Monday, February 4, 2019

Menikmati Nasi Timbel di Kota Singkawang

Kota Singkawang atau yang dijuluki sebagai Kota Seribu Kelenteng merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kalbar. Kota yang terletak disebelah barat Pulau Borneo ini memiliki keindahan alam yang menawan dan budaya yang sungguh menarik. Tidak hanya itu, Kota Singkawang juga menyajikan bermacam kuliner, baik yang lokal maupun luar daerah.

Berbicara kuliner di Kota Singkawang, saya punya sedikit cerita mengenai tempat makan yang sempat kami singgahi. Saat itu saya beserta lima teman sedang melakukan perjalanan menuju Tebas, Kabupaten Sambas. Berhubung hari itu sudah siang dan perutpun sudah keroncongan, kami pun memutuskan untuk singgah disalah satu tempat makan yang ada dipinggiran jalan. 

Kedai Abah dan Ambu, itulah nama tempat makan yang kami singgahi. Terletak di Jalan Pasir Panjang yang berseberangan dengan Rindam XII/TPR Singkawang. Hal yang membuat kami tertarik untuk singgah disini adalah karena di neonbox-nya tertulis 'Nasi Timbel Khas Cianjur'. Ya, karena rasa penasaran itulah akhirnya kami merapatkan kendaraan dirumah makan tersebut.

Tidak ada menu lain yang disajikan di Kedai Abah dan Umbu kecuali nasi timbel. Makanan yang satu ini merupakan makanan khas Sunda yang ada di Kota Singkawang. Menurut cerita, makanan ini hadir karena adanya kebiasaan masyarakat Sunda ketika pergi kesawah membawa bekalan nasi yang dibungkus daun pisang. Oleh karena itulah, ciri khas dari nasi timbel adalah nasinya di bungkus daun pisang. 

Makanan yang dinantikan akhirnya tiba. Pelayan dengan kerudung kuning (bukan kerudung merah) meletakkan satu-persatu nasi timbel diatas meja makan. Sontak, rasa lapar yang tadinya mulai reda kembali datang. Namun bukan mencuci tangan yang segera saya lakukan, melainkan meraih android untuk mengambil gambar. Harap maklum, kids jaman now.


Diatas piring rotan, nasi timbel disajikan dengan berbagai macam lauk. Tampilannya memang seperti pecel ayam yang ada di rumah makan lamongan, namun yang satu ini memiliki ciri khas yaitu nasinya dibungkus daun pisang. Menurut mbak yang menyajikan, nasi tersebut dibungkus ketika masih panas-panas, tanpa dibakar atau dikukus lagi. Adapun lauk-pauknya seperti gambar diatas, ada ayam goreng, tempe, tahu, sayur kol dan timun serta sambal terasi. Untuk harga perporsinya hanya dibandrol Rp. 18.000.

Tanpa menunggu lama lagi, saya pun membuka bungkus nasi. Uap panas nasi masih bisa dirasakan. Tangan pun mulai menggerayang, lalu mecubit bagian ayam goreng tersebut. Biar tambah nikmat tidak lupa juga dicocolkan kesambal terasi. Hangatnya nasi, gurihnya ayam dan pedasnya sambal terasi benar-benar membuat makan siang itu terasa nikmat.

Ayam goreng dari nasi timbel memang terasa enak. Ayamnya terasa empuk dan bumbu-bumbunya meresap hingga kedalam. Ditambah lagi pedasnya sambal terasi yang benar-benar menggugah selera. Selain itu, tahunya juga terasa enak dengan bumbu yang meresap hingga kedalam. Sampai-sampai teman disebelah meminta tahu saya, meskipun pada akhirnya tidak dapat karena sudah habis.

Untuk minumannya, kami lebih memilih es tebu dengan harga Rp. 3.000. Selain itu ada juga kelapa muda dan minuman yang lainnya.

Bagaimana, tertarik untuk mencobanya? Saya rasa tidak ada salahnya jika anda mampir di Kedai Abah dan Ambu untuk menikmati nasi timbel khas Cianjur.

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon