Friday, May 5, 2017

Bukit Peniraman, Wisata Baru Kabupaten Mempawah


Bagi anda yang sering pergi liburan ke Singkawang atau sebaliknya berkunjung ke Kota Pontianak tentunya tidak asing lagi dengan nama daerah Peniraman. Peniraman adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sui Pinyuh, Kabupaten Mempawah. Keberadaan Desa Peniraman sangat strategis, karena di lalui jalan raya utama dan merupakan salah satu desa penghubung antara Pontianak dan Mempawah. Jadi, untuk berkunjung kesini bisa menggunakan segala jenis kendaraan, mulai dari kendaraan dengan roda yang banyak hingga kendaraan dengan roda satu. Emang kendaraan ada yang beroda satu ?

Terletak didaerah pesisir sekaligus memiliki perbukitan memberikan kesan tersendiri bagi daerah ini. Tidak hanya satu dua bukit saja, melainkan ada banyak bukit. Saya pun juga lupa menghitung berapa sebenarnya jumlah bukit yang ada disini. Hehehe. Yang pastinya keberadaan bukit ini menjadi daya tarik untuk berkunjung dan menikmati keindahan alamnya. Tapi sayang, tidak semua bukit disini masih terjaga keasriannya. Sebagian sudah dikeruk untuk diambil tanah dan batunya kemudian dibawa ke kota untuk membangun infrastruktur.

Mandaki sekaligus bermalam di bukit Peniraman adalah hal yang masih jarang dilakukan, baik dari masyarakat luar maupun masyarakat Peniraman sendiri. Hal inilah yang menjadi tantangan buat kami untuk mengeksplor dan mengetahui keadaan di puncak bukit Peniraman. Banyaknya bukit yang berada di Peniraman mengharuskan kami untuk memilih salah satunya. Masing-masing bukit tentunya memiliki ciri khas tersendiri untuk dikunjungi. Ada bukit yang memiliki ikon berupa peninggalan rumah Belanda, ada bukit yang memiliki ikon berupa batu berdiri dan ada bukit yang meiliki ikon dengan lokasinya yang langsung menghadap kelaut lepas.

Akhirnya kami memutuskan untuk memilih bukit dengan ikon batu berdiri. Jika dilihat dari jauh bukit ini memang tidak terlalu tinggi untuk didaki. Namun untuk sampai keatas ternyata juga mesti memiliki tenaga yang ekstra dan berhati hati. Hal ini dikarenakan keadaan lereng bukit yang terlalu curam dan masih banyaknya semak belukar yang tumbuh liar. Walaupun untuk mendaki sangat melelahkan, namun kesegaran udara dan bau khas dari pohon perbukitan memberikan semangat kepada kami untuk sampai kepuncaknya. Sesekali, batuan dari pijakan teman diatas berjatuhan dan mengharuskan kami untuk waspada akan terjadinya hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya itu, keadaan bukit yang lembab juga membuat jalan pendakian terasa licin. Sungguh, hal seperti ini mengingatkan kami terhadap film 5 CM. Hehehe lebay.

Akhirnya sampai juga kami di puncak bukit dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Dan Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui ada jalan yang lebih mudah untuk menuju kesini. Jalan tersebut tidak bersemak, tidak terlalu curam dan pastinya jalan inilah yang selalu dilalui orang untuk kepuncak sini. Ah sudahlah. Jadikan saja hal yang kami lakukan tadi untuk berlatih mendaki sekaligus berolahraga mengeluarkan keringat.

Walaupun sudah berada di puncak bukit, penglihatan kami belum leluasa untuk melihat pemandangan disekitar bukit. Hal ini dikarenakan banyaknya pohon karet dan lainnya yang menjulang tinggi. Kami pun menjelajah lagi untuk mencari tempat yang pas mendirikan tenda dan tentunya dengan pemandangan yang menarik. Setelah kesana-sini akhirnya ditemukan juga tuh lokasi yang diinginkan. Seketika rasa letih mulai menghilang dengan pemandangan hamparan sawah yang menghijau, barisan pohon kelapa dan bentangan laut yang luas. Rimbunnya pepohonan diatas bukit dan hembusan angin sepoi-sepoi juga menjadikan suasana semakin terasa santai. Dari atas bukit ini, telihat alat berat berat yang mengeruk tanah disebuah bukit. Sesekali terdengar ledakan yang cukup kuat dari proses peruntuhan tanah dibukit seberang.

Karena disini kami akan bermalam, tanpa membuang-buang waktu kami pun langsung mendirikan tenda. Tapi jangan pikir tenda yang kami dirikan adalah tenda yang langsung jadi seperti yang digunakan orang lain pada umumnya. Tenda kami hanya sederhana yaitu bermodalkan dari spanduk-spanduk yang tidak dipakai. Walaupun begitu, tenda yang kami buat juga tidak kalah menariknya dengan tenda yang lainnya. Tidak hanya sibuk mendirikan tenda,sebagian kawan-kawan juga ada yang sibuk membuat ayunan dari jaring sebagi tempat bersantai dan sebagiannya lagi pada mengumpulkan kayu bakar. Kaya gini nih yang kami pertahankan, semangat gotong royong yang masih tinggi.

Akhirnya semua sudah terselesaikan. Saatnya untuk bersantai-santai sekaligus menunggu waktu senja tiba. Tapi rasanya ada sesuatu yang terasa kurang. Ternyata benda pusaka yang kami bawa hampir saja terlupakan. Selain hanya sekedar mendaki, kami juga mempunyai misi untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih di bukit ini. Rasa kagum dan kecintaan kami terhadap keindahan negeri ini semakin membara ketika sang merah putih di kibarkan. Dan mungkin saja kami adalah orang yang pertama kali mengibarkannya diatas puncak bukit ini.


Matahari yang berada diufuk barat mulai tenggelam dibalik luasnya lautan. Suara jangkrik dan binatang malampun mulai bersuara seakan senang akan kehadiran malam. Suara adzan pun masih kedengaran sampai disini dan membangkitkan kami dari tempat duduk untuk melaksanakan kewajiban. Untuk bersuci, kami diajarkan seorang teman dengan cara tayammum. Yaitu bersuci tanpa menggunakan air. Disini kami sadari, ternyata banyak pelajaran yang kami peroleh dari perjalanan ini. Keindahan malam dari atas bukit ini juga tidak kalah menarik seperti disiang hari. Dari atas bukit ini terlihat sinar lampu dari rumah warga yang kelihatan seperti gugusan bintang. Selain itu, lalu lalang transportasi dijalan raya juga memberikan daya tarik tersendiri. 

Api unggun yang telah dihidupkan sekaligus sebagai tempat membakar ayam menjadikan malam dipuncak bukit ini terasa lebih hangat. Adanya api unggun tidak hanya sekedar memberikan kehangatan, tetapi juga memberikan penerangan, mengusir nyamuk dan binatang yang berbahaya lainnya serta membangkitkan suasana kebersamaan. Tapi ingat, mendirikan api unggun harus di tempat yang lapang dan jauh dari pepohonan. Untuk mengisi waktu bersama tersebut, nyanyi bersama adalah pilihan tepat. Disini kami menyanyikan berbagai lagu, mulai dari lagu pop hingga lagu dangdut.

Menginap di alam bebas ternyata memang sangat menyerukan. Selain bisa bangun lebih awal tetapi juga udara pagi di alam bebas terasa lebih segar. Tidak hanya itu, suara burung yang berkicau di pagi hari akan membuat pikiran anda lebih terasa santai. Sebelum lekas pulang, kami menyempatkan diri lagi untuk bersantai sambil menikmati pemandangan dengan hangatnya segelas kopi. Dipagi hari, terlihat kesibukan para petani mengurus ladang yang sedang digarapnya.

Hari sudah semakin siang. Saatnya untuk membereskan lokasi penginapan. Hal yang harus diperhatikan ketika pulang adalah memastikan bahwa sisa dari api unggun benar-benar padam. Selain itu, jangan pernah mengambil sesuatu apa pun dan jangan pernah meninggalkan sampah. Terkecuali mengambil gambar dan meninggalkan jejak.


Media Sosial yang digunakan:


EmoticonEmoticon