Saturday, January 11, 2020

Angkringan Terenak di Kota Pontianak

Membahas kuliner di Kota Pontianak tentunya tidak akan habis. Dari yang halal hingga yang tidak halal semuanya ada disini. Dari cita rasa yang manis hingga yang asin semuanya bisa dijumpai.

Malam itu Kota Pontianak baru saja diguyur hujan. Nah kalau sudah dingin-dingin paling enaknya melakukan sesuatu. Tapi bukan sesuatu yang itu tuh, bukan pula menarik selimut diatas kasur. Melainkan mencoba kuliner malam untuk mengenyangkan perut sekaligus menghangatkan badan. Iya, orang yang kedinginan itu perlu karbohidrat yang lebih supaya cepat ngantuk dan segera tidur. Apa hubungannya???

Saat itu salah satu teman mengajak makan dan merekomendasikan untuk ke angkringan. Katanya sih ini tempat angkringan paling enak dan tentunya juga bersahabat di dompet. Maafkanlah kami yang selalu mencari harga murah dan menuntut rasa yang lebih.

Kalau dia yang merekomendasikan tentunya tidak perlu diragukan lagi. Sudah berapa banyak tempat yang ia datangi hanya untuk mencari sesuap nasi. Dan jika ada tempat yang berkesan, langsung melapor ke kami. Tanpa ini itu lagi, kami langsung segera terbang menuju TKP.

Berbicara tentang angkringan tentunya sudah tidak asing lagi. Makanan yang sederhana ini namun tidak sesederhana RM Sederhana ternyata memiliki sejarah tersendiri. Dan berikut ini sejarah singkat angkringan.

Alkisah, hiduplah seorang bapak-bapak di Tanah Jawa yang bernama Mbah Pairo. Dalam kesehariannya, mbah tersebut menjajakan makanan dengan cara dipikul. Sambil berjalan kaki, si Mbah berteriak Ting...Ting...Hik. Mendengar suara tersebut, membuat para perawan yang ada di Kota Jogja berkeluaran ke teras rumah. Mereka tersipu malu karena merasa dirinya telah di panggil oleh si Mbah.

Sebelumnya nama panggilan angkringan adalah Hik yang diadopsi dari teriakan si Mbah tadi. Tahu tidak, ternyata nama panggilan tersebut memiliki arti tersendiri. Yaitu Hidangan Istimewa Kampung (HIK).

Lambat laut, dagangan Mbah tersebut semakin laris. Tidak hanya digandrungi oleh perawan saja, tetapi juga dari semua kalangan. Baik itu laki-kaki, perempuan, setengah laki-laki perempuan, semuanya sangat menyukainya. Akhirnya si Mbah memutuskan untuk mangkal disuatu tempat dengan menggunakan gerobak barunya.

Biar bisa menyenangkan para langganan, disediakanlah kursi panjang untuk duduk. Setiap tamu yang makan disini kebanyakkan menaikkan sebelah kakinya diatas kursi tersebut. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki tersebutlah muncul istilah angkringan atau nangkring.

Bagaimana? Sedikit banyak sudah tahukan awal mula adanya angkringan. Jadi ingat, ketika makan disana harus menaikkan sebelah kaki diatas kursi. Biar suasana makannya lebih terasa. Hehe... Oh iya, tentang perawan dicerita tadi hanya tambahan bumbu dari penulis. Nuwun sewu...

Kembali ke cerita awal.

Angkringan yang kami maksud adalah O' Angkringan. Bagaimana? Simpel dan mudah diingatkan nama lapaknya. O...angkringan...

O' Angkringan terletak di Jalan Panglima Aim No. 1. Lokasinya berdekatan dengan kampus Akper YARSI. Jadi buat teman-teman yang mau datang kesini, diingat tuh alamatnya. Lapaknya dibuka saat sore hingga malam. Jadi jangan keawalan dan juga kemalaman.

Kami datang sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu masih terlihat banyak yang mengantri, untuk menunggu giliran memilih makanan. Berhubung saya datangnya dudi, jadi kurang elok juga jika ikut nimbrung berdesakan disitu. Menunggu waktu yang tepat.

Meskipun kami tiba sudah cukup malam, namun tetap saja masih ramai pelanggan yang datang. Sebagian besar mereka hanya datang membeli dan baru dinikmati setelah sampai dirumah. Maklum, disini hanya disediakan dua meja serta duduk lesehan didepan rumah. Yah namanya juga angkringan, jadi ciri khasnya adalah kesederhanaan.

Tibalah giliran kami untuk memilih. Nah, kalau ada diangkringan tentu nasi yang disediakan adalah nasi kucing. Tapi tenang saja, ini bukan nasi kucingnya si anu, melainkan merupakan nasi yang porsinya lebih sedikit. Karena ukurannya yang minim itulah membuat harganya lebih miring.

Untuk nasi kucingnya setidaknya ada beberapa pilihan, seperti nasi teri, nasi jamur, nasi bakar dan lainnya. Dari seua yang disajikan, penulis lebih tertarik untuk mencoba nasi jamur.

Untuk melengkapi nasi tersebut biar semakin maknyus,disediakan juga beraneka ragam sate. Seperti sate hati, sate ampela, sate telur puyuh, sate kikil, sate usus ayam, sate ceker, tempe, tahu dan masih banyak yang lainnya. Untuk harga pertusuknya dimulai dari harga 2.000-3.000.

Nih Pilihan Satenya

Setelah memilih barulah kita berikan kepenjaga lapaknya. Mereka akan mencatat makanan kita kemudian akan dipanggang diatas bara api, yang konon panasnya tidak sepanas api neraka. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

Sambil menunggu pesanan datang, kami terlebih dahulu memesan minuman. Dari sekian pilihan minuman di O'angkringan, kami semua kompak untuk memesan air serbat. Apa tuh? Ini merupakan salah satu minuman tradisional punyanya Pontianak. Air ini rasanya manis, hanya saja ada campuran rempah yang mebuat cita tasanya sedikit berbeda. Penasaran? Kuy langsung dicoba.

Tidak perlu menunggu lama, pesanan kami akhirnya tiba. Belum saja diletakkan, aromanya sudah menyentuh hidung. Kesannya seperti ditusuk jarum, cikit cikit...cikit cikit...cikit cikit...

Dengan mengucapkan bismillah, penulis langsung melahapnya. Untuk rasa jangan diragukan lagi, pastinya sangat nikmat. Tekstur kenyal dari jamur dan meresapnya bumbu-bumbu kedalam sate membuat rasa yang solid. Mereka semua bertemu diatas lidah dan kemudian bersatu, itulah cita rasa Indonesia.

Sebenarnya dalam menilai makanan penulis kurang mengerti apa  saja bumbu-bumbu yang dominan didalam makanan tersebut. Tapi yang pasti, dalam menilai makanan bagi penulis hanya ada dua pilihan. Yaitu enak dan enak sekali. Hehe.. Bukankah dengan bersyukur Allah akan menambahkan lagi nikmat hambanya.

Karena kami makannya duduk lesehan, jadi belum sempat mencoba angkat kaki sebelah, seperti sejarah angkringan diatas. Mungkin untuk selanjutnya bisa dipraktekkan. Ngomong-ngomong, orang disamping kami sudah beberapa kali ganti. Malu juga kalau terlalu lama disini sambil isep batu es. Saatnya pulang, hati senang perut kenyang.


Media Sosial yang digunakan:
This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon