Tuesday, July 21, 2020

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger

Cerita Kota Pontianak Dari Travel Blogger. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah artikel tentang perjalanan seorang travel blogger ke Kota Pontianak. Karena yang diceritakan adalah kota saya, tentunya hal tersebut membuat saya penasaran akan  isi cerita tersebut. Hingga akhirnya saya buka. Mata pun mulai membaca, hingga jatuh cinta diawal mula rangkaian katanya.

@khatulistiwapark.official

Seperti travel blogger pada umumnya, setiap perjalanan yang dilakukan adalah inspirasi untuk membuat jejak cerita di blognya. Begitu juga seorang travel blogger yang satu ini, mengisahkan perjalanananya ke Kota Pontianak yang hanya sebentar saja, namun mampu menjajal banyak destinasi wisata di Kota Khatulistiwa.

Tidak tanggung-tanggung, cerita perjalanannya yang singkat itu mampu dia tulis dalam tiga seri. Part 1, part2 dan part3. Jujur saja saya akui, tulisannya sangat begitu apik dan enak dibaca. Karena itulah, setiap cerita perjalanannya saya ikut menikmati dan merasa seakan-akan Pontianak merupakan sebuah kota yang asing bagi saya. Karena rangkaian ceritanya yang bagus pula, saya mampu menghabiskan tiga ceritanya hanya dua kali duduk. Istirahat sejenak hanya karena harus setor air ke toilet.

Dalam cerita perjalanannya, ia membeberkan satu-persatu tempat wisata yang yang ada di Kota Pontianak. Yang menurut saya begitu lengkap dengan menampilkan peta tempatnya, jepretan gambar yang begitu bagus dan deskripsi yang sangat menarik. Dia menyambangi Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikonnya Kota Pontianak. Dia juga mendatangi Rumah Adat Dayak (Rumah Radakng) dan Rumah Adat Melayu. Disini dia menggambarkan begitu harmonisnya masyarakat Pontianak walaupun memiliki latarbelakang yang berbeda. Dia juga menyusuri Sungai Kapuas yang menjadi urat nadi kehidupan sekaligus kebanggaan masyarakat Kalbar.

Tidak hanya itu, Berbagai kuliner yang dia sempat nikmati pun juga diperkenalkan. Seperti Chai Kue, kembang tahu, Kopi Pontianak, Es Klim Petrus dan yang lain-lain-lainnya. Sebagai orang Pontianak tentunya saya sangat bangga membacanya. Bagaimana tidak? Wisata-wisata kita lagi diceritakan dan dibilang menarik. #kamekbangge.

Di hari terakhirnya, sebelum dia terbang meninggalkan Pontianak, lagi-lagi ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke tempat wisata lainnya. Saat itu adalah Keraton Kadariayah, Masjid Jami’ dan Kampung Beting. Disinilah ia menyebutkan keprihatinannya mengenai banyaknya sampah yang berada dikolong rumah warga. Ya, saya tahu betul, ada banyak begitu sampah rumah tangga di Kampung Beting yang berserakan. Tidak hanya dikampung Beting, melainkan juga kampung-kampung lainnya yang ada ditepian Sungai Kapuas.

Jujur saja, saya yang membacanya saat itu juga turut sedih. Sedihnya karena sayang saja, Pontianak yang awalnya diceritakan sangat menarik harus sedikit tercoreng oleh masalah sampah. Tidak hanya sampai disitu, dikolom komentar banyak juga para pembaca yang nimbrung memberikan tanggapannya. Kurang lebih begini,

“Sedih pas baca dan lihat foto kanal di Kampung Beting..Jadi banyak sampah dan terkesan kumuh.”

“Sangat disayangkan Kampung Beting terlihat kotor.”

“Turut prihatin akan sampah-sampah yang menggunung dibawah rumah Kampung Beting.” Yang ini terlalu berlebihan, mengatakan sampahnya menggunung. Belom kena’ lebu’ buda’ Pontianak kali’.

Yah, semoga saja dengan adanya cerita dan tanggapan tersebut bisa mensugesti kita untuk selalu menjaga kebersihan. Tidak hanya masyarakat Kampung Beting, tetapi juga kita semua yang setiap harinya menghasilkan sampah. Buanglah sampah pada tempatnya, bukan pada semaunya. Toh yang malu kita juga kan nantinya? Dikatakan kumuh, kotor, jorok dan sejenis lainnya.

Kepada pemerintah, saya juga menaruh harapan yang besar agar lebih memperhatikan daerah-daerah yang ada dipinggiran sungai. Mungkin perlu dilakukannya revitalisasi agar lingkungan yang ada tampak bersih. Kalau kata orang Pontianak itu “nyaman ditengok”. Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting, agar kebersihannya bisa berkelanjutan.

Kesedihan saya belum berhenti disitu. Diakhir perjalanan, seorang driver hotel yang mengantarnya ke Bandara Supadio menceritakan kalau Kampung Beting itu merupakan daerah kriminal, setiap orang asing yang datang akan selalu dicurigai. “Cobe gak campakkan ke Sungai Kapuas buda’ yang ngomong gitu’, biar dimakan puake.”

Seharusnya, sebagai salah satu pekerja penyedia jasa tidak sepatutnya berbicara seperti itu. Jangan sampai gara-gara omongan tersebut menimbulkan stigma negatif tentang Kampung Beting, yang akhirnya membuat orang-orang yang datang ke Pontianak jadi takut mampir kesana. Padahal kenyataan dilapangannya tidak demikian. Awak datang kamek sambot.

Tabe’...

Media Sosial yang digunakan:

1 comments so far

This comment has been removed by a blog administrator.


EmoticonEmoticon