Wednesday, September 20, 2017

Panglima Sejati - Cerita Rakyat Kabupaten Mempawah


Telah tersiar kabar di kalangan rakyat Senggaok bahwa raja mereka, Penembahan Senggaok akan melangsungkan perkawinan dengan putri yang cantik jelita dari Kerajaan Pagaruyung yang bernama Putri Cermin. Rakyat pun menyambut berita itu dengan suka cita. Hari perkawinan pun telah ditetapkan. Panembahan Senggaok segera memerintahkan kepada para kerabat istana dan para pengawal untuk mempersiapkan acara perkawinannya dengan semeriah-meriahnya.

Sejak itu, mulailah tampak kesibukkan para pembantu, para pengawal dan kaum kerabat di istana Senggaok. Patung-patung dibersihkan, tirai-tirai pintu dan jendela pun diganti. Dan disetiap sudut ruangan diberi hiasan kembang warna-warni. Kampung-kampung disekitar istana juga dibersihkan dan dihias.

Untuk melengkapi keperluan perkawinan itu, maka Panembahan Senggaok menunjuk seorang panglimanya yang gagah perkasa, yakni Datok Petinggi untuk pergi mencari keperluan perkawinan ke Bandar Hilir Sungai Mempawah.

Maka, dipanggillah Datok Petinggi, sang penggawa istana yang gagah perkasa itu ke istana. Datok Petinggi pun segera masuk ke istana untuk menghadap pada sang raja.

"Hamba datang menghadap Paduka Yang Mulia." Sembah Datok Petinggi.

"Dudukla Datok Petinggi". Balas sang Raja.

"Ada apa gerangan sehingga paduka memanggil hamba untuk menghadap Yang Mulia?" Tanya Datok Petinggi ingin tahu.

"Aku mengundangmu kemari tidak lain untuk memerintahkanmu pergi ke Bandar Hilir Sungai Mempawah. Guna mencari segala keperluan untuk perkawinanku yang tinggal beberapa hari lagi. Aku tahu, jarak yang harus kau tempuh cukup jauh. Tetapi, kamu harus kembali keistana dalam waktu sehari semalam." Perintah Raja kepada Datok Petinggi dengan penuh wibawa.

"Bagaimana Datok Petinggi?" Sanggupkah engkau menerima tugas ini?" Tanya Sang Raja minta keputusan.

"Daulat Tuanku, Hamba adalah abdi Tuanku dan hamba akan menjunjung tinggi titah Tuanku. Dan hamba berjanji dalam waktu sehari hamba sudah kembali lagi ke istana ini. Jika hamba tidak dapat memenuhi janji itu, maka nyawa hambalah taruhannya." Jawab Datok Petinggi sambil tersenyum penuh keyakinan.

"Kalau begitu berangkatlah sekarang juga!" Titah Sang Raja.

"Baik Paduka. Hamba mohon diri." Kata Datok Petinggi berpamitan.

Pada hari itu juga, berangkatlah Datok Petinggi dengan seorang juru mudi yang handal ke Bandar Hilir Sungai Mempawah. Sudah bukan rahasia lagi kalau kehebatan Datok Petinggi sudah termahsyur sampai di pelosok negeri. Ia dikenal mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Kedua tangannya berotot, dadanya kekar. Konon kata hikayat, sekali ia mendorong galah beliannya, yang diperkirakan berukuran sebesar batang kelapa itu, maka perahunya akan melaju hingga dua tiga tanjung dapat terlampau dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan kekuatan itu pula dalam waktu yang singkat, Datok Petinggi telah sampai ke Bandar Hilir Sungai Mempawah.

Ketika sampai Datok Petinggi berkata kepada juru mudinya. "Kita harus segera mendapatkan segala keperluan Raja untuk perkawinannya. Setelah itu kita segera kembali, karena sebelum malam tiba kita harus sampai ke istana." Datok Petinggi megingatkan juru mudinya.

"Baik Datok Petinggi." Jawab juru mudinya dengan sigap.

Setelah menemukan barang-barang yang diperlukan untuk pernikahan Sang Raja, dengan secepatnya Datok Petinggi kembali ke perahu dan segera memerintahkan juru mudinya untuk segera mudik, guna menepati janjinya tiba diistana dalam waktu sehari saja.

Namun, ketika hampir tiba di Senggaok, tiba-tiba cuaca berubah menjadi gelap gulita seperti malam. Semakin lama semakin gelap. Sampai-sampai sisi kiri dan kanan sungai tidak kelihatan lagi. Datok Petinggi mulai cemas dan khawatir.

"Mengapa cuaca yang tadinya terang benderang tiba-tiba berubah menjadi gulita. Apakah ini merupakan petanda buruk?" Tanya Datok Petinggi kepada juru mudinya.

"Juru mudi! Jangan sampai kita terkandas ditepi sungai. Arahkan terus perahu ketengah!" Perintah Datok Petinggi dengan suara menggelegar.

"Bagaimana mungkin Datok Petinggi? Hamba sudah tidak dapat melihat batas sungai." Kata juru mudi sambil berusaha mengarahkan perahunya agar tidak menabrak ditepian sisi sungai.

"Kamu bersiap-siaplah! Karena aku akan menambah laju perahu ini dengan kekuatan yang luar biasa." Tukas Datok Petinggi.

Dengan sigap Datok Petinggi pun menancapkan galahnya kedasar sungai. Namun malang. Ketika akan mendorong perahunya, tiba-tiba terdengar bunyi 'krek'.

"Ah! Galahku patah menjadi dua."Teriak Datok Petinggi dengan mata terbelalak. Seakan dia tak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

Akibat kejadian yang tak terduga itu, perahu Datok Petinggi pun hanyut ke hilir Sungai Mempawah. Perjalanan pulang mereka menjadi tertunda beberapa hari untuk tiba ke Senggaok. Melihat kenyataan itu, Datok Petinggi tidak bisa menyembunyikan rasa kesal dan kekecewaannya.

***

Sementara itu, di istana Senggaok, Raja sudah gelisah  menunggu kepulangan Datok Petinggi.

"Mengapa Datok Petinggi belum juga kembali sesuai dengan waktu yang aku titahkan padanya? Padahal dengan kekuatan dan galah yang dimilikinya, seharusnya dia sudah sampai pada saat ini. Apakah telah terjadi sesuatu dengannya?" Beragam pikiran dan kecemasan berkecamuk dibenak Raja.

Tiba-tiba pengawal istana datang menghadap. Ampun Paduka Yang Mulia. Hamba dapat berita, bahwa Datok Petinggi sudah sampai di pangkalan istana." Katanya dengan terengah-engah.

"Suruh dia menghadapku, segera." Titah Paduka Yang Mulia.

Tak lama kemudian Datok Petinggi pun datang menghadap.

"Sembah hamba Yang Mulia! Mohon ampun karena hamba tidak dapat memenuhi janji hamba." Kata Datok Petinggi penuh dengan rasa kekecewaan dan juga malu.

"Ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi! Sehingga perjalananmu memakan waktu melebihi yang telah aku titahkan kepadamu yaitu sehari semalam." Pinta Raja ingin tahu.

Datok Petinggi pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya selama menempuh perjalanan pulang menuju ke Senggaok. Raja tampak memaklumi kejadian itu.

"Aku rasa semuanya sudah kehendak Yang Maha Kuasa." Tutur Raja bijak.

"Paduka Yang Mulia, sebelum berangkat ke Bandar, hamba sudah berjanji kepada Paduka untuk dapat kembali dalam waktu sehari. Dan jika janji itu tidak dipenuhi, maka nyawa hambalah sebagai taruhannya." Ujarnya.

"Sudahlah Datok Petinggi. Aku sudah mengampunimu." Kata Raja dengan bijaksana dan penuh wibawa.

"Menurut hamba, tidak layak seorang Datok Petinggi untuk ingkar terhadap sumpah dan janji yang telah diucapkannya. Bagi hamba, janji haruslah ditepati." Datok Petinggi berkata mantap.

"Apa maksudmu wahai Datok Petinggi?" Tanya Sang Raja bingung. Beliau tak mengerti arah pembicaraan Datok Petinggi.

Rupanya Datok Petinggi punya cara lain untuk melunasi janjinya pada Sang Raja. Dan tanpa diduga, dengan secepat kilat, sekonyong-konyong Datok Petinggi sudah tergeletak berlumuran darah. Ternyata, dia sudah memenuhi sumpah dan janjinya, dengan memotong alat kelaminnya sendiri. Raja sangat terkejut melihat aksi nekat Datok Petinggi tersebut.

Dan tak lama berselang, Datok petinggi pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia telah meninggal dan kemudian dikenang sebagai ksatria yang tangguh memegang janji. Dengan wafatnya Datok Petinggi sebagai ksatri yang tangguh memegang janji, maka Paduka Yang Mulia Panembahan Senggaok memberinya gelar sebagai Panglima Sejati.

Sampai sekarang, di Hulu Sungai Mempawah, masih terdapat galah belian datok Petinggi yang sudah patah. Galah belian itu merupakan saksi bisu dan bukti sebagai catatan sejarah. Dan daerah tersebut kemudian dianamakan Secancang.


Sumber:
Rap, Lonyenk. (Ed.). 2013. Buaya Kuning. Jakarta Timur: Prameswari.

Baca Juga:
Buaya Kuning - Cerita Rakyat Kabupaten Mempawah
Galaherang - Cerita Rakyat Kabupaten Mempawah
Dara Itam - Cerita Rakyat Kabupaten Mempawah
Keris Ajaib - Cerita Rakyat Kabupaten Mempawah

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon