Monday, July 3, 2023

Kejadian-Kejadian Apes Mitra BPS

Sensus Pertanian 2023


Selama menjadi mitra Badan Pusat Statistik (BPS) di Kabupaten Mempawah, saya sudah banyak makan asam garam atau bahkan asam lambung dari sebuah pekerjaan. Iya, sudah kurang lebih tiga tahun saya menjadi pekerja freelance yang berkecimpung dilapangan. Mulai dari mewawancarai manusia dari rumah-kerumah, hingga mengamati pertumbuhan tanaman yang jauh di perbatasan hutan. Nah, sebagai anak lapangan pastinya ada hal-hal kurang mengenakkan yang telah dialami. Berikut kejadian-kejadian apes yang pernah saya alami:


1. Mengarungi banjir 


Menjadi petugas lapangan dengan waktu kerja yang telah ditentukan mengharuskan kita untuk menyelesaikannya tepat waktu. Namun ada kalanya, ada saja hal-hal yang membuat pekerjaan tersebut menjadi terhambat. Salah satunya adalah banjir,  bencana alam yang datangnya secara tiba-tiba. 


Jadi saya pernah mengalami yang namanya mendata saat banjir. Kebetulan saat itu ketinggian air tidak mau turun, bahkan bertahan selama 2 bulan. Tapi beruntungnya sebagian besar rumah masyarakat tidak terendam banjir, karena bentuk bangunan yang semi panggung. 


Namun yang menjadi masalah adalah akses untuk kerumah tersebut yang membuat saya harus melepaskan celana panjang. Alhasil, paha dan betis yang penuh baut jadi tontonan responden saat sedang mengarungi banjir. Bahkan ada sebagian rumah yang hanya bisa diakses menggunakan sampan.


Untuk kamu yang baru pertama kali menjadi mitra BPS, saya sarankan untuk segera menyelesaikan pekerjaanya secepat mungkin. Karena kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi di hari berikutnya yang mungkin saja bisa menghambat pekerjaan. Salah satunya adalah bencana alam yang datangnya tiba-tiba.


2. Masuk dalam kolam


Masih ada hubungannya dengan banjir, saat itu saya sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman padi. Karena genangan air yg mencapai selutut, membuat apa yg ada didepan mata tidak terlihat jelas. Singkat cerita, saya pun masuk kedalam kolam tanpa mendapatkan ikan seekor pun.


Seperti kata pepatah, sudah jatuh ditimpa motor pula. Sudah cape-cape mengarungi banjir, eh malah masuk kedalam kolam. Mata yang ada dikaki pun tidak bisa diajak kerjasama ketika berjalan didalam air. Tapi untungnya sling bag yang digunakan tahan air, jadi hp yang ada didalam masih tetap dalam keadaan kering.


Nah, buat kamu yang sedang mendata saat banjir harus berhati-hati di lapangan. Terlebih jika kamu tidak mengenal medannya. Pastinya gunakan tas yang kedap air atau minimal gunakan plastik untuk melindunginya.


3. Ditolak oleh responden


Pernah ditolak oleh responden sepertinya menjadi rahasia umum untuk semua mitra Badan Pusat Statistik. Ini biasanya terjadi ditempat yang bukan domisili kita, jadi mereka tidak kenal dan merasa was-was. Terlebih lagi yang akan didata merupakan seorang pengusaha dan pedagang. 


Saya pribadi juga pernah mengalaminya. Kebetulan yang akan didata adalah responden dangan profesi sebagai pedagang sembako. Meskipun sudah datang dengan sopan santun dan menjelaskan maksud serta tujuan, menunjukkan surat tugas dan izin RT, tetap saja ditolak! Padahal saat itu tidak ada konsumen yang sedang berbelanja. 


Karena sudah merasa cape mendata seharian, saya pun menyerah langsung balik ke kampung halaman. Melambaikan kedua tangan dan menyeret koper besar. Dalam hati saya bergumam 'Sesusah dan sehina ini kah mencari rejeki?'


Karena merupakan tugas dan tanggung jawab sebagai pendata lapangan, lusanya saya datang kembali. Kali ini saya berbelanja terlebih dahulu di toko tersebut. Baru kemudian mengutarakan kembali tujuan datang kesini. Alhasil, dengan modal  belanja belasan ribu, mampu meluluhkan hati responden tersebut. Bukan kah pembeli adalah raja?


Nah untuk menghindari atau meminimalisir penolakan oleh responden tentunya kita sebagai petugas harus mempersiapkan beberapa hal. Yang pertama adalah penampilan. Usahakan kita harus berpenampilan rapi, kalau ada seragam lapangan digunakan. Jangan lupa juga untuk menggunakan kartu identitas biar bisa membuat persepsi orang yang kita datangi menjadi baik. 


Yang kedua adalah selalu membawa surat tugas dan izin ke penguasa setempat. Bukan! Bukan makhluk halus yang tidak kasat mata. Melainkan izin ke kepala desa, ke RT  atau tokoh masyarakatnya. Nah setelah izin, minta tolong kepada ketua RT untuk menginfokan kepada seluruh warganya didalam group tentang kegiatan yg akan dilakukan.


4. Diserang kaki empat


Mendapatkan data dilapangan memang tidak selalu mudah seperti yang dibayangkan. Adakalanya kita harus seperti ninja warrior, harus tangguh setiap menghadapi tantangan. Seperti akses jalan yang rusak, alam yang tidak bersahabat, penolakan oleh responden  hingga serangan peliharaannya yang tiba-tiba.


Saat itu pernah mendata ke sebuah rumah yang posisinya jauh dari badan jalan dan pemukiman warga lainnya. Pekarangan rumah yang terlihat tenang dan sejuk dengan rimbunnya pohon,  tiba-tiba riuh dengan gonggongan anjing. Setidaknya ada tiga anjing yang menyambut kedatangan saya. Matanya yang terlihat merah dan suaranya yang semakin meninggi, serta air liurnya yang mulai menetes membuat kadar testosteron saya ciut.


Belum sempat membalikkan badan, salah satu dari anjing tersebut sudah berjalan menghampiri, seolah-olah rindu terhadap kekasihnya yang telah lama merantau di negeri seberang. Tanpa pikir panjang saya pun langsung balik arah, diikuti para penggemar tadi. Untungnya ada puntung kayu yang bisa membuat nyali mereka menjadi ciut. Lagian pun beraninya main keroyokan, coba satu lawan satu. Syukurnya saat itu si pemilik rumah keluar dan membuat hewan berkaki empat tersebut tenang.


Selain ketemu anjing yang nakal, anjing-anjing yang ramah juga banyak. Saking ramahnya, disaat  sedang mendata mereka sangat senang bermain di bawah kaki. Sesekali mencium dan  menjilat kaki saya. Untungnya saja anjing tersebut tidak minta digendong.


Hal-hal apes lainnya adalah hampir ditanduk kambing dan dicium angsa.


Nah kalau sudah dihadapkan dengan yang beginian kita harus menghindar secara elegan. Jangan langsung balik berlari karena itu akan membuat mereka curiga, malah mengira kita adalah pencuri. Dampaknya kita bakalan dikejar.


Kalau kamu punya keberanian tinggi, tetap saja berdiam ditempat dengan posisi jongkok. Kalau ada puntung kayu atau batu segera ambil, untuk persiapan jika terjadi hal yang genting. Tapi alangkah lebih baiknya menghindar jika tuan rumah tak kunjung keluar.


5. Kaki Terselit di lubang jembatan


Topografi lapangan yang banyak parit membuat saya harus sering menyeberangi jembatan. Pernah saat itu kaki masuk kedalam lubang akibat lantai jembatan yang sudah rapuh. Alhasil betis jadi luka dan membuat saya langsung jatuh terduduk. Yang buat nyesek lagi diketawain oleh anak-anak. Dasar bocah...


Tapi kejadian yang saya alami tidak seapes seperti teman mitra BPS lainnya.  Sebut saja namanya Yusra yang harus terjun bebas kedalam parit saat melakukan pendataan. Begitu juga Munandar yang tenggelam dan sampai sekarang sampannya belum ditemukan.


Nah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tentunya kita harus lebih berhati-hati. Dan tak lupa untuk banyak berdoa kepada yang maha kuasa.


6. Kehausan dan kelaparan


Kalau kehausannya dirumah responden sih enak, tinggal minta ke tuan rumah. Atau jika malu langsung mampir ke warung terdekat saja. Tapi bagaimana jika ditengah lahan yang dekat dengan hutan dan jauh dari pemukiman masyarakat?


Hal ini pernah saya alami yang saat itu lupa membawa minuman dan makanan. Sebenarnya bukan lupa, melainkan  karena terlalu menyepelehkan! Berawal dari cuaca yang telihat mendung yang membuat saya terburu-terburu dan merasa tidak perlu membawa air. Hingga akhirnya, ditengah hamparan lahan jagung yang tanpa pohon rindang, tiba-tiba cuaca menjadi panas.


Saya pun mulai dehidrasi, apalagi saat itu pukul sudah menunjukkan jam 12 lewat. Mau pulang rasanya nanggung, terlebih akses untuk kesini jauh. Betul-betul bagaikan simalakama. Disisi lain, kampung tengah pun mulai meronta.


Syukurnya, disaat pekerjaan akan selesai, ada air gambut yang mengalir di parit kecil. Tanpa pikir lama, saya langsung meminumnya. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagikah yang saya dustakan. 


Nah biar tidak kejadian seperti yang diatas, sebagai petugas lapangan kita harus selalu membawa air minum dimanapun kita pergi. Kecuali kalau sedang puasa :)


7. Menikmati asam lambung


Karena terlalu sibuknya dilapangan, kadang membuat kita lupa tentang makan. Terlebih saat itu saya diamanahkan untuk menjadi pengawas yang harus mengkoordinir 4 petugas lapangan. Diantara petugas-petugas tersebut ada satu petugas yang payah betul untuk diatur. Jarang turun lapangan, merapi dokumen malas, serta susah untuk dihubungi. Alhasil saya pun sering kerumahnya untuk mengajak turun lapangan. Disisi lain, emaknya selalu bertanya kapan gaji anaknya keluar? Lah, bagaimana bisa duitnya cair kalau kerjaannya saja belum kelar.


Hingga akhirnya, batas waktu untuk pekerjaan tersebut hampir selesai, sedangkan progres dia masih rendah dibandingkan yang lain. Mau tidak mau saya pun harus turun tangan untuk membantunya dilapangan dan merapikan. Sempat beberapa kali kami mendata hingga sampai malam.


Karena jam makan tidak karuan ditambah sibuknya koreksian, akhirnya saya terkena asam lambung. Dada terasa ditusuk hingga ke tulang belakang, sesak nafas, kepala pusing dan perut terasa keras. Saat itu rasanya seperti sudah diujung maut, orang-orang ramai berkumpul, bahkan keluarga terdekat ada yang berbisik mengucapkan syahadat dan talqin. Tapi syukurnya Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup, menyelesaikan amanah yang diberikan oleh BPS. Saya pun harus istirahat penuh selama dua hari.


Ini betul-betul menjadi pelajaran bagi saya. Sesibuk apapun kita, pola makan harus tetap dijaga. Karena kesehatan itu sangat penting boss! Nah alangkah baiknya saat turun kelapangan untuk membawa makanan dan minuman untuk.


Tentunya masih banyak cerita lainnya dibalik goresan data yang tersaji. Seperti dikira ingin meminta sumbangan, penagih iuran listrik dan disangka akan memberikan bantuan. Teman-teman mitra BPS lainnya pun pastinya punya kejadian-kejadian apesnya tersendiri.


Tabek...


Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon