Wednesday, June 24, 2020

Destinasi Wisata Ketapang yang Wajib Didatangi


Lagi liburan singkat di Kota Ketapang? Tapi ingin pergi ketempat wisatanya? Tenang! Saya akan berbagi sedikit cerita pengalaman saya, yang saat itu datang kesini hanya sebentar saja. Tengah malamnya sampai, besok jam 10 pagi langsung berangkat lagi. Destinasi wisata yang direkomendasikan ini pun lokasinya tidak jauh alias mudah dijangkau dan menurut saya wajib (prioritas) untuk didatangi. Dari wisata religi, wisata alam dan wisata sejarah. Berikut ceritanya dan selamat membaca...

Saya membasahi seluruh tubuh dengan segayung air. Seperti biasanya, masjid adalah tempat yang sangat bermanfaat bagi perjalanan kami. Bukan hanya sebagai tempat beribadah, melainkan juga tempat persinggahan untuk beristirahat bahkan sebagai tempat mandi. Harap maklum, disini kami tidak punya sanak keluarga dan kenalan.

Kendaraan kembali melaju dijalan raya Kota Ketapang yang saat itu terlihat cukup sepi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya satu dua saja kendaraan yang menyalip kami. Entah mungkin dikarenakan hari yang masih terlalu pagi atau mungkin orang-orangnya yang masih lelah setelah merayakan tahun baru semalam suntuk. Ah terserahlah, setidaknya pagi ini udara terasa begitu segar.

Ketika mengunjungi Kota Ketapang ada satu ikon di perempatan jalan yang harus disambangi. Ayo tebak apakah itu? Untuk sidak Ketapang atau orang yang pernah mengunjunginya pasti akan tahu. Apalagi kalau bukan Tugu Ale-Ale. Sebuah tugu yang menjadi ikon kebanggan masyarakat Ketapang. Untuk yang belum tahu, ale ale adalah sejenis kerang yang sangat banyak ditemukan disini bahkan menjadi salah satu andalan kulinernya. Ups, terasa lapar jadinya.

Meskipun baru pertama kali datang ke Kota Ketapang, bukan berarti kami harus canggung ataupun khawatir. Entah itu khawatir untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya atau khawatir akan kesasar dijalanan. Karena sejatinya dalam kesaharian orang-orang disini menggunakan bahasa Melayu yang kurang lebih sama dengan bahasa Melayu Pontianak. Sedangkan untuk arah jalan tinggal diserahkan saja dengan google map yang akan memandu setiap langkah.

Bertandang ke daerah orang rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir ke tempat wisatanya. Apalalagi kalau lokasinya jauh, rasanya perjalanan yang dilakukan terasa sia-sia. Berhubung kami hanya memiliki waktu yang singkat karena siangnya akan segera menuju ke Sukadana, akhirnya kami memutuskan hanya mendatangi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang. Itu pun hanya sebentar saja, sebagai penghilang kemponan. 

Tempat Wisata di Kota Ketapang yang pertama kali didatangi adalah Pantai Pecal. Saat tiba disini pantainya masih sangat terlihat sepi. Maklum, saat itu masih pukul 06.30 WIB. Hanya satu dua orang yang terlihat berjalan didermaga dan sepasang kekasih yang sedang bermesra dibawah pondok. Serta sekelompok keluarga besar dengan pakaian serba putih yang sedang menunggu kedatangan Ratu Pantai Selatan (berfoto dibibir pantai).

Kami berjalan ke sebuah pondok yang paling dekat dengan tepian pantai. Deburan ombak yang menghantam pesisir terasa terdengar syahdu. Ditambah lagi suara kicauan burung yang saling bersahutan membuat tempat ini terasa asri (meskipun itu adalah suara burung pipit). Saya pun terlena dan ingin segera merebahkan diri.

Eits, tapi tunggu dulu. Niat untuk bersantai-santai tersebut segera saya urungkan setelah melihat sesendok coklat pahit tercecer diatas lantai. Untung belum sempat baring. Bisa dibayangkan bagaimana aroma pekatnya jika menempel dibaju? Usut punya usut, ternyata disekitar kami memang ada ayam yang sedang berkeliaran. Nah, sekedar saran buat kalian, jika baru tiba disuatu tempat alangkah lebih baiknya untuk memperhatikan dulu yang ada sekitar. Biar tidak terkena jebakan BangMen.

Kami pun pindah dipondok bagian belakang. Kali ini lokasinya aman dan terkendali untuk bersantai-santai. Sekedar informasi, selain disebut sebagai Pantai Pecal, pantai yang satu ini juga memiliki nama lain, yaitu Pantai Pesisir Kinjil. Dan pada tahu tidak kenapa pantai ini dijuluki sebagai Pantai Pecal? Hal tersebut karena disekitar pantai ini banyak sekali penjual pecal yang menjajakan dagangannya. Oleh karena itulah disebut sebagai Pantai Pecal. Nah kalau mampir kesini jangan lupa untuk mencoba makanannya ya, biar bisa menambah sedikit penghasilan para pedagangnya.

Berhubung hari yang semakin siang dan perutpun mulai meronta, rasanya kurang afdol jika tidak segera untuk sarapan. Jangan sampai gara-gara terlambat makan membuat rencana jadi berantakan. Saya pun menghampiri sebuah warung untuk memesan dua porsi pecal. Hal yang harus diingat ketika akan membeli makanan, pesanlah diwarung sesuai dengan pondok yang diduduki. Kalau tidak pemilik tempatnya akan bermuka masam dan hal yang terparah adalah akan mengusir paksa.

Nikmat euyy

Setelah kenyang menyantap makanan, saya pun memutuskan untuk menyusuri dermaga. Sebuah gapura megah dari beton berdiri kokoh  menyambut kami. Diatasnya terpampang tulisan “DERMAGA WISATA PANTAI KINJIL PESISIR”. Dari bentuknya terlihat seperti benteng pertahanan dengan dominan warna putih. Selanjutnya terdapat enam gapura kayu yang desainnya mirip gapura Jepang dengan warna jingga.

Pantai Pecal

Meskipun Saat itu keadaan matahari terlihat mendung, namun bukan berarti panorama Pantai Pecal tidak bisa dinikmati. Dari atas dermaga kita bisa melihat bagaimana gulungan ombak yang saling berkejaran dan berakhir dengan bunyi deburan ombak. Yah meskipun tidak besar, tapi lumayanlah untuk mencuci mata dan sedikit menenangkan jiwa. Terdapat juga berbagai jenis binatang laut yang bisa dilihat. 

Setelah puas menatap luasnya lautan, kami pun segera kembali untuk menuju ketempat wisata yang selanjutnya. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju ke  Keraton Matan Tanjungpura. Hanya memakan waktu belasan menit, kami tiba ditempat tujuan.

Keraton Matan Tanjungpura tereletak dipinggiran sungai, Tepatnya di Sungai pawan. Seperti yang diketahui, pada jaman dahulu perairan merupakan jalur transportasi yang sering digunakan untuk membawa berbagai barang dan orang. Oleh karena itulah, jangan heran jika banyak pusat pemerintahan kerajaan yang mendirikan istananya dekat dengan perairan. Selain itu, air juga merupakan sumber kehidupan yang sangat penting dalam kehidupan.

Kami pun memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki menuju lokasi. Tak jauh, hanya sepelemparan batu sudah sampai. Tapi sayang, disaat kami tiba keadaan Keraton dalam kondisi tertutup. Jadi hanya bisa lihat dari luar pagarnya saja. Entah memang tidak dibuka untuk umum, atau kaminya saja yang datang tidak pada waktunya. Meskipun begitu, rasa syukur tetap saja selalu ada. Setidaknya kami telah sampai dan menginjakkan kaki dibumi Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai ke negeri seberang. 

Keraton Matan Tanjungpura

Didalam kawasan Keraton Matan Tanjungpura terdapat beberapa bangunan. Sebagian besar bangunan tersebut didominasi oleh warna kuning, dan sebagian kecil bercatkan warna hijau. Atapnya pun masih menggunakan atap sirap, sejenis atap yang terbuat dari kayu. Sekilas, Keraton Matan Tanjungpura tampak seperti dari perpaduan dua budaya, yaitu antara Melayu dan Dayak.

Dihalaman keraton terdapat dua meriam yang menghadap kearah Sungai Pawan. Menurut salah satu artikel yang saya baca, meriam tersebut adalah sepasang suami istri yang tidak bisa dipisahkan. Menarik juga ya ceritanya. Tapi sayang, saat kami berkunjung kesini lagi tidak buka dan pastinya tidak banyak informasi yang kami peroleh mengenai Keraton Matan Tanjungpura. 

FYI juga, keraton ini sekarang dijadikan sebagai museum dengan nama Museum Gusti Saunan. Banyak barang-barang milik kerajaan pada tempo dulu yang bisa dilihat. Seperti singgasana sultan dan permaisurinya, foto-foto sultan bersama keluarga dan berbagai peralatan yang lainnya.

Karena tidak bisa masuk kedalam, kami pun menghabiskan waktu disini dengan berfoto-foto dan bersantai di pinggiran Sungai Pawan yang begitu rupawan. Menyaksikan aktivitas masyarakat yang ada diseberang dan motor air yang berlalu lalang.

Sungailah Pawan...
Kalaunye pasang...
Diwaktu hujan...
Deras sekali...

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Itulah cerita singkat saya di Kota Ketapang. Kalau ingin wisata religi, silahkan saja mengunjungi Masjid Agung Ketapang yang bagunannnya sangat megah dengan desain yang menarik. Apalagi kalau disaat malam, warna masjidnya bisa berubah-ubah. Nah jika ingin melihat pemandang alamnya datang saja ke Pantai Pecal. Disini tidak hanya angin sepoi-sepoinya yang terasa bersahabat, namun kulinernya juga nikmat. Sedangkan untuk wisata sejarahnya langsung saja datang ke Keraton Matan Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai dinegeri seberang. Semua tempat tersebut tentunya sangat mudah dijangkau.

Sebenarnya masih banyak lagi destinasi wisata yang ada Kota Ketapang. Namun karena waktunya singkat, jadi datang ketempat yang diprioritaskan saja dulu. Semoga suatu saat bersuah lagi.

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Media Sosial yang digunakan: