Showing posts with label Kayong Utara. Show all posts
Showing posts with label Kayong Utara. Show all posts

Friday, July 10, 2020

Ngapain Saja di Sukadana?

Ketika berbicara Sukadana, kira-kira apa yang terbesit dalam pikiran anda? Sebagian besar orang akan menjawab Lempok Sukadana, sejenis makanan yang berbahan dasarkan buah durian. Sedangkan sisanya akan menjawab tempat kelahiran Oesman Sapta Odang, seorang politisi yang sekarang menjabat Ketum Partai Hanura. Padahal, kota kecil yang berada di Kayong Utara ini memiliki destinasi wisata yang menarik untuk didatangi.

*****

Disalah satu jalan di Sukadana, roda kendaraan kami kembali berputar. Meskipun merupakan kota kecil, namun jalanan penuh oleh ramainya volume kendaraan. Entah itu yang beroda dua ataupun yang beroda empat. Mereka semua tidak hanya berasal dari dalam kota saja, melainkan juga dari luar kota. Maklum, saat itu lagi musim liburan. Ramai orang-orang yang datang ke Sukadana untuk berwisata.

“Kita mau kemana lagi?” Tanya Yansah yang sedang mengemudikan motor.

“Tidak tahu, Yan. Tapi bagaimana kalau kita ke Masjid Apung saja. Sekalian sholat asharnya disana.” Saya memberikan usul.

Ajakan tersebut direstui. Kendaraan yang tadinya tidak tahu ingin dibawa kemana, sekarang sudah memiliki tujuan. Kami pun memutar arah, menuju Masjid Apung yang saat itu lagi jadi primadona Kayong Utara, Khususnya Sukadana. Bermodalkan panduan google maps, kendaraan melaju kencang menuju kesana.

Tujuan awal kami datang ke Sukadana adalah ingin hadir dalam acara festival durian. Namun keinginan tersebut harus kandas, ketika kami tiba acaranya sudah selesai. Begitupun Kampung Bali, keinginan untuk berfoto didepan pura harus diurungkan disaat motor yang kami kendarai mengalami masalah. Bukannya sampai ke pura-nya, eh malah ke RSK. Rumah Sakit Kendaraan.

Speedometer terus menambah angka. Kilometer demi kilometer terus memberi cerita. Kendaraan kami terus melaju hingga akhirnya tiba ditempat tujuan. Dari jauh, empat menara yang menjulang tinggi telihat kokoh diantara warna birunya langit. ‘Tunggu sejenak, kami memarkirkan motor dulu.’ Besit saya dalam hati.

Wisata Religi di Masjid Oesman Al Khair

Semua orang yang datang kesini akan kagum dengan keindahan dan kemegahan Masjid Oesman Al Khair. Bukan hanya sekedar bangunannya yang membuatnya tampak begitu menarik, melainkan juga pemandangan sekelilingnya. Bagaimana tidak? Masjid yang satu ini dibangun dipinggiran pantai dengan latar belakang lautan lepas. Sehingga akan tampak seperti mengapung. Ditambah lagi deretan bukit-bukit disekitarnya yang membuat masjid ini begitu terlihat apik.

Saya mempercepat langkah diantara ramainya pengunjung. Bukan! bukan karena ingin segera ikutan berfoto, melainkan ingin melakasanakan kewajiban. Rasanya kurang afdol juga, datang kesini tapi tidak melaksanakan ibadah. Yah, setidaknya ada alasan utama kenapa datang kesini. Uek...

Sekedar informasi, penamaan masjid Oesman Al Khair diambil dari nama Oesman Sapta Odang. Beliau adalah putra kebanggan Kayong Utara, Bahkan Kalimantan Barat dan Bahkan Indonesia. Namanya pun semakin dikenal setelah beliau menjabat sebagai wakil ketua MPR RI. Dari beberapa informasi juga nih, beliau lah yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun masjid. Dan yang membuat greget lagi adalah beliau menyumbang 11 milyar untuk membantu pembangunan masjid  kebanggan ini.

Bangunan masjid Oesman Al Khair memiliki gaya arsitektur Timur Tengah dengan warnah putih yang dominan. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, bangunan yang menawan ini juga sudah menjadi tujuan wisata. Bahkan sudah bisa dibilang ikonnya Sukadana.

Masjid Oesman Al Khair

Latar Belakang Lautan Lepas

Masjid Oesman Al Khair Dimalam Hari

Nah, kalo anda datang ke Sukadana, jangan lupa untuk mampir kesini. Ada banyak spot foto menarik bisa didapatkan disini. Tapi ingat, kesopanan dan kenyaman orang lain harus tetap dijaga. Jangan sampai karena terlalu asyik berfoto malah menutupi jalan orang lain yang datang ingin beribadah.

Lagi Nunggu Buah Durian Jatuh

Oh, iya. Disekitar Masjid  Oesman Al Khair juga terdapat tugu durian yang menjadi kebanggaan masyarakat Sukadana. Berfoto disini juga tidak kalah menarik dengan latar belakang buah durian yang dijunjung oleh empat tiang. Selain itu, kita juga bisa melihat anak-anak kece yang sedang bermain skateboard disekitar tugu tersebut

Menikmati Senja di Pantai Datok

Perjalanan kembali kami lanjutkan setelah sebuah pesan di whats up masuk. Isi dari pesan tersebut adalah adanya ajakan teman Yansah untuk ketemuan di Pantai Datok. Kami pun mengaminkan dan bergegas menuju kesana.

Nama Pantai Pulau Datok bagi saya sudah tidak asing lagi. Teman-teman kampus dari Kayong Utara dan Ketapang sering menceritakannya. Hingga akhirnya, untuk pertama kali bagi saya bisa menginjakkan kaki disini. Alhamdulillah...

Jarak masjid Oesman Al Khair ke Pantai Pulau Datok tidak begitu jauh. Hanya sebentar saja kami sudah tiba ditempat tujuan. Ketika memasuki kawasan Pantai Pulau Datok, kami disambut oleh gerbang yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Objek Wisata Pantai Pulau Datok. Setelah melewati gerbang tersebut akan ditemukan sebuah spot foto berlatar belakang perahu yang cukup menarik untuk disinggahi.

Orang yang dicari kami jumpai di pinggir jalan arena balapan. Kebetulan saat itu, Pantai Pulau Datok menjadi lokasi diselenggarakannya balapan motor. Dia tidak hanya sendirian, melainkan bersama temannya. Kami pun saling bersalaman dan kenalan.

Perkenalkan, namanya adalah Tarmidji dan temannya bernama Saufi. Dari percakapan, saya baru tahu kalau mereka ternyata dulunya satu kampus dengan saya. Tapi kenapa saya tidak mengenal mereka, paling tidak saya akan merasa kalau wajah mereka tidak asing bagi saya. Tapi sudahlah, mungkin sayanya saja yang kurang melanglang dikampus. Setelah cukup lama menyaksikan balapan, mereka pun mengajak kami untuk bersantai dipinggiran pantai.

Pantai Pulau Datok memang begitu menarik. Pohon-pohonnya yang rindang dann hijau membuat sekitarnya terasa teduh. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata tahun lalu, membuat tempat ini banyak dilakukan penataan. Ya iyalah, acara yang kemarinkan sangat bergengsi. Tidak hanya dihadiri orang dalam negeri saja, tetapi juga tamu-tamu dari macanegara. Makanya dilakukan pembenahan yang ekstra.

Tapi ada satu hal yang sangat disayangkan, yaitu banyaknya sampah yang berserakan. Ini nih perilaku negatif yang saya tidak sukai dari netizen +62. Ingat ya, yang saya tidak sukai itu perilakunya, bukan orangnya. Terlepas tadi malam tahun baru atau lagi ramai orang setidaknya kita harus berprilaku manusia, bertanggung jawab terhadap barang yang dibawa. Padahal dimana-mana banyak dijumpai tempat sampah. Ayo yang masih buang sampah sembarangan segera tobat!

Kami pun merengsek ke alun-alun pantai. Disanalah kami duduk, melanjutkan percakapan yang sempat tertunda sebelumnya. Sekaligus menyaksikan berbagai macam aktivitas pengunjung. Entah itu yang sedang bermain air dibibir pantai, yang sedang bercengkerama dengan kawan dan kekuarga hingga yang sedang berduaan.

Ingin Basahan, Tapi Sayang Hanya Sebentar

Pantai Pulau datok memang menyajikan panorama alam yang begitu indah. Diapit oleh perbukitan membuat pantai ini tampak begitu menarik. Hijaunya perbukitan, birunya langit dan lautan, serta putihnya pasir membuat orang-orang yang datang kesini betah untuk berlama-lama. Apalagi kalau sudah disapu semilir angin, rasanya tidak ingin pergi beranjak.

Ada satu hal lagi yang paling memikat perhatian pengunjung ketika datang kesini. Yaitu matahari terbenam. Katanya, momen matahari tenggelam disini itu sangat apik. Tapi sayang, ketika kami datang disini mataharinya tidak terlihat penuh atau lagi malu-malu. Alias ditutupi oleh awan mendung. Sebelum matahari tenggelam seutuhnya, kami langsung diajak Tarmidji kesebuah tempat yang juga tidak kalah menarik.

Kami pun bergegas pergi, meninggalkan hempasan gelombang yang begitu lembut menyapu bibir Pantai Pulau Datok.

Keheningan di TPI

Entah kemana kami akan dibawa Tarmidji. Tapi katanya, tempat yang akan didatangi juga memiliki pemandangan yang menarik. Kami pun mengiyakan, dan membuntuti motor mereka dari belakang.

Setelah keluar jalan raya, kami dituntun memasuki sebuah jalan yang saat itu terlihat sepi. Hanya satu dua orang yang kami jumpai. Disisi kiri jalan, tepatnya kaki perbukitan terlihat deretan pohon durian yang berbaris rapi. Saya pun menengadahkan wajah keatas, terlihat buah-buah durian yang bergantungan begitu anggun. Seketika pikiran negatif mulai merasuk, bagaimana jika tiba-tiba yang diatas itu jatuh menimpa kami. Atau dari atas bukit menggelinding buah durian dan langsung menghantam wajah kami? Jaohkan bale, Ya Allah...

Ternyata pemandangan disekitar TPI juga menarik. Eh, tapi ini bukan TPI stasiun TV, melainkan Tempat Pelelangan Ikan. Meskipun demikian, tidak ada terlihat aktivitas jual ikan disana. Kata teman sih memang belum digunakan sebagaimana mestinya. Untuk sekarang hanya digunakan sebagai tempat bongkar muat barang yang akan berangkat atau baru tiba dari Pulau Maya.

Karena suasananya yang sepi, membuat tempat ini sangat cocok bagi para penikmat keheningan alam. Disini kita bisa mendengarkan bagaimana begitu lembutnya deburan ombak menyentuh pinggir daratan. Disini juga kita bisa menyaksikan pulau kecil dan begitu indahnya masjid Oesman Ai Khair dari jauh. Disini pula kami sempat menjumpai gadis manis yang begitu cantik.

Panorama Sekitar TPI

Masjid Oesman Al Khair tampak dari TPI

Kami pun beranjak pergi setelah suara adzan berkumandang. Tabe'...

Tuesday, July 7, 2020

Selamat Datang di Sukadana

Tugu Durian Sukadana

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Kota Ketapang, perjalanan kembali kami lanjutkan kedaerah berikutnya. Kali ini kami akan menyambangi Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di  Sukadana. Bukan tanpa alasan, disana kata teman-teman tempat wisatanya juga tidak kalah menarik. Apalagi saat itu katanya akan diadakan festival durian, yang hanya diselenggarakan ketika musim durian tiba.

Sukadana, merupakan kota kecil yang sangat menawan. Dulunya ia adalah bagian dari daerah Kabupaten Ketapang. Namun, setelah adanya pemekaran wilayah kini masuk kedalam wilayah Kabupaten Kayong Utara. Statusnya pun sekarang berubah menjadi sebuah ibu kota kabupaten. Sejak itulah, pembangunan  dan kegiatan ekonomi disini semakin menggeliat. Apalagi setelah diadakannya festival Selat Karimata. Tapi sayang, saat festival kemarin tidak kesini.

Saat itu hampir jam 11.00 WIB. Matahari lagi semangatnya menyinari hamparan bumi. Punggung tangan yang tugasnya mengendalikan motor, terasa hangat ketika disapa sang mentari. Maklum, tak ada sarung tangan yang melindunginya. Selain itu jalan yang kami lalui juga sedang dalam perbaikan. Jalanan yang berbatu dan berdebu menjadi santapan saat itu. Tapi tenang saja, karena itu dulu disaat tahun baru. Untuk sekarang saya rasa jalannya sudah bagus. Iya kan?

Ada hal yang membuat lebih seru perjalanan kali ini. Jika sebelumnya perjalanan menuju Ketapang hanya berdua saja, maka untuk sekarang ada rombongan lain. Ya,  ada rombongan anak jalanan yang sedang melakukan touring. Meskipun kami tidak saling kenalan dan salin sapa, tapi setidaknya ada teman dalam berkendaraan. Mereka ngebut, kami pun juga ikutan ngebut. Walaupun kadang mereka menoleh dan mungkin dalam benaknya berpikir 'ini siapa? Kenapa dari tadi ngikut terus?' Bodo amat, yang penting kami ini tidak ada niat jahat.

Tanda telah memasuki wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah setelah kita memasuki wilayah Siduk. Sebuah dusun yang ada di Kecamatan Sukadana. Setelah inilah, akan banyak kita jumpai para penjual durian dipinggiran jalan. Mereka menggantungnya dibawah pondok beratapkan terpal dan tidak sedikit pula yang hanya meletakkan ditanah.

Selain itu, gantungan-gantungan tempoyak juga membuat pondok tersebut semakin terlihat ramai. Ditambah lagi buah manggis yang tentu saja sangat menarik perhatian pengguna jalan. Satu dua orang singgah, negoisasi harga, memilih durian dan manggis lalu duduk menikmatinya. Terlihat pula yang langsung membawanya pulang.

Ah, sungguh enak rasanya jika saat tegak hari mampir ke pondok sambil menikmati buah manggis. Atau mencicipi legitnya buah durian. Tapi apalah daya, kami hanyalah pengelana dengan uang yang seadanya.

Ketika tiba dipersimpangan tiga, kami dan anak geng motor harus berpisah. Kami memilih belok jalur kanan sedangkan mereka tetap lurus saja. Semoga liburannya menyenangkan, kawan.

Oh, iya. Perjalanan dari Kota Ketapang menuju Sukadana tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan atau jarak tempuh sejauh 83.5 km. Lebih jauh jika dari Pontianak ke Singkawang.

Tujuan kami sekarang adalah pergi kerumah teman yang ada di Sedahan Jaya. Hanya bermodalkan share location, kami terus menyusuri jalanan yang belum pernah kami lewati. Entah bagaimana kondisi jalan yang akan ditempuh kedepannya itu adalah masih misteri. Namun yang pastinya, tempat yang akan didatangi ini bersampingan dengan Kampung Bali.

Tidak perlu waktu yang lama dengan dibantu oleh semakin canggihnya teknologi, akhirnya kami sampai dirumah tujuan. Yah meskipun sempat lewat beberapa rumah, hingga akhirnya orang yang dicari meneriaki kami. Memberitahukan kalau rumahnya sudah lewat. Untuk nama kampung yang kami datangi ini saya sudah lupa. Maklum, tulisan ini baru bisa saya buat setelah enam bulan kejadian. Ah, penulis macam apa saya ini. Tidak mencatat detail nama tempat yang didatangi. Yang pastinya, kampungnya begitu tenang dengan latar perbukitan.

Perkenalkan dulu, nama pemilik rumah yang kami datangi ini adalah Eko. Salah satu teman kampus Yansah (teman perjalanan saya). Entah bagaimana awal ceritanya, perjalanan kami diketahui beliau dan menyuruh kami untuk mampir kerumahnya. Kami pun menyempatkan diri walaupun hanya sebentar.

Baru saja memarkirkan kendaraan, sudah terdengar suara bapak-bapak yang mempersilahkan naik. Saat itu kami masuk melalui pintu samping, dimana keluarga Eko sedang berkumpul. Saya dan Yansah pun menyalami mereka satu persatu. Ada bapaknya Eko, mamanya Eko dan pamannya Eko. Kedatangan kami disambut begitu hangat oleh Eko beserta keluarganya.

“Dari mana Dek?” Mama Eko bertanya dengan logat Jawa yang begitu terdengar lembut bagi orang Kalimantan.

“Dari Pontianak, Buk.” Saya lebih dulu menyebutkan.

Percakapan dua kubu pun terjalin. Kami menceritakan dari mana asal kami, kemudian bagaimana ceritanya bisa sampai di Sukadana hingga tentang perkuliahan pun juga ikut diceritakan. Sebaliknya, beliau menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat disana. Percakapan semakin hangat ketika cangkir-cangkir kopi disajikan. Mantap betul...

Dari percakapan itulah kami tahu kalau dearah ini dulunya adalah pemukiman transmigrasi. Mereka didatangkan dari pulau Jawa dan Bali untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Selain itu, tidak jauh dari sini juga ada kawasan hutan lindung yang sering disebut Taman Nasional Gunung Palung. Disanalah beragam jenis satwa dijaga untuk kelestariannya.

Rasanya belum puas untuk mendengarkan cerita.  Tapi apa daya, kami segera pamit disaat jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Eko dan sekeluarga yang sudi untuk berbagi. Berbagi tempat berteduh, berbagi cerita dan berbagi makanan.

Lalu bagaimana dengan cerita pesta durian dan kampung Balinya? Pesta duriannya telah lama usai disaat kami tiba. Sedangkan kampung Bali nya hanya sekedar datang, tidak ke viharanya dikarenakan motor yang bermasalah.

Kecewa? Pastinya iya. Namun semua itu terbayarkan dengan berjumpa Eko dan sekeluaraganya yang begitu ramah dan bersahaja. Lagian pun saya yakin, ada hal-hal menarik lainnya yang sudah menunggu. Selamat Datang di Sukadana...


Saturday, May 6, 2017

Lirik Lagu Lempok Sukedane - Kayong Utara

Judul Lagu: Lempok Sukedane
Pencipta: Hasanan

Youtube.com

Sukedane punye cerite
Darilah dulok hingge sekarang
Dikiri gunong dikanan gunong
Pokok durian tinggi menjulang

Jike musemnye telah tibe
Gunong yang sunyik menjadi pasar
Pengunjong datang dari mane-mane
Pokok buah orang menyebutnye

Sukedane kote legende
Lempoknye terkenal dimane-mane
Jikalau kite makan lempoknye
Hati merane jadi telene

Jike musemnye telah abes
Tempoyak lempok jadi pekasam
Tempoyak enak dimakan same nasi
Lempok enaknye same aek kopi

Sukedane kote legende
Lempoknye terkenal dimane-mane
Jikalau kite makan lempoknye
Hati merane jadi telene

Jike musemnye telah tibe
Gunong yang sunyik menjadi pasar
Pengunjong datang dari mane-mane
Pokok buah orang menyebutnye

Sukedane kote legende
Lempoknye terkenal dimane-mane
Jikalau kite makan lempoknye
Hati merane jadi telene

Sukedane kote legende
Lempoknye terkenal dimane-mane
Jikalau kite makan lempoknye
Hati merane jadi telene

Saturday, April 29, 2017

Lirik Lagu Mak Along Mak Angah - Kayong Utara

Judul Lagu: Mak Along Mak Angah
Pencipta: Hermanto dan Rina

Youtube.com

L
Hai Mak Along Mak Angah
Nak pegi kemane beramai-ramai
Hai Mak Along Mak Angah
Nak pegi kemane beramai-ramai

P
Kamek nak pegi ke tanah Kayong
Yang terkenal dengan lempok durian

L
Hai Mak Along Mak Angah
Ape yang ade di tanah Kayong
Hai Mak Along Mak Angah
Ape yang ade di tanah Kayong

P
Disanak banyak tempat wisate
Alamnye indah dan menyenangkan

Ade...gunong palongnye
Dan juge ade lubok bajinye
Terkenal pantai pulau datoknye
Dan juge pantai paser mayangnye

Banyak pulau-pulaunye
Dan juge ade aek terjonnye
Terkenal dengan terumbuk karangnye
Dan juge hasel-hasel laotnye

L
Hai Mak Along Mak Angah
Nak pegi kemane beramai-ramai
Hai Mak Along Mak Angah
Nak pegi kemane beramai-ramai

P
Kamek nak pegi ke tanah Kayong
Yang terkenal dengan lempok durian

Banyak pulau-pulaunye
Dan juge ade aek terjonnye
Terkenal dengan terumbuk karangnye
Dan juge hasel-hasel laotnye
 
Ade...gunong palongnye
Dan juge ade lubok bajinye
Terkenal pantai pulau datoknye
Dan juge pantai paser mayangnye

L
Hai Mak Along Mak Angah
Ape yang ade di tanah Kayong

P
Disanak banyak tempat wisate
Alamnye indah dan menyenangkan

Ade...gunong palongnye
Dan juge ade lubok bajinye
Terkenal pantai pulau datoknye
Dan juge pantai paser mayangnye

Banyak pulau-pulaunye
Dan juge ade aek terjonnye
Terkenal dengan terumbuk karangnye
Dan juge hasel-hasel laotnye

Ade...gunong palongnye
Dan juge ade lubok bajinye
Terkenal pantai pulau datoknye
Dan juge pantai paser mayangnye

Banyak pulau-pulaunye
Dan juge ade aek terjonnye
Disanak banyak tempat wisate
Alamnye indah dan menyenangkan