Monday, July 13, 2020

Berburu Followers Twitter

“Kalau ingin ikut lombanya harus punya twitter.” Kata Darmawan yang saat itu sedang menatap layar komputer.

“Serius Wan? Jadi saya tidak bisa ikut?” Saya bertanya dengan tatapan yang begitu tajam.

“Bisa ikutlah. Tinggal buat akun twitter saja lalu follow twitternya pihak penyelenggara. Toh tidak ada syarat khusus mengenai seberapa banyak pengikut dan lama penggunaannya.” Darmawan kembali menjelaskan dengan intonasi yang mulai meninggi. Mungkin dia mulai kesal dengan begitu polosnya pikiran saya.

“Oh, iya ya. Ok, akan segera saya buat.”




Jujur saja, menggunakan twitter bagi saya belum terlalu begitu lama, baru dibuat pada tahun 2018 yang lalu. Jika dibandingkan dengan teman-teman yang seangkatan, mereka sudah ada yang menggunakannya semenjak tahun 2009. Itu artinya saya sudah ketinggalan sembilan tahun dari mereka.

Pembuatan akun twitter tersebutpun dikarenakan faktor yang mendesak, yaitu memenuhi syarat perlombaan. Bukan karena adanya keinginan sendiri untuk mencoba media sosial yang baru. Meskipun begitu, rasa penasaran saya untuk mengetahuinya lebih lanjut bisa dibilang cukup tinggi. Saya bertanya kepada Darmawan dan Mbah google bagaimana cara memainkannya. Selain mengikuti akun twitternya penyelenggara lomba, saya pun juga mengikuti akun-akun para petinggi negara dan pesohor lainnya. Yah, meskipun saat itu pengikut saya hanya ada satu, yaitu Darmawan.

Melihat follower yang tunggal, saya pun mencoba menanyakan kebeberapa teman terdekat saya. Apakah mereka menggunakan twitter? Berharap nantinya angka di follower saya bertambah. Namun jawaban yang didapatkan adalah ‘tidak’. Beberapa dari mereka pernah sempat membuat akun twitter, namun kemudian meninggalkannya. Alasan mereka katanya kurang seru.

Hingga akhirnya, saya pun mengikuti jejak mereka. Meninggalkan twitter dalam waktu yang lama.

Disisi lain, pemakaian facebook semakin diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, emak-emak yang separuh waktunya dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarga juga banyak menggunakannya. Bapak-bapak juga tidak mau ketinggalan, mereka juga mulai aktif menggunakan facebook. Katanya sih ingin menjalin silaturrahmi dengan kerabat-kerabat yang berada jauh disana. 

Waktu dari waktu berlalu, hingga akhirnya tiba di tahun 2020. Saat itu ada sebuah kegiatan disalah satu hotel di Kota Pontianak. Untuk menjadi pesertanya mesti memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah mengikuti akun twitternya penyelenggara. Busyet dah, lagi lagi saya harus berurusan dengan yang namanya twitter.

Saya pun mencoba untuk membangkitkan kembali akun twitter saya dari liang kuburnya. Saya sangat bersyukur karena akun tersebut masih bisa hidup. Yah meskipun dengan tampilan seadanya, tanpa tweet dan hanya 2 follower. Asyik, nambah satu follower yang nyasar.

Oh, iya. Setiap peserta kegiatan diatas juga diwajibkan untuk saling mengfollow akun twitter peserta lainnya. Namun sebelum melakukkannya, saya mencoba terlebih dahulu untuk menambah jumlah pengikut. Bukan! Bukan membeli jasa penyedia follower, melainkan saya menanyakan kesemua teman yang ada dikontak whats up saya ‘apakah mereka punya akun twitter’. Yang sudah lama tidak menggunakannya saya paksa untuk segera membuka, walau hanya sekedar mengikuti akun saya. Bukannya apa, malu juga kan sama peserta lainnya yang sudah punya follower banyak.

Dari hasil chat sana-sini, diatambah lagi tanya-tanya teman yang ada di facebook, akhirnya follower saya bertambah menjadi 7 orang. Ternyata susah juga mencari teman yang menggunakan twitter. Saya pun mulai mengikuti twitter twitter para peserta. Disaat itulah, jumlah follower saya meningkat darstis menjadi  menjadi 34. Alhamdulillah...

Ternyata berburu follower twitter itu susah dan butuh perjuangan.

Satu persatu tweet saya mulai muncul di beranda. Entah itu mengenai seputar aktivitas yang dilakukan maupun tentang masalah perasaan. Kadang-kadang juga meretweet punya orang. Saat itulah, pamor twitter dan facebook mulai setara dimata saya. Membuka twitterpun rasanya sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakukan setiap hari. Yah, meskipun hanya sekedar membuka tanpa membuat cuitan.

Hingga akhirnya, tekad saya untuk menambah lagi follower terpicu oleh suatu hal. Dimana teman yang sudah  dikenal lama tidak mengfollowback. Entar kalau jumpa tak jewer telinganya. Mungkin  gitu kali ya kalau sudah banyak follower?

Awalnya saya ber-positive thinking, munkin saja dia lagi jarang buka twitter. Hingga akhirnya tweet dia sering muncul ditimeline. Saya pun mencoba untuk sering menyukai tweetnya, walaupun tidak jarang hanya saya saja yang menyukainya. Namun apa daya, harapan untuk difollback belum berbuahkan hasil. Saat itulah saya berfikir kalau dia merasa gengsi untuk mengikuti akun saya yang pengikutnya hanya secuil. Oh, sungguh teganya-teganyaa.

Saya pun berusaha keras untuk berburu para follower. Satu persatu akun twitter para blogger diikuti. Higga akhirnya saya mendapat peringatan agar tidak mengikuti terlalu banyak dalam hari yang sama. Saat itu kurang lebih 400 akun twitter saya ikuti. Hari Berikutnya pun saya melakukan hal yang sama, dan SELAMAT! Saya berhasil mendapatkan sanksi karena telah melanggar kebijakan mengikuti twitter. Setidaknya kemampuan untuk mengikuti, menyukai dan me-retwee akan dibatasi selama tiga hari.

Tapi lumayanlah, setiap tiga akun yang yang  saya follow, satunya meng-followback. Makasih para followers. Sekarang pengikut saya sudah tiga ratusan lebih.

Oh, iya. Akun teman yang diatas tetap saya ikuti lho.. Berharap suatu saat dia akan sadar kalau disetiap cuitannya selalu ada jempol saya yang menyukainya. Berharap tidak berdosakan?

Udah, hanya itu saja. Tabe’...

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon