Thursday, July 16, 2020

Rantau Panjang dan Segelas Kopinya

Ada begitu banyak tempat yang memiliki nama serupa. Salah satunya adalah “Rantau Panjang” yang bisa ditemukan diberbagai wilayah Indonesia. Anda bisa menjumpainya di Aceh, di Medan, di Jambi, di Riau, dan di Kalbar. Bahkan di negeri tetanggapun juga ada. Namun apakah dibalik namanya mempunyai cerita yang sama? Entahlah.

Sang surya mulai kembali diperaduannya, menyisakan seberkas cahaya jingga digaris cakrawala. Suara adzan pun berkumandang, memanggil jiwa-jiwa untuk mendekatkan diri kepada Sang Robbi. Perlahan, terangnya siang dimakan oleh pekatnnya sang malam.

Kendaraan kami melaju dijalan raya yang begitu asing. Iya, bagi saya ini adalah pertamakali melaluinya dan kemana tujuan pun tidak tahu. Yang pasti, malam ini kami akan kerumah teman bernama Tarmidji. Disanalah untuk satu malam kami menumpang nginap, sebelum melanjutkan pulang ke Kota Pontianak. Cek cerita sebelumnya disini.

Yansah, yang saat itu mengemudikan motor membuntuti setiap arah kendaraan Tarmidji. Jalanan yang sebelumnya cukup terang oleh cahaya lampu jalanan, kini hilang menyisakan cahaya kendaraan dan rumah dari pinggiran jalan. Itu artinya, kami telah memasuki wilayah baru dan sudah jauh meninggalkan ibu kota kabupaten.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami tidak tahu kemana tempat yang akan dituju. Apa nama tempatnya dan bagaimana keadaan disana tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Hanya menerka-nerka, mungkin tempat yang akan didatangi banyak terdapat pohon kelapa, atau jika lebih jauh kedalam adalah pohon sawit.

Binatang kecil penikmat malam pun banyak yang berterbangan. Mereka berpesta pora, mengejar cahaya kendaraan yang begitu menarik perhatiannya. Satu ekor sempat memasuki mata, membuat pemandangan terasa perih. Itu saya yang sedang berbonceng, bagaimana lagi dengan Yansah yang berada didepan?

Hingga akhirnya kami keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah jalan perkampungan. Sempat berbelok satu kali, sebelum akhirnya tiba ditujuan. Oh iya, setiap jalan disini juga disertai adanya aliran parit. Parit ini lah yang dahulunya digunakan sebagai jalur transportasi sebelum pembangunanan jalan digalak-galakkan.

Sebagai seorang pendatang, tentunya kita harus menjaga yang namanya kesopanan. Salah satunya adalah mengucapkan salam, untuk memberi tahu ada kedatangan orang sekaligus memanjatkan do’a bagi yang didalamnya. Namun malam itu, rumah yang kami datangi begitu sepi. Hanya terdengar bunyi jangkrik dikebun dan samar-samar suara tetangga. Tetangga manusia, bukan tetangga gaib!

“Orang tue kemane, Tar?” Tanya saya yang saat itu heran kenapa ruamhnya begitu sepi. Sekedar informasi, percakapan yang kami gunakan adalah bahasa Melayu.

“Kalo Emak pegi tempat keluarge, sedangkan Bapak ade disebelah ketempat kakak.” Tarmidji menjawab sambil menunjuk arah.

Saya pun duduk disebuah kursi yang ada didekat jendela. Tak ada kursi lainnya, hanya itulah satu-satunya. Disisi lain, Yansah mulai merebahkan badannya diatas lantai ruang tamu. Tidak lama kemudian, Tarmidji keluar dari kamar sambil membawa sehelai handuk. Lantas menyuruh kami untuk segera mandi.

Oh iya, ketika sampai tadi saya sempat bertanya tentang nama tempat yang kami datangi ini. Namanya adalah Parit Timur, tepatnya di Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Pantasan saja perjalanannya terasa jauh, ternyata kami telah berpindah kecamatan. Dari Sukadana ke Simpang Hilir.

Sekedar informasi, ada banyak daerah di Indonesia yang bernama Rantau Panjang. Seperti Rantau Panjang di Merangin, Rantau Panjang di Kalimantan Timur, Rantau Panjang di Ogan Ilir, Rantau Panjang di Deli Serdang dan Rantau Panjang di Sambas. Dan ada banyak lagi yang lainnya.

Setelah mandi dan makan malam,  waktu selanjutnya adalah bersantai-santai di ruang tengah. Saat itulah seorang bapak-bapak datang dan menghampiri. Ternyata beliau adalah ayahnya Tarmidji yang baru saja pulang dari rumah anaknya. Kami pun menyalaminya dan melemparkan senyuman. Bukan melemparkan cacian apalagi melempar batu, ya.

“Siape kita’ ni? Ayah Tarmidji membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Kita’ dalam bahasa Melayu berarti kalian. 

Saya dan Yansah pun memperkenalkan diri sekaligus memberitahukan dari mana kami berasal.  Dari sini jugalah saya tahu kalau nama beliau adalah Pak Arifin. Obrolan pun semakin seru disaat cerita demi cerita dituturkan. Mulai dari Oesman Sapta Odang  hingga cerita sejarah Rantau Panjang yang begitu menarik perhatian. Inilah bonusnya perjalanan, selain menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan cerita.

“Dulu’nye kampong ini maseh utan, hingge akhernye datang para orang-orang onto’ buka’ lahan. Disitu’lah awal mulenye name Rantau Panjang.” Pak Arifin menceritakan dengan mafhum. Dari guratan wajahnya dan sorotan mata, terlihat begitu jelas beliau sedang berusaha mengingat masa lalu. Mengumpulkan rangkaian-rangkaian kenangan yang kian hari mulai lapuk.

Berdasarkan cerita Pak Arifin dan ditambah lagi informasi dari situs milik Desa Rantau Panjang, bahwa  tempat yang sedang diceritakan ini memang memiliki sejarah yang amat panjang. Namun disini, saya berusaha untuk menuliskannya secara singkat agar lebih cepat dipahami.

Dikisahkan, penduduk pertama Rantau Panjang adalah warga yang hijrah dari Pelintu, Batu Teritip dan Pekajang. Disini mereka bercocok tanam dan menetap di Dungun Karu, Terus Landak, Sungai Siput dan Terus Jawe. Setelah puluhan tahun lamanya, mereka kemudian hijrah kembali menyusuri hilir Sungai Rantau Panjang dan menetap didaerah bernama Sungai Bagan. Kini, tempat tersebut  telah berubah nama menjadi Kampong Tembok Baru.

Dari tahun ke tahun, penduduk Tembok Baru semakin ramai. Tidak hanya karena adanya kelahiran, melainkan juga ramainya para perantau yang singgah dan menetap. Sebagian besar yang datang adalah dari Bugis, Banjar dan Tionghoa. Sehingga jangan heran jika adat istiadat etnis Bugis dan Banjar melekat pada warga Rantau Panjang sampai sekarang ini. Dari cerita yang panjang para perantau tersebutlah sehingga nama ini disematkan.

Saya pun mengangguk-angguk mendengarkannya. Sesekali bertanya, disaat ada rasa penasaran yang melintas. Dari arah dapur datang Tarmidji membawa penampan yang berisi kopi hangat. Asapnya yang mengepul tipis, menyentuh lembut saraf sensorik hidung. Ingin rasanya segera menyeruputnya. Disisi lain, sepiring kue juga turut disajikan. 

“Sile dipinom.” Pak Arifin menyuruh kami untuk meminum kopi.

Tanpa basa-basi, karena takut segera basi, saya pun langsung menuangkan kopi ke sebuah gelas. Yansah pun tidak mau ketinggalan, ia juga ikutan setelah saya. Degan membaca basmalah, kopi hitam mendarat perlahan dibibir. Euh, rasanya begitu nikmat. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan turun membasahi muka bumi. Dinginnya badan segera terhangatkan oleh segelas kopi Rantau Panjang.

Hal yang harus diakui, pamali rasanya bagi saya jika tidak menyeruput kopi yang telah disajikan. Apalagi bagi saya kopi adalah salah satu minuman kesukaan. Oh iya, meskipun menyukainya, bukan berarti saya paham betul akan seluk beluk kopi. Yang saya tahu hanya dua, enak dan sangat enak.

Cerita pun mulai beralih setelah saya melemparkan sebuah pertanyaan. Usut punya usut, ternyata kopi yang sedang kami nikmati adalah kopi yang dipanen dari Rantau Panjang itu sendiri. Malahan petiknya langsung dibelakang rumah Pak Arifin. Katanya juga, kopi merupakan sumber penghasilannya selain karet. Pantasan saja kopinya terasa nikmat dan begitu segar (baru, tadak kepang).

Semoga saja, dengan banyaknya tanaman kopi disini bisa menjadi peluang untuk dibuat produk unggulan. Sehingga bisa mengangkat ekonomi masyarakat dan memperkenalkan nama Rantau Panjang atau Kayong Utara dikancah nasional. Kalau bisa juga internasional. 

Hujan pun redah, selanjutnya kami diajak Tarmidji jalan-jalan. 

Segelas Kopi Rantau Panjang

Besok paginya lagi-lagi kami disuguhkan minuman kopi. Tidak lupa pula sepiring kue yang menemaninya. Namun sebuah kejadian heboh mengejutkan kami disaat sedang nikmatnya menyeruput segelas kopi. Bukan, bukan goyang hebohnya Mbak Inul, melainkan terdengar suara Pak Arifin didapur yang sedang meminta tolong. Sontak kami langsung berlari, menimbulkan suara berisik diatas lantai papan.

Ternyata api sedang berkobar besar dari sebuah tungku tempat memasak. Kalian tahukan bagaimana bentuk tempat memasak tradisional? Dimana diatasnya banyak tersusun kayu api. Saya yang saat itu juga mulai panik karena lidah api tersebut mulai menjilat  dinding dapur. Untung saja tempat memasaknya ada diluar dapur. Dengan bantuan pengendali air, akhirnya  api bisa di padamkan.

“Makaseh, ontong ade kitak” Pak Arifin mengucapkan terimaksih kepada kami yang telah berjibaku menyiramkan air kekobaran api. Meskipun sudah merasa legah, namun sisa rautan ketakutan masih berbekas diwajahnya.

Sebenarnya, bukan beliaulah yang harus mengucapkan terimakasih, melainkan kami. Karena berkat bantuan beliau dan Tarmidji lah sehingga kami bisa mendapatkan penginapan  dan makanan gratis. Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah mendapatkan cerita dalam setiap tegukan kopinya. Sekitar pukul 10.00 WIB kami pamit untuk pergi. Saatnya pulang ke Pontianak.

Yansah dan Pak Arifin

Kalian tahu apa penyebab kebakaran tadi? Penyebabnya adalah kakaknya Tarmidji yang tidak memadamkan bara api setelah menggoreng biji kopi. Tabe’...


Media Sosial yang digunakan: