Tuesday, July 7, 2020

Selamat Datang di Sukadana

Tugu Durian Sukadana

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang, perjalanan kembali kami lanjutkan kedaerah berikutnya. Kali ini kami akan menyambangi Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di  Sukadana. Bukan tanpa alasan, disana kata teman-teman tempat wisatanya juga tidak kalah menarik. Apalagi saat itu katanya akan diadakan festival durian, yang hanya diselenggarakan ketika musim durian tiba.

Sukadana, merupakan kota kecil yang sangat menawan. Dulunya ia adalah bagian dari daerah Kabupaten Ketapang. Namun, setelah adanya pemekaran wilayah kini masuk kedalam wilayah Kabupaten Kayong Utara. Statusnya pun sekarang berubah menjadi sebuah ibu kota kabupaten. Sejak itulah, pembangunan  dan kegiatan ekonomi disini semakin menggeliat. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata. Tapi sayang, saat festival kemarin tidak kesini.

Saat itu hampir jam 11.00 WIB. Matahari lagi semangatnya menyinari hamparan bumi. Punggung tangan yang tugasnya mengendalikan motor, terasa hangat ketika disapa sang mentari. Maklum, tak ada sarung tangan yang melindunginya. Selain itu jalan yang kami lalui juga sedang dalam perbaikan. Jalanan yang berbatu dan berdebu menjadi santapan saat itu. Tapi tenang saja, karena itu dulu disaat tahun baru. Untuk sekarang saya rasa jalannya sudah bagus. Iya kan?

Ada hal yang membuat lebih seru perjalanan kali ini. Jika sebelumnya perjalanan menuju Ketapang hanya berdua saja, maka untuk sekarang ada rombongan lain. Ya,  ada rombongan anak jalanan yang sedang melakukan touring. Meskipun kami tidak saling kenalan dan salin sapa, tapi setidaknya ada teman dalam berkendaraan. Mereka ngebut, kami pun juga ikutan ngebut. Walaupun kadang mereka menoleh dan mungkin dalam benaknya berpikir 'ini siapa? Kenapa dari tadi ngikut terus?' Bodo amat, yang penting kami ini tidak ada niat jahat.

Tanda telah memasuki wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah setelah kita memasuki wilayah Siduk. Sebuah dusun yang ada di Kecamatan Sukadana. Setelah inilah, akan banyak kita jumpai para penjual durian dipinggiran jalan. Mereka menggantungnya dibawah pondok beratapkan terpal dan tidak sedikit pula yang hanya meletakkan ditanah.

Selain itu, gantungan-gantungan tempoyak juga membuat pondok tersebut semakin terlihat ramai. Ditambah lagi buah manggis yang tentu saja sangat menarik perhatian pengguna jalan. Satu dua orang singgah, negoisasi harga, memilih durian dan manggis lalu duduk menikmatinya. Terlihat pula yang langsung membawanya pulang.

Ah, sungguh enak rasanya jika saat tegak hari mampir ke pondok sambil menikmati buah manggis. Atau mencicipi legitnya buah durian. Tapi apalah daya, kami hanyalah pengelana dengan uang yang seadanya.

Ketika tiba dipersimpangan tiga, kami dan anak geng motor harus berpisah. Kami memilih belok jalur kanan sedangkan mereka tetap lurus saja. Semoga liburannya menyenangkan, kawan.

Oh, iya. Perjalanan dari Kota Ketapang menuju Sukadana tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan atau jarak tempuh sejauh 83.5 km. Lebih jauh jika dari Pontianak ke Singkawang.

Tujuan kami sekarang adalah pergi kerumah teman yang ada di Sedahan Jaya. Hanya bermodalkan share location, kami terus menyusuri jalanan yang belum pernah kami lewati. Entah bagaimana kondisi jalan yang akan ditempuh kedepannya itu adalah masih misteri. Namun yang pastinya, tempat yang akan didatangi ini bersampingan dengan Kampung Bali.

Tidak perlu waktu yang lama dengan dibantu oleh semakin canggihnya teknologi, akhirnya kami sampai dirumah tujuan. Yah meskipun sempat lewat beberapa rumah, hingga akhirnya orang yang dicari meneriaki kami. Memberitahukan kalau rumahnya sudah lewat. Untuk nama kampung yang kami datangi ini saya sudah lupa. Maklum, tulisan ini baru bisa saya buat setelah enam bulan kejadian. Ah, penulis macam apa saya ini. Tidak mencatat detail nama tempat yang didatangi. Yang pastinya, kampungnya begitu tenang dengan latar perbukitan.

Perkenalkan dulu, nama pemilik rumah yang kami datangi ini adalah Eko. Salah satu teman kampus Yansah (teman perjalanan saya). Entah bagaimana awal ceritanya, perjalanan kami diketahui beliau dan menyuruh kami untuk mampir kerumahnya. Kami pun menyempatkan diri walaupun hanya sebentar.

Baru saja memarkirkan kendaraan, sudah terdengar suara bapak-bapak yang mempersilahkan naik. Saat itu kami masuk melalui pintu samping, dimana keluarga Eko sedang berkumpul. Saya dan Yansah pun menyalami mereka satu persatu. Ada bapaknya Eko, mamanya Eko dan pamannya Eko. Kedatangan kami disambut begitu hangat oleh Eko beserta keluarganya.

“Dari mana Dek?” Mama Eko bertanya dengan logat Jawa yang begitu terdengar lembut bagi orang Kalimantan.

“Dari Pontianak, Buk.” Saya lebih dulu menyebutkan.

Percakapan dua kubu pun terjalin. Kami menceritakan dari mana asal kami, kemudian bagaimana ceritanya bisa sampai di Sukadana hingga tentang perkuliahan pun juga ikut diceritakan. Sebaliknya, beliau menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat disana. Percakapan semakin hangat ketika cangkir-cangkir kopi disajikan. Mantap betul...

Dari percakapan itulah kami tahu kalau dearah ini dulunya adalah pemukiman transmigrasi. Mereka didatangkan dari pulau Jawa dan Bali untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Selain itu, tidak jauh dari sini juga ada kawasan hutan lindung yang sering disebut Taman Nasional Gunung Palung. Disanalah beragam jenis satwa dijaga untuk kelestariannya.

Rasanya belum puas untuk mendengarkan cerita.  Tapi apa daya, kami segera pamit disaat jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Eko dan sekeluarga yang sudi untuk berbagi. Berbagi tempat berteduh, berbagi cerita dan berbagi makanan.

Lalu bagaimana dengan cerita pesta durian dan kampung Balinya? Pesta duriannya telah lama usai disaat kami tiba. Sedangkan kampung Bali nya hanya sekedar datang, tidak ke viharanya dikarenakan motor yang bermasalah.

Kecewa? Pastinya iya. Namun semua itu terbayarkan dengan berjumpa Eko dan sekeluaraganya yang begitu ramah dan bersahaja. Lagian pun saya yakin, ada hal-hal menarik lainnya yang sudah menunggu. Selamat Datang di Sukadana...


Monday, June 29, 2020

5 Ciuman yang Membuat Meriang

"Ciuman ini spesial dan sungguh berbeda. Ciuman yang membuat darah disekujur tubuh langsung mengalir kencang".

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasanya kurang seru juga jika hanya berdiam diri dirumah. Keluar masuk pintu dan menatap layar ponsel yang lagi kekurangan sinyal. Yah, meskipun saat itu katanya lebih baik dirumah saja karena lagi masa pandemi. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi kekebun memanen buah pinang.

Tapi rencana hanyalah tinggal rencana. Keinginan pergi kekebun saya urungkan dulu setelah melihat sebuah kotak peti. Disana terlihat lebah yang datang pergi dan sebagian kecil berkumpul di lubang pintu masuk. Saat itulah, menghampirinya adalah hal yang menarik untuk dilakukan.

Bermula dari sebuah iklan ditelevisi. Saat itu ada produk madu yang memperlihatkan bagaimana proses madu dihasilkan. Disana tampak jika madu tersebut diperoleh dari lebah peternakan. Dari iklan itulah saya mulai kepo dan ingin mengetahuinya lebih lanjut.

Saya pun mulai mencari-cari video mengenai peternakan lebah di youtube. Ada banyak konten yang membahasnya disana. Ternyata untuk berernak lebah itu sangat mudah. Tinggal membuat kotak peti serta menyusun beberapa potongan kayu untuk bergantungnya sarang. Kemudian memancingnya dengan mengoleskan gula cair didalamnya agar lebah mau mampir dan bersarang.

Hal yang membuat saya terkesan adalah disaat peroses pemanenannya. Dimana pemilik ternak lebah dengan santai mengambil madunya. Bahkan ada beberapa video yang pemanennya tidak menggunakan alat-alat pelindung apapun. Hanya berupa pisau saja untuk memotong sarangnya, kuas untuk membersihkan lebahnya dan baskom untuk tempat sarang madunya.

Lebih parah lagi adalah disaat tangannya banyak dihinggapi lebah. Dengan santai ia mengusirnya menggunakan tangan yang satunya. Tidak ada suara 'au' atau 'aduh' yang terdengar dari mulutnya. Mungkin ini yang dinamakan patuh pada tuan. Dan saat itulah saya mencoba untuk membuatnya dan mengubah orientasi pemikiran saya bahwa lebah adalah sahabat. 

Kotak lebah tersebut saya buat sekitar  tiga bulan yang lalu. Tidak terasa juga, jika sekarang sudah ada penghuninya. Dan sebagai seorang pemilik, tentunya berharap ada imbalan yang bisa didapatkan. Sudah tahukan upah apa yang saya maksud? Enak saja numpang nginap gratis.

Saya pun menghampirinya. Karena keadaan sekitar yang lagi banjir, agak sedikit sulit untuk mempercapat langkah. Selain itu juga menimbulkan suara berisik, yang membuatnya sedikit terganggu. Setelah merapat, terdengar suara riuh lebah yang ada didalam kotak peti. Namun saya tidak berani untuk menyentuhnya, apalagi harus membuka papan peti bagian atas. Yang ada malah saya yang diserbu duluan.



Saya pun kembali lagi kerumah. Memakai berbagai perlengkapan anti sengatan lebah. Seperti menggunakan sarung tangan, jacket yang tebal, sepatu boot, helm dan karung bawang. Helm? Memangnya mau balapan? Tidak sih. Tapi serius itu sangat bermanfaat dari hantaman buntutnya sih lebah. 

Sekejap saya sudah mirip astronot dengan pakaiannya yang super canggih. Dibagian kepala sudah diamankan dengan menggunakan bandana, kemudian dilapisi tudung jacket, dipasang helm dan dibungkus lagi dengan karung bawang. Pokoknya sangat mengedepankan yang namanya 'safety'. Dibagian kaki terpasang sepatu boot yang tingginya hampir selutut. Sedangkan dikedua tangan ada baskom, pisau dan kuas.

Tapi yang membuat kesal adalah ketika diketawain kakak dan adik saya. Bukannya diberi semangat, eh malah dikatain mirip alien. Kalau saya mirip alien lalu mereka mirip siapa? Selain itu, mereka juga mulai berkata yang aneh-aneh. "Awas, lebih baik disuntik bidan ketimbang disengat lebah". Hubungannya apa coba? Saya pun memilih pergi ketimbang menghiraukan omongan mereka.

Dengan sedikit susah oayah menerobos banjir, akhirnya tiba dilokasi. Saat itu masih merasa ragu apakah akan membuka tudung petinya. Bagaimana jika lebahnya menyembur keluar dan menggigit saya. Atau malah ramai-ramai mengangkat saya dan menyangkutkan di pohon durian. Tidak! Itu tidak mungkin. Semuanya akan baik-baik saja. Apalagi saya adalah pemilik petinya. Jika membandel sedikit mereka harus segera angkatkan kaki. Camkan itu...

Saya pun menarik napas dalam-dalam dan mengingat kembali mengenai tutorial memanen madu yang ada di youtube. Harus tetap selalu santai, agar lebahnya tidak merasa terganggu. Dan... bismillah, papan tersebut saya buka.

Satu dua tiga puluh detik suasana terlihat lengang. Hanya terdengar suara dengungan lebah dan detak jantung. Maklum, ini adalah pertama kalinya bagi saya melakukannya. Sesantai-santai apapun saya berusaha, tetap saja rasa cemas masih ada. Sebuah naluri alamiah manusia yang diciptakan oleh Tuhan.

Keadaan berubah ketika saya mulai mengangkat sarangnya. Satu dua bahkan belasan mulai berterbangan. Selebihnya merayap-rayap disarung tangan, bahkan ada juga yang mulai menempelkan buntutnya dicelah sarung tangan. Hingga akhirnya satu ciuman perdana mendarat dijari telunjuk. Ayo daeng, kamu harus tetap kelihatan cool...

Saya berusaha tetap santuy meskipun sebenarnya rasa sakit sengatan lebah tadi mulai terasa. Mengikuti arahan video, perlahan-lahan saya membersihkan sarangnya. Eits, tunggu dulu, madunya kemana? Kenapa hanya beberapa lubang saja yang berisi. Dan itu pun tidak penuh. Mungkin rezeki ada disarang yang lainnya.

Saya kembali mengangkat sarang yang berikutnya. Saat itulah amukan lebah semakin menjadi-jadi. Tidak ada lagi yang namanya santuy atau bersikap manis. Saya mulai mempercepat kerja, membersihkan lebah dari sarangnya. Namun keberuntungan masih belum berpihak. Sarang yang saya ambil hanya berisi calon-calon lebah. Dan lagi lagi-lagi juga, sengatan lebah kembali mendarat di jari manis.

Diatas kepala sudah tidak terhitung sudah berapa banyak lebah yang terbang. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menempel dipakaian dan karung bawang. Dengan sekuat tenaganya mereka berusaha untuk masuk. Jlebb! Hingga akhirnya, satu ciuman manis lebah mendarat dibibir. Entah sejak kapan pula dia menerobos Benteng Takeshi dan luput dari pandangan? Karena amukannya yang semakin menjadi pula, akhirnya saya berlari diatas banjir, mirip seperti Wiro Sableng yang sedang berjalan diatas air.

Namun semuanya terlambat. Dua sengatan kembali mendarat lagi ditangan. Jadi total ciuman manis yang saya dapatkan adalah lima. Saya pun segera naik kerumah dan langsung menuju mandi. Sebelum efek ciuman beracun tersebut beraksi.

"Mana madunya?" Kakak yang didapur bertanya.

"Itu. Madunya hanya sedikit. Yang banyak hanya anak lebahnya". Saya menunjuk keatas meja. Berusaha bersikap santai. Seolah-olah tidak ada musibah yang baru saja telah terjadi. 

Bukannya apa. Seandainya mereka tahu kalau barusan saja saya disengat oleh 5 lebah, pasti mereka akan tertawa-tawa. Menganggap kalau ini adalah sebuah hiburan dan patut dijadikan trending topik didalam rumah. Apalagi kalau emak sampai tahu, yang ada malah saya diomelin. Tidak! Saya harus merahasikan kejadian ini rapat-rapat.

Kemudian saya pergi kekamar, memilih rebah diatas kasur. Tidak lupa sebelumnya untuk mengunci pintu. Takut kalau lebahnya tiba-tiba datang menyerang. Hingga pada akhirnya saya terlelap.

Sekitar pukul 11.00 WIB badan saya merasa meriang alias deman. Sekujur tubuh sangat terasa dingin dan tulang-tulang rasanya ngilu. Bagian tubuh yang disengat oleh lebah jangan ditanya lagi. Pastinya sudah bengkak. Apalagi yang dibagian bibir, jelas sekali terasa nyut-nyutnya. Tapi syukurlah, meriang itu tidak berlangsung lama. Panas badan saya kembali normal setelah keringat seperti berkerja diladang keluar.

Saya pun juga menggunakan masker ketika keluar kamar. Ketika ditanya kenapa memakai itu. Saya hanya menjawab 'lagi musim korona. Harus kebih waspada'. Hal tersebut tentu saja memicu rasa penasaran dari kekuarga. Hingga pada akhirnya, saya jujur kalau tadi pagi mendapat 5 ciuman manis dari lebah. Salah satunya adalah dibibir. After that, saya dapat wejangan panjang dari emak. Tapi sungguh, emak begitu karena dia sangat sayang dan masih peduli sama saya.

Saat itu saya sadar, memanen lebah tidak semudah divideo tutorial yang ada di youtube. Tabek...

Tuesday, June 23, 2020

Destinasi Wisata Ketapang yang Wajib Didatangi


Lagi liburan singkat di Kota Ketapang? Tapi ingin pergi ketempat wisatanya? Tenang! Saya akan berbagi sedikit cerita pengalaman saya, yang saat itu datang kesini hanya sebentar saja. Tengah malamnya sampai, besok jam 10 pagi langsung berangkat lagi. Destinasi wisata yang direkomendasikan ini pun lokasinya tidak jauh alias mudah dijangkau dan menurut saya wajib (prioritas) untuk didatangi. Dari wisata religi, wisata alam dan wisata sejarah. Berikut ceritanya dan selamat membaca...

Saya membasahi seluruh tubuh dengan segayung air. Seperti biasanya, masjid adalah tempat yang sangat bermanfaat bagi perjalanan kami. Bukan hanya sebagai tempat beribadah, melainkan juga tempat persinggahan untuk beristirahat bahkan sebagai tempat mandi. Harap maklum, disini kami tidak punya sanak keluarga dan kenalan.

Kendaraan kembali melaju dijalan raya Kota Ketapang yang saat itu terlihat cukup sepi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya satu dua saja kendaraan yang menyalip kami. Entah mungkin dikarenakan hari yang masih terlalu pagi atau mungkin orang-orangnya yang masih lelah setelah merayakan tahun baru semalam suntuk. Ah terserahlah, setidaknya pagi ini udara terasa begitu segar.

Ketika mengunjungi Kota Ketapang ada satu ikon di perempatan jalan yang harus disambangi. Ayo tebak apakah itu? Untuk sidak Ketapang atau orang yang pernah mengunjunginya pasti akan tahu. Apalagi kalau bukan Tugu Ale-Ale. Sebuah tugu yang menjadi ikon kebanggan masyarakat Ketapang. Untuk yang belum tahu, ale ale adalah sejenis kerang yang sangat banyak ditemukan disini bahkan menjadi salah satu andalan kulinernya. Ups, terasa lapar jadinya.

Meskipun baru pertama kali datang ke Kota Ketapang, bukan berarti kami harus canggung ataupun khawatir. Entah itu khawatir untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya atau khawatir akan kesasar dijalanan. Karena sejatinya dalam kesaharian orang-orang disini menggunakan bahasa Melayu yang kurang lebih sama dengan bahasa Melayu Pontianak. Sedangkan untuk arah jalan tinggal diserahkan saja dengan google map yang akan memandu setiap langkah.

Bertandang ke daerah orang rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir ke tempat wisatanya. Apalalagi kalau lokasinya jauh, rasanya perjalanan yang dilakukan terasa sia-sia. Berhubung kami hanya memiliki waktu yang singkat karena siangnya akan segera menuju ke Sukadana, akhirnya kami memutuskan hanya mendatangi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang. Itu pun hanya sebentar saja, sebagai penghilang kemponan. 

Tempat Wisata di Kota Ketapang yang pertama kali didatangi adalah Pantai Pecal. Saat tiba disini pantainya masih sangat terlihat sepi. Maklum, saat itu masih pukul 06.30 WIB. Hanya satu dua orang yang terlihat berjalan didermaga dan sepasang kekasih yang sedang bermesra dibawah pondok. Serta sekelompok keluarga besar dengan pakaian serba putih yang sedang menunggu kedatangan Ratu Pantai Selatan (berfoto dibibir pantai).

Kami berjalan ke sebuah pondok yang paling dekat dengan tepian pantai. Deburan ombak yang menghantam pesisir terasa terdengar syahdu. Ditambah lagi suara kicauan burung yang saling bersahutan membuat tempat ini terasa asri (meskipun itu adalah suara burung pipit). Saya pun terlena dan ingin segera merebahkan diri.

Eits, tapi tunggu dulu. Niat untuk bersantai-santai tersebut segera saya urungkan setelah melihat sesendok coklat pahit tercecer diatas lantai. Untung belum sempat baring. Bisa dibayangkan bagaimana aroma pekatnya jika menempel dibaju? Usut punya usut, ternyata disekitar kami memang ada ayam yang sedang berkeliaran. Nah, sekedar saran buat kalian, jika baru tiba disuatu tempat alangkah lebih baiknya untuk memperhatikan dulu yang ada sekitar. Biar tidak terkena jebakan BangMen.

Kami pun pindah dipondok bagian belakang. Kali ini lokasinya aman dan terkendali untuk bersantai-santai. Sekedar informasi, selain disebut sebagai Pantai Pecal, pantai yang satu ini juga memiliki nama lain, yaitu Pantai Pesisir Kinjil. Dan pada tahu tidak kenapa pantai ini dijuluki sebagai Pantai Pecal? Hal tersebut karena disekitar pantai ini banyak sekali penjual pecal yang menjajakan dagangannya. Oleh karena itulah disebut sebagai Pantai Pecal. Nah kalau mampir kesini jangan lupa untuk mencoba makanannya ya, biar bisa menambah sedikit penghasilan para pedagangnya.

Berhubung hari yang semakin siang dan perutpun mulai meronta, rasanya kurang afdol jika tidak segera untuk sarapan. Jangan sampai gara-gara terlambat makan membuat rencana jadi berantakan. Saya pun menghampiri sebuah warung untuk memesan dua porsi pecal. Hal yang harus diingat ketika akan membeli makanan, pesanlah diwarung sesuai dengan pondok yang diduduki. Kalau tidak pemilik tempatnya akan bermuka masam dan hal yang terparah adalah akan mengusir paksa.

Nikmat euyy

Setelah kenyang menyantap makanan, saya pun memutuskan untuk menyusuri dermaga. Sebuah gapura megah dari beton berdiri kokoh  menyambut kami. Diatasnya terpampang tulisan “DERMAGA WISATA PANTAI KINJIL PESISIR”. Dari bentuknya terlihat seperti benteng pertahanan dengan dominan warna putih. Selanjutnya terdapat enam gapura kayu yang desainnya mirip gapura Jepang dengan warna jingga.

Pantai Pecal

Meskipun Saat itu keadaan matahari terlihat mendung, namun bukan berarti panorama Pantai Pecal tidak bisa dinikmati. Dari atas dermaga kita bisa melihat bagaimana gulungan ombak yang saling berkejaran dan berakhir dengan bunyi deburan ombak. Yah meskipun tidak besar, tapi lumayanlah untuk mencuci mata dan sedikit menenangkan jiwa. Terdapat juga berbagai jenis binatang laut yang bisa dilihat. 

Setelah puas menatap luasnya lautan, kami pun segera kembali untuk menuju ketempat wisata yang selanjutnya. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju ke  Keraton Matan Tanjungpura. Hanya memakan waktu belasan menit, kami tiba ditempat tujuan.

Keraton Matan Tanjungpura tereletak dipinggiran sungai, Tepatnya di Sungai pawan. Seperti yang diketahui, pada jaman dahulu perairan merupakan jalur transportasi yang sering digunakan untuk membawa berbagai barang dan orang. Oleh karena itulah, jangan heran jika banyak pusat pemerintahan kerajaan yang mendirikan istananya dekat dengan perairan. Selain itu, air juga merupakan sumber kehidupan yang sangat penting dalam kehidupan.

Kami pun memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki menuju lokasi. Tak jauh, hanya sepelemparan batu sudah sampai. Tapi sayang, disaat kami tiba keadaan Keraton dalam kondisi tertutup. Jadi hanya bisa lihat dari luar pagarnya saja. Entah memang tidak dibuka untuk umum, atau kaminya saja yang datang tidak pada waktunya. Meskipun begitu, rasa syukur tetap saja selalu ada. Setidaknya kami telah sampai dan menginjakkan kaki dibumi Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai ke negeri seberang. 

Keraton Matan Tanjungpura

Didalam kawasan Keraton Matan Tanjungpura terdapat beberapa bangunan. Sebagian besar bangunan tersebut didominasi oleh warna kuning, dan sebagian kecil bercatkan warna hijau. Atapnya pun masih menggunakan atap sirap, sejenis atap yang terbuat dari kayu. Sekilas, Keraton Matan Tanjungpura tampak seperti dari perpaduan dua budaya, yaitu antara Melayu dan Dayak.

Dihalaman keraton terdapat dua meriam yang menghadap kearah Sungai Pawan. Menurut salah satu artikel yang saya baca, meriam tersebut adalah sepasang suami istri yang tidak bisa dipisahkan. Menarik juga ya ceritanya. Tapi sayang, saat kami berkunjung kesini lagi tidak buka dan pastinya tidak banyak informasi yang kami peroleh mengenai Keraton Matan Tanjungpura. 

FYI juga, keraton ini sekarang dijadikan sebagai museum dengan nama Museum Gusti Saunan. Banyak barang-barang milik kerajaan pada tempo dulu yang bisa dilihat. Seperti singgasana sultan dan permaisurinya, foto-foto sultan bersama keluarga dan berbagai peralatan yang lainnya.

Karena tidak bisa masuk kedalam, kami pun menghabiskan waktu disini dengan berfoto-foto dan bersantai di pinggiran Sungai Pawan yang begitu rupawan. Menyaksikan aktivitas masyarakat yang ada diseberang dan motor air yang berlalu lalang.

Sungailah Pawan...
Kalaunye pasang...
Diwaktu hujan...
Deras sekali...

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Itulah cerita singkat saya di Kota Ketapang. Kalau ingin wisata religi, silahkan saja mengunjungi Masjid Agung Ketapang yang bagunannnya sangat megah dengan desain yang menarik. Apalagi kalau disaat malam, warna masjidnya bisa berubah-ubah. Nah jika ingin melihat pemandang alamnya datang saja ke Pantai Pecal. Disini tidak hanya angin sepoi-sepoinya yang terasa bersahabat, namun kulinernya juga nikmat. Sedangkan untuk wisata sejarahnya langsung saja datang ke Keraton Matan Tanjungpura. Sebuah negeri yang dulu kemahsyurannya sampai dinegeri seberang. Semua tempat tersebut tentunya sangat mudah dijangkau.

Sebenarnya masih banyak lagi destinasi wisata yang ada Kota Ketapang. Namun karena waktunya singkat, jadi datang ketempat yang diprioritaskan saja dulu. Semoga suatu saat bersuah lagi.

Ingatlah ingat...
Tanah Ketapang...
Kalau dah Pergi...
Baleklah agek...

Monday, June 22, 2020

Rumah Tempo Dulu Yang Dirindukan

Langit mulai mendung. Awan hitam yang ada diufuk barat kini berarak menuju atas kampung, membungkam cahaya mentari. Dari jauh, terdengar suara deruan yang semakin lama semakin mendekat dan besar. Ya, itu adalah suara tetesan air hujan yang jatuh menimpa atap rumah, menerpa pepohonan dan membasahi permukaan jalanan.

Diteras rumah, saya duduk lesehan sambil bersandar disebuah tiang. Memperhatikan seberapa deras air yang terjun dari atas seng. Selebihnya menatap betapa luasnya kolam renang pribadi yang ada didepan rumah, yang adanya kalau musim penghujan tiba. Alias banjir.

Hujan sekarang ini memang agak sulit untuk diprediksi. Kadang tiada angin dan petir, eh tiba-tiba air dari atas sudah netes. Seperti sikapmu kepadaku. Yang mudah berubah tanpa ada sebab apapun. Kamu memang begitu. Eak..

Tapi ngomong-gomong, semenjak beberapa hari setelah lebaran kemarin, kampung saya dianugerahi kelebihan air. Jika hari-hari yang lalunya selalu konsisten mencapai selutut orang dewasa, maka sekarang sudah mencapai sepaha. Yah wajarlah, hujannya selalu senang mampir. Deras lagi.

Akibat dari banjir tersebut tentunya banyak hal yang dirugikan. Pertama adalah tanaman sayur saya menjadi layu akibat kelebihan air. Bukan hanya saya juga sih  yang dirugikan, tetapi juga milik  masyarakat lainnya. Bayangin saja jika akar pepohonan direndam selama satu bulan, yang ada pohon menjadi kurus tak berbuah bahkan mati.

Selain itu, orang-orang juga pada ribut karena rumah pada digenangi air. Apalagi kampung-kampung yang ada dibagian hulu yang banjirnya lebih parah. Bahkan jalanan pun tak luput darinya. Kalau boleh dikata, ini adalah lockdown sesi dua. Jika lockdown sebelumnya kami bisa menyempatkan diri pergi kekebun untuk memanen hasil tanaman, sedangkan sekarang tidak. Jika nekat untuk kekebun,  yang ada malah kami masuk ke parit karena tidak terlihat oleh banjir. Atau disapa oleh aneka ular yang sedang bergelayutan diatas pohon. Tidak lucu juga kan kalau kejadiannya kayak gitu?

Tapi meskipun begitu, kita tentunya tidak boleh berburuk sangka kepada Tuhan. Apalagi sampai membanting piring didapur terus menangis dibawah shower. Yakinlah, segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmah dan pelajarannya. Terus hubungannya dengan rumah tempo dulu apa Daeng?

Iya sabar, baru saya mau ceritakan.

Disaat lagi serius memperhatikan banjir yang semakin meninggi sekaligus berharap ada bidadari yang turun mandi, eh tiba-tiba kakak dari dalam keluar membawa album foto.

"Coba lihat nih!" Kakak menunjukkan sebuah foto.

"Foto na nigae?" Saya bertanya menggunakan bahasa dari planet Yupiter. Intinya menanyakn foto siapa itu.

"Foto na Uwak waktu kalolo." Kakak menjelaskan dengan bangga.

Foto yang diperlihatkan diatas adalah foto bapak selagi muda, sebelum menikah. Saya pun segera menutup mulut yang ternganga, sebelum lalat semakin banyak hinggap digigi.

Album tersebut lantas saya bawa masuk kedalam. Dari covernya, terlihat sudah begitu kumal. Sudah terlihat berwarna kuning dan robek dipinggir-pinggirnya. Perlahan, saya buka halaman perhalaman.

Foto-foto tersebut tidak memiliki warna, hanya hitam putih saja. Ciri khas dari foto zaman waktu dulu. Tidak hanya berisikan gambar-gambar pose Uwak (bapak) saya saja, melainkan juga ada kakek dan nenek. Disisi lain, satu dua foto sudah mulai rusak. 

Meskipun tidak menampilkan warna yang fulgar, foto-foto zaman dulu itu sangat unik. Malah bagi saya terkesan sebagai barang antik, yang harus selalu dijaga keberadaannya. Rata-rata gaya fotonya juga masih klasik, hanya menegakan badan dan menatap fokus ke bagian kamera. Tidak ada yang berfoto dengan gaya dua jari, apalagi sampai memonyong kan bibir, pose alay cabe-cabean zaman sekarang. Gaya paling keren saat itu mungkin hanya bercekak pinggang.

Dari sekian foto, saya tertarik dengan gambar yang ada dibawah ini.

Sebelum trend A. Rafik menyerang

Bukan! Bukan! Anak kecil yang telanjang dada itu bukan saya. Uwak saya saja saat itu masih perjaka alias belum menikah. Nah diatas adalah salah satu foto diera 60/70 an. Hal yang membuat saya kagum adalah adanya rumah tempoe doeloe dibelakangnya, bukan kerennya tampilan mereka yang mirip pemain GGS. Genit-genit selalu...

Tapi tolong jangan fokus ke bagian jendelanya ya. Maklum, setelah foto ini diposting di media sosial, ada yang komen kalau ada penampakan dijendelanya. Enak saja sembarangan ngomong. Itu orang tdan merupakan pemilik rumahnya (padahal sembelum dikasih tahu Uwak, saya juga sempat keceplosan begitu, hehe).

Seperti yang diketahui, rata-rata rumah tempo dulu itu adalah rumah panggung. Sebuah rumah yang yang dasarnya tidak menempel ke tanah. Atau dengan kata lain memiliki tiang bawah yang tinggi. Jadi kita bisa lari-lari dibawahnya atau duduk bersantai sambil menikmati segelas kopi.

Nah membicarakan rumah tradisional tentu tidak akan lepas dengan yang namanya perkembangan zaman. Dari rumah yang tempo dulu tentu berbeda yang tempo sekarang. Paling yang bertahan adalah rumah adat yang keberlangsungannya dijaga oleh pemerintah setempat. Sisanya sudah berubah ke yang lebih moderen.

Dari zaman ke zaman, bentuk rumah itu selalu berevolusi. Dari yang dulunya tiang bawahnya mencapai dua meter, perlahan-lahan ketinggiannya menurun satu meter. Tidak lama kemudian menjadi setengah meter dan pada sampai akhirnya tidak memiliki tiang alias dasar rumahnya langsung menempel ketanah (katanya sih ini adalah rumah yang moderen). Bahkan tidak jarang, ketinggiannya hanya satu jengkal dari tanah.

Saya jadi penasaran bagaimana rumah dimasa yang akan datang? Mungkin permukaan lantainya sudah lebih rendah dari permukaaan tanah. Begitu hujan besar tiba-tiba datang, langsung deh jadi kolam renang indoor. Didepan rumah sudah terpampang baliho 'KOLAM RENANG MURAH'.

Sekarang bisa dilihat, berapa banyak rumah yang terdampak oleh banjir. Lantai digenangi air, berbagai perabotan rumah pun tak luput darinya. Yang rugi siapa juga? Ingin berharap bantuan dari pemerintah? Paling hanya berupa sembako. Mana pula mau membelikan kulkas yang rusak akibat kerendam banjir

Nah, itu adalah salah satu dari keunggulan rumah tempo dulu yang umumnya masih berbentuk panggung. Ketika banjir datang tidak perlu merasa khawatir. Khawatir pun paling karena memikirkan keadaan padi diladang yang terendam air. Tapi itu dulu.

Selain terhindar dari banjir, rumah panggung tempoe doeloe juga didesain untuk menghindari dari binatang liar. Seperti dinosaurus, tyronnasurus, ankylosaurus dan sagitarius. Barusan binatang apa ya? Yah pada intinya rumah yang tinggi akan menghindarkan kita dari binatang buas. Tidak lucu juga kan, pas asik-asiknya mimpi basah, tiba-tiba disamping sudah ada macan yang lagi ngiler. Akhirnya basah benaran dah...

Kolong rumah yang tinggi juga digunakan untuk banyak hal. Seperti tempat untuk berinteraksi dengan warga, menumbuk padi (ini saat zaman bahula), dan menyimpan berbagai barang perkakas pertanian. Bahkan ada juga yang menggunakannya sebagai tempat ternak hewan.

Karena masih membicarakan rumah tempo dulu, saya jadi teringat akan masih kecil. Saat itu masih ada rumah panggung yang tinggi kolongnya mencapai dua meter. Rumah itu adalah rumah alm. Tok Useng (Tok Husein). Jadi kalau berkunjung kesana bisa berlari-lari dibawahnya. Jendela-jendelanya yang besar membuat diri leluasa untuk melihat pemandangan sawah yang luas. Bisa dibayangkan bagaimana serunya bersantai diatas rumah panggung dengan terpaan angin sepoi-sepoi? Belum lagi atapnya menggunakan atap sirap yang membuat didalamnya terasa adem meskipun matahari lagi paas bedengkang.

Mungkin hal-hal itulah yang membuat saya rindu akan rumah tempo dulu. Tabe'...

Friday, May 22, 2020

Masjid Agung Al-Ikhlas Harus Disinggahi Ketika Ke Ketapang

Masjid Agung Ketapang


Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya tiba juga di pusat Kota Ketapang. Jalanan terlihat ramai, dipenuhi oleh orang dan kendaraan yang sedang lalu lalang. Entah kemana tujuannya, yang pastinya mereka sangat antusias menyambut malam pergantian tahun.

Saya tersenyum simpul sambil memperhatikan jalanan sekitar. Bukan karena ada sesuatu yang aneh, melainkan merasa bangga saja karena bisa sampai disini. Mungkin untuk sebagian orang itu biasa saja, namun bagi penulis sendiri ini sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Rencana untuk bertandang ke Ketapang hampir saja tinggal rencana. Ditambah lagi untuk sampai kesini butuh perjuangan. Yang biasanya jarak tempuh hanya perlu satu hari, sedangkan kami sampai 2 hari. Ya, itu semua karena faktor alam yang kurang mendukung.

Roda kendaraan terus berputar, menyusuri jalanan yang beraspal. Kota Ketapang dimalam tahun baru tidak ada ubahnya seperti di Kota Pontianak. Ramai dan dipenuhi oleh volume kendaraan. Sebagian besar adalah kaula muda yang menjadikan malam ini sebagai ajang berkumpul bersama teman. Sisanya adalah orang dewasa yang membawa keluarganya untuk menghirup segarnya angin malam. Meskipun sejatinya udara saat itu sudah tercemar oleh asap pembuangan dari kendaraan.

Motor menepi disebuah warung kopi, tidak jauh dari perempatan jalan tugu ale-ale. Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung menuju ke sebuah meja yang ada didalam ruangan dan menyandarkan punggung  dikursi. Rasanya sungguh begitu legah. Otot-otot yang tadinya sudah berteriak minta diistirahatkan, sekarang sudah mulai santai. Tidak lama kemudian, datang pemilik warung menawarkan aneka minuman.

Kuseruput minuman yang ada diatas meja. Meskipun warung kopi yang kami singgahi ini tampilannya sederhana, namun tetap saja ramai didatangi oleh pengunjung. Bahkan anak-anak muda yang katanya lebih suka kafe yang kekinian juga banyak betengger disini. Pergi satu kelompok datang lagi sekelompok yang lainnya.

Saya memperhatikan jam ditangan. Sekarang telah menunjukkan pukul 23.20 WIB. Itu artinya tidak lama lagi  awal tahun baru akan segera dimulai. "Belum mau berangkat kah?" Saya mencoba mengingatkan Yansah tentang keinginan kami mampir ke Pendopo Bupati Ketapang. Disitulah, katanya pesta rakyat digelar.

"Bentar lagi." Yansah menjawab singkat dan kembali sibuk dengan laptopnya.

Tidak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara sirene mobil dari kejauhan. Lambat laun, suara itu membesar dan mendekat kearah kami. Persis didepan warung kopi, terlihat sebuh mobil patroli polisi lewat sambil mengawali mobil orang penting. Saya rasa itu adalah orang nomor satu di Kabupaten Ketapang yang sebentar lagi akan ikut serta dalam pergantian tahun baru. Enak juga ya jadi seorang pejabat, kemana-mana keamanannya dijaga.

Motor bergegas menuju pendopo gubernur. Diatas kendaraan roda dua yang terus berputar, kuperhatikan kerlap-kerlip bintang diangkasa. Syukurlah malam ini cuacanya lebih bersahabat. Hei, tapi tunggu. Sekarang langit lebih ramai oleh cahaya. Sekarang semua sudut kota langit Ketapang sudah dipenuhi oleh bunga kembang api. Sungguh, saya sedikit merasa kecewa karena harus menyaksikannnya didalam perjalanan. Dan ingin rasanya segera menyikut Yansah yang sedang membawa kendaraan.

Kami terdampar disebuah lapangan yang luas, tepatnya dihalaman masjid. Ada yang sedikit aneh dari bangunan megah tersebut, perlahan-lahan warna menaranya berubah. Merah kuning hijau biru ungu yang semuanya dihasilkan dari pancaran cahaya lampu. Seketika saya menjadi kagum dan mulai melupakan rasa kekecewaan sebelumnya. Mungkin ini yang dinamakan, bahwa tencana Tuhan itu lebih indah.

Masjid Agung Ketapang di Malam Hari


Bagaimana dengan kabar kembang api? Ah, itu sudah tidak diperdulikan. Biarlah ia tetap bersahut-sahutan, menggelegar diatas langit Ketapang. Memberikan rasa kesenangan setiap  mata yang memandangnya. Sekarang kami lebih fokus ke yang lain, berfoto didepan Masjid Agung Ketapang yang lebih mempesona. Entah sudah berapa banyak jepretan yang kami lakukan. Mungkin orang lain akan melihat kami aneh, ketika orang lain sibuk mengabadikan momen kembang api malahan kami mengabaikannya.

Suara letusan perlahan mulai raib. Hanya menyisakan satu cahaya kembang api yang terlihat disudut kota. Tidak lama kumudian hening, menyisakan suara kendaraan dan ributnya orang.

"Mau pergi ke pendopo gubernuh kah?" Yansah bertanya setelah memarkirkan kendaraan.

Saya mengangguk, menandakan kalau setuju. Meskipun sebenarnya sudah malas untuk kesana. Ingin rasanya segera rebahan langsung di masjid.

Jarak dari Masjid Agung Al-iklas Ketapang ke Pendopo Bupati tidak begitu jauh. Letaknya berada diseberang jalan dan hanya berjalan kaki sudah sampai. Diantara ramainya massa, kami memanglah manusia yang paling aneh. Ketika acara sudah selesai dan orang pada berdesakan pulang, kami baru datang. Ditambah lagi tas ransel yang berada dipunggung membuat kami terlihat seperti orang yang jauh. Tapi sayang, wajah kami tidak ada mirip-miripnya seperti bule.

Halaman pendopo terlihat mulai sepi. Musik yang ada diatas panggung pun telah lama berhenti. Disisi kiri berbaris stand-stand pameran yang menampilkan berbagai produk makanan dan kerajinan khas Ketapang. Tidak lama kemudian datang rombongan pejabat untuk melihat, memegang kemudian pergi.

Setibanya kembali di masjid, rasa kagum akan padanya belum luntur begitu saja. Kutatap kembali empat menara tersebut yang setiap lima detik berganti warna (kurang lebih waktunya segitu). Merasa belum puas, kuambil lagi gambar melalui kamera ponsel.

Masjid Agung Al-Ikhlas terletak di dijalan H. Agus Salim, Kecamatan Delta Pawan. Lokasinya yang strategis, membuat tempatnya mudah dijangkau dari berbagai arah. Bangunan yang berdiri megah ini sebagian besar didominasi oleh warna hijau dan putih. Didepannya terdapat tangga utama yang langsung menuju ke lantai dua.

Kami tidak langsung masuk kedalam ruangan masjid. Tetapi bersantai dulu dipelataran lantai satu. Kusandarkan tulang punggung kedinding, berharap rasa pegal karena menggendong tas lekas pergi. Lorong teras saat itu terlihat sepi, hanya menyisakan kami dan 1 orang pria yang berumur 30-an.

Kumainkan layar ponsel, sambil membaca kembali status di whats up yang telah dibuat. Berharap bahwa kata-katanya tidak berlebihan apalagi lebai. Sekalian juga mengecek, siapa-siapa saja yang telah mengintipnya. Jangan mengatakan saya norak, kurasa anda juga pernah melakukan hal yang sama. Iya kan? Sudahlah, ngaku saja. Tidak perlu jaim-jaim-an.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari status yang telah dibuat. Hanya berupa ucapan terimakasih kepada Allah karena waktu yang telah diberikan sekaligus doa semoga selanjutnya bisa lebih baik. Sungguh sederhana dan tak ada kata-kata puitisnya. Anda yang membacanya pun cukup sekali napas saja.

"Assalamu'alaikum." Seorang bapak-bapak datang menghampiri kami dan mengalihkan tatapanku dari layar handphone. Dibadannya terbalut baju gamis panjang berwarna putih dan berpeci-kan warna putih juga.

"Waalaikumsalam." Jawab kami yang hampir serempak, hanya berbeda se per sekian detik.

Perbincangan pun terjadi meskipun tidak terlalu lama. Saya jelaskan dari mana rimbanya kami datang dan apa maksud tujuan. Beliau hanya mengangguk mafhum dan malah langsung mempersilahkan kami untuk segera naik kelantai dua saja. Bukan apa? Kalau disini katanya banyak nyamuk. Lagian pun diatas tuturnya banyak jamaah yang sedang melakukan itikaf.

Sebelum kami pergi beranjak, bapak tersebut lebih dulu menahan kami. Tidak lama kemudian beliau keluar dari sebuah ruangan dan memberikan dua bungkusan kertas yang berikatkan karet. Jangan lagi ditanya itu apa? Pastinya itu adalah makanan yang siap menopang punggung kami malam ini. Ucapan terimakasih pun tak luput diuntaikan. Kepada Sang Maha Pemberi dan si bapak. Memang betul, rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka. Alhamdulillah...

Kami pun segera menaiki tangga yang ada didalam bangunan. Semakin tinggi anak tangga yang dinaiki, semakin tampak pula kemegahan didalam masjid. Lampu-lampu yang menghiasi dindingnya membuat sekitar ruangan terlihat sangat indah. Ditambah lagi pilar-pilarnya yang besar membuat ia terlihat begitu kokoh.

Saya berusaha mengkondisikan diri. Ada sesuatu hal yang lebih penting untuk dikerjekan terlebih dahulu. Baru kemudian kembali curi-curi pandang melihat sekeliling.

Kuperhatikan ulang bangunan sekitar yang terlihat begitu modern. Berbeda dengan yang diluar, warna yang ada didalam ruangan lebih dominan oleh warna putih dan kuning keemasan. Mungkin itulah yang membuatnya terkesan mewah. Dibagian tengah, terdapat lengkungan kubah yang  besar dengan motif yang bergaya Melayu. Disitu jugalah bergantung lampu hias yang begitu apik. Tampak dimata, bangunan Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang adalah perpaduan dari nuansa Timur Tengah dan Melayu. Sungguh mengagumkan.

Saya pun tertidur. Terimakasih atas tempat persinggahannya dan keramahtamahan pengurusnya.

Wednesday, March 4, 2020

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 2

Perjalanan Ketapang. Suara ayam berkokok menghentikan tidur lelap panjang kami. Saya memaksakan untuk membuka mata, melawan dekapan rasa malas yang begitu erat. Belum lagi suasana pagi sungguh terasa dingin. Kabut embun pun malah masih tampak turun, membasahi rerumputan yang ada disekitar masjid.

Saya bergegas kekamar kecil, seperti biasa membuang sisa cairan yang sudah tidak dipakai. Baru setelah itu, mencuci muka dengan air yang mirip dari kulkas. Meskipun begitu, itu sungguh sangat menyegarkan. Membuat mata lebih terjaga.

Saya baru sadar, sepertinya tidak ada yang adzan subuh dimasjid ini. Atau mungkin saya yang tidak mendengar karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan? Ah mana mungkin pula. Selelap-lelapnya orang tidur dimasjid pasti akan sadar ketika suara adzan dikumandangkan. Lagian tidak mungkin pula orang yang datang kemasjid membiarkan kami tertidur sehingga tidak ikut sholat berjamaah. Iya kan?

Masjid yang berada jauh dipedalaman Kalimantan ini sungguh sangat berjasa dalam perjalanan kami. Selain sebagai tempat penginapan gratis, melainkan juga disini kami mengisi daya baterai ponsel yang hampir sakratul maut. Ditambah lagi mandi. Mungkin inilah yang dinamakan kalau masjid itu untuk kemaslahatan ummat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusatnya menuntut ilmu  dan tempat persinggahan bagi orang yang melakukan perjalanan jauh. Malam sebelumnya kami juga sempat izin menginap kepada tetangga yang sedang pulang kerumahnya.

Setelah mengemaskan segala barang bawaan, perjalanan menuju pusat Kota Ketapang kami lanjutkan kembali. Meskipun rasa dingin berbisik agar kami lebih baik bersantai dulu, sembari menunggu matahari sepenggalah naik.

Jalanan pagi itu terlihat lengang. Saking sepinya, kami bebas saja menggunakan jalur tetangga. Cuma mesti tetap hati-hati, karena bisa saja tiba-tiba muncul sebuah mobil yang melaju kencang. Tidak kebayangkan kalau terkena langgar dan kendaraan kami terpelanting nyangkut dipohon sawit.

Berbeda dengan semalam, kali ini kendaraan kami lebih sedikit lambat. Selain dikarenakan cuacanya yang dingin, melainkan kami juga ingin menikmati lebih banyak perjalanan, melihat pemandangan yang ada dikiri-kanan jalan. Kecuali jika dihadapan ada jalan yang menanjak, pastinya harus ancang-ancang dulu dengan kelajuan yang tinggi. Kalau disaat menanjak baru ingin melajukan kendaraan, yang ada malah motor kami mundur lagi kebelakang.

Panorama Keindahan Kabupaten Ketapang

Panorama alam disepanjang perjalanan menuju Kota Ketapang memang begitu menawan. Dari jauh arah memandang, terbentang deretan bukit yang berdiri dengan kokohnya. Begitu juga kiri kanan kami, sudah berapa banyak bukit yang dilewati, hilang dan kemudian diganti dengan yang lainnya. Keindahan bukit semakin terlihat, tatkala kabut memahkotai puncaknya. Seringkali pula tampak seperti adanya kebakaran ditengah hijau dan rindangnya pepohonan.

Seperti jalanan sebelumnya, tidak hanya jalanan turun naik yang harus kami lewati, tetapi juga jalanan yang berkelok-kelok layaknya sedang mengikut tes izin mengemudi. Bedanya kalau disini berada dikaki bukit, salah sedikit langsung menabrak tebing atau terguling-guling didalam jurang. Lebih ekstrimkan?

Nah, dikelokan yang berjurang inilah banyak dijumpai para penjual durian. Mereka menghamparkan dagangannya dibawah gubuk bambu yang beratapkan terpal. Meskipun saat itu masih dikatakan sangat pagi, namun sudah banyak para pedagang yang membuka lapaknya.

Saya sempat berpikir sebenarnya apa alasan mereka berdagang ditempat yang berkelok? Kenapa tidak disekitar jalan lurus yang keamanannya lebih sedikit terjaga. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika tiba-tiba saja ada kendaraan yang hilang kendali dan menabrak lapak mereka. Itu sangat berbahaya bung bagi keselamatan mereka. Tapi semoga saja itu tidak pernah terjadi.

Setelah melewati tempat yang serupa lagi, saya mulai menerka-nerka alasan mereka yang berjualan disekitar jalanan yang berkelok. Mungkin dikarenakan tempat mereka memanen buah durian ada disekitar situ. Jadi untuk mengefisienkan waktu akhirnya mereka membuka lapak tidak jauh dari pohon durian. Ketika ada buah yang jatuh, pedagangpun bisa langsung menjualnya. 

Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik sebuah bukit. Entah bukit apa namanya, yang pasti sebagian punggungnya berpencar warna jingga akibat cahaya matahari. Badan yang tadi kedinginan pun kini mulai berangsur hangat. Tidak ada lagi alasan untuk tidak melajukan kendaraan.

Dalam perjalanan, mata saya teralihkan ke seorang ibu yang berjalan dipinggir jalan. Dibelakangnya tergendong sebuah keranjang yang berisi tumpukan buah durian. Dalam masyarakat Dayak, keranjang itu disebut tankin. Keranjang yang terbuat dari rotan ini berfungsi untuk mengangkut tangkapan ikan dan berbagai hasil bumi lainnya.

Kurang lebih pukul 8 WIB, kami tiba di Kecamatan Sandai. Hiruk-pikuk aktivitas pagi jelas terlihat disini. Lalu lalang kendaraan, ibu-ibu yang pergi belanja dan bapak-bapak yang berbincang di warung kopi menjadi pemandangan yang lumrah dikawasan pasar.

Berhubung perut juga sudah lapar, maka kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di sebuah warung. Tapi sayang, warung yang disinggahi ini tidak menyediakan menu sabu (sarapan bubur) apalagi narkoba (nagasari korket bakwan). Nasi kuning pun juga tidak ada. Tidak ada pilihan lain, akhirnya kami memesan mie instan rasa ayam lengkap dengan telurnya.

Sebenarnya ini warung hanya sekedar untuk usaha sampingan. Disampingnya ada tempat pencucian kendaraan yang merupakan usaha utama. Nah karena itulah, untuk membuat pelanggan tidak terasa lama dan bosan menunggu, disediakanlah warung ini untuk tempat bersantai. Selain itu disini jugalah tempat transaksi pembayaran setelah kendaraan selesai dibersihkan.

Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya dua mangkuk mi instan tersaji diatas meja. Dengan asapnya yang mengepul, saya mulai menyendok sedikit kuahnya. Saya menambahkan sedikit perasan limau yang membuat aroma dan rasanya semakin menggoda. Seketika kami sibuk dengan sarapan.

Tidak lama kemudian ibu warung datang kembali, mengantarkan dua gelas air putih. Dengan sedikit perbincangan, ibu bertanya dari mana asal kami dan mau kemana. Saya menghabiskan dulu sisa mi yang ada didalam mulut, baru kemudian menjawab. Kemudian ibu yang saya prediksi berumur 45 tahun tersebut pergi menuju ke sebuah ember yang ada di pojok halaman.

Sambil menikmati sarapan yang sungguh nikmat dikala lapar, mata saya melirik ke ibu tadi. Dengan membincing sebuah ember, beliau menuju kesalah satu mobil berwarna hitam. Tangannya yang lincah, membuat tanah kuning yang masih nempel membandel hilang disetiap jengkal gosokannya.

Sarapan telah usai. Dengan bersandarkan disebuah kursi panjang, jari-jemari kami kembali berselancar diatas layar ponsel. Mumpung lagi banyak sinyal, kalau sudah melanjutkan perjalanan lagi pasti sinyalnya akan hilang. Kecuali kalau sudah sampai di kota kecamatan.

Saya pun mulai membuat status di media sosial, memberi kabar didunia maya mengenai petualangan kami hari ini. Ternyata saya kurang cepat, lebih duluan Yansah yang memposting foto dengan latar papan arah jalan. Satu hal aneh dari sisi dia, Yansah paling senang berfoto dengan view  tersebut. Tidak jarang kami harus berhenti hanya untuk melakukan aksi ini.

"Dari mana dek?" Bapak yang sedang mecuci mobil tadi tiba-tiba ada disamping kami, duduk sambil membuka sebuah percakapan.

"Dari Pontianak, Pak." Saya berusaha menjawab.

Perbincangan saya bersama bapak tersebut semakin hangat. Kalau Yansah jangan ditanya, dia sibuk dengan layar ponselnya. Menanyakan keberadaan temannya yang berdomisili di Ketapang. Dari sekian banyak yang ditanya, masing-masing punya jawaban tersendiri. Ada yang bilang masih di Kota Pontianak, ada yang bilang mau jalan sama pacar, ada yang lagi liburan sama keluarga dan ada yang tiba-tiba putus kontak setelah ditanya "Bolehkah kami mampir dirumahmu?" Mungkin sinyal lagi bermasalah atau dia tiba-tiba terkena obat bius yang mengharusnya tidur panjang.

Dari perbincangan kami, bapak juga sempat menanyakan kenapa tahun barunya malah pergi ke kampung? Bukankah di Pontianak lebih meriah? Yah saya jawab saja ingin sekali-kali merasakan suasana pergantian tahun baru didaerahnya orang. Sontak bapak tersebut tertawa sambil mengatakan tidak ada serunya jika tahun baru disini. Sesekali juga menunjuk mobil yang melintas menuju Kota Pontianak. Maksud dari bapak itu adalah 'orang Ketapang saja ramai yang ke Pontianak, kenapa pula kalian yang datang kesini?'

Matahari semakin tinggi mendaki bukit. Rasanya sudah cukup lama untuk kami bersantai-santai di daerah Sandai. Kami pun izin kepada bapak dan ibu yang sungguh begitu ramah. Bahkan disaat kendaraan akan berangkat ibunya berkata "hati-hati dijalan".

Jika sebelumnya kebanyakan saya yang membawa kendaraan, sekarang giliran jatahnya Yansah. Cuma ada satu hal yang membuat saya khawatir adalah dia sering kali memainkan handphonnya ketika berkendara. Setiap saya memperingatinya selalu saja berkata santai. Ok, kalau gitu kecepatannya juga harus disantaikan. Jangan sampai karena selalu menganggap semuanya santai akhirnya berujung santai dirumah sakit. Pahamkan? Akhirnya tidak butuh waktu lama saya sudah mengambil alih motor.

Jalanan kali ini lebih sedikit ramai. Kami lebih sering menjumpai para pengendara, bahkan sering pula mobil tiba-tiba menyalip dari belakang. Pernah ada sebuah mobil yang seketika sudah berada disamping dengan jarak hanya sejengkal. Menyalip sih boleh, tapi tolong dijaga juga kenyamanan pengguna kendaraan yang lain. Dia sih enak yang lecet paling hanya bodi mobilnya. Sedangkan kami?

Selain itu, pemukiman juga semakin mudah dijumpai. Sesekali saya perhatikan bagian bumbungnya, terdapat ukiran naga yang menyilang. Meskipun sebagian besar rumah lebih modern, namun unsur-unsur tradisional masih bisa kita jumpai. Selain itu, terlihat juga bagaimana kesibukan masyarakat ketika bergotong royong membangun pohon natal yang besar.

Kendaraan kami masih melaju, menaiki dan menurun disebuah jalan yang mendaki bukit. Sesekali kami singgah, ketika menemukan spot wisata yang sangat menarik. Mumpung terlanjur lewat disini, esok lusa mungkin sudah lain lagi ceritanya.

Sekarang kami juga tidak perlu khawatir lagi untuk masalah bensin. Sekarang lebih mudah untuk menemukan tempat pengisian bahan bakar dipinggir jalan. Seandainya pun pertamina belum diketemukan, masih ada penjual eceran yang menjualnya.

Semakin panjang perjalanan, semakin banyak hal unik pula yang ditemukan. Salah satunya adalah bagaimana keelokan rumah adat dari suku Dayak. Meskipun pada akhirnya tidak sempat mampir, karena orang yang sedang diboncengi tidak mau untuk singgah.

Salah duanya yang menarik dalam perjalanan kali ini adalah melihat pemakaman dari masyarakat suku Dayak. Uniknya kuburan disini adalah diatasnya ada berbagai macam barang punyanya yang meninggal. Seperti televisi, radio dan berbagai jenis lainnya. Sebagai informasi, hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Dayak, bahwa setiap yang meninggal akan diikutsertakan juga dengan barang kesayangannya.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami kembali sampai di sebuah kota kecamatan. Kali ini adalah Nanga Tayap, 346 kilometer dari Kota Pontianak. Kami saat itu hanya melewati pasarnya, yang sedang ramai oleh para pengunjung. Untuk menjaga keamanan, saya memperlambat laju kendaraan agar tidak menyeruduk maupun diseruduk.

Saya memperhatikan bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan. Sekilas, pasar Nanga Tayap terlihat seperti kota tua, dengan bangunan ruko buatan tempo dulu. Mungkin daerah ini dulunya  sempat menjadi salah satu pusat perdagangan didaerah pedalaman.

Nanga Tayap kami lalui begitu saja. Kali ini kami sedikit mengalami kendala dalam menentukan arah jalan. Google map yang selama ini memandu kami mengarahkan ke sebuah jalan tanah kuning. Dari bentuknya, sepertinya ini merupakan jalan milik perusahaan sawit untuk mendistribusikan hasil panennya. Melihat Yansah yang kebingungan membuat saya menghentikan dulu kendaraan. Berharap ada orang yang lewat sekaligus numpang bertanya.

Setelah lima menit, tak ada satu pun para pengendara yang lewat. Terkaan saya yang menganggap jalan dihadapan kami adalah jalan pintas, berubah menjadi anggapan kalau pemandu pintar kami lagi eror. Akhirnya kami memutar arah dan kembali menyusuri Jalan utama, Transkalimantan.

Sepanjang perjalanan kami berharap ada masyarakat dipinggir jalan yang bisa ditanya. Namun ternyata tidak. Hanya ada satu pengguna jalan, yang sedang menghentikan kendaraannya. Namun itu adalah cewek, takut pula kami nanti dikira maling atau lelaki jalang yang sedang mencari mangsa. Hingga akhirnya kami sampai disebuah persimpangan tiga. Dipapan penunjuk arah tertera, jika lurus akan menuju Kalimantan Tengah. Sedangkan belok kanan akan menuju ke hati adek. Hiyak...

Kendaraan berbelok kekanan menuju arah Tumbang Kacang. Kali ini kendaraan diserahkan sepenuhnya kepada Yansah untuk membawa. Kondisi jalan sedikit berbeda, dimana kemulusannya lebih terasa kasar. Hal itu bisa dirasakan melalui desiran ban bahkan lewat mata telanjang sekalipun terlihat. Tidak jarang pula, lubang menambah estetika seni dari jalan yang dilalui ini.

Deretan rumah dijalan ini cukup banyak. Bahkan kami harus lebih memperlambat laju kendaraan karena banyaknya anak kecil. Orang-orang dewasa pun tidak jarang kami temui, mereka bersantai diteras rumah sambil meyeruput segelas minuman. Setelah melalui jalan yang ramai ini, kami kembali menemukan jalanan yang sepi.

Kami kembali menemukan persimpangan tiga. Mengikuti petunjuk google map, kami memilih untuk berbelok kanan melalui jalan yang bertanah kuning. Banyak batu pula. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti, sambil memastikan lagi kebenaran informasi yang ada dilayar ponsel.

Lagi-lagi tidak ada satu orang pun yang lewat. Hingga akhirnya kami beranggapan bahwa google map betul-betul eror dan segera memutuskan untuk memutar arah, kembali ke jalan yang utama. 50 meter setelah keluar, seorang ibu-ibu sedang tampak membersihkan halaman rumahnya. Kami menghampiri dan kemudian mengutarakan maksud dan tujuan. Apakah ibu memiliki anak gadis yang siap dipinang?

"Kalau mau ke Sungai Melayu lewat jalan ini juga bisa, cuma mutarnya jauh. Tapi kalau mau lebih dekat, lewat arah jalan itu saja". Ibu tersebut menjelaskan sambil menunjuk sebuah jalan. Itu adalah persimpangan tiga, tempat yang tadinya sempat kami masuki.

Berhubung ibunya tidak memiliki anak gadis, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Masuk kembali kejalan tanah kuning yang bebatuan. Seandainya saja ini jalan bisa berbicara, mungkin mereka akan bertanya seperti ini.

"Hei anak malang yang sedang liburan dengan biaya terbatas, kenapa kembali lagi kesini?" Tanya sijalan dengan nada yang menghardik.

"Kami sedang mencari barang yang terjatuh." Mungkin ini jawaban yang tepat.

Setidaknya banyak pelajaran setelah kejadian tersebut. Yang pertama adalah kami telah suudzon sama google map, padahal dia telah menunjuki kami jalan yang lurus. Oleh karena itulah, didalam perjalanan kami lebih banyak beristighfar. Yang kedua adalah malu bertanya. Padahal dari SD sudah diajarkan, kalau orang yang malu bertanya itu akan sesat dijalan. Contohnya ini.

Kurang lebih sepuluh menit perjalanan, kami bertemu dengan banyak kendaraan. Mereka keluar dari arah jalan yang ada disebelah kanan kami. Pikiran saya mulai melayang-melayang sambil memutar kembali memori perjalanan sebelumnya. Apa mungkin mereka lewat jalan sawit yang sempat kami masuki? Kalau memang itu benar, berarti kami telah memutar jauh.

Jumpa Kata Bijak di Jalanan

Perjalanan memang memberikan kita banyak pelajaran. Selain banyak tahu tentang daerah orang lain, tetapi juga ajang untuk melatih kesabaran, bagaimana sabar ketika ingin sampai ditujuan. Kadang yang didapatkanpun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Yang semulanya ingin sampai lebih cepat, eh malah kesasar dan tiba dalam waktu yang lama. Tapi yakinlah, rencana Tuhan itu selalu baik dan selalu saja ada hikmahnya. Salah satunya adalah bisa berbagi senyuman dengan ibu yang tadi.

Setelah melewati jalan tanah kuning, kami kembali melalui jalanan yang beraspal. Meskipun kualitasnya tidak semulus seperti jalan miliknya provinsi. Dari sinilah saya sempat melontarkan pertanyaan kepada Yansah, mengapa jalan aspal antar kecamatan itu rata-rata cepat rusak? Setidaknya ada dua kemungkinan dari hasil diskusi santai kami ini. Yang pertama adalah karena memang kontur tanahnya yang belum padat. Sedangkan yang kedua adalah dananya minim, belum lagi ditambah potong sana potong sini. Kami pun tertawa, larut dalam sapuan angin perjalanan.

Ditengah lajunya kendaraan, pandangan saya tertuju pada sekelompok orang yang sedang bersantai dibawah rimbunan pohon karet. Dari jauh mereka tampak senang, sambil mengabadikan gambar melalui kamera. Tempat tersebut memang sangat menarik. Sepanjang jauh memandang, sepanjang itu pula deretan pohon karet berbaris rapi. Tidak hanya itu, terlihat pula rombongan keluarga yang menyantap makanan. Pokoknya tidak kalah menariklah dengan wisata hutan pinus yang ada dipulau Jawa.

Belum lama menyaksikan rimbunan pohon karet, kami kembali disuguhkan dengan keindahan alam Sang Pencipta. Sebelah kiri arah jalan tampak sepasang bukit yang begitu menawan dipandang. Warna hijau ilalang yang terhampar luas membuat bukit tersebut layak seperti padang bermainnya teletubies.

Saya menepuk pundak Yansah, sambil memberi kode untuk mampir. Kendaraan kami pun masuk ke sebuah jalan gang yang bernama gang Bukit Indah. Tidak banyak rumah warga yang dijumpai. Semakin jauh masuk kedalam, semakin rindang pula pohon yang ditemukan.

Motor berhenti ketika tiba ditikungan jalan. Entah apa pula yang membuat Yansah menghentikan kendaraan, yang pastinya dihadapan kami jalan semakin kecil dan deretan pohon semakin lebat.

"Ada apa Yan?" Tanya saya kepada Yansah dengan keheranan.

"Kita putar arah saja. Dan melanjutkan kembali perjalanan." Yansah menjelaskan sambil melihat saya dari kaca spion sebelah kanan.

Awalnya saya menolak dan mencoba untuk meyakinkannya bahwa tempat cantik yang mirip seperti Bukit Teletubbies itu sudah dekat. Tidak jauh dari tempat pemberhentian kami pun terlihat sebuah jalan setapak yang mungkin saja itu jalur menuju kaki bukit. Namun dengan alasan tujuan perjalanan yang masih panjang, akhirnya saya mengalah demi sesuatu yang harus diprioritaskan. Perlahan kendaraan kami menuju keluar.

Meskipun niat untuk ketempat tersebut diurungkan, tetapi bukan berarti mengabadikan momen juga harus ditiadakan. Saya dan Yansah kembali memasuki sebuah gang yang persis ada diseberang jalan. Disinilah sebuah lukisan indah milik Tuhan diabadikan. Sekedar informasi, tempat cantik yang disinggahi ini bernama Desa Lalang Panjang Kecamatan Pemahan.

Bukit Teletubbies Kabupaten Ketapang

Perjalanan kembali dilanjutkan. Entah sudah berapa kilometer jalur yang kami susuri. Yang pasti, kami sudah terlampau jauh dari kemacetan jalan ibu kota provinsi disaat sore hari.

Kecepatan kendaraan sedikit terhambat ketika kami memasuki wilayah Sungai Melayu. Jalanan yang berlubang-lubang dan bebatuan yang menyembul membuat harus lebih hati-hati. Tidak hanya keamanan kami saja yang terancam, tetapi juga bisa-bisa kami melanggar pengendara lainnya. Apalagi ketika tiba disini semakin ramai jumlah penduduknya.

Saya berusaha santai, sambil menikmati goyangan motor yang mulai tidak karuan. Kadang sesekali kaki tergelincir, membuat keseimbangan kendaraan susah terkendali. Seandainya saja persendian ini bisa bicara, mungkin ia akan berteriak untuk menghentikan perjalanan. Namun yang pastinya seluruh badan sungguh terasa encok.

Setelah melewati jalan panjang yang melelahkan tersebut, kami akhirnya tiba dimasjid Indotani  pada pukul 13.00 WIB. Menarik bukan setelah mendengar nama tempat ibadahnya? Disinilah, kami harus beristirat panjang akibat hujan yang datang tiba- tiba.

Ditengah bunyi rinai hujan, saya bersandar didinding masjid sambil meluruskan kaki. Dari sekian rute yang kami lalui, jalur barusan adalah jalur yang paling bermasalah. Bukan hanya menyusahkan kami saja, tapi juga para pengguna kendara lainnya. Jadi jangan heran jika dijalanan banyak motor dan orang yang berjoget tidak karuan sambil diiringi hentakan bawah mesin menyentuh batu.

Sambil bersantai, saya raba-raba bagian pinggang. Lalu turun ke kaki sambil menekannya. Bukan apa? Takutnya ada engsel yang lepas atau baut yang tanggal. Kan bisa jadi masalah kalau sampai hal tersebut terjadi. Hehe.

Pukul sudah menunjukkan 16.30 WIB. Rasanya sudah sangat lama kami terjebak dalam hujan yang deras. Namun syukurnya kami berteduh di masjid sehingga bisa meluruskan badan sekalian mengisi daya ponsel. Saya menatap jendela, memperhatikan sebuah warung yang membuat perut semakin terasa lapar.

Tidak lama kemudian, derasnya air yang turun kebumi mulai berkurang. Tanpa membuang waktu lagi, kami pun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Belum jauh dari arah masjid Indotani, kami sudah berhadapan dengan macetnya jalan. Dihadapan kami sudah berantrian kendaraan yang melalui jembatan sementara dari arah seberang. Disisi kanan, terlihat kesibukan para pekerja yang sedang melaksanakan tugasnya.

Lagi-lagi air dari langit turun deras, yang seakan-akan mengolok perjalanan kami. Kendaraan pun menepi disebuah warung tak jauh dari lokasi pembangunan jembatan. Tidak ada nama warungnya, tapi yang pastinya tempat ini bisa melindungi kami dari guyuran hujan sekaligus tempat persinggahan untuk mengisi perut yang sudah lapar.

"Pak, mau beli nasi." Saya memanggil bapak pemilik warung yang sedang duduk bersandar dikursi panjang.

"Silahkan dek, ambil sendiri makanannya." Bapak tua yang umurnya saya prediksi sekitar 60 tahun tersebut mempersilahkan kami.

Tanpa merasa canggung, saya langsung membuka tirai etalase. Tidak banyak lauk pilihan yang ada disana. Hanya ada ikan, telur dadar, tempe, sayur dan sambal. Saya setengah berteriak kearah bapak, untuk menanyakan ikan apa yang sedang terhidang. Bapak tersebut berkata kalau itu adalah ikan tapa, spesies ikan air tawar yang banyak ditemukan disungai Kalimantan. Oi, sudah lama tidak mencicipinya.

Potongan Ikan tapah mendarat manis diatas piring. Sejenak saya teringat bagaimana cerita seru tentang spesies air tawar ini. Dulu sebelum parit tercemar, untuk mendapatkan ikan ini sangatlah mudah. Tinggal turun keparit saja sambil menangguk dibawah pohon nipah sudah dapat tiga sampai empat ekor. Jika beruntung malah bisa lebih banyak. Kalau sekarang? Sudah sangat susah, setelah pendangkalan dan pencemaran air semakin merajalela. Namun dibeberapa tempat, keberadaan ikan ini masih sangat terjaga kelestariannya.

IDR 25K

Saya sangat lahap menikmati makanan tersebut. Apalagi ditengah derasnya hujan yang sedang mengguyur Sungai Melayu. Belum lagi dalam satu hari ini kami hanya sekali makan, itupun menunya adalah mie instan. Memang betul apa yang dikatakan orang, nikmatnya makanan itu akan sangat terasa ketika lapar sedang mendera.

Hari semakin sore. Langit mulai terlihat redup bersama jutaan tetesan hujan yang membasahi bumi. Saya mulai khawatir apakah malam ini akan tiba di Kota Ketapang? Jika tidak, tentu kacau balaulah niat kami yang ingin tahun baru disana. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan disaat hujan tidak terlalu lebat.

Membawa motor disaat hujan bisa dikatakan enak-enak susah. Enaknya jalan terlihat lebih lengang dan bisa mencicipi minuman gratis lagi segar. Susahnya adalah jarak pandang semakin berkurang dan mendapatkan serangan dibagian wajah. Iya, air hujan yang jatuh dimuka tidak ada ubahnya seperti jarum suntik. Ingin menutup kaca helm malah pandangan menjadi gelap. Bisa-bisa kami keluar jalur dan tergelincir direrumputan.

Kendaraan melaju ditengah jalan yang berbasahkan hujan. Siang pun perlahan mulai dilahap gelapnya malam. Sepanjang perjalanan, tak banyak rumah yang dijumpai. Hanya padang rerumputan luas sejauh mata memandang.

Padang rerumputan? Saya langsung teringat dengan cerita teman dikampus mengenai tempat misterius yang ada di Ketapang. Katanya, daerah tersebut bernama padang dua belas yang hanya berisikan tumbuhan rumput. Konon, disitu ada sebuah kerajaan besar yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Penghuninya pun merupakan makhluk ghaib yang orang setempat menyebutnya sebagai orang kebenaran.

Orang kebenaran tersebut memiliki ciri tersendiri, yaitu tidak memiliki garis diantara hidung dan bibirnya. Katanya, jika mereka memberikan kunyit kepada kita maka akan berubah menjadi emas. Tidak hanya itu, kata teman-teman, Rhoma irama sempat mengatakan pernah konser disana. Tetapi yang ditampakkan bukan padang rumput yang luas, melainkan sebuah kota dengan bangunan yang megah. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang pasti ada sisi lain yang tidak kita ketahui.

Saya menyeka air yang mengalir diwajah. Entah beberapa kali air menerobos pelupuk mata yang menyebabkan rasa perih. Dibelakang, Yansah hanya terdiam dengan raut wajah yang pasrah. Menerima kalau hujan tak berkesudahan dan membasahi sebagian pakaiannya. Inilah kesalahan fatal kami yang hanya membawa satu mantel ketika melakukan perjalanan jauh. Itupun mantel baju yang hanya bisa digunakan satu orang.

Langit sudah benar-benar gelap. Tidak ada lampu lain yang menerangi jalanan kecuali lampu kendaraan. Rumah penduduk pun belum ada yang telihat. Hanya rinai-rinai hujan yang menari didekapan cahaya. Saya melihat kearah jam tangan, tahu kalau sekarang sudah waktunya maghrib.

Laju motor diperlambat. Bukan karena jalanan yang semakin susah atau kami ingin mencari tempat persinggahan, melainkan karena sebuah kendaraan didepan kami. Kendaraan tersebut tidak berlampu dan merayap pelan dipinggiran jalan. Saya pun berusaha menyinarinya dari belakang. Tapi ingat, kami menolong bukan karena ingin mendapatkan kunyit emas. Melainkan karena panggilan rasa kemanusiaan lah yang menggerakkan hati untuk bertindak.

Hujan perlahan mulai redah. Jalanan yang tadinya sepi oleh kendaraan sekarang lebih ramai. Kami tiba di Kota Ketapang kurang lebih pada pukul 20.00 WIB. Laju motor semakin melambat akibat banyaknya volume kendaraan. Terlebih anak-anak muda yang membawa kendaraan semaunya saja, seolah-olah punya nyawa tiga. Yang sudah berkeluarga pun tidak mau kalah, mereka terlihat antusias menyiapkan pembakaran dihalaman depan rumah. Bahkan ada yang saling adu musik dangdut, yang jaraknya hanya di pisahkan satu rumah.

Hiruk-pikuk semakin terlihat ketika masuk dikawasan pasar. Tidak hanya cafe-cafe yang memanen rezeki pada malam ini, tetapi juga para pedagang kaki lima yang menjual atribut malam tahun baru dan makanan. Tidak jauh dari kami juga terlihat seorang anak kecil yang sedang merengek untuk minta dibelikan terompet. 'ayo ma, belikan saya satu', kurang lebih begitulah maksud raut wajah si kecil.

Dari jauh sudah tampak jembatan Pawan 1 yang menghubungkan kedaerah seberang. Kendaraan yang akan lewat tidak ada ubahnya seperti semut yang sedang berjalan. Diatas jembatan saya bergumam dalam hati 'akhirnya tiba juga di pusat Kota Ketapang'. Oh Sungai Pawan, dulu saya hanya bisa mendengar namamu ketika dinyanyikan. Namun sekarang keindahanmu sudah ada didepan mata, bercahayakan lampu malam yang sungguh mempesona. Saya tersenyum-senyum sendiri, sampai tidak sadar kalau didepan sudah berdiri tugu ale-ale, maskotnya Kota Ketapang.


Baca juga:

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 1

Perjalanan Nekat ke Perbatasan Indonesia Malaysia 

Monday, February 10, 2020

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 1

Perjalanan Panjang Menuju Ketapang. Sebenarnya cerita perjalanan ini sudah cukup lama, kurang lebih satu bulan yang lalu. Namun dikarenakan banyak pengalaman menarik dalam pertualangan tersebut, rasanya sangat disayangkan jika kenangan-kenangan tersebut hilang bersama putaran waktu. Yah, kalau meminjam kata gaul anak sekarang adalah late post. Sesuatu yang telah lama terjadi, tetapi baru sempat diceritakan sekarang.

Berawal dari akhir tahun yang diidentik dengan liburan panjang. Rasanya sangat sia-sia jika dimalam tahun baru hanya dihabiskan untuk duduk termenung sambil memikir yang tidak karuan. Bukankah kalau banyak melamun entar jadi korban godaan setan? Mau main handphone biar ada aktifitas, yang ada malah stalking postingannya si Dia. Ayo siapa yang masih sering stalking status mantan disaat waktu luang? Ternyata move on itu tidak semudah yang dikatakan.

Untuk menghindari hal yang unfaedah tersebut, maka saya pun iseng-iseng menanyakan agenda teman diakhir tahun. Tanpa menunggu lama, chat saya melalui whatsapp langsung dibalas, yang kecepatannya mungkin menyamai kecepatan cahaya.

Saat itu minus lima hari sebelum tahun baru. Kebetulan teman yang diatas tadi mengajak untuk liburan bareng ke Pulau Datok yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Tanpa banyak tanya lagi, saya langsung menanyakan berapa biayanya? (cuma satu pertanyaan). Maaf, masalah keuangan itu sangat penting. Jangan sampai ingin berpergian jauh namun dompet ternyata tipis. Yang ada malah jadi gelandangan disana dan tidak pulang-pulang seperti Bang Toyeb.

Dia menyebutkan angka  400 ribuan untuk biaya transportasi dan makan selama 3-4 hari. Kebetulan saat itu didompet ada setengah juta (biar kedengaran banyak), dan saya rasa itu sudah cukup untuk melakukan liburan diakhir tahun baru. Meskipun pada akhirnya uang tersebut berkurang karena kebutuhan sehari-hari sebelum berangkat. 

Hari yang diidam-idamkan akhirnya tiba. Burung-burung disekitar rumah bercuit-cuitan dengan riang. Entah mereka senang karena menyambut matahari pagi atau sedang menemukan banyak makanan, yang pastinya mereka sama sepeti saya. Sama-sama bahagia. Diatas meja terdengar suara pesan masuk. Dengan pakaian yang masih menggantung dileher, saya buru-buru meraih handphone tersebut dan membukanya.

Isi pesannya begini. 'Bang, liburan ke Pulau Datok tidak jadi. Kawan yang bersangkutan ada halangan'. Seketika saya mematung dengan keadaan mulut menganga. Secepatnya saya langsung beristighfar dan sadar kalau malam tahun baru akan dihabiskan didalam kamar. Saya pun langsung berlari kebelakang dan menangis dibawah keran air.

Belum sempat nangis dibawah keran air, sebuah pesan dari orang yang sama  masuk lagi. Kali ini ia menyarankan bagaimana jika liburannya tetap dilakasanakan. Hanya saja tujuan wisatanya yang berbeda. Jika awalnya akan menyeberang ke sebuah pulau, maka untuk ini masih didaratan besar Pulau Kalimantan. Tanpa perlu banyak tanya lagi saya langsung menjawab, YES.

Meskipun hanya berdua, namun liburan saat itu tetap dilaksanakan. Tujuan liburan kami jatuh pada sebuah daerah yang ada di selatan Kalimantan Barat. Tepatnya di Kabupaten Ketapang. Meskipun jaraknya jauh, tidak sedikitpun menyurutkan semangat untuk liburan. Apalagi katanya di Ketapang banyak tempat wisata yang bisa didatangi.

Nah, sebelum melanjutkan cerita perjalanan saya, alangkah lebih baiknya kita mengenal dulu sekilas tentang Kabupaten Ketapang. Biar tulisan ini bisa memberikan edukasi, yah walaupun secuil.

Nama Ketapang tentunya banyak digunakan sebagai nama tempat. Salah satu contohnya adalah yang ada di Banyuwangi. Jadi jangan heran jika mengetikkan kata kunci wisata Ketapang maka muncul pula nama tempat tersebut. Untuk itu penulis menekankan lagi bahwa cerita ini berlatarkan disebuah daerah yang ada di Pulau Kalimantan.

Kabupaten Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Pusat pemerintahan sekaligus perekonomian kabupaten ini berada di Kecamatan Delta Pawan. Dari sekian kabupaten, Ketapang merupakan kabupaten dengan wilayah yang paling luas, bahkan lebih luas dari Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, daerah yang dijuluki sebagai Kota Ale-Ale ini juga berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana pajangnya perjalanan kami nanti. Ok, lanjut keceritanya.

Minus 2 hari tahun baru. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Teman yang akan menjadi kawan liburan juga sudah datang. Oh iya, saya perkenalkan dulu, namanya Suryansyah. Biasanya dipanggil Yansah, biasa juga dipanggil Cuan (entah dari mana panggilan ini bermula). Dia merupakan seorang aktivis kampus yang senang melakukan perjalanan dan ikut organisasi. Saking aktifnya, disetiap group media sosial yang saya masuki selalu nongol akunnya. Tidak terbayang bagaimana banyaknya laporan pemberitahuan di ponselnya

Baru saja mau berangkat tiba-tiba hujan yang tanpa diundang datang. Turun dari langit membasahi bumi Khatulistiwa yang saat itu lagi panas-panasnya. Sambil menunggu redah, kami memanfatkan untuk berdiskusi kecil mengenai jalur yang akan dilaluii ketika berangkat. Dengan pertimbangan ini itu akhirnya kami memutuskan untuk melalui jalur darat.

Setidaknya ada banyak jalan menuju Ketapang. Yang pertama adalah jalur darat dengan melalui Jalan Transkalimantan. Yang kedua adalah jalur air, yaitu dengan menggunakan motor klotok melalui pangkalan Senghie ataupun Rasau Jaya. Yang ketiga adalah jalur udara melalui bandara Supadio di Pontianak.

Hujan sudah redah, tanpa membuang-buang waktu lagi kami langsung bergegas berangkat. Setidaknya melakukan perjalanan disaat cuaca yang mendung membauat perjalanan terasa lebih enak. Yah meskipun pada akhirnya harus melawan sedikit kemacetan disaat menyeberang jembatan Kapuas 2.

Tapi yang menjadi masalah adalah hujan sepertinya juga ikut nimbrung dalam perjalanan kami. Oleh karena itu sempat beberapa kali kami mampir untuk berteduh dalam waktu yang lama. Akhirnya waktu kami harus dihabiskan untuk melihat tetesan air dari ujung genteng. Inilah hukuman dari sebuah keteledoran, sudah tau musim hujan masih juga tidak membawa perlengkapan. Nasibmu lah nak..

Sebenarnya jas hujan ada, namun hanya bisa digunakan oleh satu orang saja. Mana pula saya membiarkan Yansah kehujanan dibelakang sambil menengadahkan muka diatas meminum air. Yang ada malamnya bisa jadi sakit perut karena kembung.

Kami pun menghentikan kendaraan disebuah kaki bukit. Selain karena hujan yang sudah tidak bisa diajak kompromi, melainkan disitu juga ada sebuah tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh. Sebuah rumah yang masih dalam proses pembangunan.

Hanya kami berdua yang bertahan lama dirumah tersebut. Pengendara lainnya hanya mampir sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan kembali setelah memasang jas hujan. Dalam hitungan detik mereka hilang diturunan jalan.

Sebenarnya yang namanya menunggu itu memang sangat membosankan. Tapi syukurlah disini masih ada sinyal yang membuat akses informasi masih bisa dilakukan. Kalaupun tidak ingin bermain ponsel, yah disini kita bisa memperhatikan kemegahan bukit yang menjulang tinggi, sembari menghitung jumlah pohonnnya, eh maksud saya melihat jenis-jenis pohonnya. Selain itu kita bisa memperhatikan tingkah-tingkah para pengendara yang lalu-lalang. Dari sekian yang lewat pasti ada yang mengundang kelucuan, yang membuat diri senyum-senyum sendirian.

Tapi dari sekian kejadian disini yang paling menarik adalah ketika bertemu dua bocah kecil. Mereka gadis mungil yang lucu dan senang untuk bercerita. Dari merekalah banyak informasi yang saya dapatkan seputar tempat persinggahan kami. Dari obrolan bersama mereka jugalah kami tahu kalau bukit yang ada dihadapan ini bernama Bukit Binuah. Singkat cerita, akhirnya mereka menceritakan hobi dan juga cita-citanya yang membuat saya terharu sekaligus juga sedikit geli hati. Kenapa? Silahkan cek cerita mereka disini.

Hujan sudah mulai redah. Yah meskipun masih menyisakan gerimis dan awan mendung dimana-mana. Namun rasanya sangat disayangkan kalau tidak segera langsung melanjutkan perjalanan. Iya kalau hujan yang ditunggu hujannya berhenti? Kalau semakin lebat? Sekarang ini cuaca sulit untuk diprediksi. Seperti sikapnya kepadaku. Yak..

Kami pun pamit pada mereka. Meskipun memiliki usia yang jauh lebih mudah, namun mereka adalah seorang guru. Yang membagikan pengetahuan kepada kami disaat berteduh dalam perjalan panjang. Mungkin mereka layak diberikan julukan sebagai Mutiara Binuah. Yah ditangan merekalah masa depan tanah kelahirannya akan berlanjut.

Kendaraan perlahan berjalan, dari teras rumah yang setengah jadi itu mereka melambaikan tangan. Seakan-akan baru menyambut kedatangan anak presiden. Semoga saja suatu saat terbesik sebuah kabar kalau cita-cita mereka sudah tercapai.

Motor pun melaju dibadan jalan yang sebelumnya tidak pernah saya lalui. Karena merupakan jalan penghubung antar provinsi, tentunya jalan ini kemulusannya sangat dijaga. Kebayangkan bagaimana jika sedang melakukan perjalan jauh tapi jalan yang dilalui berlubang dimana-mana. Waktu tempuh yang harusnya hanya sehari bisa menjadi berhari-hari.

Meskipun jalannya bagus, tapi kehatian-hatian dalam berkendaraan itu harus tetap diperhatikan. Maklum jalan yang dilewati ini kadang meliuk-liuk dikaki bukit dan juga naik turun. Apalagi ini pertama kali kami melewatinya, bagaimana kondisi jalan didepan tentunya tidak tahu. Bisa saja didepan ada lubang besar atau mungkin saja ada sekelompok orang yang sedang bermain kelereng.

Hujan pun turun kembali, membersihkan debu dan polusi kendaraan di wajah kami. Hujannya sangat baikkan? Tapi ngomong-ngomong, setiap peristiwa itu memang selalu ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya yang tadi sedangkan negatifnya adalah waktu perjalanan akan semakin bertambah. Dan ketika waktu semakin lama, maka biaya perjalanan juga ikut nambah. Lagi-lagi kami harus mampir berteduh sambil mengecek apakah wajah sudah bersih atau belum.

Akhirnya setelah melewati jalan lurus yang begitu panjang, tibalah kami disebuah persimpangan tiga. Persimpangan ini bernama Simpang Ampar. Jika belok kekiri akan menuju kearah Sosok sedangkan belok kanan adalah menuju Tayan sekaligus Ketapang. Nah, ditengah-tengah Simpang Ampar ini juga memiliki sebuah ikon yang sangat menarik. Yaitu sebuah patung pria Dayak yang memakai baju daerah sambil memegang mandau ditangan kanannya. Jadi kalau anda lewat disini bolehlah mampir sebentar untuk foto-foto.

Setelah persimpangan ini (belok kanan) terdapat sebuah masjid yang bisa disinggahi oleh umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah dulu. Selain untuk melaksanakan kewajiban, dibagian belakangnya juga terdapat pelataran yang bisa digunakan untuk rebahan. Selain itu ada juga yang lagi makan bersama rombongan seperti yang kami jumpai.



Nah, kalau sudah sampai di Tayan rasanya kurang afdol kalau tidak singgah di spot wisatanya. Apalagi kalau bukan Jembatan Tayan? Tidak hanya desain jembatannya yang menawan, tetapi bentangan alam disekitarnya juga eksotis. Salah satunya adalah sebuah bongkahan batu yang cantik dengan view Jembatan Tayan dibelakangnya. Jadi usahakan kalian harus singgah disini juga yah. Cek cerita tentang Jembatan Tayan disini.

Karena waktu yang sudah sore, perjalanan menuju Ketapang kembali dilanjutkan. Meskipun belum puas menikmati keindahannya Jembatan Tayan, tapi lumayanlah sempat mampir sebentar dan menjepret beberapa foto. Tidak jauh dari lokasi telah berarak awan mendung yang akan menghampiri. Semoga saja perjalanan selanjutnya bisa lebih lancar.

Saya pun melajukan kendaraan. Semakin jauh dari arah Tayan, jalanan yang dilalui semakin tampak lengang. Rumah-rumah pun juga semakin sepi. Sesekali hanya tampak satu dua orang pengendara yang melesat laju berlawanan arah.

Siang pun perlahan diganti dengan waktu malam. Serangga-serangga penghias malam pada berkeluaran, berterbangan dan seakan-akan mengajak kami untuk balapan. Yang buat kesal dari binatang kecil ini adalah kalau sudah masuk mata. Halus sih, tapi perihnya sungguh luar biasa.

Waktu sholat maghrib telah tiba. Namun tak ada satu masjid pun yang kami jumpai didalam perjalanan. Sebenarnya tidak jauh dari Tayan tadi sempat lihat ada sebuah masjid, namun dikarenakan waktu sholat belum masuk, akhirnya kami melanjutkan saja perjalanan. Dan disinilah kami membuat kesalahan lagi, yaitu tidak mengatur kapan waktunya akan berhenti dan kapan akan melanjutkan.

Sekedar saran, buat kalian yang baru pertama kali pergi kesuatu tempat dan saat itu akan memasuki waktu sholat, saya saranin untuk segera singgah dimasjid yang dijumpai. Meskipun waktu adzannya 10 menitan lagi, tapi setidaknya tidak keteteran seperti kami. Apalagi waktu sholat maghrib itukan terbatas.

Ditengah gelapnya malam, motor kami lincah naik turun  melintasi jalanan. Kemudian berkelok dipunggung bukit dengan jurang dipinggirnya. Kondisi jalan seperti itu sudah biasa ketika memasuki wilayah pedalaman Kalimantan. Hal ini dikarenakan demografi daerahnya yang banyak perbukitan.

Oh iya, kalau sedang melakukan perjalanan disaat malam harus extra hati-hati. Selain dikarenakan banyak truk yang melaju kencang, tetapi juga kadang ada kendaraan motor yang tidak memiliki lampu. Alhasil kami dibuat kaget ketika kendaraan kami saling berpas-pasan dengannya. Saya kira itu adalah makhluk alien yang tiba-tiba muncul dihadapan, ternyata bukan. Selain itu, dipinggiran jalan juga biasanya ada pejalan yang sedang jalan santai. Jadi jangan sampai kepinggiran benar yah..

Perjalanan semakin jauh ke pedalaman. Berbeda dengan jalan-jalan yang ada dikota, disini penerangan jalan kami sungguh hanya bergantung pada lampu motor. Apa yang ada di pinggiran kiri kanan jalan pun tidak terlihat begitu jelas. Maklum, cuaca yang mendung membuat bulan dan bintang enggan untuk menampakkan dirinya.

"Kalau motor kita mogok gimana yah". Tiba-tiba Yansah dari bekakang bersuara.

Ini anak bicara apaan? Berani-beraninya ngomong yang sembarangan ditempat yang antah berantah. Bukankah ditempat yang belum kita kenali itu dilarang untuk sesumbar.  Untung saja saat itu saya yang membawa kendaraan. Kalau bukan, udah kena tonjok nih mulut bocah. Sahutan Yansah tersebut saya abaikan begitu saja dan kembali fokus membawa kendaraan.

Saya menatap layar speedometer. Memastikan bahwa bahan bakar kami tersedia cukup. Untunglah disana masih terlihat tiga balok. Setidaknya cukup membawa kami sampai ke tempat pengisian, meskipun itu cuma eceran.

Ada beberapa kampung yang kami lewati, namun tak ada satupun yang menjual bensin eceran. Dalam benak mulai was-was takut saja kalau bahan kendaraan kami habis. Pastinya kami harus mendorong motor diatas jalan yang menanjak. Jangan biarkan itu terjadi ya Allah..

Tidak hanya kendaraan yang mesti segera diisi, perut kami pun juga mulai meronta-ronta untuk diberi bagian. Kenapa pula tidak terfikirkan untuk makan dahulu ketika masih berada di Tayan. Mana ada pula penjual makanan ditengah-tengah hutan dan perkebunan sawit. Malam-malam lagi. Walaupun ada yang jual paling itu miliknya Suzana.

Ditengah kelaparan yang mendera, dari jauh tampak sosok hitam besar berdiri di pinggir jalan. Saya langsung memperbanyak istighfar dan tidak berani untuk melihatnya. Saya lebih fokus kearah jalan dan memperlaju kecepatan kendaraan. Tidak perduli jika kalau Yansah dibelakang tiba-tiba saja jatuh. Siapa suruh tidak mau membawa motor.

Jarak kami ke sosok besar hitam tersebut semakin dekat. Penampakan seperti ini tentunya bisa saja terjadi, apalagi dilokasi yang jauh dari pemukiman, tempatnya jin bertendang. Yansah dibelakang hanya santai saja, seolah-olah tidak melihat sesuatu. Apakah mata dia kabur sehingga tidak bisa melihat jelas ketika ditempat yang minim cahaya? Atau mungkin saya mendadak dibuka mata batinnya?

Dengan mengucapkan basmalah saya mencoba melihat sosok tersebut. Mumpung dekat dan diberi kesempatan untuk bisa melihatnya. Sayang juga kesempatan disia-siakan begitu saja. Betapa kagetnya saya ketika menoleh kearah tersebut, ternyata itu hanyalah pohon besar yang dari jauh tampak seperti makhluk. Kampret...saya dibuai oleh imajinasi sendiri.

Bersyukur, tidak jauh dari lokasi kejadian tersebut kami menemukan sebuah rumah makan. Tempat makan ini lumayan besar, dengan lantai keramik dan dinding beton berwarna krem. Tidak hanya menjual makanan, bensin juga tersedia disini. Saya lupa nama daerah yang kami singgahi ini, namun yang pastinya disini banyak terdapat sawit.

Baru saja memarkirkan kendaraan, Yansah langsung memanggil Mbaknya untuk isi bensin. Takut sekali dia stok barang tersebut habis dibeli oleh orang yang lewat. Sambil menunggu mbak mengisi tangki, saya memperhatikan belakang wanita yang berumuran 30-an itu. Bukan maksud berpikir yang ngeres, melainkan takut saja belakangnya si Mbak itu bolong. Dan Alhamdulillah, belakangnya sama seperti wanita pada umumnya dan kakinya pun masih jejak ke lantai.

Saya mendekati sebuah etalase sambil melihat menu-menu yang disajikan. Disini kita harus mandiri, alias ngambilnya sendiri. Tanpa waktu yang lama, sepiring nasi dan lauk sudah terkumpul. Lauk yang saya pilih pun hanyalah yang murah-murah saja. Menu andalan mahasiswa, yang penting murah dan kenyang.

Saya langsung duduk di bangku bagian dalam. Baru saja satu sendok makanan masuk dalam mulut, mbaknya sudah datang menghampiri. Menanyakan minuman apa yang mau dipesan. Saya pun langsung menjawab teh es sambil melemparkan sedikit senyuman, biar si mbaknya membuatkan minuman yang manis.

Apapun makananannya kalau dinikmati ketika lapar sedang akut tentu sangat terasa enak. Yah mungkin begitulah sedikit gambaran kami saat itu. Makan dengan sangat lahap dan tanpa meninggalkan noda yang membandel.

Setelah sempat juga buang air kecil dibekang dan menikmati hiburan televisi, saya langsung bergegas kekasirnya. Oh iya, saya mau kasi tahu. Jangan kaget jika harga makanan disini bisa mencapai dua kali lipat harga makanan di Pontianak. Hal ini dikarenakan harga-harga bahan pokok disini lebih mahal akibat rantai distribusi yang panjang. Pahamkan maksudnya?

Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini dengan suasana hati yang lebih tenang karena perut telah kenyang. Cuma saja, kalau perut sudah penuh begini bawanya ingin lebih lama bersantai atau menguap-nguap diatas kasur. Ya Allah, hilangkanlah rasa malas hambamu ini.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam delapan malam. Rasa dingin yang menyapu kulit mulai lebih terasa. Sama seperti sebelumnya, jalan-jalan terlihat sangat lengang. Hanya kendaraan roda empat keatas saja yang sering dijumpai. Keadaan sunyi sepi inilah yang dimanfaatkan para pengendara itu untuk melaju kencang.

Didalam perjalanan kami juga sempat menjumpai sekumpulan truk yang sedang terparkir dijalan yang menanjak. Awalnya saya sempat mikir jangan-jangan itu merupakan segerombolan perampok. Maklum, ketika jalan menanjak membuat kecepatan kendaraan akan semakin berkurang. Tapi ternyata tidak, mereka malah tidak peduli ketika kendaraan kami tiba diatas. Paling mereka hanya melihat sesekali saja, baru setelah itu sibuk lagi dengan cerita serunya. Sepertinya truk-truk yang berbaris dipinggiran jalan tersebut adalah truk pengangkut sawit.

Tidak lama kemudian kami tiba di Balai Bekuak. Ini tandanya kalau kami sudah memasuki wilayah Kabupaten Ketapang. Jalanan yang tadinya terlihat sepi dan gelap kini terlihat lebih ramai dan terang. Ruko-ruko berderet disepanjang jalan dengan macam jualannya masing-masing. Ada yang menjual aneka handphone hingga lapak makanan pun mudah untuk dijumpai.

Balai Bekuak kami lewati begitu saja. Rasanya sih ingin singgah untuk sekedar ngopi dan wifi-an, namun karena alasan perjalanan yang masih jauh membuat keinginan tersebut diurungkan. Mungkin lain kali ada waktu yang tepat.

Jalanan kali ini tidak begitu lengang, lebih sering kali bertemu dengan para pengendara lainnya. Rumah-rumah pun lebih sering kami jumpai. Entah ada kegiatan apa, didepan kami semakin tampak ramai pemuda-pemudi yang berboncengan. Dipinggiran jalan pun terlihat orang-orang pejalan kaki yang sesekali berbicara pada rombongannya. Dari kejauhan, terdengar juga suara musik dangdut yang didendangkan.

Saya memperlambat laju kendaraan. Selain karena menjaga keamanan karena ramainya orang, melainkan juga penasaran terhadap apa yang membuat mereka berkumpul. Motor pun semakin diperlambat dan sedikit menepi agar tidak diseruduk kendaraan lain dari belakang. Tidak lucu juga kan kalau tiba-tiba saja kendaraan kami jatuh diantara keramaian massa. Belum lagi kalau sampai tejadi adu bacot antara kami dengan yang melanggar. Bisa-bisa kabar kejadian itu langsung viral di Pontianak informasi dengan judul 'Seorang pemuda memarutkan kulit durian ke seorang pengguna kendaraan'.

Diantara ramainya orang dipinggir jalan, ada seorang gadis yang meyapa kami dengan senyum manisnya. Mimpi apa semalam yak? Sebagai pendatang yang baik hati dan tidak sombong, tentunya saya membalas sapaan tersebut dengan senyuman terbaik. Lalu kemudian dia loncat-loncat kegirangan diantara teman-temannya.

Rasa keingintahuan membuat kami untuk mampir. Kendaraan pun diparkirkan diantara kendaraan para pengunjung yang lainnya. Tidak jauh dari kami, berdiri sebuah plang yang menyatakan kalau kami sedang berada di Balai Pinang. Saya dan Yansah pun segera masuk ke sebuah lapangan, membaur dengan para pendatang lainnya.

"Masih mau digoyang...?" Teriak seorang pembawa acara yang ada diatas panggung.

Sontak para penonton yang ada dilapangan berteriak 'masih'. Terutama para lelaki yang suaranya sangat terdengar jelas. Seorang biduan pun maju kedepan, sambil terlebih dahulu menyapa para fans beratnya. Lagi-lagi lapangan dipenuh oleh teriakan yang begitu histeris, mungkin hampir mirip dengan konsernya Lady Gaga. Tanpa menunggu lama sebuah tembang lagu yang berjudul Belah Duren pun dinyanyikan. Kebetulan saat itu pas lagi musimnya buah durian.

Rasa penasaran kami pun terjawab. Ternyata ini adalah pesta rakyat dalam rangka penutupan turnamen sepak bola. Oleh karena itulah, ramai muda-mudi  yang pada berdatangan kesini. Tidak hanya dihibur dengan alunan musik, disini juga banyak penjual minuman dan makanan ringan yang akan membuat malam santai lebih nikmat. Selain itu ada juga hiburan lempar kaleng dan permainan pasar malam lainnya.

Ada satu hal yang membuat saya kagum dengan para pengunjung disini. Banyak dari mereka yang datang dengan tampilan sederhana saja, memakai celana pendek dan sendal jepit. Tidak ada rasa gengsi tampak diraut wajahnya, yang ada hanya rasa riang karena bisa kumpul bareng bersama teman. Untuk ceweknya jangan ditanyakan lagi, jarang dijumpai mereka yang memakai warna merah dipipih. Mereka lebih tampak cantik alami, sesuatu yang disukai semua orang. Tapi sungguh, gadis-gadis Dayak disini memang terlihat sangat jelita.

Kami melanjutkan kembali perjalanan. Karena hari yang semakin malam tentunya membuat rasa dingin lebih terasa. Apalagi ini didaerah pedalaman yang masih banyak memikiki pohon. Hingga akhirnya kami berhenti ketika menemukan sebuah masjid didaerah Semandang Kanan. Lagian sudah dua waktu yang telah kami lalaikan.

22.30 WIB. Malam semakin larut dan badan pun semakin kalut. Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di teras masjid. Ditemani dinginnya malam dan nyayian indah nyamuk, kami terlelap bersama rasa kelelahan.

Baca juga:
Perjalanan Panjang Menuju Ketapang Part 2