Tuesday, December 31, 2019

Nike Ardilla Bersenandung di Sungai Kapuas


Dilalui oleh Sungai Kapuas dan Landak membuat beberapa wilayah di Kota Pontianak terpisah secara demografis. Untuk menuju ke wilayah Pontianak yang ada diseberang, masyarakat biasanya menggunakan jembatan tol. Selain itu, tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakan penyeberangan veri dan transportasi air kaunnya.

Pagi itu waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB. Meskipun sedang momennya liburan natal dan menjelang tahun baru, tetap saja aktivitas di Kota Pontianak tetap ramai. Salah satunya adalah penyeberangan veri yang setiap harinya mengantarkan penumpang dan kendaraan untuk menyeberang.

Kendaraan menepi disebuah loket. Saya merogoh uang didalam kocek kemudian menukarkan dengan selembar karcis dari para petugas. Setiap orang yang menggunakan jasa pengangkutan ini harus membayar, dan harganya pun tergantung jenis kendaraan.

Tak hanya kendaraan bermotor dan mobil pribadi saja, berbagai kendaraan lain seperti truk juga menggunakan penyeberangan ini. Semuanya sama, ingin sampai ditempat tujuan lebih cepat. Berapa lama pula waktu yang harus dihabiskan jika melewati jembatan tol. Belum lagi apabila jalan yang dilewati macet.

Kapal yang akan mengangkut kami sudah menepi didermaga, membawa penumpang dari arah seberang. Dari raut wajah mereka terlihat sekali sudah tidak sabar untuk naik kedaratan. Begitu portal rantai dibuka, kendaraan roda dua langsung menancap gas dan berhamburan keluar. Suara bising kendaraan pun memenuhi langit-kangit dermaga saat itu.

Agar tidak saling berdesakan ketika menaiki kapal, maka para petugas mendahukukan kendaraan roda empat dan diatasnya. Baru lah kemudian kendaraan roda dua yang mengisi bagian tengah. Saat itu saya beruntung karena mendapatkan posisi bagian depan, berdampingan dengan deretan truk.

Terompet pun berbunyi. Pertanda kapal sebentar lagi akan berjalan. Saya pun memperbaiki posisi, agar keseimbangan tetap terjaga jika kapal tiba-tiba oleng.

Ada banyak keuntungan ketika mendapatkan posisi didepan (gerbang kapal). Selain kita bisa cepat keluar, tetapi juga bisa menyaksikan keindahan Sungai Kapuas. Melihat bagaimana aktivitas masyarakat dipinggiran sungai dan kapal-kapal besar lainnya yang sedang berlabuh.

Fokus saya mendadak teralihkan oleh suatu hal. Bukan karena silaunya Tugu Tanjak yang berwarna keemasan atau indahnya air mancur yang ada diseberang, melainkan karena suara yang ada di dalam truk pinggir saya.

'Malam-malam aku sendiri. Tanpa cintamu lagi. Ho u wo o o. Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar. Menerpa hidupku. Bahagia kan datang'.

Iya. Itu merupakan sebuah lirik lagu yang pernah populer pada era tahun 90-an. Apalagi kalau bukan judulnya 'Bintang Kehidupan'. Lagu tersebut dinyanyikan dengan lantang oleh abang pengemudi truk. Bahkan saking merdunya, mampu menyaingi suara mesin kapal.

Bersenandungnya lagu Mbak Nike Ardilla diatas kapal, tepatnya diatas Sungai Kapuas menunjukkan bahwa lagu tersebut tidak lekang oleh waktu. Tidak hanya para generasi tempoe doeloe yang mengatahuinya, generasi jaman now pun turut menyanyikannya. Ya, meskipun kadang mereka hanya mengetahui lagunya tanpa mengenal bagaimana wajah penyanyi aslinya.

Sejenak saya teringat tentang sosok mbak Nike Ardilla. Bukan hanya sekedar teringat senyumannya yang manis aduhai, atau suaranya yang sangat merdu, melainkan juga sejumlah prestasi yang pernah ditorehnya. Baik itu disaat sebagai penyanyi, pemain film atau hanya sekedar foto model.

Nike Ardilla sukses berada di puncak kepopulerannya ketika lagu 'Bintang Kehidupan' terbit. Lagu tersebut berhasil membawanya semakin banyak dikenal orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai mancanegara.

Tidak tanggung-tanggung, album lagu tersebut mampu terjual sebanyak 2 juta copy di Asia Tenggara. Selain itu, album tersebut juga mendapatkan penghargaan dari BASF awward 1990 dalam kategori The Best Selling Rock Album. Ini baru secuil dari sederet penghargaan yang telah diraih oleh Mbak Nike Ardilla.

Tanpa terasa kapal yang mengangkut kami ke seberang sudah menepi ke dermaga. Abang sopir yang sibuk menyanyi tadi pun juga telah berhenti. Pihak petugas juga telah melepaskan portal rantai. Itu artinya kami harus bergegas naik kedaratan. Semoga selanjutnya bisa ketemu Mbak Nike Ardila yang lainnya.

Oh ia. Lagu yang dinyanyikan abang sopir truk tadi ternyata bertepatan dengan taggal lahirnya Mbak Nike Ardilla. Dari mana bisa tahu? Ya karena pada saat itu tidak sengaja saya melihat postingan di facebook, bahwa Mbak Nike Ardilla lahir pada tanggal 27 Desember 1975. Seandainya saja Mbaknya masih hidup, pasti umurnya sekarang sudah 44 tahun. 

Media Sosial yang digunakan: