya selalu diingat oleh reponden. Iya, serius! Pernah saya lagi berbelanja di pasar, terus ketemu sama responden dan langsung disapa "eh abang BPS agik belanje". "Iya bu, biar silaturrahmi tidak putus pinjam dulu seratus" kwkwk jawab saya, tapi dalam hati.


Pernah juga ketika lagi main ditempat teman dan kebetulan lewat depan rumah responden auto diteriaki "Bang, mau data agik ke". Dibandingkan yang lainnya, responden susenas sepertinya lebih fanatik terhadap daya ingatan. Apakah ini karena waktu wawancara yang lama dan pertanyaan yang intens?


Setelah Susenas usai, selanjutnya saya kembali ditawarkan menjadi petugas KSA Padi. Dikarenakan petugas sebelumnya angkat tangan akhirnya Bang Joko harus mencari petugas dalam waktu tempo yang sesingkat-singkatnya (kemungkinan). Kegiatan apa ini?  Kerangka sampel area padi merupakan survei yang dilakukan dengan pengamatan langsung pada tanaman padi. Dimana pengamatan tersebut dilakukan setiap bulan dan nantinya akan diadakan ubinan untuk mengetahui produktifitas tanaman padi. Kurang lebihnya begitu.


Lusanya pun kami langsung turun ke lapangan, yang saat itu segmennya berada di Parit Bugis. Kehadiran saya yang hanya menggunakan sandal gunung menjadi bahan tawaan Bang Feri yang merupakan Mitra senior BPS Mempawah. Betul saja, diantara saya, beliau dan Bang Joko, hanya diri sendiri yang tidak menggunakan sepatu boots. 


Dalam melakukan pengamatan terhadap tanaman padi setidaknya ada aplikasi yang mesti digunakan. Berhubung saat itu masih dalam masa peralihan aplikasi lama ke aplikasi yang baru, maka mau tidak mau harus mengunakan kedua-duanya. Pengambilan foto pun ada tekniknya tersendiri, semua tergantung jenis amatan yang di pilih. Begitu pula posisi pengambilan foto tanaman padi yang mengharuskan masuk dalam radius 10 meter.


Setelah melakukan praktek lapangan langsung bersama pihak BPS dan Mitra senior, akhirnya 1 segmen KSA padi selesai dilakukan. Berhubung masih ada dua segmen yang belum dikerjakan, Bang Joko berinisiatif meminjamkan sepatu bootsnya. Tawaran tersebut tentu saja lansung diterima dan sampai sekarang belum saya kembalikan. Mohon maaf boss, anggap saja ini kenang-kenangan setelah pindah ke Provinsi, kwkwk. Semoga rezekinya semakin lancar...


Setelah setiap bulannya melakukan pengamatan, tibalah saatnya ubinan padi. Ubinan perdananya dilakukan bersama tim lapangan produksi BPS yang handal, Bang Joko Pranoto, Bang Adwin dan Bang yulfi Ramanda. Disinilah saya diajarkan bagaiman cara menggunakan alat ubinan, yang baru pertama kali saya lihat secara langsung. Sebelumnya sempat cari info di youtube.


Semuanya berbagi peran. Saat itulah saya melihat kerjasama yang begitu kompak. Bahkan sekelas Bang Adwin pun ikut merontokkan padi menggunakan kaki. Sebuah skill yang tidak semua orang miliki, kwkwk. Omong-omong, beliau juga memiliki usaha thrifting  di produk sepatu dan sering menjadi sponsor dalam award mitra terbaik. Cek postingan beliau di instagram @haithay80_sbk.  


Dalam waktu yang singkat dua sampel langsung selesai. 


Tim KSA BPS Kabupaten Mempawah


Di kegiatan ini saya juga mengenal Kak Maria. Setiap ada update informasi di group selalu di handle oleh beliau. Sumpah, beliau ini orangnya sangat baik. Kalau kita lagi ada masalah atau mungkin sedang bertengkar pasti langsung adem jika ketemu beliau. Apalagi kalau dengarkan suaranya saat menyampaikan materi, pasti suasananya jadi bersahaja.


Ngomong-ngomong Kak maria nya sekarang lagi sakit. Kemarin terakhir kerjasama bareng beliau saat kegiatan PES ST. Tetap semangat kak dan semoga lekas pulih. Mohon doanya teman-teman untuk kesehatan beliau.


Selain KSA Padi, ada juga namanya KSA Jagung. Berhubung petugasnya lagi sakit, akhirnya saya di telepon Bang Joko untuk menemani Bang Heri Gustaman. Beliau berasal dari Mempawah  yang sementara waktu akan menggantikan petugas sebelumnya. Meskipun memiliki postur tubuh yang tinggi, besar dan sedikit brewokan, namun beliau sangat baik dan humoris. Di BPS, beliau ini merupakan mitra legend dan andalan. Oh ie bang, selamat sudah menjadi Kepala Desa Sejegi.


Tugas dari KSA jagung kurang lebih sama seperti KSA padi, melakukan pengamatan terhadap tanaman. Hanya saja dijagung tidak ada yang namanya ubinan. Selain itu, jika di lahan padi kadang terkendala dengan lahan yang becek berbalutkan lumpur, maka dilahan jagung terkendala semak belukar dan aksesnya yang jauh. Bahkan sudah tiga kali celana robek akibat sayatan rumput liar, seperti terung hutan dan rambang. Namun karena cuan semua akan dihadapi, kwkwk. Semangat!


Dari kegiatan KSA jagung tentunya banyak arahan dan pelajaran yang didapatkan dari sosok Bang Heri Gustaman. Seperti selalu menyediakan plastik bening untuk keamanan handphone. Kenapa memilih yang bening? Karena biar bisa tetap melanjutkan tugas lapangan meskipun dalam kondisi kehujanan. Good idea yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Air pun harus selalu dibawa, karena sangat menunjang untuk kelancaran bertugas. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini.


Selain saran, tentunya banyak arahan juga yang didapatkan dari beliau yang telah banyak makan garam di BPS. Saat itu dibawah pohon rindang dengan panas yang lagi teriknya, beliau mengatakan "Kita hanyalah sebagai mitra, tidak lebih". Sebagai pekerja yang dikontrak, tentunya kita punya batasan tertentu. Ada saatnya kita bakalan ditawari pekerjaan dan kadang pula tidak. Atau bahkan tidak digunakan lagi. Namun ketika ditawari kegiatan cobalah untuk menerima meskipun gajinya tak seberapa.


Selama tiga bulan bersama beliau, akhirnya saya bisa menuntaskan 12 SKS, hehe.


Selanjutnya, saya pun diamanahkan untuk melaksanakan KSA jagung seutuhnya. Jika sebelumnya tugas bisa dibagi dua, saya mengambil foto dan bang Heri Gustaman mengecek amatan sebelumnya, kali ini mesti dilaksanakan sendirian.


Berhubung mendapatkan amanah yang baru, satu dari tiga segmen KSA padi sebelumnya saya berikan ke Bang Feri. Bukannya tidak bisa menyelesaikan pengamatan dalam 1 hari, hanya saja ditakutkan kedepannya cuaca tidak mendukung atau ada hal lainnya. Terlebih saat itu bang Feri hanya 2 Segmen. Hal ini pun saya ajukan ke Bang Joko dan mendapatkan persetujuan dari beliau.


Setelah dipercayakan untuk menjadi petugas KSA padi dan jagung, akhirnya saya memiliki pemasukan tiap bulan dari BPS. Lumayan buat ngopi dan jajan. Tapi itu dulu, sekarang sudah ada aturan baru yang mengharuskan setiap petugas KSA Padi minimal 3 Segmen. Sekarang yang tersisa hanya KSA jagung, sebuah pekerjaan yang saya anggap juga sebagai olahraga dan piknik kecil di batas hutan.


Nah itulah pekerjaan awal mula saya bergabung sebagai mitra BPS. Oh iya, sebelum susenas juga pernah menjadi Petugas PIPA, yaitu pendataan industri penggilingan padi. Selain kegiatan tersebut tentunya banyak lagi kegiatan-kegiatan lainnya. Terima Kasih banyak BPS Kabupaten Mempawah atas kepercayaannya selama ini. Saya akui masih banyak kekurangan dalam pekerjaan yang telah dilakukan.


Tabek...


Baca juga: Kejadian-Kejadian Apes Mitra BPS








Tuesday, July 21, 2020

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah artikel tentang perjalanan seorang travel blogger ke Kota Pontianak. Karena yang diceritakan adalah kota saya, tentunya hal tersebut membuat saya penasaran akan  isi cerita tersebut. Hingga akhirnya saya buka. Mata pun mulai membaca, hingga jatuh cinta diawal mula rangkaian katanya.

@khatulistiwapark.official

Seperti travel blogger pada umumnya, setiap perjalanan yang dilakukan adalah inspirasi untuk membuat jejak cerita di blognya. Begitu juga seorang travel blogger yang satu ini, mengisahkan perjalanananya ke Kota Pontianak yang hanya sebentar saja, namun mampu menjajal banyak destinasi wisata di Kota Khatulistiwa.

Tidak tanggung-tanggung, cerita perjalanannya yang singkat itu mampu dia tulis dalam tiga seri. Part 1, part2 dan part3. Jujur saja saya akui, tulisannya sangat begitu apik dan enak dibaca. Karena itulah, setiap cerita perjalanannya saya ikut menikmati dan merasa seakan-akan Pontianak merupakan sebuah kota yang asing bagi saya. Karena rangkaian ceritanya yang bagus pula, saya mampu menghabiskan tiga ceritanya hanya dua kali duduk. Istirahat sejenak hanya karena harus setor air ke toilet.

Dalam cerita perjalanannya, ia membeberkan satu-persatu tempat wisata yang yang ada di Kota Pontianak. Yang menurut saya begitu lengkap dengan menampilkan peta tempatnya, jepretan gambar yang begitu bagus dan deskripsi yang sangat menarik. Dia menyambangi Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikonnya Kota Pontianak. Dia juga mendatangi Rumah Adat Dayak (Rumah Radakng) dan Rumah Adat Melayu. Disini dia menggambarkan begitu harmonisnya masyarakat Pontianak walaupun memiliki latarbelakang yang berbeda. Dia juga menyusuri Sungai Kapuas yang menjadi urat nadi kehidupan sekaligus kebanggaan masyarakat Kalbar.

Tidak hanya itu, Berbagai kuliner yang dia sempat nikmati pun juga diperkenalkan. Seperti Chai Kue, kembang tahu, Kopi Pontianak, Es Klim Petrus dan yang lain-lain-lainnya. Sebagai orang Pontianak tentunya saya sangat bangga membacanya. Bagaimana tidak? Wisata-wisata kita lagi diceritakan dan dibilang menarik. #kamekbangge.

Di hari terakhirnya, sebelum dia terbang meninggalkan Pontianak, lagi-lagi ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke tempat wisata lainnya. Saat itu adalah Keraton Kadariayah, Masjid Jami’ dan Kampung Beting. Disinilah ia menyebutkan keprihatinannya mengenai banyaknya sampah yang berada dikolong rumah warga. Ya, saya tahu betul, ada banyak begitu sampah rumah tangga di Kampung Beting yang berserakan. Tidak hanya dikampung Beting, melainkan juga kampung-kampung lainnya yang ada ditepian Sungai Kapuas.

Jujur saja, saya yang membacanya saat itu juga turut sedih. Sedihnya karena sayang saja, Pontianak yang awalnya diceritakan sangat menarik harus sedikit tercoreng oleh masalah sampah. Tidak hanya sampai disitu, dikolom komentar banyak juga para pembaca yang nimbrung memberikan tanggapannya. Kurang lebih begini,

“Sedih pas baca dan lihat foto kanal di Kampung Beting..Jadi banyak sampah dan terkesan kumuh.”

“Sangat disayangkan Kampung Beting terlihat kotor.”

“Turut prihatin akan sampah-sampah yang menggunung dibawah rumah Kampung Beting.” Yang ini terlalu berlebihan, mengatakan sampahnya menggunung. Belom kena’ lebu’ buda’ Pontianak kali’.

Yah, semoga saja dengan adanya cerita dan tanggapan tersebut bisa mensugesti kita untuk selalu menjaga kebersihan. Tidak hanya masyarakat Kampung Beting, tetapi juga kita semua yang setiap harinya menghasilkan sampah. Buanglah sampah pada tempatnya, bukan pada semaunya. Toh yang malu kita juga kan nantinya? Dikatakan kumuh, kotor, jorok dan sejenis lainnya.

Kepada pemerintah, saya juga menaruh harapan yang besar agar lebih memperhatikan daerah-daerah yang ada dipinggiran sungai. Mungkin perlu dilakukannya revitalisasi agar lingkungan yang ada tampak bersih. Kalau kata orang Pontianak itu “nyaman ditengok”. Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting, agar kebersihannya bisa berkelanjutan.

Kesedihan saya belum berhenti disitu. Diakhir perjalanan, seorang driver hotel yang mengantarnya ke Bandara Supadio menceritakan kalau Kampung Beting itu merupakan daerah kriminal, setiap orang asing yang datang akan selalu dicurigai. “Cobe gak campakkan ke Sungai Kapuas buda’ yang ngomong gitu’, biar dimakan puake.”

Seharusnya, sebagai salah satu pekerja penyedia jasa tidak sepatutnya berbicara seperti itu. Jangan sampai gara-gara omongan tersebut menimbulkan stigma negatif tentang Kampung Beting, yang akhirnya membuat orang-orang yang datang ke Pontianak jadi takut mampir kesana. Padahal kenyataan dilapangannya tidak demikian. Awak datang kamek sambot.

Tabe’...

Monday, July 13, 2020

Berburu Followers Twitter

“Kalau ingin ikut lombanya harus punya twitter.” Kata Darmawan yang saat itu sedang menatap layar komputer.

“Serius Wan? Jadi saya tidak bisa ikut?” Saya bertanya dengan tatapan yang begitu tajam.

“Bisa ikutlah. Tinggal buat akun twitter saja lalu follow twitternya pihak penyelenggara. Toh tidak ada syarat khusus mengenai seberapa banyak pengikut dan lama penggunaannya.” Darmawan kembali menjelaskan dengan intonasi yang mulai meninggi. Mungkin dia mulai kesal dengan begitu polosnya pikiran saya.

“Oh, iya ya. Ok, akan segera saya buat.”




Jujur saja, menggunakan twitter bagi saya belum terlalu begitu lama, baru dibuat pada tahun 2018 yang lalu. Jika dibandingkan dengan teman-teman yang seangkatan, mereka sudah ada yang menggunakannya semenjak tahun 2009. Itu artinya saya sudah ketinggalan sembilan tahun dari mereka.

Pembuatan akun twitter tersebutpun dikarenakan faktor yang mendesak, yaitu memenuhi syarat perlombaan. Bukan karena adanya keinginan sendiri untuk mencoba media sosial yang baru. Meskipun begitu, rasa penasaran saya untuk mengetahuinya lebih lanjut bisa dibilang cukup tinggi. Saya bertanya kepada Darmawan dan Mbah google bagaimana cara memainkannya. Selain mengikuti akun twitternya penyelenggara lomba, saya pun juga mengikuti akun-akun para petinggi negara dan pesohor lainnya. Yah, meskipun saat itu pengikut saya hanya ada satu, yaitu Darmawan.

Melihat follower yang tunggal, saya pun mencoba menanyakan kebeberapa teman terdekat saya. Apakah mereka menggunakan twitter? Berharap nantinya angka di follower saya bertambah. Namun jawaban yang didapatkan adalah ‘tidak’. Beberapa dari mereka pernah sempat membuat akun twitter, namun kemudian meninggalkannya. Alasan mereka katanya kurang seru.

Hingga akhirnya, saya pun mengikuti jejak mereka. Meninggalkan twitter dalam waktu yang lama.

Disisi lain, pemakaian facebook semakin diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, emak-emak yang separuh waktunya dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarga juga banyak menggunakannya. Bapak-bapak juga tidak mau ketinggalan, mereka juga mulai aktif menggunakan facebook. Katanya sih ingin menjalin silaturrahmi dengan kerabat-kerabat yang berada jauh disana. 

Waktu dari waktu berlalu, hingga akhirnya tiba di tahun 2020. Saat itu ada sebuah kegiatan disalah satu hotel di Kota Pontianak. Untuk menjadi pesertanya mesti memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah mengikuti akun twitternya penyelenggara. Busyet dah, lagi lagi saya harus berurusan dengan yang namanya twitter.

Saya pun mencoba untuk membangkitkan kembali akun twitter saya dari liang kuburnya. Saya sangat bersyukur karena akun tersebut masih bisa hidup. Yah meskipun dengan tampilan seadanya, tanpa tweet dan hanya 2 follower. Asyik, nambah satu follower yang nyasar.

Oh, iya. Setiap peserta kegiatan diatas juga diwajibkan untuk saling mengfollow akun twitter peserta lainnya. Namun sebelum melakukkannya, saya mencoba terlebih dahulu untuk menambah jumlah pengikut. Bukan! Bukan membeli jasa penyedia follower, melainkan saya menanyakan kesemua teman yang ada dikontak whats up saya ‘apakah mereka punya akun twitter’. Yang sudah lama tidak menggunakannya saya paksa untuk segera membuka, walau hanya sekedar mengikuti akun saya. Bukannya apa, malu juga kan sama peserta lainnya yang sudah punya follower banyak.

Dari hasil chat sana-sini, diatambah lagi tanya-tanya teman yang ada di facebook, akhirnya follower saya bertambah menjadi 7 orang. Ternyata susah juga mencari teman yang menggunakan twitter. Saya pun mulai mengikuti twitter twitter para peserta. Disaat itulah, jumlah follower saya meningkat darstis menjadi  menjadi 34. Alhamdulillah...

Ternyata berburu follower twitter itu susah dan butuh perjuangan.

Satu persatu tweet saya mulai muncul di beranda. Entah itu mengenai seputar aktivitas yang dilakukan maupun tentang masalah perasaan. Kadang-kadang juga meretweet punya orang. Saat itulah, pamor twitter dan facebook mulai setara dimata saya. Membuka twitterpun rasanya sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakukan setiap hari. Yah, meskipun hanya sekedar membuka tanpa membuat cuitan.

Hingga akhirnya, tekad saya untuk menambah lagi follower terpicu oleh suatu hal. Dimana teman yang sudah  dikenal lama tidak mengfollowback. Entar kalau jumpa tak jewer telinganya. Mungkin  gitu kali ya kalau sudah banyak follower?

Awalnya saya ber-positive thinking, munkin saja dia lagi jarang buka twitter. Hingga akhirnya tweet dia sering muncul ditimeline. Saya pun mencoba untuk sering menyukai tweetnya, walaupun tidak jarang hanya saya saja yang menyukainya. Namun apa daya, harapan untuk difollback belum berbuahkan hasil. Saat itulah saya berfikir kalau dia merasa gengsi untuk mengikuti akun saya yang pengikutnya hanya secuil. Oh, sungguh teganya-teganyaa.

Saya pun berusaha keras untuk berburu para follower. Satu persatu akun twitter para blogger diikuti. Higga akhirnya saya mendapat peringatan agar tidak mengikuti terlalu banyak dalam hari yang sama. Saat itu kurang lebih 400 akun twitter saya ikuti. Hari Berikutnya pun saya melakukan hal yang sama, dan SELAMAT! Saya berhasil mendapatkan sanksi karena telah melanggar kebijakan mengikuti twitter. Setidaknya kemampuan untuk mengikuti, menyukai dan me-retwee akan dibatasi selama tiga hari.

Tapi lumayanlah, setiap tiga akun yang yang  saya follow, satunya meng-followback. Makasih para followers. Sekarang pengikut saya sudah tiga ratusan lebih.

Oh, iya. Akun teman yang diatas tetap saya ikuti lho.. Berharap suatu saat dia akan sadar kalau disetiap cuitannya selalu ada jempol saya yang menyukainya. Berharap tidak berdosakan?

Udah, hanya itu saja. Tabe’...

Monday, June 29, 2020

5 Ciuman yang Membuat Meriang

"Ciuman ini spesial dan sungguh berbeda. Ciuman yang membuat darah disekujur tubuh langsung mengalir kencang".

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasanya kurang seru juga jika hanya berdiam diri dirumah. Keluar masuk pintu dan menatap layar ponsel yang lagi kekurangan sinyal. Yah, meskipun saat itu katanya lebih baik dirumah saja karena lagi masa pandemi. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi kekebun memanen buah pinang.

Tapi rencana hanyalah tinggal rencana. Keinginan pergi kekebun saya urungkan dulu setelah melihat sebuah kotak peti. Disana terlihat lebah yang datang pergi dan sebagian kecil berkumpul di lubang pintu masuk. Saat itulah, menghampirinya adalah hal yang menarik untuk dilakukan.

Bermula dari sebuah iklan ditelevisi. Saat itu ada produk madu yang memperlihatkan bagaimana proses madu dihasilkan. Disana tampak jika madu tersebut diperoleh dari lebah peternakan. Dari iklan itulah saya mulai kepo dan ingin mengetahuinya lebih lanjut.

Saya pun mulai mencari-cari video mengenai peternakan lebah di youtube. Ada banyak konten yang membahasnya disana. Ternyata untuk berernak lebah itu sangat mudah. Tinggal membuat kotak peti serta menyusun beberapa potongan kayu untuk bergantungnya sarang. Kemudian memancingnya dengan mengoleskan gula cair didalamnya agar lebah mau mampir dan bersarang.

Hal yang membuat saya terkesan adalah disaat peroses pemanenannya. Dimana pemilik ternak lebah dengan santai mengambil madunya. Bahkan ada beberapa video yang pemanennya tidak menggunakan alat-alat pelindung apapun. Hanya berupa pisau saja untuk memotong sarangnya, kuas untuk membersihkan lebahnya dan baskom untuk tempat sarang madunya.

Lebih parah lagi adalah disaat tangannya banyak dihinggapi lebah. Dengan santai ia mengusirnya menggunakan tangan yang satunya. Tidak ada suara 'au' atau 'aduh' yang terdengar dari mulutnya. Mungkin ini yang dinamakan patuh pada tuan. Dan saat itulah saya mencoba untuk membuatnya dan mengubah orientasi pemikiran saya bahwa lebah adalah sahabat. 

Kotak lebah tersebut saya buat sekitar  tiga bulan yang lalu. Tidak terasa juga, jika sekarang sudah ada penghuninya. Dan sebagai seorang pemilik, tentunya berharap ada imbalan yang bisa didapatkan. Sudah tahukan upah apa yang saya maksud? Enak saja numpang nginap gratis.

Saya pun menghampirinya. Karena keadaan sekitar yang lagi banjir, agak sedikit sulit untuk mempercapat langkah. Selain itu juga menimbulkan suara berisik, yang membuatnya sedikit terganggu. Setelah merapat, terdengar suara riuh lebah yang ada didalam kotak peti. Namun saya tidak berani untuk menyentuhnya, apalagi harus membuka papan peti bagian atas. Yang ada malah saya yang diserbu duluan.



Saya pun kembali lagi kerumah. Memakai berbagai perlengkapan anti sengatan lebah. Seperti menggunakan sarung tangan, jacket yang tebal, sepatu boot, helm dan karung bawang. Helm? Memangnya mau balapan? Tidak sih. Tapi serius itu sangat bermanfaat dari hantaman buntutnya sih lebah. 

Sekejap saya sudah mirip astronot dengan pakaiannya yang super canggih. Dibagian kepala sudah diamankan dengan menggunakan bandana, kemudian dilapisi tudung jacket, dipasang helm dan dibungkus lagi dengan karung bawang. Pokoknya sangat mengedepankan yang namanya 'safety'. Dibagian kaki terpasang sepatu boot yang tingginya hampir selutut. Sedangkan dikedua tangan ada baskom, pisau dan kuas.

Tapi yang membuat kesal adalah ketika diketawain kakak dan adik saya. Bukannya diberi semangat, eh malah dikatain mirip alien. Kalau saya mirip alien lalu mereka mirip siapa? Selain itu, mereka juga mulai berkata yang aneh-aneh. "Awas, lebih baik disuntik bidan ketimbang disengat lebah". Hubungannya apa coba? Saya pun memilih pergi ketimbang menghiraukan omongan mereka.

Dengan sedikit susah oayah menerobos banjir, akhirnya tiba dilokasi. Saat itu masih merasa ragu apakah akan membuka tudung petinya. Bagaimana jika lebahnya menyembur keluar dan menggigit saya. Atau malah ramai-ramai mengangkat saya dan menyangkutkan di pohon durian. Tidak! Itu tidak mungkin. Semuanya akan baik-baik saja. Apalagi saya adalah pemilik petinya. Jika membandel sedikit mereka harus segera angkatkan kaki. Camkan itu...

Saya pun menarik napas dalam-dalam dan mengingat kembali mengenai tutorial memanen madu yang ada di youtube. Harus tetap selalu santai, agar lebahnya tidak merasa terganggu. Dan... bismillah, papan tersebut saya buka.

Satu dua tiga puluh detik suasana terlihat lengang. Hanya terdengar suara dengungan lebah dan detak jantung. Maklum, ini adalah pertama kalinya bagi saya melakukannya. Sesantai-santai apapun saya berusaha, tetap saja rasa cemas masih ada. Sebuah naluri alamiah manusia yang diciptakan oleh Tuhan.

Keadaan berubah ketika saya mulai mengangkat sarangnya. Satu dua bahkan belasan mulai berterbangan. Selebihnya merayap-rayap disarung tangan, bahkan ada juga yang mulai menempelkan buntutnya dicelah sarung tangan. Hingga akhirnya satu ciuman perdana mendarat dijari telunjuk. Ayo daeng, kamu harus tetap kelihatan cool...

Saya berusaha tetap santuy meskipun sebenarnya rasa sakit sengatan lebah tadi mulai terasa. Mengikuti arahan video, perlahan-lahan saya membersihkan sarangnya. Eits, tunggu dulu, madunya kemana? Kenapa hanya beberapa lubang saja yang berisi. Dan itu pun tidak penuh. Mungkin rezeki ada disarang yang lainnya.

Saya kembali mengangkat sarang yang berikutnya. Saat itulah amukan lebah semakin menjadi-jadi. Tidak ada lagi yang namanya santuy atau bersikap manis. Saya mulai mempercepat kerja, membersihkan lebah dari sarangnya. Namun keberuntungan masih belum berpihak. Sarang yang saya ambil hanya berisi calon-calon lebah. Dan lagi lagi-lagi juga, sengatan lebah kembali mendarat di jari manis.

Diatas kepala sudah tidak terhitung sudah berapa banyak lebah yang terbang. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menempel dipakaian dan karung bawang. Dengan sekuat tenaganya mereka berusaha untuk masuk. Jlebb! Hingga akhirnya, satu ciuman manis lebah mendarat dibibir. Entah sejak kapan pula dia menerobos Benteng Takeshi dan luput dari pandangan? Karena amukannya yang semakin menjadi pula, akhirnya saya berlari diatas banjir, mirip seperti Wiro Sableng yang sedang berjalan diatas air.

Namun semuanya terlambat. Dua sengatan kembali mendarat lagi ditangan. Jadi total ciuman manis yang saya dapatkan adalah lima. Saya pun segera naik kerumah dan langsung menuju mandi. Sebelum efek ciuman beracun tersebut beraksi.

"Mana madunya?" Kakak yang didapur bertanya.

"Itu. Madunya hanya sedikit. Yang banyak hanya anak lebahnya". Saya menunjuk keatas meja. Berusaha bersikap santai. Seolah-olah tidak ada musibah yang baru saja telah terjadi. 

Bukannya apa. Seandainya mereka tahu kalau barusan saja saya disengat oleh 5 lebah, pasti mereka akan tertawa-tawa. Menganggap kalau ini adalah sebuah hiburan dan patut dijadikan trending topik didalam rumah. Apalagi kalau emak sampai tahu, yang ada malah saya diomelin. Tidak! Saya harus merahasikan kejadian ini rapat-rapat.

Kemudian saya pergi kekamar, memilih rebah diatas kasur. Tidak lupa sebelumnya untuk mengunci pintu. Takut kalau lebahnya tiba-tiba datang menyerang. Hingga pada akhirnya saya terlelap.

Sekitar pukul 11.00 WIB badan saya merasa meriang alias deman. Sekujur tubuh sangat terasa dingin dan tulang-tulang rasanya ngilu. Bagian tubuh yang disengat oleh lebah jangan ditanya lagi. Pastinya sudah bengkak. Apalagi yang dibagian bibir, jelas sekali terasa nyut-nyutnya. Tapi syukurlah, meriang itu tidak berlangsung lama. Panas badan saya kembali normal setelah keringat seperti berkerja diladang keluar.

Saya pun juga menggunakan masker ketika keluar kamar. Ketika ditanya kenapa memakai itu. Saya hanya menjawab 'lagi musim korona. Harus kebih waspada'. Hal tersebut tentu saja memicu rasa penasaran dari kekuarga. Hingga pada akhirnya, saya jujur kalau tadi pagi mendapat 5 ciuman manis dari lebah. Salah satunya adalah dibibir. After that, saya dapat wejangan panjang dari emak. Tapi sungguh, emak begitu karena dia sangat sayang dan masih peduli sama saya.

Saat itu saya sadar, memanen lebah tidak semudah divideo tutorial yang ada di youtube. Tabek...

Tuesday, June 23, 2020

Rumah Tempo Dulu Yang Dirindukan

Langit mulai mendung. Awan hitam yang ada diufuk barat kini berarak menuju atas kampung, membungkam cahaya mentari. Dari jauh, terdengar suara deruan yang semakin lama semakin mendekat dan besar. Ya, itu adalah suara tetesan air hujan yang jatuh menimpa atap rumah, menerpa pepohonan dan membasahi permukaan jalanan.

Diteras rumah, saya duduk lesehan sambil bersandar disebuah tiang. Memperhatikan seberapa deras air yang terjun dari atas seng. Selebihnya menatap betapa luasnya kolam renang pribadi yang ada didepan rumah, yang adanya kalau musim penghujan tiba. Alias banjir.

Hujan sekarang ini memang agak sulit untuk diprediksi. Kadang tiada angin dan petir, eh tiba-tiba air dari atas sudah netes. Seperti sikapmu kepadaku. Yang mudah berubah tanpa ada sebab apapun. Kamu memang begitu. Eak..

Tapi ngomong-gomong, semenjak beberapa hari setelah lebaran kemarin, kampung saya dianugerahi kelebihan air. Jika hari-hari yang lalunya selalu konsisten mencapai selutut orang dewasa, maka sekarang sudah mencapai sepaha. Yah wajarlah, hujannya selalu senang mampir. Deras lagi.

Akibat dari banjir tersebut tentunya banyak hal yang dirugikan. Pertama adalah tanaman sayur saya menjadi layu akibat kelebihan air. Bukan hanya saya juga sih  yang dirugikan, tetapi juga milik  masyarakat lainnya. Bayangin saja jika akar pepohonan direndam selama satu bulan, yang ada pohon menjadi kurus tak berbuah bahkan mati.

Selain itu, orang-orang juga pada ribut karena rumah pada digenangi air. Apalagi kampung-kampung yang ada dibagian hulu yang banjirnya lebih parah. Bahkan jalanan pun tak luput darinya. Kalau boleh dikata, ini adalah lockdown sesi dua. Jika lockdown sebelumnya kami bisa menyempatkan diri pergi kekebun untuk memanen hasil tanaman, sedangkan sekarang tidak. Jika nekat untuk kekebun,  yang ada malah kami masuk ke parit karena tidak terlihat oleh banjir. Atau disapa oleh aneka ular yang sedang bergelayutan diatas pohon. Tidak lucu juga kan kalau kejadiannya kayak gitu?

Tapi meskipun begitu, kita tentunya tidak boleh berburuk sangka kepada Tuhan. Apalagi sampai membanting piring didapur terus menangis dibawah shower. Yakinlah, segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmah dan pelajarannya. Terus hubungannya dengan rumah tempo dulu apa Daeng?

Iya sabar, baru saya mau ceritakan.

Disaat lagi serius memperhatikan banjir yang semakin meninggi sekaligus berharap ada bidadari yang turun mandi, eh tiba-tiba kakak dari dalam keluar membawa album foto.

"Coba lihat nih!" Kakak menunjukkan sebuah foto.

"Foto na nigae?" Saya bertanya menggunakan bahasa dari planet Yupiter. Intinya menanyakn foto siapa itu.

"Foto na Uwak waktu kalolo." Kakak menjelaskan dengan bangga.

Foto yang diperlihatkan diatas adalah foto bapak selagi muda, sebelum menikah. Saya pun segera menutup mulut yang ternganga, sebelum lalat semakin banyak hinggap digigi.

Album tersebut lantas saya bawa masuk kedalam. Dari covernya, terlihat sudah begitu kumal. Sudah terlihat berwarna kuning dan robek dipinggir-pinggirnya. Perlahan, saya buka halaman perhalaman.

Foto-foto tersebut tidak memiliki warna, hanya hitam putih saja. Ciri khas dari foto zaman waktu dulu. Tidak hanya berisikan gambar-gambar pose Uwak (bapak) saya saja, melainkan juga ada kakek dan nenek. Disisi lain, satu dua foto sudah mulai rusak. 

Meskipun tidak menampilkan warna yang fulgar, foto-foto zaman dulu itu sangat unik. Malah bagi saya terkesan sebagai barang antik, yang harus selalu dijaga keberadaannya. Rata-rata gaya fotonya juga masih klasik, hanya menegakan badan dan menatap fokus ke bagian kamera. Tidak ada yang berfoto dengan gaya dua jari, apalagi sampai memonyong kan bibir, pose alay cabe-cabean zaman sekarang. Gaya paling keren saat itu mungkin hanya bercekak pinggang.

Dari sekian foto, saya tertarik dengan gambar yang ada dibawah ini.

Sebelum trend A. Rafik menyerang

Bukan! Bukan! Anak kecil yang telanjang dada itu bukan saya. Uwak saya saja saat itu masih perjaka alias belum menikah. Nah diatas adalah salah satu foto diera 60/70 an. Hal yang membuat saya kagum adalah adanya rumah tempoe doeloe dibelakangnya, bukan kerennya tampilan mereka yang mirip pemain GGS. Genit-genit selalu...

Tapi tolong jangan fokus ke bagian jendelanya ya. Maklum, setelah foto ini diposting di media sosial, ada yang komen kalau ada penampakan dijendelanya. Enak saja sembarangan ngomong. Itu orang tdan merupakan pemilik rumahnya (padahal sembelum dikasih tahu Uwak, saya juga sempat keceplosan begitu, hehe).

Seperti yang diketahui, rata-rata rumah tempo dulu itu adalah rumah panggung. Sebuah rumah yang yang dasarnya tidak menempel ke tanah. Atau dengan kata lain memiliki tiang bawah yang tinggi. Jadi kita bisa lari-lari dibawahnya atau duduk bersantai sambil menikmati segelas kopi.

Nah membicarakan rumah tradisional tentu tidak akan lepas dengan yang namanya perkembangan zaman. Dari rumah yang tempo dulu tentu berbeda yang tempo sekarang. Paling yang bertahan adalah rumah adat yang keberlangsungannya dijaga oleh pemerintah setempat. Sisanya sudah berubah ke yang lebih moderen.

Dari zaman ke zaman, bentuk rumah itu selalu berevolusi. Dari yang dulunya tiang bawahnya mencapai dua meter, perlahan-lahan ketinggiannya menurun satu meter. Tidak lama kemudian menjadi setengah meter dan pada sampai akhirnya tidak memiliki tiang alias dasar rumahnya langsung menempel ketanah (katanya sih ini adalah rumah yang moderen). Bahkan tidak jarang, ketinggiannya hanya satu jengkal dari tanah.

Saya jadi penasaran bagaimana rumah dimasa yang akan datang? Mungkin permukaan lantainya sudah lebih rendah dari permukaaan tanah. Begitu hujan besar tiba-tiba datang, langsung deh jadi kolam renang indoor. Didepan rumah sudah terpampang baliho 'KOLAM RENANG MURAH'.

Sekarang bisa dilihat, berapa banyak rumah yang terdampak oleh banjir. Lantai digenangi air, berbagai perabotan rumah pun tak luput darinya. Yang rugi siapa juga? Ingin berharap bantuan dari pemerintah? Paling hanya berupa sembako. Mana pula mau membelikan kulkas yang rusak akibat kerendam banjir

Nah, itu adalah salah satu dari keunggulan rumah tempo dulu yang umumnya masih berbentuk panggung. Ketika banjir datang tidak perlu merasa khawatir. Khawatir pun paling karena memikirkan keadaan padi diladang yang terendam air. Tapi itu dulu.

Selain terhindar dari banjir, rumah panggung tempoe doeloe juga didesain untuk menghindari dari binatang liar. Seperti dinosaurus, tyronnasurus, ankylosaurus dan sagitarius. Barusan binatang apa ya? Yah pada intinya rumah yang tinggi akan menghindarkan kita dari binatang buas. Tidak lucu juga kan, pas asik-asiknya mimpi basah, tiba-tiba disamping sudah ada macan yang lagi ngiler. Akhirnya basah benaran dah...

Kolong rumah yang tinggi juga digunakan untuk banyak hal. Seperti tempat untuk berinteraksi dengan warga, menumbuk padi (ini saat zaman bahula), dan menyimpan berbagai barang perkakas pertanian. Bahkan ada juga yang menggunakannya sebagai tempat ternak hewan.

Karena masih membicarakan rumah tempo dulu, saya jadi teringat akan masih kecil. Saat itu masih ada rumah panggung yang tinggi kolongnya mencapai dua meter. Rumah itu adalah rumah alm. Tok Useng (Tok Husein). Jadi kalau berkunjung kesana bisa berlari-lari dibawahnya. Jendela-jendelanya yang besar membuat diri leluasa untuk melihat pemandangan sawah yang luas. Bisa dibayangkan bagaimana serunya bersantai diatas rumah panggung dengan terpaan angin sepoi-sepoi? Belum lagi atapnya menggunakan atap sirap yang membuat didalamnya terasa adem meskipun matahari lagi paas bedengkang.

Mungkin hal-hal itulah yang membuat saya rindu akan rumah tempo dulu. Tabe'...

Wednesday, December 11, 2019

4 Pesan Motivasi Nenek Untuk Menanam


Ayo siapa disini yang masih punya nenek? Selamat ya kalo anda masih punya nenek! Karena biasanya seorang nenek itu memiliki banyak pesan bijak yang biasanya diberikan. Selain itu, seorang nenek juga sangat menyayangi cucunya, bahkan tidak segan-segan untuk memberikan kasih sayang yang manja.

Namun buat kalian yang sudah tidak punya nenek tentunya tidak usah berkecil hati. Saya sendiri saja saat ini sudah tidak memiliki seorang nenek. Baik itu sebelah ayah maupun dari sebelah ibu. Namun kisah tentang nenek ataupun pesan bijaknya bisa kita peroleh dari ayah maupun ibu.

Nah, kali ini saya akan membagikan beberapa pesan bijak yang masih dipegang dalam keluarga. Karena nenek saya merupakan seorang petani, maka pesan-pesan yang disampaikannya pun tidak jauh dari hal tersebut. Berikut 4 pesan motivasi nenek ketika akan menanam.

1. Menanamlah, karena jika mati tidak akan meminta kain kafan

"Menanamlah, karena kalau mati pun tidak akan minta dikafani". Begitulah pesan nenek yang selalu disampaikan ibu kepada saya. Maksud dari pesan tersebut adalah untuk memotivasi agar tidak ragu-ragu untuk menanam. Baik itu berupa tanaman tahunan maupun tanaman musiman. Baik itu tanaman perkebunan maupun hanya sayuran. Toh kalaupun tanaman tersebut tidak tumbuh atau mati, tidak meminta kita untuk mengkafani. Dan jika tanaman tersebut tumbuh dan berbuah, yang untungkan kita juga bisa menikmati.


2. Menanam adalah investasi masa depan

Salah satu alasan seseorang malas untuk menanam adalah karena harus menunggu. Yah memang begitulah. Kita harus sabar untuk menunggu hasilnya. Semuanya butuh proses, mulai dari pembibitan, perawatan hingga sampai berbuah. Apalagi tanaman yang ditanam membutuhkan waktu lama.

Tapi ingat, ketika masa berbuah tiba tentunya akan memberikan rasa kepuasan yang tak terhingga. Sebuah penantian dan kesabaran yang pada akhirnya berbuah manis. Apalagi panennya tidak hanya saat itu saja. Masih ada tahun dan musim-musim berikutnya yang siap menunggu. Nah kalau begitukan enak, ada jaminan dimasa depan. Kalau kata nenek dan Bang Haji Rhoma Irama mah 'berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

3. Jangan sampai masuk ke kebun orang

Menanam itu bisa dilakukan siapa saja. Baik itu kaum muda maupun kaum tua. Baik itu orang kurang sejahtera maupun orang kaya. Semuanya bisa. Hanya tinggal kemauan saja. Seperti nenek saya, meskipun sudah tua dan jalannya pun kadang sering berhenti, namun tetap saja menanam.

Pernah suatu hari ibu dan nenek pergi ke kebun. Saat itu nenek membawa beberapa bibit pohon durian lokal untuk ditanami. Lalu terjadilah percakapan sebagai berikut.

"Itu pohon durian ya buk?" Tanya ibu kepada Nenek.

"Iya, pohon durian" jawab nenek singkat.

"Kapan bisa dinikmati hasilnya? Kan pohon durian untuk bisa berbuah membutuhkan waktu yang lama." Tanya ibu lagi.

"Tanam saja bibit apa yang kita miliki. Seandainya pun ibu tidak bisa menikmati (meninggal dunia terlebih dahulu), tetapi anak dan cucuku bisa merasakannya." Nenek memberi nasehat dengan takzim.

"Satu lagi, ibu tidak ingin kelak anak dan cucu ibu masuk ke kebun orang. Hanya gara-gara buah tetangga lebih menarik." Tambah nenek.

Kalau saja si Nenek hanya memikirkan dirinya, tentu akan berpikir panjang untuk memulai menanam. Bayangkan saja, durian lokal baru bisa berbuah rata-rata berumur 15 tahun. Dan saat itu belum ada yang namanya durian cangkok, semuanya ditanam dari bijinya langsung.

Dari percakapan diatas tentunya banyak pesan yang bisa diambil. Salah satunya adalah nenek saya tidak mau jika kelak keturunannya mecuri dikebun orang atau hanya bisa melihat saja apa yang dimiliki orang lain. Akhirnya kebun tersebut ditanamilah berbagai macam buah. Ada kelapa, berbagai varietas mangga, durian, cempedak, nangka, pisang, manggis, langsat, rambutan, jambu, kopi dan masih banyak yang lainnya. Akhirnya punya tokoh buah sendiri. Hehe

4. Niatkan Menanam Untuk Kebaikan

Nenek selalu berpesan, jika ada yang meminta buahmu, berikan! Jangan pelit dengan orang lain. Lagianpun dari rezeki yang kita dapati ada sebagian milik mereka. Lagianpun, kalau hanya dikonsumsi untuk sendiri tentunya sangat berlebihan. Ingat, mungkin hari ini kita adalah orang yang memiliki, tapi bisa jadi besok lusa kita adalah orang yang tidak memiliki.

Yah begitulah, kalau sudah nenek yang bicara tidak ada yang berani membantah. Makanya nenek juga bilang, kalau ketika menanam itu diniatkan untuk kebaikan. Insya'Allah hasilnya akan melimpah. Kebaikan yang dimaksud adalah seperti diatas. Perhatikan kiri kanan tetangga (dikasikan juga ke tetangga ketika panen tiba).

Saya juga baru sadar, ternyata manfaat kebaikan nenek tersebut tidak hanya dirasakan oleh anak cucunya ataupun tetangganya, tetapi juga alam dan makhluk lainnya. Bayangkan saja, jika tanah dibiarkan tandus begitu saja tanpa ditanami pohon, tentunya banyak hewan yang kehilangan tempat tinggal dan susah mecari makan.

Tupai tidak lagi bisa meloncat dari dahan satu kedahan lainnya, burung tidak ada lagi tempat untuk bersarang dan kuntilanak juga tidak ada tempat untuk bergantungan (Iya, serius. Pohon durian adalah tempat favorit makhluk tersebut). Dan yang tidak kalah pentingnya, pohon-pohon tersebut adalah salah satu penyumbang oksigen yang kita hirup sampai saat ini.

Saturday, December 7, 2019

Kisah Korban Begal dan Kartu BPJS

Sumber gambar: monitor.co.id

Siang itu pukul 13.00 Wib. Matahari dengan terik menyinari Kota Khatulistiwa, Pontianak. 

Diteras tunggu, banyak keluarga pasien yang duduk, memenuhi kursi panjang dan pinggiran teras. Mereka bercengkerama, menceritakan tentang penyakit yang diderita keluarganya sekaligus tentang kampung halaman. Bahkan tidak jarang juga, mereka menceritakan tentang suster yang galak (Kalau menurut saya sebenarnya suster tersebut tegas dengan peraturan yang ada).

Cuaca yang panas menjadikan tempat tersebut sangat cocok untuk bersantai. Apalagi disekitarnya ada pohon dan sesekali angin datang berhembus. Lagian, didalam ruangan pasien terasa cukup gerah.

"Dek, boleh minta tulung ke?". Seorang bapak-bapak dengan taksir usia 50 tahun menghampiri saya. Dari logat bicaranya saya bisa tau bahwa bapak tersebut berasal daerah Sambas atau sekitarnya.

"Minta tolong ape pak ?" Tanya saya kembali dengan menggunakan bahasa Melayu Pontianak, yang pastinya bapak tersebut mengerti.

"Anakku be daan tau ngurus BPJS. Bise ke ngawankannye?" (Kurang lebih begitu kata bapaknya, mohon maaf jika ada kesalahan ejaan). Maksud bapak tersebut meminta tolong kepada saya untuk menemani anaknya mengurus BPJS. 

Saat itu saya ragu untuk mengatakan 'ia'. Bukan karena tidak ingin menolong, tetapi ada orang lain yang juga menitip barang kepada saya. Mana mungkin saya meninggalkan begitu saja diatas kursi, atau menitipkan lagi barang orang lain kepada orang lain.

Saya pun menjelaskan hal tersebut kepada si Bapak. 

"Biar bapak yang jagekannye". Tawar si bapak.

Saya pun menerima tawaran bapak tersebut dan percaya bahwa barang yang dititipkan akan aman ditangan beliau. Bersama anaknya, saya beranjak menuju ke BPJS Center yang ada dirumah sakit tersebut.

Didalam perjalanan menuju kesana banyak cerita yang saya dapatkan. Dimulai dari pasien yang ternyata merupakan korban dari begal motor. 

Saat itu, korban lagi bersantai di sebuah warung bersama temannya (Kejadian di Kecamatan Telok Keramat, Kabupaten Sambas). Tiba-tiba datang seorang pria yang meminta pertolongan untuk diantar kesebuah tempat. Karena merasa kasihan dan diimingi akan dibayar 30 ribu, si Korban akhirnya mengiyakan.

Namun apa mau dikata, orang yang diantar tersebut ternyata adalah seorang penjahat. Si korban ditusuk senjata tajam dari arah belakang. Penjahat tersebut pun juga berhasil melarikan sepeda motor si korban. Seperti pepatah mengatakan, air susu dibalas dengan air tuba. Sebuah kebaikan yang ternyata dibalas dengan kejahatan. Sungguh terlalu.

Saya dan Khairul (anak bapak yang meminta pertolongan tadi atau kakaknya si korban) tiba di BPJS Center rumah sakit. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya nama korban dipanggil. Saya kira segala urusan saat itu telah selesai. Namun ternyata tidak! Si petugas malah menginterogasi kami. 

"Apa benar pemilik kartu ini korban dari begal?" Tanya petugas dengan raut muka yang penasaran.

"Iya betul". Jawab saya singkat.

"Dimana kejadiannya?" Tanya petugas tersebut lagi.

"Di Sambas buk" timpal saya.

Singkat cerita ibu tersebut menjelaskan bahwa korban dari begal tidak bisa dibiayai oleh BPJS. Malahan kami juga dipersilahkan untuk menanyakan langsung ke kantor BPJS. Kami pun pulang ke ruang rawat inap.

Dilorong rawat inap tampak si bapak yang sepertinya sudah menunggu kami. Sebelum si bapak bertanya, terlebih dahulu anak yang menjelaskannya. Mendengar hal tersebut, tampak raut sedih di wajah lelah si bapak. Kini beban bapak bertambah lagi dengan urusan biaya rumah sakit.


Tidak hanya sampai disitu, saya langsung menyarankan untuk langsung datang saja ke kantor BPJS sesuai saran ibu sebelumnya. Karena mereka tidak tau lokasi yang akan didatangi, akhirnya saya menawarkan diri untuk menolong. Selain karena saya mengetahui seluk-beluk jalan Pontianak, saya juga memiliki kendaraan yang bisa mengantarkan mereka. Sungguh, membuat orang lain bisa tersenyum itu memberikan rasa kebanggaan tersendiri pada diri kita.

Tibalah kami di kantor BPJS cabang Kota Pontianak. Saat itu pukul 14.20 WIB. Meskipun sudah hampir sore, namun tetap saja kursi tunggu ramai dipenuhi oleh manusia. Kami pun harus berdiri, baru setelah beberapa saat bisa mendapatkan tempat duduk.

Hari pun semakin sore, pengunjung yang tersisa saat itu hanya saya dan Khairul. Saya pun mencoba menjelaskan kepada Mbak yang bertugas dibagian pelayanan tersebut. Setelah mendengarkan penjelasan kami berdua, Mbaknya izin pamit dan langsung pulang kerumah.

Pulang kerumah? Tentu tidaklah! Tetapi izin pamit untuk masuk keruangan. Mungkin si Mbaknya tidak bisa memberikan keputusan langsung dan harus berkoordinasi dulu dengan yang lainnya.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya si Mbak datang dengan senyum simpul khas seorang pelayan yang baik.

"Maaf dek, untuk korban begal dan korban tindak pidana yang lainnya tidak bisa dibiayai oleh pihak BPJS". Mbaknya langsung menjelaskan dengan ekspresi wajah yang turut prihatin.

"Tidak bisa dipertimbangkan lagi kah Mbak? Kasian Mbak, keluarga korban sangat membutuhkan biaya perawatan". Timpal saya sedikit menawar kepada Mbaknya".

"Ini sudah peraturannya dek. Begini saja, saya saranin adek datang ke LPSK untuk mengajukan permohonan biaya pengobatan". Si Mbak mencoba memberikan solusi kepada kami.

"Maaf Mbak, LPSK itu apa ia?" Tanya saya yang saat itu betul-betul tidak tahu dan penasaran. Bertanyalah sebelum dikenakan biaya. Lagian pun jika banyak bertanya tidak akan ditimpuk oleh mbaknya.

"LPSK itu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Jadi setiap korban dari tindak pidana boleh mengajukan permohonan biaya berobat kesana". Penjelasan terakhir si Mbak sebelum kami izin pamit.

Kami pun pulang kerumah sakit dengan harapan yang kandas.