Wednesday, September 13, 2017

Dua Tahun Menabung, Akhirnya Ke Bali Juga



Semua orang yang mempunyai jiwa jalan-jalan pasti mempunyai keinginan untuk bisa libura ke Bali. Begitu juga saya. Setelah menabung selama dua tahun, sedikit demi sedikit uang hasil kerjaan disisipkan, akhirnya bisa terkumpul juga. Sebelumnya masih ragu terhadap rencana liburan ini, apakah berhasil atau tidak. Maklum status saya yang mahasiswa sambil berkerja tentu juga memiliki keperluan untuk kuliah dan lainnya.

Awal mula dari rencana liburan ini adalah ajakan dari seorang teman kampus yang berencana akan liburan ke Bali. Ajakan tersebut pun belum jelas kapan akan berangkatnya, hanya sekedar rencana saja. Karena belum jelasnya tersebut, akhirnya kami sepakat bahwa liburan akan dilaksanakan jika kami semua sudah memiliki uang yang cukup dan paling tidak akan dilakukan dua tahun kedepan. Untuk mensiasati terkumpulnya uang, Andi bersedia menjadi tempat menyimpan uang kami agar bisa terkumpul.

Diantara teman-teman yang lainnya, saldo tabungan pertamaku ke Andi merupakan yang paling sedikit. Yang lainnya sudah ada yang langsung menyetor sampai satu juta. Sedangkan aku hanya lima puluh ribu rupiah. Tidak apa didalam pikiranku. Lagian berdasarkan kesepakatan bersama, liburan akan terlaksana jika uang sudah terkumpul semua. Sedikit demi sedikit saya berusaha untuk meningkatkan tabungan agar bisa lebih banyak lagi seperti teman yang lain.

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya kami mengadakan rapat besar untuk membahas liburan yang telah direncanakan. Meskipun sebelumnya sering ngumpul, namun ini dianggap pertemuan yang istimewa dan serius. Hihihi, seperti para pejabat saja ada rapat besar dan istimewanya. Keadaan saldo masing-masing pun diumumkan, dan saldoku saat itu berjumlah 3.700.000 rupiah. Alhamdulillah ucapku dalam hati, uangku bisa terkumpul sampai segini. Disisi lain, tabungan sebagian temanku ternyata tidak ada peningkatan dan malahan mengalami penurunan. Bahkan ada yang sudah nol saldonya.

Setelah berdiskusi cukup panjang, ternyata beberapa teman memutuskan untuk tidak ikut dengan alasan tertentu. Karena diantara kami yang positif berangkat liburan ceweknya hanya satu, maka kami menyarankannya untuk mencari teman cewek yang lain. Setidaknya ada teman tidur (maksudnya untuk teman cewek yang tadi, bukan untuk kami yang cowok) dan biaya penginapanpun akan lebih ringan. Lagian pun jika teman liburannya lebih ramai akan terasa lebih menyerukan.

Setelah bertambah anggota baru, akhirnya kami memutuskan akan berangkat 3 bulan kedepan. Lumayan, ada waktu untuk menambah uang lagi. Itupun belum jelas kapan tanggal yang pasti akan berangkat, semuanya menyesuaikan dengan adanya promosi penerbangan yang murah. Semuanya di koordinir oleh teman saya, Andi dan Wulan, baik itu pemesanan tiket, penginapan, dan penyewaan kendaraan yang dilakukan secara online. Bahkan draft kunjungan wisata pun telah disusun oleh mereka yang kemudian meminta persetujuan kepada kami semua. Saya pribadi sih setuju saja karena sebenarnya saya kurang mengetahui tentang wisata menarik yang ada di Bali. Mereka berdua memang teman yang bisa diandalkan.

Tidak hanya mengunjungi Bali, tetapi kami juga akan mengunjungi Jogja dan Bandung. Hal yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya bahwa akan mengunjungi tiga tempat sekaligus. Kata teman 'rugi' jika hanya mengunjungi Bali saja.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Sekarang kami semua sudah berada di bandara dan hanya tinggal menunggu waktu untuk berangkat. Sesekali teman menyakatiku yang baru pertama kali naik pesawat. Iya, ini baru pertama kali saya naik pesawat. Berbeda dengan mereka yang sudah pernah naik pesawat sebelumnya. Tidak hanya saya, teman saya yang satunya juga sama seperti saya yang belum pernah naik pesawat.

Setelah transit ke bandara Juanda dan juga sempat delay, akhirnya kami sampai juga di Bali sekitar pukul 21.00 Wib. Ketika masuk ke bandara, musik khas Bali terdengar dengan lembut menyambut kedatangan kami. Belum lagi poster-poster budaya Bali yang berukuran besar di dinding membuat suasana Bali sungguh begitu terasa. Kami pun langsung menuju halaman depan bandara untuk bertemu dengan sopir dari rental mobil yang telah dipesan sebelumnya untuk mengantar kami ke penginapan. Sopir mobil ini juga yang akan mengantar kami besok untuk mengunjungi wisata di Bali. Didalam perjalanan menuju penginapan, kami banyak berbicara dengan sopirnya tentang wisata-wisata yang ada di Bali. Sebelumnya kami sempat memanggil sopirnya Mas, namun permintaan dari sopirnya untuk dipanggil Bli saja. Panggilan Bli dalam masyarakat Bali adalah panggilan yang digunakan untuk laki-laki yang lebih tua atau sebaya.

Kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya mobil kami sampai di penginapan. Kedatangan kami disambut dengan baik oleh pihak pelayan hotel dan langsung mengantar kami ke kamar yang telah dipesan sebelumnya melalui online juga. Akhirnya, setelah satu hari puas dengan duduk sekarang bisa juga merebahkan tubuh diatas kasur. Rasanya tulang-tulang disekujur tubuh terasa rilex, apalagi kasurnya terasa sangat empuk. Tapi kami tidak segera tidur, karena harus ada rapat kecil terlebih dahulu untuk persiapan besok.

Hari Pertama di Bali

Hari pertama kami menghirup udara pagi di Bali. Walaupun rasa kantuk masih sangat terasa, namun hal tersebut terkalahkan oleh semangat kami untuk mengunjungi tempat wisata yang ada di Bali. Sebelum rental mobil datang menjemput, kami semua tentunya harus sudah siap biar waktu yang digunakan lebih efektif. Berdasarkan keputusan bersama, hari pertama di Bali kami menggunakan mobil rental dikarenakan tujuan wisata yang akan kami tuju memiliki jarak yang jauh.


Tempat wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Pura Taman Ayun. Pura yang terletak di Desa Mengwi Kabupaten Badung ini didirikan oleh I Gusti Agung yang merupakan raja dari kerajaan Mengwi. Baru saja memasuki kawasan ini, kami sudah disambut dengan hamparan rumput hijau yang membuat keindahan pura dari jauh semakin menarik dilihat. Saya kira kamilah yang paling awal mengunjungi tempat ini, ternyata sudah banyak para bule yang sudah datang dan memotret sana-sini.

Tidak mau kalah dengan bule yang sangat semangat mengambil foto, kami pun menuju sebuah gapura yang terlihat dengan megah untuk mengambil foto pula. Dengan berbagai gaya foto, dari sendirian hingga foto bersama telah tersimpan dikamera kami. Maklum, ini baru pertama kali saya dan yang lainnya datang ke Bali. Lagian pun Pura Taman Ayun ini juga tempat wisata yang pertama kali kami kunjungi di Bali.


Setelah puas mengambil foto, kami pun melanjutkan perjalanan lagi kebagian dalam. Ternyata di bagian dalam tidak kalah menariknya seperti yang ada didepan. Disini kami menjumpai pura dengan atap yang bertingkat-tingkat dan memiliki jumlah ganjil. Tidak hanya itu, disini pula kami menyaksikan secara langsung sepasang bule yang berciuman secara mesra didepan kami. Tidak tau kenapa pasangan bule itu tiba-tiba saja berhenti didepan kami dan langsung berciuman. Mungkin dikarenakan ia ingin menunjukan pada teman kami yang berhijab.Terlepas dari kejadian itu, saya dari tadi masih mencari-cari dimana ayunnya berada? Usut punya usut, ternyata arti dari kata taman ayun adalah taman yang cantik.

Setelah puas menjelajahi keindahan Pura Taman Ayun, kami pun melanjutkan ke tempat wisata selanjutnya. Karena pada saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00, kami pun memberitahukan ke Bli untuk mengunjungi tempat kuliner dengan pemandangan sawah terasering. Iya, itu tuh sawah diatas lereng dengan bentuk yang bertingkat-tingkat. Mobil pun melaju kencang di jalan raya tanpa tau entah arah kemana kami di bawa.


Mobil pun berhenti di sebuah restoran Uma Luang. Baru saja memasuki restoran tersebut, kami sudah disambut dengan pemandangan terasering yang sangat menakjubkan. Hamparan sawah yang menghijau dan bertingkat-tingkat membuat setiap orang yang melihatnya akan terpesona. Kata teman sih disini kita akan berlari-lari seperti layaknya sinetron di televisi. Tetapi karena waktu kami yang terbatas dan harus mengunjungi tempat wisata yang lainnya, jadinya hanya sekedar makan saja disini.


Setelah mengisi perut, kami pun melanjutkan lagi perjalanan. Kali ini kami akan mengunjungi Pura Ulun Danu yang gambarnya ada di mata uang 50.000 rupiah. Seamakin jauh perjalanan, suhu udara semakin terasa dingin. Hal ini dikarenakan lokasinya yang memang berada di dataran tinggi.


Setelah cukup lama perjalanan, kami pun tiba di lokasi. Baru saja memasuki kawasan ini, kami sudah di sambut dengan musik khas Bali yang dipentaskan oleh para seniman Bali. Nuansa Bali benar-benar kami dapatkan disini. Biar mirip seperti orang Bali, kami pun memutuskan untuk membeli udeng dan kain khas Bali yang banyak dijual disekitar tempat ini. Udeng adalah sebuah ikat kepala yang digunakan laki-laki masyarakat Bali.

Setelah membeli udeng dan kain khas Bali, kami pun langsung menuju lokasi Pura Ulun Danu. Baru saja tiba, kami langsung dihampiri oleh para penyedia jasa foto. Karena kami juga membawa kamera, jadi kami tidak butuh jasa foto yang langsung jadi tersebut. Keindahan Pura Ulun Danu memang sangat menakjubkan. Apalagi posisi pura tersebut yang berada ditengah danau membuat pura tersebut seolah-olah mengapung. Belum lagi keindahan bukit yang ada diseberang danau dan disertai kabut membuat pemandangan disekitar ini sangat menarik. Untuk anda yang muslim jangan khawatir untuk mencari tempat menunaikan ibadah sholat, karena disekitar Pura Ulun Danu ini juga terdapat masjid.


Setelah puas menikmati keindahan Pura Ulun Danu, kami pun beranjak lagi untuk pergi ketempat wisata yang lainnya. Sebenarnya tempat wisata yang dikunjungi selanjutnya adalah Batur Natural Hot Spring yang terkenal akan pemandian air panasnya. Namun dikarenakan lokasinya yang jauh dan berbeda arah dari tempat yang kami datangi sekarang, akhirnya tempat wisata tersebut gagal untuk dikunjungi. Bli pun memberikan saran kepada kami untuk mengunjungi kebun strawberry. Tetapi lagi-lagi kami kecewa, buah-buah strawberry yang siap dipanen sudah habis dipetik para pengunjung sebelumnya. Walaupun tidak bisa memetik buah strawberry secara langsung, setidaknya kami bisa memperoleh buah strawberry yang dijual dipinggiran jalan. Harganya pun terjangkau, yaitu hanya membayar 15.000 rupiah sudah bisa mendapatkan strawberry seukuran mika yang besar.


Jika tadi mengunjungi tempat wisata, sekarang kami mengunjungi Krisna yang merupakan pusat oleh-oleh di Bali. Sebenarnya mengunjungi pusat oleh-oleh Krisna bukanlah hari pertama. Tetapi dikarenakan kebun strawberry buahnya sudah tidak bisa dipetikdan juga gagal mengunjungi Batur Natural Hot Spring, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat oleh-oleh. Mengunjungi tempat oleh-oleh diawal liburan adalah bukan pilihan tepat karena bisa saja oleh-oleh yang berupa makanan bisa cepat rusak. Namun ada sisi positifnya juga, karena hari ini kami menggunakan mobil sehingga memudahkan untuk membawanya. Disini saya benar-benar kehilangan kendali akibat banyaknya oleh-oleh yang menarik dan makanan khas Bali yang terpampang di rak-rak. Walaupun sudah diingatkan teman-teman agar menghemat uang untuk di Jogja dan di bandung, namun saya masih tetap saja khilaf. Tapi setidaknya, semua orang terdekat saya sudah saya sisihkan oleh-oleh ketika pulang nanti.

Hari Kedua di Bali

Jika hari pertama kami meyewa mobil, maka hari kedua ini kami menggunakan motor dengan pertimbangan jarak wisata yang kami kunjungi tidak terlalu jauh. Sambil menunggu pemilik jasa sewa motor mengantarkan kami kendaraan, terlebih dahulu kami menyempatkan diri dulu untuk sarapan. Biar tetap semangat untuk mengeksplor wisata di Bali. Walaupun sarapannya hanya dengan pop mie, setidaknya ini akan menambah tenaga kami ketika berwisata.

Motor yang ditunggupun tiba. Setelah mengobrol cukup lama dan membayar uang sewaan, akhirnya kami pun bisa berangkat juga. Eits, ada yang beda nih. Jika biasanya kami menggunakan helem dengan ukuran kepala kami, namun kali ini ukuran yang sangat besar. Mungkin dikarenakan yang sering menyewa adalah para bule, sehingga pihak penyewa motor mengambil aman saja untuk menyediakan ukuran yang paling besar.

Melupakan ukuran helm yang besar, kami pun mulai meninggalkan penginapan dan menuju ke lokasi wisata. Jika sebelumnya kami hanya duduk manis didalam mobil dan tinggal mengatakan saja tempat mana yang akan dituju, kali ini sudah tidak demikian. Kami harus jeli menggunakan aplikasi peta agar tidak tersesat. Semuanya telah kami bagi tugas biar bisa tetap fokus membawa kendaraan. Yang berbonceng mendapatkan tugas untuk melihat aplikasi peta dan memandu kami yang sedang membawa motor. Jika pun tersesat, kami tinggal turun saja dan bertanya pada masayarakat. Karena masyarakat disini juga sangat ramah-ramah dan tidak sungkan untuk tersenyum ketika ada yang menyapanya.

Ternyata menggunakan motor itu juga sangat menyenangkan. Pertualangan lebih terasa menyerukan. Kiri kanan terlihat gapura-gapura khas Bali yang selalu menghiasi setiap pekarangan rumah masyarakat Bali. Terlihat juga wanita dan lelaki Bali di pinggiran jalan dengan menggunakan kebaya dan udeng. Para bule pun juga banyak yang berjalan kaki dengan menggendong tas tanpa takut hitam terkena sinar matahari. Malahan bagi mereka berjemur di bawah matahi bisa menghindari kanker kulit. Kami juga sempat mampir di pinggiran jalan untuk sekedar mengisi bensin. Harganya pun sama dengan dikota kami, walaupun disini merupakan tempat wisata. Hal yang menarik ketika mengisi bensin disini adalah bensin tersebut sudah dimasukkan kedalam botol-botol. Jadi jika memesan satu liter pemiknya hanya tinggal mengambil satu botol tersebut dan menuangkannya kedalam tanki motor. Berbeda dengan dikota kami yang menggunakan jerigen dan akan diukur menggunakan literan ketika ada pembeli.

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup lama, kami pun tiba juga di Pantai Pandawa. Ketika akan memasuki Pantai Pandawa, kami melewati jalan yang diapit oleh tebing batu yang terjal. Dari atas jalan ini saja sudah bisa terlihat bagaimana keindahan pantai Pandawa yang memiliki hamparan pasir putih. Belum lagi degradasi warna laut yang membuat keindahan pantai ini semakin mempesona.

Setelah melewati tulisan Pantai Pandawa, Kami juga disuguhkan keindahan patung-patung yang berada didalam tebing batu. Karena sangat terkesan melihat patung tersebut, kami pun menepikan motor kami dipnggiran jalan. Tanpa disuruh, sebuah kamera langsung menjepret. Hal yang harus diketahui juga, penamaan dari pantai Pandawa dikarenakan adanya patung-patung ini


Setelah puas berfoto bareng patung-patung pandawa, kami melanjutkan lagi perjalanan untuk turun kebawah, langsung menuju Pantai Pandawa. Benar-benar beruntung bisa mengunjungi pantai yang seindah begini. Selain kebersihannya terjaga, tempat ini ketika kami berkunjung juga sepi. Hanya terdapat beberapa bule yang berjalan-jalan dan sebuah komunitas yang sepertinya lagi berwisata. Setelah itu hanya kami dan para penjaga warung. Mungkin karena kami datang di siang hari.

Baru saja tiba, kami sudah ditawarkan untuk menyewa kursi panjang lengkap dengan payungnya. Kata ibunya biar suasana pantai lebih terasa dan tidak panas terkena matahari. Untuk harga satu pasangnya kalau tidak salah saat itu harganya 50.000 Rupiah. Namun pemiliknya berbaik hati, ia memberikan kami dua pasang kursi lengkap payungnya dengan hanya membayar sepasang saja. Tahu saja ibunya kalau kami memang memiliki uang yang terbatas. Sebelum Ibunya pergi, kita juga sempat memesan minuman. Pas banget, menikmati kesegaran kelapa hijau setelah berjalan jauh dan teriknya matahari.


Setelah puas menikmati keindahan Pantai Pandawa, saatnya kami melanjutkan tempat wisata yang selanjutnya. Karena waktu yang sudah siang, pilihan kami adalah wisata kuliner. Kata teman, tempat wisata kuliner yang akan dituju adalah makanan yang sangat terkenal di Bali. Ini nih, terasa kurang lengkap jika mengunjungi suatu daerah tanpa mencicipi kulinernya. Ia kan?

Walaupun sempat salah jalan, akhirnya sampai juga di Ayam Betutu Gilimanuk. Ternyata tempat ini memang sangat terkenal, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang disini. Baik itu bule ataupun wisatawan domestik. Sebelumnya saya penasaran apa itu ayam betutu? Maklum saya tidak terlalu update terhadap makanan-makanan indonesia. Palingan yang saya tahunya makanan-makanan asal daerah saya saja. 


Setelah makanan disajikan diatas meja, saya mulai tahu apa itu ayam betutu? Ayam betutu adalah makanan khas bali dengan ciri khas memiliki kuah dan pastinya menggunakan rempah-rempah khas Bali. Ayam betutu juga disajikan dengan daun gonde yang dicampur dengan sambal terasi. Tidak ketinggalan juga sambal matah yang merupakan khas Bali. Sambal matah merupakan campuran dari cabai, bawang merah, serai dan minyak kletik. Terdapat pula kacang goreng yang menemani sajian ayam betutu. Rasa ayamnya yang lembut dan bumbunya yang meresap membuat selera makan kami semakin bertambah. Sangat rugi jika mengunjung Bali namun tidak mencicipi ayam betutu.

Setelah puas menikmati ayam betutu, kami pun melanjutkan lagi perjalanan kami menuju Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Disini kami menyaksikan berbagai budaya Bali yang ditampilkan di amphiteatre. Pertunjukan teater yang disertai juga dengan tarian Bali benar-benar menarik perhatian kami. Indonesia memang keren dan memiliki beraneka ragam budaya yang mesti dijaga selalu kelestariannya.


Tidak hanya pertunjukan seni, di bagian street theater Garuda Wisnu Kencana juga terdapat penjual makanan dan restoran yang akan mengisi perut anda. Selain itu terdapat juga area outdorr yang luas dan tentu saja sangat unik (disebut lotus ponds). Yaitu memiliki lorong-lorong besar yang dihimpit oleh bebatuan kapur. ditempat ini pula sering digelar acara konser musik, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.


Pusat tertinggi didaerah ini adalah patung Dewa Wisnu. Sebelum menuju ke lokasi ini, dipinggang kami diikatkan selendang warna kuning terlebih dahulu oleh petugas. Dari atas sini tidak hanya menikmati kemegahan patung Dewa Wisnu saja, tetapi juga bisa menikmati keindahan bentangan alam Bali disekitar Garuda Wisnu Kencana.

Jika tadi sangat puas mengelilingi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, sekarang saatnya kami untuk mencari lokasi yang bisa memanjakan kami dalam bersantai. La Plancha, pilihan yang sangat tepat bagi kami. La Plancha merupakan restoran dan bar yang terletak di kawasan Seminyak. Sangat tidak rugi bisa mengunjungi lokasi ini. Karena banyaknya pengunjung yang datang disini, hampir saja kami tidak memperoleh tempat duduk yang dilengkapi dengan payung (kami tiba ketika cuaca masih terasa panas). Itu pun dicarikan oleh pihak La Plancha.




Karena lokasi yang berada di pinggiran pantai, membuat santai lebih terasa menyenangkan. Belum lagi kursi yang unik dan berwarna-warni, juga payungnya yang berwarna-warni menambah kesan tersendiri bagi para pengunjung. Sambil menunggu sunset, tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk mandi di pantai. Tidak hanya kami, banyak pengunjung lainnya yang datang disini sekalian untuk mandi.


Setelah puas berjalan santai dan mandi di pantai, sekarang waktunya untuk benar-benar santai. Menikmati minuman yang segar dan makanan adalah pilihan yang tepat. Didepan kami, matahari mulai tenggelam perlahan, dengan warnah jingga yang merona. Benar-benar lokasi yang tepat untuk menikmati matahari terbenam. Sebelum mengunjungi mall Bali, kami pulang terlebih dahulu di penginapan untuk mandi dan mengganti pakaian.

Hari Ketiga di Bali

Masih dengan semangat dan rasa penasaran yang sama untuk mengunjungi tempat wisata yang ada di Bali. Hari ini adalah hari yang ketiga berpetualang di Bali dan tidak boleh disia-siakan begitu saja. Karena besok kami sudah harus angkat kaki dari sini.


Perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kami mengunjung Pura Tanah Lot yang terletak di Kabupaten Tabanan. Baru saja tiba disini, pengunjung sudah sangat ramai memenuhi lokasi wisata ini. Tidak hanya menikmati keindahan Pura Tanah Lot saja, tetapi disini juga banyak yang menjual souvenir atau oleh-oleh khas Bali dengan harga yang terjangkau. Mulai dari cinderamata, kain khas bali, lukisan, patung dan yang lainnya. Pokoknya tinggal dipilih saja.


Penamaan Pura Tanah Lot berasal dari kata 'tanah' yang berarti tanah, dan kata 'lot' yang berarti laut. Karena pura yang terletak diatas batu karang besar, membuat pura terlihat seperti mengapung ketika air laut pasang. Lokasi pura ini juga merupakan tempat yang bagus untuk menikmati sunset di Bali. Tapi sayang, kami berkunjung disaat yang tidak tepat.


Perjalanan kami lanjutkan menuju ke Pantai Padang Padang. Pantai yang terletak dilokasi tebing yang curam ini memilki pasir yang putih dan bersih. Tidak heran jika banyak pengunjung yang datang berbaring diatas pasir sambil menikmati kesegaran angin pantai. Pantai Padang Padang ini sangat unik. Karena untuk masuk ke lokasi pantai ini kami harus terlebih dahulu melewati goa kecil. Goa ini juga merupakan pintu keluar dari pantai ini. Tidak jarang, mesti berdesak-desakan didalam goa ketika ada yang ingin keluar dan masuk. Apalagi jika bertemu bule yang memilki postur tubuh yang lebih besar, lorongnya benar-benar terasa kecil.


Karena sebelumnya kami sudah berpanas-panasan, mandi di pantai adalah pilihan yang tepat. Disini juga tersedia penyewaan selancar dan terlihat beberapa pengunjung yang sedang memainkannya. Disekitar pantai juga terdapat bongkahan batu yang membuat pantai semangkin terlihat unik. Pengunjung semakin ramai berdatangan ketika waktu sunset akan tiba. Karena lokasinya yang memang langsung menghadap ke arah terbenamnya matahari.


Rasanya bosan jika hanya berbaring diatas pasir, kami pun mencari spot yang bagus untuk berfoto disekitar tempat wisata ini. Lagi seru-seruan berfoto, eh malah diajak cewek cantik asal Korea untuk berfoto. Sebelumnya sempat bingung ini bule mau ngapain? Kesempatan emas untuk berfoto dengan bule Korea tidak boleh dilewatkan. Apalagi cantik. Sarang hae.

Setelah menikmati keindahan matahari terbenam, kami pun beranjak pergi untuk pulang ke penginapan. Didalam perjalanan menuju lokasi parkiran, kami tidak sengaja melihat penari yang sedang latihan tarian kecak. Walaupun hanya sekedar latihan, kami menyempatkan diri untuk mampir sebentar melihatnya. Tidak hanya kami, banyak juga para pengunjung yang lainnya untuk sekedar mampir.

Karena badan masih terasa gerah meskipun cukup lama mandi di Pantai Padang-Padang, kami memutuskan terlebih dahulu pulang kepengenipan. Sekalin juga mengganti pakaian sebelum berkunjung ke Jalan Legian. Saya penasaran memangnya ada hal menarik apa di jalan ini? kata teman-teman jalan ini terkenal akan kehidupan malamnya.

Setelah semuanya sudah siap, kami pun kembali beraksi lagi untuk mengeksplor tentang keindahan Bali. Walaupun kami berkunjung sudah agak larut malam, namun ini pilihan yang tepat. Karena semakin malam jalan ini semakin ramai dan meriah, begitulah kata teman. Kami pun tiba disekitar lokasi Jalan Legian. Setelah memakir motor disebuah lorong yang diapit oleh gedung, kami pun berjalan menyusuri Jalan Legian. Ternyata apa yang disampaikan oleh teman memang benar, semakin malam dijalan ini semakin ramai pula pengunjung dan tentunya terlihat meriah. Disepanjang jalan yang kami susuri, banyak terdapat bar, kafe, restoran maupun diskotik. Pokoknya suasana disini memang benar-benar cocok bagi anda para penikmat kehidupan malam.


Walaupun tidak mampir, namun kemeriahan malam di Jalan Legian ini juga bisa kami rasakan. Apalagi jika anda seorang yang suka dugem atau clubbing, pasti tempat ini merupakan pilihan yang cocok untuk dikunjungi. Dijalan ini juga terdapat terdapat Monumen Ground Zero yang merupakan lokasi terjadinya bom Bali 1.

Hari Keempat di Bali

Walaupun hari ini merupakan hari terakhir di Bali, namun tidak akan dilewatkan begitu saja. Kami meyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengunjungi Pantai Kuta. Pantai yang terkenal akan ombaknya untuk berselancar. Lokasinya yang berada tidak jauh dari penginapan, membuat daftar kunjungan kami disini merupakan yang paling akhir.


Dipantai Kuta, kegiatan yang kami lakukan tidaklah banyak seperti kunjungan tempat wisata yang sebelumnya. Disini kami hanya datang sebentar untuk mengambil gambar. Jadi tidak sempat yang namanya mandi apalagi mencoba untuk berselancar. Pantai yang memiliki panjang 5 Km ini ketika di pagi hari juga sudah cukup ramai dikunjung oleh wisatawan baik hanya sekedar untuk berlari pagi, berjemur ataupun bermain selancar.


Matahari pun semakin meninggi. Menunjukkan waktu yang sudah semakin siang. Kami pun bergegas untuk pulang ke penginapan. Selain dikarenakan barang-barang kami yang belum selesai dikemas, tetapi juga dikarenakan bis kami yang akan berangkat pukul 14.00 Wib. Terimakasih Bali yang telah memanjakan liburan kami selama berada disini. Semoga keindahan dan budayanya dapat selalu terjaga. Selanjutnya Jogja dan Bandung.

Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon