Wednesday, June 6, 2018

Kita Adalah Satu

Tags

Pagi hari datang, kamar penginapan mulai terang, dan lilitan dingin perlahan beranjak pergi. Serpihan-serpihan cahaya menembus celah tirai jendela yang membuat mata terasa silau ketika melihatnya. Rasanya tidak ingin segera beranjak dari kasur empuk yang berbalutkan selimut tebal ini. Apalagi rasa lelah selama perjalanan kemarin benar-benar telah menguras tenaga kami. Walaupun telah beristirahat semalaman, namun rasa lelah disekujur tubuh tetap saja tidak bisa diajak kompromi.

“Oi, bangun semuanya. Sudah siang ini.” Suara Andi berteriak dari arah kamar mandi.

“Ia. Selesaikan saja mandi kau dulu. Baru kami akan segera bangun.” Aku berusaha menjawab teriakan Andi walaupun dengan suara yang terdengar lemas.

Aku berusaha menggerakkan tangan yang menopang tubuh untuk bangkit, meskipun rasa kantuk dan pegal masih mendekap erat tubuh ini. Kepala yang tertunduk dan untaian do’a sudah merupakan rutinitas setiap bangun tidur. Semua itu aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan waktu kepadaku untuk kembali berpetualang di alamnya. Perlahan, ku turunkan kedua kakiku dan melangkah ke sebuah jendela. Seketika ruangan menjadi lebih terang setelah tirai yang berwarna coklat tersebut ku tarik. Teman-teman yang masih tertidur nyenyak protes terhadap apa yang barusan aku lakukan. Kata mereka aku telah merusak mimpi indahnya.

Perlahan, kubuka dua daun jendela yang terkunci keras. Angin pagi yang berlalu menyentuh pelan wajahku dengan sensasi dingin akibat hujan yang berkepanjangan tadi malam. Dari atas penginapan ini juga terlihat bagaimana kesibukkan masyarakat Bali dalam menyambut keindahan pagi. Di pinggiran jalan yang tanpa trotoar tersebut terlihat pula seorang ibu dan bapak dengan menggunakan pakaian khas Bali. Sepertinya mereka adalah sepasang suami istri yang ingin berbelanja di pasar seberang sana. Bagiku mereka adalah pasangan yang sangat romantis.

“Kau sudah bangun Japo?” Tanya Andi yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Seperti yang kau lihat sekarang. Tinggal mereka saja yang belum bangun.” Jawabku sambil memonyongkan mulut ke arah tempat tidur. “Jam berapa motor yang kita sewa akan datang?” Aku melanjutkan pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.

“Mungkin sebentar lagi tiba.” Jawab Andi yang sedang menggoyang tubuh teman yang masih tidur.

Japo, itulah nama panggilanku. Ini adalah untuk pertama kalinya aku datang berliburan ke Bali. Aku tidak hanya sendirian. Namun juga bersama-sama mereka, sahabat terbaikku. Jangan pikir kami semua adalah sahabat yang telah berteman dari kecil, melainkan baru kenal beberapa tahun yang lalu. Awal pertemuan kami bermula dari bangku perkuliahan, ketika kami belum mengenal antara yang satu dan yang lainnya. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda. Aku sendiri berasal dari pedalam Kalimantan Barat yang aksesnya masih berupa jalur sungai yang deras. Tidak hanya asal daerah yang berbeda, latar belakang kami semuanya juga berbeda. Aku sendiri merupakan keturunan Dayak, sedangkan Andi merupakan keturunan Bugis dan dua temanku yang lainnya yaitu Bujang merupakan keturunan Melayu dan Arif keturunan Jawa. Bagi kami, perbedaan itu bukanlah hambatan untuk saling berinteraksi, melainkan adalah sebuah kekuatan yang saling melengkapi.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya motor yang disewa tiba juga. Bli menunjukkan kepada kami surat kendaraan, kunci dan empat buah helm. Sebelumnya aku sempat memanggil mereka dengan sebutan Mas. Tetapi kata mereka dipanggil Bli saja, biar nuansa liburan di Bali lebih terasa. Hal yang harus diketahui, Bli adalah panggilan untuk laki-laki Bali yang lebih tua atau sebaya dengan kita. Indonesia memang benar-benar kaya akan bahasa dan budayanya. 

Tanpa menunggu lama, kami pun segera menaiki motor yang telah disewa. Tapi ada yang sedikit aneh dengan helmnya. Ukurannya lebih besar dari yang biasa kami gunakan. Sontak teman-teman yang lain langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku pikir mereka akan merasa kesal dengan ukuran helm yang besar, tetapi malahan suara tawa yang lepas yang terdengar dari mulutnya. Merupakan hal yang wajar jika ukuran helmnya besar. Ini dikarenakan kebanyakan turis disini adalah para bule yang tentunya memiliki ukuran kepala lebih besar.

“Sudah, nikmatin saja. Lagian ini bukan penghalang untuk kita berpetualang.” Sahut Arif yang sudah berboncengan di motor Andi.

“Betul itu. Lagian, keseruan itu kita sendiri yang menciptakannya.” Timpal Andi yang menoleh ke arah Arif.

Inilah sahabat-sahabatku. Tidak terlalu membesar-besarkan masalah yang kecil. Bagi mereka, selama masih bisa bersama-sama semuanya akan selalu terasa seru untuk dinikmati. 

Motor kami perlahan menuju jalan raya. Gapura-gapura khas Bali yang berderet ditepi jalan memberikan kesan yang menarik kepada setiap mata yang melihat. Perjalanan ini merupakan hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, bahwa kami bisa datang bersama-sama ke Pulau Dewata. Semua itu tentunya tidak terlepas dari adanya persamaan diantara kami. Yaitu sama-sama memiliki rasa cinta yang tinggi akan indahnya alam dan budaya Indonesia yang beraneka ragam. Aku tahu, keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan bukanlah bertujuan untuk saling memisahkan atau pun menunjukkan siapa yang paling hebat. Tetapi ini adalah cara Tuhan bagaimana kita bisa untuk saling memahami dan mengenal antara yang satu dengan yang lainnya.

“Hentikan motornya!” Tiba-tiba Bujang menepuk pundakku agar segera menghentikan kendaraan.

Ada apa lagi ini. Kenapa Bujang tiba-tiba  menyuruhku untuk menghentikan kendaraan. Dari arah belakang Andi sudah berteriak, bertanya kenapa berhenti mendadak seperti ini.

“Ada apa Bujang, kau ingin buang air kecil?” Aku langsung bertanya.

“Bukan. Kau lihat Bapak itu. Kasihan Rantai sepedanya putus, Japo.” Jawab Bujang sambil menunjukkan tangannya ke arah bapak yang sedang mendorong sepeda.

“Terus, apa yang harus kita lakukan?” Aku kembali bertanya. Tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk bapak tersebut.

Melihat kami yang berhenti mendadak, membuat Andi dan Arif penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Perlahan motornya pun menghampiri dan sejajar dengan motor kami.

“Ada apa ini. Kenapa berhentinya lama?” Andi yang sedang berada disamping kami langsung bertanya.

“Kasihan Bapak itu, Di. Dengan usianya yang sudah tua namun harus berjalan kaki mendorong sepedanya dibawah terik  matahari. Apa yang bisa kita lakukan untuk bapak itu? Bujang menjelaskan dan sekaligus mempertanyakan solusinya.

“Oh, itu. Kalau begitu tinggal kita dorong saja sepedanya dengan kaki kita.” Andi memberikan solusi dengan sedikit tertawa.

“Jangan mengambil resiko. Nanti kalau bapaknya jatuh ketika kita dorong bagaimana? Apalagi bapaknya sudah tua.” Arif langsung menimpali dari belakang Andi.

“Tinggal tukar posisi saja. Bapak berboncengan dengan aku sedangkan kau menggunakan sepedanya. Dan yang mendorong adalah Bujang. Bagaimana?” Andi kembali menjelaskan idenya.

Aku dan yang lainnya sepakat atas usulan Andi tersebut. Motor kami pun menghampiri bapak tersebut. Awalnya bapak tersebut menolak tawaran bantuan kami dengan alasan tidak ingin merepotkan. Beberapa saat kemudian bapak tersebut akhirnya bersedia untuk didorong hingga ke tempat bengkel. Didalam perjalanan, sesekali kami dan Bapak tertawa melihat tingkah lucu Arif yang sedang mengendalikan sepeda tersebut. Bagi kami, menolong sesama seperti ini adalah keseruan yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Apalagi hal yang kami lakukan adalah salah satu cerminan budaya Indonesia, yang semakin asing dikalangan anak muda sekarang.

Tidak perlu waktu yang lama,  akhirnya kami sampai disebuah bengkel. Dari raut muka bapak tersebut terlihat senyum yang sederhana namun penuh dengan keikhlasan. Berulangkali bapak tersebut selalu mengucapkan rasa terima kasih. Diambilnya sebuah plastik hitam yang bergantung diatas sepeda. Dirogohnya plastik hitam tersebut dan terlihat empat buah bunga kamboja yang masih terlihat segar.

“Ini adalah bentuk rasa ucapan terimakasih bapak. Bunga kamboja ini bagi masyarakat Bali melambangkan sebuah kesucian seperti halnya hati kalian.” Bapak tersebut tersenyum dan menyerahkan bunga kamboja tersebut.

Kami juga mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan bapak tesebut. Tidak ada terlintas sedikit pun dibenak kami agar kebaikan yang kami lakukan harus dibalas pula. Bagi kami, Tuhan adalah pembalas setiap perbuatan yang sebaik-baiknya. Lagian pula, bukankah hal tersebut merupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong sesama.

Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya kami tiba di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Sesuai dengan namanya, disini kami bisa melihat berbagai atraksi budaya Bali. Langkah kami terhenti ketika melewati sebuah ruangan yang terlihat sedang mementaskan sebuah seni. Kami pun masuk dan menaiki sebuah tribun yang sudah ramai diisi oleh para pengunjung. Walaupun agak terlambat, kami tetap bisa menikmati pertunjukan seni tersebut. Pertunjukkan yang sangat mengagumkan.

“Kau kenapa menangis, Arif?” Aku bertanya kepada Arif sambil menepuk pundaknya.

“Tidak apa-apa.” Jawab Arif dengan senyum simpul.

“Kalau tidak apa-apa, lantas kenapa kau menangis? Apakah kau menyesal karena telah menggunakan uang tabungan untuk berliburan ke Bali.” Andi langsung bertanya juga.

“Bukan karena itu, Andi. Aku menangis karena aku sangat bangga dan cinta dengan budaya-budaya Indonesia. Karena kecintaanku itulah aku tidak ingin suatu saat budaya Indonesia satu per satu hilang akibat kalah saing dengan budaya asing yang kian gencar dimana-mana. Kau lihat Tari Barong tersebut, sungguh sangat indah dipandang mata. Mengenai uang tabungan yang digunakan untuk kesini, itu bisa dikumpulkan lagi. Tetapi pengalaman berpetualang bersama kalian adalah hal yang luar biasa.” Arif menjelaskan dengan takzim. 

Aku merangkulkan tanganku di pundak Arif. “Kau benar sahabatku. Ini adalah perjalanan istimewa kita. Sebuah perjalanan yang suatu saat nanti akan diceritakan pada anak cucu kita. Banyak hikmah yang bisa dipetik setelah melalui perjalanan ini bersama. Salah satunya adalah betapa indahnya alam indonesia dan beranekaragamnya budaya yang ada di Indonesia. Bukan hanya kita yang berpijak di bumi pertiwi ini, tetapi juga ada mereka yang semakin menambah pesona keindahan Indonesia.”

Tanpa kusadari air mataku juga megalir perlahan. Apa yang dirasakan oleh Arif, juga dirasakan oleh aku dan yang lainnya. Seketika aku teringat akan kampung halamanku yang juga memiliki permata indah yang harus selalu dijaga. Yaitu sebuah budaya yang diwariskan oleh para leluhur yang kian hari semakin terancam oleh budaya asing yang masuk tanpa tebendung.

“Indonesia bukan hanya aku, atau kau, atau kita. Tetapi melainkan adalah kita semua yang lahir dan memijakkan kaki di bumi pertiwi ini. Kita dan mereka semuanya adalah tonggak-tonggak penegak bangsa Indonesia yang semakin harum karena keberagaman. Rusak satu, maka kekokohan indonesia akan terancam pula.” Sahut andi, memberikan kata bijak bak seorang inspirator.

Tanpa diperintah, tangan kami sudah saling berpegangan. Kami berjanji akan selalu menjaga keindahan alam dan budaya Indonesia agar tetap lestari di bumi pertiwi ini. Biar seluruh dunia tahu bahwa Indonesia adalah potongan surga yang dititipkan oleh Tuhan dengan berbagai keberagaman.



Media Sosial yang digunakan:
This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon